
Setelah kelelahan Nadhira dan Rifki langsung tertidur dengan nyenyaknya, Nadhira tidur dengan berbantalan lengan Rifki sambil memeluk Rifki dengan sangat eratnya, dan tidak ada selembar kain pun yang memisahkan tubuh keduanya.
Meskipun AC ditempat itu menyala akan tetapi Nadhira dan Rifki tetap merasa hangat, suasana seperti inilah yang membuat mereka berdua merasa sangat nyaman untuk terlelap dalam tidur mereka, meskipun tengah memejamkan matanya akan tetapi tangan usil Nadhira sibuk menggambar gambar ngak jelas diperut Rifki.
Rifki yang sedang tidak memakai baju itu pun memperlihatkan dada bidangnya dihadapan Nadhira, Nadhira menempelkan pipinya didada bidang suaminya dan sesekali menggosok gosokkan wajahnya disana hingga membuat Rifki merasa geli karena kelakuan dari Nadhira.
"Hentikan itu sayang, geli tau" Ucap Rifki pelan meskipun masih memejamkan matanya.
"Ngak mau ya ngak mau, ini sangat menyenangkan sayang, tubuhmu halus sekali" Rengek Nadhira pelan.
"Apa mau dilanjutkan lagi? Aku masih punya tenaga yang cukup untuk itu"
"Aku sangat lelah Rifki, bangunlah Rif, aku ingin makan salad buah"
"Nyuruh bangun tapi pelukannya masih sangat erat, mau heran tapi itu Nadhira"
"Rif, ayo latihan beladiri seperti dulu, sudah lama aku tidak melakukan itu"
"Bawa tongkat ngak?"
"Ada didalam tasku tadi"
"Baiklah ayo bangun, pakek pakaianmu"
Nadhira pun melepaskan pelukannya dari tubuh Rifki untuk bangkit mengambil pakaiannya yang berserakan dimana mana, melihat Nadhira yang telan*ang bulat membuat Rifki tak henti hentinya untuk menatap kearah Nadhira.
Nadhira pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena perbuatan Rifki tersebut, setelahnya ia kembali untuk memakai pakaiannya lagi dan keluar dari kamar mandi tersebut.
"Eh kemana Rifki?" Tanya Nadhira entah kepada siapa disaat dirinya tidak menemukan Rifki didalam kamar tersebut.
Nadhira pun berjalan keluar dari kamar tersebut untuk mencari Rifki, ia pun mencari Rifki dihalaman belakang markas Gengcobra itu akan tetapi dirinya juga tidak menemukan Rifki disana.
"Dimana Rifki?" Tanya Nadhira kepada anggota Gengcobra yang lewat.
"Tuan Muda berada diruang privasi Nona Muda"
"Tolong panggilkan dia, aku tunggu dihalaman belakang sekarang juga"
"Baik Nona Muda"
Nadhira pun berlalu pergi menuju kehalaman belakang lebih tepatnya dirinya menunggu Rifki digazebo yang biasanya ia tempati bersama dengan Rifki dan yang lainnya itu, sudah lama sekali dirinya tidak berada ditempat itu akan tetapi suasana disana masih tetap sama tanpa adanya perubahan yang terjadi dimarkas tersebut.
Nadhira memandangi kesekelilingnya yang begitu banyak bunga bunga yang terawat dan bermekaran saat ini, Nadhira merasa sangat bahagia ketika melihat bunga bunga itu hingga membuatnya tersenyum dengan sendirinya.
"Kakak Dhira" Sapa seseorang.
"Kakak? Apa kita pernah bertemu?" Nadhira merasa bingung ketika seorang pemuda yang berusia sama dengan Ayu menyapanya dengan panggilan Kakak.
"Kakak lupa dengan diriku?" Tanya pemuda itu lagi akan tetapi dengan ekspresi bersedih.
"Mungkin ingatanku begitu buruk, aku tidak mengenali dirimu"
"Padahal aku selalu ingat dengan Kakak Dhira, tapi kenapa Kakak Dhira melupakan diriku"
"Maaf ya, aku bener bener ngak kenal"
"Dia adalah Hafis, Adik kandung dari Rahel" Ucap Rifki yang baru saja tiba.
"Hafis? Ternyata sudah besar anak ini, maafin Kakak ya karena tidak mengenalimu" Ucap Nadhira seraya mengacak acak rambut Hafis.
"Ngak apa apa Kak, sekarang Hafis juga tau kalo Kak Ahel sudah ngak ada, aku tidak punya saudara lagi dan bahkan orang tua juga ngak punya"
"Hafis jangan sedih, kami semua yang ada disini adalah saudaramu, kau boleh menganggap kami berdua sebagai orang tuamu kok"
"Terima kasih ya Kak, Hafis merasa bersyukur karena dipertemukan dengan orang sebaik Kakak Kakak yang ada disini"
"Anak baik"
Rifki menaruh sepasang pedang mainan didekat Nadhira, pedang tersebut terbuat dari besi akan tetapi sama sekali tidak tajam maupun lancip, akan tetapi pedang tersebut cukup berat karena bahan bahan yang digunakan untuk membuatnya.
"Apa ini Rif?" Tanya Nadhira ketika melihat Rifki menaruh sepasang pedang.
"Kita akan berlatih berpedang, ini hanya pedang mainan tapi kalo tidak berhati hati akan sakit juga kalo terkena"
"Asyik... Kita akan menyaksikan pertandingan, semangat Kak Dhira, aku mendukungmu selalu" Hafis merasa sangat bersemangat.
"Kau tidak mendukung diriku?" Tanya Rifki kepada Hafis.
"Tidak, aku lebih mendukung Kakak Dhira sekarang"
Rifki pun mengulurkan tangannya untuk membantu Nadhira bangkit dari duduknya, Nadhira sendiri langsung menerima uluran tangan tersebut tanpa berlama lama lagi, Rifki pun memberikan satu pedang mainan itu kepada Nadhira.
"Ini berat sekali Rif" Ucap Nadhira memegangi pedang itu dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Hehe... Untuk melatih otot juga sayang, beratnya sama seperti pedang asli pada umumnya, pegangi yang erat jangan sampai dilepaskan"
"Baiklah"
Keduanya pun berjalan mendekat kearah halaman yang luas itu, saat ini keduanya tengah berdiri ditengah tengah lapangan, keduanya saling berhadapan satu sama lain, seluruh anggota Gengcobra yang menyaksikan itu langsung berkumpul memutari lapangan tersebut.
"Bagaimana Dhira? Sudah siap?"
"Selalu siap sayang"
Nadhira mengangkat pedang tersebut dengan kedua tangannya, sementara Rifki hanya memegangi pedang yang ada ditangannya hanya dengan satu tangan saja, ia pun mengayunkannya kearah Nadhira, dengan susah payahnya Nadhira mencoba untuk menahan serangan Rifki dengan pedang itu.
Nadhira tersenyum dengan cerahnya ketika dirinya berhasil untuk menghalang serangan Rifki, ia tidak mau kalah dari Rifki dan terus bertekad untuk dapat mengalahkan Rifki didalam permainan berpedang itu.
Seluruh anggota Gengcobra bersorak kegirangan untuk mendukung Nadhira, Nadhira yang mendapatkan dukungan begitu banyak itu pun langsung bersemangat dalam melawan Rifki, sementara Rifki terus bergerak untuk menyerang kearah Nadhira.
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku Rif" Senyum kemenangan tercipta diwajah Nadhira.
"Kita lihat saja nanti sayang"
"Aku sangat yakin itu"
Nadhira dan Rifki saling bertarung satu sama lain dengan menggunakan pedang mainan, kelincahan Nadhira untuk bisa menghindari serangan Rifki pun membuat seluruh anggota Gengcobra merasa kagum kepadanya itu.
"Bagaimana nanti kalo mereka bertengkar ya? Bisa bisa rusak seluruh dunia persilatan" Tanya Vano entah kepada siapa.
"Bagus dong, kita akan lihat pertunjukan gratis" Seru Fajar yang mendengarnya.
Plakk
"Kalo ngomong difilter dulu" Tegur Bayu setelah menemepeng kepala Fajar.
"Ampun Bos, aku cuma heran aja gimana kalo mereka berantem nantinya doang, soalnya kan dua duanya hebat beladiri"
"Yang kena duluan jelas anggota Gengcobra, aku yakin itu"
"Loh kok bisa Bos!"
"Namanya juga takdir"
Kembali ke pertarungan antara Nadhira dan Rifki, Nadhira tengah sibuk menghindari serangan dari Rifki yang tak henti hentinya, tiba tiba telpon milik Nadhira berdering dengan kerasnya hingga membuat Rifki menghentikan serangannya.
"Siapa Dhira?" Tanya Rifki ketika melihat Nadhira sudah mengeluarkan ponselnya.
"Angkat saja kali aja penting"
Nadhira pun mengangkat telpon itu dan langsung terhubung dengan ponsel milik Nadhira, setelah mengangkatnya tiba tiba teriakan Nandhita terdengar begitu nyaring membuat Nadhira reflek menutupi kedua telinganya.
"Ada apa Kak?" Tanya Nadhira ketika teriakan tersebut berhenti.
"Cepat pulang! Aku tunggu sekarang juga" Perintah Nandhita dari sebrang sana.
"Iya ada apa? Dhira masih berlatih dengan Rifki Kak, setelah selesai berlatih Dhira akan pulang kok"
"Pulang sekarang!" Nadhira sedikit menjauhkan telponnya dari telinganya karena suara Nandhita yang berteriak membuat telinganya terasa sakit.
"Bentar Kak, aku masih berlatih"
"Kakak ngak mau terima alasan, cepat pulang!"
"Iya Kak iya, 20 menit lagi"
Tut tut
Nandhita pun memutuskan sambungan telepon sepihak saja hingga membuat Nadhira mengelus dada, Nadhira lalu memasukkan ponselnya kembali kedalam saku bajunya.
"Gimana nih Rif? Kakak menyuruhku pulang sekarang juga"
"Ya sudah ayo kita pulang saja, takut terjadi sesuatu dengan Kak Dhita"
"Tapi bagaimana dengan latihannya?"
"Kita bisa berlatih lagi nanti, keburu Kakakmu makin marah nantinya"
"Baiklah kalo begitu"
"Yah... Penonton kecewa" Seru Fajar dengan keras hingga membuat Nadhira dan Rifki langsung menoleh kepada dirinya dengan tatapan yang sangat tajam hingga membuatnya bergidik ngeri.
"Nanti kau yang pertama kali aku hajar Jar" Ucap Nadhira kepada Fajar.
"Ampun Nona Muda, saya sangat takut" Ucap Fajar dengan nada yang dibuat seolah olah dirinya itu ketakutan dengan ancaman dari Nadhira
"Ayo berangkat" Ucap Rifki kepada Bayu yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Bayu.
__ADS_1
Rasanya Bayu seakan akan menjadi sopir pribadinya belakangan ini, seakan akan semuanya diurus oleh Bayu sendirian mulai dari perusahaan Abriyanta Groub, markas Gengcobra, dan bahkan Surya Jayantara. Apalagi sekarang ini ditambah dengan menjadi sopir pribadi Rifki.
*****
Sesampainya dirumah Nandhita langsung menyambut kedatangan keduanya dengan wajah cemberutnya, melihat itu membuat Nadhira kebingungan dengan sikap Nandhita.
"Ada apa Kak? Kenapa menyuruh kami tiba tiba pulang seperti ini?" Tanya Nadhira dengan penasaran.
"Kalian kemana saja sih? Lama banget! Bilangnya 20 menit lagi tapi nyatanya malah lebih dari 30 menit" Ucap Nandhita dengan marah.
"Kami salah apa Kak? Kenapa Kakak marah marah seperti itu?" Tanya Rifki yang juga kebingungan kenapa Nandhita marah kepadanya.
"Salahmu karena tidak punya salah!"
"Lah... Lalu kenapa marah dengan kami berdua Kak" Ucap Rifki seraya menghela nafas panjang.
"Kemana Kak Stevan? Kok tumben ngak kelihatan Kak?" Tanya Nadhira.
"Sedang berkemas, besok pagi kami mau berangkat ke luar negeri, kami sudah beli tiketnya juga" Jawab Nandhita yang nampak sebal.
"Secepat itu Kak? Kenapa harus buru buru sih?"
"Ngak asik disini terus, sangat bosen lihat wajah kalian mulu, dari dulu ngak ada berubah, gitu gitu aja mulu, pengen lihat yang bening bening disana, orang sana kan bening bening ngak kayak kalian yang butek dan keruh"
"Wajah kami emang butek dari sononya Kak, kalo bening nanti transparan kayak hantu, emang Kakak ngak takut nantinya ngeliat hantu ada dimana mana? Bahkan itu jauh lebih mengerikan Kak, daripada melon wajah kami yang butek ini"
"Mulutmu itu ada apanya sih Dhira? Bisa saja kalo ngejawab itu loh"
"Ada giginya, ada lidahnya, ada sariawannya Kak, noh gara gara Rifki bibirku digigit mangkanya jadi ada sariawannya" Nadhira menunjuk kearah Rifki dengan memonyongkan bibirnya.
Rifki yang ditunjuk pun hanya bisa menyengir bagaikan kuda tanpa rasa bersalah sedikitpun, ia pun memutar bola matanya kearah lain dengan bersenandung pelan.
"Oh iya, salad buahmu sudah aku makan semua, enak banget loh, dingin lagi makin seger, makasih ya"
Bagaikan tersambar sebuah petir disiang bolong, Nadhira membuka matanya lebar lebar mendengar ucapan dari Nandhita bahwa dirinya telah memakan salad buah milik Nadhira yang telah dibelikan oleh Rifki kemaren.
"KAKAK....! Huaa.... Itu punyaku" Teriak Nadhira yang tidak iklas saladnya dimakan oleh Nandhita, "Rifki... Kakak menjengkelkan sekali, saladku dihabiskan oleh dia hiks.. hiks.." Nadhira lalu mengadu kepada Rifki.
"Sudah sudah, nanti aku belikan lagi yang banyak untukmu sayang, jangan nangis seperti ini dong" Ucap Rifki sambil mengusap kepala Nadhira pelan.
"Beneran ya? Kakak jahat banget sih masak salad buahku dihabiskan olehnya itu" Kedua mata Nadhira nampak berkaca kaca kearah Rifki.
"Iya sayang, ngak boleh bilang gitu, ngak baik sayang"
Rifki pun mengajak kedua orang itu untuk masuk kedalam rumah, karena udara diluar semakin panas, mau tidak mau pun keduanya menuruti ucapan Rifki dan bergegas untuk masuk kedalam rumah besar itu.
Nandhita dan Nadhira pun duduk didepan televisi untuk melihat siaran televisi, sementara Rifki bergegas menuju kedapur untuk mengambil cemilan untuk kedua wanita itu, dengan senang hati Nadhira menerima cemilan dari Rifki.
"Makasih sayang" Ucap Nadhira.
"Iya sama sama sayang" Jawab Rifki.
Kesenangannya itu tidak berlangsung lama setelah Nandhita mengambil cemilan yang ada ditangan Nadhira dan menggantinya dengan cemilan yang ada ditangan Nandhita, senyuman Nadhira itu langsung luntur karena Nandhita yang menggantikan cemilan miliknya dengan seenaknya.
"Rifki, lihatlah Kakak, cemilanku diambil juga" Rengek Nadhira sambil menarik narik tangan Rifki.
"Ngak apa apa itu hanya sebuah cemilan, nanti bisa untuk beli lagi, Kak Dhita lagi hamil mungkin itu bawaan hamil sayang" Ucap Rifki yang menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Nadhira yang bagaikan anak kecil.
"Tapi itu punyaku Rif" Nadhira tidak tega melihat makanan miliknya masuk kedalam mulut Kakaknya.
"Nanti beli lagi yang banyak" Rifki pun duduk disebelah Nadhira dan mengusap pelan kepala Nadhira untuk menenangkannya.
"Dhira makasih ya, ini enak sekali" Ucap Nandhita tanpa menoleh kearah Nadhira karena hanya fokus untuk memakan cemilan tersebut.
Nadhira yang masih tidak iklas cemilannya direbut tiba tiba oleh Nandhita pun kasih memonyongkan bibirnya, rasanya dirinya hampir meneteskan air matanya, akan tetapi dirinya sadar bahwa itu hanyalah sebuah cemilan yang bisa dibeli lagi akan tetapi hubungan persaudaraan tidak mampu dibeli dengan uang sekalipun itu.
"Iya Kak, makan saja ngak apa apa" Pasrah Nadhira.
Rifki pun mengacungkan dua jempol kepada Nadhira, meski sedikit berat untuk Nadhira akan tetapi dirinya memaksanya untuk dapat tersenyum kearah Rifki, senyuman dengan penuh keterpaksaan karena melihat cemilannya dimakan oleh Nandhita.
Tak beberapa lama kemudian Stevan yang selesai berkemas pun ikut bergabung dengan yang lainnya untuk duduk sambil menonton televisi diruang keluarga tersebut, melihat Nandhita yang lahap memakan cemilan membuat Stevan merasa aneh karena beberapa hari ini Nandhita tidak nafsu makan apapun karena kehamilannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuk kak mampir kali aja butuh rekomendasi novel, mari mampir dinovel temenku ini ya, heppy reading all
blubnya...
Virendra Aryan, seorang Jenderal yang begitu tampan, pintar dan tegas. Sosoknya yang mempesona membuat banyak kaum hawa menyimpan kagum padanya.
Namun, siapa yang menyangka keputusan sang Jenderal yang ingin menikahi gadis muda berusia 18 tahun.
Akankah kisah mereka berakhir bahagia atau justru berakhir tragis mengingat sosok Jenderal Virendra yang memiliki banyak musuh?
__ADS_1