Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Pengorbanan Theo


__ADS_3

Tatapan mata Rifki mendadak berubah menajam kearah Varel, melihat itu membuat Nadhira takut terjadi sesuatu dengan Rifki, menyaksikan itu membuat Bayu memegangi tangan Nadhira dengan erat agar wanita itu tidak mendekat kearah Rifki yang sedang kerasukan itu.


"Bay, punggung Rifki kenapa? Kenapa bajunya ada bercak darah?" Tanya Nadhira ketika melihat adanya sedikit bercak darah.


"Biarkan Rifki yang akan menjelaskan itu kepadamu Dhira, setelah ini tanyakan saja kepadanya"


"Apa dia terluka?" Dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Bayu, "Kenapa dia bisa terluka? Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya?"


Sementara dibawah alam sadar Rifki, Rifki tengah menyaksikan semua apa yang terjadi ditempat itu, ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pangeran Kian dengan seksama dan akhirnya dia mengetahui bahwa keturunan Galih tidak terima bahwa dirinya yang mendapatkan keris pusaka xingsi itu.


Pangeran Kian sendiri memberikan kepadanya sebuah pengelihatan dimasa lalu tentang Birawa dan juga apa yang dilakukan oleh Danu kepada Panji dan Indah, hingga akhirnya dendam itu menjadi turun termurun sampai saat ini.


Galih berpikir bahwa dia adalah anak pertama dari Panji sehingga dirinya merasa iri ketika mengetahui bahwa Panji memiliki sebuah keris yang cukup hebat didalam tubuhnya akan tetapi dirinya tidak memiliki itu dan tidak ada hal yang istimewa yang ia dapatkan sebagai anak pertama.


Rifki mencerna kisah itu dengan seksama, ia tidak mau adanya kisah yang terlewatkan untuk dia ketahui, kini Pangeran Kian tengah bertarung melawan Varel dialam nyata dengan menggunakan tubuh Rifki dalam bertarung itu.


Dialam nyata Varel terlihat seperti kewalahan untuk menghadapi Rifki, Rifki yang digerakkan oleh Pangeran Kian tersebut terlihat semakin lincah daripada sebelumnya, tiba tiba bala bantuan datang sejumlah 30 orang untuk membantu Varel yang dipimpin Avel Adik kandung dari Varel.


Karena kelelahan untuk melawan Rifki akhinya Varel terjatuh tepat dikaki Adiknya itu, hal itu membuat Avel langsung bergegas untuk membantunya berdiri kembali, melihat itu membuat Pangeran Kian hanya menatapnya keduanya dalam diam.


Melihat itu membuat Bayu segera memerintahkan anggota Gengcobra yang ia bawa bersamanya untuk melindungi Rifki, anggota Gengcobra lalu berdiri disamping Rifki, kedua anggota itu saling berhadapan saat ini.


"Apa kau ingin banyak nyawa yang mati sia sia ditempat ini sekarang? Kalian semua tidak akan bisa mengalahkanku, meskipun kalian semua bergabung bersatu untuk melawanku" Tanya Pangeran Kian yang menggunakan tubuh Rifki.


"Jangan banyak bicara, serahkan keris pusaka xingsi itu kepadaku" Sentak Varel tiba tiba.


"Jika itu yang kau inginkan, maka aku akan membawa semuanya kealamku sekarang, dan akan menjadi pengawalku untuk selamanya"


Pangeran Kian lalu memejamkan kedua matanya menggunakan tubuh Rifki dengan perlahan lahan, beberapa detik kemudian orang orang itu pun lenyap beserta kesadaran Rifki yang kembali kepada tubuhnya, Rifki merasa kepalanya sangat pusing hingga membuatnya memegangi kepalanya tersebut.


"Rifki..." Panggil Nadhira.


"Kepalaku sangat pusing" Keluh Rifki.


Melihat Rifki yang tidak bereaksi membuat kedua orang itu langsung bergegas untuk menyerangnya begitu saja, Bayu dan beberapa anggota Gengcobra langsung menghadang mereka dan tidak membiarkan mereka untuk dapat menyakiti Rifki.


Kini Rifki berada ditengah tengah pertarungan itu sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit, anggota geng milik Varel yang masih tersisa itu yang sebelumnya bertarung dengan anggota Gengcobra dan Gengters kini datang ketempat itu.


Diantara puluhan orang yang bertarung itu, Rifki dikelilingi oleh anggota Gengcobra dan Gengters juga, bisingnya pertarungan tersebut tidak dapat didengar dengan jelas oleh Rifki karena kepalanya yang mendadak terasa pusing.


"Kakek Chandra" Ucap Rifki ketika melihat bayangan Chandra terlintas dipikirannya.


"Rifki sadar! Jangan diam saja" Teriak Theo yang ada disebelah Rifki sambil sibuk untuk menahan serangan anak buah Varel.


"Kepalaku pusing, sangat pusing" Ucap Rifki tanpa membuka kedua matanya itu.


"Kau tidak apa apa kan? Apa kau sakit?"


"Aku ngak apa apa kok Theo, hanya saja kepalaku terasa pusing, pusing banget, aku juga tidak tau kenapa bisa terasa seperti ini"


"Bertahanlah, Nadhira sendirian sakarang, aku akan melindungi Nadhira, biar anggota Gengcobra yang akan melindungimu disini, kau harus baik baik saja"


"Terima kasih"


Melihat Nadhira yang sendirian berada dikejauhan membuat Theo segera bergegas kearahnya, ketika akan bergerak mendekat kearah Nadhira tiba tiba Theo melihat ada seseorang yang mendekatinya dan ingin mencelakainya, hal itu langsung membuat Theo sontak untuk berlari.


Bhuk...


Theo menendang seseorang yang berada tidak jauh dari Nadhira dengan sangat kerasnya, orang itu membawa sebuah pisau untuk mencelakakan Nadhira sehingga Theo langsung reflek untuk menyerang orang tersebut.


Melihat seseorang yang ditendang oleh Theo tiba tiba membuat Nadhira langsung terkejut dan hampir berteriak, Theo lalu berdiri membelakangi Nadhira untuk menghadap kearah orang tersebut, dengan nafas memburu Theo menatap tajam kearah orang tersebut.


"Dhira kau tidak apa apa kan?" Tanya Theo tanpa menoleh kearah Nadhira.

__ADS_1


"Aku tidak apa apa, makasih ya, tapi apa yang terjadi dengan Rifki? Kenapa dia memegangi kepalanya seperti itu? Theo aku takut"


"Aku tidak tau soal itu Dhira, dia bilang kepalanya pusing dan belom bisa fokus untuk bertarung"


"Aku mau menemui Rifki"


"Jangan Dhira, bahaya disana"


"Aku tidak bisa membiarkan Rifki dalam bahaya Theo, aku tidak mau dia kenapa napa, aku tidak mau kehilangan Rifki, aku harus membantunya"


"Aku tau itu Dhira, percayalah bahwa Rifki akan baik baik saja, jika kau kesana nanti anggota Gengcobra akan kebingungan untuk menolongmu"


Tiba tiba orang itu pun kembali bangkit dan langsung menyerang kearah Theo, Theo yang mendapatkan serangan tiba tiba itu pun langsung tersentak untuk menggerakkan tangan dan kakinya untuk memukuli orang tersebut.


Theo kalah telak hingga luka sayatan dari pisau yang dibawa oleh orang tersebut tercipta dilengannya itu, darahnya mengucur deras bagaikan sebuah bendungan yang tiba tiba terbuka dengan sendirinya karena penuhnya air yang ditampung.


Theo langsung memegangi tangannya yang perih itu untuk menghentikan pendarahan yang ia alami, ia pun tidak tinggal diam dan langsung menendang orang tersebut tepat dikepalanya dengan sangat kuat, dan hal itu langsung membuat orang tersebut terhampar ditanah sambil memegangi kepalanya.


"RIFKI SADAR!" Teriak Theo hingga otot otot yang ada diwajah dan lehernya timbul.


"Rifki... Rifki... " Nadhira terus memanggil nama Rifki.


Melihat Rifki yang masih tetap memegangi kepalanya dengan erat membuat Nadhira melangkahkan kakinya menuju kearah Rifki, melihat itu membuat Theo tidak akan membiarkan Nadhira begitu saja, ia lalu mengitari Nadhira untuk menyerang orang orang yang ingin mencelakai Nadhira.


"Rifki, kau harus baik baik saja demi anak kita, Rifki buka matamu, lihatlah aku saat ini, kau harus baik baik saja, tolong besarkan anak kita" Air mata Nadhira mengalir begitu saja meskipun langkahnya kini kian mendekat kearah Rifki.


"Dhira awas!" Teriak Theo yang berada tidak jauh dari Nadhira saat ini.


Mendengar teriakan tersebut langsung membuat Nadhira menoleh kearah seseorang yang tengah memainkan pisau kearahnya, Nadhira pun dengan segera menghindar darinya dan melontarkan sebuah pukulan kepada orang tersebut.


"Akh... Kau harus kuat Nak, kau anak Rifki, bertahanlah Nak, Mama mohon kepadamu, beri Mama kekuatan untuk menolong Papamu" Pekik Nadhira merasakan perutnya sakit setelah melakukan gerakan untuk memukul orang tersebut.


"Kau tidak apa apa kan Dhira?" Tanya Theo meskipun sambil melawan orang orang itu.


"Bertahanlah Dhira, aku akan melindungimu"


Theo melontarkan sebuah tendangan kepada seseorang yang tengah menjadi lawannya saat ini, setelah itu ia pun menghadap yang lainnya yang akan menjadi penghambat Nadhira untuk mendekat kearah Rifki, meskipun dia terus menghalangi Nadhira bersama dengan Rifki saat ini akan tetapi Nadhira tetap nekat untuk mendekat sehingga hal itu membuat Theo mau tidak mau harus menjaga Nadhira selama ia mendekat kearah Rifki.


Mendengar suara Nadhira yang kesakitan membuat Rifki memejamkan matanya dengan erat dan berusaha untuk bisa membuka matanya itu, teriakan teriakan yang memilukan pun dapat didengar oleh Rifki dan hal itu membuat kepala Rifki semakin terasa pusing dan berat.


"Dhira dimana kamu... Kakek Chandra... Pangeran Kian..." Kepalanya sangat pusing.


"Rifki sadar!" Ucap Bayu yang berada didekat Rifki bersama dengan inti Gengcobra lainnya yang sedang mengitari Rifki.


"Tuan Muda, fokus!" Ucap Reno.


"Rifki sadar, demi Nadhira!" Teriak Fajar.


Rifki mengepalkan tangannya dengan erat, keringatnya terus membasahi tubuhnya tak henti hentinya, punggungnya pun terasa sedikit sakit dan juga perih karena terkena keringatnya sendiri, hal itu membuat Rifki merintih kesakitan.


Beberapa anggota Gengcobra pun terbaring ditanah dengan luka memar mereka, inti Gengcobra pun sudah kelelahan karena serangan yang terus mereka terima dengan tak henti hentinya, dan hal itu juga membuat anggota Varel pun kelelahan karena anggota Gengcobra dan Gengters sama sekali tidak ada yang menyerah.


Ketika jarak Nadhira dan Rifki hanya terpaut beberapa meter saja, Nadhira melihat ada seseorang yang berniat untuk menusuk Rifki dengan pisau yang agak panjang, melihat itu membuat Nadhira langsung berlari kearah Rifki dan tidak mempedulikan situasi disekitarnya itu.


"TIDAK! Rifki! Jangan!!!" Teriak Nadhira.


Jleb...


"Akh..."


Nadhira langsung memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya, pelukan tersebut membuat Rifki merasa tenang, kepalan tangan Rifki pun perlahan lahan ia buka, pernafasan kembali normal ketika Nadhira memeluknya begitupun dengan rasa sakit yang ada dikepalanya.


Nadhira pun merasakan ada yang aneh didadanya ketika dirinya bersentuhan dengan Rifki, ia tidak tau bahwa energi keris pusaka xingsi dan juga permata iblis yang dimiliki oleh anaknya tersebut menyatu dan mengalir menuju ketubuh Rifki, dan energi itu mampu membuat Rifki merasa tenang.

__ADS_1


Rifki langsung membuka kedua matanya dengan lebar lebar, tiba tiba adanya sebuah energi yang sangat misterius dari dalam tubuh Rifki hingga membuat mereka semua pingsan kecuali inti Gengcobra, Varel dan adiknya, dan juga Theo beserta Nadhira tetap berdiri dengan tegaknya.


Melihat mereka yang berjatuhan tiba tiba membuat semuanya begitu terkejut, Rifki sendiri pun merasa begitu terkejut dengan apa yang dirinya lihat saat ini, sosok Theo yang menatap kearahnya dengan sebuah senyuman dan air mata.


"Theo" Ucap Rifki pelan.


Darah segar mengalir dari ujung bibir Theo, tangannya terlentang untuk melindungi Nadhira, sebuah tusukan ia dapatkan dari punggungnya hingga menembus kedadanya, dan kini dadanya tengah dipenuhi oleh darah yang muncrat keluar dari dalam tubuhnya.


Pandangan Theo menatap nanar kearah dadanya yang terdapat ujung dari sebuah pisau panjang yang kini telah bersimbah darah, ia pun menyentuh besi panjang itu perlahan lahan dengan ujung jarinya, sakit yang ia rasakan saat ini.


Merasakan itu membuat Theo terbatuk batuk hingga memuncratkan darah dari mulutnya, sakit rasanya karena pisau itu juga telah menembus jantungnya, Theo dapat merasakan denyutan jantungnya melalui ujung pisau yang menembus sampai ke dadanya itu.


Serangan itu ditujukan untuk Rifki, akan tetapi Nadhira berusaha untuk melindungi Rifki dari serangan itu, akan tetapi siapa sangka bahwa Theo yang menerima serangan tersebut demi melindungi Nadhira yang kini memeluk tubuh Rifki.


Mendengar suara Rifki lirih membuat Nadhira melepaskan pelukannya itu dan langsung menoleh kearah Theo yang kini sudah bersimbah darah apalagi wajahnya yang terus menampakkan senyuman meskipun darah mengalir dari ujung bibirnya itu.


"Theo" Ucap Nadhira saat mengetahui kondisi Theo saat ini.


Rifki mengerakkan tangannya kearah orang yang telah menusuk Theo itu dengan kekuatan keris pusaka xingsi yang ia keluarkan tersebut, orang itu adalah Avel Adik dari Varel yang menjadi musuh mereka saat ini.


Tatapan Rifki begitu menusuk dan tajam, Rifki memerintahkan kepada khodam macan putih yang ia miliki untuk membunuh Avel sekarang juga, tanpa aba aba tiba tiba Avel yang berada tidak jauh darinya itu pun langsung memuntahkan darah yang sangat hitam, beberapa detik kemudian langsung membuat Avel terjatuh dan tak bernyawa.


Jika didunia nyata itu adalah sebuah santet jarak dekat ( wasek ada ada aja author satu ini, anggap aja gitulah ya biar author seneng gitu :v lanjut gaes, awas nanti khodam ku marah kalo kalian ngak iyakan, beneran ini ).


Karena Avel yang tumbang membuat pisau panjang yang ia pegangi tersebut langsung tercabut dari tubuh Theo, hal itu langsung membuat Theo oleng sehingga dirinya pun ikut terjatuh, akan tetapi Bayu dan Fajar yang berada tidak jauh darinya pun langsung menangkap tubuhnya itu.


"Akhirnya kau membuka matamu Rif" Ucap Theo lirih.


"Theo, apa yang kau lakukan!" Teriak Nadhira.


"Theo" Ucap Rifki lirih.


"Sudah ku katakan sebelumnya kan? Aku akan terus berusaha untuk melindungimu Dhira, aku tidak peduli dengan nyawaku sendiri"


"Tidak seperti ini caranya Theo! Kau sama saja dengan bunuh diri"


"Lalu apa yang akan kau lakukan Dhira? Kau juga ingin bunuh diri untuk melindungi Rifki"


Beberapa kali Theo terbatuk batuk hingga mengeluarkan darah yang begitu banyak dari mulut dan juga luka yang ada dipunggungnya hingga tembus kedadanya itu, akan tetapi dirinya masih mampu untuk memancarkan sebuah senyuman kepada Nadhira.


Melihat itu membuat Nadhira dan Rifki lalu mendekat kearah dimana Theo yang sedang terbaring lemah, keduanya pun berlutut dihadapan Theo dengan air mata yang menetes perlahan lahan.


"Maafkan aku ya, karena aku telah jahat kepada kalian berdua selama ini, kalian orang yang baik yang pernah aku temui, aku sangat beruntung bertemu dengan kalian berdua" Ucap Theo dengan lemah.


"Theo bertahanlah, kita akan segera membawamu kerumah sakit, kau pasti baik baik saja, bertahanlah Theo" Ucap Rifki dengan khawatirnya.


"Hidupku tidak akan lama lagi Rif, aku telah berjodoh dengan kematian, maafkan aku yang selama ini selalu memusuhimu padahal kamu tidak pernah membalas apa yang telah aku perbuat kepadamu"


"Kami sudah memaafkanmu sejak lama Theo, kami sama sekali tidak ada dendam kepada dirimu dan juga anggota Gengters, kau adalah sahabat Dhira selama aku jauh dari Dhira, aku berterima kasih kepadamu karena telah melindungi Nadhira selama ini, kau harus bertahan"


"Aku sudah tidak kuat Rif, ini sangat sakit sekali, maafkan aku ya, aku senang karena kau sudah bisa memaafkan diriku, tolong iklaskan kepergianku ya, aku sudah tidak sanggup, akh.. uhuk.. uhuk" Theo kembali terbatuk darah.


"Theo kau harus bertahan, apa kau tidak ingin bermain dengan keponakanmu nantinya? Bertahanlah Theo demi diriku" Ucap Nadhira.


"Jika kau sudah tidak mampu lagi untuk bertahan maka pergilah Theo, pengorbananmu akan selalu kami kenang selamanya, terima kasih karena sudah menolongku dan juga Nadhira, tanpa dirimu dan anggota Gengters aku tidak tau lagi apa yang akan terjadi kepada Nadhira"


"Terima kasih Rif, aku duluan ya, tolong jagain Nadhira dan anaknya untukku ya, aku sangat mencintainya, aku tidak mau dia terluka"


"Aku akan selalu menjaga Nadhira, dia adalah wanita yang kita cintai, Theo maafkan semua kesalahanku selama ini kepadamu, Theo boleh aku tanya sesuatu? Kenapa kamu bisa menyelamatkan Nadhira?"


"Seseorang mengirimkan sebuah surat dan memberitahu bahwa Nadhira diculik kepadaku, dia juga mengirim sebuah pesan kepasaku, tanpa berpikir panjang, aku langsung bergegas mencari Nadhira"


"Seseorang?"

__ADS_1


__ADS_2