
"Dhira! Jangan tinggalkan ku! Tunggu Dhira!" Teriak Rifki memanggil Nadhira.
Ketika Nadhira ingin bergegas pergi dari tempat itu, Rifki tidak sengaja melihat Nadhira yang tengah berlari menjauh darinya, dirinya pun langsung berlari untuk mengejar Nadhira tanpa mempedulikan sosok gadis yang ingin dijodohkan dengan dirinya itu.
"Rifki, kau mau kemana?" Teriak Syaqila ketika melihat Rifki berlari pergi.
"Nona, sebaiknya anda segera masuk kedalam mobil, saya akan mengantarkan Nona pulang" Ucap Bayu yang langsung menghentikan Syaqila yang ingin berlari mengejar Rifki.
"Tapi bagaimana dengan Rifki?" Tanya Syaqila.
"Biarkan saja dia menyelesaikan masalahnya sendiri, sebaiknya anda segera masuk kedalam mobil, kita akan segera berangkat".
"Baiklah".
Syaqila hanya mengguk dan segera masuk kedalam mobil itu dengan langkah yang sedikit berat, ia tidak ingin pergi dari tempat itu tanpa Rifki ikut bersamanya karena dirinya juga tidak mengenali watak dari anak buahnya itu, sehingga dirinya merasa begitu takut.
Syaqila takut bahwa anak buahnya akan macam macam dengan dirinya tanpa sepengetahuan dari Rifki dan juga keluarganya, dirinya bahkan baru pertama kali bertemu dengan Rifki dan belum mengetahui karakter seperti apakah Rifki itu karena sejak tadi dirinya hanya berdiam diri tanpa adanya pembicaraan apapun diantara keduanya.
"Ternyata gadis yang akan dijodohkan dengan Tuan Muda sangat cantik ya, bahkan aku tidak menyangka bahwa dirimu yang akan dijodohkan dengan Tuan Muda yang kejam" Puji Bayu.
"Terima kasih".
"Tapi maaf menyinggung dikit, gadis pilihan Tuan Muda sendiri jauh lebih cantik, anggun, dan lemah lembut juga" Ucap Bayu yang sengaja agar membuat gadis tersebut mundur secara perlahan dari kehidupan Rifki.
"Benarkah? Aku tidak peduli soal itu, karena aku sendiri yang dipilih oleh Tante Putri untuk bersama dengan Rifki, dan aku tidak peduli dengan siapapun yang akan mendekatinya karena Tante Putri pasti akan mendukungku".
"Kau terlalu percaya diri sekali Nona, kita lihat saja nanti, apakah kau yang akan menang, atau gadis pilihan dari Tuan Muda itu, apa kau mau taruhan dengan diriku".
"Kau hanya seorang anak buah dan bukan siapa siapanya Rifki, jika aku mau aku akan mengadukanmu kepada Tante Putri agar dia segera memecat dirimu, jadi kau tidak berhak untuk menjelek jelekkan diriku seperti itu" Ucap Syaqila dengan nada kasarnya.
"Memecatku? Ternyata kau adalah gadis yang kasar dan sombong, baru saja dijodohkan sudah menunjukkan sikap aslimu, bagaimana kalau sampai kalian bertunangan? Atau bahkan sampai menikah nantinya, mungkin bisa bisa perusahaan Abriyanta akan bangkrut dengan cepat".
"Diam kau! Orang rendahan sepertimu tidak pantas untuk mengatakan itu kepadaku, aku akan meminta kepada Rifki agar menghancurkan keluargamu nantinya, lihat saja nanti".
"Meminta kepada Rifki? Hah.. rasanya kau hanya bercanda saja Nona, bagaimana bisa Rifki melakukan itu kepadaku? Kau baru mengenal Rifki Nona tapi kenapa kau bisa memiliki kepercayaan yang begitu tinggi seperti itu? Aku katakan sekali lagi dengan dirimu Nona, jangan berhayal terlalu tinggi nanti kalau jatuh kau akan kesakitan" Ucap Bayu sambil menghela nafas.
"DIAM KAU! Rifki pasti akan menuruti keinginanku nanti, hanya diriku yang berhak untuk bersamanya".
"Dia beda sekali dengan Nona cantik kita, sepertinya dia sangat tidak cocok dengan Tuan Muda kita, Nona cantik kita kan pemberani, lemah lembut, baik hati, tidak sombong, dan bahkan dia sangat hebat dalam ilmu beladiri" Tambah Reno yang ikut ikutan membuat panas situasi didalam mobil itu.
"Kau benar Ren, dia bahkan bisa mengalahkan kehebatan dari Tuan Muda, sudah cantik, penyayang, bahkan tidak pernah membedakan kedudukan".
"Sudah cukup hentikan ucapan kalian!" Teriak Syaqila didalam mobil yang penuh dengan laki laki itu.
"Kenapa? Kita kan hanya mengagumi Nona cantik kita saja, emang salahnya apa?" Tanya Vano yang langsung nyerocos.
"Sudahlah teman, jangan berdebat dengan orang seperti ini, nanti kau akan pusing sendiri" Ucap Bayu sambil menggerakkan tangannya ke pundak Vano.
"Tuan Bayu benar, buang buang tenaga saja untuk meladeni ucapannya itu" Ucap Vano membenarkan perkataan Bayu.
"kalian salah besar! Karena akulah jodohnya Tuan Muda kalian semua".
"Bagaimana kalau kami tidak menganggap itu? Eh aku lupa memberitahumu, jodoh, maut, dan rezeki hanya Allah yang bisa menentukannya, dan kau hanya manusia bagaimana bisa tau bahwa kau adalah jodoh dari Tuan Muda kami?" Tanya Bayu dengan nada sedikit mengejek.
"Awas ya kalian, akan aku adukan kepada Tante Putri nanti".
"Mengadukan apa? Bahkan Tuan Muda tidak akan bisa menghukum kami, kalau Nona cantik yang ada diposisimu saat ini, maka dia akan murka besar, tapi aku lihat Tuan Muda sama sekali tidak menganggapmu ada".
"Siapa yang kalian maksud Nona cantik itu?".
"Tanyakan sendiri kepada Tuan Muda, kau tidak akan bisa menyaingi Nona cantik".
Mobil tersebut segera melanju dan bergegas pergi dari tempat itu, untuk mengantarkan Syaqila pulang, didalam mobil tersebut juga mereka semuanya hanya berdiam diri tanpa adanya pembicaraan, batin Syaqila menjerit entah kenapa bukan hanya Rifki saja yang dingin akan tetapi juga seluruh anak buahnya pun bersikap dingin.
Disatu sisi Nadhira terus berlari untuk menghindar dari kejaran Rifki, Nadhira berlari dengan linangan air mata, dan bahkan langit pun ikut meneteskan air melihat kesedihan dari Nadhira, Nadhira pun merasakan tetesan air langit itu sebagai gerimis kecil.
"Dhira! Tunggu! Jangan tinggalkan aku Dhira!"
Nadhira terus berlari tanpa mempedulikan Rifki yang tengah mengejarnya saat ini, karena larinya cukup kencang hingga membuat kuncit rambutnya terlepas dan membuat rambut Nadhira terurai begitu saja, rambut Nadhira yang panjang dan terurai begitu saja membuat dirinya terlihat begitu cantik.
__ADS_1
"Dhira!"
Nadhira segera menghentikan sebuah taksi yang melintas ditempat itu, dan taksi tersebut segera menghentikan lajunya dan membiarkan Nadhira untuk masuk kedalamnya, melihat itu membuat Rifki tidak membiarkan taksi itu untuk pergi.
Nadhira segera masuk kedalam taksi tersebut dan menutup pintunya dengan cepat agar Rifki tidak dapat masuk kedalamnya ataupun bahkan untuk menghentikan dirinya tersebut.
"Dhira, buka pintunya, Dhira aku mohon buka pintunya Dhira" Ucap Rifki sambil mengetuk pintu kaca mobil taksi itu.
"Maafkan aku Rif" Guman Nadhira pelan.
Tok tok tok
"Dhira, tolong biarkan aku berbicara denganmu sebentar saja, Dhira buka pintunya".
Nadhira pun hanya berdiam diri didalam mobil tersebut, Nadhira sama sekali tidak memperdulikan Rifki yang tengah mengetuk pintu mobil tersebut dan berusaha untuk membuat Nadhira membukakan pintu untuknya.
"Jalan Pak!" Ucap Nadhira kepasa sopir taksi itu.
"Tapi Mbak kasihan pacar Mbak itu".
"Saya bilang jalan sekarang Pak!"
"Baik Mbak".
Sopir taksi itu mengira bahwa laki laki yang tengah mengetuk pintu mobilnya adalah pacar dari wanita yang tengah ada dikursi belakangnya dan sedang memiliki masalah sehingga wanitanya tidak ingin bertemu kembali dengan laki laki itu.
"Tidak! Jangan jalankan mobilnya Pak, tolong buka pintunya".
Dengan terpaksa sopir taksi itu segera melajukan mobilnya, melihat itu membuat Rifki segera bergegas mencari ojek disekitar tempat itu untuk menyusul Nadhira, dan Rifki segera menaiki sebuah ojek dan bergegas untuk menyusul Nadhira.
Nadhira menoleh kebelakang dan mendapati bahwa Rifki masih tetap mengejarnya dengan menaiki ojek, ini adalah kesalahannya karena kembali kekota itu dan bertemu kembali dengan Rifki dicafe, seandainya dirinya tidak pergi ke cafe saat ini mungkin saja dia tidak akan bertemu dengan Rifki lagi.
"Pak lebih cepat sedikit".
"Baik Mbak".
Beberapa lama kemudian akhirnya Nadhira telah sampai dirumahnya dan dirinya segera membayar taksi tersebut, setelahnya dirinya bergegas masuk kedalam gerbang rumahnya dan tak lama kemudian Rifki juga telah tiba, melihat itu membuat Nadhira segera mengunci gerbang tersebut.
"Cepat pergi dari sini Rifki, aku tidak ingin melihat lagi wajahmu itu" Usir Nadhira.
"Dhira, aku mohon jangan pergi dariku, aku tidak mau berpisah denganmu Dhira, tolong jangan tinggalkan aku" Ucap Rifki dengan air mata mengalir.
"Pak, jangan biarkan orang ini masuk" Perintah Nadhira kepada Pak Santo.
"Baik Non".
Nadhira segera membalikkan badannya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan berlari, ia sama sekali tidak mempedulikan teriakan Rifki, Nadhira segera masuk kedalam rumahnya, sementara Rifki langsung berlutut didepan gerbang tersebut.
"Dhira maafkan aku, aku tidak ingin berpisah denganmu Dhira".
Rifki pun meneteskan air matanya ketika melihat kepergian dari Nadhira, ia pun menundukkan kepalanya, biar bagaimanapun juga ini adalah kesalahannya karena telah membuat Nadhira terluka, Rifki berlutut didepan gerbang tersebut dengan isak tangis yang terdengar lirih.
"Dhira, jangan tinggalkan aku, kau pernah berjanji bahwa kita akan selalu bersama, aku akan berusaha agar kita bisa bersama lagi, aku tidak peduli jika yang harus aku tentang adalah takdir, jika aku tidak bisa bersama denganmu lantas apa gunanya aku hidup".
Tak beberapa lama kemudian turunlah hujan dengan begitu sangat derasnya, hujan tersebut membasahi tubuh Rifki yang tengah berlutut didepan gerbang rumah Nadhira, Pak Santo yang melihat itu pun hanya bisa berdiam diri dan tidak bisa berbuat apa apa karena perintah dari majikannya.
Rifki sama sekali tidak mempedulikan dengan hujan itu dan terus berlutut didepan pintu gerbang rumah Nadhira, ia berharap bahwa Nadhira akan kembali dan segera membukakan pintu gerbang itu untuk dirinya tersebut.
Apapun akan Rifki lakukan agar Nadhira mau menemuinya kali ini, meskipun harus berlutut berjam jam ditengah tengah derasnya hujan malam ini, suara petir pun mulai terdengar begitu nyaring dan kilatannya begitu sangat menakutkan.
Pak Santo segera mendatangi Rifki dengan memakai sebuah payung agar dirinya tidak basah, ia merasa sangat kasihan dengan Rifki yang kini tengah berlutut didepan pintu gerbang rumah Nadhira.
"Tuan Muda sebaiknya pulang saja malam ini, dan sepertinya hujan juga semakin deras seiring berjalannya waktu, saya takut kalau anda akan jatuh sakit nantinya, hujan malam tidak baik untuk kesehatan Tuan Muda" Ucap Pak Santo.
"Tidak Pak, aku akan tetap disini sampai Nadhira membukakan pintu gerbang ini untuk diriku" Jawab Rifki sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tapi Tuan Muda, sepertinya Non Dhira tidak ingin bertemu dengan anda lagi, saya hanya takut dengan kesehatan anda Tuan Muda".
"Aku tidak peduli dengan diriku Pak, meskipun aku harus kehilangan nyawa sekalipun itu, aku hanya ingin bertemu dengan Nadhira"
__ADS_1
"Saya tau Tuan Muda, tapi Tuan Muda bisa datang kemari lain waktu saja, masih banyak hari untuk dapat bertemu dengan Non Dhira, ini sudah malam, tidak baik jika hujan hujanan dimalam hari seperti ini".
"Aku hanya ingin bertemu dengan Dhira, aku tidak bisa menunggu lain waktu Pak"
"Baiklah jika itu keinginan anda".
Pak Santo pun akhirnya kembali kepos nya dan membiarkan Rifki yang tengah berlutut didepan pintu gerbang rumah Nadhira dengan basah kuyup, disatu sisi Nadhira tengah memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Rifki saat ini, dengan perasaan campur aduk melihatnya.
"Kenapa kau nekat sekali sih Rif, bagaimana kalau kau sakit nantinya" Ucap Nadhira dengan sebalnya.
Nadhira terus memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Rifki saat ini melalui kaca cendela yang ada dikamarnya, hujan diluar terlihat begitu sangat derasnya dan disertai oleh sambaran petir dilangit langit malam ini.
"Sampai kapan kau akan bertahan disana Rif, kenapa kau nekat sekali".
Rifki menengadahkan wajahnya keatas dan melihat kearah langit yang penuh dengan sambaran kilat, ia pun memejamkan matanya sambil merasakan dinginnya hujan malam ini, ia tidak peduli soal apapun yang akan terjadi kepadanya dan ia hanya berharap bisa bertemu dengan Nadhira.
Seorang pemilik perusahaan yang sangat besar seketika tunduk didepan pintu gerbang seorang wanita hanya berharap bahwa wanita tersebut segera membukakan pintu gerbangnya untuk dirinya, itu adalah berita yang sangat besar.
"Dhira, Ibu lihat Rifki ada didepan rumah dengan kehujanan seperti itu" Ucap Bi Ira yang tiba tiba membuka pintu kamar Nadhira.
Bi Ira melihat Nadhira tenaga berdiri didepan cendela kamarnya sambil menatap kearah dimana Rifki berada, mendengar suara Bi Ira membuat Nadhira segera menoleh kearah dimana Bi Ira berada dengan linangan air mata.
"Dhira sudah tau Bu".
"Kasihan dia Dhira, hujan diluar sangat deras, bagaimana kalau dia malah jatuh sakit?".
"Aku tau itu Bu, tapi Dhira tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini, Rifki harus segera melupakan Dhira untuk selama lamanya, Dhira hanya takut Rifki akan bersedih karena Dhira nantinya".
"Ibu tau bahwa sebenarnya kau tidak tega melakukan ini kepada Rifki kan? Meskipun itu kau juga yang akan terluka Nak"
"Biarkan saja dia Bu, agar dia berpikir bahwa Nadhira sudah tidak mempedulikan dirinya lagi, dan dirinya akan bisa dengan mudah untuk melupakan Dhira".
"Baiklah jika seperti itu, jika dia masih tetap berada disana begitu lama, Ibu yang akan memintanya untuk pergi dari situ".
"Iya Bu".
Satu jam berlalu dan Rifki masih tetap berlutut didepan pintu gerbang rumah Nadhira dengan tubuh yang mulai menggigil karena kedinginan dengan derasnya hujan itu dan juga angin yang begitu kencang tersebut, akan tetapi Rifki sama sekali tidak mempedulikan itu.
"Dhira" Ucap Rifki pelan karena kedinginan.
Rifki masih tetap pada posisinya yang berlutut dan menggenggam kedua tangannya dengan erat agar mengurangi rasa menggilnya itu, ia berharap bahwa Nadhira akan segera datang dan memeluknya.
Sementara disatu sisi, Nadhira kini tengah memandangi kearah Rifki yang ada digerbang rumahnya tersebut dengan linangan air mata, ia ingin sekali menemui Rifki akan tetapi dirinya tidak mampu.
Nadhira pun mengirim pesan kepada Pak Santo, agar menyuruh Rifki untuk segera pergi dari tempat itu, Pak Santo yang mendapatkan pesan tersebut segera bergegas untuk mendatangi Rifki dengan menggenakan payung dan juga jas huja.
"Tuan Muda, sebaiknya anda segera pergi dari tempat ini, ini sudah larut malam Tuan Muda, saya tidak tega melihat anda seperti ini".
"Aku tidak apa apa kok Pak" Ucap Rifki sambil menahan rasa dinginnya.
"Kalo begitu pakai payung ini, sepertinya Non Dhira sudah tidur Tuan Muda, dia tidak akan datang malam ini, sebaiknya anda pergi saja, bagaimana kalau anda sakit nantinya"
Pak Santo segera memberikan payung yang ada ditangannya kepada Rifki, akan tetapi Rifki sama sekali tidak menerima payung tersebut dan membiarkannya begitu saja disampingnya.
"Tuan Muda, kenapa anda menolak payungnya? Anda bisa sakit nanti, sebaiknya anda segera pulang dan mengganti pakaian anda".
"Aku tidak peduli Pak, aku hanya ingin bertemu dengan Nadhira saja".
"Kenapa anda memaksa seperti ini sih Tuan Muda, bagaimana kalau anda masuk kedalam pos untuk menghangatkan tubuh anda?".
"Aku tidak mau Pak, aku ingin menunggu Nadhira disini sampai dia datang".
"Tuan Muda, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan anda? Kita kekantor pos saja ya, sambil menghangatkan tubuh anda".
"Aku akan tetap menunggu Nadhira disini"
"Lihatlah tubuh anda sudah menggigil sepeti ini, sampai kapan anda bertahan dalam kondisi seperti ini Tuan Muda".
"Sampai ajal menjemputku Pak".
__ADS_1
"Jangan katakan seperti itu Tuan Muda, anda adalah pemimpin perusahaan Abriyanta Groub yang besar, anda memiliki tanggung jawab yang besar juga".
"Itu semua tidak berarti bagiku Pak, untuk apa aku hidup jika orang yang aku cintai sudah tidak mempedulikan diriku lagi".