Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Pengorbanan Amanda


__ADS_3

Terjadilah pertarungan di tempat itu dengan sangat ramai, bahkan hanya Nadhira dan Rifki yang melawan puluhan anak buah dari Sena. Keduanya terlihat sangat kompak dalam melawan mereka, bahkan tanpa ada keraguan sedikitpun itu. meskipun keduanya sama sama terluka akan tetapi mereka saling melindungi dan menjaga membuatnya tidak mampu terkalahkan.


Musuhnya begitu sangat kuat, bahkan mereka masih mampu untuk bangkit meskipun sudah terkena beberapa kali serangan dari keduanya. Rifki yang sudah terluka sangat parah pun akhirnya tumbang begitu saja ditanah, bukan tanpa sebab akan tetapi dirinya terkena sebuah pukulan dibelakang kepalanya.


"Rifki!" Teriak Nadhira yang melihatnya.


Fokus Nadhira yang teralihkan membuatnya ikut serta terkena sebuah tonjokan diperutnya hingga dirinya terpental ke belakang, bahkan sampai terbaring ditanah. Tubuhnya sangat sakit, untuk bangkit saja dia seakan akan tidak bisa melakukan itu, begitupun juga dengan Rifki.


Terlihat setetes darah segar menetes dari ujung bibir Nadhira, akan tetapi disana juga telah tercipta sebuah senyuman yang sangat tulus dan terarahkan kepada Rifki yang tengah menatapnya. Keduanya jatuh tidak terlalu jauh, Nadhira mencoba untuk meraih tangan Rifki, begitupun juga dengan Rifki yang melakukan hal yang sama.


Ketika tangan keduanya hendak bersentuhan, tiba tiba anak buah dari Sena langsung menarik tubuh Rifki dan membuat Rifki bangkit berdiri. Keduanya memegangi tangan Rifki dengan eratnya, agar lelaki itu tidak jatuh ketanah karena lemasnya.


"Dhira Dhira. Kau tidak akan bisa menyelamatkan suamimu ini, kau akan lihat bagaimana dia akan berteriak kesakitan ditanganku," Ucap Sena dengan sebuah tawa kemenangan.


"Jangan sakiti Rifki. Aku mohon kepadamu, bebaskan dia, kau boleh menangkap dan membunuhku tapi jangan sakiti Rifki," Ucap Nadhira lemah sambil terus meneteskan air matanya.


"Melepaskannya? Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa predator melepaskan mangsanya ketika telah ditangkap?"


"Jangan lakukan itu kepadanya."


Rifki pun menggelengkan kepalanya dengan lemas, seakan akan tidak mengizinkan Nadhira memohon kepada musuhnya. Rifki tidak mampu melihat tangisan dari Nadhira, bahkan itu sangat melukai hatinya, akan tetapi dia tidak bisa berbuat apa apa karena bahkan dia telah dipenuhi banyak luka.


"Pukul dia!" Perintah Sena.


Bhukk...


Satu pukulan mendarat di perut Rifki, itu sangat menyakitkan akan tetapi Rifki tidak menunjukkan ekspresi kesakitannya didepan Nadhira. Rifki takut membuat Nadhira semakin cemas, ia tidak masalah menanggung berapapun rasa sakit itu, asalkan tidak dengan air mata wanita yang dicintainya.


Bhukk...


Bhukk...


Bhukk...


Bhukk...


Beberapa pukulan pun tak mampu merubah ekspresi wajah Rifki, akan tetapi dapat dilihat bahwa Rifki terus memuntahkan darah segar diujung bibirnya. Wajahnya terlihat sangat pucat, bahkan untuk berbicara saja, Rifki tidak mampu melakukan itu karena rasanya darah miliknya begitu penuh didalam tenggorokannya.


"Rifki!!! Jangan sakiti dia!!" Teriak Nadhira dengan linangan air mata.


Nadhira berusaha bangkit dari jatuhnya, akan tetapi dirinya langsung dipegangi oleh anak buah dari Sena dengan sangat eratnya. Nadhira mengepalkan tangannya dengan sangat eratnya, bahkan sampai memutih karena kuatnya kepalan tangannya itu.


"Gimana rasanya, Dhira? Pasti sakit kan?" Tanya Sena dengan sebuah senyuman licik.


"Butuh berapa nyawa agar kau puas? Hiks... Hiks... Hiks... Kau begitu banyak membunuh orang, bahkan orang orang yang tidak bersalah kepadamu. Tidak ada yang kekal di dunia ini, sampai mati pun kau tidak akan pernah mendapatkan ketenangan ketika kau membunuh banyak jiwa sekalipun. Kau akan terus haus akan darah, kau bahkan akan kehilangan jati dirimu sendiri dimasa nanti," Ucap Nadhira kepada Sena sambil menatap nanar kearah Rifki yang sudah tidak berdaya.


Mendengar ucapan Nadhira, hal itu seketika membuat Rifki meneteskan air matanya. Ucapan yang teramat sangat menyentuh bagi Rifki, Rifki begitu mengutuki dirinya yang tidak mampu berbuat apa apa, meskipun hanya sekedar menghapus air mata dari istri tercintanya.


Sena pun mendekat kearah Nadhira, dan tanpa aba aba langsung mencengkeram erat dagu Nadhira dan menolehkan wajah Nadhira untuk menatap kearahnya. Tangan Nadhira tengah dikunci oleh anak buah Sena, sehingga hal itu membuat Nadhira tidak bisa berbuat apa apa.


"Lebih baik kau simpan ucapanmu itu, Dhira. Untuk menangisi jenazah suamimu nanti," Ucap Sena.


"Setelah ini aku tidak akan bisa bersuara lagi, mumpung ada kesempatan jadi aku tidak mau menyia nyiakan kesempatan ini. Rifki telah berjanji tidak akan pernah meninggalkan diriku, bahkan kematian pun tidak akan pernah bisa memisahkan kita berdua."


"Kau akan lihat bagaimana suamimu yang kau sayangi itu meregangkan nyawa didepan mata kepalamu sendiri."


Nadhira pun mencoba untuk melirik kearah Rifki, dimana Rifki pun menganggukkan kepalanya pelan seakan akan meyakinkan Nadhira bahwa semuanya akan baik baik saja. Nadhira menerbitkan sebuah senyuman yang sangat indah kepada Rifki, senyuman tanpa adanya beban apapun itu.


"Itu tidak akan terjadi!" Seru seseorang yang tiba tiba muncul diantara mereka.


Sontak seluruhnya langsung menoleh kearah sumber suara, dan mendapati Amanda yang tengah berdiri ditengah tengah sepuluh orang lelaki dengan berbadan kekar. Sena begitu terkejut ketika melihat anak kesayangannya muncul, akan tetapi bukan di pihaknya melainkan berdiri di pihak Nadhira dan Rifki.


"Manda," Ucap Sena dengan senyuman tipis kepada Anaknya.

__ADS_1


"Lepaskan mereka berdua, Ma. Atau aku akan melawan Mama sekarang," Ucap Amanda dengan yakinnya.


"Maksudnya?" Sena terlihat kurang jelas dengan ucapan dari Amanda.


"Aku tidak main main dengan ucapanku kali ini, Ma. Lepaskan mereka, atau akan ada pertumpahan darah ditempat ini," Ancam Amanda.


"Kau berani melawan Mama sekarang, Manda? Siapa yang mengajarimu seperti itu? Apa kau sudah berani menentang Ibumu sendiri sekarang?" Tanya Sena dengan nada yang sedikit tinggi seakan akan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Amanda.


"Ma, sudah cukup sandiwara Mama didepan semua orang. Mama menolongku karena hanya ingin memanfaatkan diriku, kan? Padahal Mama tau sendiri bahwa aku bukanlah anak kandung Mama, aku hanyalah orang asing yang masuk kedalam kehidupan Mama sama Papa."


"MANDA!" Bentak Sena dengan nada yang sangat tinggi.


"Sudah cukup semuanya, Ma! Jangan memanfaatkan diriku untuk bisa masuk kedalam keluarga Papa Rendi! Mereka tidak bersalah, tapi kenapa Mama melakukan semua ini kepada mereka? Apa Mama sama sekali tidak memiliki perasaan?"


Sena hendak menampar wajah anaknya itu, akan tetapi seseorang tiba tiba menghalanginya. Bodyguard yang dibawa oleh Amanda langsung menangkis tangan Sena begitu saja, bahkan sama sekali tidak diizinkan untuk menyakiti Amanda sedikitpun itu.


"Apakah ini balasanmu kepada orang yang telah merawatmu? Mama akui bahwa kau memang bukan anak Mama, tapi Mama sangat menyayangimu seperti anak Mama sendiri, Manda. Apapun akan Mama lakukan untukmu,"


"Kalau begitu, lepaskan mereka, Ma. Biarkan mereka hidup bahagia, karena selama ini Mama yang telah membuat kehidupan mereka seperti ini."


"Tidak akan!"


"Kalau begitu. Jangan salahkan Manda jika Manda akan melawan Mama sekarang," Ancam Amanda.


Amanda pun mengangkat tangannya dan menggerakkan bodyguardnya untuk langsung menyerang kearah Sena, dan terjadilah sebuah pertarungan diantara mereka. Cukup lama pertarungan itu terjadi, hingga menewaskan beberapa orang ditempat itu.


Nadhira berusaha untuk melepaskan dirinya dan menyelamatkan Rifki, meskipun hal itu sangat sulit dilakukan bukan berarti dirinya akan menyerah begitu saja. Kedua mata Nadhira terbuka lebar ketika Rifki tiba tiba terbaring tidak sadarkan diri, terlalu lemah untuk bisa mempertahankan kesadarannya.


"Rifki!!!" Teriak Nadhira dan menghempaskan tangannya dengan kasar untuk melepaskan pegangan dari orang orang itu.


Setelah Nadhira merasa bahwa pegangan tangan mereka terlepas, hal itu langsung membuat Nadhira berlari kearah Rifki dan menghempaskan tubuhnya untuk memeluk Rifki. Nadhira mengepalkan tangannya dengan eratnya ketika merasakan denyut lemah dari jantung Rifki.


Nadhira lantas langsung bangkit dan menatap mereka dengan penuh kemarahan, dan dirinya berjalan penuh amarah kearah Sena. Melihat itu langsung membuat Sena meraih pisau yang ada di pinggang anak buahnya, dirinya lantas mengarahkannya kepada Nadhira.


Seorang wanita tumbang, Amanda yang melihat pertarungan itu langsung memasang badan untuk melindungi Nadhira hingga jantungnya terhunus oleh sebuah pisau. Nadhira begitu sangat terkejut, dan langsung menangkap tubuh yang terlihat lemas itu.


"Manda!" Teriak Nadhira dan langsung menggunakan pahanya sebagai bantalan kepala Amanda.


"Manda!" Teriak Sena yang terkejut.


Sebuah tetesan darah keluar dari mulut Amanda, dengan senyuman tipis dia lantas menatap kearah Nadhira yang tengah menangisinya. Amanda menggerakkan tangannya untuk memegangi tangan Nadhira dengan eratnya.


"Apa yang kau lakukan, Manda?" Tanya Nadhira dengan panik.


"Maafkan aku selama ini, Kakak. Aku telah salah menilaimu," Ucap Amanda lemah.


"Kau tidak salah, Manda. Kenapa kau lakukan ini? Kau tidak boleh meninggalkanku seperti ini,"


"Waktuku sudah tidak lama lagi, Kak. Waktu pertama kali bertemu denganmu, aku telah salah membencimu yang aku pikir kau telah merebut Ayahku, tapi ternyata akulah yang merebut Ayahmu dari dirimu."


"Manda, kau harus bertahan."


"Tidak. Wak-tu-ku su-dah ti-dak la-ma la-gi, a-ku ti-dak per-nah me-nye-sa-li hal i-ni."


"Jangan katakan itu, Manda. Aku mohon kepadamu, aku telah kehilangan banyak orang dalam hidupku, aku tidak mau kehilangan lagi,"


Amanda pun menerbitkan sebuah senyuman diwajahnya, seakan akan menahan rasa sakit yang teramat sangat. Amanda memegangi pisau itu dengan sangat eratnya, ingin sekali dia menghilangkan rasa sakit itu tapi dia tidak mampu.


Amanda pun mulai memejamkan matanya, hembusan nafas yang sangat berat pun ia lakukan. Setelah hembusan itu, jantungnya tak lagi berdetak, pertanda bahwa Amanda sudah pergi terlebih dahulu dari dunia ini.


"Nggak! Ini nggak mungkin terjadi!" Teriak Sena histeris.


Sena lantas merebut paksa tubuh Amanda dari dalam pelukan Nadhira, dirinya juga mendorong Nadhira dengan sangat kencangnya hingga membuat Nadhira terjatuh. Tak beberapa lama kemudian datanglah beberapa orang ketempat itu, dibelakang mereka terlihat ada beberapa polisi juga.

__ADS_1


"Tangkap dia, Pak!" Teriak seorang lelaki yang memberi panduan.


Nadhira memandang sekelilingnya, bahkan begitu banyak tubuh yang sudah terbaring tidak berdaya disana. Tatapannya tertuju kepada Rifki yang juga terbaring tidak berdaya, dia ingin mendekat kearah Rifki akan tidak beberapa tangan langsung memegangi tangannya.


"Mas, anak kita dibunuh oleh orang itu," Ucap Sena sambil menunjuk kearah Nadhira.


"Aku bukan pembunuh, bukan aku yang melakukannya. Aku bukan pembunuh," Nadhira berulang ulang kali mengatakan itu.


Pandangan Nadhira pun tertuju kepada seorang pria, pria yang selama ini dirinya rindukan. Pria itu datang dengan membawa beberapa polisi ketempat itu setelah mendapatkan pesan dari Sena, kedua pasang mata itu saling beradu.


"Papa," Ucap Nadhira pelan bahkan hingga tidak terdengar.


"Tangkap wanita itu," Ucap Rendi kepada para polisi itu.


Seketika itu juga, kedua tangan Nadhira langsung diborgol oleh polisi polisi itu. Sangat sulit untuk diungkapkan bagaimana perasaan Nadhira saat ini, bahkan Ayahnya sama sekali tidak mengenali dirinya sekarang. Mereka pun langsung membawa Nadhira pergi dari tempat itu menggunakan mobil polisi, dan bahkan sama sekali tidak ada perlawanan dari Nadhira.


Nadhira menyadari bahwa semuanya ini terjadi kerena nya, jika bukan karena dirinya mana mungkin ini bisa terjadi. Oleh karena itu, Nadhira rela menerima semua konsekuensi yang akan dirinya hadapi nantinya.


Setelah kepergian dari Nadhira dan para polisi itu, Bayu beserta anggota Gengcobra baru tiba ditempat itu setelah menerima laporan dari mantan anggota Gengcobra sebelumnya. Akan tetapi mereka datang terlambat, hingga sebuah kisah sampai dipalsukan oleh Sena mengenai seorang wanita yang telah mencelakakan mereka semua.


Anggota Gengcobra lantas membawa Rifki pergi dari tempat itu, mereka membawanya menuju ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya. Rifki pun terbaring koma di rumah sakit, dan dokter sendiri tidak bisa memastikan kapan dia akan siuman nantinya. Yang mereka bisa lakukan hanyalah berdoa kepada sang pencipta, agar Rifki mampu untuk di selamatkan.


*****


Nadhira mendekam di sel tahanan, setelah melakukan beberapa kali sidang akhirnya dirinya pun di vonis mati. Tiada yang mampu membelanya, karena disaat kejadian itu hanya ada Amanda dan Rifki yang bisa menjadi saksi. Semua bukti bukti terarah kepadanya, dan dialah yang bersalah dalam hal ini.


Nadhira hanya bisa pasrah menerimanya, baginya itu bukanlah hal yang berat, apalagi Rifki sendiri tengah koma dan belum juga sadarkan diri meskipun waktu sudah berlalu sangat lama. Nadhira duduk termenung diujung sel tahanan, dirinya hanya bisa menatap kearah jeruji besi yang tengah mengurungnya saat ini.


"Saudari Ana, ada yang sedang mencarimu," Ucap seorang polisi wanita yang berjaga ditempat itu.


"Siapa?" Tanya Nadhira yang memang identitas dikartu identitasnya masih bernama Ana.


"Susi, teman anda,"


"Baiklah."


Polisi cantik itu langsung membukakan pintu sel tehanan itu, dan Nadhira langsung keluar untuk menemui Susi. Nadhira langsung duduk ditempat yang telah disediakan untuk menjenguk, sementara disana sudah ada Susi yang tengah duduk bersebelahan dengan Affan, suaminya.


"Gimana kondisi Rifki, Sus? Apa ada kemajuan?" Pertanyaan itulah yang selalu ditanyakan oleh Nadhira pertama kali ketika bertemu dengan Susi.


Susi pun menggeleng gelengkan kepalanya pelan menanggapi pertanyaan Nadhira, "Tidak ada sama sekali, Dhira. Justru yang di khawatirkan adalah dirimu sekarang, karena kasus itu..."


"Jika Rifki belum sadarkan diri, aku tidak bisa tenang, Sus. Aku hanya memiliki waktu 1 bulan, sebelum di eksekusi nantinya."


"Seharusnya kamu mengatakan hal yang sebenarnya, Dhira."


"Papaku sendiri yang memberi hukuman itu, maka biarlah itu terjadi agar mereka senang. Untuk apa hidup lebih lama, jika orang yang aku cintai terbaring tidak berdaya?"


"Aku akan cari cara untuk bisa menyelamatkan dirimu,"


"Tidak perlu kau melakukan apapun untukku saat ini, tapi tolong selamatkan Rifki. Jika perlu, ambilah organ tubuhku untuknya, sebelum organ ini benar benar mati nantinya."


"Lalu apa yang harus aku katakan kepadanya nanti? Satu satunya hal yang bisa menyelamatkan dirimu adalah kesadaran Rifki,"


"Aku hanya memiliki waktu 1 bulan, Sus. Jika dia tidak bangun dalam waktu itu, maka..."


"Aku akan berusaha membuat dia sadar, dan kita harus berdoa agar Allah segera membangunkan dirinya."


Rasanya air mata sudah tak mampu untuk dibendung lagi, bagi Nadhira hukuman itu tidak begitu mengerikan daripada harus kehilangan orang orang yang disayanginya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai readers!!

__ADS_1


Siapkan tissu sebelum membaca episode selanjutnya ya!!


__ADS_2