Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Berkunjung


__ADS_3

Nadhira menatap tajam kearah Rifki, hal itu membuat Rifki seakan akan diintimidasi oleh Nadhira, Rifki pun menelan ludahnya dengan susah payah, tanpa disangka bahwa Nadhira lalu melemparkan gunting tersebut kesembarang arah, hal itu langsung membuat Rifki mampu bernafas dengan leganya, akan tetapi tindakan Nadhira selanjutnya membuatnya hampir berhenti bernafas.


Kelakuan Nadhira selanjutnya berada diluar nalar Rifki, Nadhira pun menyentil barang berharga miliknya dengan sangat keras dan hal itu langsung membuat Rifki mengenggam tangannya dengan sangat erat dengan nafas yang sedikit memburu.


"Kau mau apa sayang?" Tanya Rifki dengan nafas yang memburu karna itunya berdiri.


"Memperk*sa dirimu" Jawab Nadhira sambil memainkan tangannya.


"Hah?" Rifki sama sekali tidak mempercayai apa yang dirinya dengar saat ini.


"Diam, atau ku bunuh kau"


Tanpa disangka bahwa Nadhira sendiri kini tengah basah, Rifki memejamkan matanya disaat Nadhira melepaskan celananya begitu saja dihadapannya, dirinya benar benar tidak menyangka dengan apa yang terjadi dengan Nadhira saat ini.


Nadhira meraba dada bidang suaminya dengan perlahan lahan sambil menempelkan tubuhnya pada tubuh Rifki, Nadhira pun menempelkan bibirnya dileher Rifki dan menghisapnya perlahan lahan.


Rifki yang merasakan itu hanya bisa meneguk ludahnya dengan susah payah, Rifki sungguh tidak tahan dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira kepadanya itu, keringatnya kini tengah bercucuran dengan derasnya.


"Aku sangat mencintaimu Rif, sangat sangat sangat mencintaimu, saat ini dan selamanya" Bisik Nadhira ditelinga Rifki dengan nafas beratnya.


"Lepaskan aku Dhira, aku sudah tidak tahan lagi" Ucap Rifki dengan nafas yang cepat.


"Diamlah, aku tidak akan melepaskan dirimu"


"Kau membuatku sangat resah sayang, tolong lepaskan aku sayang plis aku mohon"


"Kau yang memulai terlebih dulu Rif, jadi aku yang akan mengakhirinya"


"Jangan pernah berakhir, aku tidak mau kau pergi"


Setelah Rifki mengatakan itu Nadhira menempelkan bibirnya dibibir Rifki, iya lalu ******* bibir Rifki, permainan Nadhira yang agresif tersebut membuat Rifki tidak berdaya.


"Manis, kayak gula" Ucap Nadhira.


*****


Beberapa hari kemudian kini Rifki dan Nadhira tengah berbelanja disebuah minimarket, keduanya akan berkunjung dirumah Putri dan Haris sehingga mereka harus membelikan sesuatu sebagai buah tangan sebelum berkunjung.


Hari ini adalah hari minggu, dimana Rifki libur bekerja sehingga memanfaatkan waktu untuk berkunjung menemui kedua orang tuanya, karena memang sudah lama keduanya tidak berkunjung kesana.


"Mama sukanya apa Rif?" Tanya Nadhira sambil memilih beberapa buah yang telah dikupas.


"Entah, aku tidak pernah tinggal bersama Mama selama ini, jadi aku tidak terlalu hafal soal seleranya itu sayang"


"Iya juga sih, tapi masak kamu ngak tau sama sekali apa yang disukai oleh Mama?"


"Mama selalu suka apa yang aku beri sayang, dia tidak pernah protes dengan apa yang aku berikan kepadanya selama ini"


"Bagaimana kalo kita belikan es cream saja?"


"Itu mah kesukaanmu sayang, masak iya Mama dibelikan es cream sih"


"Kan Ayu juga suka nanti"


"Bagaimana kamu tau kalo Ayu suka es cream?"


"Dulu kan kamu pernah cerita kepadaku, kalo Ayu suka es cream, waktu Ayu masih kecil"


"Ingatanmu cukup dalam ya sayang, aku sampai lupa kalo aku pernah cerita kayak gitu ke kamu, padahal itu sudah bertahun tahun yang lalu"


"Ingatanmu saja yang buruk Rif"


Rifki pun tersenyum tipis kearah Nadhira sambil mengusap puncak kepala Nadhira dengan penuh sayang, Nadhira selalu bahagia disaat Rifki mengusap kepalanya seperti saat ini, karena disaat itu Nadhira merasa sangat disayangi oleh Rifki.


Sungguh membahagiakan jika dapat dicintai dan disayangi oleh seorang lelaki yang bila mana lelaki itu tidak mencintai wanita lain selain dirimu, diratukan dan diperlakukan dengan baik oleh seorang lelaki adalah impian terbesar bagi seorang wanita, dan tidak setiap wanita beruntung akan hal itu.


Mereka pun membeli beberapa buah dan juga bahan bahan dapur untuk Putri, karena perut Nadhira yang saat ini sudah memasuki usia 5 bulan, membuat Rifki tidak pernah mengajak Nadhira untuk naik sepeda motor lagi dan memiliki untuk naik mobil, Rifki juga tidak memperbolehkan Nadhira kemana mana tanpa pengawasan darinya.


Nadhira seakan akan tengah dijaga begitu ketatnya oleh Rifki dan juga anggota Gengcobra, kemapun Nadhira ingin pergi akan selalu ditemani oleh Rifki dan beberapa inti anggota Gengcobra tanpa membiarkan Nadhira sendirian.


Meski Nadhira merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu oleh Rifki akan tetapi dirinya tidak bisa membantah ucapan Rifki, apapun yang dilakukan oleh Rifki adalah hal yang terbaik untuknya, dan ia tidak mau membuat Rifki marah kepadanya.


Didalam mobil itu Nadhira menikmati perjalanannya sambil memakan es cream yang ia beli sebelumnya, sebenarnya jaraknya dengan rumah Putri saat ini cukup dekat akan tetapi terasa begitu jauh karena Pak Mun yang menyetirnya dengan kecepatan dibawah rata rata sesuai dengan perintah Rifki.


"Rif, kamu menangis? Kenapa?" Nadhira baru menyadari bahwa tatapan Rifki kepadanya saat ini begitu sayup dan bahkan adanya setitik air mata diujung pelupuk matanya.


"Ah ngak sayang, hanya kelilipan saja kok" Ucap Rifki seraya mengusap air matanya.


"Ada apa Rif?


"Ngak apa apa sayang, kamu ini kayak anak kecil Dhira, makan es cream saja sampe belepotan seperti ini" Rifki lalu mengusap es cream yang belepotan dibibir Nadhira tersebut.


"Ini enak sekali Rif, dingin dimulut dan juga segar di tenggorokan, kamu harus cobain"

__ADS_1


"Mungkin ini hanya firasat buruk saja, Dhira dan anakku pasti akan baik baik saja, berhenti memikirkan hal yang tidak tidak Rifki, Dhira pasti baik baik saja" Batin Rifki yang menyemangati dirinya sendiri.


Melihat Rifki yang menatap kosong kearahnya membuat Nadhira merasa bingung dengan sikap suaminya itu, ia pun menyuapkan es cream dingin tersebut kemulut Rifki hingga membuat Rifki terkejut dan juga tersadarkan dari lamunannya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Rif?"


"Tentang masa depan anak kita, dia akan tumbuh menjadi laki laki yang baik, aku tidak sabar menantikan hari itu tiba sayang, pasti sangat membahagiakan untuk dilihat" Ucap Rifki sambil tersenyum manis kearah Nadhira.


"Aku tidak tau apa yang sedang kamu pikirkan belakang ini Rif, kamu selalu menutup nutupi semuanya dariku, bukankah sepasang suami istri tidak baik menyimpan rahasia satu sama lain?"


"Aku tidak bisa berbohong kepadamu Dhira, aku tidak menyimpan rahasia apapun darimu, jangan berpikiran yang aneh aneh"


"Kau berubah Rif, tidak seperti Rifki yang aku kenal sebelumnya, seakan akan memang ragamu disini tapi kenyataannya pikiranmu pergi entah kemana, kau lebih banyak melamun daripada menghabiskan waktu bersamaku"


"Maafkan aku Dhira, maaf ya, aku salah, mulai sekarang aku akan lebih fokus kepadamu"


"Janji?" Nadhira mengangkat jari kelingkingnya kearah Rifki.


"Janji sayang" Rifki pun menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Nadhira.


Nadhira lalu menyandarkan kepalanya dipundak Rifki sambil menikmati es cream tersebut, Rifki pun memegangi pundak Nadhira dan membiarkan Nadhira bersandar pada pundaknya, nyaman itulah yang dirasakan oleh Nadhira saat ini.


"Jangan pernah tinggalkan aku ya Dhira, aku sangat menyayangimu"


"Aku tidak akan pergi meninggalkanmu Rif, meskipun nyawaku nantinya akan pergi, cintaku kepadamu tidak akan pernah meninggalkanmu"


"Jangan katakan itu Dhira, kau harus tetap hidup bersama denganku"


"Ngak ada yang abadi didunia ini Rif, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya mati, cepat atau lambat kita juga bakalan merasakan hal itu, aku ingin menikmati waktu bersamamu dan juga anak anak kita nantinya"


"Kita pasti akan menikmati hari itu Dhira, dan menyaksikan anak anak kita tumbuh dewasa"


"Iya sayang, pasti saat itu tiba, anak kita akan sangat mirip denganmu, dan anak kita ini akan menjadi Kakak yang baik untuk Adeknya nanti"


"Kamu berencana memiliki anak berapa Dhira?"


"Dua saja sudah cukup sayang, dan anak kedua adalah perempuan, jadi Kakaknya bisa menjaga Adeknya dengan baik"


"Rencanaku sih punya 10 anak Dhira, kan rumah kita nanti jadi rame"


"Jika waktunya tiba pasti akan sepi Rif, mereka pasti akan berkumpul bersama keluarga barunya jika sudah menikah nanti"


"Bukan masalah sayang, asalkan kita selalu bersama itu sudah cukup, bersantai sambil meminum teh hangat dan menikmati roti berdua dihari tua pasti sangat membahagiakan"


"Disaat itu, kau tetap menjadi istriku yang paling cantik bagiku"


Rifki mengusap perut buncit Nadhira dengan perlahan lahan, Nadhira memegangi tangan Rifki yang tengah mengusap perutnya itu, Nadhira tersenyum kearah Rifki dengan senyuman yang begitu tulus.


Pandangan keduanya bertemu dan saling menatap cukup lama hingga bayi yang ada diperut Nadhira memberi respon dengan sebuah tendangan hingga membuat fokus keduanya tertuju kepada perut Nadhira yang buncit.


"Eh anak Papa senang ya" Rifki pun mendekatkan telinganya kepada perut Nadhira.


"Adek bahagia didalam Papa, sebentar lagi Adek akan melihat dunia" Ucap Nadhira.


"Dhira, kata anak kita dia minta Adek lagi" Ucap Rifki yang sejak tadi menempelkan telinganya kepada perut buncit Nadhira.


"Ya nunggu dia keluar dulu sayang, mana bisa buat Adek lagi kalo dia masih didalam sana"


"Biar nanti usianya tidak jauh beda sayang"


"Oh iya Rif, kamu sudah memikirkan nama yang cocok untuk anak laki laki kita?"


"Arifin, cocok kan sayang? Dia adalah anakku jadi harus ada unsur nama Rif nya".


"Bagus juga sayang, kalo perempuan nanti bakal aku kasih nama Kinara Abrilia Tricandra"


"Bagus, tapi bukankah itu nama yang ada ditongkat kita sayang?"


"Itukan singkatan dari nama kita sayang, biar kita berdua selalu ingat dengan anak anak kita"


"Iya sayang"


Tak beberapa lama kemudian sampailah keduanya dirumah Putri dan Haris, keduanya langsung disambut oleh suara cempreng khas milik Ayu yang berteriak kegirangan atas kedatangan kedua orang tersebut dirumahnya.


"Mama mana Ay?" Tanya Rifki.


"Ada didalem Kak, ada Papa sama Kakek juga" Jawab Ayu yang masih memeluk lengan Nadhira.


"Kakek juga didalem? Tumben, biasanya dimarkas"


"Oh iya Ayu, Kakak punya es cream loh, nih untuk Ayu" Ucap Nadhira sambil menyerahkan sebuah kantung kepada Ayu.


"Makasih Kakak Cantik, Kakak baik banget deh"

__ADS_1


"Sama sama Ayu, ya sudah Kakak sama Kak Rifki masuk dulu ya, mau bertemu dengan Mama".


"Iya Kak"


Nadhira dan Rifki lalu berjalan masuk kedalam rumah tersebut, mereka mendapati keluarga besarnya kini tengah berada diruang keluarga dan sedang menikmati acara televisi siang itu.


"Assalamualaikum" Ucap Rifki.


"Waalaikumussalam" Jawab mereka serempak.


Nadhira dan Rifki lalu mencium tangan mereka bertiga satu persatu, Rifki lalu menaruh buah tangan yang ia bawa sebelumnya dimeja makan yang berada didekat dapur tersebut.


"Eh mantuku datang, mari duduk sini Nak" Ucap Putri sambil memberi ruang bagi Nadhira untuk duduk didekatnya itu.


"Mama ngak nyuruh Rifki duduk juga?" Tanya Rifki.


"Ngak, kamu berdiri saja disitu" Jawab Putri.


"Begini nih kalo dianak tirikan oleh Mama sendiri"


Nadhira lalu duduk disamping Putri dengan perlahan lahan karena dirinya sedikit kesulitan untuk duduk, Putri lalu membantu Nadhira agar bisa duduk dengan nyaman disebelahnya dengan memberi sandaran sebuah bantal dibelakang Nadhira.


"Bagaimana kabarnya Nak? Sehat?" Tanya Putri sambil mengusap kepala Nadhira.


"Alhamdulillah sehat Ma, Mama sendiri bagaimana?"


"Seperti yang kamu lihat Nak, Alhamdulillah Mama sehat sehat aja"


"Ma, Ayu mau Adek juga, biar Ayu ngak kesepian terus kayak gini" Rengek Ayu yang baru tiba sambil membawa es cream ditangannya.


"Ini sudah ada Adek diperut Kakakmu, mau Adek yang gimana lagi Ay?" Ucap Putri sambil mengusap perut Nadhira.


"Mau Adek kandung kali Ma" Ucap Rifki dengan santainya sambil menyandarkan punggungnya disandaran sofa ruang keluarga.


"Minta ke Papamu Nak, jangan ke Mamamu, yang bisa bikin itu Papamu bukan Mamamu" Ucap Aryabima sambil tersenyum.


"Ih Ayah, Ayu masih kecil belom mengerti" Ucap Haris gelagapan mendengar ucapan dari Aryabima.


"Pa, bikinin Adek dong" Ucap Ayu seraya bergelantungan dikaki Haris yang tengah duduk.


"Jangan Pa, Rifki ngak setuju, yang ada nanti malah nambah dua bocah resek lagi" Bantah Rifki.


"Ayu ngak resek, Kakak aja tuh yang resek, ya kan Kakak cantik?" Ucap Ayu sambil menatap kearah Nadhira yang tengah menonton acara televisi.


"Iya Kakakmu sangat resek, sampe sampe tidak membiarkan Kakak tidur dengan nyenyak setiap malem" Nadhira menanggapi ucapan Ayu.


"Maafin atuh Dhira, kan anak kita ingin bermain dengan Papanya, buktinya dia sering nendang nendang kalo disentuh sama Papanya" Ucap Rifki.


"Iya sih, tapi sakit Rif ditendangin mulu gara gara dirimu itu"


"Wah, dedek bayi sudah bisa nendang" Ayu kegirangan mendengarnya dan langsung bergegas menuju Nadhira sambil mengusap perut Nadhira.


Ayu terlihat begitu heboh ketika mendengar bahwa bayi yang ada di perut Nadhira mulai bisa menendang, ia pun ingin memastikannya sendiri dengan cara mengusap perut Nadhira dengan perlahan lahan.


"Eh cucu Kakek sudah belajar nendang ya" Ucap Haris yang merasa senang mendengarnya.


"Sudah dong Pa, Rifki juga sudah mengajarkan ilmu beladiri kepadanya, bantingan pun sudah pandai dia, gajah saja bisa dibanting juga" Ucap Rifki bangga.


"Ngak gerak tuh" Ucap Ayu yang tidak merasakan apa apa setelah menyentuh perut Nadhira.


"Dia hanya mau sama Papanya Ayu, kalo dielus sama Papanya pasti nendang nendang dan keras lagi tendangannya itu" Ucap Nadhira.


"Ini ngak adil, Ayu juga pengen bisa merasakan tendangannya Kakak"


"Rif, kita nginep disini malam ini yuk, aku sangat rindu sama Mama Lia, aku pengen tidur sama Mama Putri, mungkin rasa rinduku akan terobati"


"Boleh kok Nak, anggap Mama seperti Mamamu sendiri ya, jangan sungkan sungkan, jangan anggap Mama sebagai mertuamu lagi tapi anggaplah Mama seperti orang tuamu juga" Ucap Putri.


"Makasih ya Ma" Ucap Nadhira dengan kedua mata yang berkaca kaca mendengar ucapan Putri.


"Kalo kamu tidur sama Mama, lalu aku tidur sama siapa Dhira?"


"Sama tikus aja, noh diatap rumah Mama banyak tuh" Ucap Putri.


"Mama tega banget deh, masak anak sendiri disuruh tidur sama tikus, emang ngak ada yang lain apa Ma? Kenapa harus sama tikus sih?"


"Ya udah tidur sama macan sana dikebun binatang"


"Bangun bangun sudah beda alam aku Ma"


Mendengar ucapan itu membuat seluruhnya tertawa bersama sama, canda tawa tersebut membuat Nadhira merasa bahwa dirinya merasakan adanya kasih sayang keluarga yang selama ini belom pernah ia rasakan sebelumnya.


Didalam keluarga besar itu tercipta sebuah kehangatan yang sejak kecil tidak pernah Nadhira rasakan sejak kepergian dari Lia, karena disana ada kehadiran dari Haris dan Putri yang bisa dianggap sebagai orang tuanya juga.

__ADS_1


__ADS_2