
1 bulan kemudian...
Nadhira tengah berdiri disebuah tembok yang terdapat adanya sebuah kalender disana, dirinya pun mencoretnya dihari yang telah ia lewati. Nadhira pun tersenyum melihat sebuah tanggal yang telah dirinya lingkari akan tiba, hari dimana dirinya akan di evakuasi mati.
"Hanya tinggal sehari waktuku hidup, bahkan sampai detik ini Rifki belum sadar dari komanya."
Tiba tiba Nadhira mendengar langkah kaki dari seseorang, Nadhira lantas menoleh kearah orang yang mendatangi sel tahanannya itu. Terlihat seorang penjaga pintu penjara datang, dan Nadhira tersenyum kearahnya.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda," Ucapnya kepada Nadhira.
"Siapa?" Tanya Nadhira.
"Dokter Susi."
Nadhira pun menganggukkan kepalanya, sementara polisi itu langsung bergegas untuk membukakan pintu tahanan itu. Nadhira keluar dari sana sambil diikuti oleh penjaga agar dirinya tidak bisa kabur, dan Nadhira langsung duduk didepan Susi ketika telah sampai ditempatnya.
"Bagaimana keadaan Rifki?" Pertanyaan itulah yang selalu diucapkan oleh Nadhira pertama kali ketika bertemu dengan Susi.
"Masih belum bisa di prediksi, Dhira. Aku nggak tau kapan dia akan keluar dari komanya, bahkan sepertinya dia sama sekali tidak berusaha untuk bisa siuman."
Nadhira pun menghela nafasnya dengan berat, "Ini adalah hari terakhir untukku bisa dikunjungi, besok aku akan diamankan sehari sebelum dieksekusi. Sepertinya takdir tidak berpihak kepadaku,"
Terlihat Susi tengah menitihkan air matanya mendengar ucapan Nadhira, dirinya bahkan tidak sanggup untuk kehilangan sahabat terbaiknya itu. Benar, ini adalah hari terakhir baginya untuk bisa bertemu dengan Nadhira, setelahnya keduanya tidak akan bisa bertemu lagi.
Melihat Susi yang menangis, Nadhira langsung menggerakkan tangannya untuk mengusap air matanya itu. Nadhira tidak mau melihat siapapun sedih untuk hari ini, apalagi sahabat yang disayanginya itu.
"Jangan nangis, aku tidak mau melihatmu bersedih untuk hari ini."
"Bagaimana aku bisa bahagia melihatmu seperti ini, Dhira?"
"Demi diriku, Sus. Apa kau mau aku mati dengan membawa penyesalan karena telah membuatmu menangis? Aku nggak papa kok. Paling nanti rasa sakitnya cuma sebentar, setelahnya sudah tidak terasa lagi."
"Ini bukan kesalahanmu, Dhira. Tapi kenapa kau harus menanggung semuanya?"
"Sus, aku pantas menerimanya karena telah banyak nyawa yang melayang karena diriku. Lagian Papaku sendiri yang memilihkan hukuman ini untukku, itu artinya dia tidak mau melihatku ada didunia ini lagi kan? Aku tidak mau menolak keinginan Papa, bahkan aku sudah menerima semuanya dengan ikhlas."
"Om Rendi harus tau bahwa kau masih hidup, Dhira. Dia juga harus tau bahwa kau bukanlah Ana tapi Nadhira, dia pasti akan membatalkan hukuman ini,"
"Tidak perlu. Jangan beritahu Papa kalau aku masih hidup, aku tidak mau Papa mengenaliku ataupun mengetahui identitasku, Sus. Aku nggak papa kok jika harus menerima semuanya,"
"Kau memang bisa menerima semuanya, tapi aku tidak bisa melakukan itu, Dhira. Semuanya terasa berat bagiku, aku..." Susi tidak mampu melanjutkan perkataannya, rasanya kalimat itu tercekal begitu saja di tenggorokannya tanpa bisa dikeluarkan olehnya.
Rasa sesak menyeruak di tenggorokannya hingga tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, kehilangan yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi. Nadhira menggenggam erat tangan Susi seraya untuk menguatkan wanita dihadapannya, padahal dirinya sendiri tengah hancur saat ini, akan tetapi sok berpura pura kuat.
"Aku tau apa yang kau rasakan, Sus. Nyatanya aku tidak bisa merubah takdirku sendiri, aku hanya ingin bahagia tapi justru keinginanku terlihat sangat berat." Ingin sekali Nadhira menitihkan air matanya, akan tetapi dirinya terus berusaha untuk kuat.
"Dhira," Ucap Susi lirih.
"Kau bisa pulang, aku ingin istirahat dengan nyenyak hari ini. Sampaikan maafku kepada Rifki ketika dia sudah sadar dari komanya, dan sampaikan maafku kepada Nara karena aku tidak lagi dapat untuk menemaninya. Aku titipkan Nara kepadamu, jaga dan rawat dia dengan baik, Sus. Jangan biarkan dia dendam kepada Ayahnya. Aku minta maaf kepadamu atas semua salah dan khilafku selama ini, aku meminta maaf untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, kita akan berpisah dan tidak akan pernah bertemu lagi," Dengan berat hati, Nadhira mengatakannya.
"Aku tidak sanggup, hikss... hiks... hikss..." Tangis Susi pecah seketika.
Nadhira pun bangkit dari duduknya, dirinya pun menarik tubuh Susi kedalam pelukannya. Ia paling tidak bisa melihat orang yang disayangnya menangis, bahkan hanya sebentar saja.
Keduanya pun saling berpelukan dengan deraian air mata, isak tangis Susi mampu membuat pertahanan Nadhira melemah dan ikut serta menangis. Sakit, itulah yang dirinya rasakan saat ini, bahkan keduanya sama sama takut akan kehilangan.
"Ketika aku terluka, kau pernah bilang kepadaku, Dhira. Bahwa kau akan menjadi pelindung pertamaku waktu itu, tapi aku sama sekali tidak bisa melindungimu."
"Maafkan aku, Sus. Inilah jalan yang aku pilih, dan aku harus menerima semua konsekuensinya. Kau harus kuat, ikhlaskan semuanya, dan berlapang dadalah untuk menerima segalanya. Aku akan selalu hidup didalam hatimu,"
__ADS_1
"Maaf..."
Nadhira tidak mau terlihat rapuh didepan Susi, dirinya pun perlahan lahan menghapus air matanya. Ia harus tegar menerima semuanya, dan dirinya pun mencoba untuk meyakinkan Susi bahwa semuanya akan baik baik saja. Sesuatu yang hilang akan mampu diganti, tapi tidak dengan kenangannya.
"Waktu kunjung sudah habis," Ucap salah satu penjaga sel tahanan itu.
"Bisakah anda memberi waktu sesaat lagi?" Tanya Susi.
"Sus, kau harus kuat ya. Jaga diri baik baik, kesehatannya dijaga, ibadahnya ditambah, senyumnya jangan luntur, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ini dan kemarin. Aku pamit, ya? Maaf dan terima kasih untuk semuanya."
"Dhira..."
"Assalamualaikum..." Ucapnya dan langsung bergegas pergi dari tempat itu.
"Dhira!! Hikss... Hikss... Hikss..." Tangis Susi histeris.
Ketika Nadhira membelakangi Susi, dadanya terasa sakit mendengar teriakan Susi. Terdengar isakan lirih yang keluar dari bibirnya, Nadhira pun memegangi dadanya yang terasa sakit nan sesak, seakan akan oksigen ditempat itu terasa sangat menipis untuknya.
"Maafkan aku. Aku adalah orang yang paling hina di dunia ini, orang yang mengharapkan kedamaian tapi justru peperangan yang ada. Rifki, aku rapuh saat ini, maafkan aku yang telah gagal menjadi istri sekaligus ibu yang baik. Maaf, meskipun kata maafku tidak mampu mengembalikan apapun itu, tapi aku benar benar meminta maaf."
*****
Tit... Tit... Tit... Tit...
Suara dari layar monitor detak jantung yang ada disebelah Rifki terbaring tidak berdaya, dapat dilihat bahwa detak jantungnya semakin melemah saat ini. Rifki sudah tertidur sangat lama disana, dirinya mampu bertahan hidup dengan alat alat medis yang terpasang pada tubuhnya.
Terlihat disebelahnya terdapat sosok Putri yang senantiasa menemaninya, dan sama sekali tidak pernah meninggalkan dirinya walaupun hanya sesaat. Putri tengah mengusapkan handuk basah diwajahnya Rifki untuk membersihkannya, dan terlihat tubuh Rifki begitu terawat.
"Kapan kamu bangun, Nak? Mama sudah kangen banget denger suaramu," Ucap Putri dengan linangan air mata.
Sama sekali tidak ada respon dari Rifki, seperti biasanya yang bahkan ucapan itu diabaikan olehnya. Rifki masih setia memejamkan kedua matanya dengan erat, bahkan sama sekali tidak ada keinginan untuk bisa sembuh.
"Nggak perlu, Ay. Kenapa Kakakmu tidak mau bangun juga? Mama takut kehilangannya."
"Kakak pasti sembuh, Ma. Dia harus sembuh karena dia sudah janji kepada Ayu, katanya dia mau memberi Ayu sesuatu yang Ayu suka."
Putri pun menatap kearah wajah Rifki yang terlihat damai, bahkan disaat dia dalam kondisi keritis pun wajahnya masih memancarkan kehangatan. Luka memar yang ada diwajahnya sudah terlihat kering, bahkan sebagian sudah ada yang mengelupas karena lamanya.
"Ini semua karena Ana, dia yang telah mencelakakan anakku," Ucap Putri yang memang tidak mengerti kejadian yang sebenarnya.
Telah beredar sebuah kabar mengenai hal itu. Didalam kabar berita itu mengatakan bahwa Ana hendak mencelakakan Rifki akan tetapi ditolong oleh Amanda, sehingga Amanda meregangkan nyawa ditempat. Keluarga Rifki pun menduga bahwa Ana adalah suruhan dari musuh mereka untuk mencelakakan Rifki, akan tetapi dirinya baru melancarkan aksinya beberapa waktu ini.
Semua bukti bukti terarah kepadanya, bahkan semuanya bagaikan membenci Nadhira tanpa tau yang sebenarnya. Mereka sangat mendukung hukuman yang diterima oleh Nadhira, dan meyakini bahwa semuanya terjadi karena ulahnya.
"Ini adalah hari terakhir untuknya, Ma. Sebentar lagi dia akan dievakuasi, tinggal hitungan jam saja."
"Baguslah, lebih cepat lebih baik."
Tiba tiba jari telunjuknya bergerak, Rifki memberi tanda kepada keluarganya bahwa sebentar lagi dirinya akan siuman dari komanya. Putri yang melihat gerakan pelan dijari Rifki pun langsung menggenggam erat tangan anaknya itu, dirinya begitu bahagia melihat reaksi yang diberikan oleh Rifki saat ini.
"Ma, Kakak memberi respon," Ucap Ayu dengan kedua mata yang berbinar binar melihatnya.
"Ay, panggilkan dokter sekarang!" Perintah Putri.
"Baik Ma!"
Ayu langsung bergegas pergi dari ruangan itu, dirinya pun tergesa gesa untuk memanggil dokter karena sangking senangnya ketika mendapatkan respon dari Rifki. Tak beberapa lama kemudian, mereka pun segera datang dan langsung memeriksa keadaan Rifki, dan mereka senang bahwa hasilnya ada kemajuan yang dialami Rifki.
"Gimana kondisi Rifki, Dok?" Tanya Putri.
__ADS_1
"Pasien berhasil melewati masa komanya, sebentar lagi mungkin dia akan sadar," Ucap Dokter itu.
"Alhamdulillah, Ya Allah."
Terlihat Rifki tengah mengernyitkan keningnya lantaran cahaya yang seperti menusuk masuk kedalam matanya, yang semula terlihat begitu sangat gelap kini berubah menjadi terang. Terlalu banyak alat medis yang terpasang pada tubuhnya, sehingga tubuhnya hanya berbalutkan selimut saja.
Rifki merasa tangannya sangat perih, tangan yang dimana dipasangkan selang infus. Sudah cukup lama jarum itu terpasang disana, hingga rasanya sangat sakit sekaligus dingin karena cairan yang masuk kedalam tubuhnya itu.
"Dok, pasien sudah sadar," Ucap salah satu perawat yang ikut masuk kedalam ruangan itu.
Sebuah stetoskop yang dipegang oleh dokter itu pun ditempelkan didada Rifki untuk memeriksanya, dan ada kemajuan didalam tubuhnya. Rifki mencoba untuk membuka kedua matanya, tapi kedua matanya tidak tahan dengan cahaya yang menyengat itu.
Ketika dirinya berhasil untuk membuka keduanya matanya meskipun tidak lebar, pandangannya terlihat sangat buram. Rifki tidak bisa melihat dengan jelas disekitarnya, yang ia tau bahwa dirinya berada didalam sebuah ruangan serba putih dengan penuh alat medis didalamnya.
"Rifki, akhirnya kamu sadar juga, Nak." Suara gembira yang dikeluarkan oleh Putri membuat Rifki tau bahwa Putri ada disebelahnya saat ini.
"Mama," Ucap Rifki lirih bahkan tidak terdengar oleh siapapun.
"Untuk sementara ini, biarkan pasien istirahat terlebih dulu. Dia baru saja siuman, jadi kondisinya masih lemah," Ucap Dokter itu.
"Baik Dok," Jawab Putri.
Dokter tersebut pun keluar dari ruangan itu berserta beberapa perawat yang ikut. Kondisi Rifki masih lemah, bahkan untuk bergerak saja terasa sangat sulit baginya. Rifki beberapa kali menggerakkan hidungnya karena merasa tidak nyaman dengan selang oksigen yang masih terpasang disana, dan dirinya masih menyesuaikan diri dengan cahaya didalam ruangannya itu.
"Ma," Panggil Rifki pelan.
"Ada apa, Rif? Kamu butuh sesuatu? Bilang kepada Mama," Ucap Putri sambil mendekat kearah anak lelakinya itu.
"Haus," Ucap Rifki.
Putri pun mengambil sebuah gelas dan meletakkan sebuah sedotan digelas itu, dirinya pun membantu Rifki untuk meminumnya. Setelah tidak sadarkan diri cukup lama, rasanya tenggorokannya sangat kering dan terasa sangat haus.
Hanya beberapa tegukan saja yang masuk, setelahnya Rifki menyuruh Putri untuk menaruhnya kembali. Rifki menatap sekitarnya seperti tengah mencari seseorang disana, akan tetapi dia tidak menemukan apa yang dirinya cari saat ini.
"Ma, dimana Dhira? Kenapa dia tidak ada disini? Tadi Rifki dengar suaranya yang terus memanggil nama Rifki, dimana dia?" Tanya Rifki sambil kedua matanya menyusuri seluruh ruangan.
"Rifki, Dhira sudah nggak ada, Nak. Apa kamu masih belum bisa menerima kepergiannya? Dia sudah tiada bertahun tahun yang lalu. Kamu pasti hanya bermimpi bertemu dengan dia,"
"Nggak mungkin, Ma. Dhira masih hidup, dia belum meninggal, dan dia sudah kembali kepada Rifki. Kemana dia, Ma? Dimana dia?"
"Rifki, sadar Nak. Mama tau kalau kamu belum bisa mengikhlaskan kepergiannya, tapi kamu harus tau kalau dia tidak akan pernah kembali lagi."
"Ma, aku lebih tau tentang dia daripada Mama. Dhira masih hidup selama ini, dia datang menemui Rifki dengan identitas barunya. Nadhira menyamar sebagai Ana, demi melindungi Rifki dan anak Rifki."
Sontak Putri dan Ayu sangat terkejut mendengar penjelasan dari Rifki, dan melihat itu langsung membuat Rifki merasa bingung dengan reaksi keduanya. Keduanya seperti tengah sangat terkejut, dan keterkejutan itu berbeda dari seperti apa orang terkejut pada umumnya.
"Dimana dia?" Ulang Rifki karena tidak mendapatkan jawaban dari keduanya. "Ma, aku sangat rindu dengan dia, tolong panggilkan dia kemari. Rifki ingin bertemu dengannya,"
Mendadak air mata Putri menetes begitu saja, melihat itu membuat Rifki mencoba untuk bangkit dan duduk dari posisinya. Rifki meraih tangan Putri dengan kedua tangannya, Entah mengapa keduanya mendadak membisu? Dan hal itu semakin membuat Rifki merasa tidak tenang.
"Apakah benar bahwa Ana adalah Nadhira?" Tanya Putri.
"Kenapa Rifki harus berbohong kepada Mama? Dia sudah memberitahu semuanya kepada Rifki. Dimana dia, Ma? Katakan."
"Kurang 1 jam lagi, dia akan di evakuasi mati, Kak." Ucap Ayu.
"APA!!! Kenapa bisa, Ay?" Rifki lebih terkejut lagi ketika mendengarnya.
"Kakak Dhira dituduh telah membunuh Kakak Manda, Kak. Semua orang mengatakan bahwa dia pelakunya, dan juga menyebabkan Kakak terluka seperti ini." Isak tangis Ayu pun terdengar, berderaian air mata ketika dirinya mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Dia bukan pelakunya!"