
Rumah Rifki langsung didatangi oleh pasukan Anggota Gengcobra setelah mendapatkan kabar bahwa Bayu menemukan tongkat milik Nadhira, mereka berkumpul dirumah itu untuk membahas soal pencarian anaknya. Ana yang sedang menyapu rumah langsung meninggalkan pekerjaannya, ketika adanya anggota Gengcobra yang datang kerumah itu.
Tidak biasanya mereka akan beramai ramai seperti itu, sehingga hal itu membuat perhatiannya tersita kepada mereka. Diantara mereka tengah terlihat Rifki duduk sambil menggenggam tongkat yang telah dipendekkan itu.
"Bay, sebutkan ciri ciri yang kamu lihat tadi," Ucap Rifki.
Tak lupa juga dirinya telah memanggil seorang pelukis yang hebat, bahkan hanya mengatakan saja pelukis itu mampu untuk melukis sebuah lukisan yang indah. Rifki tengah duduk disebelah pelukis yang telah memasang kanvas didepannya, pelukis itu pun sedang menuangkan pewarna pada palet dan tengah memegang kuas.
"Tingginya sekitar 160 an, tubuhnya langsing dan rambutnya panjang tapi dibagian bahwanya sedikit kriting. Rambut panjang sampai pinggang, segini ......" Bayu pun menceritakan apa yang dirinya lihat sebelumnya.
Pelukis itu langsung melukis sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Bayu, sementara Rifki terlihat fokus untuk melihat lukisan yang tengah dilukis itu. Hanya dari penjelasan Bayu saja sudah mampu mengobati rasa rindu Rifki, dari penjelasannya saja Rifki dapat mengetahui bahwa putrinya sangat cantik.
"Rif, coba noleh ke samping," Perintah Bayu.
"Ngapain?" Tanya Rifki heran.
"Sudahlah tinggal noleh saja, kali aja wajahmu ketika dari samping sama seperti anakmu,"
Rifki pun lalu mengikuti arahan dari Bayu, karena sangking ingin taunya wajah anaknya dirinya melakukan itu. Ketika dirasa posisinya pas, Bayu pun terkagum kagum dengan wajah Rifki, akan tetapi dirinya teringat bahwa keduanya masih berada disatu gender yang sama.
"Mirip denganmu, tapi bedanya kau laki laki sementara dia perempuan. Dia adalah Rifki versi wanita, tapi dari bentuk bibirnya dari samping mirip dengan Nadhira." Ucap Bayu sambil menggeleng gelengkan kepalanya tidak memercayai hasil dari gambaran wajah Rifki dari samping.
"Benarkah apa katamu, Bay?"
"Iya Rif bener banget."
Pelukis tersebut pun melukis arahan yang diberikan oleh Bayu, Rifki seakan akan tidak berhenti untuk menatap lukisan tersebut yang baginya sangat indah. Di satu sisi Ana tengah mengawasi mereka, entah ada keributan apa yang terjadi di rumah itu dirinya pun tidak mengetahuinya.
Ana pun mengintip dari kejauhan, dan lukisan itu terlihat seperti bayangan Kinara dari belakang. Akan tetapi, pelukis itu tidak mampu melukis wajah Kinara karena Bayu hanya memberi gambaran ketika Kinara membelakanginya dengan sedikit menoleh kesamping yang menampakkan bentuk wajahnya dari samping saja.
"Apa Bayu melihat Nara?" Guman Ana sambil memperhatikan lukisan itu dari jauh. "Apa yang dilakukan anak itu? Sampai sampai Bayu melihatnya. Bukankah tidak ada yang mengetahui bahwa dia adalah anak Rifki? Tapi kenapa Bayu bisa mengetahui ciri ciri dari Nara?"
Ana sendiri bingung bagaimana caranya Bayu mengetahui hal itu, itu artinya posisi Kinara sudah diketahui oleh Bayu, dan jika Bayu melihatnya dengan jelas mungkin dia mampu mengenali Kinara. Identitas yang selama ini dirinya rahasiakan, mendadak ada seseorang yang mengetahui pergerakan dari anaknya itu.
"Apakah seperti ini?" Tanya Rifki kepada Bayu.
"Iya, sangat mirip dengan dia, Rif. Seklias diriku pun melihatnya," Jawab Bayu dengan merasa yakin.
"Baiklah, kau boleh pergi." Rifki pun memberi beberapa lembar uang kepada pelukis itu dan menyuruhnya untuk pergi.
Pelukis tersebut pun pamit undur diri dari tempat itu, dan Andre pun mengantarkannya untuk keluar dari rumah besar tersebut. Setelah kepergian dari kedua orang itu, Rifki pun menatap dengan lekat lekat lukisan yang ada dihadapannya saat ini.
"Rif, mungkin dengan cara ini kita bisa secepatnya mengetahui keberadaan dari anakmu," Ucap Bayu setelah lukisan itu terlihat sempurna.
"Cari dia sampai ketemu!" Rifki pun memerintahkan kepada seluruh anggota Gengcobra yang ada disana.
"Dengan cara seperti ini, kita bisa mengetahuinya dengan mudah, Tuan Muda. Meskipun tidak mengetahui wajahnya keseluruhan, tapi dengan begini kita bisa mengetahuinya dari samping," Ucap Vano.
"Benar apa yang dikatakan Vano, tapi ini juga termasuk resiko kalau sampai orang orang jahat itu mengetahuinya," Sela Reno yang terlihat sangat khawatir kalau sampai lukisan itu jatuh ke tangan yang salah.
__ADS_1
"Jangan sampai, diantara kalian ada yang berhianat," Rifki memperingatkan kepada seluruhnya.
"Siapapun yang berhianat, maka aku akan menghabisi nyawanya dengan tanganku sendiri." Reno pun mengancam seluruhnya.
Mendengar ancaman itu tak seorangpun yang berani untuk mengangkat suara, mereka pun tak ketakutan mendengar ancaman itu karena ancaman tersebut tidak pernah main main jika diucapkan. Bukan hanya satu atau dua kali mereka membunuh anggota mereka sendiri, akan tetapi sudah sering mereka melakukan itu karena mengetahui bahwa ada yang berkhianat.
Masuk ke dalam anggota tersebut adalah sebuah resiko yang besar, akan tetapi setiap resiko yang mereka lakukan akan dibayar dengan mahal. Orang yang berkhianat sekalipun akan mendapatkan balasan yang sangat kejam, hingga mereka sendiri lebih untuk memilih mati daripada harus hidup dengan keterpurukan.
"Rif, tanganmu berdarah," Ucap Bayu ketika menyadari bahwa adanya setetes darah yang menetes ke lantai dari tangan Rifki.
Rifki lalu menoleh ke arah tangannya yang sudah berlumuran darah, akan tetapi dirinya sama sekali tidak merasakan sakit. Ia tidak menyadari bahwa tangannya terkena luka sayatan dari ujung tongkat yang tajam itu, meskipun ujung tongkat itu sudah dipendekkan akan tetapi jika tidak berhati hati maka tongkat itu bisa melukai siapa yang memeganginya sendiri.
Ujung tongkat itu sangat tajam sehingga bisa melukai pemiliknya sendiri jika tidak berhati hati, apalagi siapapun yang memiliki tongkat itu harus benar benar menguasainya untuk bisa digunakan sebagai alat pelindung diri. Jika tidak berhati hati, maka senjata itu bisa melukai tuannya sendiri, Akan tetapi jika berhati hati maka orang lain yang akan terluka bukan diri sendiri.
"Akh..." Pekik Rifki ketika menyadari luka panjang ditangannya.
Melihat itu langsung membuat Vano segera bergegas mengambil tisu, dirinya pun langsung membalut luka ditangan Rifki dengan tisu tersebut. Sementara Reno langsung berlari untuk mengambil P3K, Bayu sendiri pun langsung mengambil tongkat tersebut dari tangan Rifki.
"Astaghfirullah Rif, kenapa bisa terluka seperti inu sih?" Ucap Bayu sambil ikut serta mengusap darah Rifki.
"Dhira menginginkan darahku, dan mengambilnya menggunakan tongkat itu. Hanya pemiliknya yang bisa dengan pandai memainkannya," Ucap Rifki.
"Jangan berpikiran seperti itu, Rif. Kau hanya kurang berhati hati saja soal ini, mana mungkin Dhira menginginkan darahmu dengan senjata ini?"
"Aku sangat merindukan Dhira, Bay. Aku rindu canda tawanya, tiada hari diriku tidak merindukannya, semakin bertambah hari diriku semakin merindukan dirinya. Kesalahan apa yang telah aku lakukan sampai dia pergi dari rumah seperti ini? Beritahu aku dimana salahnya, Bay. Biar aku bisa memperbaiki semuanya,"
Ana langsung membelalakkan matanya ketika melihat itu, rasa penasarannya sejak tadi akhirnya pun terungkap juga, ia yakin bahwa Kinara telah membuat sesuatu hingga menyebabkan perhatian anggota Gengcobra tertuju kepadanya. Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api.
"Bagaimana bisa tongkat itu ada disana?" Guman Ana sambil menyaksikan mereka dari jauh. "Apa yang telah dilakukan Nara? Apakah dia berselisih dengan anggota Gengcobra? Aku harus menemuinya sekarang."
Ana pun langsung bergegas untuk menemui Rifki, disana Bayu masih tengah mengobati luka ditangan Rifki, semakin dirinya mendekat kearah Rifki semakin pula dirinya melihat dengan jelas tongkat tersebut yang bertuliskan nama "Kinara" disana. Ana memperhatikan itu sampai suara Bayu yang berdehem memecah kefokusannya itu.
Bayu pun menghentikan apa yang tengah dirinya lakukan ketika Rifki menarik tangannya, dan pandangan seluruhnya langsung terarah kepada Ana. Seketika Ana merasa gugup ketika ditatap seperti itu oleh mereka, dirinya pun langsung menundukkan kepalanya.
"Ngapain kamu kemari?" Tanya Bayu kepada Ana.
"Maaf sebelumnya, Tuan Muda. Saya tidak berniat untuk mengganggu anda dan yang lainnya disini, saya hanya ingin meminta izin libur sehari saja. Saya ingin bertemu dengan anak dan ibuku," Ucap Ana memohon.
"Apa kau tidak tau suasana kalau minta izin? Setidaknya jangan disaat saat seperti ini!" Sentak Bayu.
"Tuan Muda, maafkan saya yang harus meminta izin mendadak. Ibu saya lagi sakit, dan saya ingin melihat keadaannya," Ana sama sekali tidak mempedulikan Bayu yang tengah melotot kepadanya.
Rifki hanya berdiam diri sambil menatap tajam ke arah Ana, hingga tatapan keduanya saling bertemu saat ini. Ana terus mencoba untuk memohon kepada Rifki untuk memberinya libur sehari, karena dirinya ingin pulang untuk bertemu dengan Kinara.
"Pergilah, besok pagi jam 6 kembali kesini dan jangan telat." Rifki pun mulai buka suara ketika melihat linangan air mata yang menggenang di pelupuk Ana.
"Terima kasih Tuan Muda, terima kasih."
Ana pun menundukkan kepalanya beberapa kali kearah Rifki, mendengar jawaban dari Rifki langsung membuat Bayu sangat bingung. Ana sendiri pun langsung pergi dari tempat itu, dirinya bergegas untuk mengambil tasnya dan langsung pergi dari rumah tersebut.
__ADS_1
"Kenapa kau izinkan dia pergi disaat seperti ini, Rif?" Tanya Bayu keheranan ketika melihat Ana melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.
"Awasi dia," Ucap Rifki tanpa menjawab pertanyaan dari Bayu.
"Kenapa?" Tanya Bayu yang semakin dibuat heran dengan Rifki.
"Mungkin duga'an Tuan Muda benar, tapi selama saya mengawasinya tidak ada yang mencurigakan dari dirinya," Guman Reno.
"Kalian semua boleh pergi, kecuali inti Gengcobra. Kalian tetap disini!" Perintah Rifki.
"Baik Tuan Muda!" Seru seluruhnya.
Mereka semua pun membubarkan diri kecuali anggota inti yang masih berada di tempat itu, mendengar cinta itu membuat Bayu keheranan biasanya kalau seperti ini akan ada kabar yang penting yang akan disampaikan. Disana saat ini hanya ada Rifki, Bayu, Reno, dan Vano saja.
"Tuan Muda, jika memang benar dia adalah Nona Muda, pasti dia akan menemui anaknya saat ini. Sebaiknya kita bergerak cepat," Ucap Reno serius.
"Maksud kalian apa?" Tanya Bayu yang tidak paham dengan pembicaraan Reno.
"Aku curiga kalau dia memang benar Nadhira, hanya aku dan Reno yang mencurigainya selama ini. Aku selalu menyuruh Reno untuk mengawasi apa yang dirinya lakukan, ketika aku terkena masalah dia bahkan selalu ada dan jika ditanya selalu jawabnya kebetulan." Jelas Rifki.
"Mana mungkin dia adalah Nadhira? Nadhira tidak memiliki rasa takut, tapi kenapa tadi ketika berbicara dirinya terlihat gugup?" Bayu pun tetap kekeh kalau Ana bukanlah Nadhira.
"Nadhira adalah istriku. Dia juga seorang wanita, memang dia bisa terlihat tegar tapi jangan lupa bahwa dia adalah seorang wanita yang bisa terlihat lemah. Sudah 4 tahun dia bekerja disini, dan Reno selalu mengawasinya tanpa dia sadari."
Rifki sangat yakin bahwa Ana adalah Nadhira yang selama ini dirinya cari, kecurigaan itu semakin hari semakin kuat, akan tetapi dengan pintarnya Ana mampu membolak balikkan perkataan. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk membawanya bertemu dengan anaknya, jika takdir ingin mempertemukan dia dengan anaknya maka takdir sendirilah yang akan mencari jalannya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Bayu.
"Kita ikuti saja dia, kemanapun dia pergi tetap pantau dia," Ucap Rifki.
"Baik Rif, aku akan menyusulnya mumpung dirinya belum terlalu jauh dari sini,"
"Pergilah, tapi jangan sampai posisimu diketahui olehnya, dia itu pintar dan sangat licik. Kau tau sendiri bagaimana sikap Nadhira kan? Dia akan melakukan apapun untuk melindungi orang yang ia sayangi, bahkan dirinya tidak mempedulikan nyawanya sendiri. Jangan sampai kita kehilangan jejaknya lagi,"
"Iya Rif, aku tau harus berbuat apa saat ini."
Bayu masih kurang yakin bahwa Ana adalah Nadhira, akan tetapi dirinya pun penasaran dengan identitas asli dari Ana. Mungkin disaat Ana menemui anaknya, mungkin saja dirinya bisa mengingat wajah gadis itu dari sebelah. Karena memang hanya dirinya yang tau ketika kepergian dari gadis yang bertarung sebelumnya, mungkin dengan melihat orangnya langsung dia akan paham.
Rifki memberitahukan kecurigaannya kepada Bayu hanya karena Bayu lah yang tahu bagaimana wajah Kinara, mungkin dengan cara seperti ini mereka akan dengan mudah menemukan Kinara. Rifki ingin sekali bertemu dengan anaknya, entah sebesar apa anaknya saat ini ia tidak tahu.
Bayu langsung bergegas pergi dari tempat itu bersama dengan Vano, keduanya langsung meninggalkan rumah itu untuk mengejar kemana perginya Ana. Mereka tidak ingin kehilangan jejak lagi, sebelumnya Reno pernah melakukan itu akan tetapi dirinya kehilangan jejak ketika Ana memasuki kerumunan warga.
Sangat sulit untuk menemukan seseorang diantara kerumunan banyak orang, apalagi ketika saat itu jarak keduanya teramat sangat jauh sehingga sangat sulit bagi Reno untuk mengetahui keberadaan dari Ana. Reno pun menceritakan hal itu kepada Rifki, sudah beberapa kali Reno mengikuti kepergian dari Ana akan tetapi anak selalu saja bisa lolos dari pantauannya.
Reno memberi saran agar Rifki mengatakan hal ini kepada inti anggota Gengcobra, akan tetapi hal itu ditolak oleh Rifki karena ia tidak ingin membuat Ana curiga yang mengakibatkan wanita itu pergi dari rumah tersebut. Berhubung karena adanya kejadian saat ini, membuat Rifki mau tidak mau harus mengatakan hal itu kepada inti anggota Gengcobra.
*****
"Dia...."
__ADS_1