
Kinara terbangun dari pingsannya, dirinya mendapati bahwa dia berada disebuah kamar yang sangat besar. Kepalanya terasa sangat pusing, dan dia langsung bergegas bangkit dari tempat itu. Kinara tidak mengetahui dirinya berada dimana, karena rumah itu terlihat sangat asing baginya.
Rumah yang sangat mewah, bahkan yang selama ini hanya menjadi mimpi baginya. Kinara berlari keluar dari dalam kamar itu, dan menuruni tangga yang ada disana dengan tergesa gesa. Ketika berada diruang santai, dirinya melihat Bu Siti dan Siska yang tengah duduk disana.
"Tante, Tante juga disini?" Tanya Kinara.
Siska langsung bangkit dari duduknya, dan langsung menghamburkan pelukannya ditubuh Kinara. Terdengar suara isakan tangis dari mulut Siska dibalik cadarnya, tapi Kinara belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi.
"Nara yang sabar ya, Nak." Ucap Siska sambil mengusap pelan punggung Kinara.
"Maksud Tante apa? Kenapa kita berada disini? Rumah siapa ini?" Tanya Kinara.
"Mama Nara udah nggak ada, yang ikhlas ya?"
"Mama..."
Kinara pun menangis saat itu juga, melihat itu Siska langsung menghamburkan pelukannya kepada Kinara untuk menenangkan gadis itu. Rasanya sangat sakit ketika dirinya baru sadar dari pingsan tapi dia terlambat untuk bisa bertemu dengan Nadhira, dan dirinya pun menangis sesenggukan ingin bertemu dengan Nadhira.
Orang orang yang ada disana begitu asing bagi Kinara, bahkan ia tidak mengenali mereka semua. Tiba tiba sosok Rifki pun mendekat, dirinya mengetahui bahwa anaknya sudah terbangun dan ingin menyambutnya.
"Kau sudah bangun, Nak?" Tanya Rifki dengan lembut.
"Kenapa kau membawaku kesini!! Dimana Mama? Aku mau pulang ke rumahku!" Sentak Kinara kepada Rifki.
Dada Rifki pun terasa sakit karena sentakkan dari Kinara, tapi dirinya mampu memaklumi hal itu karena situasi yang membuat Kinara seperti itu. Mendengar Kinara yang mengatakan dengan nada tinggi kepada Rifki, Bu Siti langsung bangkit dari duduknya untuk mendatangi Kinara.
"Nenek tidak pernah mengajarkanmu kasar, Nara. Kau tidak boleh berkata seperti itu kepada Ayahmu," Ucap Bu Siti.
"Nggak papa, Bu. Nara belum bisa menerimaku," Ucap Rifki kepada Bu Siti.
Rifki pun berjalan pergi dari tempat itu, dirinya lebih memilih menemani Nadhira untuk yang terakhir kalinya. Mereka baru tiba dirumah tersebut, dan Rifki langsung bergegas menemui Kinara setelah mendengar bahwa Kinara sudah terbangun.
"Rif, waktunya untuk memandikan Nadhira, Nak." Ucap Lia yang mendekat kearah Rifki dan mengusap punggungnya pelan.
"Aku sendiri yang akan memandikannya, Ma." Ucap Rifki tanpa menoleh kearah Lia.
"Apa kau masih sanggup melakukannya, Nak?"
"Insya Allah, aku masih sanggup, Ma. Aku tidak mau aurat istriku dilihat orang lain,"
"Baiklah kalau begitu."
Rifki pun membawa Nadhira ketempat pemandian, dan dirinya pun mulai memandikan jenazah istri tercintanya. Entah begitu banyak tetesan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya, tapi sama sekali tidak ada isak kan yang keluar dari mulutnya. Ini adalah hari terakhir untuknya bisa melihat wajah Nadhira, sebelum tubuh itu tertutupi oleh tanah.
Bertapa hatinya hancur saat ini, tapi dia harus kuat demi anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang. Keadaan yang terus memaksanya untuk kuat, tapi keadaan juga yang membuatnya sangat rapuh.
Selesai memandikannya, Rifki pun memasangkan kain kafan kepadanya. Setelah selesai dirinya pun mengangkat tubuh Nadhira menuju keruang tamu untuk di sholatkan, dan melihat itu langsung membuat Kinara menangis dengan histerisnya dan Siska langsung memeluknya dengan erat.
Menahan diri untuk tidak menangis didepan umum itu sakit, itulah yang dirasakan oleh Rifki saat ini, dirinya ingin menangis tapi ia tidak mampu melakukan itu. Kehilangan orang yang dicintai adalah hak terburuk bagi siapapun, tapi yang bisa Rifki lakukan hanyalah mengikhlaskan kepergian Nadhira.
"Rifki yang kuat, Nak. Aku yakin kamu bisa melakukannya," Ucap Haris yang mendekat kearah Rifki karena melihat tubuh Rifki yang sedikit terhuyung.
"Rasanya sakit, Pa. Dhira pergi begitu cepat," Ucap Rifki yang mencoba mati matian menahan air matanya.
Rendi paham bagaimana perasaan Rifki saat ini, meskipun sejuta sabar ia ucapkan tidak akan mampu untuk menghilangkan kesedihan didalam hati anaknya. Rifki pun bergegas untuk membersihkan tubuhnya, dirinya hendak mengimami shalat jenazah Nadhira.
......................
Seusai itu senja jadi sendu awan pun mengabu
Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku
Ku meminta rindu menyesali waktu mengapa dahulu
Tak kuucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari
Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian
__ADS_1
Kamu dan segala kenangan
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian
Menatap dirimu hanya bayangan
Tak ada yang lebih pedih
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu (padamu)
......................
Rifki pun memimpin sholat jenazah dengan isakan lirih, dia sendiri yang menjadi imam untuk mengantar kepergian Nadhira. Setiap bacaan sholatnya selalu terdapat jeda untuk isakan tangisnya, ini sangat berat, berat sekali.
Ketika sholat selesai dilaksanakan, tubuhnya mendadak roboh didekat tubuh Nadhira yang terbaring. Di kejauhan Rifki melihat sosok arwah Nadhira yang tengah berdiri sambil melambaikan tangan kepadanya, dan dengan senyuman hangat Nadhira berikan untuk Rifki.
"Dhira, kenapa kau harus pergi meninggalkan diriku secepat ini? Aku belum siap untuk melepaskanmu, tapi aku harus melakukannya," Ucap Rifki sambil menatap sosok Nadhira.
Nadhira tidak mengatakan apapun kepada Rifki, dirinya hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat Rifki yang tengah menangis. Haris mendekat kearah Rifki yang tengah menangis sesenggukan, begitu berat rasanya jika harus bisa melepaskan kepergian orang yang dicintainya.
"Rif, doakan yang terbaik untuk Dhira, ya? Harus ikhlas melepaskannya walaupun susah. Sekarang hanya doa yang bisa mengantarkan kepergiannya, jangan bebani dia dengan air matamu," Ucap Haris.
"Iya Pa."
Rifki mengusap air matanya dengan kasar, begitu rapuh dirinya saat ini. Rifki pun bangkit dari duduknya, dirinya pun mendekat kearah Kinara yang berada tidak jauh darinya. Kinara yang melihat kedatangan Rifki langsung membuang pandangan dari Rifki, dia tidak mau melihat Rifki saat ini.
"Kain kafannya akan segera ditutup, ciumlah Mamamu untuk terakhir kalinya, tapi air matanya jangan sampai mengenai tubuhnya. Kita akan segera mengantarkan dia pergi ketempat peristirahatan terakhirnya," Ucap Rifki kepada Kinara.
"Mama," Ucap Kinara lirih dan langsung berlari menuju kearah Nadhira yang terbaring.
Rifki menghela nafasnya melihat Kinara yang berlari kearah Nadhira, dan dirinya pun segera menyusulnya untuk mendekat kearah Nadhira. Rifki mengusap pelan punggung Kinara untuk menenangkan gadis itu, tapi tangan Kinara langsung menyingkirkan tangan Rifki dari tubuhnya dengan kasar.
"Udah nggak papa, Bu. Bukan saatnya," Ucap Rifki sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Rifki pun mendekat kearah Nadhira, dirinya pun mencium kening Nadhira untuk terakhir kalinya. Setelah itu, Rifki pun menutup wajah Nadhira dengan menggunakan kain kafan. Rifki, Haris, Bayu, dan Reno lalu mengangkat keranda yang didalamnya terdapat Nadhira.
Seorang ustadz langsung membacakan doa untuk Nadhira, dan ketika keranda itu diangkat seketika suara tangis histeris pun terdengar semakin kencang ditempat itu. Bu Siti langsung memeluk Kinara, dan para lelaki pun membawa Nadhira pergi dari sana.
"Mamaaa!!!" Teriak Kinara ketika Nadhira dibawa pergi dari sana.
"Dhiraaa!!!"
Begitu banyak tangisan histeris yang mengantarkan kepergian dari Nadhira, mereka semua merasa kehilangan dan tidak ada yang mampu mengobati rasa kehilangan itu.
Setiap langkah kaki Rifki terasa begitu berat, dan mereka pun mengantarkan kepergian Nadhira untuk yang terakhir kalinya. Nadhira dimakamkan didekat makam anaknya, dan mereka pun menguburnya, setelahnya langsung mendoakan dirinya.
Satu persatu diantara mereka mulai meninggalkan tempat pemakaman itu, dan hanya tersisa keluarga besar Rifki saja. Hening sesaat ditempat itu sehingga hanya suara hembusan angin lirih yang terdengar, dan langkah kaki orang orang tersebut yang perlahan lahan meninggalkan pemakaman.
"Ayo pulang, Rif. Sebentar lagi akan larut malam," Ajak Haris.
"Kalian pulang dulu, aku masih ingin menemani Dhira disini. Aku takut dia kesepian," Ucap Rifki.
"Baiklah, tapi setelah itu cepatlah pulang."
"Iya."
Mereka semua pun meninggalkan Rifki, akan tetapi tidak dengan Bayu yang setia menemani Rifki. Keduanya menatap kosong kearah batu nisan yang bertuliskan nama Nadhira, dan keduanya masih tidak menyangka bahwa Nadhira telah pergi meninggalkan mereka semua.
"Ya Allah, ringankanlah siksa kubur baginya, dan ampunilah segala dosa dosanya selama hidup. Dhira adalah wanita yang baik, kami semua sangat menyayanginya." Ucap Bayu.
"Dhira, tenang didalam sana ya, sayang. Cepat atau lambat aku pasti akan menyusulmu, bidadari surga akan selalu menemanimu. Aku yakin kau tidak akan kesepian disana, kau wanita yang baik yang rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan orang lain tanpa memikirkan kebahagiaan sendiri."
*****
Rifki dan Bayu berjalan beriringan menuju kerumahnya, dan dalam perjalanan itu sama sekali tidak ada percakapan diantara keduanya. Hingga tibalah keduanya di gerbang rumah Rifki, dirinya pun melihat Kinara beserta Bu Siti dan Siska hendak pergi dari rumahnya.
__ADS_1
"Kalian mau kemana?" Tanya Rifki sambil menghampiri ketiganya.
"Nara mengajak kami untuk pulang, Tuan. Jadi kami tidak bisa menolaknya," Ucap Siska.
"Nara, mulai sekarang tinggal disini. Ini rumahmu," Ucap Rifki kepada Kinara.
"Nggak! Nara nggak mau tinggal sama orang yang tidak pernah peduli denganku dan Mamaku. Ayo pulang, Nek." Kinara menarik tangan Bu Siti untuk pergi dari tempat itu.
"Nara," Panggil Rifki.
Kinara sama sekali tidak mempedulikan panggilan dari Rifki, dirinya terus berjalan meninggalkan rumah itu tanpa menoleh sedikitpun kepadanya. Rifki pun langsung mengejar Kinara, dirinya langsung menghalangi jalan Kinara begitu saja.
"Kamu boleh marah sama Papa, setidaknya tinggalah disini beberapa hari sampai tahlilan Mamamu selesai. Setelah itu, Papa tidak akan menghalangimu," Ucap Rifki memohon.
"Nggak mau."
"Nara, dengarkan Papa sekali saja. Jangan pergi tinggalkan Papa kali ini, Papa mohon sama Nara,"
"Aku mau pulang, Om. Aku nggak ada hubungan apapun dengan keluarga ini,"
"Nara, Papa mohon kepadamu. Sekali saja, biarkan Papa menebus kesalahan Papa selama ini,"
"Nggak!"
Kinara hendak melangkah kan kaki pergi dari tempat itu, akan tetapi Siska langsung menghentikannya. Kinara tidak mempercayai apa yang dilakukan oleh Siska kepadanya, dan hal itu membuat pertanyaan besar muncul dikepala Kinara.
"Tinggallah disini beberapa saat, jangan ikut pulang," Ucap Siska.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh pulang?"
"Bukankah Papamu sudah menyuruhmu untuk tetap tinggal? Jangan pernah membantah ucapan orang tuamu," Ucap Siska serius.
"Aku tidak pernah memiliki orang tua seperti dia. Kalau Tante nggak ngebolehin aku pulang, aku nggak akan pulang tapi aku tetap pergi dari sini."
Mendengar itu membuat Rifki memegangi dadanya yang nyeri, entah mengapa perkataan Kinara membuat hatinya sangat sakit. Rifki hanya bisa berdiam diri tanpa bisa mencegah kepergian dari Kinara, karena seberapa keras dirinya menghalangi Kinara semakin keras pula Kinara akan memberontak.
"Nara, kalau kamu nggak mau tinggal disini sama Rifki. Tinggallah sama Nenek disini, ini adalah tempat dimana Mamamu dimandikan dan diantarkan ketempat barunya, apa kau mau membuat Mamamu bersedih disana?" Tiba tiba sosok Lia muncul dari belakang Rifki.
Kinara pun menghentikan langkah kakinya karena mendengar suara lembut dari Lia, dirinya pun membalikkan badannya dan menatap wanita paruh baya itu. Kinara hanya diam membisu, dia tau bahwa Lia baru mengingat semuanya sehingga bukan tanpa sebab Lia meninggalkan Nadhira.
"Nenek janji kalau Papamu tidak akan menganggumu disini. Nanti Nenek akan ceritakan sebuah kisah masa kecil Mamamu, apa kamu mau?" Lanjut Lia karena tidak mendapatkan jawaban dari Kinara.
Sangat sulit untuk membujuk Kinara, akan tetapi bukan berarti hal itu mustahil. Kinara yang penasaran dengan kisah Mamanya pun akhirnya menganggukkan kepalanya pelan, dan membuat Rifki tersenyum tipis meskipun ada secercah air mata di pelupuk matanya.
"Kalian berdua juga tinggal disini, ya? Dhira sangat menyayangi kalian, bagaimana bisa kalian meninggalkan Dhira disaat seperti ini?" Rifki berharap Bu Siti dan Siska mau meginap ditempat itu beberapa hari.
"Tapi Tuan..." Ucap Siska menggantung.
"Jangan terlalu sungkan. Dhira sudah menganggap kalian adalah keluarganya, jadi kalian juga adalah keluargaku."
"Kami hanya orang asing yang kebetulan bertemu dengan beliau, jadi kami tidak begitu penting disini,"
"Kalian sudah merawat Nara dengan baik, dan menerima keduanya dengan tulus. Aku sangat berterima kasih kepada kalian, apa kalian menolak keinginanku?"
"Kami tidak berani, Tuan. Baiklah kami akan tinggal disini beberapa saat,"
"Terima kasih."
Mereka pun kembali masuk kedalam rumah itu. Kinara merasa tidak suka ditempat itu karena semuanya begitu asing baginya, tapi dia ingin tau tentang kisah dari Mamanya. Kinara pun duduk bersama dengan Lia diruang tamu, dimana banyak tamu yang datang untuk bertakziah ketempat itu.
"Kamu sangat mirip dengan Dhira," Ucap Lia sambil memperhatikan Kinara.
"Kata orang orang wajahku nggak mirip sama Mama," Jawab Kinara.
"Wajahmu memang mirip sama Papamu, tapi sikap keras kepalamu sama seperti Dhira." Lia pun mengusap pelan puncak kepala Kinara.
Kinara pun cemberut ketika Lia mengatakan bahwa wajahnya mirip dengan Rifki, padahal dirinya tidak ingin memiliki wajah itu karena mirip dengan wajah Rifki. Bagaimana bisa tidak mirip? Sementara dia adalah anak kandung Rifki, tapi dia menolak untuk menjadi anak kandungnya.
"Hari mulai larut, sebaiknya Nara istirahat dulu. Biar besok bisa beraktivitas lagi," Ucap Lia kepada Nara.
"Katanya kamu mau cerita tentang Mama?"
__ADS_1
"Ah iya, Nenek lupa. Baiklah ayo ke kamar kamu, nanti Nenek ceritain disana sampai Nara tidur,"