Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Baikan kembali


__ADS_3

Dibawah selimutnya kini Nadhira tengah menangis sesenggukan apalagi ketika mendengar Rifki tengah merintih kesakitan karena lukanya itu, ia tidak sanggup untuk melihat Rifki terluka seperti itu akan tetapi hatinya merasa sakit karena telah dibohongi oleh Rifki.


"Udah dong marahnya sayang, sampai kapan kamu akan marah kepadaku Dhira? Beri aku kesempatan satu kali lagi untuk berubah menjadi seperti apa yang kau inginkan dariku"


"Sampai mati" Jawab Nadhira singkat.


"Sampai mati? Kalo aku mati beneran sekarang juga gimana? Apa kau akan memaafkanku?"


Mendengar pertanyaan itu langsung membuat Nadhira berdiam diri tanpa mau menyahuti pertanyaan dari Rifki tersebut, dirinya masih sangat marah kepada Rifki karena Rifki tidak mau jujur kepadanya sebelumnya itu, dan hal itu disembunyikan begitu saja darinya.


Rifki memegangi dadanya yang terasa sakit karena ucapan dari Nadhira, dan merasa bahwa Nadhira benar benar telah membencinya karena hal seperti ini, ini semua adalah ide dari Haris karena Haris tidak mau luka yang dialami oleh anaknya bertambah parah karena anaknya yang suka ceroboh dengan luka dan tidak memedulikan rasa sakit yang dirasa.


"Apa harus nunggu aku mati beneran dulu baru kamu akan benar benar memaafkan diriku sayang? Apakah kematianku yang kau tunggu selama ini?"


Rifki pun bangkit dari duduknya dengan susah payah dan berjalan mendekat kearah Nadhira dengan pelan pelan, Nadhira sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang terakhir ia lontarkan itu, Rifki menatap kearah wajah Nadhira dengan lekat lekat sementara Nadhira membuang muka darinya.


"Kalo begitu aku mati sekarang ya? Biar kamu senang Dhira, apapun akan aku lakukan asalkan itu yang akan membuatmu bahagia, maaf untuk semua kesalahan yang telah aku lakukan, nyawaku ini adalah milikmu dan kau berhak untuk mengambilnya dari diriku ini" Ucap Rifki.


"Mati saja sana! Jangan balik lagi"


"Beneran? Sudah ikhlas aku mati sekarang? Apa ada kata kata terakhir yang ingin disampaikan sebelum aku benar benar mati? Jika itu kemauanmu maka akan aku laksanakan Dhira, jaga diri baik baik ya, kau harus selalu bahagia, kau berhak untuk mendapatkan yang terbaik dan yang lebih baik daripada diriku, maafkan aku karena aku telah gagal untuk membuatmu bahagia Dhira"


Mendengar pertanyaan itu langsung membuat Nadhira menatap kearah wajah Rifki yang kini tengah tersenyum tipis kepadanya, tatapan keduanya kini bertemu satu sama lain, meskipun Rifki tersenyum tipis saat ini akan tetapi dapat terlihat adanya air mata yang mengalir dipipinya.


Rifki pun memegangi dadanya sambil memejamkan kedua matanya, keningnya mengernyit pertanda bahwa dirinya tengah menahan rasa sakit, melihat itu pun membuat Nadhira meneteskan air mata dengan deras hingga membuat matanya memerah.


"Maafin aku Dhira, aku salah, jika itu kemauanmu aku pergi ya? Maaf untuk yang terakhir kalinya, aku telah membuatmu kecewa, aku telah gagal menjadi seorang suami yang baik untukmu, aku pergi, maafkan aku" Rifki menatap sendu kearah Nadhira.


Rifki pun membalikkan badannya dari Nadhira, dapat terlihat bahwa Rifki tengah menghela nafas berat saat ini, Nadhira langsung bangkit dari tidurnya untuk duduk diatas diatas kasurnya itu dan memandangi kearah Rifki.


Nadhira tidak mau kalau Rifki pergi, ada sesuatu yang hilang didalam hidupnya. Nadhira tidak mau kehilangan Rifki dengan cepat seperti ini, tapi Rifki telah membuatnya sangat kecewa, tapi kebimbangan langsung menghantui pikirannya.


Hanya Rifki seorang yang ia miliki saat ini, kedua orang tuanya sudah meninggalkannya, Mamanya sudah meninggalkannya untuk selamanya tapi Papanya entah kemana perginya dan bahkan ia tidak tau dimana keberadaannya saat ini.


"Rifki" Panggil Nadhira ketika ia melihat Rifki akan melangkahkan kaki pergi dari ruangan itu.


"Maafkan aku Dhira, mungkin ini hukuman yang pantas aku dapatkan karena telah menyakitimu dan membuatmu kecewa, lebih baik aku mati agar aku bisa mendapatkan maaf darimu, daripada kita seperti ini terus terusan yang ada kamunya malah risih atas kehadiranku disisimu" Ucap Rifki lirih sambil menundukkan kepalanya dalam.


"Jangan pergi, aku mohon Rif, aku mohon agar kau tetap disampingku"


Rifki pun menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Nadhira yang terdengar berat, air mata Rifki menetes begitu saja saat ini dari matanya yang indah itu, Rifki pun menghirup nafas dalam dalam dan mengeluarkannya secara perlahan lahan, ia pun menghapus air matanya itu.


"Apa kamu mau mengatakan sesuatu denganku sebelum aku benar benar pergi dari dunia ini? Katakan Dhira, jika aku bisa mengabulkan, aku akan mengabulkannya meskipun waktuku sudah tidak lama lagi" Tanya Rifki sambil membalikkan badannya.


"Aku membencimu jika kau pergi meninggalkanku lagi saat ini, Rif. Sangat membencimu"


"Bukankah kau sudah membenciku Dhira? Meskipun aku pergi atau tidak, kau tetap sama dan akan membenciku bukan? Bahkan kau sendiri juga sudah tidak mau bertemu dengan diriku"


"Jangan pergi, aku mohon jangan tinggalkan aku seperti ini Rif, kau suamiku dan akan selalu seperti itu, jika kau pergi lantas kepada siapa lagi aku akan bahagia?"


"Aku sama sekali tidak bisa membahagiakanmu Dhira, aku telah gagal untuk itu, justru jika kau bersamaku membuatmu semakin menderita karenaku, aku bukan suami yang baik untukmu, dan aku tidak pantas untuk hidup lebih lama lagi,"


"Ngak Rif, jangan pergi, lupakan saja kata kataku sebelumnya, aku ngak mau kamu pergi. Aku ngak mau kehilangan dirimu lagi Rif, hanya dirimu satu satunya yang aku punya didunia ini,"


"Jangan nangis, aku ngak suka kamu nangis,"


Nadhira pun mengeleng gelengkan kepalanya, air mata pun berjatuhan dipipinya dengan deras, hal itu langsung membuat Rifki mendekat kearahnya untuk menghapus air matanya itu, ia tidak akan tega untuk melihat Nadhira menangis seperti itu.


Tanpa disangka sangka oleh Rifki, Nadhira langsung memeluk pinggangnya itu dengan sangat eratnya, Rifki yang merasakan pelukan itu sontak membuatnya langsung meneteskan air mata bahagia, ia pun menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan tersebut dengan mengusap pelan kepala Nadhira.


"Aku minta maaf kepadamu Rif, karena aku telah marah kepadamu, seharusnya aku tidak marah seperti ini kepadamu, aku masih belum bisa menerima kenyataan atas kematian anakku, seharusnya aku tidak marah kepadamu karena itu semua bukan dirimu penyebabnya, kau melakukan itu hanya untuk menyelamatkan nyawaku"


"Maafkan aku karena aku tidak bisa menyelamatkan anak kita Dhira, jika aku memilih anak kita waktu itu, belum tentu dia bisa selamat karena usianya masih 6 bulan dan masih kurang 3 bulan lagi untuk lahir, aku tidak mau kehilangan kalian berdua dengan secepat ini, itulah alasanku kenapa aku memilihmu untuk tetap hidup bersamaku, aku tidak mau kehilangan kalian berdua secara bersamaan, itu adalah luka terbesar bagiku Dhira"

__ADS_1


"Maafkan aku Rif, aku telah egois seperti ini, aku sama sekali tidak memikirkan perasaanmu saat itu dan lebih mementingkan egoku agar anak kita tetap hidup, aku salah"


"Kamu tidak salah sama sekali Dhira, aku yang salah maafkan aku Dhira, aku benar benar meminta maaf kepadamu, maafkan aku"


"Jangan pernah tinggalkan aku Rif, aku takut kehilanganmu Rif, kau satu satunya kebahagiaan yang aku miliki didunia ini, aku menyayangimu Rif"


"Kamu sudah ngak marah lagi denganku Dhira?"


"Ngak, jangan pergi, jangan tinggalkan aku"


"Makasih Dhira, jangan nangis lagi ya, aku tidak sanggup melihatmu menangis, aku benar benar minta maaf karena telah membuatmu menangis, Oma pasti mengutukku disyurga-Nya saat ini karena aku telah berani membuat cucunya menangis"


Rifki melepaskan pelukannya tersebut dan berjongkok dihadapan Nadhira yang tengah duduk ditepi tempat tidurnya itu, Rifki pun menggerakkan ibu jarinya untuk menghapus air mata Nadhira yang mengalir dipipinya itu dan memegangi kedua tangan Nadhira dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku ya, aku melakukan ini karena aku tidak mau membuatmu semakin cemas karena diriku Dhira, aku tau kamu marah kepadaku karena diriku telah mengambil keputusan tanpa persetujuanmu, dan aku tidak mau lukaku akan membuatmu semakin sedih, kalo soal yang ini, aku benar benar ngak tau Dhira, ini rencana Papa dan aku hanya mengikutinya saja"


"Aku takut kehilanganmu Rif, apa kau tau aku tadi mencarimu kemarkas dan ke Surya Jayantara tapi tidak menemukan dirimu, apalagi ketika aku tiba tiba mendapatkan kabar seperti itu, hatiku sangat sakit ketika mendengarnya Rif, aku takut kehilangan dirimu saat ini"


"Ini semua rencana Papa, Papa tau aku terluka dan dia menyuruhku untuk istirahat sambil mengobati lukaku Dhira, aku tidak tau soal itu, Papa memintaku untuk pura pura meninggal, dia bilang hanya dengan seperti itu cara terakhir yang dia bisa agar aku bisa mendapatkan maaf darimu"


"Lalu seminggu yang lalu? Apa kau juga yang menyelamatkanku?"


"Iya, Papa sudah memintaku istirahat tapi aku tidak mau dan sering mengawasimu dengan diam diam, setelah kejadian itu Papa sangat marah kepadaku karena lukaku semakin parah, sehingga aku dikurung dimarkas didalam kamarku yang ada dimarkas dan tidak diizinkan untuk keluar sedetikpun, dan dijaga ketat disana, yang boleh keluar masuk hanya Bayu dan seorang Dokter yang diperintahkan oleh Papa"


"Lalu bagaimana dengan lukamu saat ini? Pasti itu sangat menyakitkan kan? Kau sudah terluka tapi tiba tiba mendapatkan hujanan pukulan seperti saat itu hanya untuk melindungi diriku"


"Lukaku sudah tidak sakit lagi sekarang, aku baik baik saja kok, jangan khawatirkan soal itu, selama kau ada disampingku aku akan baik baik saja, aku hanya ingin bersama dengan dirimu Dhira, aku sangat merindukan dirimu sayang"


Rifki pun menjatuhkan kepalanya dipangkuan Nadhira dan memejamkan matanya sambil bersandar didalam pangkuan Nadhira itu, Nadhira pun menggerakkan tangannya untuk mengusap pelan kepala Rifki dan punggung atas Rifki.


"Maafin aku Dhira, aku telah menjadi suami yang gagal untuk menjaga dirimu sehingga kita kehilangan anak kita yang bahkan belum lahir"


"Maafin aku juga Rif, aku sama sekali tidak mengerti tentang semua penderitaanmu selama ini, aku telah menyakiti hati suamiku yang selalu baik kepadaku, kau selalu ada untukku tapi diriku? Diriku bahkan tidak mengetahui kalau dirimu terluka"


"Kamu tidak salah sayang, ini semua salahku bukan dirimu, aku yang gagal menjagamu, aku juga yang telah lalai bukan dirimu, seandainya aku datang tepat waktu pasti dirimu akan baik baik saja"


"Kau serius Dhira?"


"Iya sayang, aku ngak mau bertengkar lagi dengan dirimu, berpisah dari dirimu beberapa hari ini saja membuatku sadar bahwa aku telah salah, dan aku sangat merindukanmu" Setetes air mata Nadhira langsung meluncur begitu saja.


"Jangan menangis, aku ngak mau Dhiraku menangis"


Nadhira pun menyuruh Rifki untuk berdiri dari duduknya dilantai itu, Rifki hanya menurutinya saja dan langsung bangun berdiri dihadapan Nadhira yang tengah duduk ditepi kasur itu.


Nadhira pun langsung memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya, tubuh yang selama ini dirinya rindu untuk dipeluk pun akhirnya bisa untuk ia peluk kembali, wangi tubuh Rifki pun tercium oleh Nadhira hingga membuat wanita itu merasa bahagia.


"Maafkan aku sayang, aku telah menyakitimu, aku gagal menjadi suami yang baik untukmu karana aku tidak bisa melindungimu dengan baik"


"Kau sudah melindungiku Rif, aku yang salah karena tidak mengerti tentangmu, tentang penderitaan yang saat ini kau rasakan, justru diriku terlalu egois karena selalu beranggapan bahwa diriku yang menderita bukan dirimu, tapi disini justru dirimu yang paling menderita daripada aku"


"Aku sangat menyayangimu Dhira, aku tidak peduli dengan diriku sendiri, asalkan dirimu selalu bersamaku itu sudah cukup bagiku"


"Kita akan selalu bersama Rif, jangan pernah tinggalkan aku, walaupun hanya sebentar"


"Iya sayang"


Rifki pun menempelkan bibirnya dileher Nadhira seraya menghisapnya pelan dan dirinya pun semakin mengeratkan pelukannya dari tubuh Nadhira tersebut, Rifki merasa nyaman berada diposisi itu karana dia bisa mencium aroma tubuh Nadhira yang sangat wangi bagi dirinya itu.


Cukup lama Rifki melakukan itu, perlahan lahan ia melepaskan pelukannya itu dan memegangi kedua pundak Nadhira, ia melihat adanya stempel kepemilikan miliknya dileher Nadhira dengan warna merah yang pekat.


"Dhira, ini tidak mimpi kan? Kau benar benar ada didepanku saat ini kan? Rasanya seperti mimpi"


"Kamu tidak mimpi Rif, aku benar benar ada didepanmu saat ini, jika ini mimpi bagaimana mungkin mimpi ini bisa bersamaan"

__ADS_1


"Kau benar"


Rifki pun menjatuhkan tubuh Nadhira dikasur tersebut secara perlahan lahan dan dirinya langsung menindih Nadhira begitu saja, tatapan mata keduanya pun bertemu terlihat ada bekas merah dileher Nadhira karena ulahnya itu.


"Kau milikku, dan akan selalu menjadi milikku Rif, sampai kapanpun itu" Ucap Nadhira sambil menatap wajah Rifki yang ada diatasnya itu.


"Aku sangat menyayangimu Dhira, melebihi dari nyawaku sendiri" Ucap Rifki.


Rifki pun mendekatkan bibirnya kepada bibir Nadhira perlahan lahan, Rifki bisa merasakan nafas Nadhira saat ini dan tanpa berlama lama lagi dia pun melum*at bibir tersebut, hal itu seakan akan sudah menjadi candu bagi Rifki.


Nadhira pun menikmati saat saat itu bersama dengan Rifki, hal yang dilakukan oleh Rifki itu langsung membuat Nadhira memejamkan kedua matanya dan membiarkan Rifki melakukan apapun yang ingin ia lakukan kepadanya itu tanpa menolaknya.


Nadhira mengalungkan tangannya dileher Rifki dengan sangat erat, untuk memperdalam ciuman tersebut, Nadhira dapat merasakan pernafasan Rifki yang semakin memburu dengan cepat tersebut, dan hal itu membuat Nadhira menautkan tangannya dileher Rifki.


"Akh..." Tiba tiba Rifki memekik karena terlalu lama menyangga dengan kedua tangannya membuat punggungnya terasa sedikit nyeri dan dia langsung melepaskan ciuman itu dan bangkit berdiri.


"Kamu kenapa Rif?" Tanya Nadhira khawatir sambil bangkit dari tidurnya.


"Ngak apa apa kok sayang, mungkin terlalu lama menyangga tadi"


"Buka bajumu sekarang, aku ingin melihat lukamu"


"Jangan, terlalu ngeri untuk dilihat Dhira, aku takut kalo kamu akan kehilangan nafsu makanmu setelah melihatnya nanti"


"Aku ngak suka dibantah, cepat lepaskan bajumu atau aku sendiri yang akan melepaskannya"


"Iya, apapun akan aku lakukan untuk dirimu sayang, sekalian ganti perbannya, lalu obati juga biar cepet sembuh ya, kau mau kan untuk mengobatiku?"


"Iya, mana obat dan perbannya?"


"Bentar aku ambilkan dulu, aku menyuruh Bayu untuk terus membawanya karena sewaktu waktu bisa saja dibutuhkan nantinya"


"Cepat kembali, jangan lama lama"


"Iya Dhira"


Rifki pun keluar dari kamarnya itu, ia meminta kepada Bayu untuk membawakan salep dan perbannya itu kelantai atas tempat dimana kamarnya berada, Bayu yang mendapat pesan tersebut langsung bergegas menuju ketempat yang dimaksud oleh Rifki dan memberikan apa yang dimaksud oleh Rifki kepadanya itu.


"Sudah baikan sama dia, Rif?" Tanya Bayu.


"Alhamdulillah sudah Bay, rasanya seperti mimpi, dia juga bilang mau mengobati lukaku, jadi aku minta kau membawakan ini kemari"


"Syukurlah, good job teman, aku senang mendengar kabar ini, aku akan memberitahu yang lainnya juga, mereka pasti senang mendengarnya, jangan lupa ngadain juga acara resepsi pernikahan kalian, dulu kan tanpa resepsi"


"Soal itu gampang Bay, ya sudah, aku masuk dulu ya, takut Dhira nunggu lama, nanti dia makin marah"


"Wokay bro, kabarin kalo sudah jadi debay lagi, buat debay yang banyak yak"


"Siaplah"


Rifki lalu masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu tersebut, ia pun mendekat kearah Nadhira yang tengah duduk dipinggir kasur tersebut, ia lalu menyerahkan kotak obat itu kepada Nadhira dan langsung diterima oleh Nadhira.


"Buka bajumu" Perintah Nadhira.


Rifki lalu membuka bajunya dengan perlahan lahan karena takut nyerinya akan kambuh lagi, setelahnya ia pun duduk didepan Nadhira dan membelakangi Nadhira agar Nadhira bisa melihat lukanya.


Nadhira yang melihat perban yang memanjang itu pun meneteskan air matanya karena tidak sanggup untuk melihat luka Rifki seperti itu, dengan perlahan lahan dirinya pun melepaskan perbannya yang melilit ditubuh Rifki itu, dapat ia lihat luka Rifki yang cukup parah bagian itu.


"Pasti ini sangat sakit" Ucap Nadhira sedih.


"Kamu nangis Dhira? Seharusnya kamu tidak usah melihat lukaku tadi biar kamu ngak sedih seperti ini, aku ngak mau membuatmu bersedih"


"Diamlah, mana obatnya?"

__ADS_1


"Salepnya ada dikotak itu, dioleskan secara perlahan lahan terus dibiarkan sampai mengering baru perban dipasang"


"Iya"


__ADS_2