
Nadhira memegangi tangan wanita tersebut dengan erat untuk menguatkannya, Nadhira tau bahwa wanita paruh baya tersebut sedang ketakutan saat ini, sehingga Nadhira mengusap pelan punggung wanita tersebut untuk memenangkannya.
"Berani sekali kalian datang kemari lagi!" Teriak seorang lelaki dari dalam warung tersebut.
Teriakan tersebut langsung membuat sang wanita paruh baya langsung bersembunyi dibalik punggung Nadhira, sementara Nadhira tanpa berkata kata langsung melemparkan roti itu ke wajah pria tersebut dengan kencangnya.
"Hanya roti itu kan yang kau inginkan kembali? Ambil saja kembali rotimu itu" Ucap Nadhira dengan tegas.
"BERANINYA KAU! Bilang saja jika tidak punya uang, ngak usah sok sok an makan roti seperti ini" Bentak lelaki tersebut.
"Tidak punya uang? Bahkan aku bisa saja membeli warung beserta rumahmu sekalian sekarang juga, dan aku juga bisa menghancurkan hidupmu karena kau telah berani melawanku" Ancam Nadhira.
"Emang siapa kau? Seberapa mampukah dirimu sih? Kau tidak akan sanggup untuk itu"
Plakkk..
Nadhira pun langsung menampar pipi orang tersebut dengan sangat kerasnya, ia pun melemparkan beberapa lembar uang 100 ribuan dihadapan lelaki tersebut, jumlah itu sama sekali tidak bernilai jika dimata Nadhira.
Melihat banyaknya uang tersebut hanya membuat lelaki itu melongo ketika melihat uang yang begitu banyak tersebut, bahkan hasil dari jualannya saja hanya menghasilkan beberapa lembar saja sementara saat ini begitu banyak lembaran lembaran uang bertebaran didalam warungnya itu.
"Mulai sekarang, aku tidak ingin melihatmu lagi jualan ditempat ini, berani kau jualan lagi, akan ku hancurkan usahamu itu, dan akan ku laporkan dirimu kepolisi karena berani memukuli diriku" Ucap Nadhira dan langsung menarik tangan wanita paruh baya itu untuk pergi dari tempat tersebut.
"Hei tunggu! Bukan diriku yang memukulimu, aku tidak ikut andil dalam pengeroyokan itu"
"Emang bukan dirimu, tapi dirimu penyebabnya orang orang memukul Ibu ini, jika kau tidak berteriak maka Ibu ini tidak akan dipukuli, hanya karena sepotong roti kau menyuruh orang lain untuk memukulinya dengan keras" Ucap Nadhira sambil menoleh kembali.
"Kami harus memberinya pelajaran, agar tidak mengulangi kesalahannya lagi"
"Bukan begitu caranya! Sama saja ini termasuk dalam main hakim sendiri"
"Tapi..."
"Aku ngak mau tau, cepat angkat kaki dari tempat ini, dan jangan pernah kembali untuk berdagang disini"
*****
Rifki tengah menyandar punggung disebuah bangunan yang berada ditepi jalan karena rasa sakit yang ada dipunggungnya, pukulan orang orang itu berhasil melukainya kembali, demi melindungi Nadhira dirinya rela kembali terluka.
"Tuan Muda Rifki, anda kenapa? Apa yang terjadi dengan anda Tuan Muda? Siapa yang berani melakukan ini kepada anda Tuan Muda?" Tanya Reno khawatir melihat Rifki.
"Ngak apa apa ini hanya luka kecil saja kok, kamu awasi Dhira saja saat ini, aku akan pergi kerumah sakit dulu bersama Vano, kamu dan Fajar awasi dia terus dan jangan sampai dia kenapa kenapa, kalo terjadi sesuatu dengan Nadhira, aku tidak akan pernah memaafkan kalian"
"Baik Tuan Muda, saya akan mengantarkan anda" Jawab Vano.
"Tapi Tuan Muda..." Belum sempat Reno menyelesaikan perkataannya Rifki segera mengangkat satu tangannya kearah Reno.
"Aku ngak suka dibantah, keselamatan Dhira jauh lebih penting daripada diriku"
"Baik Tuan Muda"
Sebenarnya Rifki diam diam mengawasi Nadhira dari kejauhan seorang diri, ia tidak bisa tinggal diam melihat Nadhiranya kenapa kenapa akhirnya dia berlari untuk melindungi Nadhiranya dan membiarkan lukanya kembali kambuh.
Ketika dia bergegas pergi dari tempat dimana Nadhira berada, ia pun menelpon anggota Gengcobra untuk datang ketempat itu untuk mengawasi Nadhira karena dia tidak bisa melakukan hal tersebut karena lukanya.
Vano lalu membantu Rifki untuk berdiri dengan menautkan lengan kanan Rifki dilehernya, Rifki pun memegangi tubuh Vano dengan erat, dengan perlahan lahan Vano memapah tubuh Rifki untuk pergi dari tempat itu.
"Tuan Muda masih sanggup berjalan kan?" Tanya Vano khawatir karena tubuh Rifki seakan akan terasa begitu berat.
"Kuat kok, jalan saja dulu, nanti kalo udah ngak kuat aku beritahu" Jawab Rifki.
"Baik Tuan Muda, kalo sudah tidak sanggup berjalan, aku akan menggendong anda dipundak biar kita cepat sampai dimobil"
"Aku masih bisa, sudah biasa dengan rasa sakit, jadi kamu jangan terlalu khawatir seperti ini, makasih ya sudah khawatir"
"Iya Tuan Muda, kita akan segera sampai dimobil"
Rifki pun mengangguk pelan kepada Vano, keduanya pun dengan perlahan lahan melangkah menuju kemobil tempat dimana anggota Gengcobra memarkirkan sebelumnya, setelah sampai Rifki langsung masuk kedalam mobil itu dengan bantuan dari Vano.
*****
Nadhira mengantarkan wanita paruh baya tersebut menuju ke gubuk yang ia maksud sambil membawa beberapa bungkus makanan ditangan keduanya itu, wanita tersebut membawa Nadhira menuju kesebuah kolong jembatan yang penuh dengan sampah.
"Rumah Ibu dikolong jembatan?" Tanya Nadhira.
"Saya tidak punya rumah Mbak, saya hanya punya gubuk kecil saja, dan disanalah saya dan anak anak saya tinggal, maaf ya Mbak, tempatnya kotor" Jawab wanita paruh baya tersebut yang tidak enak untuk mengajak Nadhira ketempat kotor seperti ini.
Wanita itu yakin bahwa Nadhira bukan orang sembarangan dan dia memiliki banyak uang, dari pakaian Nadhira yang bersih dan terlihat mahal itu membuat wanita tersebut merasa tidak enak kepada Nadhira karena membawa ketempat seperti itu.
"Ngak apa apa Bu, lalu anak Ibu disana sendirian?"
__ADS_1
"Iya Mbak, untung ada anda yang menolong saya tadi, kalo tidak maka saya tidak akan tau nasib anak saya seperti apa nantinya, seandainya saya tidak selamat tadi mungkin anak saya akan mati kelaparan"
"Usianya berapa tahun Bu?"
"Baru 4 tahun Mbak, itu dia gubuk saya Mbak" Wanita tersebut menunjuk kearah beberapa kardus bekas ditumpuk untuk menjadi sebuah gubuk.
Tempatnya dipenuhi dengan sampah, gubuk yang terbuat dari kardus dan beberapa plastik bekas tersebut membuat Nadhira merasa prihatin, ia sangat yakin kalo tempat itu terkena hujan sedikit pasti akan roboh dan benar benar tidak layak untuk dihuni manusia.
"Mari Mbak"
"Iya Bu"
Wanita tersebut langsung mengajak Nadhira untuk mendekat kearah tempat tersebut, ada rasa sedih dihati Nadhira disaat ia melihat hal itu, Nadhira hanya berdiam diri sesaat untuk menenangkan perasaannya itu.
"Nak, Ibu pulang" Teriak wanita itu.
Terlihat seorang anak kecil berlari keluar dari dalam gubuk tersebut dan langsung memberikan sebuah pelukan kepada wanita yang ada disebelahnya, ketika menyadari akan adanya Nadhira membuat anak kecil itu langsung bersembunyi dibalik punggung Ibunya.
"Siapa dia Bu?" Tanya anak kecil tersebut.
"Dia orang baik Nak, jangan takut ya" Ucap wanita itu kepada anaknya.
"Hai, jangan takut sama Kakak, Kakak ngak jahat kok" Ucap Nadhira.
"Kakak siapa?"
"Kalo sembunyi gitu, kamu ngak bakalan tau Kakak ini siapa, jangan sembunyi gitu dong"
"Kakak beneran bukan orang jahat kan?" Tanya anak itu seraya berjalan keluar dari sembunyinya.
"Bukan, kamu cantik kenapa sembunyi gitu"
"Aku pikir Kakak orang jahat, karana kalo ada yang datang kemari biasanya mau mengusir kita dari sini"
"Mengusir?"
"Iya Mbak, biasanya ada penggusuran disini, dan kami berdua selalu diusir katanya kami penganggu dilingkungan sekitar sini"
"Oh seperti itu, kamu mau ngak Kakak belikan rumah baru? Biar ngak diusir usir lagi"
"Aku maunya tinggal bersama Ibu"
"Beneran Kak?"
"Mbak serius?"
"Iya, besok datang saja di Surya Jayantara, dan berikan ini kepada penjaga gerbang yang ada disana, mereka akan memberi kalian tempat tinggal" Nadhira menyerah sebuah kertas kepada keduanya.
"Ya Allah Mbak, terima kasih banyak, semoga Allah membalas dengan berjuta juta kebahagiaan untuk anda dan sekeluarga, terima kasih Ya Allah, telah mengirimkan seorang malaikat kepada kami" Wanita itu tak henti hentinya untuk terus menangis dan mengucap rasa syukurnya.
"Sama sama, anggap saja Tuhan memberi pertolongan kepada kalian melalui saya, semoga kehidupan kalian menjadi lebih baik kedepannya"
"Terima kasih Mbak, Mbak sangat baik,"
Kedua orang yang ada didepan Nadhira itu pun langsung berpelukan dengan tangisan yang menyelimuti keduanya, sementara Nadhira langsung menggerakkan tangannya untuk mengusap punggung wanita yang ia tolong sebelumnya untuk menenangkan wanita tersebut.
*****
Seminggu kemudian masih tidak ada kabar mengenai Rifki, Nadhira kini tengah duduk disofa disebelah cendela kaca yang ada didalam kamar Rifki, ia menatap kearah langit siang yang panas itu, sampai sekarang keberadaan Rifki masih tidak ditemukan.
"Sudah seminggu saja, dimana kamu Rif"
Terlintas sebuah ide didalam pikiran Nadhira, Nadhira ingin mendatangi markas Gengcobra saat ini karena ia yakin bahwa Rifki berada disana bersama dengan anggota Gengcobra, ia pun segera bergegas keluar dari kamar tersebut setelah mengambil sebuah tas.
"Mau kemana Nak?" Tanya Putri ketika melihat Nadhira yang sudah rapi.
"Dhira bosan, Dhira ingin jalan jalan boleh ya Ma?" Tanya Nadhira dengan hati hati.
"Sendirian?"
"Dhira bisa jaga diri kok Ma"
"Tapi Nak, diluar bahaya"
"Dhira janji, Dhira pasti akan pulang dengan selamat, sebentar saja Ma"
"Baiklah, Mama panggilkan anggota Gengcobra ya, untuk menjagamu"
"Ngak usah Ma, Dhira cuma keliling saja kok, kalo sama anggota Gengcobra nanti malah ngak enak dijagain terus, kayak tahanan saja"
__ADS_1
"Mama hanya khawatir dengan dirimu, apalagi kamu habis keluar dari rumah sakit"
"Dhira tadi juga udah ngabarin Pak Mun suruh antarin Ma, ngak apa apa ya?"
"Baiklah, kalo itu membuatmu bahagia, kalo ada apa apa kabarin Mama atau Bayu"
"Iya Ma, Dhira berangkat dulu ya"
"Emang Pak Mun sudah jemput?"
"Sudah didepan Ma, Dhira jalan Ma, Assalamualaikum" Ucap Nadhira sambil mencium tangan Putri.
"Waalaikumussalam" Jawab Putri.
Nadhira langsung bergegas menuju ke mobilnya, tanpa dia sadari ada yang tengah mengawasinya dari kejauhan, tanpa memperhatikan hal itu membuat Nadhira langsung masuk kedalam mobil tersebut dan langsung dijalankan oleh Pak Mun.
"Pak Mun, apa Rifki ngak pernah pulang kerumah?" Tanya Nadhira tiba tiba.
"Kenapa Non Dhira menanyakan itu? Dia tidak pernah pulang, saya pikir dia tinggal disini dengan Non Dhira juga" Jawab Pak Mun sambil fokus pada jalanan yang ia lewati.
"Dia diusir sama Papa, aku ngak tau kemana perginya saat ini Pak, bahkan pihak kantornya juga menelpon dan memberitahu aku bahwa sudah beberapa minggu Rifki tidak pergi kekantor karena menjagaku dirumah sakit"
"Kalo soal itu saya ngak tau Non, beneran Tuan Muda tidak pulang sama sekali kerumah"
"Kita langsung ke markas Gengcobra saja Pak, siapa tau dia ada disana"
"Baik Non Dhira"
Mobil itu pun melaju menuju ke markas Gengcobra dengan kecepatan sedang, tak beberapa lama kemudian mereka akhirnya sampai juga dimarkas Gengcobra yang memang jaraknya antara rumah kedua orang tua Rifki tidak terlalu jauh dari markas Gengcobra.
Sesampainya disana, Nadhira langsung disambut oleh anggota Gengcobra, penjaga gerbang tersebut pun langsung membukakan pintu gerbang agar mobil yang dinaiki oleh Nadhira bisa masuk kedalam markas Gengcobra itu.
Nadhira lalu keluar dari dalam mobil tersebut, ia mencari cari keberadaan dari anggota inti Gengcobra, tak beberapa lama kemudian Reno mendekat kearah Nadhira.
"Nona Muda tumben datang kemari" Sapa Reno.
"Rifki dimana?" Tanya Nadhira tanpa basa basi.
"Hah? Sudah seminggu yang lalu dia tidak datang kemari Nona Muda, kenapa Nona Muda menanyakan itu tiba tiba? Bukankah Tuan Muda selalu bersama dengan anda?"
"Apa kamu tidak tau kemana perginya?"
"Kami tidak tau Nona Muda, anda sebagai istrinya saja tidak tau, lalu bagaimana kami bisa tau Nona Muda? Nomornya juga tidak bisa dihubungi, justru kami ingin menanyakan hal itu kepada anda sebelumnya, tapi karena takut mengganggu anda jadi saya tidak berani bertanya kepada anda"
"Bayu dimana?" Nada bicara Nadhira pun mendadak menjadi semakin panik.
"Tuan Bayu saat ini ada di Surya Jayantara untuk mengawasi orang yang akan mengantarkan bahan makanan disana Nona Muda, apa perlu saya telponkan dia agar segera datang kemari?"
"Ngak usah, aku akan kesana sakarang"
"Nona Muda ngak mampir dulu kedalam? Biarkan saya buatkan minuman untuk anda dulu, pasti perjalanan kemari membuat anda haus"
"Tidak perlu"
"Baik Nona Muda"
Nadhira segera bergegas menuju kemobilnya tersebut dan masuk kedalamnya, sementara Reno yang melihat itu pun langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya untuk menelpon seseorang.
"Tuan ..."
*****
Nadhira bersama dengan Pak Mun pun menuju ke tempat Surya Jayantara untuk menyusul Bayu, mungkin saja disana ada Rifki yang sedang bersama dengan Bayu, sesampainya disana Nadhira pun langsung turun dari mobilnya.
"Siang Nona Muda, ada yang bisa saya bantu" Sapa seseorang yang berusia sekitar 40 tahunan.
"Apakah Bayu didalam?" Tanya Nadhira.
"Iya Nona Muda, mau saya panggilkan?"
"Iya, aku tunggu"
Nadhira pun duduk disebuah kursi yang disediakan oleh mereka disana, Bayu yang tengah sibuk mengurus pemasukan dan pengeluaran ditempat itu pun terkejut ketika mendengar bahwa Nadhira datang ketempat itu untuk bertemu dengannya.
Tidak biasanya Nadhira akan datang kesana untuk mencarinya, ia pun langsung bergegas untuk menemui Nadhira, ketika sampai disana ia melihat sosok Nadhira dengan wajah paniknya.
"Dhira kamu kenapa?" Tanya Bayu tiba tiba dan langsung membuat Nadhira berdiri dari duduknya.
"Rifki dimana Bay?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu langsung membuat Bayu mengernyitkan keningnya kepada Nadhira, ia tidak tau kemana Rifki pergi saat ini, Nadhira datang untuk menemuinya hanya untuk menanyakan sosok Rifki kepadanya saja.