Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Makan bersama anak panti 2


__ADS_3

Tak beberapa lama kemudian rombongan kedua dan ketiga akhirnya telah sampai dirumah tersebut, mereka langsung diajak oleh Nadhira untuk masuk kedalam rumahnya bergabung dengan yang lainnya, Fika yang berada dirombongan terakhir itu pun langsung bergegas untuk mendatangi Nadhira.


"Kakak!" Seru Fika memanggil Nadhira.


"Hei Fika, bagaimana kabarnya Dek?" Tanya Nadhira.


"Alhamdulillah baik Kak, sejak acara pernikahan Kakak yang batal itu kita tidak pernah bertemu ya Kak"


"Ngak ada yang batal Fika, aku dan Rifki sudah menikah sekarang"


"Benarkah? Selamat ya Kak, dan Fika juga turut berduka cita atas meninggalnya Oma Sarah"


"Terima kasih ya Fika, ayok masuk untuk bergabung dengan yang lainnya didalam"


"Iya Kak"


Mereka pun masuk kedalam rumah itu, sementara Rifki masih disibukkan oleh gadis kecil yang ada di gendongannya itu, meskipun baru berumur 2 tahun akan tetapi Rifki terlalu pandai untuk mencuri perhatiannya itu.


Acara makan bersama itu pun dimulai, anak anak panti sangat menikmati jamuan tersebut dengan sangat lahapnya karena mereka belum pernah memakan makanan yang sebanyak itu sebelumnya apalagi dengan berbagai macam masakan yang mahal mahal.


Bagi mereka untuk memakan daging ayam saja membutuhkan waktu seminggu sekali untuk bisa menikmati daging ayam apalagi disini yang tersedia berbagai macam daging, ada daging ayam, sapi, ikan, kambing, bebek dan angsa.


Daging daging tersebut diolah menjadi beberapa masakan sehingga nampak begitu sangat lezat untuk dicicipi, setelah doa doa dipanjatkan mereka pun mengantri untuk mengambil makanan mereka masing masing dengan cara prasmanan.


Nadhira yang memperhatikan mereka pun tersenyum dengan sendirinya, ini adalah hal yang sangat membahagiakan baginya karena adanya kebahagiaan tersendiri dari diadakannya makan bersama anak anak panti itu.


Dirumah itu terlihat begitu ramai dengan canda gurau dari anak anak panti yang menghiasi seluruh ruangan, keramaian itu seketika membuat Nadhira merasa sangat damai.


"Mereka sangat bahagia ya, padahal mereka tidak memiliki orang tua" Guman Nadhira pelan sambil menatap kearah anak anak panti yang sedang sibuk untuk bercengkrama dengan yang lainnya.


Nadhira pun menghela nafas panjang melihat kearah anak anak panti asuhan tersebut, mereka begitu tertib untuk mengantri mengambil makanan yang telah disediakan itu.


Sebelum semuanya kebagian jatah makanan, mereka yang sudah mendapatkannya pun menaruhnya dihadapan mereka karena menunggu teman temannya yang belum mendapatkan nasi hal itu membuat Nadhira merasa kagum kepada mereka.


Tiba tiba anak berusia 2 tahunan itu menarik narik celana Nadhira karens dirinya tidak mampu untuk mensejajarkan tingginya dengan Nadhira, Nadhira yang merasakan itu segera menoleh kebawahnya dan mendapati anak yang sebelumnya digendong oleh Rifki kini berada di kakinya.


"Eh, kemana Rifki? Kenapa anak ini sendirian disini?" Nadhira lalu menggendong anak tersebut.


Sebentar anak tersebut sudah bisa untuk berjalan sendiri diusia yang baru menginjak 2 tahun itu, pertama dirinya turun dari Bus, ia melangkah bersama dengan seorang gadis yang berusia 5 tahunan akan tetapi gadis kecil itu langsung berlari kearah Rifki ketika pandangannya tertuju kepada Rifki yang berada tidak jauh darinya.


Mungkin gadis itu sangat merindukan sosok Ayahnya sehingga menganggap bahwa Rifki adalah Ayahnya, meskipun gadis itu belum paham soal apapun itu akan tetapi dirinya sangat nyaman berada didalam gendongan Rifki.


"Kemana orang yang menggendongmu sebelumnya Nak?" Tanya Nadhira kepada anak kecil itu.


Nadhira pun menatap kesekitarnya untuk mencari tahu keberadaan dari Rifki, entah kenapa anak ini dibiarkan sendirian begitu saja, ia pun mendapati bahwa Rifki tengah mengobrol dengan anggota Gengcobra yang tiba tiba datang.


Nadhira pun mendekat kearah dimana Rifki dan anggota Gengcobra berada, Rifki terlihat sangat serius ketika mengobrol dengan mereka sampai sampai dirinya tidak mengetahui bahwa Nadhira sudah berada didekatnya.


"Ada apa Rif? Tanya Nadhira dan langsung membuat Rifki terkejut dengan kedatangannya.


"Ngak ada apa apa Dhira" Ucap Rifki.


"Kenapa serius seperti itu? Jangan berbohong"


"Siapa yang berbohong sayang, mereka hanya mengatakan bahwa rumah lamamu sudah dibersihkan dan sudah aku beli"


"Benarkah? Apa kalian bertemu dengan Papa?"


"Maaf Nona Muda, kami tidak bertemu dengannya karena kami membelinya juga sudah melalui tangan orang lain" Jawab salah satu anggota Gengcobra.


"Sayang sekali, tidak bisa bertemu dengan Papa"


"Sudah sayang, jangan pikirkan hal itu lagi ya" Ucap Rifki seraya mengusap pelan punggung Nadhira.


"Iya sayang, ya sudah lanjutkan obrolan kalian, aku mau memberikan anak ini kepada Bu Fatimah"


"Iya sayang" Ucap Rifki.


Nadhira pun langsung bergegas untuk menuju ketempat dimana Bu Fatimah berada untuk memberikan anak kecil yang ada di gendongannya itu, melihat kepergian dari Nadhira membuat Rifki menghela nafas kasar.


"Jangan sampai Nadhira mendengarnya, aku tidak mau kalo dia merasa sedih lagi, benar benar tidak menghargai apa yang dilakukan oleh Nadhira"


"Baik Tuan Muda, kami akan menjaga rahasia ini"


"Baiklah, kalian bisa kembali ke markas sekarang, aku pegang ucapan kalian, kalau sampe ada yang membuat Nadhira mengetahuinya maka kalian yang akan menjadi incaranku pertama kali"


"Baik Tuan Muda"


Anggota Gengcobra itu pun segera bergegas kembali menuju kemarkas mereka dan meninggalkan halaman rumah tersebut, melihat kepergian dari mereka membuat Rifki segera masuk kedalam rumahnya untuk bergabung dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Kemana anggota Gengcobra?" Tanya Nadhira ketika melihat Rifki masuk kedalam rumah itu.


"Kembali ke markas sayang, ada apa?"


"Kenapa tidak meminta mereka untuk ikut serta dalam acara makan bersama ini?"


"Ada tugas penting yang harus mereka lakukan, sebentar lagi akan ada seleksi untuk calon anggota Gengcobra baru sehingga mereka bakalan sangat sibuk dimarkas"


"Ow seperti itu"


Rifki dan Nadhira itu pun kini membantu anak anak panti untuk mengambil nasi dan lauk yang mereka inginkan, mereka sangat senang diacara seperti ini apalagi sosok Fika yang tak henti hentinya untuk tersenyum melihat Adik Adiknya bahagia.


"Kak Dhira, Azizah mau ayam bakar" Ucap sosok anak kecil yang berusia 7 tahunan kepada Nadhira.


"Yang apa? Dada atau paha?"


"Dada aja Kak"


"Okay, nih Kakak ambilkan"


Nadhira pun menaruh sepotong daging ayam dipiring anak kecil tersebut, anak anak panti tersebut mengenal tentang Nadhira dari Bu Fatimah, meskipun Nadhira sendiri tidak paham dengan nama nama mereka itu.


Gadis berusia 7 tahun itu nampak begitu bahagia ketika Nadhira mengambilkan sepotong daging ayam yang sangat besar untuknya, dirinya belom pernah memakan ayam bakar sebelumnya sehingga dirinya nampak begitu bersemangat.


"Kak aku juga mau seperti Kak Azizah"


"Kak aku juga aku juga"


"Aku yang paling besar ya Kak"


"Kak aku juga mau"


"Bentar ya Adik Adik tangan Kakak cuma dua, pasti kebagian semuanya kok" Ucap Nadhira mencoba untuk menenangkan anak anak yang ada didepan itu.


Mereka pun kembali tenang setelah mendengar ucapan dari Nadhira, melihat Nadhira yang kewalahan itu pun membuat Rifki tertawa dan dirinya segera menghampiri Nadhira untuk membantunya.


"Butuh bantuan sayang?" Tanya Rifki.


"Ngak, mending bantu yang lainnya saja" Jawab Nadhira tanpa mengalihkan pandangannya.


"Beneran? Kalo gitu aku bantu Bi Sari saja ya, dia ada didapur sendirian soalnya"


Seketika itu juga kedua mata Nadhira melirik tajam kearah Rifki dan membuat Rifki segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tatapan mengintimidasi tersebut langsung membuat nyali Rifki menciut begitu saja.


"Loh kenapa kok gitu?"


"Kau memiliki maksud terselubung ya kepada Bi Sari, memang sih dia kan belom menikah sampe sekarang, apa jangan jangan kau!"


"Tuduhanmu tidak beralasan sayang, mangkanya sini biar aku bantu, aku takut kamu kecapean".


"So sweet banget sih"


"Kak, aku juga mau" Suara anak kecil seketika membangunkan keduanya yang terjerat dalam feeling in love.


"Eh iya Adek, mau yang mana? Dada atau paha?" Tanya Rifki yang buru buru mengambil alih apa yang dilakukan oleh Nadhira.


Rifki segera membantu mereka untuk mengambil daging ayam sesuai dengan keinginan mereka, dan dapat dilihat bahwa adanya senyuman kebahagiaan diwajah Rifki saat ini ketika bersama dengan anak anak panti seperti itu.


Setelah semuanya kebagian jatah makanan, mereka langsung memakannya secara bersama sama dan tak lupa sebelum memakannya mereka berdoa dulu sebelum makan dengan dipimpin oleh Bu Fatimah.


Nadhira dan Rifki juga ikut serta makan bersama, keduanya pun mengambil makanan yang telah disediakan disana, dan ikut serta bergabung dengan anak anak panti.


Rifki yang sudah terbiasa dengan suasana seperti itu dimarkas Gengcobra itupun nampak sangat menikmatinya dan ia melupakan kedudukannya sebagai Presdir diperusahaan Abriyanta Groub dan menganggap bahwa mereka itu setara.


"Kalo mau nambah, silahkan nambah lagi ya, jangan sungkan sungkan" Ucap Rifki kepada anak anak panti yang ada disekitarnya.


"Iya Kak" Jawab mereka serempak.


Sangat mengasikan jika makan bersama sama seperti ini dan hal itu membuat nafsu makan mereka akan bertambah, Rifki yang sebagai tuan rumah itu pun telah menyiapkan masakan yang begitu banyak hingga seluruhnya bisa nambah jika mereka ingin melakukan itu.


Seluruh penghuni rumah tersebut juga ikut serta dalam acara makan bersama tanpa terkecuali sedikitpun itu karena itulah hari untuk makan bersama, termasuk juga Nandhita, Stevan, Pak Mun, Pak Santo, Bi Ira, Bi Sari dan kedua pembantu yang ada dimarkas Gengcobra.


"Sayang mau nambah ngak?" Tanya Rifki kepada Nadhira yang duduk disebelahnya.


"Ngak, nanti gendut" Jawab Nadhira dengan cepat.


"Kalo gendut berarti usahaku berhasil dong, bikin kamu gendutan"


"Aku ngak suka gendut Rifki"

__ADS_1


"Aku yang suka Dhira


"Sayang mau nambah ngak? Aku ambilkan ya"


"Ngak usah Dhira, biar anak anak yang lain saja yang nambah dan juga kamu".


"Ngak papa nambah sayang, biar nanti makin kuat buat dedeknya"


Mendengar ucapan tersebut seketika membuat pandangan semua orang terarah kepadanya begitupun dengan Bu Fatimah yang hanya bisa menahan senyumannya, sementara Pak Santo dan Pak Mun langsung membulatkan matanya lebar lebar.


Memang ucapan Nadhira tersebut tidak terlalu keras, akan tetapi orang orang yang ada disekitarnya tersebut mampu untuk mendengarnya sehingga membuat mereka tidak mempercayai tentang apa yang mereka dengar barusan.


"He, em" Bi Ira berdehem mendengar ucapan Nadhira tersebut yang langsung ceplos begitu saja.


Mendengar deheman Bi Ira membuat Nadhira tersadar bahwa dirinya kini tengah berada diantara anak anak panti dan juga banyak orang, Nadhira pun langsung menyembunyikan wajahnya dipundak Rifki ketika menyadari akan hal itu.


"Haduh Dhira, bodoh sekali sih dirimu, bagaimana kalau yang lainnya denger, malu banget ya ampun, semoga tidak ada yang mendengarnya lagi" Batin Nadhira menjerit.


"Jangan dimasukkan kehati ya Bu, emang nih anak sukanya keceplosan" Tambah Rifki.


"Diem ngak!" Ucap Nadhira yang semakin malu.


"Ada apa sayang?"


"Malu, aku tadi bilang apa?"


"Sepertinya Adek ipar sudah tergila gila deh, bahkan tidak kenal tempat untuk bermesraan" Ucap Stevan sambil menggoda Nadhira.


"Kakak ipar apaan sih! Kak Dhita bilangin tuh suaminya jangan ember" Nadhira sangat kesal dibuatnya.


"Sayang sudah dong, kasihan kan Adekku yang manis ini" Nandhita mengusap pelan lengan suaminya.


Mereka pun tertawa dengan sangat kerasnya setelah puas untuk membully Nadhira, mendengar gelak tawa mereka membuat Rifki ikut tertawa gemes dengan kelakuan dari Nadhira itu, dan hingga akhirnya dirinya...


"Akh.. sakit Dhira" Rifki mendapatkan cubitan sangat keras dari Nadhira.


"Jangan ketawa, kenapa ikut ikutan mereka tertawa seperti itu"


"Tertawa itu kayak sengatan listrik, langsung mengalir begitu saja sayang, jadi tidak bisa ditahan"


"Malam nanti tidur diluar!"


"Mampus, rasakan itu hahaha..." Umpat Stevan sambil menertawakan nasib Adik iparnya itu.


"Dhira, jangan gitu dong, masak iya ganteng ganteng begini tidur diluar sih, ayo lah sayang jangan seperti itu, pliss" Rengek Rifki kek anak bayi yang minta dibelikan mainan oleh orang tuanya.


"Ga peduli" Nadhira melipat kedua tangannya didepan dadanya sambil memutar bola matanya dengan malas.


"Nanti kalo digigit nyamuk gimana? Kan sakit"


"Biar sekalian digigit harimau juga ngak peduli"


"Ayang, jangan gitulah"


"Apaan sih Rifki, malu tau dilihat banyak orang seperti ini"


"Ayang plis ya, aku ngak mau tidur diluar, Ayang ngak boleh gitu"


Rifki seakan akan tidak ada martabatnya jika seperti ini, mereka begitu terkejut ketika melihat sisi kanak kanakannya itu, Rifki yang dikenal dengan seseorang yang begitu tegas kini malah merengek seperti itu, dan hal itu membuat pandangan seluruhnya terarah kepada kedua sejoli itu.


"Rifki, dimana harga dirimu? Lihatlah semua orang menatapmu seperti anak kecil" Bisik Nadhira dengan gemasnya kepada Rifki.


"Biarin, asal tidak tidur diluar, apa kau tega dengan suamimu ini? Bagaimana nanti kalo kedinginan?"


"Iya deh iya, jangan seperti ini dong, ngak enak dilihatin banyak orang tuh"


"Asikkk beneran sayang?"


"Iya, jangan gitu lagi ya"


"Yeay... Makasih cinta" Wajah Rifki seketika berubah menjadi cerah lagi dan langsung mengecup kening Nadhira didepan banyak orang.


"Jangan seneng dulu, masih ada hukuman untukmu nanti, ingat itu"


Rifki hanya menyengir mendengar ancaman itu, ia akan menerima apapun resikonya nanti asalkan tidak tidur diluar karena itu akan sangat mengerikan bagi dirinya sendiri.


"Aku terima hukumanku sayang, asal jangan menghukumku untuk tidur diluar lagi"


"Baiklah, aku akan memberimu hukum nanti"

__ADS_1


"Tidak masalah sayang, asalkan tidak dihukum untuk tidur diluar, membayangkannya saja membuatku sangat sangat takut"


Rifki pun kembali mengangkat kepalanya dengan tegak dan kembali terlihat begitu berwibawa didepan semua orang, kekanak kanakan adalah sisi buruk Rifki jika dihadapan Nadhira.


__ADS_2