
Sebenarnya Nadhira merasa ada yang janggal atas kehadiran dari dua wanita itu yang tidak lain adalah Clara, orang yang paling tidak menyukai Nadhira selama ini dan juga Amanda Adik tirinya yang paling membenci dirinya dan bahkan menginginkan kematiannya itu, entah kenapa keduanya tiba tiba ingin menghadiri acara seperti ini.
Tanpa persetujuan dari Nadhira keduanya segera berjalan masuk kedalam gedung tersebut dan tidak mempedulikan ucapan dari Nadhira, hingga hal itu membuat Nadhira menatap tajam kearah Theo dan mengepalkan kedua tangannya kearah Theo dengan kemarahannya itu.
"Kalau sampai acara ini menjadi berantakan nantinya, aku tidak ingin melihat wajahmu ada dikantorku lagi Theo" Ancam Nadhira kepada Theo.
"Dhira aku bisa jelaskan kepadamu kok, mereka tidak akan membuat kekacauan ditempat ini nanti, aku akan mengawasi mereka, kau harus percaya dengan diriku Dhira, mereka tidak akan melakukan itu".
"Awas saja kamu Theo! Jika mereka sampai membuat kekacauan, aku tidak mau lagi mendengarkan penjelasan darimu Theo".
Ucapan Nadhira begitu sangat menusuk bagi Theo, setelah mengatakan itu Nadhira segera bergegas masuk kedalam perusahaan barunya dengan kemarahan yang tercipta didalam hatinya saat ini, Nadhira masuk kedalam bangunan tersebut dengan raut wajah yang tidak mengenakkan.
Melihat itu membuat Rifki segera mendekatinya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Nadhira kali ini, Rifki segera memegangi tangan Nadhira yang terlihat begitu kecewa tersebut.
"Kenapa kamu terlihat marah seperti itu?" Tanya Rifki kepada Nadhira.
Belum sempat Nadhira menjawab kedua wanita tersebut segera mendekat kearah dimana Nadhira dan Rifki berada saat ini, melihat kedatangan kedua orang itu membuat Rifki segera mendatarkan ekspresi wajahnya tersebut dan hal itu membuat Rifki terlihat begitu dingin.
"Hay Rif, sudah lama kita tidak bertemu ya, kau terlihat begitu tampan dan berwibawa sekarang, aku hampir tidak mengenali dirimu tadi" Ucap Clara yang mencoba untuk mengakrabkan diri kepada Rifki.
Kini Rifki mengetahui kenapa wajah Nadhira tiba tiba terlihat begitu kusut, mendengar itu membuat Nadhira melipat kedua tangannya didepan dada dan membuang muka dari wajah kedua wanita tersebut dan sesekali terdengar helaan nafas Nadhira.
Melihat Rifki yang hanya berdiam diri saja membuat Clara segera mendekat kearahnya akan tetapi dengan segera Rifki melangkah mundur dan menjauh dari Clara dengan wajah datarnya itu, hingga membuat Clara tersenyum dan dirinya segera menggapai tangan Rifki, akan tetapi tangan Rifki segera ia alihkan dari posisi sebelumnya hingga membuat Clara tidak dapat melakukan itu.
"Kenapa kau melakukan itu Rifki? Apa kau tidak merindukan diriku karena kita tidak pernah bertemu dalam waktu yang sangat lama" Ucap Clara dengan centilnya kepada Rifki.
"Tidak" Jawab Rifki dengan begitu singkat.
Rifki segera menggandeng tangan Nadhira dan mengajak Nadhira untuk pergi dari tempat itu, ia tidak ingin lagi berlama lamaan dengan kedua gadis tersebut, keduanya adalah orang yang tidak menyukai Nadhira dan berusaha untuk mencelakai Nadhira sebelumnya hingga membuat Rifki enggan untuk berlama lamaan dengan mereka berdua.
Melihat kepergian Rifki sambil menggandeng tangan Nadhira dari tempat itu membuat kedua orang itu merasa jengkel terhadap apa yang dilakukan oleh Rifki kepadanya, akan tetapi keduanya tidak bisa berbuat apa apa untuk hal itu.
Rifki segera mengajak Nadhira untuk bergabung kedalam meja anggota Gengcobra sehingga ia bisa menjauhkan Nadhira dari kedua wanita itu, Rifki juga meminta kepada anggotanya untuk terus mengawasi keduanya itu, agar kedua tidak membuat masalah didalam acara sepenting ini.
"Kau tenang saja Dhira, nikmati saja pestamu ini, semuanya akan baik baik saja" Ucap Rifki.
"Aku takut keduanya akan membuat masalah disini, kau tau sendiri kan Rif, beberapa perusahaan ternama di kota ini telah mengirim beberapa pekerjanya itu menghadiri acara ini, aku takut mereka merasa kecewa telah hadir ditempat ini".
"Mereka tidak akan melakukan itu Dhira, anggota Gengcobra akan mengatasi hal itu, mereka tidak akan membiarkan terjadinya sebuah masalah ditempat ini sampai acara berakhir nanyti".
"Ku harap juga begitu, kau tau sendiri kan bagaimana sikap keduanya itu? Mereka tidak akan segan segan untuk merusak acara ini jika mereka mau".
"Sudah jangan terlalu mempedulikan hal itu, biarkan itu menjadi urusan anak buahku, kau adalah pemilik acara ini dan tidak sepantasnya kau merasa cemas seperti ini Dhira, yakinlah kepada diriku bahwa acara ini akan berjalan dengan lancar".
"Baiklah Rif, aku percaya kepadamu".
Rifki tersenyum kepada Nadhira begitupun sebaliknya, keduanya pun kembali mengikuti perayaan tersebut dan mengobrol dengan para tamu undangan, begitu banyak orang yang ingin mengobrol dengan Nadhira karena dirinya adalah pemimpin perusahaan Dewatamali, akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa Rifki adalah pemimpin dari Abriyanta Groub karena Nadhira tidak menyebutnya sama sekali begitupun dengan Rifki.
Citra terus meneliti disetiap para tamu undangan, ia masih mencari bagaimana wajah dari pemimpin perusahaan Abriyanta Groub itu, karena Nadhira mengatakan kepadanya bahwa pemuda itu akan hadir diacara malam ini, akan tetapi dirinya sama sekali tidak melihat kedatangannya karena Nadhira sendiri tidak menyambut seseorang.
Melihat Citra yang terus memandangi wajahnya orang orang yang ada disana membuat Nadhira yang berada dikejauhan darinya hanya bisa tersenyum, begitu penasarannya kah dirinya terhadap pemimpin perusahaan Abriyanta Groub batinnya.
Melihat itu membuat Nadhira mengajak Rifki untuk datang menemuinya, Rifki hanya bisa mengangguk dan mengikutinya seperti sejak tadi ketika Nadhira bertemu dengan orang orang yang berada diperusahan lain sementara Rifki hanya mengikutinya dari belakang tanpa banyak bicara.
"Apa yang kau cari Cit?" Tanya Nadhira ketika sudah berada didekat Citra.
"Nona Muda bilang kalau pemimpin perusahaan Abriyanta Groub akan datang, kenapa sampai sekarang tidak ada penyambutan?" Tanya Citra.
Mendengar itu membuat Rifki mengerutkan keningnya, bukankah dirinya memang sudah datang diacara ini dan bahkan terlihat seperti bodyguard buat Nadhira dengan wajah tampannya itu.
"Kau tau sendiri kan, kalau dia tidak menyukai jika dipublikasikan, lagian dia sudah datang kok" Jawab Nadhira sambil tersenyum kepada Rifki.
"Kau benar Dhira, dia memang tidak suka dipublikasikan, aku beritahu pada dirimu ya, lihatlah orang yang ada diujung sana, itu adalah pemilik dari Abriyanta Groub" Ucap Rifki kepada Citra sambil menunjuk kearah dimana Bayu berada dan dirinya tengah dikelilingi oleh anggota Gengcobra.
__ADS_1
Citra langsung menoleh kearah dimana yang ditunjukkan oleh Rifki, dari kejauhan dia dapat melihat bahwa pemuda yang ditunjuk tersebut terlihat begitu santai, berwibawa dan dijaga ketat oleh beberapa bodyguard menurutnya, ia tidak menyangka bahwa pemuda itu adalah CEO diperusahan Abriyanta Groub.
"Benarkah dia CEO diperusahan Abriyanta Groub?" Tanya Citra tanpa menoleh kearah keduanya.
"Benar, tapi jangan pernah katakan kepada siapapun, atau kau akan tau sendiri nanti kalau dia sampai marah" Ucap Rifki lagi lagi meyakinkan.
"Bolehkah aku menemuinya?"
"Kau boleh menemuinya tapi jangan buat dia marah".
"Baiklah".
Citra segera bergegas menuju ketempat dimana Bayu berada dan hal itu seketika membuat Nadhira dan Rifki tertawa bersama sama, entah apa yang tengah mereka lakukan kepada Bayu kali ini, mungkin akan sangat menyulitkan dirinya.
"Bukankah kau pemimpin dari perusahaan Abriyanta Groub? Kenapa menunjuk kearah Bayu?" Tanya Nadhira sambil menahan tawanya.
"Aku tidak ingin nanti sorotan orang orang akan terarah kepadaku, hingga membuatku tidak bisa bebas untuk pergi kemana mana tanpa anak buahku, bahkan untuk membayangkannya saja aku tidak mau hal itu terjadi".
"Kau benar benar menjebak Bayu Rif".
"Siapa suruh kau membawa bawa nama Abriyanta Groub disini? Apalagi sampai membuat orang seperti itu penasaran dengan sosok Tuan Muda Abriyanta Groub".
"Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya kepadanya, lagian memang benar kan kalau CEO diperusahan Abriyanta Groub akan datang ke acara perusahaan kecil seperti perusahaanku ini".
"Bukan akan datang, kan memang sudah datang".
Nadhira tertawa mendengar ucapan Rifki, keduanya pun terlihat sangat bahagia meskipun disatu sisi banyak yang terluka karena keduanya tertawa, tak beberapa lama kemudian Sarah datang dan mendekati keduanya itu.
"Ada apa Oma? Apa ada yang bisa Dhira bantu?" Tanya Nadhira ketika melihat Sarah.
"Kalian berdua adalah pasangan yang serasi menurut Oma, mungkin kalian sudah ditakdirkan untuk bersama setelah penantian panjang"
"Kita hanya sahabat Oma" Jawab Nadhira.
"Rifki Oma" Jawab Rifki.
"Oh jadi ini yang namanya Rifki, kau memang sangat tampan, beruntung sekali Nadhira bertemu dengan dirimu, kau tau? Selama ini Nadhira terus merindukan dirimu, kenapa anak nakal ini tidak pernah bilang kepada Oma kalau Rifki sudah pulang" Ucap Sarah sambil mengusap kepala Nadhira pelan.
"Benarkah seperti itu Oma? Tapi kenapa dia tidak pernah mengatakan kepadaku kalau dia merindukan diriku selama ini? Justru aku yang sangat beruntung karena dapat bertemu dengan Nadhira Oma".
"Oma terlalu sibuk dengan laptop yang ada dikamar Oma sih, padahal dia sudah beberapa kali datang kerumah tapi hanya dihalaman saja dia tidak mau masuk kedalam rumah" Selah Nadhira.
"Kau menyambut tamu setampan ini hanya dihalaman rumah saja?" Tanya Sarah sambil memincingkan sebelah matanya.
"Bahkan bukan disambut saja Oma, lebih tepatnya lagi dia menyambut kedatanganku dengan menggunakan senjatanya itu, dia bahkan juga mengusirku dari rumah Oma" Ucap Rifki.
"Apa! Nanti biar Oma yang akan mengajarkannya kepada Dhira tentang bagaimana cara untuk menyambut tamu yang datang, kau tenang saja soal itu" Ucap Sarah kepada Rifki.
"Tapi Oma....".
"Sudah kamu diam saja, aku akan menghukum dirimu nanti dirumah, bisa bisanya menyambut seorang tamu seperti itu"
Sarah tersenyum kepada keduanya itu dengan senyuman yang sangat lembut, Sarah lalu mengusap punggung Rifki dengan pelan, lalu dia beralih kepada Nadhira dan mengusap kepala Nadhira dengan penuh kasih sayang.
"Lia pasti bangga dengan dirimu Dhira" Ucap Sarah.
"Bagaimana tidak bangga Oma, Tante Lia memiliki seorang anak yang galak dan pintar seperti itu" Sahut Rifki tiba tiba.
"Kau benar, tolong jaga anak nakal ini dengan baik, jangan biarkan dia kelelahan ataupun bersedih lagi, karena Oma tidak bisa selalu mengawasinya"
"Iya Oma, Rifki akan berusaha sebisa mungkin untuk menjaga Nadhira dengan baik, Oma tidak perlu khawatir soal itu, Nadhira kini tengah aku hukum Oma, dia tidak akan menggunakan beladirinya selama seminggu penuh Oma".
"Hukum? Kenapa hanya seminggu saja kau memberi hukuman kepada anak nakal ini? Kalau bisa setahun juga ngak apa apa"
__ADS_1
Bukannya marah kalau cucunya dihukum orang lain, Sarah justru malah mendukung Rifki untuk menghukum Nadhira lebih lama lagi, agar Nadhira tidak kelelahan, Sarah mengingat bahwa Nadhira memang tidak boleh kelelahan.
"Kenapa Oma malah mendukung Rifki sih?" Tanya Nadhira dengan cemberutnya.
"Sudah sudah, Oma mau pulang, ini sudah malam" Ucap Sarah.
"Kenapa Oma buru buru? Padahal acara juga belum selesai Oma".
"Oma ingin istirahat, pening Oma disini lama lama".
"Baiklah Oma".
Sarah memutuskan untuk pulang lebih awal sebelum pesta tersebut selesai, Nadhira dan Rifki segera mengantar Sarah menuju ketempat dimana mobil mereka terparkir rapi, setelah itu mobil yang dinaiki oleh Sarah bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Nadhira dan Rifki segera kembali masuk kedalam gedung tersebut, dari kejauhan keduanya melihat bahwa kini Citra sedang mendekati Bayu sambil membawakan segelas minuman kepadanya, melihat itu membuat keduanya mendekat kearah mereka dengan pelan agar tidak ada yang menyadari kedatangannya itu.
"Tuan Muda ini minuman untuk anda" Ucap Citra sambil menyodorkan segelas minuman kepada Bayu.
"Terima kasih" Ucap Bayu yang merasa aneh dengan perempuan yang ada didepannya itu.
"Aku tidak menyangka bahwa anda pernah datang ke perusahaan Dewatamali dipusat, maafkan saya karena sebelumnya tidak menyambut anda dengan baik disana".
Ketika Bayu ingin membantah ucapan itu seketika pandangannya tertuju kepada Rifki yang tengah menaruh telunjuknya kepada ujung bibirnya, pertanyaan menyuruhnya untuk diam dan tidak banyak protes untuk itu.
"Maksud anda apa?" Tanya Bayu kepada Citra meskipun sambil menatap kearah Rifki dan Nadhira.
"Saya tau bahwa anda adalah CEO dari perusahaan Abriyanta Groub, Nona Muda dan temannya sendiri yang mengatakan itu kepada saya, saya akan berusaha dengan sebisa mungkin untuk melayani anda ditempat ini dan tidak akan mengecewakan".
"Rifki! Dhira! Dilema apa yang kalian berikan kepadaku ini" Batin Bayu menjerit.
Citra pun meminta kepada rekan kerjanya untuk memberikan beberapa hidangan yang sangat lezat untuk Bayu, Citra dan lainnya segera memperlakukan Bayu layaknya seperti seorang Raja ditempat itu, dan mereka memaksa Bayu untuk mencicipi beberapa makanan yang telah dihidangkan untuk dirinya.
Bayu dengan terpaksa harus mencicipi seluruh makanan itu sampai diri benar benar kekenyangan karena Citra dan yang lainnya tidak berhenti untuk menyuapinya dengan makanan makanan itu, dan hal itu seketika membuat Rifki dan Nadhira tertawa.
"Sudah sudah, kalian bisa pergi, saya sudah kenyang" Ucap Bayu seraya menyuruh Citra dan lainnya segera pergi.
"Baiklah Tuan Muda, kalau ada apa apa anda bisa temui saya nanti, kalau begitu kami permisi dulu" Ucap Citra undur diri.
Bayu hanya mengangguk kepada Citra agar mereka segera pergi meninggalkan tempat itu, rasanya Bayu sudah tidak mampu lagi untuk menampung makanan yang ada diperutnya itu, ia menatap kearah Nadhira dan Rifki yang berada tidak jauh dari dirinya dengan tatapan sebalnya.
Melihat Citra yang sudah melangkah pergi dari tempat itu membuat Nadhira dan Rifki ikut melangkah mendekat kearah dimana Bayu dan anggota Gengcobra berada dengan sebuah tawa kemenangan bagi keduanya.
Rifki segera duduk bersama dengan Bayu dan diikuti oleh Nadhira dengan begitu santainya seakan akan keduanya tidak peduli dengan kondisi Bayu saat ini yang begitu kekenyangan karena begitu banyak makanan yang masuk kedalam perutnya saat ini.
"Kalian menjebakku?" Tanya Bayu dengan kesalnya.
"Bukankah itu adalah hal yang bagus Bay? Aku lihat Citra sangat perhatian dengan dirimu, kau bahkan merasa kenyang sekarang bukan?" Tanya Nadhira balik kepada Bayu.
"Bagus dari mananya? Bagus bahkan sekarang berada dirumahnya sendiri"
"Sudahlah kesal kesalnya itu, bukannya kau sendiri yang ingin menghadiri acara ini sebelumnya? Agar bisa memakan makanan yang dihidangkan disini dengan sepuas hati, bukankah kami berdua sudah mengabulkan hal itu Bay?".
"Tapi ngak begini juga kali caranya Dhira, apa kau sengaja ingin membuat aku mati tiba tiba karena perutku meledak ha?"
"Tidak akan meledak juga kali Bay, paling tidak perutmu akan meletus doang kok ngak sampai meledak juga".
"Itu sama saja Dhira!".
"Beda, kalau meledak itu bunyinya Duarr... dan membuat semua orang akan terkejut dengan bunyi itu, tapi kalau meletus bunyinya Duss... dan tidak akan membuat semua orang terkejut dengan bunyi seperti itu"
"Terserahmu saja Dhira, wanita memang tidak pernah mau untuk disalahkan" Pasrah Bayu.
"Maka dari itu jangan berdebat dengan wanita" Sindir Nadhira dan bukan hanya Bayu yang merasa akan tetapi Rifki pun ikut merasa disindir.
__ADS_1
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...