Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Menitipkan Keysa


__ADS_3

Ana pun telah diizinkan untuk keluar dari ruangan itu, meskipun hari masih ragu mengenai sosok seperti Ana, akan tetapi jawaban yang diberikan oleh anak sedikit lebih jujur. Dirinya juga tidak memiliki niat buruk untuk Rifki, oleh karena itu harus mengizinkan dia untuk keluar dari ruangan itu.


Ana sendiri merasa lega karena Haris mempercayai kata katanya itu, dirinya pun langsung bergegas menuju ke dapur yang ada di rumah itu. Ana tidak melihat lagi keberadaan dari Rifki beserta yang lainnya, ruang dapur yang ada di rumah itu dekat dengan ruang untuk menonton televisi bersama.


Entah mengapa suasana rumah tersebut yang tadinya ramai sekarang mendadak menjadi hening, Ana tidak tahu apa yang terjadi di rumah itu karena sejak tadi dirinya berada di sebuah ruangan bersama dengan Haris. Sementara di satu sisi Rifki sedang berada di dalam kamarnya bersama dengan Keysa, keduanya tengah menatap ke arah sebuah jendela yang di mana jendela itu menghubungkan kamarnya dengan dunia luar.


Keysa masih sibuk memainkan jemari milik Rifki, sementara Rifki tengah sibuk menatap ke arah langit melalui jendela kamarnya. Rifki sangat merindukan kebersamaannya bersama dengan Nadhira, selama ini hanyalah Nadhira yang mampu untuk membuatnya ceria, bahkan karenanya hingga membuat Rifki tidak lagi merasakan rasa sakit.


Meskipun dirinya telah terluka sangat parah sekalipun asalkan ada Nadhira maka rasa sakitnya itu tidak lagi dia rasakan, Nadhira benar benar sosok yang berarti baginya dan tidak ada yang mampu untuk menggantikan dirinya dihati Rifki.


"Om, Om tidak pernah menceritakan tentang Tante kepada aku selama ini. Tante itu seperti apa, Om?" Keysa tiba tiba bertanya kepada Rifki mengenai sosok Tantenya yang tidak pernah dirinya temui.


"Keysa mau tahu tentang Tante yang mana? Banyak sekali kisah yang Om jalani bersama Tante selama ini,"


"Tentang bagaimana Om menyukai Tante,"


Entah kenapa gadis kecil itu justru bertanya hal yang mengenai suka, Keysa merasa sangat penasaran kenapa Om nya sangat menyayangi Tante nya itu. Bahkan meskipun Tante nya telah meninggalkannya sangat lama, akan tetapi Rifki terus saja mengenangnya hingga sampai saat ini.


"Eysa diajari siapa ngomong gitu?" Tanya Rifki yang terkejut mendengar ucapan dari Keysa.


"Mama yang bilang sama Keysa, Om. Kata Mama, Om sama Tante itu nakal waktu kecil, terus Mama juga bilang sama Keysa kalau Om dan Tante itu suka bikin masalah sampai Kakek dan Nenek bingung."


Rifki pun terkekeh pelan mendengar ucapan anak kecil yang ada di dalam pangkuannya itu, entah apa saja yang telah diberitahukan Ayu kepada anaknya. Bayangan bayangan mengenai masa kecil Rifki dan Nadhira pun kembali teringat di dalam pikiran Rifki, masa kecil yang tidak akan pernah terulang kembali.


Tentang bagaimana kebersamaan keduanya dalam menghadapi setiap masalah yang terjadi, bahkan Rifki sendiri pun pernah diusir oleh Rendi karena ingin mengajak Nadhira bermain. Rifki sendiri pun pernah diomeli oleh Lia karena mengajak Nadhira bermain jauh dari rumah, karena memang keduanya itu adalah sahabat sejak mereka memasuki sekolah TK.


Dulunya Rifki sering mengganggu Nadhira agar gadis itu marah dan menangis, oleh karena itu dirinya sering dimarahi oleh Lia karena mengganggu anaknya. Siapa sangka bahwa keduanya sudah menikah saat ini, dan bahkan keduanya sudah memiliki seorang anak, akan tetapi Rifki tidak tahu ke mana perginya orang yang dicintainya itu.


Seandainya dirinya bisa mengulang ke masa lalu, dirinya hanya ingin terus bersama dengan Nadhira, orang yang paling dicintainya. Akan tetapi takdir berkata lain hingga membuat keduanya terpisah, entah sampai kapan mereka harus berpisah seperti ini, Rifki sendiri tidak mengetahuinya kapan mereka akan bersama kembali.


Takdir sama sekali tidak berpihak kepada keduanya untuk bersama, meskipun keduanya sudah memiliki hubungan akan tetapi takdirlah yang memisahkan keduanya. Ini semua karena kejadian yang di masa lalu yang menyimpan begitu banyak dendam, dendam itu seakan akan tidak akan hilang meskipun sudah ditelan oleh zaman.


Dendam dari seorang anak yang ayahnya mengorbankan nyawa untuk orang lain, Anak itu tidak mengetahuinya bahwa ayahnya ikhlas melakukannya akan tetapi dirinya berpikir bahwa orang yang dimaksud itu memiliki niat buruk kepada ayahnya hingga membuat ayahnya meninggal. Kisah ini hanyalah sebuah kesalahpahaman, akan tetapi kesalahpahaman itu berlangsung hingga saat ini.


Ada kalanya kita bisa saling memaafkan satu sama lain, akan tetapi rasanya untuk memaafkan hal itu tidaklah mudah apalagi setelah banyak korban nyawa. Bukan hanya nyawa dari satu pihak saja, akan tetapi kedua pihak pun saling menumpahkan darah meskipun Rifki mencoba untuk mencegahnya, nyatanya dendam itu sudah mendarah daging.


Meskipun Rifki mencoba untuk mendamaikan kedua pihak dan tidak memperlanjut masalah itu, akan tetapi pihak yang lain terus saja mengincar nyawanya beserta keturunannya. Bahkan anak yang masih berada di dalam kandungan pun ikut serta dihabisi, Rifki telah kehilangan anak pertamanya hingga membuatnya ingin sekali menghabisi orang yang telah melakukan itu kepadanya.


Rifki begitu sangat marah ketika mengetahui anaknya tiada meskipun anaknya itu masih berada di dalam kandungan, apalagi ketika melihat Nadhira marah kepadanya, hal itu semakin membuat dirinya hilang kendali. Di saat anak pertamanya gugur, Rifki telah melenyapkan orang yang telah membuat Nadhira keguguran.


Keturunan dari Galih terus saja mencoba untuk membunuhnya beserta keluarganya, meskipun Rifki beserta keluarga tidak pernah mencoba untuk melakukan kejahatan kepada mereka. Entah sampai kapan dendam ini akan terus berlanjut, dirinya hanya takut kehilangan orang orang yang ada di sekitarnya, sudah cukup dirinya kehilangan banyak orang yang sangat berarti baginya tapi tidak untuk kali ini.


Rifki tidak akan sanggup lagi jika kehilangan orang yang ada di dekatnya itu, meskipun memang kehidupan manusia tidaklah abadi di dunia ini. Akan tetapi, dirinya akan berusaha untuk menyelamatkan orang yang dirinya sayangi dari orang-orang jahat yang menginginkan nyawanya.


"Mamamu terlalu banyak cerita ya, Eysa? Apa saja yang telah dikatakan oleh Mamamu?" Tanya Rifki kepada Keysa kecil.


"Mama bilang kalau Om selalu mentingin Tante dari dulu, daripada Adiknya sendiri. Bahkan jarang ada waktu untuk Mama, terus Mama iri sama Tante,"


"Ada ada aja, mana mungkin Mama Keysa iri sama Tante? Tante sama Mamanya Keysa tuh akrab banget, kalau ada Tante disini pasti Om yang dilupakan oleh mereka,"


"Terus Om sedih?"

__ADS_1


*****


Sore hari telah tiba, Rifki dan yang lainnya tengah berkumpul di depan televisi. Di kejauhan Ana terus memperhatikan mereka semua, melihat mereka yang berkumpul bersama membuat hati Ana merasa senang sekaligus bahagia meskipun tidak bisa berkumpul dengan mereka.


Ingin sekali dirinya berkumpul bersama dengan mereka, akan tetapi ada suatu alasan yang membuatnya tidak mampu untuk menemui mereka dengan jati dirinya yang sebenarnya. Ada rahasia tersembunyi yang selama ini disembunyikan oleh Ana seorang diri, tanpa ada yang mengetahuinya.


"Kak, aku titip anakku di sini ya? Aku mau berangkat sama Mas Hafis sekarang soalnya," Ucap Ayu tiba tiba setelah memperhatikan gelang jam yang melingkar dipergelangan tangannya itu.


"Berangkat sekarang?" Tanya Rifki.


"Iya Kak, paling lusa nanti aku baru pulang. Jagain Keysa ya, Kak?"


"Iya deh, hati hati dijalan. Fis, kalau naik mobil jangan cepat cepat lajunya, apalagi kondisi jalanan yang macet belakangan ini,"


"Iya Kak, Kakak tenang saja kalo soal itu. Lagian Hafis juga bersama dengan Ayu, mana mungkin Hafis membiarkan Ayu kenapa kenapa," Jawab Hafis.


"Baguslah kalau begitu. Kalian tenang saja, Kakak akan jagain Keysa kok,"


"Keysa dimana, Kak?" Tanya Ayu sambil celingukan karena tidak mendapat anaknya itu.


"Dia lagi tidur dikamar Kakak, Ay. Mungkin karena kelelahan berlarian dari tadi, biarkan dia tidur nyenyak,"


"Iya Kak, ya udah kami berangkat dulu ya, Kak. Assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam,"


Ayu dan Hafis pun langsung mencium tangan Rifki bergantian, keduanya juga berpamitan kepada Haris dan melakukan hal yang sama. Melihat kedua anaknya hendak pergi, Haris pun ikut berpamitan untuk pulang, karena tidak ingin membiarkan Putri sendirian dirumah.


"Eishhh mana mungkin Papa ikut begituan, itu urusan anak muda. Papa ini sudah tua, jadi nggak zamannya begituan," Ucap Haris sambil menyengir.


"Kali aja Papa juga mau ikut," Ucap Ayu.


Haris pun memandangi ke arah wajah Rifki, terlihat begitu banyak rasa kesedihan yang tidak bisa dilihat tutupi dari Ayahnya. Haris dapat merasakan bahwa Rifki tengah bersedih saat ini, akan tetapi Rifki tetap memaksakan diri untuk tersenyum di hadapan Adiknya itu. Rifki tidak ingin jika Adiknya mengetahui bahwa dirinya sedang bersedih saat ini, hanya Rifki saja yang jauh dari pasangannya.


"Nggak. Kasihan Mama kalian dirumah sendirian nanti," Ucap Haris.


"Kami berdua berangkat dulu ya, Pa. Titip Keysa juga ya Kak," Ucap Ayu.


"Iya," Jawab keduanya.


Ayu dan Hafis langsung bergegas untuk pergi dari rumah Rifki, keduanya ingin menghabiskan waktu bersama untuk beberapa hari. Rifki sendiri pun tidak keberatan jika Keysa menginap dirumahnya itu, Rifki justru senang karena adanya gadis kecil itu didalam rumahnya yang akan membuatnya merasa senang.


"Papa juga pulang, ya?" Tanya Haris kepada Rifki.


"Kenapa harus buru buru pulang sih, Pa. Ini juga bukan rumah orang lain, ini rumah anak Papa sendiri," Ucap Rifki.


"Besok Papa kesini lagi kok sama Mama, kasihan Mamamu dirumah sendirian nanti. Apalagi Keysa nginep disini sama kamu, jadi dirumah sepi. Tadinya Keysa mau ditinggal dirumah sama Mamamu, tapi Keysa nya yang mau nginep disini sama kamu,"


"Iya deh, Pa. Jagain Mama yang bener dirumah,"


"Pastilah. Apa kamu nggak mau menikah lagi, Rif? Hidup sendirian terus juga nggak enak, kamu juga butuh seseorang untuk memperhatikan kamu, mendampingimu, dan merawatmu. Papa tau kamu tidak bisa membuka hati untuk orang lain, tapi cinta itu datang karena terbiasa,"

__ADS_1


"Rifki nggak mau, Pa. Cinta Rifki sudah habis untuk Nadhira, dan nggak tersisa sedikitpun untuk orang lain. Dihati Rifki hanya ada Nadhira saja, nggak akan ada yang bisa menggantikan dia, meskipun dia nggak ada disini bersama Rifki, tapi Rifki yakin bahwa suatu saat nanti dia pasti pulang untuk kembali kepada Rifki, Pa. Dia nggak mungkin bisa memisahkan anak dan Ayahnya dalam waktu yang lama,"


"Papa tau itu, Rif. Papa hanya menyarankan saja agar kamu tidak terus terusan bersedih seperti ini, kamu tidak bisa berbohong kepada Papamu sendiri, Rif. Jangan pura pura tegar dihadapan Papa, Papa bisa merasakan apa yang kamu rasakan,"


"Kembalikan Dhira kepadaku, Pa. Bawa dia pulang, apakah permintaan Rifki terlalu besar? Sehingga tidak ada yang mampu untuk mengabulkannya. Untuk apa Rifki memiliki harta yang banyak? Untuk apa ada begitu banyak orang disamping Rifki selama ini? Jika tidak ada satupun diantara mereka yang bisa mengabulkan keinginan Rifki. Rifki hanya ingin Dhira kembali,"


Dikejauhan Ana terus memperhatikan wajah Rifki, dirinya merasa bersalah kepada Rifki, dia ingin menceritakan semuanya kepada suaminya itu. Tapi, dirinya tidak bisa melakukan itu untuk saat ini, jika dirinya berada disisi Rifki, mungkin Rifki tidak akan pernah merasa sedih seperti ini.


"Maafkan aku. Biarkan aku sendiri yang menanggung semuanya sendirian, kamu tidak perlu merasakan sakit ini, Rif. Aku tau ini sangat menyakitkan bagimu, tapi aku tidak bisa berbuat apa apa, maafkan aku. Aku rela jika kau membenciku suatu saat nanti, tapi aku tidak rela jika kau kenapa kenapa. Aku akan melakukan semuanya sendirian, dan jika waktunya telah tiba maka kita akan bersama lagi. Aku sangat mencintaimu," Ucap Ana lirih sambil menghapus air matanya yang hendak menetes itu.


Ana lalu bergegas untuk pergi meninggalkan tempat itu, dirinya tidak mau ada yang mengetahui bahwa dirinya sejak tadi memperhatikan Rifki beserta keluarganya itu. Ana langsung bergegas untuk menuju kekamar yang telah disediakan untuknya dirumah itu, dia lalu menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.


Ana lalu membuka cadarnya itu, nampak wajah cantik Nadhira disana, karena Ana adalah Nadhira. Nadhira mengganti identitasnya menjadi Ana, dirinya pun mengambil sebuah kaca kecil yang ada dimejanya, Ana pun langsung bercermin disana dengan linangan air matanya.


"Aku adalah Nadhiramu, Rif. Selamanya diriku akan menjadi milikmu, tidak ada lelaki lain yang bisa merebut hatiku darimu, selamanya. Cintaku telah habis untukmu, sehingga tidak ada kesempatan lain bagi yang lainnya untuk bisa mendapatkan cintaku ini. Aku disini bersamamu, sayang. Nadhiramu tidak akan pernah membiarkan dirimu dalam bahaya,"


Ana lalu melepaskan jilbabnya itu, dirinya mengurai rambutnya yang indah dengan bebasnya. Ana menatap wajahnya dicermin kecil yang ada ditangannya itu, sama sekali tidak ada perubahan diwahahnya itu, wajahnya masih tetap sama seperti dulu meskipun suaranya sedikit berubah daripada sebelum dirinya melahirkan Kinara.


"Aku akan menghabisi satu persatu musuh kita, aku tidak akan membiarkan mereka hidup satupun itu, Rif. Begitu banyak penghianat yang ada disekitarmu, meskipun dengan satu ginjal, itu bukanlah masalah bagiku, jika akhirnya aku harus mati,"


*****


Rifki masuk kedalam kamarnya dan mendapati bahwa Keysa tengah tertidur dikasurnya itu, Rifki pun mendekat kearah Keysa dan mengusap pelan puncak kepala Keysa yang tengah tertidur itu. Gadis kecil itu nyatanya belum terlalu lelap dalam tidurnya, dirinya pun mengeliat ketika merasakan usapan lembut dari Rifki yang diberikan kepadanya itu.


"Seandainya anakku ada disini, aku bisa mengusap kepalanya dan bermain dengannya. Dimana kamu, Nak? Apakah kamu dan Ibumu baik baik saja? Papa sangat merindukan kalian, tidak bisa dihitung lagi berapa lama Papa menanti kalian kembali. Papa harap, kalian baik baik saja,"


Rifki pun menitihkan air matanya, disaat dirinya sendirian maka saat itulah dirinya bisa menangis. Ia tidak mau terlihat lemah dihadapan orang lain, bahkan dihadapan keluarganya sendiri, akan tetapi disaat dirinya sendiri maka kelemahannya akan terlihat dengan air matanya yang mengalir membasahi kedua pipinya itu.


"Om kenapa menangis?" Tiba tiba Keysa terbangun dari tidurnya dan melihat adanya air mata diujung mata Rifki.


Rifki sangat terkejut ketika melihat gadis kecil itu membuka kedua matanya, dirinya pun lalu menghapus air matanya dengan kasar agar gadis kecil itu tidak melihat air matanya lagi. Rifki pun mengembangkan sebuah senyuman yang cerah kepada Keysa, dirinya pun mengusap pelan puncak kepala Keysa.


"Om hanya kelilipan saja tadi, Eysa. Om nggak nangis kok," Jawab Rifki.


"Keysa nggak mau melihat Om sedih, Om jangan sedih ya?"


"Iya."


Rifki pun tersenyum dihadapan Keysa, gadis kecil tersebut pun juga ikut tersenyum kepada Rifki. Rifki mengusap pelan puncak kepala Keysa, dirinya sangat merasa gemas kepada gadis kecil itu, meskipun Keysa masih kecil akan tetapi dirinya sudah bisa menangkap ucapan apapun itu.


"Mama sama Papa sudah pergi, Om?"


"Iya. Eysa yang tidur dari tadi mangkanya nggak tau kalo orang tua Eysa sudah pergi, Eysa tidur lagi saja soalnya ini sudah malam."


"Om nggak tidur?" Tanya Keysa.


"Om masih ada pekerjaan kantor, kamu tidur dulu,"


"Iya Om."


Rifki pun bergegas untuk pergi meninggalkan kamarnya itu, dirinya membiarkan Keysa untuk tidur dengan nyenyak disana. Rifki pergi menuju ruang kerjanya yang memang berada dilantai bawah itu, dirinya masih memiliki pekerjaan kantor yang harus dirinya selesaikan.

__ADS_1


__ADS_2