
Rasa silau itu seakan akan menyakitkan bagi Rifki ketika mencoba untuk membuka kedua matanya dengan paksa. Pandangannya pun memburam sehingga dirinya tidak bisa melihat sekitarnya dengan jelas saat ini.
"Ini dimana, Pa?" Tanya Rifki dengan lemahnya dan hampir tidak terdengar.
"Kamu ada dirumah sakit, Nak. Sebentar lagi Dokter akan datang untuk memeriksamu," Ucap Haris yang sedikit mendengar suara Rifki.
Haris pun memegangi tangan Rifki dengan eratnya, Rifki yang mendengar suara dari Haris pun hanya mampu mengedipkan kedua matanya itu. Tempat tersebut mendadak terasa begitu ramai karena kedatangan beberapa orang untuk memeriksa kondisi Rifki saat ini.
Rifki merasa seseorang tengah mengarahkan sebuah benda kearah dadanya untuk merasakan detak jantungnya itu. Ia juga merasakan adanya seseorang yang memegangi tangannya beserta menyuntikkan sesuatu diselang infusnya sehingga dirinya merasakan sedikit nyeri.
"Dhira mana, Pa?" Tanya Rifki dengan lemahnya.
"Alhamdulillah, kondisi pasien sudah membaik. Tapi masih membutuhkan istirahat yang banyak untuk sementara waktu, jangan biarkan dia tertekan karena keadaan apapun itu," Ucap sang Dokter.
Rifki masih terlihat sangat lemah, bahkan untuk membuka kedua matanya dalam waktu yang lama saja dirinya tidak mampu untuk itu. Rifki kembali memejamkan kedua matanya akan tetapi dirinya mampu untuk mendengarkan ucapan seseorang yang ada disebelahnya saat ini.
"Baik, Dok."
"Untuk sementara waktu, biarkan dia istirahat saat ini. Kami akan memberikan resep obat untuknya, baiklah kalau begitu, kami permisi dulu,"
"Iya Dok, terima kasih."
Rifki pun kembali terlelap dalam tidurnya, ia masih membutuhkan istirahat yang banyak untuk sementara waktu ini. Entah kenapa dirinya mudah sekali terlelap, melihat itu membuat Haris dan Putri yang ada disebelahnya merasa bersyukur atas kesadaran dari anaknya.
*****
Rifki mulai membuka kedua matanya kembali, ia menatap sekitarnya untuk memcari sosok Nadhira akan tetapi sosok tersebut tidak ada disampingnya. Melihat Rifki yang mulai membuka kedua matanya, Haris langsung mendekat kearah anaknya untuk menanyakan kondisinya.
"Rifki, gimana kondisimu, Nak?" Tanya Haris kepada Rifki.
"Dhira dimana, Pa?" Tanya Rifki ketika dirinya sudah mulai membuka kedua matanya kembali dan sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Haris sebelumnya.
"Dia.." Kalimat Haris seakan akan tengah menggantung, ia tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Rifki.
"Dia kenapa, Pa? Katakan kepada Rifki," Rifki semakin gelisah ketika Papanya tidak melanjutkan perkataannya itu.
"Rifki, kamu yang tenang ya,"
"Pa! Apa yang terjadi dengan Dhira? Ada apa sebenarnya? Katakan kepada Rifki,"
Rifki pun mencoba untuk bangkit dari terbaringnya, ia semakin tidak tenang ketika belum mendapatkan jawaban dari Haris. Melihat itu langsung membuat Haris segera bergegas untuk membantunya, karena Rifki tidak suka kalau dirinya dilarang.
"Maafin Papa,"
"Dhira kenapa Pa? Katakan kepada Rifki sekarang, Rifki ingin bertemu dengan dia,"
"Kamu masih belum sembuh total, Rif. Sebaiknya istirahat dulu sampai kamu benar benar sembuh, setelah sembuh Papa akan jelaskan kepadamu semuanya nanti."
"Ngak Pa, Rifki sangat membutuhkan Dhira bukan istirahat, Rifki ingin Dhira ada disini, tolong panggilkan Dhira untuk Rifki, Pa. Rifki ingin bertemu dengan Dhira, Rifki mau bersama Dhira,"
"Rifki dengarkan Papa, kamu harus lebih banyak istirahat saat ini, kamu baru saja terbangun dari koma yang lama. Papa takut, kondisimu nanti makin memburuk,"
"Rifki ngak mau, Rifki hanya ingin Nadhira disini, Pa. Kemana Dhira? Apa dia baik baik saja? Kondisi Rifki ngak penting, Pa. Yang terpenting adalah kondisi Nadhira, Rifki tidak mau dia kenapa kenapa,"
"Rifki, tolong dengarkan Papa, jangan bertindak nekat ya,"
"Papa kenapa sih? Rifki hanya ingin bertemu dengan dia, dia pasti dirawat dikamar sebelah kan? Rifki hanya ingin memastikan kondisinya saja, Pa. Rifki ingin bertemu Dhira, tolong bawa Rifki kepadanya sekarang, biarkan Rifki bertemu dengan dia."
"Dia tidak ada dikamar sebelah, Nak. Tolong jangan pergi dari bangkarmu, kamu harus lebih banyak istirahat lagi,"
"Ngak ada? Dia kemana, Pa? Katakan kepada Rifki semuanya, Rifki ngak ingin ada yang Papa sembunyikan dari Rifki. Pa, dia baik baik saja kan? Mangkanya dia tidak dirawat disini, aku tau dia pasti datang kemari nanti."
__ADS_1
Ucapan Rifki tersebut langsung menorehkan rasa perih dihati Haris, ia tidak mampu untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Rifki. Rasa sakit dihatinya semakin bertambah ketika Rifki terlihat begitu khawatir terhadap Nadhira.
"Kenapa Papa diam saja?" Tanya Rifki sekali lagi ketika melihat kediaman dari Haris. "Dia ngak kenapa kenapa kan Pa? Dia baik baik saja kan? Jawab Pa! Kalo Papa diam seperti ini, membuat Rifki semakin tidak tenang Pa"
"Papa tidak mampu untuk menjelaskan semuanya kepadamu Rifki, maafin Papa."
"Kenapa Papa minta maaf kepada Rifki? Ada apa Pa? Tolong jangan membuat Rifki menjadi takut, jawab yang sebenarnya Pa!"
"Sebenarnya, dia jatuh kejurang waktu itu, dan sampai detik ini, dirinya belum ditemukan juga,"
"Apa!"
Rifki pun menjatuhkan air matanya mendengar hal itu, ia lalu berusaha untuk bangkit dari duduknya dan mencabut semua peralatan yang melekat pada tubuhnya itu, Haris berusaha untuk menenangkan anaknya itu akan tetapi ia tidak mampu sehingga selang infus pun sudah terlepas dari tangan Rifki.
"Rifki harus cari Dhira, Pa. Rifki ngak mau Dhira kenapa kenapa, Rifki harus pergi!" Teriak Rifki.
"Rifki! Dengarkan Papa, jangan bertindak seperti ini, Papa mojon, Nak. Jangan tinggalkan Papa,"
"Rifki ngak bisa membiarkan Dhira kenapa kenapa, Rifki harus mencari Dhira!"
Rifki terus memberontak untuk meminta dilepaskan, dirinya ingin mencari Nadhira sampai ketemu. Dia tidak mau Nadhira kenapa kenapa saat ini, yang dirinya inginkan hanyalah kehadiran kembali Nadhira didalam hidupnya itu. Rifki tidak mau yang lainnya dan dirinya hanya menginginkan Nadhira kembali dengan kondisi baik baik saja.
"Rifki dengarkan Papa, jangan bertidak seperti ini, Nak. Berhentilah!"
"Ngak mau Pa! Rifki harus mencari Dhira, Dhira ngak boleh meninggalkan Rifki seperti ini!"
"Rifki, dengarkan ucapan Papa. Kondisimu belum benar benar membaik, nanti kamu kenapa kenapa dijalan,"
"Rifki ngak peduli Pa, yang Rifki inginkan hanya Dhira. Rifki ngak peduli dengan nyawa Rifki sendiri,"
"Nak, jangan sia siakan hidupmu. Nadhira sendiri yang telah mengorbankan nyawanya hanya untuk menyelamatkan dirimu, lalu bagaimana jika dia mengetahui apa yang kamu lakukan?"
"Dia mengambil keputusan tanpa seizin Rifki, Pa. Rifki ngak mau hidup jika tanpa Nadhira, dia jahat Pa, dia rela mengorbankan nyawanya hanya untuk Rifki, padahal Rifki tidak mau itu terjadi."
"Lepaskan Pa! Rifki harus menyusul Dhira,"
Haris pun berteriak memanggil para perawat untuk membantunya mencegah anaknya itu, Haris memeluk tubuh Rifki dengan erat dan tidak membiarkan anaknya itu pergi. Para perawat lalu berdatangan ketempat itu dan langsung menyuntikkan sesuatu kepada tangan Rifki hingga hal itu membuat Rifki sedikit melemah.
"Dhira mana, Pa? Rifki ingin bertemu dengannya," Ucap Rifki lirih.
Akibat dari obat bius itu membuat Rifki tidak memiliki tenaga lagi untuk berdiri sehingga Haris harus menopang tubuhnya tersebut, perlahan lahan dirinya mulai menidurkan Rifki keatas bangkar ya kembali, dan perawat tersebut pun kembali memasang selang infus ditangannya.
"Kamu yang sabar ya, Nak. Kamu sudah koma selama 5 bulan, dan selama itu Papa sudah mencari keberadaan dari Nadhira kemana mana, tapi Papa sama sekali tidak menemukannya. Bahkan anggota Gengcobra yang jatuh pun tidak ditemukan jasadnya, mungkin Dhira sudah tidak selamat, karena permata itu telah hancur bersama dengan keris pusaka xingsi, jika pemilik permata itu tiada maka permata itu ikut hancur" Jelas Haris kepada Rifki.
"Ngak mungkin, Pa. Dhira pasti selamat kan? Dia tidak mungkin meninggalkan Rifki sendirian," Ucap Rifki dengan lemahnya akibat efek obat bius.
"Papa mohon, tenanglah Nak. Ayah Arya telah pergi meninggalkan kita bersama dengan Dhira, Papa harap kamu bisa mengikhlaskan kepergian mereka. Biarkan mereka tenang dialam barunya, memang ini sangat sulit untuk diterima, tapi ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi bersama sama. Maafin Papa karena tidak bisa berbuat apa apa,"
"Ngak mungkin, dia masih hidup Pa, dia tidak akan meninggalkan Rifki."
Setelah mengatakan itu, Rifki pun memejamkan kedua matanya dengan erat akibat dari obat bius itu. Haris lalu mengusap pelan kepala anaknya yang masih nampak setetes air mata yang mengalir diujung pelupuk matanya itu, Rifki tidak mampu untuk menerima kenyataannya itu.
Sudah 5 bulan dirinya tidak sadarkan diri, mungkin jika Nadhira masih hidup maka usia kandungannya kini sudah mencapai 6 bulan, dan kurang 3 bulan lagi dirinya akan melahirkan. Hari pernikahan mereka pun berlalu dengan Rifki yang terbaring diatas bangkar tanpa sadarkan diri, dirinya terbangun akan tetapi semuanya berubah tanpa kehadiran Nadhira didalam hidupnya lagi.
Tidak dapat diukur lagi seberapa sedihnya dirinya saat ini, bahkan disaat dirinya terpengaruh obat bius pun dirinya masih mampu untuk mengalirkan air matanya itu. Orang yang paling dicintainya kini telah pergi meninggalkannya untuk selama lamanya, rasa kehilangan yang teramat dalam kini tengah dirasakan olehnya.
Melihat anaknya seperti itu membuat Haris pun terisak lirih sambil memegangi tangan anaknya dan membelai lembut kepala Rifki. Putri tidak berada ditempat itu dan sedang pulang untuk menengok Ayu yang ada dirumah sendirian, sehingga dirinya tidak mengetahui apa yang terjadi kepada Rifki kali ini.
"Iklaskan kepergian mereka, Nak. Maafin Papa yang tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan keduanya, seharusnya Papa tidak mengizinkan dia untuk datang ketempat itu waktu itu, maafin Papa karena kesalahan Papa kau harus kehilangan istri dan calon anakmu. Papa harap kau bisa menerima ini semua dengan ikhlas,"
Setetes demi setetes air mata Rifki pun berjatuhan dari pelupuk matanya itu, meskipun masih tidak sadarkan diri akan tetapi dapat terlihat kesedihan yang teramat sangat mendalam dari wajah Rifki, ia masih tidak sanggup untuk kehilangan Nadhira selama lamanya.
__ADS_1
*****
Rifki pulang kerumahnya dengan sedihnya, ia tidak mau berbicara kepada siapapun dan lebih memilih untuk berdiam diri. Anggota inti Gengcobra yang mengajaknya berbicara itu pun hanya mendapatkan kediaman Rifki tanpa menyahuti perkataannya itu, Rifki benar benar kehilangan jati dirinya ketika mengetahui kepergian dari Nadhira untuk selama lamanya.
Tanpa berkata kata, Rifki pun segera bergegas masuk kedalam kamarnya. Setelah dirawat selama seminggu akhinya dirinya diperbolehkan untuk pulang kerumah, Haris dan Putri yang melihat anaknya seperti itu hanya mampu berdiam diri tanpa bisa menghibur Rifki.
Belakang ini, Rifki tidak mau berbicara kepada siapapun itu, dan dirinya seakan akan tidak memiliki semangat untuk hidup tanpa kehadiran dari orang yang paling dia cintai itu. Putri memintanya untuk tinggal bersamanya dirumahnya akan tetapi Rifki memilih untuk tinggal dirumahnya sendiri bersama dengan Nadhira.
"Mas, kita tidak bisa membiarkan dia terus terusan seperti ini," Ucap Putri yang nampak khawatir.
"Lalu kita harus bagaimana? Aku sudah membujuk dengan berbagai macam cara, tapi apa? Semuanya gagal, dan tidak ada yang berhasil." Ucap Haris yang nampak kebingungan.
"Lalu bagaimana sekarang, Mas? Aku khawatir kalo dia tinggal disini sendirian lalu dia akan berbuat nekat nantinya,"
"Dia tidak mungkin melakukan itu, dia pasti masih bisa berpikir dengan jernih,"
"Itu hanya menurutmu, Mas. Tapi kondisinya saat ini berbeda, dia kehilangan semangat hidupnya, dan seakan akan hidupnya saat ini sudah tidak berarti. Bisa saja dia akan berbuat nekat untuk mengakhiri hidupnya, aku takut Mas."
"Kita juga tidak akan bisa mengembalikan nyawa Nadhira, kita bahkan tidak menemukan jasadnya. Lalu bagaimana kita bisa menenangkan hati anak kita sendiri?"
"Rifki ngak papa, kalian pergi saja," Ucap Rifki sambil menutup pintu kamarnya.
Mendengar itu membuat keduanya hanya mampu berdiam diri tanpa bisa melakukan apapun. Rifki pun mengunci dirinya sendiri didalam kamar tersebut, ia memandangi sekitarnya tempat dimana dirinya selalu bersama dengan Nadhira.
Tempat tersebut seakan akan sepi tanpa kehadiran dari Nadhira, dimana dirinya dan Nadhira yang selalu saling berbagi cerita dan bercanda gurau bersama, kini tengah kosong dan hanya ada kesepian dihati Rifki untuk saat ini. Tidak ada hal yang mampu membuatnya tertawa lagi, bahkan senyuman diwajahnya tak lagi dapat terlihat.
"Kamu dimana sayang? Aku sangat merindukan dirimu, Dhira. Aku ingin kita bisa bersama kembali seperti dulu, aku tidak mau kita berpisah seperti ini. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik, maafkan aku sayang. Cepatlah pulang, aku akan selalu menantimu disini sampai kau datang untuk menjemputku, dan membawaku untuk ikut bersama dengan dirimu sayang."
Rifki pun berdiri didepan cendela kacanya, ia menatap kearah halaman rumah tersebut tempat dimana dirinya dan Nadhira selalu bersama, halaman rumah yang luas itu pun mengingatnya kembali kepada sosok Nadhira yang sedang tertawa dengan bahagianya bersama dengan Rifki.
"Kau sendiri yang menyuruhku untuk bangun dari tidur panjangku, tapi kini justru kau sendiri yang meninggalkanku seperti ini. Untuk apa aku bangun jika tidak ada dirimu disampingku, Dhira. Untuk apa aku hidup jika berujung hidup seorang diri disini? Kembalilah Dhira, bawa aku bersamamu."
Terlihat setitik air mata diwajah Rifki, air mata itu terlihat sangat menyakitkan. Ditinggal pergi oleh orang yang paling kita sayangi adalah hal yang sangat menyakitian dan menimbulkan luka lara yang paling mendalam dilubuk hati terdalam.
"Rifki, salad buahnya enak sekali. Aku sangat sangat menyukainya, kau memang yang paling terbaik deh," Bayangan Nadhira pun muncul dihadapan Rifki sambul menikmati salad buah di balkon kamarnya itu.
"Makan yang banyak sayang, kau dan anak kita harus tetap sehat ya," Rifki pun juga melihat bayangan dirinya yang tengah duduk berhadapan dengan Nadhira disebuah gazebo kecil.
"Iya sayang, kapan kapan beli lagi yang banyak ya, aku ngak mau kehabisan stok dirumah,"
"Iya, nanti aku belikan yang banyak,"
Bayangan Nadhira itu pun langsung mengerakkan telunjuknya untuk mengambil mayonaise yang ada dikotak salad buah tersebut dan memoleskan dihidung Rifki, melihat itu pun membuat Rifki ikut serta mengusapinya dengan mayonaise salad buah yang telah habis buahnya itu.
"Rifki, mukaku cemot semua!" Teriak Nadhira dengan tawanya seraya memegang tangan Rifki.
"Rasakan pembalasanku, Dhira. Kau terlihat cantik kalo ditambah dengan bedak dari mayonaise ini, pasti sangat imut nantinya,"
"Jangan Rifki, tidak tidak. Lebih baik dirimu saya yang mencobanya sayang, kau pasti terlihat sangat tampan tiada duanya nanti,"
"Yoklah dicoba, siapa yang paling menarik perhatian nantinya tapi setelah memakai mayonaise ini,"
"Rifki! Nah kan cemong lagi,"
"Kurang rapi sayang, diem lah. Aku mau sedikit tambahin lagi biar makin bagus,"
"Ngak mau, kamu duluan saja sayang,"
"Kurang dikit lagi sayang, diem saja biar aku rapikan,"
"Sayang! Kan mukaku penuh dengan mayonaise," Keluh Nadhira sambil memegangi pipinya.
__ADS_1
"Nah kan cantik,"
Keduanya pun tertawa bahagia disana, bayangan Rifki dan Nadhira itu pun langsung menghilang begitu saja dari hadapannya. Begitu banyak kenangan indah bersama dengan Nadhira ditempat itu, dan hanya bersama dengan Nadhira dirinya akan merasa sangat bahagia didunia ini.