
Dipagi yang sangat cerah, burung berkicauan dengan riangnya hingga membuat pagi yang indah itu terasa begitu hidup dan nyata, kebahagiaan dapat dirasakan oleh orang orang yang tengah melakukan aktivitas dipagi hati begitu murni dan sangat mendamaikan hati.
Termasuk juga pasangan suami istri yang tengah melakukan aktivitas mereka masing masing dengan hati yang sangat gembira dan kebahagiaan menyelimuti diri mereka, itulah yang dirasakan oleh Nadhira dan Rifki saat ini.
Hari berlalu begitu cepatnya kini usia kandungan Nadhira menginjakkan pada usia ke empat bulan, dan hal itu membuat perut Nadhira lebih besar daripada sebelumnya dan hal itu membuat Nadhira sedikit kesusahan untuk bergerak.
Nadhira dan Rifki saat ini tengah menunggu diruang tunggu disebuah rumah sakit untuk menunggu nama Nadhira dipanggil dan diperiksa oleh Dokter kandungan, sekarang adalah jadwal pemeriksaan rutinan untuk Nadhira dan anak yang ada didalam kandungan Nadhira agar keduanya sehat.
"Rif, aku udah ngak sabar pengen cepat cepat lihat jenis kelamin anak kita, ini hari yang paling aku nanti nantikan Rif" Ucap Nadhira dengan semangatnya.
"Iya sayang, aku juga tidak sabar ingin lihat bentuk wajah anak kita, pasti kalo perempuan cantik seperti dirimu" Jawab Rifki dengan senyuman yang seolah olah dipaksakan.
Rifki masih teringat dengan jelas kata kata yang diucapkan oleh Papanya beberapa hari yang lalu, hal itu selalu saja menganggu pikirannya, dan seolah olah ada kesedihan yang mendalam didalam relung hatinya itu.
Sikap Rifki seakan akan berubah beberapa hari ini karena perkataan dari Papanya yang sangat membekas, dia lebih banyak diam dan merenung, sesekali dirinya akan menanggapi ucapan Nadhira dengan sebuah senyuman.
"Apa yang kamu pikirkan Rif? Belakang ini kamu terlihat sangat pendiam bahkan senyum saja terlihat sangat tidak bahagia, tidak seperti dulu"
"Itu hanya pikiranmu saja sayang, aku ngak apa apa kok beneran, yang penting kamu dan anak kita baik baik saja, itu sudah cukup bagiku"
"Apa yang dikatakan oleh Papa waktu itu? Sejak dirimu mengobrol berdua dengan Papa, kau seakan akan sering melamun dan setiap aku bertanya kepadamu selalu saja jawabannya ngak apa apa, padahal ucapanmu berbeda jauh dari kenyataannya"
"Dhira, berjanjilah kepadaku bahwa kau akan baik baik saja, kau tidak akan pernah meninggalkan diriku"
"Rif, ada apa dengan dirimu? Kau mengatakan seolah olah aku akan pergi jauh darimu saja, aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu Rif, kita akan selalu bersama selamanya"
"Aku takut kau kenapa kenapa sayang, aku takut kau akan pergi meninggalkan diriku sendiri, aku tidak mau kehilanganmu sayang, aku ingin selalu berada disampingmu selamanya"
"Aku pasti akan baik baik saja, kita tidak akan pernah berpisah Rif, kau adalah hidupku tanpamu aku tidak akan pernah bisa hidup"
"Berjanjilah kepadaku bahwa kau akan baik baik saja Dhira, berjanjilah bahwa kau tidak akan pergi jauh dariku, aku mohon, aku sangat takut kehilanganmu"
"Aku berjanji sayang, apapun yang terjadi nantinya kita akan selalu bersama".
"Terima kasih Dhira, aku sangat mencintaimu"
Semakin hari bertambah rasa takut akan kehilangan itu semakin terasa bagi Rifki, ia tidak ingin berpisah dengan Nadhira walaupun hanya sesaat saja, ia sangat takut kalau kejadian beberapa tahun yang lalu akan terulang lagi kepada keduanya.
Setiap ucapan yang diucapkan oleh Rifki terasa aneh bagi Nadhira, kadang kala Nadhira sendiri merasa sangat sedih jika mendengar ucapan Rifki yang seakan akan mengandung sebuah rahasia yang besar, Nadhira tidak takut jika nyawanya akan melayang tapi dirinya takut jika terjadi sesuatu dengan Rifki dan juga calon anaknya itu.
"Ibu Nadhira, giliran anda silahkan masuk" Ucap seorang Dokter kandungan yang biasanya memeriksa Nadhira.
"Iya Dok, ayo sayang" Ajak Rifki.
Nadhira dan Rifki lalu bangkit dari duduknya untuk menuju keruangan pemeriksaan, Nadhira lalu berbaring diatas bangkar yang telah disediakan diruangan tersebut dengan bantuan dari Rifki, sementara Rifki duduk disebelah Nadhira sambil mengenggam erat tangan Nadhira.
Dokter wanita tersebut segera memberikan sebuah jell diperut Nadhira dan mengusapnya hingga rata, dingin yang Nadhira rasakan saat ini, Nadhira melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin dari anak yang ada didalam kandungnya itu.
"Kandungan Ibu Dhira sehat" Ucap Dokter itu.
"Alhamdulillah" Ucap Nadhira dan Rifki bersamaan.
Dokter itu lalu melakukan pemeriksaan kepada Nadhira, selama pemeriksaan tersebut Nadhira nampak begitu gugup karena dirinya sudah tidak sabar melihat gambaran anaknya didalam layar monitor yang berada didekatnya itu.
Dokter itu lalu memasang sebuah alat USG, kedua orang itu kini tengah menghadap kearah layar monitor untuk melihat kondisi anak mereka yang masih berada didalam perut Nadhira saat ini.
"Dari hasil tes menunjukkan bahwa anak kalian laki laki" Ucap Dokter itu.
Mendengar jawaban dari sang Dokter membuat Rifki berdiam diri sejenak, inilah yang ia takutkan karena anak laki laki akan mewarisi keris pusaka xingsi tersebut dan benar saja anak pertama mereka adalah seorang laki laki.
Rifki menyentuhkan tangannya kelayar monitor tersebut dan mengusap pelan layar itu, entah saat ini perasaannya terasa seperti campur aduk antara bahagia dan juga ketakutan yang mendalam akan kehilangan kedua orang yang ia sayangi itu.
"Hidungnya sama sepertimu Rif" Ucap Nadhira seraya menatap kearah monitor.
"Dia anakku Dhira, jelas hidungnya akan mirip dengan diriku, kalo sampai mirip dengan tetangga itu yang gawat, nanti malah dicurigai lagi" Jawab Rifki.
"Kenapa tidak ada mirip miripnya sih denganku, semuanya mirip denganmu, dari matanya, hidungnya, bibirnya, dan bahkan jari jari kakinya saja mirip selali dengan dirimu, entah perut Mamanya hanya kontrakan saja kali ya, sampai sampai tidak ada mirip miripnya dengan Mamanya sendiri"
"Dia kan emang anakku, tidurnya nyaman sekali didalam ya, sampai sampai tidak terganggu dengan ucapan kita, biasanya aja langsung nendang nendang didalam"
"Benar benar dijadikan kontrakan oleh bayi ini"
__ADS_1
Mendengar ucapan Nadhira itu membuat Dokter yang tengah memeriksa dirinya itu harus menahan tawanya, ia merasa iba karena anak yang ada didalam kandungan pasienmya itu sama sekali tidak mirip dengan Ibunya dan justru sangat mirip dengan Ayahnya.
"Mungkin sikapnya nanti akan mirip denganmu Dhira, dia kan anak kita berdua"
"Kalo ngak mirip, wajib dicurigai nih anak, masak iya sih perutku cuma dijadikan kontrakan saja, udah dapat tempat gratis, makan dan minum pun gratis"
"Ya ngak lah sayang, mana ada kontrakan senyaman itu, meskipun tinggal dikontrak ngak gitu juga sih nyamannya, palingan juga dianggap sebagai kos kosan doang sayang"
"Ih Rifki, makin parah tau ngak sih? Tapi pantes aja dia nyaman begitu, jari jarinya sedang berpegangan pada tali pusarnya Rif, lucu sekali, kecil dan imut lagi"
"Iya Dhira, erat sekali ya pegangannya, sepertinya dia akan menjadi jagoan kecil kita nih, nanti Papa ajarin beladiri deh kalo sudah lahiran nanti"
Nadhira tersenyum sambil menatap kearah layar monitor yang menampakkan anaknya yang sedang tertidur dengan nyenyaknya kali ini, ia merasa damai ketika melihat anaknya dalam kondisi sehat karena Rifki yang selalu menjaga pola makannya dan juga memberikan makanan yang sehat untuknya beserta dengan anak yang ada diperutnya.
Pemeriksaan itu pun selesai, Rifki membantu Nadhira untuk turun dari bangkar yang ada didalam ruangan tersebut, Dokter itu pun memberikan beberapa bungkus roti ibu hamil kepada Nadhira, Nadhira sangat senang menerimanya karena rasa dari roti tersebut begitu enak.
Kini keduanya sudah berada didalam mobil, Nadhira lalu membuka bungkus roti ibu hamil tersebut dan memakannya dengan lahap, melihat Nadhira yang bahagia seperti itu membuat Rifki merasa jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
"Sayang ini enak banget" Ucap Nadhira.
"Pelan pelan makannya sayang, nanti tersedak"
"Sayang, kamu harus cobain deh, enak loh" Nadhira pun menyodorkan roti tersebut kedalam mulut Rifki.
Rifki lalu mengigit roti itu dan merasakan enaknya roti tersebut, bekas gigitan Nadhira itu membuat roti tersebut semakin terasa enak bagi Rifki, Rifki lalu mengunyahnya secara perlahan lahan sambil menikmati cita rasa yang sangat enak itu.
"Enak banget sayang" Ucap Rifki.
"Benarkan apa yang aku bilang? Tapi sayang sekali roti seperti ini tidak diperjual belikan"
"Karena kan khusus ibu hamil sayang, bagaimana nanti kalo aku hamil gara gara makan roti ini?"
"Baguslah, kita akan memiliki dua anak sekaligus"
"Bagaimana kalo tiga anak? Biar ngak nanggung sayang, jadi kalo berantem makin rame"
"Tapi dirimu yang hamil ya? Hamil itu melelahkan tapi setelah mengetahui anak kita baik baik saja, aku merasa sangat bahagia Rif, kurang empat bulan lagi dia akan melihat dunia, aku sangat menantikan hari itu tiba Rif dan kita akan menjadi orang tua yang sangat bahagia"
"Aku juga menanti hari itu tiba Dhira, keluarga kecil kita akan menjadi keluarga yang lengkap"
*****
Nadhira dan Rifki tengah tertidur malam ini, tepat ditengah malam Rifki mendadak terbangun dari tidurnya yang nyenyak, ia memandangi wajah istrinya yang tengah tertidur dengan nyaman itu.
Melihat Nadhira yang tidur dengan nyenyak sekaligus wajah Nadhira yang menunjukkan wajah bahagia itu membuat Rifki merasa semakin tidak tenang, ia lalu mendekatkan telunjuk dihidung Nadhira untuk memastikan bahwa Nadhira masih bernafas.
Merasakan adanya udara yang keluar masuk dari hidung Nadhira membuatnya merasa sedikit tenang, setetes demi setetes air matanya mengalir dari ujung matanya hingga membasahi bantal yang ia gunakan untuk bersandar tersebut.
"Kau harus baik baik saja sayang" Ucap Rifki pelan.
Rifki mengusap pelan kepala Nadhira yang tertidur dengan nyenyak disebelahnya itu, entah kenapa dirinya tiba tiba terbangun malam ini, Rifki pun beranjak berdiri dari tidurnya untuk melaksanakan sholat tahajjud dimalam itu.
Rifki segera mengambil air wudhu setelah selesai membersihkan tubuhnya, ia pun melaksanakan sholat dua raka'at tersebut seorang diri tanpa Nadhira sebagai makmumnya, ia lalu berdoa memohon keselamatan bagi keluarga kecilnya tersebut, disepanjang sholatnya air matanya terus menetes.
Apalagi ketika dirinya tengah bersujud, air matanya itu bagaikan seperti sebuah bendungan yang tidak mampu untuk dibendung lagi, hal itu membuat sajadah yang ia gunakan basah karena air matanya yang terus mengalir.
"Ya Allah, lindungilah keluarga kecil hamba, berilah keselamatan kepada kami, jauhkanlah mara bahaya dari kami berdua, Ya Allah hamba pasrahkan segalanya kepada Engkau" Air mata Rifki mengalir begitu saja disetiap doanya.
Ia merasa bahwa dirinya akan kehilangan sesuatu yang akan membuatnya bahagia, ia merasa bahwa seseorang akan pergi jauh darinya, dan hal itulah yang membuat Rifki tidak mampu untuk menghentikan air matanya yang terus mengalir.
Rifki lalu bangkit dari duduknya setelah selesai berdoa, ia pun berjalan ketepi ranjangnya dan mendekat kearah Nadhira ia pun mencium kening Nadhira dengan perlahan lahan dan terasa sangat lama ciuman tersebut.
Rifki lalu berjalan untuk membaringkan tubuhnya didekat Nadhira seraya menciumi kening Nadhira, ia pun menyentuh perut Nadhira dan mengusapnya dengan perlahan lahan, tak beberapa lama kemudian bayi yang ada diperut Nadhira itu pun menendang nendang.
"Eh anak Papa bangun, mau main sama Papa ya" Rifki lalu bangkit dan duduk disebelah Nadhira.
Rifki lalu menggerakkan telunjuknya untuk menyentuh perut Nadhira layaknya seperti sedang melukis sesuatu disana hingga membuat anak yang ada didalam perut Nadhira itu terus menendang nendang, ada perasaan bahagia didalam hatinya ketika anak tersebut mulai menendang.
Nadhira yang masih tertidur dengan nyenyak itu pun merasa terganggu dengan keusilan Rifki dan juga tendangan dari anaknya berkali kali, dan Nadhira pun mengibaskan tangan Rifki dari perutnya karena merasa terusik.
"Rif, aku ngantuk" Ucap Nadhira dengan suara khas bangun tidur akan tetapi masih memejamkan kedua matanya karena dirinya mengantuk berat.
__ADS_1
"Tidurlah, aku masih ingin bermain dengan anakku" Ucap Rifki dan terus melukis diperut Nadhira.
"Rifki sakit, sudah dong" Nadhira pun membuka kedua matanya dengan malas.
"Bangun! Kita sudah lama tidak melakukannya Dhira, mumpung dirimu sudah bangun, ayo"
"Ini masih malam sayang, aku capek"
"Kamu diem saja sayang, biarkan aku saja yang melakukannya"
"Terserahmu saja, aku ngantuk"
Nadhira pun kembali memejamkan matanya, dirinya benar benar merasa mengantuk saat ini sehingga sulit baginya untuk membuka kedua matanya itu, Rifki pun kembali memainkan tangannya untuk mengusap perut Nadhira hingga membuat bayi yang ada diperut Nadhira kembali menendang.
"Akh... Pelan pelan nendangnya Nak, perut Mama sakit" Ucap Nadhira yang kembali membuka kedua matanya.
"Ini sangat seru sayang, anak kita sudah bisa beladiri sejak dikandungan, bakalan viral nih anak Papa, bayi yang sudah bisa beladiri sejak didalam perut ibunya, bagus ngak itu? Jelas baguslah" Ucap Rifki.
"Gini nih kalo jadi anak Rifki, sukanya main nendang nendangan aja, ngak Ayah ngak anak sama sama sukanya main nendang"
"Kamu sendiri juga gitu sayang, malahan suka banget lihat orang dihajar mati matian, fiks.. ini memang benar benar anak kita berdua, sangat mirip"
"Masak iya ini anak tetangga sih? Jelas jelas ini anak kita, kita yang buat bukan tetangga, aneh emang dirimu itu, anak sendiri bilangnya anak tetangga" Ucap Nadhira dengan sebalnya.
"Sabar ya Nak, belom lahir saja sudah ternistakan oleh Mamamu, apalagi nanti kalo sudah lahir" Rifki pun mencium perut Nadhira.
"Jadi ngak?"
"Jadi apa? Jadi kodok prok prok prok"
"Ya sudah aku tidur lagi aja, ngantuk"
"Ehh... Jangan tidur dulu, kita belom mulai ritualnya masak ditinggal tidur gitu aja sih, ini malam yang tepat untuk ritual sayang"
"Kamu sih kelamaan"
"Sebenernya aku atau kamu yang ngak sabaran sih? Atau jangan jangan kamu juga ingin lagi, kalo ingin bilang aja sayang"
Seketika itu juga Nadhira langsung bangkit dari tidurnya, ia pun memegangi kedua tangan Rifki dan mengikatnya dengan sarung guling yang ia lepas saat ini, Rifki hanya berdiam diri saja disaat Nadhira mengikat kedua tangannya itu.
"Dhira kau mau apa?" Rifki nampak terlihat sangat cemas melihat Nadhira.
"Bisa diem ngak?"
"Baiklah aku diam, tapi kau mau apa?"
"Mau balas dendam, sakit tau ditendangi dari tadi"
Rifki hanya bisa membuka matanya lebar lebar ketika kedua tangannya diikat kebelakang, setelah itu Nadhira lalu membaringkan tubuh Rifki dengan sekali dorongan yang cukup keras, sungguh kejam sekali Nadhira itu.
"Pelan pelan dong sayang" Keluh Rifki.
"Diem atau aku makan sekarang"
"Ngeri banget sih kamu sayang, jangan galak galak gitu napa sih? Jadi merinding nih"
Nadhira pun mengeluarkan sebuah gunting dari dalam nakas dan menggunting baju Rifki tanpa mempedulikan teriakan dari Rifki, setelah baju itu terbelah menjadi dua dan memperlihatkan dada bidang suaminya itu, Nadhira lalu membuang kesembarang arah.
"Kau tidak akan lolos lagi sayang" Ucap Nadhira.
"Mau apa dirimu Dhira? Taruh guntingnya sekarang"
Nadhira perlahan lahan menarik celana Rifki hingga menampakkan barang berharga milik Rifki, Nadhira pun memeganginya hingga membuat Rifki memejamkan kedua matanya.
"Ini nih biang resek tiap malem, rasain kamu, mau aku potong sekalian?" Ucap Nadhira sambil menuding barang berharga milik Rifki dengan gunting yang ada ditangannya.
"Maapin sayang, kalo dipotong lagi harga diriku ngak ada sayang, kan dulu sudah pernah potong, kau kan juga menikmatinya sendiri sayang"
"Biar ngak bisa selingkuh"
"Sayang, kapan sih aku pernah selingkuh? Dihatiku cuma ada kamu, tolong taruh ya guntingnya"
__ADS_1
"Ngak"
"Ayang hiks.. hiks.."