Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Semua ini adalah salahku


__ADS_3

Rifki pun kembali memakai jasnya dengan benar setelah Bayu selesai mengobatinya, meskipun luka sayatan itu tidak begitu dalam akan tetapi cukup membuat orang meringis kesakitan apalagi dengan darah yang dikeluarkannya.


"Rifki kenapa kau melakukan ini kepada Nadhira? Bukankah dia juga sahabat kita?" Tanya Bayu dengan tidak tega ketika melihat Nadhira terluka karena sahabatnya sendiri.


"Itu bukan urusanmu Bay".


"Rif kau kenal aku sejak kecil kan? Jika kau dalam masalah ceritakan saja kepadaku, kita harus hadapi bersama sama, jangan anggap aku sebagai anak buahmu saja Rif, tapi anggaplah aku sebagai sahabatmu juga, berbagai masalah telah kita lewati bersama sama, apakah kau sudah tidak percaya dengan diriku Rif?"


"Aku sangat percaya kepadamu Bay, kau adalah teman sekaligus kau adalah sahabat terbaikku, bagaimana bisa aku tidak mempercayai dirimu?"


"Kalau begitu katakanlah Rif, kau tau apa yang kau lakukan itu sangat menyakiti hati Nadhira, kenapa kau melakukan itu kepadanya?"


"Aku tau, ini sangat menyakitkan baginya, biarkan dia membenciku karena aku tidak ingin dia masih menyimpan perasaan untukku, apalagi sampai berbuat nekat dan akan membahayakan dirinya sendiri nanti, aku tidak tau hidupku akan sampai kapan dan aku tidak ingin Nadhira melakukan hal yang bodoh untuk diriku" Jawab Rifki.


"Maksudmu apa Rif? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan itu".


"Sulit untuk dijelaskan, aku belum tau watak dan karakter asli dari Syaqila, dan aku tidak ingin dirinya mengetahui tentang Nadhira, aku sengaja menyuruh Raka untuk membawanya ketempat itu, agar dia semakin membenciku dan aku tidak ingin dia terlibat dalam masalahku nantinya".


"Syaqila? Apa kau mengetahui sesuatu dengan gadis itu? Kenapa dia bisa membahayakan Nadhira?".


"Aku hanya merasakan ada yang ganjil dengan dirinya, kita ikuti saja permainannya dan jangan membuat dia merasa curiga, apalagi mengetahui tentang Nadhira"


"Baiklah Rif, aku paham maksudmu".


"Aku yakin bahwa Theo akan menjaganya dengan baik, Theo sangat mencintainya dan asalkan dia bahagia bersamanya, aku akan berusaha untuk itu, dengan aku melakukan ini itu akan semakin membuat Nadhira membenciku".


"Cintamu kepada Nadhira begitu besar Rif, kau bahkan rela melakukan ini, tidak ada orang yang mampu melihat orang yang dicintainya bersama dengan orang lain, tapi itu tidak berlaku untukmu Rif, kau bahkan rela terluka asalkan orang yang kau cintai itu hidup bahagia".


"Aku akan melakukan apapun itu Bay, karena bagiku kebahagiaan dan keselamatan Nadhira jauh lebih penting, dan Theo adalah orang yang tepat untuk selalu berada disampingnya menggantikan diriku".


Rifki merasa bahwa Theo akan benar benar menjaga Nadhira, karena ia yakin bahwa Theo sangat mencintai Nadhira dan akan melakukan apapun asalkan Nadhira bisa bahagia bersamanya.


Rifki tidak tau harus berbuat apa untuk selanjutnya, ia benar benar kecewa kepada dirinya sendiri dengan apa yang telah ia lakukan kepada Nadhira, perhatiannya yang ia berikan dan perasaan sayang yang ia lakukan membuatnya merasa berada didalam dilema yang tidak tau akan akhirnya.


Jika dirinya tau akhirnya akan seperti ini, ia tidak akan pernah memberikan perhatian kepada Nadhira sehingga Nadhira tidak akan berharap terlalu jauh kepadanya dan hal itu akan membuatnya merasa begitu terluka, luka itu begitu dalam sampai sampai tidak ada yang mampu menariknya untuk keluar.


"Dhira bersabarlah, aku akan berusaha mencari cara agar permata itu segera hancur meskipun harus dengan mengorbankan nyawaku sendiri, aku akan melakukan itu untukmu asalkan kau selamat Dhira, jika kita tidak bisa disatukan didunia maka aku akan berdoa semoga diakhirat nanti kita akan bersama sama untuk selamanya" Guman Rifki.


Selama masih ada permata yang melekat didalam tubuh Nadhira maka nyawa Nadhira akan terus terancam karena akan ada banyak orang yang mengincar permata tersebut dan akan berusaha untuk merebutnya dari Nadhira, akan tetapi jika permata itu dikeluarkan secara paksa maka nyawa Nadhira yang akan menjadi taruhannya.


Jika permata itu tidak segera dihancurkan maka dimasa yang akan datang Nadhira akan selalu dikejar kejar oleh orang orang yang menginginkan permata tersebut untuk mendapatkan keabadian dan kekuatan gaib.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini Rif? Bagaimana caramu untuk menghancurkannya?" Tanya Bayu yang tidak sengaja mendengarkan gumanan Rifki.


"Dengan cara mengorbankan diri" Jawab Rifki dengan entengnya.


"Maksudmu? Kau mau bunuh diri gitu?"


"Ya ngak begitu juga kali Bay konsepnya, sudahlah kau tidak perlu ikut campur soal ini, cepat bawa aku menuju kehutan yang dekat dengan desa Mawar Merah sekarang juga".


"Kau mau apa?"


"Aku ingin menemui arwah seseorang disana, siapa tau aku bisa mendapatkan petunjuk dari sana, beberapa hari yang lalu tiba tiba ada sebuah sosok yang mendatangiku, mungkin saja dia memintaku untuk datang kedesa itu"


"Baiklah, kita akan menuju kesana".


Bayu memerintahkan kepada anak Gengcobra yang saat ini tengah menyetir untuk menuju kearah yang telah ia beritahu, Bayu terus membimbingnya menuju kearah hutan yang menjadi jalan utama untuk dapat menuju kedesa Mawar Merah.


Setelah beberapa saat mereka melakukan perjalanan akhinya telah sampailah mereka diujung hutan, Rifki segera turun dari mobil tersebut dan langsung diikuti oleh seluruh anak buahnya.


"Kalian tunggu disini saja, aku akan masuk sendirian, aku tidak ingin kalian celaka karena masuk ke area terlarang itu".


"Tidak Tuan Muda, biarkan kami ikut untuk menjaga anda, bagaimana kami bisa membiarkan anda dalam bahaya disana" Bantah Reno.


"Mereka tidak akan bisa mencelakai diriku Reno, kau tenang saja, hanya aku yang bisa masuk kesana dengan selamat, jika kalian ikut denganku maka aku tidak akan bisa menjamin kalian akan selamat dan keluar hidup hidup dari sana".


"Biarkan kami mengantarmu sampai pintu gerbang desa Mawar Merah Rif" Ucap Bayu.

__ADS_1


"Tidak perlu, akan ada banyak jebakan yang terpasang disana, jika aku tidak kembali sampai matahari terbit esok hari maka kalian pergilah dari tempat ini jangan mempedulikan tentang diriku ataupun berani mencariku didalam".


"Tapi Rif, bagaimana jika kau dalam bahaya disana? Lalu apa yang harus kami katakan kepada kedua orang tuamu nanti?".


"Aku percaya kepadamu Bay dan kau harus percaya kepadaku, apapun yang akan aku hadapi nanti jangan pernah mencariku, katakan kepada mereka bahwa aku pergi keluar kota".


"Tidak Rif, itu terlalu berbahaya bagimu, bagaimana bisa kami membiarkan dirimu dalam bahaya seperti itu Rifki".


"Apapun yang aku lakukan, aku harap menemukan jawaban tentang bagaimana cara mengeluarkan permata itu Bay"


"Rifki, semoga Allah selalu melindungimu teman, dan memberikan jalan keluar bagi dirimu".


"Aamiin.. aku titipkan anak Gengcobra kepadamu ya Bay, dan juga tolong jaga Nadhira dari kejauhan jangan sampai Nadhira mengetahuinya".


"Kau tenang saja Rif, aku akan melakukan yang terbaik untukmu, cepatlah kembali setelah menemukan apa yang kau cari"


"Iya Bay, aku akan segera kembali setelah itu".


"Hati hati Rif".


Rifki pun mengangguk dan langsung bergegas masuk kedalam hutan tersebut dengan hati hati, Bayu dan yang lainnya hanya bisa menatap kepergiannya dalam diam sambil melambaikan tangan kepada Rifki.


Mereka berharap bahwa Rifki akan keluar dari hutan itu dengan keadaan selamat, tidak ada kata kata lagi yang mampu keluar dari mulut mereka untuk dapat menghentikan kepergian dari Rifki.


"Kita akan menunggu disini, sampai Tuan Muda keluar dari hutan ini, jika esok hari dia belum juga keluar maka aku akan masuk untuk menyusulnya" Perintah Bayu.


"Baik Tuan".


*****


Kepergian Rifki dari tempat itu seketika menciptakan sebuah ruang kosong dihati Nadhira, ruangan itu seperti tak memiliki ujung, perasaan kehilangan kini tengah menyelimuti hatinya, Nadhira ingin sekali menghentikan kepergiannya dari tempat itu karena dirinya masih menyayangi Rifki, setalah mengetahui bahwa dipisaunya ada obat bius membuat Nadhira khawatir dengan kondisi Rifki.


"Ini salahku, seharusnya aku tidak melukai dirinya" Guman Nadhira sambil menjatuhkan pisau kecil yang ada ditangannya itu.


"Sudah Dhira, jangan salahkan dirimu sendiri, ini semua sudah takdirnya, dia sudah melukai hatimu Dhira sebaiknya kau pun melupakan dirinya dan hidup lebih baik daripada sebelumnya".


"Kau benar Theo, entah kenapa dia berubah seperti itu kepadaku".


Nadhira menghela nafas, entah kenapa takdir benar benar mempermainkannya, orang yang paling ia percaya kini tengah pergi meninggalkannya sementara orang yang terabaikan olehnya kini tengah berdiri disampingnya.


"Sudahlah lupakan soal itu, lagi pula sebelum kau meminta maaf kepadaku, aku sudah memaafkanmu sejak dulu Theo".


"Terima kasih Dhira".


Nadhira kembali mengambil pisau kecil tersebut dan segera menutupnya, pisau itu terlihat ada secercah darah sehingga nampak sedikit lengket, setelah itu ia memasukkannya kembali kedalam saku bajunya.


"Kenapa tidak kau bersihkan dulu darahnya Dhira?" Tanya Theo yang melihat Nadhira memasukkan sebuah pena ke saku bajunya.


"Biarkan saja, ini adalah darah milik Rifki, aku tidak akan menghapusnya ataupun menggunakannya lagi, biarkan ini menjadi bukti atas luka yang telah diberikan oleh dirinya kepadaku".


"Dhira aku tau itu, tapi membiarkan sebuah darah mengalir disenjata itu tidak baik, nanti pisau kecilmu akan dihuni oleh mahluk gaib dan akan meminta darah orang lain sebagai makanannya".


"Aku tau itu, tapi ini tidak akan terjadi, karena ini adalah darah milik Rifki".


Nadhira begitu terluka hingga dirinya sudah tidak mau memakai senjata pena tersebut karena disana terdapat darah milik Rifki, meskipun darah itu akan mengering dengan sendirinya akan tetapi Nadhira sama sekali tidak mau membasuhnya.


Darah itu adalah luka terbesar baginya dan akan selalu mengingatkan dirinya tentang apa yang telah dilakukan oleh Rifki kepadanya, ia merasa sangat kecewa dengan sikap Rifki yang mendadak berubah seperti itu, tanpa ia sadari bahwa Rifki melakukan itu karena ada sesuatu hal.


"Terserah apa maumu Dhira, asal kau merasa tenang itu tidak masalah bagiku".


"Aku telah salah menilai seseorang, aku pikir Rifki adalah orang yang baik dan sahabat yang terbaik bagiku tapi ternyata dia luka keduaku setelah Papa".


"Mulai sekarang lupakan dia Dhira, dia tidak pantas untuk dirimu yang begitu baik ini".


"Kau benar Theo"


"Aku akan selalu ada untukmu Dhira, dan aku akan selalu menjagamu"

__ADS_1


"Terima kasih sudah ada untukku selama ini".


Theo mengangguk kepada Nadhira, sementara Nadhira hanya mampu tersenyum tipis walaupun dengan penuh paksaan untuk dapat melakukan itu, ia merasa sangat sedih dengan apa yang terjadi akan tetapi dirinya tetap memaksakan untuk tetap tersenyum dihadapan Theo.


"Aku senang bisa bertemu denganmu Dhira, menjadi sahabatmu adalah keberuntungan bagiku".


"Kau terlalu memuji Theo".


"Aku mengatakan yang sesungguhnya Dhira, kau adalah wanita yang baik, meskipun kalau marah kau terlihat menakutkan".


"Itu tidak benar, mungkin karena ada iblis yang sedang mengendalikan kemarahanku".


"Apapun alasannya itu, kau hebat dhira".


*****


Sudah berjam jam berlalu dengan cepat dan langit mulai menggelap anggota Gengcobra menunggu kedatangan Rifki dari dalam hutan itu, akan tetapi sama sekali tidak ada tanda tanda Rifki akan keluar dari sana.


Entah apa yang dilakukan oleh Rifki saat ini, Bayu dan juga anak Gengcobra menjadi semakin cemas karena itu apalagi mereka sudah menunggu terlalu lama dan tidak ada tanda tanda akan kedatangan Rifki.


"Tuan, bagaimana ini? Tuan Muda belum juga muncul dari dalam sana" Tanya Vano.


"Kita tunggu saja, aku berharap bahwa dia akan baik baik saja, beberapa jam lagi matahari akan terbit, jika dia belum juga kembali maka aku akan masuk kesana untuk membantunya, kalian tetap disini dan meminta bantuan dari yang lainnya".


"Baik Tuan".


Setelah sekian lama menunggu akan tetapi belum juga ada tanda tanda Rifki akan kembali, semalaman anggota Gengcobra tidak ada yang tidur demi menunggu Rifki diluar hutan, hingga pagi menjelang akan tetapi Rifki belum juga keluar.


"Kalian kembalilah kemarkas, aku akan masuk kedalam untuk memeriksanya" Ucap Bayu.


"Tapi Tuan, bagaimana kami bisa meninggalkan anda dan juga Tuan Muda didalam sana? Biarkan kami menemani anda masuk kedalam".


"Itu tidak perlu" Terdengar suara lirih dan lemah dari dalam hutan tersebut.


Terlihat Rifki berjalan keluar dari hutan tersebut dengan langkah sempoyongan dan telihat begitu lemas, Bayu yang melihat itu segera berlari kearah dimana Rifki berada.


Ketika Bayu sudah mendekat seketika tubuh Rifki hoyong dan hendak jatuh berlutut ditenah akan tetapi Bayu dengan segera menangkap tubuhnya itu dan tidak membiarkan Rifki jatuh.


"Rifki kau kenapa?" Tanya Bayu dengan panik.


"Aku ngak apa apa" Jawab Rifki pelan.


"Rifki tubuhmu panas sekali, apa yang terjadi denganmu didalam sana?"


Bayu segera membantu Rifki untuk berdiri dan mengalungkan tangan Rifki kelehernya untuk segera memapahnya pergi dari tempat itu menuju kearah mobilnya terparkir tanpa Bayu sadari bahwa kini Rifki tengah meneteskan air matanya.


Dengan penuh hati hati Bayu membaringkan tubuh Rifki dikursi mobil tersebut, Bayu melihat kedua mata Rifki yang terlihat begitu sayup seakan akan begitu banyak beban yang sedang ia tanggung sendirian.


"Kenapa kau bersedih Rif?"


"Dia mengatakan bahwa hanya ada satu cara untuk dapat menghancurkan permata itu Bay"


"Itu bagus Rif, itu artinya masih ada kesempatan untuk dapat menyelamatkan Nadhira, bagaimana caranya itu Rif? Mungkin aku bisa membantumu".


"Aku tidak akan bisa melakukan itu Bay, aku tidak akan pernah sanggup untuk itu".


"Kenapa? Apakah itu berhubungan dengan nyawa Nadhira sendiri Rif?"


Rifki mengangguk mengiyakan ucapan Bayu, "Aku harus membunuh Nadhira dengan keris pusaka xingsi yang aku miliki agar permata itu hancur Bay, dan aku tidak akan pernah bisa melakukan itu, bagaimana bisa aku membunuh orang yang aku cintai Bay" Air mata Rifki lolos begitu saja.


Bayu merasa terkejut dengan apa yang ia dengar itu, ini adalah pilihan yang sangat sulit dan tidak akan mampu untuk dilakukan oleh Rifki, ia menjadi sangat bingung dengan situasi yang Rifki hadapi saat ini, akan tetapi hanya itu cara satu satunya yang bisa dilakukan oleh Rifki untuk menghancurkan permata iblis yang ada didalam tubuh Nadhira.


Rifki merasa begitu sangat putus ada dengan situasi yang ia hadapi saat ini, dan hal itulah yang membuat Rifki terlihat sangat murung untuk saat ini, ia tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan selanjutnya, ia tidak akan membiarkan Nadhira mati ditangannya akan tetapi dirinya tidak akan sanggup untuk melihat Nadhira yang terus menerus dikejar oleh orang orang jahat yang ingin memiliki permata iblis itu.


"Pasti masih ada jalan lain Rif, kau tidak boleh menyerah begitu saja".


"Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan Bay, apakah aku harus merenggut nyawa Nadhira? Aku hanya takut bahwa takdir itu benar benar terjadi, ditangan kami berdua permata iblis dan keris pusaka xingsi akan hancur, mungkinkah itu tujuan kami berdua dilahirkan".

__ADS_1


"Rifki, aku belum pernah melihatmu selemah ini, jangan pernah menyerah begitu saja seperti ini, pasti masih ada jalan yang lain".


"Jalan satu satu aku harus menghindar dari Nadhira".


__ADS_2