
Seketika Nadhira teringat kembali tentang kebersamaannya dengan Rifki, mendadak air mata Nadhira mengalir begitu saja dari ujung matanya, dia sangat rindu dengan Rifki yang selalu memperlakukannya dengan baik selama ini, Nadhira ingin Rifki datang untuk menolongnya saat ini.
"Mbak yang sabar ya, saya akan mencoba untuk membantu anda dengan diam diam"
Dokter Lila menghapus air mata Nadhira perlahan lahan, lalu Nadhira berkata "Lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya anda? Mereka akan dibunuh oleh orang jahat itu, jika anda menolong saya"
"Saya tidak tega melihat anda seperti ini Mbak, mengandung bukanlah hal yang mudah, apalagi harus disekap seperti ini dan dijauhkan dari suami anda, itu adalah hal yang menyakitkan"
"Jangan berbuat nekat Dok, saya tidak mau kedua orang tua anda celaka gara gara anda menolong saya, saya tidak punya orang tua dan saya tau rasanya bagaimana hidup tanpa kedua orang tua"
"Beritahu aku Mbak, bagaimana ciri ciri suami anda ataupun orang terdekat anda, siapa tau aku bisa bertemu dengan mereka"
"Suamiku tampan, matanya agak sipit, dia mempunyai sebuah geng namanya Gengcobra, ada logo ular kobra dibaju setiap anggotanya, tepatnya disebelah kanan, bentuknya kecil berwarna hitam merah, anda harus berhati hati"
"Anda tenang saja Mbak, saya juga ingin lolos dari sini, jika dia memiliki anggota geng, itu artinya aku juga bisa meminta bantuan kepadanya untuk menyelamatkan kedua orang tuaku"
"Rifki pasti akan membantu, jika dia tidak yakin dengan anda maka sebut saja nama Kinara kepadanya"
Dokter Lila pun terdiam mendengar suara lemah dari Nadhira, masih ada harapan untuknya menyelamatkan kedua orang tuanya begitupun dengan wanita hamil yang ada didepannya saat ini, tiba tiba seorang lelaki masuk kedalam ruangan itu hingga membuat keduanya terkejut.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya lelaki itu kepada Dokter Lila.
"Memeriksa kandungannya Tuan, dia bilang bahwa anak yang ada didalam kandungnya tidak bergerak, dan saya hanya ingin memeriksanya saja"
"Kau boleh keluar sekarang"
"Tapi Tuan, dia begitu lemah sekarang, tolong jangan sakiti dia"
"Kau berani memerintahku? Ingat nyawa orang tuamu ada ditanganku"
"Saya tidak berani melakukan itu Tuan, saya hanya kasihan dengan dia dan juga kandungannya"
Mendengar perdebatan itu membuat Nadhira semakin pusing, hal itu membuat Nadhira memejamkan kedua matanya, entah kenapa dirinya benar benar merasa sangat lelah saat ini, dan ketika perdebatan itu berakhir Nadhira merasakan perutnya kembali ditekan oleh orang itu.
"Arghhhhhhhh... Sakit!" Teriak Nadhira yang kembali merasakan sakit diperutnya.
Nadhira pun mengepalkan tangannya dengan kuat untuk menahan rasa sakit tersebut, Dokter Lila yang melihat itu pun langsung menjatuhkan tubuhnya dilantai karena tidak tega melihat Nadhira yang berteriak kesakitan seperti itu.
Selama 1 jam Nadhira terus berteriak kesakitan akan tetapi lelaki itu seakan akan tidak peduli dengan sakit yang dirasakan oleh Nadhira, teriakan Nadhira perlahan lahan mengecil karena tenaganya yang telah habis untuk berteriak.
Tubuh Nadhira pun semakin lemah dengan keringat yang membasahi tubuhnya, meskipun begitu rasa sakit yang ia rasakan pun tak kunjung menghilang, setelah itu lelaki tersebut keluar dari dalam ruangan itu untuk membiarkan Nadhira istirahat.
"Mbak, Mbak ngak apa apa kan?" Tanya Dokter Lila sambil menggoyang goyangkan tubuh Nadhira yang terlihat sangat lemah itu.
"Rifki" Ucap Nadhira lirih sambil memejamkan kedua matanya itu.
"Bertahanlah Mbak, saya akan memberikan obat penghilang rasa sakit itu"
"Jangan, jangan berikan obat itu kepada saya, saya tidak mau anak saya kenapa napa Dok" Ucap Nadhira dengan lemahnya.
"Mbak sangat lemah sekarang, biar saya pasangkan infus ya, biar menambah tenaga anda"
"Iya, tapi jangan beri saya obat itu"
"Iya Mbak"
Dokter Lila pun mengeluarkan infusan yang sudah disediakan ditempat itu, ia lalu memasangkan infus itu ditanya kiri Nadhira, Nadhira merasakan perih ketika tangannya ditusuk oleh jarum infus tersebut akan tetapi tidak berlangsung lama karena setelah cairan masuk kedalam tubuhnya rasa sakit itu perlahan lahan lenyap.
"Rif, bolehkah aku menyerah sekarang juga? Ini sangat sakit, aku tidak sanggup menahannya lagi, Rif aku sangat takut, aku takut tidak bisa lagi bertemu denganmu" Seketika Nadhira teingat dengan ucapan Rifki yang melarangnya untuk menyerah seketika.
Setetes demi setetes air mata Nadhira berjatuhan, tubuhnya yang lemah dan juga sulit untuk membuka kedua matanya itu pun terlihat begitu sangat menyedihkan apalagi dipaksa harus bertahan demi anak yang ada didalam kandungnya.
"Jangan pernah menyerah Mbak, Mbak pasti kuat" Dokter Lila lalu mengusap perut Nadhira pelan.
"Saya sudah tidak sanggup lagi , Dok hiks.. hiks.."
"Mbak harus kuat, saya akan berusaha untuk menolong anda"
"Dok, jika nyawa saya sudah tidak bisa diselamatkan tolong lindungi anak saya, beritahukan pada suami saya bahwa saya sudah tiada, dan berikan anak ini kepadanya untuk dibesarkan, sampaikanlah maaf saya karena saya harus pergi lebih dulu daripada dia"
"Mbak jangan ngomong gitu, saya jadi sedih mendengarnya Mbak, Mbak pasti baik baik saja dan dapat berkumpul kembali dengan suami anda, bertahanlah Mbak, Mbak pasti bisa membesarkan anak anak anda bersama dengan suami anda"
"Aku ingin pulang, dia datang hanya untuk menyakiti, Rifki, jemput kami sayang"
Dokter Lila tau bahwa dengan mengusap perut Nadhira perlahan lahan akan membuat wanita itu merasa tenang, usapan demi usapan lembut yang ia berikan tersebut membuat Nadhira mampu tertidur dengan nyenyaknya.
"Aku harus berbuat sesuatu" Guman Dokter Lila.
__ADS_1
*****
"Apa dia sudah ngaku?"
"Belom Tuan Muda, meski saya sudah mencambuk dirinya beberapa kali, dia masih tetap tidak mau mengaku juga"
"Bawa aku kesana"
"Baik Tuan Muda"
Rifki kini tengah berada didalam markas Gengcobra, sementara Ani saat ini terlihat lemas, diikat dengan kuat disebuah kursi dan juga didalam ruangan yang kedap suara karena tanpa adanya cendela ataupun putaran udara didalamnya.
"Tolong beri saya air, saya haus" Ucap Ani dengan lemahnya tapi tidak ada yang peduli.
Tiba tiba pintu diruangan itu dibuka dengan lebarnya, menampakkan sosok Rifki dengan jas yang ia pakai beserta beberapa anak buahnya dibelakangnya, Rifki menatap tajam kearah Ani yang saat ini sedang begitu lemahnya.
"Lepaskan saya Tuan Muda" Ucap Ani lemah.
"Melepaskanmu? Apa hakmu untuk meminta itu dariku?"
Rifki mendekat kearah wanita itu, dan memegangi pundak wanita itu dengan kuat, hingga dia berteriak kesakitan karena titik kelemahannya dicengkeram kuat oleh Rifki, Rifki yang tengah emosi itupun melupakan bahwa dia adalah seorang wanita.
"DIMANA ISTRIKU!" Bentak Rifki.
"Aku tidak tau, sakit!"
"Aku bisa memberimu lebih sakit daripada ini, berani beraninya kau berurusan dengan diriku"
Rifki pun mencengkeram lebih kuat daripada sebelumnya, hingga wanita itu semakin merintih kesakitan, apapun yang menyangkut Nadhira tidak akan pernah ia ampuni, dia bahkan lebih kejam daripada iblis sekalipun.
"Cambuk dia!" Perintah Rifki.
"Baik Tuan Muda" Jawab Fajar.
Ctiarr... Ctiarr...
Cambukan demi cambukan Fajar lakukan, hingga membuat wanita itu berteriak kesakitan, Rifki yang tidak pernah menyakiti seorang wanita itu pun terlihat tanpa ekspresi ketika wanita itu dicambuk oleh Fajar.
Terlihat ada bekas darah yang memanjang dibaju wanita itu akibat luka dari cambukan, hal itu sama sekali tidak membuat Fajar menghentikan aksinya, Rifki pun menyuruh Fajar berhenti ketika melihat wanita itu kelelahan.
"Sampai kapan kau akan bertahan?" Tanya Rifki kepada wanita tersebut.
"Jangan sakiti anakku!" Teriak wanita itu.
"LALU BAGAIMANA DENGAN ISTRI DAN ANAKKU!" Bentak Rifki hingga membuat nyali wanita itu menghilang entah kemana.
"Maafkan saya Tuan Muda, saya hanya butuh uang"
"Lalu apa yang kau dapat? Apa kau mendapatkan uang itu?"
Mendengar pertanyaan itu seketika membuat Ani terdiam, ia bahkan sama sekali tidak mendapatkan sepeserpun dari orang misterius itu, justru yang ia dapatkan adalah siksaan dari Rifki dan juga anggotanya itu.
"Katakan dimana Nadhira!" Melihat Ani yang hanya membisu itupun membuat Rifki angkat bicara lagi.
"Saya benar benar tidak tau Tuan Muda, maafkan saya karena telah dibutakan dengan janji palsu, saya butuh uang demi biaya sekolah anak saya dan juga operasi Ayah saya"
"Kenapa tidak bilang kepadaku sebelumnya jika kau butuh biaya? Kenapa harus bekerja sama dengan orang lain yang membahayakan istri dan anakku?"
"Saya tidak punya pilihan lain Tuan Muda, saya takut"
"Justru apa yang kau dapatkan dari ketakutanmu ini? Kau membahayakan nyawa istriku"
"Maafkan saya Tuan Muda"
"Beri makan dan minum dia" Ucap Rifki sambil menoleh kearah Fajar dan berlalu pergi dari tempat itu sebelum mendapatkan jawaban dari Fajar.
Melihat Rifki pergi dari tempat itu membuat Fajar segera menyusulnya, sementara anggota Gengcobra lainnya langsung keluar dari ruangan itu dan menutup kembali pintu itu dengan eratnya.
"Kenapa Tuan Muda?" Tanya Fajar yang keheranan mendengar perintah dari Rifki sebelumnya.
"Dia berkata jujur, dia sudah mendapatkan hukuman yang pantas, tapi jangan pernah lepaskan dia sebelum Nadhira ditemukan"
"Baik Tuan Muda"
*****
Rifki dan beberapa anggota Gengcobra kini tengah mendatangi Bi Sari yang kini tengah terbaring lemah diatas bangkar rumah sakit, ketika berjalan dilobi rumah sakit tiba tiba seorang wanita menabraknya hingga membuat keduanya berhenti, wanita itu memakai masker dan kacamata hitam sehingga Rifki tidak begitu jelas melihat wajahnya.
__ADS_1
"Kalo jalan pake mata!" Ucap Bayu yang sedikit menyolot karena emosinya akan tetapi tangannya langsung dipegangi oleh Rifki agar Bayu tidak memperkeruh keadaan.
"Sudah" Ucap Rifki pelan.
"Maaf Tuan saya tidak sengaja, saya sedang buru buru, hingga tidak melihat Tuan yang sedang berjalan tadi" Ucap wanita itu.
"Tidak masalah, lain kali kalo jalan hati hati" Ucap Rifki dan langsung berlalu pergi dari tempat itu untuk menuju keruangan tempat dimana Bi Sari dirawat.
"Terima kasih Tuan"
Wanita itu nampak sekilas menatap kepergian dari Rifki, ia pun tersenyum dibalik maskernya tersebut sehingga tidak bisa dilihat oleh siapapun, ia menatap kearah gerombolan orang itu sampai mereka sudah tidak terlihat lagi.
"Cepatlah datang untuk menyelamatkan istrimu, istrimu butuh pertolongan secepatnya, Kakak ipar" Ucap wanita itu pelan.
Sementara itu Rifki memasuki ruangan dimana Bi Sari dirawat, ia melihat Andre yang tengah tertidur disofa yang ada diruangan itu, mendengar kedatangan seseorang membuat Andre segera membuka kedua matanya itu.
"Tuan Muda, anda datang" Ucap Andre sambil mengusap wajahnya kasar.
"Gimana kondisi Bi Sari?" Tanya Rifki.
"Dia belom sadarkan diri sejak bicara dengan anda waktu itu Tuan Muda"
"Jaga dia dengan benar, hanya dia yang tau wajah dari orang yang menculik Nadhira, kalo ada perkembangan darinya cepat beritahu kepadaku"
"Baik Tuan Muda"
Rifki pun mendekat kearah Bi Sari yang terbaring tidak sadarkan diri itu, bergitu banyak alat yang terpasang pada tubuhnya saat ini, setelah menatapnya cukup lama, Rifki lalu beralih kembali menatap kearah Andre.
"Apa kau sudah memberitahu keluarganya?" Tanya Rifki kepada Andre.
"Saya tidak memberitahu hal itu Tuan, tapi saya menyuruh anggota Gengcobra untuk menjemput orang tuanya, karena saya takut kalo mereka dibiarkan datang sendiri kemari dengan pikiran yang tidak tenang akan terjadi sesuatu kepada mereka"
"Baiklah"
Rifki pun merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya, akan tetapi ia merasakan adanya secarik kertas didalam saku bajunya, ia pun mengeluarkan kertas tersebut dan membukanya.
(Isi surat :
Tolong segera selamatkan Nadhira, dia merintih kesakitan tiap harinya, tubuhnya sangat lemah saat ini, cepat cari keberadaannya, disebuah bangunan yang cukup besar dan jauh dari pemukiman warga setempat, dia terkurung dan tersiksa)
"BANGS*T!" Umpat Rifki setelah membaca secarik kertas tersebut.
"Ada apa Rif?" Tanya Bayu yang terkejut.
"Wanita itu, cepat cari dia, dia pasti tau keberadaan dari Nadhira"
"Wanita yang mana Rif?"
"Wanita yang menabrakku tadi, dia menuliskan sebuah surat dan memasukkannya kedalam saku jasku, mungkin dia tau keberadaan dari Nadhira" Rifki lalu menyerahkan surat tersebut kepada Bayu dan langsung dibaca oleh Bayu.
Tanpa kata kata, Bayu segera berlari keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh beberapa anak buah Rifki untuk mencari wanita yang menabrak Rifki sebelumnya, karena dia bisa jadi satu satunya petunjuk untuk dapat menemukan Nadhira.
Sesampainya ditempat dimana keduanya bertemu sebelumnya akan tetapi Bayu sama sekali tidak menemukan wanita itu, ia pun menyuruh anggota Gengcobra untuk berpencar memberi wanita tersebut kesekeliling rumah sakit itu, setelah 1 jam berpencar akan tetapi mereka tidak menemukan keberadaan dari wanita yang mereka temui sebelumnya itu.
"Kami tidak menemukan Tuan Bayu" Ucap Reno.
"Diujung timur juga tidak ada, aku sudah mencarinya kemana mana tapi tidak ada" Ucap Vano.
"Area parkiran tidak ada juga, saya sudah kesana dan bahkan bertanya kepada penjaga parkir, tapi mereka tidak mengetahui tentang wanita yang ciri cirinya kalian sebutkan tadi" Ucap Andre yang ikut serta mencarinya.
"Jika dia tidak datang kearea parkir itu artinya dia keluar dari rumah sakit ini tanpa melewati area parkiran, apa dia jalan kaki?" Tanya Reno.
"Apa mungkin dia masih ada dirumah sakit ini? Dan berada diruang rawat pasien yang lainnya?" Tanya Bayu yang membuat perhatian seluruhnya terarah kepadanya.
"Disetiap ruangan pasien tidak ada, saya sudah mencarinya satu persatu" Ucap Ilham yang termasuk anggota Gengcobra.
"Kembali keruang rawat Bi Sari sekarang, kita harus memberitahukan hal ini kepada Tuan Muda secepatnya" Ucap Bayu.
"Baik Tuan" Jawab mereka serempak.
Mereka pun kembali keruang rawat Bi Sari untuk memberitahukan hal ini kepada Rifki, bahwa mereka tidak menemukan wanita yang menaruh secarik kertas itu disaku jas milik Rifki.
"Rif, kami tidak menemukannya, dia menghilang begitu cepat"
"Apa kau tau dimana letak rumah itu? Yang tertulis didalam kertas ini?" Tanya Rifki.
"Aku tidak tau Rif"
__ADS_1
"Kita harus menemukan Nadhira secepatnya, aku tidak mau Nadhira semakin tersiksa nantinya".
"Kami akan berusaha Tuan Muda" Jawab mereka serempak.