Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Om baik


__ADS_3

Kinara justru berpegangan semakin erat kepada pohon tersebut, dirinya tidak mau turun dari sana akan tetapi malah menyuruh Rifki sendiri yang naik keatas bersamanya. Dahan pohon yang terlihat mudah patah itu pun tidak memungkinkan Rifki untuk baik keatasnya, bahkan Rifki takut jika Kinara akan terjatuh nantinya jika tidak mau turun dari sana.


"Ngak muat dong, Nak. lihat dahannya juga begitu kecil seperti itu, emang Nara mau jatuh berdua sama Om nanti?"


"Iya juga sih, Om. Tapi Nara suka disini daripada duduk dikursi itu,"


"Ya udah kita cari tempat duduk yang lain, tapi Nara harus turun dulu dong,"


"Nara ngak mau turun, Om. Nara suka disini, Om aja yang naik kesini sama Nara,"


"Terus gimana dong? Masak Om kalo mau ngomong sama Nara harus mendongak gini sih? Turun sekarang dong, pliss..."


Kinara pun terdiam mendengar ucapan Rifki, benar juga sih kalau berbicara dengan seperti itu maka sangat tidak nyaman. Akan tetapi, Kinara sendiri tidak mau turun dari atas pohon, sehingga Rifki terus berusaha untuk membujuk gadis kecil itu.


"Nara turun, ya? Bahaya kalo jatuh nanti, kalo jatuh terus tangan atau kaki Nara terluka nantinya gimana? Yang ngerasain sakit kan Nara sendiri, ayolah turun dari sana gih..."


"Nara suka disini, Om. Disini Nara bisa melihat pemandangan yang luas,"


"Hem.... Gimana kalo Nara turun dulu, biar ngak jatuh, Nak. Jatuh itu sakit,"


Rifki berusaha untuk membujuk Kinara agar mau turun dari atas pohon itu, akan tetapi Kinara tetap kekeh untuk duduk diatas sana sambil menikmati pemandangan ditaman itu. Kinara pun menyandarkan kepalanya dibatang pohon itu sambil memeluk batang pohon tersebut agar tidak jatuh.


"Eh iya, Om tadi punya es cream loh, Nara mau ngak?" Tanya Rifki.


"Es cream? Mana Om baik? Nara mau," Ucap Kinara dengan antusiasnya.


"Mangkanya turun dulu gih, nanti Om habisin sendiri loh,"


"Baiklah, Nara mau turun, tapi Om baik harus kasih Nara es cream yang banyak,"


"Iya, Om janji setelah ini Om akan ajak Nara belanja es cream disana, mau ngak?" Rifki pun menunjuk kearah sebuah toko yang berjualan es cream.


"Mau Om," Kinara pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Turun sekarang, Nak."


Kinara pun langsung bergegas untuk menginjakkan kakinya didahan tersebut, dengan hati hati dirinya menginjakkan kakinya disana. Akan tetapi tiba tiba kakinya seperti tengah tergelincir dan membuatnya hendak jatuh kebawah akan tetapi kedua tangannya langsung membuatnya seperti tengah bergelantungan diatas pohon.


"Astaga Nara!" Teriak Rifki terkejut.


"Om tolongin Nara! Nara takut!" Teriak Kinara yang saat ini tengah bergelantungan diatas pohon.


"Nara lepasin pegangannya ya, biar Om tangkap dari bawah," Ucap Rifki dan langsung bergegas diposisi siap siaga untuk menangkap Kinara.


"Nara takut, Om!"


Kinara merasa sangat takut ketika dirinya kini tengah berada diposisi bergelantungan seperti itu, apalagi ketika membayangkan bahwa pohon itu begitu tinggi untuk anak seusia dirinya, dan Kinara benar benar seperti tengah ketakutan saat ini.


"Jangan takut, Om ada dibawah Nara kok, Nara lepasin pegangannya biar Om tangkap dari bawah,"


"Kalo jatuh terus Nara jadi bakwan goreng gimana, Om? Nara ngak mau dimakan Om,"


"Ha?" Bengong Bayu ketika mendengar perkataan dari Kinara, dirinya pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Ck.. Bantuin lah, Bay. Jangan diem aja gitu, gimana kalo anak ini jatuh? Bisa bisa dia akan terluka nanti," Ucap Rifki sambil berdecak kesal.


"Terus aku harus gimana, Rif? Gimana caranya bantuinnya? Itu tinggi banget loh,"


"Cari tangga atau apa gitu kek, buruan sana!"


"Iya iya, Rif. Kamu tunggu sini biar aku cari sesuatu,"


"Kalo ngak tunggu disini lalu aku harus gimana? Nanti ditinggal kalo ngak tau dia jatuh gimana?"


"Iya Rif iya, diriku salah berbicara tadi,"


"Buruan cari sesuatu!"


"Laksanakan Bos!"


Bayu dengan segera berlari dari tempat itu untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyelamatkan gadis kecil tersebut. Entah apa yang harus dirinya cari, intinya dia segera pergi dari tempat itu karena takut Rifki akan marah kepadanya.


"Om, tangan Nara sakit!" Teriak Kinara dari atas.


"Nara lepasin aja pegangannya. Dengerin Om ya, Om tangkap dari bawah sini,"


"Tapi Nara takut, Om."


"Ngak papa, Nak. Jangan takut ya? Om bakalan nangkap Nara kok,"

__ADS_1


"Om tangan Nara sakit,"


"Lepasin, Nak. Om tangkap dari bawah,"


Tangan Kinara pun terlepaskan begitu saja karena lamanya dia menggantung sehingga dia tidak kuat untuk terlalu lama berpegangan. Melihat itu langsung membuat Rifki siaga, dan langsung segera menangkap tubuh Kinara yang jatuh itu.


Kinara pun berteriak karena ketakutannya ketika jatuh dari atas pohon, beruntunglah Rifki segera menangkap tubuhnya dan memeluknya dari bawah ketika dirinya terjatuh. Rifki merasa lega ketika Kinara berhasil ditangkapnya dengan selamat, Rifki pun menurunkan Kinara dengan hati hati dari gendongannya.


"Makasih Om baik," Ucap Kinara dengan senangnya karena bisa mendarat dengan selamat.


"Kenapa Nara manjat manjat pohon seperti itu, Nak? Kalau jatuh dari pohon tadi gimana?" Tanya Rifki sambil berjongkok didepan Kinara.


"Nara marah sama Mama, Om." Ucap Kinara sambil menghapus air matanya itu.


"Marah kenapa? Nara berbuat salah atau gimana? Cerita sama Om mau?"


Kinara pun langsung membentangkan tangannya untuk memeluk tubuh Rifki, Rifki yang merasakan hal itu pun terkejut sekaligus merasakan sesuatu yang berbeda dengan anak yang ada dihadapannya itu. Kinara kecil itu pun menyandarkan kepalanya dipundak Rifki, Rifki dapat mendengar suara isakan tangis gadis itu.


"Loh kenapa Nara nangis? Ada apa, Nak?" Tanya Rifki sambil mengusap punggung Kinara.


"Mama jahat, Om. Mama marahin Nara terus," Jawab Kinara.


"Mama Nara marah pasti ada alasannya, Nak. Emang Nara habis ngapain sampai buat Mama Nara marah sama Nara?"


"Loh sudah turun," Ucap Bayu yang baru tiba sambil membawa sebuah tangga lipat.


"Telat!" Ucap Rifki dengan sensinya.


"Kamu apakan dia, Rif? Kenapa dia nangis seperti itu? Jangan bilang habis kamu pukuli gara gara manjat pohon sembarangan. Kejam sekali kau, Rif. Dia hanya anak kecil," Ucap Bayu dengan heboh ketika melihat Kinara menangis sesenggukan sambil memeluk tubuh Rifki.


"Hus!"


Rifki lalu menggendong tubuh Kinara dari tempat itu, dirinya langsung membawanya untuk duduk dikursi yang sebelumnya dirinya tunjuk itu. Rifki langsung mendudukkan Kinara disana dan ikut duduk disebelah Kinara.


"Nara belum cerita ke Om, Nara mau cerita ngak sama Om?" Tanya Rifki.


"Tadi Nara mau bantuin Ibu Ibu dipasar, Om. Tapi Mama malah marah marah sama Nara, terus Nara ngak dibolehin keluar rumah lagi. Nara ngak mau dikurung didalam rumah, Om. Nanti Nara ngak bisa main lagi,"


"Hem... Kenapa bisa marah ya? Kan bantuin orang itu dapat pahala, Nara bantuinnya gimana? Pasti dia marah karena cara Nara kali,"


"Kan mencuri itu dosa, Om. Terus tadi ada orang yang mau ngambil dompet milik Ibu Ibu, terus Nara lemparin pake tomat milik Bapak Bapak yang jualan. Terus Nara dikejar kejar sama mereka, sampai rumah Nara dimarahin sama Mama,"


"Iya sih, Om. Tapi kan Nara hanya bantuin orang,"


"Kamu ini masih kecil, Nara. Kalo sudah besar kamu boleh bantuin orang, sekarang itu waktunya belajar biar ketika besar bisa bantuin orang lain," Ucap Bayu yang kini tengah berdiri dihadapan keduanya.


Kedua lelaki itu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kinara, gadis yang masih berusia 10 tahun itu dengan beraninya berurusan dengan seorang pencopet. Pantas saja Ibunya sangat marah, jika bukan karena itu Ibunya tidak akan marah marah seperti itu.


"Kata Tante Siska, Nara sudah besar, Om. Nara sudah bisa makan sendiri, mandi sendiri, pake baju sendiri, dan bersihkan kamar sendiri. Jadi Nara bisa bantuin orang lain," Ucap Kinara sambil memainkan jemari tangannya sendiri.


"Iya Nara sudah besar, tapi harus lebih besar lagi kalo mau bantuin orang dari bahaya seperti itu. Kalo mau bantuin orang bawain sesuatu semisal sayur, buku, atau bantuin orang dengan cara memberikan nasi atau air itu boleh dilakuin Nara. Tapi kalo soal orang mencuri, orang mencopet, atau yang lainnya, Nara ngak boleh ikut ikutan. Mereka suka memukul, kalo Nara dipukul nanti gimana?"


"Nara salah Om baik, Nara minta maaf," Ucap Kinara sambil menundukkan kepalanya.


"Sekarang Nara pulang ya? Minta maaf sama Mama Nara, pasti Mama Nara ngak bakalan marah lagi nanti. Tapi ingat jangan ngelakuin hal itu lagi, itu sangat bahaya sekali, Nara."


"Tapi Om, Nara masih takut kalo Mama marah lagi sama Nara,"


"Biar Om yang antar Nara pulang ya? Nanti Om akan jelaskan ke Mama Nara,"


"Om beneran mau antarin Nara pulang?"


"Iya, biar Nara ngak dimarahi sama Mama Nara lagi, Nara kan sudah tau kesalahan Nara seperti apa. Jadi, Mama Nara ngak akan marah lagi sama Nara, Nara mau kan diantarin Om pulang?"


"Nara mau banget, Om."


Kinara begitu bersemangat ketika Rifki menawarkan diri untuk mengantarnya pulang kerumah. Entah mengapa dirinya merasa senang ketika lelaki itu mau untuk mengantarkan dirinya pulang kerumah, dan didekatnya itu membuat Kinara merasa seperti berada dekat dengan sosok Ayahnya.


"Om, katanya mau beliin Nara es cream yang banyak, ayo beli Om," Kinara tiba tiba menagih ucapan Rifki sebelumnya.


"Eh iya, yaudah ayo beli ditoko tadi," Ajak Rifki.


"Ayo!" Kinara pun meninju angin dengan semangatnya.


Keduanya pun berpegangan tangan dan berlari untuk menuju ke toko yang dimaksud oleh Rifki. Sementara Bayu hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Tuan Muda nya itu, jika dilihat lihat Rifki dan anak itu terlihat seperti Ayah dan anaknya.


"Nara mau yang mana?" Tanya Rifki ketika sudah sampai di toko tersebut dan berdiri didepan sebuah freezer yang terdapat bermacam macam es cream.


"Nara boleh minta lebih dari satu ngak, Om?" Tanya Kinara sambil melihat kearah bermacam macam es cream yang ada didepannya itu.

__ADS_1


"Boleh kok, Nara pilih aja yang Nara mau,"


"Nara mau yang rasa coklat sama strawberry ya, Om."


"Iya Nak, masukkan sini pilihan Nara," Rifki pun mengambil sebuah keranjang belanja dan menyodorkannya didepan Kinara.


Kinara dengan antusiasnya segera mengambil 3 es cream sekaligus, dirinya pun memasukkannya kedalam keranjang yang dibawa oleh Rifki. Melihat itu langsung membuat Rifki ikut serta mengambilnya, kini terdapat 10 es cream sekaligus disana.


"Om juga suka es cream?" Tanya Kinara.


"Suka banget, nanti kita makan bersama sama,"


"Asyikkkk.... Iya Om,"


Setelah itu, Rifki pun membayarnya. Keduanya langsung bergegas keluar dari toko itu tanpa mempedulikan Bayu sama sekali, disini Bayu seperti sudah tidak dianggap oleh keduanya. Rifki pun mengajak Kinara untuk duduk disebuah kursi yang berada tidak jauh dari toko tersebut.


Keduanya pun menikmati es cream itu bersama sama, lezat dan dingin ketika dimulut mereka. Kinara begitu sangat menikmatinya dan bahkan Rifki sendiri pun ikut serta menikmatinya. Hanya Bayu seorang yang tengah berdiri disamping keduanya dalam diam, tanpa berbicara suatu kata apapun.


"Om, enak banget," Ucap Kinara dengan antusiasnya untuk memakan es cream tersebut.


"Iya, dingin dan manis ya," Ucap Rifki.


"Nara mau lagi,"


Kinara telah selesai menghabiskan satu es creamnya, dirinya pun mengambil lagi es cream tersebut dan membukanya, setelah itu dirinya pun memakannya. Tanpa terasa es cream yang dibeli oleh Rifki pun telah tandas tak tersisa dimakan oleh keduanya itu, dan Rifki pun melihat kearah jam tangan yang melingkar ditangannya itu.


"Sudah jam setengah 5, Nara ngak pulang?" Tanya Rifki kepada Kinara.


"Apa! Om Nara takut dimarahi Mama kalo telat pulang," Kinara pun sangat terkejut ketika mendengar bahwa saat ini sudah terlalu sore.


"Ya sudah ayo Om antar pulang sekarang, nanti Om akan jelaskan ke Mamanya Nara,"


"Tapi Om,"


"Ngak papa, kalo Nara terus takut seperti ini, Nara ngak akan pulang pulang dan justru makin dimarahi oleh Mamanya Nara nanti. Nara mau semakin diomeli nantinya? Percaya deh sama Om, Nanti Om akan jelaskan semuanya kepada Mamanya Nara,"


"Baiklah Om, Nara mau,"


"Anak pinter," Rifki pun mengusap pelan puncak kepala Kinara hingga membuat gadis kecil itu menerbitkan sebuah senyuman kepadanya.


Kinara merasa bahagia jika diusap seperti itu oleh Rifki, dirinya bisa merasakan kehadiran sosok Ayahnya yang selama ini tidak pernah bertemu itu. Hal itulah yang membuat Kinara sangat suka ketika diusap seperti itu, apalagi dengan seorang lelaki yang dipanggilnya dengan sebutan Om baik.


"Ya sudah ayo pulang,"


Rifki pun bangkit dari duduknya dan langsung diikuti oleh Kinara, Kinara pun menunjuk kearah jalanan yang menuju kerumahnya. Ketiganya langsung bergegas untuk menuju kearah yang ditunjukkan oleh Kinara, dan bergegas untuk menuju kesana.


*****


"Astaga Nara, darimana saja kamu?" Tanya seorang wanita ketika melihat Kinara ada dijalanan bersama dengan dia orang lelaki.


"Maaf, anda siapanya Nara ya?" Tanya Rifki terkejut melihat kedatangan dari seorang wanita.


Ketika tengah berada diperjalanan menuju kerumah Kinara, ketiganya langsung dihadang oleh seorang wanita yang menggenakkan pakaian panjang serta bercadar dihadapan mereka. Hal itu langsung membuat mereka menghentikan langkahnya, sementara Kinara justru memeluk wanita itu.


"Lah kalian berdua siapanya Nara? Kenapa Nara bisa bersama dengan kalian? Saya Tantenya,"


"Tante, ini Om baik," Ucap Kinara kepada Siska.


"Om baik?" Tanya Siska yang tidak paham dengan ucapan dari Kinara.


"Oh Tantenya Nara, saya kira Mamanya. Kami berdua mau mengantarkan dia pulang, katanya dia takut untuk pulang kerumah, dia takut dimarahi sama Mamanya lagi."


"Maafin Nara yang telah merepotkan kalian berdua ya, Mas? Biar saya saja yang membawa Nara pulang, lagian dia juga keponakan saya,"


"Lain kali tolong dijaga dengan baik ya, Mbak. Takutnya nanti manjat pohon seperti tadi, untung saja dia ngak jatuh dari atas, Mbak. Bilangin ke Mamanya jangan marahin Nara ya, dia sudah janji ngak akan ngelakuin hal yang seperti tadi lagi. Jangan salahin Nara juga, takutnya nanti kalo sedih lagi malah manjat pohon yang lebih tinggi,"


"Ya Allah, Nara. Ngapain Nara manjat pohon? Kalo jatuh tadi gimana? Bisa bisa makin dimarahi sama Mama dan Tante juga pasti dimarahi. Terima kasih ya, Mas. Sudah nolongin Nara tadi, kalo ngak ada anda mungkin dia sudah jatuh dari pohon,"


"Nara sedih habis dimarahi Mama, Tante. Mama terus marah marah sama Nara," Keluh Kinara.


"Nara jadi anak yang penurut ya, kalo Nara jadi penurut, Mama Nara ngak akan marah marah lagi sama Nara," Ucap Rifki.


"Benarkah, Om?"


"Iya Nak, jangan suka membantah ucapan Mama Nara. Tau ngak? Kalo Nara bikin Mama atau Papa Nara marah, nanti Allah ikut marah sama Nara,"


"Nara ngak mau Allah marah sama Nara, Om baik. Nara takut,"


Rifki pun tersenyum mendengar jawaban dari Kinara, gadis kecil yang ada didepannya itu benar benar membuatnya berhasil kagum dengannya. Meskipun anak itu nakal, akan tetapi Rifki merasa sangat menyayangi anak itu.

__ADS_1


__ADS_2