
Rifki menatap lekat lekat kearah wajah Nadhira, ada perasaan yang janggal dengan wanita itu, ia sangat takut kalau Nadhira kenapa napa, entah kenapa pembicaraan wanita itu belakangan ini selalu saja tentang perpisahan ataupun kematian, hal itu membuat Rifki merasa tidak nyaman dan takut akan kehilangan sosok yang paling dicintainya itu.
Sementara Nadhira yang ditatap oleh Rifki seperti itu lalu memalingkan wajahnya dari wajah Rifki, tatapan Rifki tersebut seolah olah membuatnya menjadi salah tingkah dan bahkan detak jantungnya semakin berdebar dan tidak bisa dikondisikan.
"Aku baik baik saja kok Rif" Nadhira kenarik tubuh Rifki dan menyandarkan kepala Rifki didada kirinya dan memeluk Rifki dengan erat, "Masih banyak hal yang belum kita lakukan didunia ini, kita akan membesarkan anak anak kita berdua, aku ingin memiliki dua anak Rif, laki laki dan perempuan"
"Maka dari itu kau harus bertahan sayang"
"Iya sayang, demi dirimu aku akan terus bertahan dan bersama sama melindungi anak anak kita"
"Itu baru namanya Nadhiraku"
Tak beberapa lama kemudian mereka telah sampai dirumah mereka, kedatangan keduanya langsung disambut oleh anggota inti Gengcobra, Nadhira yang sudah biasa melihat mereka membuatnya tidak terkejut lagi adanya mereka dirumah itu.
"Sayang, aku masuk dulu ya, ngantuk pengen tidur" Ucap Nadhira kepada Rifki.
"Iya, aku mau ngomong sebentar dengan anggota Gengcobra, nanti aku nyusul"
"Iya" Sambil berlalu pergi.
Ketika bayangan Nadhira sudah tidak terlihat lagi, Rifki lalu mendekat kearah anggota Gengcobra yang masih setia berdiri ditempatnya, sementara Pak Mun langsung memarkirkan mobil itu kedalam bagasi.
"Selama aku pergi, ada yang mencurigakan disini?" Tanya Rifki.
"Ngak Rif, semuanya baik baik saja" Jawab Bayu.
"Lebih perketat penjaganya, jangan sampai lengah sedetikpun itu, aku tidak mau Nadhira kenapa kenapa gara gara kelalaian kalian"
"Baiklah"
Begitu banyak yang Rifki bicarakan dengan mereka, hingga mereka terlihat sangat serius, Rifki tidak mau adanya kesalahan dalam penjagaan itu karena ia tidak mau Nadhira beserta anaknya dalam bahaya.
*****
Pagi itu Rifki tengah bersiap siap untuk pergi bekerja, seperti biasa Nadhira akan membantunya untuk memasangkan sebuah dasi dileher Rifki, dan setelah itu keduanya pun makan bersama diruang makan yang berada dilantai bawah.
"Sayang aku berangkat kerja dulu ya, kamu dirumah hati hati, kalau ada apa apa langsung saja panggil anggota Gengcobra, mereka akan selalu berjaga dirumah ini"
"Iya sayang, kamu tenang saja, aku akan baik baik saja kok, lagian anggota inti Gengcobra juga selalu mengawasiku dirumah ini"
"Aku tidak mau kamu kenapa kenapa sayang, kamu harus baik baik saja pokoknya, tunggu aku pulang"
"Iya, aku akan selalu menunggumu sayang"
"Ya sudah, aku berangkat dulu ya"
"Kamu lupa sesuatu Rif?"
"Ah iya" Rifki lalu mencium kening Nadhira dengan perlahan lahan dan sangat lama.
Ciuman itu membuat Nadhira merasa senang dan bersemangat, Nadhira lalu meraih tangan suaminya dan menciumnya sebelum berangkat bekerja seperti biasanya.
"Assalamualaikum" Ucap Rifki.
"Waalaikumussalam sayang" Jawab Nadhira.
Kali ini Rifki pergi bekerja dengan mengendarai mobilnya sendiri tanpa meminta Bayu untuk menjadi sopirnya, Rifki memerintahkan kepada Bayu untuk tetap menjaga Nadhira dirumah itu karena ia tidak ingin Nadhira kenapa kenapa.
Nadhira yang melihat kepergian dari suaminya itu merasa ada yang hilang, ia lalu melambaikan tangannya melepas kepergian Rifki untuk pergi bekerja, setelah itu dirinya langsung menuju kedapur untuk mencari cemilan.
Nadhira lalu memakan cemilan yang ia ambil dimeja makan yang ada didekat dapur rumahnya itu, cemilan itu begitu enak hingga membuat Nadhira sangat menikmatinya.
"Ini minumannya Nona Muda" Ucap salah satu pembantu Nadhira yang bernama Ani sambil menyodorkan segelas susu hangat.
"Tapi aku tidak minta minuman" Ucap Nadhira yang sangat kebingungan karena dirinya sama sekali tidak menyuruh seseorang untuk membuatkannya minuman seperti ini.
"Saya inisiatif sendiri Nona Muda, setelah memakan cemilan yang banyak pasti anda akan haus, jadi saya buatkan minuman untuk anda"
"Makasih, tapi dimana Bi Sari? Biasanya dia yang membuatkan aku minuman"
"Mbak Sari lagi pergi kepasar Nona Muda"
"Apa? Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya? Biasanya dia kalo kepasar selalu ngomong dulu denganku ngak kayak gini"
"Saya ngak tau soal itu Nona Muda, tadi dia bilang ke saya seperti itu"
"Ya sudah, kau boleh pergi"
__ADS_1
"Baik Nona Muda, jangan lupa diminum"
Nadhira sama sekali tidak menjawab ucapannya itu, ia pun kembali fokus kepada cemilan yang ada ditangannya saat ini, tanpa dia sadari ada yang tengah mengawasinya dari kejauhan.
Setelah cemilannya habis, Nadhira lalu memgambil segelas minuman itu perlahan lahan, ia pun meminumnya sedikit akan tetapi mendadak kepalanya menjadi sangat pusing dan berat, Nadhira pun memegangi kepalanya dengan erat.
"Kenapa pusing sekali" Nadhira menggeleng gelengkan kepalanya mencoba untuk menghilangkan rasa pusing yang tengah ia rasakan.
Karena tidak bisa mempertahankan kesadarannya akhinya Nadhira pun menjatuhkan kepalanya dimeja makan itu dan dirinya pun tidak sadarkan diri tiba tiba, melihat itu orang yang tengah mengawasinya tersenyum mengerikan.
"Kerja yang bagus" Ucap orang tersebut.
"Kau harus memberikan imbalan yang kau janjikan kepadaku itu"
"Baiklah, terima imbalanmu"
Bhukk
Orang itu langsung memukul wanita yang bekerja sama dengannya itu dibagian leher bagian belakang hingga membuat wanita tersebut jatuh tidak sadarkan diri begitu saja, ya wanita itu adalah Ani, ia bekerja sama dengan seseorang karena hadiah yang dijanjikan orang tersebut kepadanya.
"Bodoh! Kau mempercayai orang yang salah" Ucap orang tersebut ketika menyaksikan Ani yang terbaring tidak sadarkan diri dilantai.
Orang itu lalu mendekat kearah Nadhira yang sudah tidak sadarkan diri, ia lalu mengangkat tubuh Nadhira dan membawanya pergi dari sana.
*****
Mendadak perasaan Rifki menjadi tidak tenang, ia khawatir dengan Nadhira dan dirinya lalu menelpon Nadhira akan tetapi panggilan itu sama sekali tidak diangkat oleh Nadhira, hingga hal itu membuatnya semakin tidak tenang.
"Ada apa Tuan Muda?" Tanya seorang lelaki ketika melihat Rifki gelisah.
"Pak Bram, tolong urusi perusahaan saat ini ya, aku khawatir dengan istriku dirumah" Ucap Rifki yang mempercayakan tanggung jawabnya kepada Pak Bram yang tidak lain adalah wakilnya dan juga Ayah kandung dari Bayu.
"Baik Tuan Muda"
Rifki lalu bangkit dari duduknya dan bergegas menyahut jasnya dan memakainya, ia pun segera berlari keluar dari ruangannya dan hal itu membuat perhatian seluruh karyawannya tertuju kepadanya karena tidak biasanya Rifki akan seperti itu.
Rifki segera keluar dari perusahaannya dan masuk kedalam mobilnya, ia lalu mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan penuh agar dirinya segera sampai dirumah karena perasaannya semakin merasa tidak tenang.
"Dhira, kau baik baik saja kan" Ucap Rifki panik.
Sesampainya dirumah itu, biasanya Pak Santo akan membukakan pintu gerbang untuknya ketika melihat kedatangan Rifki, akan tetapi kali ini meskipun dirinya sudah membunyikan klakson mobil beberapa kali akan tetap Pak Santo tak kunjung untuk membukakan pintu gerbang tersebut.
Rifki langsung keluar dari mobil itu untuk membuka gerbang itu sendiri, akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa membukanya karena gerbang itu dikunci dari dalam sehingga dirinya terpaksa harus memanjat gerbang tersebut.
Dengan penuh usaha akhirnya dirinya bisa masuk kedalam rumahnya itu, ia lalu meloncat dari atas gerbang menuju kebawah, ia terkejut ketika melihat anggota Gengcobra sudah terbaring tidak sadarkan diri dihalaman depan rumahnya itu.
"Bay bangun Bay! Apa yang terjadi" Ucap Rifki sambil menggoyang goyangkan tubuh Bayu.
"Ren! Kalian kenapa!" Rifki melihat Reno yang juga tidak sadarkan diri itu.
"Jar, bangun Jar!" Rifki menggoyang goyangkan tubuh Fajar yang tidak sadarkan diri itu.
Plakk...
"Bangun kalian semua!"
Plakk...
Karena tidak sabaran membuat Rifki langsung menampar Fajar dengan keras dan berharap bahwa lelaki itu akan membuka kedua matanya, benar saja apa yang dilakukan oleh Rifki itu langsung membuat Fajar mengernyitkan dahinya.
"Tuan Muda anda disini" Ucap Fajar ketika sudah bangun dari pingsannya sambil meringis memegangi pipinya yang kebas karena ulah Rifki.
"Ada apa ini? Kenapa kalian tidak sadarkan diri seperti ini?"
"Aku tidak tau Tuan Muda, tiba tiba kepalaku sakit"
"Sial! Dimana Nadhira?"
"Gawat Nona Muda dalam bahaya! Woi bangun kalian semua! cepat Bangun!" Fajar langsung bergegas untuk membangun teman temannya.
Rifki langsung berlari masuk kedalam rumahnya untuk mencari keberadaan dari Nadhira, ia langsung menuju kekamarnya akan tetapi disana dia tidak menemukan Nadhira, ia lalu berlari memutari rumah tersebut dan begitu terkejut ketika melihat pembantu wanitanya tergeletak dilantai.
Rifki lalu memeriksa keadaan mereka satu persatu, dia bernafas lega ketika merasakan bahwa mereka masih bernafas, ia merasa ada yang janggal karena tidak menemukan Bi Sari diantara mereka, ia lalu beranjak kekamar Bi Sari untuk memberi wanita itu.
Rifki begitu terkejut ketika menemukan tubuh Bi Sari yang tergeletak dengan bersimbah darah dilantai kamar wanita itu, kenapa hanya Bi Sari saja yang mengalami nasib seperti itu? Kenapa yang lainnya hanya tidak sadarkan diri karena obat tapi Bi Sari tidak sadarkan diri karena dilukai.
"Bi Sari, apa yang terjadi denganmu?" Rifki pun melihat adanya sebuah pisau menancap diperut Bi Sari dan juga ada beberapa sayatan ditangannya.
__ADS_1
Ia lalu memeriksa apakah pembantunya itu masih bernafas atau tidak, Bi Sari adalah pembantu yang paling setia setelah Bi Ira, merasakan bahwa dia masih hidup membuat Rifki menghela nafasnya.
"BANGS*T! SIAPA YANG MELAKUKAN INI!" Umpat Rifki seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Tuan Muda, kami tidak menemukan keberadaan dari Nona Muda" Teriak Reno.
Anggota Gengcobra tersebut sudah sadar setelah Fajar menyemprot mereka dengan air kran tanpa ampun diwajah mereka, dan apa yang dilakukan oleh Fajar itu membuahkan hasil sehingga mereka langsung terbangun dari pingsannya.
"CEPAT CARI SAMPAI KETEMU!" Bentak Rifki dan langsung bangkit dari jongkoknya.
"Baik Tuan Muda!" Teriak mereka bersamaan dan langsung bergegas untuk mencari keberadaan dari Nadhira.
"Ndre, bawa Bi Sari kerumah sakit" Ucap Rifki kepada Andre yang termasuk anggota Gengcobra inti.
"Baik Tuan Muda" Andre segera mengangkat tubuh Bi Sari dan membawanya pergi.
Rifki lalu bergegas untuk berlari mencari Nadhira, ia tidak akan menyerah sampai menemukan keberadaan dari Nadhira, ia lalu menghubungi kedua orang tuanya untuk memberitahukan bahwa Nadhira tengah diculik saat ini.
"Kau harus baik baik saja Dhira"
Sebentar rencana penculikan itu sudah direncanakan sejak lama, pelakunya tengah menabur obat tidur dimakanan semua orang sehingga mereka tiba tiba tidak sadarkan diri, obat itu begitu kuat sehingga anggota Gengcobra pun lengah karena obat tersebut yang diberikan kepada mereka.
"Aku tidak akan pernah mengampuni siapapun yang mencelakai Nadhira ku! Akan ku bunuh kalian semua dengan tanganku sendiri!" Rifki mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.
Brakk
Rifki memukulkan tangannya pada sebuah pintu yang berada tidak jauh darinya hingga berbunyi begitu nyaringnya, ada perasaan sesak dihatinya saat ini dan juga kemarahan yang tengah menyelimuti hatinya ketika Nadhira diculik.
"DHIRA..! KAU DIMANA SAYANG" Teriak Rifki.
Setelah berkeliling rumah tersebut tapi tidak mendapatkan hasil apa apa, anggota Gengcobra langsung berkumpul dihadapan Rifki, Rifki yang tengah marah itu pun langsung menghajar mereka semua hingga babak belur.
Plakk... Bhukk... Brak..
"KALIAN SAMA SEKALI NGAK BECUS!" Bentak Rifki kepada anak buahnya yang saat ini tengah terbaring diatas lantai sambil memegangi dada mereka masing masing karena dihajar mati matian oleh Rifki.
"Rif, maafkan kelalaian kami" Ucap Bayu sambil menggeram kesakitan akibat pukulan Rifki.
"APA MAAF KALIAN BISA MENGEMBALIKAN NADHIRA!" Bentak Rifki lagi.
"Kami berjanji akan mencarinya sampai ketemu Rif, maafkan kami"
"Sampai Nadhira kenapa kenapa, aku tidak akan pernah memaafkan kalian semua!" Rifki mengepalkan tangannya dengan sangat eratnya.
"Kami akan mencarinya lagi Rif"
Bayu lalu membantu Reno untuk berdiri, dan Reno pun membantu yang lainnya untuk berdiri dengan tegak meskipun rasa sakit akibat pukulan Rifki masih menjalar ditubuh mereka, mereka lalu bergegas untuk mencari Nadhira diluar rumah tersebut.
Bayu lalu menghubungi anggota Gengcobra lainnya yang ada dimarkas untuk membantu mereka mencari Nadhira yang hilang, setelah beberapa jam pencarian mereka tak kunjung menemukan keberadaan dari Nadhira yang diculik.
Tiba tiba ponsel Rifki berdering dan menampakkan nama Andre dilayar tersebut, Rifki lalu mengangkat telponnya dan langsung terhubung dengan Andre yang berada dirumah sakit.
"Halo Tuan Muda, Bi Sari sudah sadarkan diri dan dia ingin berbicara dengan Tuan Muda" Ucap Andre dari sebrang telpon.
"Berikan ponselnya kepada Bi Sari"
"Baik Tuan Muda"
Andre lalu memberikan ponselnya kepada Bi Sari yang tengah terbaring dengan lemahnya, luka tusukan tersebut tidak terlalu dalam sehingga dirinya cepat siuman dari pingsannya.
"Tuan Muda, tolong selamatkan Nona Muda, dia dalam bahaya saat ini" Ucap Bi Sari setelah menerima telpon dari Andre.
"Bibi tau dimana mereka membawa Nadhira pergi? Katakan Bi"
"Saya tidak tau Tuan Muda, Ani adalah penghianat Tuan Muda, dia ternyata bekerja sama dengan orang yang ingin mencelakakan Nona Muda, sebelum saya celaka saya dengar bahwa dia telah memberikan obat tidur kepada anak buah anda, saya ingin sekali memberitahukan hal ini kepada anda tapi tidak sempat Tuan Muda karena Ani datang kekamar saya sambil membawa pisau dan menusuk saya"
*Flash back on*
"Kerja yang bagus, apakah seluruhnya sudah kau beri obat tidur?" Ucap seseorang kepada Ani.
"Sudah tuntas semuanya, kini Nona Muda sedang menikmati cemilannya didapur, aku akan memberikan minuman kepadanya"
Karena halaman rumah Nadhira yang luas membuat Nadhira tidak mendengar suara keributan tersebut, tanpa sengaja Bi Sari mendengar apa yang dikatakan oleh Ani itu dan dia langsung bergegas untuk menghentikannya.
"Apa yang kau lakukan!" Teriak Bi Sari.
"Berhubung kau sudah mendengarnya, kau tidak akan selamat" Ucap Bi Ani.
__ADS_1