
Tak beberapa lama kemudian datanglah sekitar lima orang anggota Gengcobra ketempat itu karena panggilan dari Rifki, Gengcobra sangat berpengaruh terhadap dunia pengadilan karena sering menolong orang dan menangkap para penjahat sehingga Gengcobra begitu dikenal didunia kepolisian maupun didunia pemerintahan dan sangat berpengaruh meskipun demikian nama Gengcobra tidak dikenal didunia masyarakat luas.
"Maaf Tuan Muda, kami datang terlambat karena jalanan malam hari ini begitu macet" Ucap Bayu yang memimpin anggota Gengcobra untuk datang ketempat itu.
Rifki hanya mengangguk kepada Bayu, sementara Bayu kebingungan kenapa tiba tiba ada dua orang polisi ditempat itu dan berhadapan dengan Rifki kali ini, melihat kedatangan anggota Gengcobra ketempat itu membuat kedua polisi tersebut meminta maaf kepada Rifki karena keduanya hanya menjalankan perintah dari atasan mereka.
Nadhira mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada kedua polisi tersebut mulai dirinya yang keluar dari perusahaannya, dan juga menjelaskan kepada mereka mengenai Rifki yang membawanya pergi, mungkin ini hanyalah kesalah pahaman saja, kedua polisi tersebut juga menanggapi hal yang sama karena laporan itu palsu.
Akhirnya kedua polisi tersebut segera berpamitan untuk pergi dan melaporkan hal ini kepada atasan mereka, entah siapa yang melaporkan hal itu kepada mereka akan tetapi identitasnya disembunyikan dan dia mengaku sebagai karyawan di perusahaan yang Nadhira pimpin itu.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kalian berdua bisa berselisih dengan polisi itu?" Tanya Bayu yang kebingungan sendiri, ia bahkan tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Nadhira.
"Dhira mungki saja ada seseorang yang melaporkan hal ini dengan diam diam diperusahanmu" Ucap Rifki.
"Mungkin saja Rif, tapi siapa yang memberi laporan palsu itu?" Tanya Nadhira balik, ****"Apa mungkin itu adalah Theo? Siapa lagi yang melakukan ini kalau bukan dirinya yang tidak menyukai bahwa aku berjalan berdua bersama Rifki" Batin Nadhira.
"Apa yang kau pikirkan Dhira? Kenapa tiba tiba kau berdiam diri seperti itu?".
"Ngak apa apa Rif, aku hanya bingung dengan siapa yang memberi laporan palsu itu, bahkan itu berasal dari kantorku sendiri".
"Sudah jangan dipikirkan terlalu lama, masih ada waktu esok hari untuk melakukan itu".
"Benar apa yang dikatakan oleh Rifki, jangan terlalu memikirkan hal itu Dhira" Ucap Bayu yang membenarkan perkataan Rifki.
Nadhira hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar ucapan kedua orang itu, meskipun tanpa dipikirkan sekaligus akan tetapi ia dapat menebak bahwa ini adalah perbuatan dari Theo, karena hanya dirinya yang mampu untuk melakukan itu.
"Lalu bagaimana dengan anak kecil itu Bay?" Tanya Rifki yang mengalihkan pembicaraan.
"Dia sudah kembali kepada keluarganya, ternyata dia salah saudara dari salah satu anak buahmu Rif, jadi sangat mudah untuk menemukan keberadaan dari kedua orang tuanya" Jawab Bayu.
"Baguslah kalau begitu".
Rifki kembali melanjutkan makannya bersama dengan Nadhira ditempat itu, sementara kelima orang itu hanya mampu berdiri untuk berjaga jaga melindungi mereka berdua, Bayu pun demi kian, dirinya terlihat seperti seorang bodyguard yang begitu tegas dan ditakuti oleh semua orang.
"Kalian ngak ikut makan bersama kami?" Tanya Rifki.
"Terima kasih atas tawaran Tuan Muda, kami sudah kenyang Tuan Muda"
"Bay, kau juga tidak ikut makan?"
"Tidak Rif, kalian makan saja".
Rifki kembali melanjutkan makannya begitupun dengan Nadhira, ketika keduanya sedang menikmati makanan itu tiba tiba segerombolan orang datang ketempat mereka, dan segerombolan itu diduga adalah tim penculikan anak yang tadi mereka temui.
"Oh jadi kalian yang telah berani ikut campur dalam urusanku kali ini" Ucap pemimpin sekelompok penculikan anak tersebut.
Mendengar itu membuat Rifki dan Nadhira segera menghentikan makan mereka dan berdiri untuk melihat siapa yang datang ketempat itu, Nadhira sepertinya mengenali orang tersebut akan tetapi dimana dirinya pernah bertemu sebelumnya, Nadhira terus mengingat ingat tentang wajahnya itu.
Rifki hanya melipat kedua tangannya didepan dadanya seakan akan dirinya sama sekali tidak takut dengan para penculik anak tersebut, sementara kelima anak buahnya tersebut segera berjaga jaga agar Rifki tidak kenapa kenapa.
"Nyatanya profesi kalian sama sekali tidak berubah ya, masih tetap sama seperti dulu, suka menculik anak anak kecil dan tidak pernah jerah untuk melakukan hal itu" Ucap Nadhira sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali, ucapan tersebut sontak membuat Rifki terkejut.
"Kau mengenali mereka Dhira?" Tanya Rifki.
"Apa kau lupa Rif? Dulu mereka juga telah menculik Amanda dan bukannya pernah ditangkap oleh anak anak Gengcobra dan dibawa kekantor polisi? Mungkin mereka sudah bebas saat ini"
"Mungkin ingatanku yang sedikit buruk tentang itu".
"Mangkanya banyakin makan sayur dong, terutama tomat dan lain lain".
"Iya iya nanti aku borong sekalian sama penjual penjualnya juga".
"Ngapain? Apa kamu mau jualan sayur juga seperti mereka Rif?".
__ADS_1
"Entahlah, aku juga tidak tau".
Ditengah tengah keseriusan para penculik tersebut, Nadhira dan Rifki masih sempat sempatnya untuk bercanda gurau, dan hal itu membuat pemimpin para penculik anak tersebut begitu marah, karena sebelumnya anak yang mereka incar adalah anak orang kaya yang akan membayar mereka dengan harga mahal agar anak mereka kembali akan tetapi hal itu begitu dengan mudahnya digagalkan oleh orang orang itu.
"Sebenarnya apa yang kalian inginkan?" Tanya Rifki kepada segerombolan orang orang itu.
"Kami minta ganti rugi kepada kalian, karena uang 5M itu hilang gara gara kalian!" Ucap pemimpin para penculik dengan nada begitu tinggi kepada Rifki.
"Hanya itu saja? Huft, bahkan uang itu bukanlah hak kalian".
Rifki sepertinya benar benar ingin sekali menghajar orang orang itu, apalagi setelah Nadhira mengatakan bahwa orang orang tersebut adalah orang yang sama persis dengan orang yang dimana mereka telah menculik Amanda sebelum sehingga pada saat itu membuat Nadhira terluka parah.
"Tidak usah basa basi lagi, cepat serang mereka!" Perintah pemimpin penculikan anak itu.
Dengan segera Rifki dan juga anak buahnya segera memasang kuda kuda mereka untuk bersiap siap menghadapi serangan mereka, sementara itu Nadhira juga ikut serta dalam pertarungan itu dengan memakai tongkat yang telah dipanjangkan sebelumnya dan berada ditangannya saat ini.
Nadhira dan Rifki menyerang mereka bersamaan hingga gerakan keduanya mampu dikombinasikan menjadi gerakan yang begitu indah akan tetapi juga mampu melumpuhkan musuhnya dengan cepat, sementara anak Gengcobra yang lainnya segera menyerang kearah mereka dengan bersama sama, hal itu seketika membuat kekacauan ditempat itu.
Nadhira memanjat lutut Rifki dan segera melontarkan sebuah tendangan kearah beberapa orang yang tengah memutarinya menggunakan kedua kakinya sekaligus itu sementara kedua tangannya berpegangan pada tangan Rifki dengan begitu sangat eratnya.
Hampir satu jam kedua belah pihak tersebut melakukan pertarungan ditempat itu, hingga membuat para penculik tersebut sudah banyak yang mengalami luka memar begitupun dengan anggota Gengcobra karena lawan mereka yang tidak seimbang, biar bagaimanapun juga posisi mereka hanya memiliki 7 orang saja sementara lawan mereka rasanya lebih dari 20 orang.
"Akh..." Ditengah tengah perkelahian itu seketika Nadhira merasakan sakit dibagian persendian kakinya dibagian kiri, dimana dirinya pernah mengalami patah tulang disana.
"Kamu kenapa Dhira?" Tanya Rifki yang ada disebelah Nadhira.
"Ngak apa apa, sebaiknya kita segera menyelesaikan perkelahian ini Rif".
"Iya Dhira".
Melihat para penculik tersebut mulai terlihat begitu lemah hingga hal itu membuat anggota Gengcobra memanfaatkan kesempatan itu untuk dapat menangkap mereka, Nadhira meminta bantuan kepada Nimas untuk membuat mereka tidak mampu berdiri lagi dan hal itu segera dilakukan oleh Nimas.
Anggota Gengcobra segera mengikat mereka menjadi satu, dan mereka memanggil anggota Gengcobra yang lainnya untuk dapat membawa para penculik tersebut kekantor polisi karena kejahatan mereka yang mereka ulangi lagi.
Melihat itu Rifki segera menggendong tubuh Nadhira dan membawanya kembali kesebuah kursi, Nadhira yang tiba tiba digendong lagi oleh Rifki membuatnya begitu sangat terkejut dan hanya bisa pasrah lagian kakinya juga sedang tidak baik baik saja, Rifki segera membuka celana Nadhira dibagian lututnya untuk memeriksa keadaan kaki Nadhira.
"Aku ngak apa apa kok Rif, mungkin ini hanya cidera lama saja" Ucap Nadhira yang takut kalau Rifki begitu khawatir kepadanya.
"Cidera lama? Sudahlah diam saja, biar aku lihat kondisi kakimu itu".
Rifki segera menyentuh lutut Nadhira untuk memeriksanya dan sesekali menekan lututnya itu untuk mengetahui kondisinya, akan tetapi hal itu membuat Nadhira meringis kesakitan dan dirinya mencoba untuk tidak mengeluarkan suaranya agar Rifki tidak mengetahui bahwa dirinya kesakitan.
"Apa ini sakit Dhira?" Tanya Rifki yang terus menekan lutut Nadhira.
"Ngak terlalu sakit" Jawab Nadhira dengan cepatnya.
"Jangan bohong kepadaku Dhira, ini pasti sangat sakit bukan? Sepertinya lututmu kembali cidera Dhira, kenapa bisa begini?"
Mendengar itu seketika membuat Nadhira terlihat sedih, ia tidak ingin kembali kemasa lalu dimana dirinya mengalami sebuah cidera hingga membuatnya tidak mampu untuk berlatih beladiri dengan waktu yang cukup lama, ia tidak mau kejadian waktu itu terulang lagi.
"Aku tidak tau Rif, ketika bertarung tadi tanpa sengaja lututku seperti terkilir".
"Bukan itu yang ku maksudkan, tapi kenapa kamu bisa mengalami cidera seperti ini sebelumnya?".
"Aku hanya jatuh saja Rif, aku juga tidak mengira bahwa aku akan memiliki cidera seperti itu, untung saja ada Papamu yang menolongku waktu itu, sehingga kakiku bisa kembali baik baik saja"
"Ini bukan hanya sekedar jatuh Dhira, jika ini adalah luka karena terjatuh, cidera seperti ini tidak akan terasa lagi karena waktu yang cukup lama".
"Aku ngak apa apa kok Rif, lagian sudah ngak sakit lagi" Nadhira mencoba untuk berdiri kembali.
Meskipun itu sakit akan tetapi Nadhira mencoba untuk terlihat baik baik saja, ia pun mencoba untuk melangkah akan tetapi seketika itu juga dirinya hendak terjatuh karena kakinya yang terasa ngilu hal itu membuat Rifki segera menangkap tubuhnya tersebut agar tidak terjatuh.
"Jangan memaksakan diri seperti ini Dhira, sudah duduk saja, biar aku pijat agar tidak terlalu sakit nantinya, aku akan memijatnya dengan perlahan kok, aku tidak ingin kamu kenapa kenapa Dhira".
__ADS_1
"Iya Rif".
Rifki segera memerintahkan Bayu untuk mengambilkan sebuah obat urut yang ada didalam mobil untuk memijat lutut Nadhira, Bayu dengan segera mungkin langsung bergegas untuk mengambilkan obat tersebut dan langsung memberikannya kepada Rifki.
"Akh..." Nadhira seketika memegangi baju Rifki dengan begitu eratnya.
"Tahan sedikit ya Dhira, aku tau ini pasti sakit" Ucap Rifki sambil menatap kearah wajah Nadhira.
Nadhira hanya mengangguk kepada Rifki dan berusaha untuk menahan rasa sakitnya itu, sebenarnya Rifki tidak tega melihat Nadhira kesakitan seperti itu akan tetapi dirinya harus melakukan itu agar cidera lama yang dialami oleh Nadhira lebih membaik daripada sebelumnya.
Pijatan tangan Rifki terasa seperti mengingatkan Nadhira tentang pijatan yang pernah diberikan oleh Aryabima kepadanya ketika dirinya cidera waktu itu, meskipun sakit akan tetapi dirinya masih mampu untuk menahannya karena Rifki sedikit memelankan tekanannya kepada luka cideranya.
"Untuk sementara ini, jangan terlalu banyak gerak dulu Dhira, kalau bisa jangan melakukan perkelahian ataupun hanya sekedar latihan dulu" Ucap Rifki.
"Tapi Rif, aku tidak bisa melakukan itu, kau tau sendiri kan kalau latihan adalah hobiku, bagaimana bisa kau memisahkan aku dari hidupku".
"Ini demi kebaikanmu Dhira, aku juga tidak ingin kau mengalami nasib yang sama seperti Papaku, ini hanya beberapa hari saja Dhira, setelah sembuh kau bisa berlatih lagi kok".
"Rif...."
Nadhira meneteskan air matanya ketika Rifki tidak memperbolehkan dirinya berlatih beladiri selama kakinya belum sembuh, hal itu membuat Rifki segera menghapus air matanya itu dan berusaha untuk membujuk Nadhira.
"Jangan lakukan latihan dulu Dhira, ini hanya sesaat saja kok, jika kau memaksa untuk tetap berlatih apa kau ingin tidak bisa latihan seterusnya? Ini hanya beberapa hari saja Dhira, setelah sembuh total aku tidak akan melarangmu untuk berlatih lagi seperti sebelumnya Dhira".
"Baiklah jika itu maumu, bagaimana kalau aku berhenti berlatih dalam waktu dua hari saja gimana? Itu juga sudah sangat lama bagiku" Tanya Nadhira sambil menghapus air matanya.
"Seminggu, itu paling singkat daripada sebulan penuh" Jawab Rifki dengan cepat.
"Dua hari saja ya Rif" Ucap Nadhira sambil berharap kepada Rifki, akan tetapi tatapan Rifki yang tajam membuat Nadhira meringis, "Ya sudah tiga hari saja ya?" Rayu Nadhira lagi.
"Sudah tidak ada tawaran lagi Nona Muda, kamu pilih mana seminggu atau sebulan? Pilih yang mana?".
"Tapi seminggu itu terlalu lama bagiku Rif, tiga hari saja sudah begitu lama bagiku apalagi seminggu Rif, kenapa harus seminggu? Apa tidak bisa dikurangi?".
"Bagaimana kalau tiga bulan? Biar sekalian sembuh total lukamu Dhira, jadi aku tidak perlu khawatir kalau lukamu itu akan kembali cidera lagi seperti ini".
"Rifkiiiii....." Keluh Nadhira.
"Pilih saja antara seminggu, sebulan, atau tiga bulan? Cepat pilih".
"Tiga hari saja".
"Tapi kalau pertanyaannya aku ganti jadi begini gimana, kamu mau bersamaku seminggu, sebulan, atau tiba bulan? Pilih yang mana?".
"Tiga hari, hari kemarin, saat ini, dan selamanya"
"Pinter banget sih jawabnya, sudahlah pokoknya seminggu harus hindari perkelahian ataupun latihan dan jangan banyak berjalan ataupun lari, seminggu titik tidak pakai koma dan aku tidak terima bantahan macam apapun itu Dhira".
"Apa ngak bisa dikurangi lagi Rif? Bagaimana aku bisa bertahan dalam waktu selama itu tanpa adanya latihan?" Nadhira masih berharap bahwa Rifki hanya menyuruhnya untuk beristirahat selama tiga hari.
"Ternyata wanita terlalu banyak nawar ya, kalau dipasar juga begitu, giliran cowok yang nawar harganya masih tetap pas dan tidak bisa diturunkan lagi, eh pas cewek yang nawar harganya jadi turun, rahasianya apa sih?"
Mendengar perkataan keduanya membuat Bayu menggeleng gelengkan kepalanya karena perkataan keduanya seperti seorang pedagang dan pembeli, pedagangnya masih kokoh dengan harga asli sementara pembelinya berusaha untuk menawarnya sampai dapat.
"Rif sepertinya kau akan kesulitan jika harus bermain kata kata dengan wanita, apalagi wanita yang keras kepala seperti Nadhira itu" Ucap Bayu kepada Rifki.
"Kau benar Bay, entah apa yang harus aku lakukan sekarang, dan bahkan Nadhira sendiri saja tidak mau mendengar ucapanku ataupun laranganku"
"Apa perlu kau kurung saja dia Rif dan ikat dengan erat biar dia tidak banyak memberontak untuk meminta latihan, mungkin dimarkas masih ada ruangan kosong sekarang dan mungkin saja dengan itu dirinya akan melupakan beladirinya untuk beberapa waktu saja".
Rifki tersenyum begitu cerahnya mendengar ide yang diberikan oleh Bayu, akan tetapi berbeda jauh dengan ekspresi wajah Nadhira ketika mendengar saran dari Bayu tersebut.
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...
__ADS_1