
"Kalian lancang!" Ucap Rifki diakhir cerita Bayu.
"Lancang kenapa? Kami sudah membeli pisang itu Rif, bahkan telah membayarnya lebih" Bantah Bayu.
"Kalian membeli dimana? Apa saja yang kalian lakukan disana?"
"Didesa Flamboyan, kami hanya keliling desa itu untuk mencari rumah penduduk yang memiliki pohon pisang saja Rif"
"Beneran kalian ngak ngapa ngapain disana?"
"Ngak Rif, kami ngak berbuat aneh aneh kok ditempat itu, beneran deh, kami bertiga ngak buat aneh aneh tadi"
"Lalu kenapa dia sampai marah sama kalian? Sekarang dia marah sama kalian bertiga" Ucap Rifki sambil menunjuk kearah ruang hampa. "Dan yang kalian datangi itu bukan desa Flamboyan, tapi pemakaman keramat yang tidak jauh dari hutan"
"APA!" Sontak ketiganya berteriak bersamaan.
"Yakin kalian ngak ngapa ngapain disana? Kenapa mereka bisa marah seperti itu? Mereka bahkan menginginkan nyawa kalian"
"Kami ngak aneh aneh kok Rif" Ucap Bayu.
"Iya Tuan Muda, beneran" Ucap Reno.
"Kami menemukan ini" Fajar memberikan sesuatu kepada Rifki.
Rifki membelalakkan matanya ketika melihat barang yang diberikan oleh Fajar tersebut, barang tersebut memiliki energi yang sangat kuat dan hal itu langsung membuat Rifki merasa sangat lemas karena energi dari barang tersebut.
Sebuah cincin yang berbentuk seperti kepala banteng tersebut, membuat Bayu dan Reno begitu sangat terkejut karena keduanya sebelumnya tidak pernah melihat benda tersebut akan tetapi Fajar mengambilnya dengan diam diam karena dirinya merasa tertarik dengan benda tersebut.
"LANCANG!" Bentak Rifki.
"Ada apa Rif?" Tanya Bayu yang terkejut ketika mendengar bentakan dari Rifki.
"Cepat kembalikan barang itu ketempatnya, itu bukan milik kalian, pantas saja mereka marah dengan kalian bertiga, untung saja kalian tidak dibawa oleh mahluk mahluk gaib itu kealam mereka"
"Jar, kau harus tanggung jawab untuk mengembalikannya ditempatnya semula" Ucap Bayu.
"Takut ah, kalian saja yang mengembalikannya" Jawab Fajar ngeri.
"Kenapa harus kami? Kau sendiri yang mengambilnya bukan kami jadi kau yang harus mengembalikannya sendiri Jar" Sela Reno.
"Tuan Muda tolongin aku" Rengek Fajar kepada Rifki.
"Antarkan aku kesana sekarang juga, biar aku sendiri yang akan meminta maaf kepada mereka, aku bisa melihat mereka, mereka sangat marah kepada kalian bertiga" Ucap Rifki.
"Baik Tuan Muda"
"Lalu bagaimana dengan pisang gorengnya Tuan Muda?" Tanya Reno.
"Dhira sudah tidur, mungkin akan bangun besok pagi"
"Sia sia dong kita perginya?" Tanya Bayu.
"Emang kalian dapat? Ngak kan?" Tanya Rifki balik.
"Iya juga sih"
Rifki pun langsung berjalan kearah mobil tersebut dan menyuruh Fajar untuk menyetir mobil itu, keduanya pun bergegas pergi dari markas untuk mengembalikan sesuatu yang telah diambil oleh Fajar sebelumnya.
( Pesan Author : jika kalian berada ditempat yang tidak dikenal jangan sesekali mengambil apapun yang bukan milik kalian, bisa jadi itu adalah jebakan dari mahluk halus untuk menculik kalian, didunia ini tidak hanya ada mahluk yang dapat kalian lihat saja, tapi banyak mahluk yang tak kasat mata juga, saling menghormati insya Allah akan damai )
*****
Keesokan paginya Nadhira terbangun dari tidurnya akan tetapi tidak mendapati sosok Rifki berada disebelahnya, ia pun bangkit dari tidurnya untuk mencari tau tentang keberadaan dari Rifki.
"Kemana sih anak ini, pagi pagi sudah ngak ada aja" Guman Nadhira.
Nadhira pun bergegas untuk keluar dari kamar itu, ketika ia membuka pintu kamarnya bayangan Rifki terlintas didepannya, Nadhira pun segera berlari kearah Rifki dan langsung menjatuhkan pelukannya kedalam tubuh Rifki.
"Kemana saja?" Tanya Nadhira.
"Ini masih pukul 4 pagi, tumben sudah bangun jam segini" Tanya Rifki sambil menatap wajah Nadhira.
"Ngak bisa tidur tanpa dirimu, kemana aja sih pagi pagi seperti ini sudah menghilang saja"
"Fajar membuat masalah sayang, maaf ya"
"Masalah apa?"
"Masalah dengan mahluk gaib, tapi kamu tenang saja semuanya sudah selesai kok"
"Kamu ngak apa apa kan Rif?"
"Ngak apa apa kok, aku baik baik saja sayang"
"Jangan pergi seperti ini lagi, aku ngak mau ditinggal sendirian Rif"
"Iya sayang, maafin ya, oh iya sudah mandi belom? Sebentar lagi adzan subuh tuh, sholat dulu"
__ADS_1
"Belom mandi Rif, kan bangun tidur tadi langsung mencarimu, dikamar ngak ada"
"Ya sudah ayo mandi dulu"
Rifki pun mengajak Nadhira kembali masuk kedalam kamarnya, sebenarnya saat ini dirinya sangat kelelahan karena tidak tidur semalaman dan juga berusaha dengan hal hal gaib, akan tetapi dirinya berusaha untuk terlihat baik baik saja didepan Nadhira saat ini, ia tidak ingin Nadhira cemas karenanya itu.
*****
Rifki dan Nadhira saat ini tengah berada didalam perjalanan menuju kerumah kedua orang tuannya, Nadhira sudah tidak ingin pisang goreng lagi akan tetapi dirinya masih pengen mangga muda yang ada dirumah kedua mertuanya itu.
Nadhira memeluk tubuh Rifki dengan eratnya karena saat ini keduanya tengah menaiki sepeda motor milik Rifki, sehingga Nadhira sangat mudah untuk memeluk tubuh Rifki sebagai pegangannya agar tidak jatuh kebelakang.
"Sayang, apakah dirumah Mama beneran ada pohon mangga?" Tanya Nadhira.
"Ada kok sayang dihalaman belakang rumah, dulu Kakek yang nanam disana jadi sekarang sudah besar pohonnya, Kakek suka sekali berkebun sehingga dibelakang rumah banyak tanaman"
"Mangga apa sayang?"
"Mangatoon haha..."
"Ih beneran Rif! Jangan bercanda ah"
"Iya deh iya, dirumah ada mangga harum manis"
"Cepetan Rif, aku pengen banget"
"Iya sabar Dhira, pohonnya juga ngak bakalan pindah kok tenang saja"
Nadhira pun semakin memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya, ia pun menyandarkan dagunya dipundak Rifki meskipun keduanya memakai helm saat ini, akan tetapi hal itu sama sekali tidak menghalangi Nadhira untuk menyandarkan kepalanya dipundak sang suami.
Sesampainya dirumah kedua orang tua Rifki, Nadhira langsung bergegas masuk kedalam rumah tersebut tanpa menunggu Rifki untuk memarkirkan sepeda motornya terlebih dahulu, Rifki hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Nadhira itu.
Setelah selesai memarkirkan sepeda motor itu, Rifki segera bergegas untuk masuk kedalam rumahnya akan tetapi dirinya tidak menemukan keberadaan dari Nadhira, ia pun menuju kehalaman belakang rumahnya itu dan mendapati Nadhira beserta Putri yang tengah memegangi gala untuk mengambil mangga yang berada diatas pohon.
Untung saja saat ini pohon mangga itu tengah berbuah meskipun tidak terlalu lebat, jika saja pohon itu tidak berbuah Rifki tidak tau lagi harus mencari mangga muda dimana, karena jika beli belum tentu mangga itu masih muda.
"Sini Ma, biar Rifki saja yang ngambil" Ucap Rifki sambil meraih gala yang ada ditangan Putri.
"Biar Mama saja, kamu duduk aja" Ucap Putri.
"Gimana kalo kamu manjat saja Rif?" Tanya Nadhira kepada Rifki.
"Manjat pohon?"
"Iya lah, mau manjat apa lagi?"
"Iya deh iya, aku manjat"
"Mama buatkan sambalnya dulu ya" Ucap Putri.
"Iya Ma" Jawab Nadhira.
"Mangga yang mana sayang?" Teriak Rifki dari atas pohon mangga.
"Yang diatasmu itu saja sayang, melihatnya enak banget deh" Ucap Nadhira sambil menunjuk nunjuk.
"Yang ini?"
"Sebelahnya lagi"
"Apa yang ini?"
"Ngak jadi, lebih keatas lagi sayang, manjat lebih tinggi lagi sayang"
"Hufftt... Baiklah" Rifki membuang nafas besar.
Rifki pun memanjat pohon itu lebih tinggi lagi untuk mengambil mangga yang diinginkan oleh Nadhira itu, setelah mendapatkan mangga muda itu dan beberapa mangga yang lainnya juga, Rifki segera turun dari pohon mangga dan memberikan mangga mangga itu kepada Nadhira.
Nadhira sangat gembira ketika menerima mangga itu dan sesekali menciumi aroma mangga muda yang sangat khas tersebut, aromanya saja sudah membuat Nadhira melelehkan air liurnya, ia sudah tidak sabar lagi untuk memakan mangga itu.
"Kakak, tumben Kakak kemari tidak bilang bilang" Sapa Ayu yang baru keluar dari kamarnya setelah mendengar suara keributan diluar.
"Kamu ngak sekolah Ay?" Tanya Rifki.
"Ini kan hari minggu Kak, masak Kakak lupa sih"
"Astaghfirullah, iya Kakak baru sadar kalo sekarang hari minggu"
"Dasar pelupa" Gerutu Nadhira.
"Kakak ipar mau buat apa?" Tanya Ayu ketika melihat Nadhira membawa buah mangga muda.
"Mau buat rujak mangga muda" Jawab Nadhira.
"Eh iya aku dengar dengar Kakak ipar lagi hamil ya? Selamat ya Kak, sebentar lagi aku punya Adek kecil" Ayu terlihat sangat gembira mendengar bahwa Nadhira tengah hamil saat ini.
"Makasih ya Adek cantik" Ucap Nadhira.
__ADS_1
"Iya Kak, sini mangganya biar aku kupasin, Kakak duduk saja digazebo"
"Maaf ya, Kakak ngerepotin"
"Ngak Kak, Ayu malah seneng kalo Kakak main kemari, sering sering ya Kak datang kemari, biar Ayu ada temennya"
"Iya Ay"
Ayu pun masuk membawa mangga yang ada ditangannya saat ini, sebagian mangga yang lainnya Rifki masukkan kedalam kantung plastik untuk dibawa pulang nantinya, dan dua buah mangga muda kini tengah dikupas oleh Ayu.
Tak beberapa lama kemudian sambal rujak tersebut telah selesai dibuat, Ayu sendiri pun telah selesia mengupas dan mencuci buah mangga tersebut, keduanya langsung bergegas menuju ke gazebo tempat dimana Nadhira dan Rifki berada saat ini.
Nadhira dengan gembira menyambut kedatangan keduanya, lebih tepatnya gembira karena rujak mangga muda yang telah selesai dibuat, melihat Nadhira yang sangat gembira tersebut membuat Putri merasa senang.
"Papa mana Ma?" Tanya Rifki.
"Seperti biasanya dengan Ayah, keduanya kan jarang dirumah" Jawab Putri.
Rifki memanggut manggut mengerti, sementara kini Nadhira tengah memakan rujak mangga muda tersebut dengan lahapnya, Nadhira memakan mangga itu tanpa menyengir sedikitpun hingga Rifki berpikir bahwa mangga itu manis.
"Kak, ngak asem?" Tanya Ayu yang sejak tadi memperhatikan Nadhira yang tengah memakan rujak mangga muda dengan lahapnya.
"Ngak, ini seger banget tau Ay, enak banget, cobain deh" Ucap Nadhira mengebu gebu.
Ayu pun penasaran dengan rasa mangga muda itu, ia pun mengambil satu cuil mangga itu, dan memasukkannya kedalam mulutnya, akan tetapi sekali gigit saja dirinya langsung menyengir hingga melepehkan buah mangga itu.
"Huek... Asem banget Kak" Keluh Ayu.
"Lidahmu dan dia beda Ay, dia hamil sedangkan dirimu tidak" Ucap Rifki.
"Kalo wanita hamil emang bisa mati rasa ya Kak? Asem banget malah dibilang seger lagi"
"Entahlah, Kakak ngak pernah hamil, bahkan bukan hanya itu saja Ay, masak Kakak yang wangi gini dibilang baunya ngak enak sih, kan ngak masuk akal"
"Lelaki mana bisa hamil, mau gantian sama diriku? Kamu yang hamil" Tanya Nadhira kepada Rifki.
"Boleh, nanti kalo aku ngidam kamu ya yang harus tanggung jawab ya" Ucap Rifki.
"Ngak mau"
Mendengar percakapan dari ketiganya membuat Putri merasa senang, kedatangan Nadhira dan Rifki yang tiba tiba seperti itu membuatnya merasa terkejut sekaligus bahagia, apalagi ketika dirinya mengetahui bahwa dirinya akan memiliki cucu.
"Rif, aku ingin kamu yang makan, aku sudah kenyang sekarang" Ucap Nadhira sambil menyodorkan rujak mangga muda itu kepada Rifki.
"Ngak ah, asem Dhira"
"Ayolah sayang, aku ingin lihat kamu yang makan"
"Turuti saja Nak, emang kalo wanita hamil itu banyak keinginannya" Sela Putri.
"Bener kata Mama, makanlah Rif"
"Tapi asem Dhira"
"Ngak, ini manis dan segar Rif"
Rifki pun dengan terpaksa lalu mengambil potongan mangga muda itu dan memasukkannya kedalam mulutnya dengan perlahan lahan, melihat hal yang dilakukan oleh Rifki tersebut membuat Ayu mendadak langsung menyengir dengan sendirinya.
Sementara Nadhira sangat antusias untuk menyaksikan Rifki yang akan memakan rujak mangga muda tersebut, satu kali gigitan saja langsung membuat Rifki menyengir karena rasa asam yang langsung membuat giginya merasa ngilu.
Setiap ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Rifki sama sekali tidak luput dari pengelihatan Nadhira, Nadhira pun menyangga kepalanya dengan kedua tangannya sambil menatap kearah Nadhira dengan sebuah senyuman yang sangat manis.
Melihat Rifki yang memakan mangga itu dengan menyengir membuat Nadhira sangat menikmatinya, sepotong saja belum habis, Rifki membutuhkan waktu kurang lebih lima menit untuk menghabiskan secuil mangga muda itu.
"Sayang kamu manis banget sih" Puji Nadhira.
"Wajahku kan memang manis sejak dulu sayang, mangganya aja yang asem banget, astaghfirullah"
"Makan yang banyak dong sayang, habiskan"
"Butuh waktu seharian Dhira untuk menghabiskan mangga ini deh, ini asem banget sumpah Dhira"
"Pokoknya habiskan, aku pengen lihat kamu makan"
"Satu cuil saja belom habis sayang, tolong kasihanilah diriku sayang" Rengek Rifki.
"Kakak kalo dihadapan Kakak ipar kayak anak kecil yang lagi minta permen ya Ma, ngemesin pengen nampol" Ucap Ayu kepada Putri.
Ucapan Ayu tersebut langsung mendapat lirikan tajam dari Rifki, hal itu membuat Ayu langsung bergidik ngeri melihatnya, sementara Putri malah tertawa melihat kedua anaknya itu.
"Ma, takut" Ucap Ayu sambil bersembunyi dibalik punggung Putri.
"Sudah Rifki, jangan pelototin Adekmu seperti itu" Ucap Putri yang membela Ayu.
"Huftt.. Nih anak, jangan nakut nakuti gitu dong, kasihan Adek iparku" Nadhira langsung menutupi kedua mata Rifki menggunakan tangannya.
"Iya sayang iya, lepasin dong"
__ADS_1
Nadhira pun melepaskan pegangannya dari kedua mata Rifki, Rifki pun melanjutkan makannya sesuai dengan permintaan dari Nadhira, entah sampai kapan dirinya akan terus memakan makanan seperti itu, dan Rifki berharap bahwa Nadhira akan berubah pikiran untuk tidak jadi menyuruhnya untuk menghabiskan rujak mangga muda itu.
Akhirnya keinginannya itu terwujud, Nadhira melanjutkan makannya dan meminta Rifki untuk berhenti memakan makanan yang asam itu karena Nadhira merasa sedikit kasihan dengan suaminya itu, ingat ya sedikit!