Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Terjebak


__ADS_3

"Sudah saya katakan sebelumnya, bahwa anda masih lemah untuk bisa keluar dari tempat ini. Sebaiknya anda kembali kedalam,"


Setelah cukup lama Nadhira berusaha untuk memberontak keluar, akan tetapi dirinya selalu gagal untuk melakukan itu karena kondisinya yang masih lemah. Bahkan keduanya sama sekali tidak membalas serangannya itu, dan mereka hanya menangkis ataupun menghindari saja.


"Kenapa kalian tidak membiarkan diriku pergi sih? Aku pengen keluar cari suamiku!" Sentak Nadhira sambil terus berusaha.


"Tubuhmu sangat lemah, Nona. Mencari dimana? Mengalahkan kami berdua saja dirimu tidak mampu,"


"Kalian minggir!"


"Jangan gegabah, Nona."


Nadhira terus berusaha untuk kabur dari sana, akan tetapi keduanya terus saja menghalanginya. Nadhira terlihat begitu sangat kelelahan, dan dapat dilihat dari beberapa kali dia menghela nafasnya dengan berat dan kasar.


"Kalian minggir atau kalian akan dalam bahaya jika anggota geng suamiku datang kemari!" Ancam Nadhira.


"Jangan Nona!"


"Minggir! Uhukk... Uhuk..."


Tiba tiba Nadhira terbatuk karena haus, tenggorokannya rasanya seperti sangat kering dan bahkan tidak ada yang bisa membasahinya selain air. Benar benar merasa sangat haus, keduanya langsung memegangi Nadhira dan salah satunya memijat leher belakang Nadhira.


"Haus bego! Bukan kesedak!" Teriak Nadhira masih sambil terbatuk batuk.


"Saya ambilkan air sebentar, anda tunggu didalam terlebih dulu."


"Didalam panas, nggak ada air juga. Emang kalian mau aku mati kepanasan didalam? Nggak peka banget sih jadi cowok," Ucap Nadhira karena kelelahan berusaha, dan dirinya pun berhenti memberontak sambil menatap keduanya.


"Anda haus? Kenapa nggak bilang dari tadi?"


"Udah tau pake nanya lagi, terus gimana aku bilang? Kalian saja tidak bertanya," Keluh Nadhira.


"Apa Nona Amanda tidak menyediakan minuman didalam?"


Mendengar pertanyaan itu langsung membuat Nadhira melotot kearah kedua lelaki itu, dan seketika itu juga keduanya langsung menutup mulut mereka rapat rapat menggunakan tangan mereka masing masing.


"Manda? Jadi kalian suruhannya Amanda?" Tanya Nadhira dengan tatapan tajam kearah keduanya.


"Maafkan kami, Nona. Tolong jangan beri tahu Nona Amanda kalau anda sudah tahu soal ini, saya mohon."


"Kalian sudah membohongiku, aku tidak peduli dengan kalian!."


"Tolonglah kami, Nona. Kami hanya menjaga Nona disini agar tidak kenapa kenapa,"


"Aku pikir kalian orang jahat, kenapa kalian baru bilang kalau kalian itu suruhan dari Adik tiriku?"


"Anda tidak bertanya sebelumnya."


"Aku haus, ambilkan air bego! Harus berapa kali ku ulangi."


"Anda tunggu disini sebentar, biar saya ambilkan."


Satu lelaki pun segera bergegas pergi dari tempat itu untuk mengambil air, sementara satunya masih sigap berdiri didepan Nadhira yang saat ini keduanya saling bertatapan. Bagaimana dia bisa menghadapi lelaki yang ada didepannya itu? Bahkan satu lelaki saja sudah membuatnya merepotkan karena kondisinya.


"Ada apa, Nona?" Tanya lelaki itu karena terus mendapatkan tatapan dari Nadhira.


"Nggak ikut pergi sama temanmu juga?" Tanya Nadhira.

__ADS_1


Lelaki itu justru tersenyum tipis kearah Nadhira, "Kalau saya pergi terus anda kabur, lalu saya harus jawab apa? Tidak semudah itu, Nona."


"Kau tau kondisiku, kan? Lalu bagaimana bisa aku kabur dari tempat ini? Terus kalau temanmu itu kenapa kenapa gimana?"


"Dia bukanlah hal penting yang harus dijaga."


"Teman yang tidak setia kawan," Sindir Nadhira.


Nadhira lalu berjalan masuk kedalam goa itu kembali, melihat itu langsung membuat lelaki yang berbicara dengannya membalikkan badan. Lelaki itu menatap sekelilingnya tanpa memperhatikan goa itu, tanpa disadari olehnya.


Bhukkk...


Nadhira memukul tengkuk lehernya dengan sangat kerasnya, hingga membuat lelaki tersebut pun jatuh tidak sadarkan diri begitu saja. Nadhira menggunakan batang kayu untuk memukul lelaki itu, setelah melihat lelaki itu tumbang, Nadhira langsung meniup senjatanya itu.


Plokkk... Plokk.. Plokk...


Nadhira pun menepuk tangannya untuk membersihkan debu yang melekat ditangannya itu, melihat orang yang sudah tidak sadarkan diri itu, langsung membuat Nadhira bergegas untuk pergi dari tempat itu. Nadhira tidak mau membuang waktunya sia sia hanya untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat, sehingga sebelum bodyguard satunya datang ia harus pergi dari tempat itu.


Tak beberapa lama setelah kepergian dari Nadhira, orang yang mengambilkan air itu pun telah tiba disana. Dia begitu terkejut ketika melihat temannya yang sudah tidak sadarkan diri diatas tanah, lantas pria itu langsung bergegas berlari untuk memeriksa temannya tersebut.


"Dho. Woi kau kenapa? Siapa yang melakukannya? Katakan, Dho! Sadar," Teriak lelaki itu sambil mencoba untuk membangunkan temannya yang tidak sadarkan diri itu.


Dirinya pun mendadak teringat sesuatu, dan dia langsung bergegas untuk masuk kedalam goa itu. Bertapa terkejutnya ketika dia tidak mendapati Nadhira di dalam tempat itu, seketika dirinya merasa begitu panik karena hilangnya Nadhira dari tempat itu.


Dengan kesalnya, lelaki tersebut langsung menyiram temannya dengan air yang dia bawa sebelumnya. Dengan gelagapannya, pria yang terbaring tidak sadarkan diri pun langsung mengernyitkan dahinya dan langsung bergegas bangkit dari tempat terbaringnya sebelumnya itu.


"Kebakaran! Kebakaran!" Teriaknya setelah terbangun dari pingsannya.


"Kebakaran pala lo, ha! Kau ini terlalu lalai, lihat dia tidak ada ditempatnya saat ini. Semua karena kesalahanmu!"


"Dia siapa?"


"Dia kabur?" Lelaki itu baru menyadari apa yang dikatakan oleh temannya.


"Bangs*t! Cepat cari dia!"


Keduanya langsung bergegas pergi dari tempat itu untuk mengejar Nadhira yang telah kabur. Nadhira yang memang masih belum jauh dari sana, ia pun mendengar keributan itu dan sontak menambah kecepatannya untuk berlari dari tempat tersebut. Nadhira tidak mau jika sampai ditangkap oleh kedua orang itu dengan mudah, ia hanya takut jika tidak bisa menyelamatkan Rifki dalam bahaya.


Nadhira terus melangkah dan entah kemana kakinya akan membawanya pergi dari tempat itu. Nadhira hanya mengikuti kata hatinya untuk menemukan keberadaan dari Rifki, tanpa ada siapapun yang memberitahu kepadanya dimana Rifki berada saat ini.


Hingga tanpa ia sadari, bahwa kakinya tersandung oleh sebuah akar hingga membuatnya terjatuh begitu saja. Karena letak tanahnya tidak datar, hal itu membuat Nadhira terjatuh dan terguling hingga jatuh kedasar tanah. Sebelum sampai dibawah, tangannya langsung berpegangan pada ranting pohon yang seperti tali, sehingga saat ini Nadhira terlihat tengah bergelantungan diatas.


"Tolong! Akh... Tolong!" Teriak Nadhira dengan susah payahnya untuk tetap berpegang pada ranting atar tidak jatuh.


Rasanya percumah jika dirinya terus berteriak seperti itu, ditengah hutan yang sepi tidak mungkin ada yang bisa menolongnya. Bahkan jika ada sekalipun itu, mereka pasti adalah orang orang yang tengah mengejarnya dan menginginkan nyawanya itu.


Nadhira melihat kearah bawahnya, nampaknya dirinya jatuh dari tebing akan tetapi tidak terlalu tinggi daripada dirinya yang terjatuh sebelumnya itu. Nadhira masih bisa melihat dasar dari tebing itu, dan nampak tempat itu terlihat begitu banyak rerumputan yang tumbuh subur disana, mungkin karena adanya aliran air yang mengalir disana.


Telapak tangannya terlihat pucat karena sangking eratnya dirinya berpegangan, dan hal tersebut membuatnya tidak bisa terlalu lama bergelantungan ditempat itu. Nadhira perlahan lahan mencoba untuk menuruni ranting itu dengan sedikit merayap keujung bawah ranting tersebut, hingga akhirnya jaraknya dengan tanah hanya sekitar 1 meter saja.


"Aku tidak tau tempat ini, entah apakah dibawah sana aman atau tidak. Aku harus segera pergi dari sini untuk mencari Rifki, aku tidak boleh menyerah begitu saja."


Nadhira pun menarik nafas dalam dalam, dirinya pun mencoba untuk menenangkan pikirannya mengenai apapun resiko yang akan dirinya tanggung sendirian nantinya. Setelah merasa yakin, Nadhira pun perlahan lahan melepaskan pegangan tangannya itu, dan sedetik kemudian dia pun terjatuh dan sampai terbaring diatas tanah yang dilapisi oleh rerumputan itu.


Pundaknya seketika terasa sakit akibat jatuhnya itu, akan tetapi dia tidak mudah menyerah begitu saja, sehingga Nadhira langsung bangkit berdiri dari tempatnya. Nadhira memandang sekelilingnya, yang dirinya lihat hanyalah rimbunnya pepohonan sekaligus semak semak yang tinggi karena tidak ada yang membersihkannya.


"Aku dimana? Kenapa aku bisa jatuh ketempat seperti ini?"

__ADS_1


Perlahan lahan Nadhira berjalan sambil memandangi sekelilingnya, hutan yang begitu ribun hingga dirinya tidak tau kemana kakinya akan melangkah pergi dari tempat itu. Perlahan lahan dia mencoba untuk mencari cara keluar dari tempat itu, ia takut jika disana ada binatang buas yang tengah mengincarnya tanpa dia sadari.


Setelah berjalan cukup lama, ia pun melihat seseorang yang tengah terbaring diatas rerumputan. Karena jaraknya yang sangat jauh, Nadhira tidak bisa melihat siapa orang yang ada diujung sana, akan tetapi dirinya terus memandang kearah itu.


Merasa curiga, Nadhira langsung bergegas untuk mendatanginya, dan perlahan lahan kedua matanya mampu melihat siapa yang tengah terbaring disana. Nadhira membuka matanya lebar lebar, dan langsung mengambil sebuah kayu yang sangat besar.


Bhukkk...


Seekor ular king kobra yang besarnya seukuran lengan orang dewasa pun langsung tewas begitu saja, Nadhira langsung menjauhkan ular itu dari sosok yang terbaring. Nadhira langsung mendekat kearahnya, dan langsung memeriksa denyut nadinya.


"Rifki bangun, kamu kenapa? Apa yang terjadi denganmu?"


Nadhira begitu panik ketika menemukan Rifki yang sudah tidak sadarkan diri, apalagi wajahnya penuh dengan luka memar sekaligus darah yang telah membeku. Rifki masih tidak sadarkan diri, Nadhira terus mencoba untuk membangunkan Rifki akan tetapi dirinya tak kunjung bangun.


Nadhira pun menyandarkan kepala Rifki di batang pohon yang ada disebelah Rifki, dirinya juga memposisikan tubuh Rifki agar Rifki merasa nyaman. Nadhira mengusap pelan pipi kiri Rifki yang terlihat adanya sebuah memar disana, setetes air mata pun meluruh diwajah Nadhira.


Nadhira duduk didepannya sambil memandangi wajahnya, wajah yang terlihat amat sangat kelelahan saat ini. Nadhira lalu meraih kedua tangan Rifki dan memegangnya dengan sangat erat, seakan akan ada penyesalan yang begitu mendalam didalam hidupnya.


"Rif, ini semua karena diriku. Kau dalam bahaya juga karena diriku, ini lah yang ku takutkan selama ini. Aku tidak ingin melihatmu terluka seperti ini, hatiku rasanya sangat sakit, bahkan sakit sekali. Aku mencintaimu tapi aku juga yang menjadi penyebab akan lukamu. Maafkan aku, ini semua adalah salahku yang telah mengenalmu."


Nadhira menghapus air matanya dengan sangat kasar, bahkan hingga membuat pipinya tercipta bercak kemerahan. Ia bahkan tidak akan sanggup untuk melihat orang yang disayanginya terluka, meskipun itu hanyalah luka kecil sekalipun itu.


Nadhira menatap sendu kearah Rifki yang terbaring tidak berdaya, bahkan wajah keduanya terlihat sangat kelelahan. Keduanya masih sama sama terluka, akan tetapi keadaan yang memaksa mereka untuk tetap bertahan dan berjuang melawan takdirnya.


Rifki yang merasa terusik itu perlahan lahan mengernyitkan dahinya, dirinya sadar bahwa disana ada seseorang yang berada didepannya. Perlahan lahan dia mulai membuka kedua matanya, melihat itu langsung membuat Nadhira merasa senang akan kesadarannya.


"Dhira awas!" Teriak Rifki dan langsung menarik tubuh Nadhira untuk minggir.


Jlebbb...


"Akh..." Pekik Rifki.


Sebuah pisau langsung menembus lengan Rifki, yang sebelumnya pisau itu diarahkan kepada Nadhira akan tetapi justru Rifki yang terkena. Nadhira langsung membulatkan kedua matanya melihat pisau yang menancap di lengan Rifki saat ini, dirinya pun langsung menoleh kearah dimana pisau itu berasal.


"Meskipun disaat seperti ini, kau masih saja melindungi istrimu? Hebat sekali Rifki, hebat sekali," Ucap seorang wanita didepan keduanya.


Seketika itu juga, Nadhira dan Rifki langsung dikepung begitu saja oleh Sena dan anak buahnya. Bahkan keduanya sama sekali tidak memiliki celah untuk bisa kabur, ataupun mampu untuk keluar dengan hidup hidup dari tempat itu sekarang ini.


Darah Nadhira rasanya sangat mendidih, terlihat sebuah emosi yang meronta ronta ingin sekali keluar. Nadhira lalu bangkit dari duduknya, dan berdiri untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan sosok wanita yang ada didepannya.


"Kau sangat licik, Sena. Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang melukai Rifki!" Kedua mata Nadhira pun melotot didepan Sena.


"Lalu kau bisa apa? Kau sudah terjebak disini, kau dan suamimu tidak akan pernah bisa selamat sekarang. Kalian berdua akan lenyap ditanganku saat ini juga,"


"Aku tidak peduli. Jika harus mati saat ini, maka kau pertama kali yang akan mati,"


"Aaa... Aku sangat takut dengan ucapanmu, Dhira. Tapi kau sudah tidak bisa berbuat apa apa, bahkan anggota Gengcobra milik suamimu pun tidak ada disini sekarang,"


"Kami memang tidak bisa berbuat apa apa, kami berdua sama sekali tidak takut dengan dirimu meskipun nyawa kami ada diambang batas," Ucap Rifki yang tiba tiba berdiri dibelakang Nadhira.


Nadhira pun menoleh kearah Rifki, terlihat sebuah senyuman diwajah Rifki yang berhasil membuat Nadhira ikut tersenyum kepadanya. Pandangan kedua langsung menajam ketika menatap Sena beserta anak buahnya itu, meskipun hanya berdua akan tetapi tidak ada keraguan didalam hati keduanya.


Ternyata tusukkan sebelumnya lolos begitu saja disela sela ketiaknya, sehingga tidak terlalu melukai Rifki. Meskipun hanya luka goresan sedikit, itu bukanlah masalah bagi Rifki yang memang tidak pernah mempedulikan luka kecil seperti itu.


"Kau siap, sayang?" Tanya Rifki halus ditelinga Nadhira.


"Selalu siap apapun yang terjadi," Jawab Nadhira.

__ADS_1


Setalah menjawab itu, Nadhira pun langsung berada diposisi pasang dan siap bertarung. Begitupun juga dengan Rifki yang melakukan hal sama seperti apa yang dilakukan oleh Nadhira. Keduanya sama sekali tidak memiliki keraguan akan hasil akhirnya nanti, apapun yang terjadi keduanya harus ikhlas menerima resikonya.


__ADS_2