
Nadhira merasa bahagia ketika melihat Sarah sudah sadarkan diri meskipun tubuhnya itu kini tengah dipenuhi oleh berbagai macam selang dan alat medis dari rumah sakit itu, dan tubuh Sarah terlihat sangat lemah sekali.
"Oma, syukurlah Oma sudah siuman" Ucap Nadhira sambil menekat kearah Sarah yang terbaring dengan lemahnya itu.
"Dhira, Oma sudah menunggumu sangat lama" Ucap Sarah dengan lemasnya.
"Dhira disini Oma, Dhir yakin bahwa Oma pasti baik baik saja"
"Apa kau mencintai Nadhira?" Tanya Sarah kepada Rifki yang berada didekat Nadhira.
"Iya Oma, Rifki sangat mencintai Dhira, Rifki akan berusaha untuk dapat melakukan apapun demi kebahagiaan Nadhira" Jawab Rifki.
"Oma ingin melihat kalian menikah sekarang juga, apakah kalian mau memenuhi keinginan terakhir Oma saat ini Nak?"
"Apa yang Oma katakan? Oma masih memiliki banyak waktu untuk melihat Nadhira menikah dengan Rifki, Jangan tinggalkan Dhira Oma, setelah Oma sembuh nanti Oma akan melihat Dhira dan Rifki menikah" Ucap Nadhira dengan linangan air mata.
"Oma tidak memiliki banyak waktu lebih lama, tolong penuhi keinginan Oma untuk yang terakhir kalinya Nak, Oma mohon kepada kalian berdua, biarkan Oma pergi tanpa adanya penyesalan dalam hidup Oma, Rifki sangat mencintaimu Nak, biarkan Oma melihat kalian menikah"
"Oma pasti baik baik saja, jangan katakan hal seperti itu Oma, Oma pasti sembuh"
Nadhira memejamkan matanya dan air matanya menetes begitu saja, melihat itu membuat Rifki hanya bisa menunduk dan tidak tau apa lagi yang harus dirinya lakukan untuk saat ini.
"Oma akan merasa tenang jika melihat kalian bisa bersama, tolong penuhilah keinginan terakhir Oma"
"Jangan katakan itu Oma hiks.. hiks.. Oma pasti sembuh kan? Dhira tidak mau kehilangan Oma" Ucap Nadhira sambil menggenggam erat tangan Sarah.
"Rifki akan memenuhi keinginan Oma" Ucap Rifki tanpa terasa air matanya juga ikut menetes, ketika Rifki merasa itu dirinya langsung menghapus air matanya dengan kasar.
"Terima kasih Nak"
Rifki mengangguk kepalanya kepada Sarah yang sedang terbaring dengan lemah dan dirinya langsung bergegas keluar dari kamar tersebut untuk memberitahukan hal ini kepada yang lainnya, sementara Nadhira masih tetap berada ditempat itu sambil memegangi tangan Sarah dengan eratnya.
Rifki mendatangi ruangan Dokter yang ada dirumah sakit tersebut untuk meminta izin karena dirinya akan melakukan sebuah pernikahan dirumah sakit tersebut untuk memenuhi keinginan terakhir dari Sarah.
"Jika seperti itu kondisinya , pihak rumah sakit akan mengizinkan kalian untuk mengadakan pernikahan dirumah sakit ini" Putus Dokter tersebut ketika mendengar permintaan dari Rifki.
"Terima kasih Dok" Ucap Rifki dan langsung bergegas pergi dari tempat itu.
Rifki kembali mendatangi keluarganya untuk menyampaikan bahwa pihak rumah sakit telah mengizinkannya untuk melakukan pernikahan dirumah sakit dengan syarat tidak membuat keributan ditempat tersebut hingga membuat pasien yang lainnya terganggu.
"Syukurlah jika seperti itu, Mama dan Papa akan keluar untuk mencarikan gaun pengantin yang baru untuk Nadhira, baju pengantinnya saat ini sudah berlumur darah dan tidak cocok untuk digunakan lagi" Ucap Putri.
"Iya Ma, apapun pilihan Mama nantinya Rifki akan terima" Ucap Rifki sambil mengangguk dan dibalas anggukan oleh kedua orang tuanya.
"Aku akan memanggilkan MUA yang sebelumnya merias Nadhira, untuk merias wajah Nadhira sebelum menikah dirumah sakit ini Rif" Ucap Bayu.
"Iya Bay, usahakan mereka datang tepat waktu"
"Kau tenang saja Rif".
Kedua orang tua Rifki segera pergi dari tempat itu, Bayu langsung bergegas pergi juga dari tempat itu untuk mendatangi MUA yang sebelumnya telah merias wajah Nadhira, melihat kepergian mereka membuat Rifki menjatuhkan tubuhnya untuk duduk didepan ruang rawat Sarah.
Rifki memejamkan matanya sesaat dan langsung mengambil nafas dalam dalam untuk menenangkan pikirannya saat ini, ia tidak akan menyangka bahwa dirinya akan menikah dengan Nadhira disaat seperti ini, dimana Sarah yang terbaring tidak berdaya dan ingin menyaksikan pernikahan itu.
Bi Ira yang melihat Rifki terduduk sambil memejamkan kedua matanya bergegas untuk mendatangi Rifki, merasakan adanya seseorang yang mendekatinya membuat Rifki langsung membuka kedua matanya dan menatap kearah Bi Ira yang berada disebelahnya saat ini.
"Ada apa Bu?" Tanya Rifki yang tiba tiba memanggil Bi Ira dengan sebutan Ibu.
"Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak pantas untuk sebutan itu Nak, bibi hanyalah pembantu rumah tangga saja dan tidak pantas untuk mendapatkan panggilan itu" Ucap Bi Ira terkejut ketika mendengar Rifki memanggilnya Bu.
"Kenapa tidak? Bukankah Nadhira selama ini memangilmu dengan sebutan seperti itu? Kenapa aku tidak bisa Bu?"
"Karena kau adalah pemimpin perusahaan besar, dan ..." Belum selesai Bi Ira melanjutkan perkataannya tiba tiba Rifki memotong ucapannya.
"Itu hanya gelar belaka, aku hanyalah seorang anak, yang ingin menganggapmu juga sebagai Ibuku, jika istriku saja memanggilmu Ibu lantas kenapa aku tidak bisa hanya gara gara kedudukan itu?"
"Rasanya aku tidak pantas untuk menerima hal itu Nak, Bibi sadar bahwa Bibi hanyalah anak yatim piatu yang dibesarkan dipanti asuhan dan tidak pantas untuk diperlakukan seperti itu"
__ADS_1
"Itu hanyalah masalalu Bu dan kebaikan hati Ibu yang membawa Ibu bertemu dengan kami, bahkan kami juga belum tentu bisa sebaik Ibu, sebenarnya sudah sejak lama Rifki ingin memanggilmu dengan sebutan itu, karena kau begitu mulia, tolong izinkan aku untuk memangilmu seperti Nadhira memanggilmu Bu".
"Baiklah jika itu adalah kemauanmu Nak, Bibi merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan kalian yang mampu untuk menghormati orang sepertiku, semoga setelah ini kalian akan bahagia"
"Aamiin, bentar ya Bu, Rifki mau telpon penghulu"
"Iya Nak".
Rifki pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku bajunya, dirinya lalu menekan nomor ponsel yang bertuliskan Pak Supratman selaku penghulu yang dipanggil oleh Rifki sebelumnya akan tetapi pernikahan itu batal.
"Assalamualaikum Pak" Ucap Rifki melalui ponselnya.
"Apa Bapak bisa datang kerumah sakit medica jaya sekarang? Kami akan melakukan pernikahan dirumah sakit sekarang Pak"
"Baik Pak, kami tunggu"
Rifki pun lalu menutup telponnya dan kembali memasukkan ponselnya kedalam saku bajunya, ia pun merasa lega ketika penghulu tersebut bisa datang ke rumah sakit saat ini.
"Bagaimana Nak?" Tanya Bi Ira.
"Alhamdulillah bisa Bu, sebentar lagi beliau akan jalan kemari kok Bu"
"Alhamdulillah kalau gitu".
Sementara disatu sisi Nadhira masih berada didalam isak tangisnya sambil memegangi tangan Sarah yang nampak sama sekali tidak memiliki tenaga itu, apalagi tangan Sarah yang terlihat sedikit keriput tersebut.
"Jangan menangis Nak, sebentar lagi kau akan menikah dengan orang yang kau cintai, Oma lihat bahwa Rifki sangat mencintaimu".
"Dhira hanya ingin bersama dengan Oma"
"Biarkan Oma melihat senyumanmu Nak, tersenyumlah untuk Oma sekarang ini, agar Oma bisa terus mengingatnya disyurga nanti"
"Jangan katakan itu Oma hiks.. hiks.. Oma tidak boleh meninggalkan Dhira, Oma harus sembuh, hanya Oma yang Dhira punya".
"Dengarkan Oma, jangan bersedih lagi dan biarkan Oma pergi dengan tenang, Oma sangat menyayangi Dhira, Oma bersyukur karena telah dipertemukan dengan cucu sepertimu Nak".
"Terima kasih Ya Allah karena telah mempertemukan hamba dengan cucu yang baik hati, Hamba merasa tenang karena dia sudah menemukan calon yang tepat, semoga hanya ada kebahagiaan didalam hidupnya, biarkan cucu hamba bahagia Ya Allah"
Mendengar doa yang diucapkan oleh Sarah membuat air mata Nadhira berjatuhan, sementara Sarah menampakkan sebuah senyuman bahagia diwajahnya, Sarah sama sekali tidak menyesal karena dirinya menyelamatkan Nadhira.
Kehilangan nyawa tidak begitu menakutkan bagi dirinya itu, akan tetapi dirinya sangat takut jika harus kehilangan Nadhira yang selalu ada untuknya, melihat Nadhira bahagia sudah cukup baginya.
"Dimana David?" Tanya Sarah.
"Om ada diluar Oma, apa Oma meminta untuk dipanggilkan kemari?"
"Tidak perlu Nak, nanti dia akan datang kemari sendiri kok, Oma hanya ingin melihat senyumanmu saja, biarkan Oma melihatnya Nak".
Dengan terpaksa Nadhira menarik ujung bibirnya keatas dan menampakkan sebuah senyuman kepada Sarah, senyuman yang mengandung seribu duka didalamnya sehingga air matanya juga ikut mengalir dengan derasnya meskipun bibirnya tersenyum.
Tanpa keduanya sadari bahwa kini Rifki tengah berdiri disamping pintu dan memperhatikan keduanya, Rifki merasa sedih ketika mendengar kata kata yang diucapkan oleh Sarah saat ini, hal itu sangat menyakitkan baginya maupun Nadhira.
"Kenapa harus ada kristal putih disana? Jangan menangis sayang, mulai sekarang jangan pernah menangis lagi, atau Oma akan mengutuki Rifki dari sana karena dia tidak becus untuk menjaga cucuku yang cantik ini".
"Rifki tidak akan pernah menyakiti Dhira Oma, Rifki berjanji kepada Oma, bahwa Rifki akan selalu setia kepada Nadhira meskipun maut memisahkan nanti, bahkan maut sendiri pun tidak akan pernah bisa memisahkan kami berdua" Ucap Rifki.
Mendengar ucapan Rifki membuat Sarah tersenyum, menyerahkan Nadhira kepada Rifki adalah hal yang benar karena Rifki akan menjaga Nadhira dengan baik dan Sarah akan merasa tenang karena ada seseorang yang mampu untuk melindungi dan menyayangi Nadhira sepenuh hati.
"Oma akan terus menagih janjimu diakhirat nanti Nak, Oma harap kau mampu untuk menepatinya"
"Iya Oma, jika Rifki berani menyakiti hati Nadhira maka Rifki siap untuk kehilangan nyawa ditangan Nadhira sendiri, Nadhira berhak untuk mengambil nyawa Rifki dan Nadhira berhak atas tubuh ini sepenuhnya"
"Itu sudah lebih dari cukup dari apa yang Oma inginkan Nak, Oma serahkan tanggung jawab Nadhira sepenuhnya kepadamu, jangan pernah menyakitinya secara fisik ataupun batin, Oma tidak rela jika kau melakukan itu kepada Nadhira".
"Iya Oma, Oma tidak perlu khawatir soal Dhira, Rifki akan berusaha untuk selalu menjaganya dan akan selalu membahagiakannya"
"Dengarlah Nak, calon suamimu sangat baik kan? Kau sangat beruntung karena bisa memilikinya sebentar lagi"
__ADS_1
Tak beberapa lama kemudian datanglah Bayu beserta beberapa petugas MUA, bersamaan dengan kedatangan Haris dan Putri yang telah membawakan baju pengantin yang begitu simpel.
Mereka lalu mempersiapkan untuk memake up Nadhira dan Rifki, ketika Nadhira dimake up air matanya tak henti hentinya menetes dan hal itu membuat petugas MUA kebingungan karena make upnya akan luntur.
"Mbak, jangan menangis, make upnya ngak bisa nyatuh dikulit wajah Mbak loh, bagaimana kami bisa meriasnya Mbak?" Ucap salah satu petugas MUA yang sedang merias Nadhira.
"Bagaimana bisa saya tidak menangis Mbak? Melihat keadaan Oma saya seperti itu, sebenarnya saya tidak ingin menikah diwaktu seperti ini, apalagi Oma belum sembuh" Ucap Nadhira.
"Yang sabar ya Mbak, jangan menangis lagi Mbak nanti kami kesulitan untuk melukis wajah Mbaknya, sayang banget kalo cantik cantik menangis seperti ini, kita doakan saja ya semoga Omanya Mbak segera sembuh dan kembali sehat seperti semula"
"Aamiin".
Nadhira pun mengambil nafas dalam dalam dan mencoba untuk menghapus air matanya, ia berusaha untuk menjernihkan pikirannya dan dirinya fokus pada make upnya itu, ia membuang pikiran buruknya jauh jauh dan beranggapan bahwa Sarah akan baik baik saja nantinya.
Melihat itu membuat pihak MUA tersenyum tipis dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira, mereka pun langsung bergegas untuk merias wajah Nadhira setelah air mata Nadhira berhenti untuk menetes.
"Mbak cantik sekali deh" Puji salah satu petugas MUA yang merias Nadhira.
"Mbak bisa saja" Jawab Nadhira sambil tersenyum tipis kearah kaca yang telah disediakan sebelumnya.
Nadhira mencoba untuk tegar menjalankan pernikahan ini demi Sarah, meskipun air matanya ingin sekali dirinya keluarkan akan tetapi dirinya sama sekali tidak mau terlihat sedih dihadapan semua orang, ia tidak ingin semua orang melihat kesedihan yang ada diwajahnya itu.
"Tinggal selangkah lagi habis itu selesai, kita ganti pakaian dulu ya Mbak"
"Iya Mbak".
Setelah selesai merias Nadhira, petugas MUA tersebut segera membantu Nadhira untuk memakaikan gaun pengantin dikamar mandi yang ada didalam ruangan tersebut.
Ketika Nadhira masih berada didalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, datanglah penghulu yang telah dipanggil oleh Rifki, melihat kedatangannya itu membuat Rifki dan yang lainnya segera menyambut kedatangannya itu.
"Dimana mempelai wanitanya?" Tanya penghulu itu kepada Rifki.
"Tunggu sebentar Pak, dia masih berganti pakaian didalam kamar mandi" Jawab Rifki dan membuat penghulu tersebut mengangguk mengerti.
Kedua anggota keluarga sudah berkumpul ditempat itu untuk menyaksikan pernikahan antara Rifki dan Nadhira itu, Nandhita dan Stevan yang menyaksikan itu hanya bisa bergenggaman tangan dengan sangat eratnya.
Nandhita meneteskan air matanya ketika melihat tubuh Sarah yang dalam keadaan sangat lemah itu, ini adalah sebuah pernikahan penuh dengan kesedihan, entah harus bahagia atau sedih seakan akan semuanya bercampur menjadi satu.
"Apakah semuanya akan baik baik saja?" Tanya Nandhita pelan kepada Stevan.
"Iya sayang, kita berdoa saja ya, semoga Oma segera sembuh agar bisa bermain dengan anak kita nantinya" Ucap Stevan sambil membelai rambut panjang Nandhita.
"Aku harap juga begitu".
Tak beberapa lama kemudian akhirnya Nadhira keluar dari kamar mandi dan langsung membuat semua orang terpana kepadanya, gaun pengantin yang dipilihkan oleh Putri sangat cocok digunakan oleh Nadhira, Nadhira terlihat sangat cantik.
Putri dan Haris melihatnya merasa sangat bahagia ternyata gaun yang mereka pilihkan sangat sesuai dengan hiasan dikepala Nadhira, mereka menyambut kedatangan Nadhira dengan sebuah senyuman.
Semua mata tertuju kepada Nadhira yang berjalan dengan perlahan mendekat kearah Rifki, yang saat ini tengah berdiri didekat tempat tidur Sarah, Sarah yang melihat Nadhira yang telah selesai dimake up hanya bisa tersenyum tipis.
"Bisa kita mulai pernikahannya?" Tanya penghulu.
"Bisa Pak" Jawab Rifki.
Putri memasangkan sebuah kain untuk menutupi kepala Rifki dan Nadhira, Nadhira terlihat menunduk dan menatap wajah Sarah yang sedang tersenyum menyaksikan pernikahan keduanya saat ini.
Penghulu tersebut mulai mengangkat tangannya untuk menjabat tangan Rifki, sementara Rifki yang melihat itu langsung menerima uluran tangan tersebut dan bersalaman.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Ahmad Rifki Chandra Abriyanta bin Haris Pratama Abriyanta dengan saudari yang bernama Nadhira Novialiana Putri dengan maskawinnya berupa uang sebanyak 1 miliar dan seperangkat alat sholat, dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Nadhira Novialiana Putri dengan maskawin tersebut dibayar tunai" Ucap Rifki dengan lantang dan tegasnya.
"Bagaimana para saksi Sah?"
"Sah" Jawab semua orang bersamaan.
"Alhamdulillahi rabbil alamin......" Ucap penghulu dan dilanjutkan dengan doa doa.
__ADS_1
Setelahnya penghulu tersebut menyiapkan berkas berkasnya, ia pun menuliskan nama Nadhira dan Rifki didalam sebuah buku pernikahan dan dilanjutkan dengan Nadhira dan Rifki menandatangani buku pernikahan tersebut.