Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Membawa Nadhira kabur


__ADS_3

Sapta membuka buku diary tersebut, kalimat yang ada disana tersusun sangat rapi dan indah baginya karena banyaknya kata kata mutiara didalamnya. Nadhira memang suka menulis sesuatu yang menggambarkan isi hatinya, bahkan jika sesuatu itu sangat menyayat didalam hatinya sendiri.


Untaian kata demi untaian, Sapta membacanya dengan cermat karena seakan akan tidak ingin ada kata yang terlewatkan olehnya. Bahkan setiap informasi yang dirinya dapatkan sangat berarti untuknya, entah apa yang ada didalam pikirannya saat ini.


"Dhira pernah mendonorkan ginjalnya untuk Rendi? Kapan itu terjadi?" Ucapnya ketika melihat halaman paling belakang dari buku tersebut.


Kebanyakan isi yang ada disana menggambarkan rasa sayang Nadhira kepada Rifki, dan banyak hal romantis yang pernah dilakukan oleh Rifki kepadanya. Sejak keduanya bertemu, Nadhira mulai ada rasa lebih dulu kepada Rifki, bahkan ketika Rifki sering menganggunya.


Ini adalah buku pribadi miliknya, akan tetapi tidak pernah ada yang membukanya selain Nadhira sendiri. Sapta begitu terkejut ketika membaca halaman terakhir yang ada didalam buku tersebut, karena halaman sebelumnya dirinya skip karena merasa tidak nyaman membacanya.


"Rendi benar benar tidak tau terima kasih, awas saja nanti akan aku pastikan dia menyesalinya. Disaat anaknya dalam bahaya sekalipun itu, dia juga tidak peduli kan? Emang Ayah yang tidak bertanggung jawab kepada Anaknya. Tau buat doang, yang lainnya minus." Gerutu Sapta.


Rasanya hatinya panas ketika mengetahui bahwa Nadhira pernah mengorbankan ginjalnya untuk Rendi, bahkan hanya orang orang tertentu yang tau. Sapta tidak mengetahui kenapa Nadhira mau mengorbankan ginjalnya untuk Rendi, dan dirinya bingung memang Rendi sakit apa sampai membutuhkan donor ginjal?


"Kasihan Adikku itu, di sia siakan oleh orang seperti mereka, sungguh keterlaluan mereka sama Dhira. Tante Lia, maafkan aku karena tidak menjaganya dengan baik selama ini, sampai sampai dirinya hanya memiliki satu ginjal sekarang."


Sapta merasa begitu terpukul ketika mengetahui bahwa Nadhira kini hanya memiliki satu ginjal saja, bahkan kejadian itu sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Sapta masih bingung dengan kejadian yang sebenarnya, kenapa Nadhira bisa sampai mengorbankan dirinya seperti itu hanya untuk Rendi.


Terlalu lama membaca kalimat yang ditulis oleh Nadhira, membuat Sapta merasa sesak nafas. Hal yang dicari cari olehnya pun ditemukannya dihalaman terakhir yang ada didalam buku itu, yakni foto masa kecil Nadhira bersama dengan Lia.


"Alhamdulillah aku berhasil menemukannya, aku harus memberikan ini kepada Tante Lia agar dirinya segera ingat dengan Nadhira."


Sapta pun bergegas keluar dari dalam kamar itu, dirinya mengira bahwa situasinya aman untuk saat ini, akan tetapi tiba tiba seorang anak lelaki berada dihadapannya ketika dirinya membuka pintu kamar itu. Anak tersebut pun masih berusia sekitar 4 tahun, dan ditangan kirinya terdapat sebuah mainan mobil mobilan.


"Om siapa?" Tanya anak itu dengan polosnya sambil menjatuhkan mobil mobilan yang ada ditangannya karena terkejut melihat Sapta.


"Om bukan orang jahat kok, kamu nggak usah takut ya?" Ucap Sapta mencoba untuk menenangkan anak itu.


"Kata Ibu, aku nggak boleh bicara sama orang yang tidak dikenal. Om kenapa ada di rumahku?"


Sapta tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, bagaimana dirinya akan menjelaskan kepada lelaki kecil yang ada dihadapannya itu. Bahkan lelaki itu tidak akan mengerti dengan penjelasannya nanti, karena usianya yang masih balita itu.


"Kamu bicara sama siapa, Nak?" Tanya seseorang dari dapur rumah itu.


"Ibu!" Teriak lelaki kecil itu.


Mendengar teriakannya itu, hal tersebut langsung membuat Sapta membungkam mulut anak kecil tersebut agar tidak berteriak. Hal tersebut langsung membuat Bi Ira yang sedang memotong sayuran pun bergegas meninggalkannya, dan dirinya begitu terkejut ketika melihat sosok pemuda bermasker sambil membungkam mulut anak keduanya itu.


"Siapa kamu! Mau maling ya? Tolong! Tolong!" Teriak Bi Ira meminta pertolongan.


Akan tetapi tidak ada yang datang ketempat itu, karena rumah tersebut juga berjauhan dengan para tetangganya. Akhirnya dirinya berinisiatif untuk mengambil sapu, tanpa aba aba dirinya pun berulang ulang kali memukulkan sapu tersebut kepada Sapta.


Sapta langsung melepaskan pegangan tangannya dari anak itu, dan berusaha untuk melindungi kepalanya dari pukulan sapu yang dilakukan oleh Bi Ira. Hal yang ditakutkan olehnya pun terjadi, dirinya takut jika sampai babak belur akibat ulahnya sendiri, dan hal itu benar benar terjadi saat ini.


Seketika rumah itu nampak begitu heboh, Sapta sendiri berusaha untuk kabur dari tempat itu akan tetapi langsung dikejar oleh Bi Ira. Bi Ira tidak membiarkan dirinya untuk kabur, selama ada sapu ditangannya dirinya akan yakin bahwa lelaki itu tidak akan pernah mencelakakan dirinya.


Sapta tidak ingin menyakiti siapapun, bahkan dirinya sama sekali tidak melawan ketika Bi Ira berulang ulang kali memukulnya dengan gagang sapu yang ada ditangannya itu. Ketika berada di gerbang rumah, Sapta begitu terkejut ketika melihat para warga berdatangan akibat teriakan dari Bi Ira.


"Mampus diriku," Gumannya pelan sambil merasa ngeri karena warga yang berdatangan.


Dengan sekuat tenaga yang dirinya miliki, Sapta berusaha kabur dari tempat tersebut. Jika dirinya sampai kena amukan warga, dirinya yakin bahwa tidak akan pernah kembali dengan membawa nyawanya.


*****

__ADS_1


Nadhira dibawa kesebuah tempat yang cukup asing baginya, bahkan dirinya diikat disebuah kursi yang telah disediakan disana. Dirinya didudukkan disana dengan kedua tangan dan kakinya diikat dengan eratnya, bahkan dirinya juga dikelilingi oleh Sena beserta anak buahnya yang menculiknya tadi.


"Dhira Dhira, mengakulah bahwa dirimu adalah Nadhira sekarang." Sena pun menatap tajam kearah Nadhira.


"Jika memang benar aku Dhira, kau mau apa?" Tanya Nadhira dengan berbalik menatap tajam kearah Sena.


"Maka kau mempermudah diriku untuk segera membunuhmu,"


"Aku memang Dhira."


Sena pun tertawa mendengar pengakuan dari Nadhira sendiri, dirinya pun langsung menggerakkan tangannya untuk membuka cadar yang berbalut di wajah Nadhira. Wajah Nadhira sama sekali tidak berubah, masih tetap cantik seperti dahulu.


"Akhirnya kau mengungkapkan identitas mu, Dhira. Setelah sekian lama kau menghilang, akhirnya kau muncul kembali dengan nama baru," Ucap Sena.


"Dan sekian lama itu, kelakuan busuk mu terungkap semuanya, Mama tiri. Kau pembunuh! Kau telah merenggut nyawa orang yang tidak berdosa begitu saja!" Teriak Nadhira dengan tatapan yang sangat tajam, bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya.


Plakkk...


Sebuah tamparan yang sangat keras pun terlontarkan oleh tangan Sena dan mengenai pipi mulus Nadhira, rasanya kebas sekaligus panas yang Nadhira rasakan saat ini. Bahkan terlihat adanya secercah darah segar yang mengalir diujung bibirnya yang sudah sobek akibat tamparan itu, akan tetapi Nadhira tidak mampu untuk mengusapnya.


Nadhira pun memejamkan kedua matanya karena rasa perih tersebut, bahkan rasa itu hampir tidak pernah dirinya rasakan beberapa tahun belakangan ini. Tamparan yang sangat keras itu, seketika langsung membuat wajah Nadhira terlihat sangat memperihatinkan.


"Dan korban selanjutnya adalah dirimu, Dhira."


"Kenapa hanya menamparku saja, Ma? Tapi rasanya tidak sesakit dahulu. Apakah tanganmu tidak sekuat dulu lagi? Ternyata dirimu begitu lemah ya sekarang," Ucap Nadhira yang masih bisa menampakkan sebuah senyuman diujung bibirnya.


"Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Dhira!"


"Arghhhhh.... Siapa yang melakukannya!?" Tanya Sena dengan geramnya sambil memegangi tangannya yang berdarah darah itu.


"Hahaha..." Tawa Nadhira dengan keras begitu tiba tiba disaat melihat Sena terluka seperti itu.


"Kalian! Cepat cari siapa yang telah melukaiku!" Perintah Sena kepada beberapa anak buahnya itu.


"Baik Bos!" Seru para anak buahnya tersebut dan langsung bergegas keluar dari tempat itu untuk mencari seseorang yang telah melukai Sena.


"Kau tidak bisa membunuhku, Sena eh maksudku Mama tiri. Rifki pasti akan segera menyelamatkan diriku, dia sudah berjanji kepadaku, dan dia pasti akan menepatinya. Cepat atau lambat," Ucap Nadhira ditengah tengah tawanya itu.


"Jangan harap dia datang dan menyelamatkan dirimu, dia tidak akan pernah tau tempat ini. Sebelum dia datang, kau pasti sudah mati disini,"


Nadhira sama sekali tidak merasa takut saat ini, meskipun dirinya tau bahwa Rifki tidak akan menemukannya karena tempatnya begitu jauh apalagi tiada hal yang bisa dirinya gunakan untuk memberitahu keberadaannya kepada Rifki. Nadhira sendiri juga berharap bahwa Rifki tidak akan pernah datang ketempat itu, karena dia tidak mau jika Rifki sampai membahayakan nyawanya sendiri hanya untuk dirinya.


Sena pun mencengkeram leher Nadhira hingga membuat Nadhira kesulitan untuk bernafas, bahkan cengkeraman itu begitu sangat kuat hingga membuat Nadhira merasa sangat sakit. Kedua tangannya mencoba untuk melepaskan diri dari tali yang mengikatnya, meskipun hasilnya nihil dia dapatkan.


"Uhuk... Uhuk..." Nadhira pun ter batuk batuk karena rasanya udara ditempat itu semakin menipis hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas. "Sena, jika aku mati saat ini, kau pasti akan menyesalinya nanti. Uhuk... Uhuk... Hidupmu akan berakhir secepatnya,"


"Kau tidak akan mati dengan mudah, Dhira. Kau akan tersiksa secara perlahan disini, sampai kau akan memohon kepada diriku untuk mempercepat kematianmu."


"Bukankah lebih cepat itu lebih baik? Uhuk... Uhuk... Kenapa tidak kau percepat?"


Cengkeraman itu semakin lama semakin kuat, bahkan sampai membuat Nadhira hampir saja sekarat. Rasanya sangat sulit untuk bisa bernafas, bahkan hanya sekedar membuka kedua matanya saja dirinya teramat sangat kesulitan.


"Bos gawat! Terjadi penyerangan diluar oleh mahluk yang tak kasat mata," Lapor salah satu dari anak buah Sena yang kembali untuk melaporkan kepada Sena.

__ADS_1


"Makhluk tak kasat mata? Maksud kamu apa?" Tanya Sena keheranan dan langsung melepaskan cengkeramannya itu.


"Anak buah anda tiba tiba tumbang begitu saja, sebaiknya Bos periksa sendiri keadaan mereka sekarang,"


"Baiklah."


Nadhira tidak terlalu mendengarkan percakapan mereka, karena suara mereka rasanya seperti bergemuruh tanpa tau apa yang dikatakan oleh keduanya. Nadhira memejamkan kedua matanya karena rasa sesak di dadanya, bahkan dirinya tidak mengetahui bahwa Sena dan anak buahnya sudah tidak ada ditempat itu saat ini.


"Dhira, kau baik baik saja?" Tiba tiba seorang wanita berdiri didekat Nadhira setelah mereka semua pergi dari sana.


Nadhira bahkan tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan dari wanita itu, hingga dirinya merasakan bahwa tangan wanita tersebut mencoba untuk membuka tali yang mengikat pada tubuhnya itu. Pandangan Nadhira begitu buram, hingga dirinya tidak bisa melihat dengan jelas wanita tersebut.


"Kita harus pergi dari sini secepatnya, Dhira. Bertahanlah, aku akan membawamu pergi sebelum mereka kembali ketempat ini."


"Siapa dirimu?" Tanya Nadhira dengan kesusahan meskipun suara tidak dapat didengar dengan jelas.


"Kau akan tau nanti, sekarang yang terpenting adalah nyawamu, Dhira."


Wanita tersebut pun mengalungkan tangan Nadhira dilehernya, dirinya pun dengan segera membawa Nadhira pergi dari tempat itu sebelum Sena sadar bahwa ada yang membawanya pergi. Wanita tersebut pun langsung bergegas meninggalkan tempat itu, dengan Nadhira yang ada disampingnya.


Sudah cukup keduanya berjalan jauh dari tempat itu, hingga keduanya berhenti disebuah hutan yang sama sekali tidak dikenal oleh Nadhira sendiri. Wanita tersebut pun membantu Nadhira untuk bersandar dibawah sebuah pohon, udara dari pepohonan tersebut begitu membantu Nadhira untuk menyetabilkan pernafasannya.


"Kau nggak kenapa kenapa kan, Dhira? Maafkan aku karena telat menyelamatkan dirimu sebelumnya, apa yang sakit? Bertahanlah Dhira." Tanya wanita itu panik karena tubuh Nadhira masih terlihat sangat lemas.


"Dadaku sakit," Ucap Nadhira lirih.


Setelah berjalan cukup lama, rasa sakit akibat tendangan yang dirinya sebelum terima kembali terasa, bahkan lebih terasa nyerinya daripada sebelumnya. Wanita tersebut pun memeriksa denyut nadi Nadhira, dan rasanya denyutannya semakin lama semakin terasa lemah.


"Bertahanlah demi Rifki, Dhira. Kau tidak boleh menyerah begitu saja,"


Wanita tersebut pun melepaskan tas ransel yang ada di panggungnya itu, tas kecil yang sejak tadi dirinya bawa pun ia lepaskan. Dirinya pun membuka tas tersebut dan mencari sesuatu didalamnya.


Ia mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tasnya, dan membantu Nadhira untuk mencium aroma minyak kayu putih tersebut. Dirinya juga mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tasnya, lalu dirinya membantu Nadhira untuk meminumnya agar pernafasannya kembali normal.


"Dhira, bertahanlah sampai Rifki datang."


Wanita itu menggenggam erat tangan kanan Nadhira seraya menguatkan dirinya, dirinya berharap bahwa Nadhira akan baik baik saja. Dia tidak mau jikalau Nadhira sampai kenapa kenapa karena dirinya telat untuk menyelamatkan Nadhira.


"Kau!" Seru Nadhira dengan keras ketika dirinya sudah bisa melihat dengan jelas siapa wanita yang ada dihadapannya itu.


"Dhira, jangan salah paham denganku."


Dengan segera Nadhira bangkit dari tempat ia duduk sebelumnya, dan hal itu langsung disusul oleh wanita tersebut. Tanpa berlama lama lagi, Nadhira pun langsung mengeluarkan pisau kecil yang dirinya miliki dan menodongkannya kepada wanita itu.


"Jangan mendekat atau aku akan membunuhmu disini sekarang!" Teriak Nadhira sambil memundurkan langkahnya.


"Dhira, aku tidak berniat untuk mencelakakan dirimu. Maafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan kepadamu, aku menyesali semuanya."


"Aku tidak akan pernah memaafkan dirimu, sampai kapanpun itu aku tidak akan pernah memaafkanmu!"


"Kau boleh marah kepadaku, karena aku yang salah kepadamu. Tapi untuk saat ini, aku tidak berniat untuk mencelakakan dirimu, kau harus percaya kepadaku."


Nadhira masih tetap menodongkan pisau kecilnya kepada wanita yang ada didepannya itu, dirinya yang masih benar benar belum stabil tersebut harus berjaga jaga kepada siapapun. Bahkan dirinya harus siaga kepada orang yang dikenalnya sekalipun, apalagi orang yang ada dihadapannya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2