Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kinara terjaga


__ADS_3

Nadhira yang tidak pernah melakukan hal seperti ini beberapa tahun belakangan, baru kali ini dirinya mampu untuk menghabisi orang lain tanpa rasa takut sedikitpun. Dirinya merasa sangat kecewa karena telah dikhianati oleh orang kepercayaan dari suaminya itu, bahkan orang itu pun menginginkan kematian dari Rifki.


Rasa kekecewaannya itu, langsung membuat sikap iblis yang ada didalam dirinya pun muncul seketika itu juga. Tanpa perasaan dirinya terus menyerang ke arah orang orang itu, bahkan dirinya sama sekali tidak peduli teriakkan kesakitan dari mereka.


Satu persatu diantara mereka mati di tangan Nadhira, Nadhira tidak peduli seberapapun banyak nyawa yang telah mati di tangannya itu. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah misi untuk menyelamatkan Rifki suaminya, dia takkan berani untuk mengambil resiko apapun Hanya untuk keselamatan dari Rifki.


Siapa sangka kini hanya tinggal 5 orang saja yang masih hidup, hanya tersisa 5 orang saja yang masih hidup dan salah satu diantara mereka adalah Hendra sendiri. Ucapannya sebelumnya itu benar benar terjadi saat ini, bahkan dirinya sama sekali tidak membiarkan siapapun yang hidup di tempat itu.


Hendra yang menyaksikan satu persatu anak buahnya yang mati di hadapannya itu merasa sangat ketakutan di hadapan Nadhira, bahkan Nadhira lebih terlihat sangat menyeramkan daripada sosok hantu sekalipun. Setelah membunuh kelima orang itu Nadira langsung mengangkat senjatanya dan menatap tajam ke arah 5 orang itu, Nadhira terlihat sangat emosi ketika menatap Hendra.


"Tunggu saja giliranmu akan segera tiba setelah anak anak buahmu akan mati ditanganku, Hendra. Aku tidak akan pernah melepaskan dirimu begitu saja, siapapun yang ingin menyakiti Rifki harus berhadapan dengan diriku lebih dulu," Ucap Nadhira dengan nada dinginnya kepada Hendra.


Hendra yang memiliki mental hello kitty itu pun merasa takut di hadapan Nadhira, dirinya memang ketua dari Surya Jayantara akan tetapi dirinya tidak terlalu hebat dalam ilmu bela diri tidak seperti anggota Gengcobra. Dirinya memang bisa mengajarkan membela diri akan tetapi mentalnya tidak sekuat apa yang dirinya bicarakan, bahkan di hadapan seorang wanita seperti Nadhira pun dirinya terlihat sangat ketakutan.


Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Nadhira terlihat tersenyum sedikit tersenyum ketika dirinya selesai menghabisi satu anak buah Hendra, bahkan dirinya sama sekali tidak mempedulikan luka yang telah menyayat nyayat kulitnya itu. Luka itu sama sekali tidak sebanding dengan perasaannya yang sangat kecewa karena penghianatan yang dilakukan oleh Hendra, dengan beraninya lelaki itu ingin sekali merenggut nyawa Rifki.


Hendra pun langsung bersembunyi di balik punggung keempat anak buahnya, dirinya menatap takut ke arah Nadhira. Pertarungan itu berhenti dan kedua belah pihak saat ini saling menatap, anak buah Hendra yang terus melindungi Hendra itu pun berada di depan Hendra.


"Majulah kalian semua, kenapa kalian hanya diam saja di situ? Apa kalian tidak sanggup untuk mengalahkan diriku yang hanya seorang perempuan ini?" Tanya Nadhira dengan tegasnya.


Nadhira terlihat sangat menyeramkan saat ini, bahkan dengan luka luka yang dirinya miliki itu. Nadhira bahkan tidak mempedulikan darah yang mengalir dari luka sayatan yang ada ditangannya itu, dirinya bahkan masih mampu untuk memegangi pedang yang ada ditangannya saat ini dengan sangat eratnya.


"Sepertinya kita tidak bisa menghabisi wanita ini, Bos. Dia bahkan tidak memiliki rasa lelah dan takut," Ucap salah satu dari mereka.


"Dia sudah terluka! Apa kalian tidak bisa menghabisi wanita yang sedang terluka ini ha? Untuk apa diriku membayar kalian kalo seperti ini," Hendra begitu murka kepada anak buahnya itu.


Bahkan kini hanya tersisa empat orang anak buahnya, dari sekian banyak orang yang dirinya bayar dan saat ini tersisa empat orang saja. Mereka benar benar mengecewakan baginya, mereka bilang bahwa rencana ini akan berhasil, tapi mengapa mereka semua malah mati sebelum rencananya selesai.


"Tapi Bos, meski terluka dia jauh lebih ganas,"


"Omong kosong! Kalian cepat habis sih wanita itu dan lindungi aku," Ucap Hendra dengan kesalnya sambil mendorong salah satu anak buahnya itu ke hadapan Nadhira.


Dengan segera Nadira pun langsung melontarkan sebuah tendangan kepada lelaki itu, hingga membuat lagi itu terpental mundur ke belakang hingga hampir menabrak ke arah Hendra. Untung saja Hendra langsung menghindari tubuh itu, kalau tidak dirinya pun akan terjatuh di atas tanah bersama dengan lelaki tersebut.


"Akh..." Pekik lelaki yang jatuh di tanah itu.


Siapa sangka lelaki itu justru jatuh mengenai sebuah ranting yang sangat tajam, hingga rating yang tajam itu pun belum langsung menembus dadanya begitu saja. Lelaki tersebut langsung memuntahkan darah setelah dadanya tertusuk oleh sebuah batang pohon, melihat itu tawa Nadhira pun menggelegar di tempat itu.


"Buahahahaha... Mati kalian semua! Hendra, kau tidak akan lolos dari tanganku," Tawanya yang sangat menyeramkan dan juga teriakan penuh dengan kekecewaan nampak begitu sangat menyayat hati.


Nampak ada sebuah tetesan air mata di ujung pelupuk matanya itu, Nadhira merasa sangat dikhianati. Dirinya sama sekali tidak terima jika Rifki dalam bahaya hanya karena orang kepercayaannya itu, bagian bawahnya itu sangat menyayat hati meskipun dengan tertawa akan tetapi dirinya tetap meneteskan air mata.


Nadhira pun menatap tajam ke arah mereka, bahkan tetapannya itu memiliki arti tersendiri. Kini hanya tinggal 4 orang yang tersisa termasuk juga Hendra, bahkan mereka semua pun tidak akan mampu untuk mengalahkan Nadhira saat ini. Jangan pernah beranggapan bahwa wanita itu lemah, bahkan di saat emosi sekalipun kalian bukanlah tandingan seorang wanita.


Memang wanita pada umumnya jika dilukai mereka akan menangis, jika dibentak mereka juga akan menangis, jika pun mereka di dasar mereka juga akan menangis. Karena apa Karena hatinya sangat lembut, akan tetapi sekalipun dia emosi bahkan dia pun sanggup melakukan apapun itu tanpa bantuan sedikitpun.


Wanita yang menangis bukan berarti mereka itu lemah, akan tetapi wanita menangis hanya untuk mengutarakan emosinya saja. Wanita menangis hanya karena dirinya tidak mau bahwa emosinya akan melukai orang lain, oleh karena itu mereka mengutarakannya hanya melalui tangisan.


*****


Tok tok tok


"Tante, apa Tante sudah tidur?" Tanya Kinara dibalik pintu kamar milik Siska.


Dirinya sama sekali tidak bisa tidur saat ini, ia terus memikirkan tentang Mamanya yang belum juga kembali. Kinara berdiri didepan pintu kamar Siska dengan memeluk sebuah boneka ditangannya, sudah lama dirinya berdiri disana akan tetapi tidak mendapatkan sahutan dari Siska.

__ADS_1


Kinara pun mengetuk kembali pintu kamar dari Siska, dirinya benar benar tidak bisa memejamkan matanya karena terus memikirkan tentang Mamanya yang belum juga pulang. Kinara terlihat begitu kasihan saat ini, dengan wajah polosnya dirinya terus berdiri didepan pintu kamar Siska.


Tok tok tok


"Tante, Nara ngak bisa tidur. Apa Tante sudah tidur? Tante bukain pintunya dong," nada bicara Kinara seakan akan menyimpan sebuah kesedihan.


Kinara terus berbicara sendiri didepan pintu kamar Siska, biasaya dirinya akan tidur didalam pelukan Ana, akan tetapi sampai saat ini Ana belum juga pulang kerumahnya. Hal itulah yang membuat Kinara tidak bisa tidur, karena tidak ada yang memeluknya seperti biasanya.


Kinara yang sudah terbiasa tidur dalam pelukan anak itu pun merasa kosong, ketika tidak ada Ana didalam kamar. Biasanya dirinya selalu tidur berdua dengan Mamanya, tapi kali ini dirinya tidur sendirian hal itulah yang membuatnya tidak bisa tidur sampai larut malam.


Siska pun mengerjakan matanya, ketika mendengar suara Kinara yang berbicara di depan pintu kamarnya. Nyatanya gadis kecil itu masih belum juga tidur, tidak biasanya gadis itu akan terjaga seperti ini, bahkan setiap harinya saja jam 8 malam sudah tidur dengan nyenyak, tapi kali ini dirinya justru terjaga.


Ceklekkk...


Tiba tiba, Siska membuka pintu kamar tersebut. Wajah Siska begitu cantik karena dirinya yang melepaskan cadarnya tersebut dihadapan Kinara, Siska biasanya tidak memakai cadar ketika dirumah tersebut tidak ada orang selain anggota keluarganya.


"Nara kok belum tidur?" Tanya Siska kepada Kinara yang masih mampu membuka kedua matanya dengan lebarnya tanpa rasa mengantuk.


"Tante, Mama kemana? kenapa belum pulang juga?" Tanya Kinara dengan wajah sendunya karena dirinya yang merasa begitu sedih saat ini.


"Kakak belom pulang juga?" Tanya Siska yang terkejut mendengarnya.


Siska dan Kinara tidak tau kemana perginya Ana saat ini, entah kenapa dirinya belum juga pulang. Siska pun melihat kearah jam dinding yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, dan waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, akan tetapi Ana belum juga pulang.


"Tante, ayo cari Mama sekarang. Nara ngak mau ditinggal seperti ini,"


"Nara, ini sudah malam. Tante ngak tau harus cari kemana nanti, diluar sangat sepi dan gelap,"


"Terus gimana kalo Mama takut gelap? Kalo Mama kenapa kenapa dijalan nanti gimana?"


"Mamamu pasti baik baik saja kok, Nara tau kan kalo Mama Nara jago beladiri? Dia pasti bisa jaga diri, sementara Tante? Tante ngak bisa beladiri,"


"Pasti, Nara tidur dulu ya? Siapa tau besok ketika Nara terbangun, Mama Nara sudah pulang,"


"Nara ngak bisa tidur, Tante. Biasanya Nara kalo tidur dipeluk sama Mama, tapi Mama belum pulang sampai sekarang, Nara takut tidur sendirian. Nara maunya tidur sama Mama,"


"Gimana kalo Nara tidur sama Tante dulu? Nanti Tante yang akan peluk Nara, besok Kakak pasti pulang kok, kan dia sudah janji sama Nara. Dia pasti menepatinya kok, Nara ngak perlu cemas ya?"


Mendengar itu langsung membuat Kinara menitihkan air mata ketakutan, dirinya takut kalau Mamanya kenapa napa diluar sana. Selama ini Ana selalu menepati janjinya kepada Kinara, akan tetapi entah kali ini kenapa gadis kecil itu merasa begitu panik dan juga gelisah karena Ana yang belum juga kembali pulang sampai jam segini.


"Ngak mau, Nara maunya sama Mama hiks.. hiks.. hiks.. Nara maunya tidur sama Mama. Nara nggak mau tidur sama Tante, Nara maunya tidur sama Mama. Tante ayo cari Mama sekarang," Kinara pun terisak tangis saat itu.


Siska pun langsung memeluk tubuh Kinara dengan erat untuk menenagkan gadis kecil tersebut, Siska lalu mengusap punggungnya yang bergetar karena menangis itu. Kinara benar benar takut kalau Ana kenapa kenapa diluar sana, bahkan sampai jam segini pun dirinya belum juga kembali pulang.


"Shuuutttt.... Nara jangan nangis ya? Tante jadi bingung harus gimana sekarang, dunia ini sangat luas. Nara tidur sama Tante dulu ya? Besok pagi kita cari Mama bareng bareng,"


"Ngak mau Tante, Nara maunya sekarang sama Mama,"


"Terus Tante harus gimana sekarang? Ini masih malam, Nara. Jangan nangis ya? Mama Nara kan sudah janji, kalau besok pagi dia pasti pulang. Kita tunggu sampai besok ya?"


"Tante harus cari Mama, Nara mau ketemu sama Mama. Nara takut kalau ditinggal seperti ini Tante, Nara nggak mau pisah sama mtama, Nara masih mau sama Mama."


"Iya Tante pasti cari Mamanya Nara kok, tapi ini masih malam. Besok pagi ya? Besok Mama Nara pasti pulang kok, kita tunggu besok saja ya?"


"Ngak mau, harus cari sekarang juga Tante. Mama nggak boleh tinggalin Nara seperti ini, tolong Tante cari Mama sekarang,"

__ADS_1


"Nara, Tante ngak tau harus cari kemana. Ini masih terlalu larut untuk keluar rumah, lalu kita harus cari kemana? Nanti kalo kenapa kenapa dijalan gimana? Terus pas Mama Nara pulang lalu nyariin Nara gimana?"


"Nara maunya sana Mama! Nara ngak mau ditinggal Mama seperti ini, Tante. Ayo jemput Mama sekarang, Nara takut,"


"Nara..."


Ceklek..


Tiba tiba sebuah pintu pun terbuka ketika mendengar percakapan keduanya itu, sosok wanita paruh baya pun keluar dari kamarnya untuk menghampiri keduanya. Siska dan Kinara pun langsung menoleh kearahnya secara bersamaan, melihat itu langsung membuat Kinara semakin menangis.


"Ada apa ini? Kenapa Nara menangis? Siska Kenapa Nara sampai nangis seperti ini malam malam?" Tanya Bu Siti kepada Siska.


"Nenek, ayo cari Mama. Nara mau tidur sama Mama, ayo Nek cari mama sekarang," Ucap Kinara sambil berlari kearah Bu Siti.


Kinara pun menarik narik baju milik Bu Siti, dirinya berusaha mengajak wanita itu untuk mencari Mamanya. Bahkan sampai larut malam seperti ini mamanya juga belum kembali, entah ke mana perginya mereka semua tidak ada yang tahu.


"Ana belum juga pulang?" Tanyanya sambil menoleh kearah Siska.


"Belum pulang dari semalam, Bu. Siska ngak tau kemana perginya, kemarin dia hanya menitipkan Nara kepada Siska. Dia bilang untuk menyuruh Siska jagain Nara, pas Siska tanya dia nggak jawab sama sekali," Jawab Siska.


"Apa dia sama sekali tidak memberitahukan ke mana dia akan pergi?"


"Sama sekali tidak, Bu. Dia cuma berpesan untuk Siska jagain Nara dan jangan sampai Nara kenapa napa, Siska nggak tahu apa yang terjadi sama kakak. Tapi kemarin pas waktu acara dia seakan akan terlihat sedih, Entah mengapa dia sedih kenapa,"


"Apa jangan jangan dia terkena masalah?".


"Kalau soal itu nggak tahu, Bu. Kalaupun kita nyari juga, kita akan nyari ke mana coba? Siska jadi bingung kalau soal seperti ini, apalagi Kakak sama sekali tidak berpamitan,"


"Nara tidur sama Nenek aja ya sekarang? Kalo nungguin Mama, Nara ngak tidur tidur dong?" Ucap Bu Siti sambil menenangkan Kinara.


Setelah sekian lama membujuk Kinara akhirnya gadis itu mau menurutinya, Kinara langsung diajak masuk kedalam kamar milik Bu Siti. Dengan berat hati, Kinara lalu melangkah menuju kekamar Bu Siti, dirinya pun langsung tidur didalam pelukan wanita paruh baya itu.


Cukup lama Kinara berada didalam posisi itu, akan tetapi kedua matanya masih tetap tidak mau terpejamkam juga. Kinara tidak merasakan kenyamanan ketika dipeluk oleh Bu Siti, dan hal itu berbeda jauh dari bagaimana Ana memeluknya biasanya.


Bu Siti yang sudah larut kembali dalam mimpinya itu tidak mengetahui bahwa Kinara masih terjaga sampai saat ini. Kinara terus memikirkan tentang keadaan Mamanya, dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak jika belum mengetahui kondisi dari Mamanya itu.


"Nenek sudah tidur?" Tanya Kinara sambil mentotol hidung milik Bu Siti.


Apa yang dilakukan oleh Kinara itu langsung membuat Bu Siti merasa terganggu, hal itu langsung membuat wanita paruh baya tersebut membuka kedua matanya kembali. Dirinya pun melihat kearah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 2 pagi hari, akan tetapi Kinara masih belum juga tertidur.


"Ada apa, Nara?" Tanya Bu Siti.


"Kenapa Mama belum juga pulang, Nek? Mama kemana sih?" Tanya Kinara dengan nada sedikit sesenggukan.


"Tadi sebelum pergi, Ana bilang apa aja ke Nara?"


"Ngak bilang apa apa ke Nara, Nek. Katanya Nara nanti pulang sama Tante Siska, lalu Mama akan menyusul setelahnya, kenapa sampai sekarang Mama belum kembali juga?"


"Besok pagi saja kita cari Mama bareng bareng ya? Sekarang masih malam, Nak. Nara tidur dulu sama Nenek ya, besok pagi saja kita cari Mama,"


"Tapi Nak, Kinara merasa nggak tenang kalau mama belum pulang, bagaimana kalau mama membutuhkan bantuan kita? Terus kita nggak ada di sampingnya, lalu siapa yang akan membantu Mama nanti?"


"Nara sekarang tidur dulu ya nanti Nara sakit, kalau Nara sakit nanti Mamanya Nara bakalan sedih. Nara mau buat Mamanya Nara sedih? Nara tidur dulu ya, besok pagi kita akan cari mama Nara bareng bareng,"


Kinara pun hanya bisa berdiam diri, ia mencoba memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh kedua orang itu sebelumnya. Benar juga, jika dirinya sakit maka yang paling terluka adalah Ana, dan Kinara juga tidak mau Mamanya sedih.

__ADS_1


Kinara mencoba memejamkan matanya kembali, meskipun hal itu sama sekali tidak berhasil untuk membuat rasa kantuk mendatanginya. Akan tetapi tidak ada salahnya untuk terus mencoba, siapa tahu nantinya dia bakalan terlelap dengan sendirinya. Meskipun sudah berusaha dengan sangat kerasnya, Kinara masih terjaga dalam tidurnya.


Tidur tanpa kehadiran dari Mamanya, membuat Kinara tidak bisa tidur dengan nyenyaknya. Pelukan yang diberikan oleh orang lain terlihat sangat berbeda daripada pelukan yang biasanya diberikan oleh Ana kepadanya, karena di sanalah terdapat ikatan batin yang sangat kuat.


__ADS_2