
Suatu hari terlihat Nadhira sedang bersama dengan seorang gadis kecil dan juga seorang gadis remaja, ketiganya sedang singgah disebuah rumah makan yang berada tidak jauh dari danau yang sering Nadhira datangi untuk menenangkan pikirannya, dan kali ini ia datang dengan dua orang gadis yang terlihat bahagia bersama.
Dua gadis yang bersama dengan Nadhira itu nampak terlihat begitu bahagia ketika diajak oleh Nadhira jalan jalan, apalagi disiang hari seperti ini dan duduk disebelah danau sambil menikmati beberapa cemilan dan minuman dingin bersama sama.
"Fika mau nambah makan lagi? Biar Kakak pesankan lagi untuk kalian, kalian mau yang mana?" Tanya Nadhira kepada gadis yang berusia remaja.
"Tidak Kak, Fika sudah kenyang banget, rasanya sudah tidak muat lagi" Jawab gadis yang dipanggil dengan nama Fika.
Ya, gadis remaja itu adalah Fika, seorang gadis kecil gelandangan yang pernah ditemukan oleh Nadhira disebuah pasar, gadis yang mengalami penyakit kulit yang parah dan tega dibuang oleh Tantenya sendiri itu akhirnya diangkat menjadi Adik angkat Nadhira, akan tetapi Fika lebih memutuskan untuk tinggal dipanti asuhan tempat dimana Bi Ira tumbuh dewasa sebelumnya.
Setelah dia diangkat menjadi Adik angkatnya, Fika tumbuh menjadi gadis cantik nan baik hati dan bahkan penyakit kulit yang dideritanya pun sudah bersih dari kulitnya saat ini.
Pagi ini karena Fika sangat rindu dengan Nadhira sehingga dirinya memutuskan untuk pergi menemui Nadhira dirumahnya, beberapa tahun belakangan ini Nadhira tidak pernah datang untuk menemuinya karena dirinya sendiri berada didalam keadaan yang tidak baik baik saja.
Pagi ini Fika berencana untuk pergi menemui Nadhira dengan Adik yang ia temui di panti asuhan, keduanya pergi tanpa pamit kepada Ibu panti sehingga membuat Nadhira kebingungan harus bersikap apa dengan kedua gadis yang ada didepannya ini.
Untung saja Bi Ira langsung menghubungi pihak panti asuhan kalau keduanya kini tengah berada dirumah Nadhira, Nadhira pun memutuskan untuk tidak pergi bekerja dan mengajak keduanya untuk jalan jalan sambil menikmati pemandangan.
"Kayla mau makan lagi? Atau mau nambah es cream nya?" Tanya Nadhira kepada gadis kecil yang ada disebelah Fika.
"Kayya mau es jim boleh Kak?" Ucap Kayla yang belum bisa bicara dengan lancar.
"Boleh dong, kenapa ngak? Bentar, Kakak pesankan dulu ya".
"Iya Kak".
Nadhira pun memanggil pelayan dan meminta tambahan es cream buat Kayla, sementara dirinya juga memesan salad buah untuk dirinya sendiri, melihat keduanya makan dengan lahap membuat Nadhira merasa senang.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya pesanannya telah selesai dihidangkan, melihat es cream nya ditaruh didalam sebuah wadah gelas cukup besar dan bertaburan dengan susu kental manis berbagai macam coklat membuatnya terlihat begitu sangat menggugah selera Kayla.
"Asik... Es jim kayya datang" Seru Kayla dengan semangatnya menyambut es cream tersebut.
"Kayla, bilang makasih sama Kakak Dhira" Tegur Fika.
"Makasih ya Kakak baik"
"Sama sama" Jawab Nadhira.
Dengan semangatnya Kayla segera memasukkan es cream tersebut kedalam mulutnya mengunakan sendok yang telah disediakan, Kayla belum pernah makan es cream sebanyak itu sebelumnya sehingga dirinya begitu senang dan bahagianya.
"Kay, pelan pelan kalau makan, apa mulutmu tidak kedinginan?" Tanya Fika yang melihat Kayla makan.
"Ini enyak banyet Kak".
"Pelan pelan Kayla, ngak ada yang mau merebut es cream mu kok, kalo Kayla pengen es cream lagi Kayla bisa kok menemui Kakak dirumah lagi".
"Beneran Kak?" Tanya keduanya.
"Iya, tapi inget ucapan Kakak, kalo mau kerumah Kakak, kalian harus izin dulu sama Bu Fatimah, kasihan kan kalau dia nyari nyari kalian seperti tadi? Untung saja kalian bisa sampai dirumah Kakak, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kalian di jalan? Terus Bu Fatimah bingung harus mencari kalian dimana, belum tentu kan ada yang menolong kalian nanti, Kakak tidak mau kejadian hari ini terulang lagi" Omel Nadhira.
"Iya iya Kak, Fika minta maaf soal itu, Fika tadinya sudah mau berangkat tapi bocil ini mau ikut aja, lain kali ngak bakal diulangi lagi Kak, Fika minta maaf" Ucap Fika yang merasa tidak enak dengan Nadhira dan hanya dibalas anggukan oleh Nadhira.
"Oyang dilumah Kakak jahat" Celetus Kayla.
"Kenapa jahat?" Tanya Nadhira keheranan.
"Kami tadi diusir dari sana Kak, katanya Kakak ngak boleh ditemui oleh sembarang orang, untuk saja ada Bu Ira tadi, kalau tidak kami tidak bisa bertemu dengan Kakak lagi".
"Nanti Kakak akan bilang kepada dia, lain kali kalau kalian datang biar tidak dihalangi olehnya lagi, mereka kan juga tidak kenal dengan kalian, jadi mereka bersikap seperti itu".
"Iya Kak".
"Kalo kalian bilang ke Kakak sebelumnya, mereka juga tidak akan bersikap seperti itu kok, mereka hanya menjalankan tugas dari Kakak saja, sudah buruan dilanjutkan makannya".
"Kakak ngak ikut makan? Ini masih banyak Kak, Fika juga sudah kenyang".
"Jangan bohong Fika, Kakak tau kok kalian datang kerumah Kakak tadi belum makan kan? Jangan malu malu dengan Kakak".
"Belum sih Kak, Kakak tau dari mana? Tapi beneran Fika sudah kenyang Kak"
"Tanpa Fika ngomong ke Kakak pun Kakak sudah tau lah Fika, ya sudah lanjutkan makannya" Ucap Nadhira sambil mengusap kepala Fika dengan lembut.
__ADS_1
"Iya Kak".
Fika pun kembali melanjutkan makannya dan Nadhira pun menikmati salad buah yang ia pesan, tak beberapa lama kemudian Fika melihat Rifki beserta anak buahnya datang ditempat itu.
"Kak, bukannya itu Kakak Rifki ya? Temen Kakak, yang pernah Kakak ajak ke panti waktu itu" Ucap Fika yang berbisik kepada Nadhira.
Nadhira pun menoleh kearah dimana Fika menunjuk, ia menemukan Rifki yang tengah berjalan dari kejauhan, Nadhira tersenyum tipis kepadanya akan tetapi senyuman itu sama sekali tidak dibalas oleh Rifki dan bahkan Rifki tidak menatap kearahnya sedikitpun itu ataupun hanya sekedar menoleh.
Melihat itu, Nadhira hanya mampu untuk menundukkan kepalanya dan berpura pura tersenyum dihadapan Fika, Rifki melewati Nadhira begitu saja dan bahkan menatap kearah Nadhira saja dirinya tidak melakukan hal itu sama sekali.
Bhuk... Ciarrr...
"Maaf Tuan saya tidak sengaja".
Tiba tiba seorang pelayan wanita tanpa sengaja menabrak Rifki, ia tidak melihat bahwa Rifki tengah lewat ditempat itu sehingga dirinya menjatuhkan sebuah gelas dan tanpa sengaja menumpahkan isi gelas tersebut dan mengenai jas yang digunakan oleh Rifki saat ini.
"KAU! Bisa bekerja ngak sih!" Ucap Rifki dengan marahnya, ia pun mengepalkan kedua tangannya.
"Maafkan saya Tuan, saya benar benar tidak sengaja melakukan itu".
Melihat Rifki yang sedang marah marah ditempat itu membuat pemilik rumah makan tersebut segera mendatangi Rifki untuk bergegas meminta maaf atas kecerobohan yang telah diperbuat oleh karyawannya tersebut, ia mengetahui bahwa Rifki bukanlah orang biasa dan dirinya pasti akan mampu untuk membuat rumah makan tersebut bangkrut dengan segera.
"Tuan Muda, saya minta maaf atas ketidak nyamanan yang telah dilakukan oleh karyawan saya, saya berjanji akan mengajarkan kenapa dia" Ucap pemilik rumah makan tersebut dengan sedikit gemetaran.
"Pecat dia sekarang juga" Ucap Rifki dengan tegasnya kepada pria itu.
"Tuan tolong ampuni saja, tolong jangan pecat saya" Tangis wanita tersebut pecah seketika.
"Tuan Muda, sekali lagi kami minta maaf, kami tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi, kita bicarakan baik baik saja Tuan".
"Apa kau membela wanita ini? Maka akan ku pastikan tempat ini akan bangkrut saat ini juga dan kau akan menyesal karena melawan ucapanku!" Ancam Rifki.
"Tidak Tuan Muda, tolong jangan lakukan itu, baiklah saya akan pecat dia sekarang juga" Ucap lelaki itu dengan cepat.
"Tuan tolong ampuni saja, tolong jangan pecat saya Tuan, saya mohon".
"Bay" Ucap Rifki.
"Iya Tuan Muda".
Bayu tidak bisa berbuat apa apa dan dirinya hanya mampu untuk melaksanakan apa yang tengah diperintahkan oleh Rifki, Bayu segera menarik tangan wanita tersebut untuk pergi dari tempat itu, akan tetapi wanita itu berusaha untuk bersujud didepan Rifki agar Rifki mengampuni dirinya.
Melihat wanita itu tidak mau pergi dari hadapannya membuat Rifki melotot kearah Bayu dengan tatapan yang sangat tajam, tatapan itu seolah olah membuat Bayu merasa merinding dan ia pun menarik tangan wanita tersebut dengan kasar.
"Saya mohon Tuan jangan pecat saya hiks.. hiks.. hiks.. akh... Tolong ampuni saya Tuan Muda" Tiba tiba wanita itu menjerit keskit akibat dari tarikan yang diberikan oleh Bayu.
"Cepat pergi dari sini" Ucap Bayu sambil menarik tangan wanita tersebut.
"Tidak Tuan, tolong ampuni saya, saya masih ingin bekerja ditempat ini Tuan, kalau saya tidak bekerja bagaimana nasip keluarga saya Tuan hiks.. hiks.."
"Bay!"
"Iya Tuan Muda".
"Hancurkan rumah makan ini jika wanita ini tidak mau pergi dari tempat ini"
"Ta.. tapi Tuan Muda".
"Kau mau melawan perintahku Bay?".
"Tuan tolong jangan lakukan itu, saya minta maaf atas ketidak nyamanan anda ditempat ini, sebaik kau pergi dari sini" Ucap pemilik rumah makan tersebut sambil berusaha untuk mengusir wanita tersebut.
"Tuan tolong jangan lakukan itu kepada saya, tolong ampuni kesalahan saya Tuan".
"Ayo pergi dari sini!" Ucap Bayu dan terus berusaha untuk membuat wanita itu berdiri dari berlututnya.
Wanita itu terus memberontak untuk meminta dilepaskan oleh Bayu dan berusaha untuk meminta maaf kepada Rifki, Rifki seakan akan tidak peduli dengan wanita tersebut dan masih tetap berdiri tanpa ekspresi apapun.
"Hantikan Bay!" Tiba tiba terdengar teriakan seorang wanita yang tidak jauh dari mereka.
Nadhira tidak tega melihat wanita tersebut yang dipaksa oleh Bayu untuk pergi dari rumah makan tersebut, biar bagaimanapun dia seorang wanita yang mampu merasakan apa yang dirasakan oleh wanita lain, ini benar benar tidak adil bagi wanita itu karena hanya masalah seperti itu ia harus kehilangan pekerjaan yang selama ini ia kerjakan.
__ADS_1
"Dhira"
Mendengar teriakan Nadhira membuat Rifki menghela nafasnya dan melipat kedua tangannya didepan dadanya, Rifki juga membuang muka dari wajah Nadhira yang tengah berjalan kearahnya.
Mendengar teriakan Nadhira seketika membuat Bayu menghentikan tindakannya dan segera menoleh kearah dimana Nadhira berada, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini karena Rifki masih tetap menampakkan wajah dinginnya.
"Rifki! Apa yang kau lakukan dengan wanita ini, dia adalah seorang wanita kenapa kau sangat kasar kepadanya" Ucap Nadhira sambil membantu wanita itu berdiri dari tempatnya.
"Apa yang aku lakukan sama sekali bukan urusanmu!" Ucap Rifki dengan dingin.
"Ini urusanku karena kau membuat wanita kesakitan seperti itu, aku tidak akan membiarkan seorang wanita terluka, apa kau tidak punya perasaan sama sekali ha? Dimana perasaanmu itu, kenapa kau begitu tega seperti ini".
"Perasaanku? Kau tanya tentang perasaan kepadaku ha? Aku beritahu kepadamu sekali lagi bahwa perasaanku sudah lama musnah dari kehidupanku, untuk apa aku memikirkan orang lain? Sementara orang lain tidak mau mengerti tentang diriku, dan kau sama sekali tidak berhak untuk mengatur diriku dan apa yang aku perbuat, jangan pernah ikut campur dalam urusanku lagi".
"Rifki kenapa kau jadi berubah seperti ini, kau tidak seperti Rifki yang aku kenal selama ini" Ucap Nadhira dengan nada sedihnya karena mendengar ucapan dari Rifki yang terlihat begitu menyakitkan baginya.
"Memang seperti apa Rifki yang kau kenal itu? Sudah ku katakan bukan? Rifkimu sudah mati Dhira, dan dia tidak akan pernah kembali, jadi jangan samakan aku dengan dia yang telah mati, orang yang sudah mati tidak akan bisa dihidupkan kembali, dan aku bukanlah Rifkimu lagi, mulai sekarang jangan pernah ikut campur dalam urusanku"
"Kau memang benar, Rifkiku memang telah pergi untuk selamanya meninggalkan diriku dikehidupan ini dan dia tidak akan pernah kembali, lantas untuk apa aku berhadap kepadamu untuk baik kepada orang lain, kau bukanlah Rifki yang aku kenali" Nadhira langsung menunduk kepalanya dan dapat terdengar isak tangis lirih dari mulutnya.
"Lupakan Rifkimu itu dan jangan pernah halangi langkahku, atau aku bisa berbuat nekat kepadamu" Ucap Rifki dengan nada dingin.
"Apa yang bisa kau lakukan denganku? Aku sama sekali tidak takut denganmu"
"Emang kau pikir aku tidak bisa tega dengan? Aku ingatkan kepadamu Dhira, aku bukanlah Rifki yang kau kenali itu, karena kita jauh berbeda".
"Aku tidak peduli siapapun dirimu itu, jika kau menyakiti hati seorang wanita, kau harus berurusan denganku dan menjadi lawanku".
Meskipun dengan linangan air mata, Nadhira kembali menatap kearah Rifki dengan tatapan tajam, dan hal itu membuat Rifki hanya menghela nafas berat, dan masih tetap dengan wajah dinginnya.
"Ayo pergi dari sini, benar benar mengecewakan di tempat ini" Ucap Rifki kepada anak buahnya dan meninggalkan tempat itu.
Rifki segera melangkah pergi dari tempat itu meninggalkan Nadhira yang ada disana, ia benar benar sudah tidak mood untuk makan ditempat itu lagi karena kejadian itu yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
Kepergian Rifki dari tempat itu menyisakan sebuah air mata yang mengalir diujung mata Nadhira, ia tidak menyangka bahwa Rifki akan berubah seperti ini kepadanya saat ini, apalagi dia yang langsung pergi dari tempat itu tiba tiba.
Nadhira terdiam cukup lama menatap kepergian dari Rifki, ketika bayangan Rifki sudah tidak lagi terlihat olehnya membuat Nadhira segera menghapus air matanya tersebut dengan kasar.
"Pak jangan pecat dia" Ucap Nadhira kepada pemilik rumah makan tersebut.
"Saya tidak bisa berbuat apa apa Nona, saya takut dengan ancaman Tuan Muda itu" Ucap pemilik rumah makan kepada Nadhira.
"Dia tidak akan berani melakukan itu, karena aku akan melindungi rumah makan ini nanti, dan akulah yang akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi dirumah makan ini, jika kau memiliki masalah dengan orang orang tadi".
"Terima kasih Nona" Ucap wanita itu dengan bahagianya kepada Nadhira.
"Nona, saya takut".
"Tidak akan terjadi sesuatu Pak, tenang saja".
"Terima kasih Nona" Ucap keduanya yang hanya dibalas anggukan oleh Nadhira.
Nadhira kembali berjalan ketempat duduknya dimana Fika dan Kayla berada, Fika dapat melihat sebuah kesedihan diwajah Kakaknya itu akan tetapi kesedihan itu segera ditepis oleh Nadhira.
"Kakak kenapa?" Tanya Fika.
"Kakak ngak apa apa kok" Jawab Nadhira dengan menerbitkan sebuah senyuman diwajahnya.
"Kakak lagi berantem dengan Kak Rifki? Kenapa Kak Rifki langsung pergi begitu saja setelah mengatakan sesuatu dengan Kakak".
"Dia ada urusan, anak kecil tidak seharusnya ikut campur urusan Kakak seperti ini".
"Kakak, Fika sudah besar tau sekarang".
"Ngak, bagi Kakak Fika masih tetap sama, ngak akan tumbuh besar".
"Kakak, jangan berantem dengan Kak Rifki seperti itu ya, Fika jadi sedih melihatnya".
"Sudah, lanjutkan saja makannya setelah ini Kakak akan mengantar kalian kembali ke panti, Bu Fatimah pasti akan mencemaskan kalian nanti".
"Iya Kak".
__ADS_1