Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Penyelamatan untuk keduanya


__ADS_3

Kunang kunang itu seakan tau apa yang tengah dirasakan oleh Nadhira, sehingga mereka terus berterbangan kearah keduanya, kunang kunang itu adalah jelmaan dari mahluk gaib yang berusaha untuk membawa anggota Gengcobra mendekat dengan cahayanya akan tetapi tiada yang melihat cahaya tersebut.


Bayu dan anggotanya kini tengah mencapai disebuah tanah lapang tempat dimana pertarungan itu terjadi karena bau anyir darah yang membuat perhatian mereka menjadi begitu penasaran dan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi ditempat itu hingga bau anyir darah menuntun mereka untuk mendekat kearah pertarungan terjadi sebelumnya.


"Tuan, sepertinya disana begitu banyak tubuh yang tergeletak begitu saja deh, apa mungkin Tuan Muda juga ada disana" Ucap salah satu dari mereka.


"Ayo kita kesana dan memeriksanya" Ucap Bayu yang langsung berlari kearah yang dimaksud.


Bayu segera mendekat kearah dimana banyak orang yang tengah terbaring, mereka dapat mengetahui tempat itu karena banyak sekali tumbuhan ilalang yang roboh karena pertarungan Rifki sebelumnya, mereka pun begitu terkejut ketika melihat tubuh tubuh itu.


"Sepertinya ada yang masih hidup diantara mereka, cepat cari apakah ada Rifki dan Nadhira diantara mereka!" Perintah Bayu.


"Baik Tuan".


Mereka pun berpencar untuk memeriksa setiap orang yang tengah tergeletak ditempat itu, banyak diantaranya yang masih hidup karena hanya mendapatkan sebuah luka sayatan dan beberapa orang sudah tiada akibat dari luka tusukan dan sebuah sayatan dileher mereka.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah Rifki yang melakukan semuanya?" Guman Bayu.


"Tuan Bayu, kami tidak menemukan keberadaan dari Tuan Muda diarea sekitar sini, dan kami hanya menemukan ini saja"


Salah satu anak buahnya segera mendekat kearah Bayu dan memberikan sebuah tongkat yang diduga adalah tongkat milik Rifki, tongkat itu sudah bersimbah darah dan darah tersebut sudah mengering dan terasa begitu lengket.


"Ini... tongkat ini milik Rifki, cepat kalian cari dimana keberadaan dari Tuan Muda! Kita harus segera menemukan apapun kondisinya nanti".


Bayu merasa sangat khawatir dengan keadaan keduanya, jika tongkat itu tertinggal itu artinya keduanya sedang tidak baik baik saja, meskipun dalam keadaan terdesak sekalipun, Rifki tidak akan meninggalkan tongkatnya dan akan selalu membawanya untuk beladiri.


"Rifki, Dhira, aku berharap kalian baik baik saja, beri aku petunjuk dimana kalian berada, agar kami bisa segera menemukan keberadaan kalian" Guman Bayu.


Tongkat yang bersimbah darah tersebut ia bersihkan dengan air yang mereka bawa sebelumnya sebagai bekal minuman mereka, setelah itu Bayu segera memendekkan tongkat itu dan memasukkannya kedalam saku yang ada di celananya.


"Apa kalian tidak menemukan petunjuk apapun itu?" Tanya Bayu kepada mereka yang tengah memeriksa keadaan orang orang yang terbaring ditempat itu.


"Tidak Tuan, apa mungkin Tuan Muda sudah meninggalkan tempat ini sebelumnya? Saya menduga bahwa Tuan Muda masih selamat bahkan tubuh Nona Nadhira juga tidak terlihat ditempat ini, mungkinkah dia sudah pergi sebelumnya?".


"Baiklah, kita cari ditempat lain saja".


"Baik Tuan".


Bayu pun lebih memperluas langkahnya untuk menyusuri tempat tersebut demi mencari Rifki dan Nadhira yang tengah dalam bahaya saat ini, ia sangat berharap bahwa dirinya mampu menemukan kedua tamannya itu sebelum terlambat.


*****


Nadhira terbangun dari tidurnya ketika merasakan sesuatu yang panas dikakinya dan sensasi itu terasa seperti membakar kakinya, ia pun terkejut ketika ujung kakinya menyentuh arang yang panas, dan hal itu segera membuatnya bangkit dari tidurnya.


"Kenapa aku bisa tertidur?".


Nadhira menatap kearah Rifki yang masih memejamkan matanya dengan sangat eratnya, Nadhira pun langsung duduk didepan Rifki dan berharap bahwa dia akan membuka kedua matanya itu untuk menatap balik kearahnya.


Nadhira menggenggam erat tangan Rifki yang sudah tidak sadarkan diri tersebut, tangan Rifki sudah tidak memiliki tenaga lagi sehingga tangan tersebut terlihat begitu lemas dan pucat seakan akan tidak ada darah yang mengalir disana.


Bukan hanya tangan Rifki yang terlihat pucat, akan tetapi wajahnya juga terlihat sedikit pucat karena kehilangan begitu banyak darah waktu itu, sementara Nadhira belum juga menemukan jalan untuk membawanya keluar dari hutan tersebut.


"Aku harus segera membawamu pergi dari sini Rif, kau harus bertahan ya, aku melarangmu untuk meninggalkan diriku Rif".


Nadhira pun bergegas pergi dari tempat itu untuk mencari sesuatu yang dapat memadamkan api itu agar tidak membara ketika keduanya akan meninggalkan tempat itu, Nadhira harus secepatnya membawa Rifki menuju kerumah sakit karena Rifki yang tidak sadarkan diri cukup lama.


Setelah mencari air cukup lama akhirnya ia menemukan sebuah tanaman kantung semar yang terdapat begitu banyak air yang tercipta dari embun dimalam ini, ia pun segera mengambilnya dan menuangkannya kearah api itu dan dirinya juga meminumkannya kepada Rifki.


"Bertahanlah Rifkiku, aku akan membawamu segera kerumah sakit Rifki, kau tidak boleh meninggalkan aku seperti ini, aku melarangmu untuk melakukan itu".

__ADS_1


Nadhira pun berjongkok membelakangi Rifki dan menggerakkan tangan Rifki untuk mengalungkan kedua tangannya dilehernya, Nadhira pun berusaha untuk bangkit dan membuat tubuh Rifki ikut bangkit bersama dengannya.


Nadhira sama sekali tidak menyerah sedikitpun meskipun dirinya sangat keberatan untuk menahan tubuh Rifki yang begitu berat, Nadhira pun mencoba untuk berjalan pergi dari tempat itu, meskipun kaki Rifki terseret begitu saja.


"Aku tidak boleh menyerah demi Rifki".


Nadhira terus berusaha untuk berjalan menjauh dari tempat itu meskipun kini kedua kakinya terasa gemetaran karana berat tubuh Rifki yang tidak seimbang karena dirinya sedang tidak sadarkan diri, dan hal itu membuat Nadhira sampai mengucurkan keringatnya dengan sangat deras.


Nadhira tak henti hentinya untuk terus melangkah dari tempat itu, ia ingin segera membawa Rifki keluar dari hutan tersebut agar dirinya bisa mendapatkan pertolongan, meskipun kini terdengar isak tangis begitu lirih dari mulutnya.


*****


"Kenapa disana begitu banyak kunang kunang" Ucap Bayu ketika melihat kunang kunang berterbangan.


Ketika Bayu sibuk mencari keberadaan dari Rifki diarea sekitar tempat itu, tiba tiba dirinya melihat begitu banyak kunang kunang yang mengitari sebuah tempat, dan hal itu membuat Bayu mengajak anggotanya untuk memeriksa dibagian itu.


Bayu bergegas mendatangi tempat dimana para kunang kunang itu berterbangan dengan gembiranya, setelah sampai disana dirinya dikejutkan dengan bekar pembakaran yang bahkan sudah menjadi angus.


Bayu pun mendekat kearah tempat itu dan mengarahkan sebuah senter yang ada ditangannya kebekas pembakaran itu, ia pun menduga bahwa tidak beberapa lama api itu sudah dipadamkan.


"Apa mungkin mereka kemari sebelumnya? Jika benar, itu artinya mereka masih hidup" Ucap Bayu.


"Sepertinya mereka pergi belum cukup lama Tuan, dan arang ini pun masih terasa sedikit hangat"


"Kau benar, mungkin saja mereka telah singgah ditempat ini sebelumnya".


Bayu pun mengarahkan senter yang ada ditangannya menuju kearah pohon tempat dimana Rifki bersandar sebelumnya, disana pun terdapat secercah darah milik Rifki yang tertinggal, darah itu adalah bekas luka sayatan yang ada dipunggung Rifki.


"Darah, dan darahnya pun belum kering" Ucap Bayu sambil menyentuh bekas darah tersebut.


"Tuan, mungkinkah Tuan Muda terluka saat ini?".


"Baik Tuan, sebaiknya seperti itu".


*****


Nadhira terus berjalan untuk membawa Rifki pergi dari tempat itu, ia nampak begitu kelelahan dengan linangan keringat yang membasahi tubuhnya itu, akan tetapi dirinya tidak ingin menyerah untuk saat ini, ia tidak mau kehilangan Rifki.


"Allahu Akbar, kau tidak boleh menyerah Dhira".


Nadhira terus menyemangati dirinya sendiri agar tidak menyerah untuk saat ini, ia tidak ingin kehilangan Rifki, jika dirinya menyerah dan tidak mampu membawa Rifki kerumah sakit dengan segera ia takut bahwa nyawa Rifki sudah tidak mampu untuk diselamatkan lagi.


Nadhira pun merasa bahwa pandangannya kini menjadi gelap seketika, tanpa butuh waktu lama dirinya pun terjatuh tidak sadarkan diri, dan tubuh Rifki seketika terguling diatas tanah bersamaan dengan tubuh Nadhira yang tidak sadarkan diri.


Keduanya berada diposisi yang terdekat dengan desa Mawar Merah, Rifki terjatuh didekat Nadhira dan tangan keduanya pun saling bergandengan satu sama lain, dan dalam posisi saling berhadapan.


Tak jauh dari mereka, terlihat segerombolan orang yang tengah dipimpin oleh Fajar, Fajar tengah sibuk mencari Rifki didekat desa Mawar Merah, dia tidak berani untuk masuk kedalamnya ataupun hanya didepan pagar pembatas karena yang ia ketahui bahwa siapapun yang masuk kedalamnya mereka tidak akan pernah kembali.


"Apa Rifki dan Nadhira ada didalam" Guman Fajar.


"Bagaimana kalau kita masuk saja Jar?" Tanya rekan yang ada didalam anggotanya.


"Masuk masuk, emang kau mau tidak bisa keluar lagi? Coba saja kalo berani"


"Kan aku hanya memberi saran saja, kau pernah bilang kan kalau kau pernah diajak oleh Tuan Muda datang ketempat ini, sehingga kau memaksa mencari mereka disekitar sini, mungkin saja penjaga gaib tempat itu sudah mengenal dirimu sehingga mereka tidak akan menganggumu".


"Enak saja kau bilang, aku kesini kan dengan Tuan Muda jadi dia tau bahasa mereka, lah sekarang? Bagaimana aku bisa ngobrol dengan mahluk gaib tanpa hadirnya Tuan Muda".


"Apakah benar kalau Tuan Muda bisa berbicara dengan mahluk astral?".

__ADS_1


"Bukan hanya berbicara saja, ngajak gelut pun pernah dia itu".


"Hebat banget ya Tuan Muda kita, kalaupun mahluk astral muncul didepanku sekarang palingan aku sudah pingsan dibuatnya".


Tanpa mereka ketahui bahwa Raka kini tengah berdiri menatap kearah mereka, Raka tidak tau bagaimana caranya untuk membawa mereka menemukan keberadaan dari Rifki dan Nadhira, karena diantara mereka tidak ada yang mampu untuk melihat dirinya.


Sudah berbagai macam ia lakukan agar anggota Gengcobra mampu untuk menemukan keberadaan dari Rifki, akan tetapi usahanya selalu gagal untuk membimbing mereka menuju ketempat Rifki karena mereka terlihat begitu takut dengan hal hal gaib.


"Apa aku rasuki saja salah satu dari mereka, agar aku bisa berbicara kepada mereka, sepertinya itu bukan ide yang buruk juga sih" Ucap Raka.


Raka pun mendekat kearah team Fajar, ia pun memilih orang yang imannya paling rendah diantara mereka, dan siapa yang akan ia rasuki sebelum itu, agar hal itu tidak membuatnya kesulitan, akhirnya dia memilih seorang lelaki yang paling pendiam daripada yang lainnya.


"Ah sepertinya orang itu mudah untukku rasuki saat ini" Gumannya.


Raka pun masuk kedalam raganya, seketika orang yang dipilih oleh Raka mendadak terjatuh dan terbaring diatas rerumputan, dan hal itu sontak membuat mereka begitu terkejut dengan apa yang terjadi kepada lelaki itu.


Fajar yang melihat anggotanya tiba tiba terjatuh membuat segera mendekat kearah orang itu untuk memeriksanya, ia tidak tau apa yang menyebabkan orang itu mendadak terbaring diatas tanah.


"Gus Bagus, ada apa denganmu?" Tanya Fajar sambil menepuk pundaknya.


Fajar mencoba untuk membuat Bagus sadarkan diri, dia tidak mengerti kenapa Bagus tiba tiba terjatuh dan bahkan tidak sadarkan diri seperti itu, apalagi mereka kini tengah berada diarea sekitar desa terbengkalai tempat dimana pernah adanya sebuah pembantaian terjadi didesa itu.


Raka segera menggerakkan tubuh tersebut untuk bangkit dari terbaringnya dengan kedua mata yang terbuka lebar lebar, ia pun menatap kearah Fajar dengan tatapan kosong tanpa ekspresi sedikitpun itu dan hal itu sontak membuat Fajar terjatuh kebelakang hingga terduduk.


"Siapa kau! Ke kenapa kau merasuki teman kami?" Fajar begitu terkejut dengan hal itu.


Fajar begitu ketakutan ketika melihat tubuh Bagus yang menatapnya dengan tatapan kosong, Fajar menduga bahwa Bagus kini tengah kerasukan arwah yang telah menjaga tempat tersebut,


"Aku adalah Raka, orang yang selalu ada didekat Rifki selama ini" Ucap Raka menggunakan tubuh Bagus.


"Raka? Kenapa kau datang kemari dan merasuki teman kami? Apa Tuan Muda baik baik saja? Apa kau bisa membawa kami kesana? Dimana Tuan Muda?" Tanya Fajar beruntun kepada Raka.


Mendengar pertanyaan Fajar yang beruntun dengan nada ketakutan dan gemetarnya membuat Raka hanya mengangguk kepalanya saja kepada mereka semua, ia tidak punya waktu lagi untuk menolong Rifki dan Nadhira saat ini.


"Ikuti aku sekarang juga dan selamatkan mereka" Raka pun bangkit dan berdiri.


Raka pun berjalan lebih dahulu ketempat dimana Rifki dan Nadhira berada dengan sempoyongan karena dirinya belum bisa menyeimbangkan langkahnya menggunakan tubuh orang itu, sementara Fajar dan lainnya berjalan berhati hati dibelakangnya dengan memberi jarak sekitar 2 meteran dari orang yang tengah dirasuki oleh Raka.


Fajar tidak ingin terlalu dekat dengan mahluk halus itu sehingga dirinya memberi jarak aman antara kedua belah pihak, Fajar takut kalau mahluk itu justru akan membuatnya tersesat dihutan ini akan tetapi karena Raka bilang bahwa Raka adalah mahluk yang selalu dekat dengan Rifki membuat Fajar sedikit percaya kepadanya.


"Jar, apa kau yakin kita akan menemukan Tuan Muda dengan mengikuti mahluk gaib itu?" Tanya seseorang disamping Fajar.


"Aku tidak tau soal itu, sebaiknya kita ikuti saja kemana dia pergi, mungkin saja kita akan bertemu dengan Tuan Muda Rifki".


"Mahluk itu sepertinya akan membawa kita sedikit masuk kedalam hutan yang terdalam deh, apa kau tidak merasa takut?"


"Tenang saja ada Tuan Bayu yang sedang menelusuri tempat itu juga, mereka pasti akan menolong kita nantinya kalau kita dalam bahaya".


"Baiklah jika seperti itu".


Setelah sekitar 30 menit berjalan akhirnya Raka menghentikan langkahnya dan hal itu membuat Fajar yang tengah fokus dengan dirinya mendadak begitu terkejut dan dirinya tidak menatap kearah sekitarnya sehingga ia tidak mengetahui bahwa Rifki dan Nadhira sudah tidak jauh dari mereka.


Raka menunjuk kesebuah arah tempat keduanya sedang terbaring tidak sadarkan diri, dan ke 15 orang itu segera menoleh ketempat dimana Raka menunjuk dan menemukan dua orang yang tengah terbaring dibalik semak semak yang cukup tinggi.


Fajar dan yang lainnya segera mendekat kearah keduanya dan hal itu membuat Raka segera keluar dari raga orang tersebut.


"Tuan Muda!" Teriak Fajar ketika mengetahui bahwa itu adalah Rifki dan Nadhira, "Cepat beritahu yang lain bahwa Tuan Muda sudah ditemukan".


Salah satu anak buahnya segera mengeluarkan alat gengam yang disebut sebagai walkie talkie untuk menghubungi yang lainnya bahwa Tuan Muda mereka telah ditemukan, jika menggunakan hp mereka tidak mampu untuk berkomunikasi karena faktor sinyal yang sulit ditemukan didalamnya.

__ADS_1


__ADS_2