Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Pelarian dalam kegelapan


__ADS_3

Rifki langsung berlutut dihadapan Nadhira, melihat itu Nadhira menatapnya dengan tatapan penuh harap kepada Rifki, Rifki memandangi wajah Nadhira yang terlihat sayup tersebut dengan deraian air mata yang tiada habisnya.


"Aku tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini Dhira, maafkan aku".


"Apa yang kau lakukan!".


Setelah mengucapkan itu, Rifki segera mengangkat tubuh Nadhira dari tempat itu dan sontak membuat Nadhira merasa begitu terkejut dengan apa yang tengah Rifki lakukan saat ini, kini Nadhira sudah berada didalam gendongannya itu.


Nadhira dapat melihat adanya sebuah kristal kecil yang ada dipelupuk mata Rifki, pandangan Rifki seolah olah tengah kosong saat ini, dan dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini.


"Kenapa kau sama sekali tidak mempedulikan perasaanku saat ini Rif, kenapa kau melakukan ini kepadaku, kenapa Rif kenapa?" Ucap Nadhira dengan marahnya kepada Rifki.


"Karena aku sangat mencintaimu Dhira dan aku tidak ingin kehilangan dirimu, jika kau memaksaku seperti ini, apa kau juga tidak mempedulikan perasaanku? Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan dirimu Dhira, karena itu akan sangat menyakitkan bagiku" Ucap Rifki sambil menatap kearah Nadhira.


"Aku tidak mau kehilangan Oma Rifki, Oma adalah satu satunya orang tua dan keluargaku yang aku miliki saat ini, Mama telah pergi meninggalkan diriku, dan aku juga kehilangan Papa, aku tidak ingin kehilangan Oma juga Rifki".


"Jika itu adalah keinginanmu, aku akan kembali untuk menyelamatkan Oma, kau harus berjanji bahwa kau akan secepatnya pergi dari tempat ini bersama Raka, tapi aku tidak tau kedepannya nanti akan seperti apa, apakah aku akan masih hidup nantinya, rohku tengah terluka untuk saat ini Dhira, dan aku tidak sanggup untuk melawan meraka semua, jika aku tidak kembali maka jangan pernah mencari diriku Dhira, jaga dirimu baik baik ya" Air mata Rifki lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


"Apa yang kau katakan Rif?".


"Hanya ini yang bisa aku lakukan Dhira, berjanjilah kepadaku, bahwa kau akan tetap hidup dan akan hidup dengan bahagia nantinya, setelah aku pergi untuk selama lamanya kau tidak akan menangis lagi dan akan selalu tersenyum" Ucap Rifki sambil perlahan lahan menurunkan Nadhira.


Nadhira tertegun dengan apa yang Rifki lakukan, Rifki menurun dirinya dengan perlahan lahan, setelah itu Rifki segera berbalik arah dan kembali menuju kerumah Nadhira dengan perlahan lahan untuk dapat menyelamatkan Sarah sesuai dengan permintaan dari Nadhira.


Melihat Rifki yang perlahan lahan menjauhi dirinya membuat Nadhira semakin merasa sedih, dirinya juga tidak ingin kehilangan Rifki untuk saat ini apalagi Rifki adalah orang yang paling ia sayangi selama ini dan dirinya tidak ingin terjadi sesuatu kepada Rifki.


"Rifki".


Nadhira tidak ingin membuat Rifki dalam bahaya sehingga ia memutuskan untuk berlari kearah Rifki untuk menghentikan apa yang tengah dilakukan oleh Rifki saat ini, Nadhira segera memeluk tubuh Rifki dari belakang dan hal itu sontak membuat Rifki segera menghentikan langkahnya.


"Maafkan aku Rifki, aku tau aku salah kali ini, aku tidak mau kehilangan dirimu juga" Ucap Nadhira sambil memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya.


Rifki menarik nafas dalam dalam dan segera melepaskan pelukan tersebut dan langsung menghadap kearah Nadhira dengan sebuah senyuman tipis yang tersungging dibibirnya itu, melihat itu membuat Nadhira merasa tenang jika disamping Rifki.


"Jangan membuatku seperti ini Dhira, kau tau ini sangat menyakitkan bagiku, bukannya aku tidak mau menyelamatkan Oma, tapi aku sadar bahwa kini aku tidak akan sanggup untuk melawan mereka semua sendirian, aku juga tidak bisa menghubungi anggota Gengcobra karena hp ku telah mati dan tidak bisa dinyalakan sampai saat ini sebelum aku sampai dirumahmu tadi".


"Maafkan aku karena keegoisanku, tanpa memikirkan perasaanmu sebelumnya Rifki".


"Bukan masalah Dhira, sebaiknya kita cepat pergi dari tempat ini".


Nadhira mengangguk kepada Rifki, dan keduanya segera bergegas pergi dari tempat tersebut akan tetapi tiba tiba beberapa orang keluar dari rumah Nadhira dan segera menghentikan langkah kaki Nadhira dan Rifki.


"Kau tidak akan bisa membawanya pergi dari tempat ini bocah!" Teriak seorang lelaki yang berusia sekitar 40 tahunan kepada keduanya.


Mendengar teriakan tersebut membuat Rifki segera menarik tangan Nadhira kebelakang tubuhnya untuk membelakangi Nadhira dari orang orang itu, Rifki menatap tajam kearah orang orang tersebut seakan akan sedang mengukur kekuatan spiritual mereka.


"Kau tidak akan bisa melindungi gadis itu lagi" Ucapnya lagi lagi kepada Rifki.


"Rupanya anda terlalu percaya diri untuk dapat mengalahkan diriku saat ini, huft.." Ucap Rifki sambil mendengus pelan dan disertai sebuah senyuman.


"Kau terlalu percaya diri sekali bocah, kau tidak akan bisa mengalahkan kami".


"Hem kenapa tidak? Mungkin kita hanya beda umur, tapi bukan berarti kita beda nyali, selama aku masih ada didunia ini aku tidak akan membiarkan kalian untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan itu".


"Kau begitu sombong! Akan ku pastikan aku akan merobek mulutmu itu" Ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya itu.


Rifki segera bergegas menuju kearah mereka ketika melihat mereka perlahan lahan mulai maju kearahnya, Rifki juga tengah mengeluarkan senjata tongkatnya tersebut dan langsung melawan mereka dengan sengitnya, Rifki begitu hebat dalam memainkan sebuah senjata hingga tak beberapa lama kemudian dirinya mampu untuk membuat beberapa orang tumbang karenanya.

__ADS_1


Orang orang itu terlalu sibuk untuk melawan Rifki hingga mereka tidak menyadari keberadaan dari Nadhira, Nadhira dengan perlahan lahan berjalan mendekat kearah semak semak yang berada ditempat pos satpam rumahnya, ia mengambil anak panah dan busurnya.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantu Rifki melawan mereka".


Nadhira langsung bergegas pergi dari tempat itu setelah mengambil busur beserta panahnya itu, ia segera mendatangi tempat dimana Rifki sedang bertarung saat ini, dari kejauhan dirinya melihat bahwa Rifki kini tengah kewalahan untuk menghadapi mereka semua karena kalah jumlah.


Nadhira segera memasang anak panahnya pada busurnya dan memfokuskan diri pada sasarannya kali ini, ia tidak mampu membantu Rifki untuk bertarung melawan mereka yang ia bisa hanyalah melemahkan lawannya dengan anak panah yang ada ditangannya.


Syutt.. Syutt.. Syutt...


Nadhira membidikkan anak panahnya dengan begitu cepat, dan anak panah itu berhasil melukai paha dari orang orang itu hingga membuat mereka jatuh berlutut diatas tanah karena serangan dari Nadhira yang tiba tiba itu.


Melihat mereka satu persatu mulai terjauh ditanah membuat Rifki merasa terkejut dengan apa yang terjadi kepada mereka, pandangannya seketika jatuh kepada Nadhira yang berada dikejauhan sambil memegangi sebuah busur dan hal itu membuat senyuman diwajah Rifki tercipta.


Hal itu membuat Rifki semakin bersemangat untuk melawan para musuhnya itu dengan bantuan dari Nadhira dikejauhan, sementara lawannya itu tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hingga anggotanya berjauhan.


"Tuan, ini semua ulah gadis itu!" Ucap salah satu pengawal para dukun itu.


Mendengar ucapan itu seketika membuat semua orang yang ada ditempat itu menoleh kearah Nadhira yang tidak jauh dari mereka, Rifki tidak membiarkan mereka begitu saja, dirinya segera mencegah mereka dan tidak membiarkan mereka untuk dapat mendekat kearah Nadhira.


Rifki segera mengeluarkan sebuah benda yang berbentuk bulat kecil dari dalam sakunya dan segera menarik sumbu yang ada dibenda bulat tersebut, dan melemparkannya kepada mereka semua, seketika itu juga bola kecil tersebut mengeluarkan banyak asap untuk mengelabuhi mereka.


Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk pergi dari tempat itu, Rifki dan Nadhira kini tengah berada didalam pelarian, Rifki segera mengajak Nadhira untuk berlari kearah desa Mawar Merah yang tidak jauh dari rumah Nadhira itu, karena rumah Nadhira yang sekarang lebih dekat dari hutan itu daripada rumah Nadhira sebelumnya.


Untuk menuju kerumah Nadhira lama, dirinya harus melewati sebuah jalan yang mengarah kearah hutan yang menuju ke Desa Mawar Merah, rumah barunya dan rumah lamanya saling berseberangan dengan jalan yang menuju kearah desa Mawar Merah dan lebih tepatnya kearah hutan.


"Rif, benda apa itu tadi? Kenapa bisa mengeluarkan asap begitu banyak?" Tanya Nadhira.


"Aku lupa namanya benda itu, yang jelas benda itu aku beli ditempat dimana orang berjualan alat alat beladiri tapi tidak semua orang bisa masuk kesana, itu hanya berguna untuk mengelabuhi musuh saja tapi tidak bisa melukai mereka".


"Iya dong siapa lagi kalau bukan aku, Rifki gitu loh".


Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk berlari menjauh dari tempat itu, kini kedua tengah memasuki perbatasan antara perkotaan dengan hutan yang ada didepan mereka, dikejauhan terlihat beberapa orang tengah mengejar mereka dari belakang hingga hal itu membuat Rifki sehingga menarik tangan Nadhira untuk memasuki hutan tersebut.


"Akh... Rifki, bisakah kita berhenti sesaat" Ucap Nadhira ketika merasakan perutnya terasa begitu sakit karena berlari cukup jauh.


"Kamu kenapa Dhira?" Tanya Rifki yang langsung menoleh kebelakang.


"Tiba tiba perutku terasa sakit Rif".


"Baiklah, aku akan menggendongmu Dhira, kita harus secepatnya pergi dari sini".


Rifki langsung membungkuk dihadapan Nadhira dan membiarkan Nadhira naik kedalam punggungnya, Nadhira mengalungkan kedua tangannya kepada leher Rifki, sementara Rifki segera bangkit berdiri untuk membawa Nadhira pergi dari tempat itu.


Dengan hati hati Rifki melangkah untuk masuk kedalam hutan tersebut, karena dirinya tidak ingin menginjak duri maupun hewan hewan yang berbisa ditempat itu, hingga dirinya akan berada didalam masalah nantinya.


Nadhira mudah sekali merasa letih ataupun bahkan perutnya terasa seperti tertusuk tusuk jika melakukan aktivitas terlalu lama, karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk dirinya dapat melakukan itu.


Setelah sekian lama berjalan, Rifki berhenti ditengah hutan dan memandangi sekitar tempat itu untuk memastikan bahwa tempat itu aman, ia pun terlihat sedikit kelelahan karena menggendong tubuh Nadhira cukup lama dan dari memasuki hutan tersebut hingga dipertengahan hutan.


"Sebaiknya kita beristirahat dulu disini Dhira, sepertinya tempat ini sangat aman untuk kita, dan gerhana bulan merah itu belum mencapai puncaknya" Ucap Rifki sambil menurunkan Nadhira.


"Baiklah Rif, apa kau yakin tempat ini cukup aman?"


"Sepertinya juga begitu, kurang beberapa meter lagi kita akan sampai diujung Desa Mawar Merah".


"Kamu pasti kelelahan ya Rif, maafkan diriku karena telah membuatmu kesulitan" Ucap Nadhira ketika melihat Rifki beberapa kali mengambil nafas dalam dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan lahan.

__ADS_1


"Bukan masalah Dhira, selama kau baik baik saja itu sudah cukup bagiku".


"Terima kasih Rif, karena selalu ada untukku" Ucap Nadhira dengan tulusnya.


"Jangan berterima kasih seperti itu Dhira, aku jadi merinding mendengarnya" Rifki menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika mendengar ucapan terima kasih dari Nadhira yang begitu tulus itu.


"Aku bukan hantu, kenapa kau jadi merinding seperti kau melihat hantu saja".


"Bukan seperti itu Dhira, aku hanya merasa takut saja melihatmu berterima kasih kepadaku dengan begitu tulusnya seperti itu, seandainya ada hp disini mungkin aku dapat mengabadikan ucapanmu itu".


"Sekarang bukan waktunya bercanda Rif".


Rifki mengajak Nadhira untuk duduk disebuah batu yang tidak jauh dari tempat itu, dan Nadhira hanya mengikutinya saja tanpa banyak membantah, Rifki segera menyuruh Nadhira untuk duduk disana untuk mengistirahatkan tubuh mereka sejenak setelah berlari cukup jauh dari rumah Nadhira.


"Memang ini bukanlah waktunya untuk bercanda Dhira, tapi ini waktu untuk menyetabilkan kondisi tubuh kita setelah berlari cukup jauh, hanya dengan bercanda gurau saja tubuh kita akan merasa fit kembali, ketika pikiran kita tenang barulah kita bisa melakukan apapun lagi setelah itu".


Nadhira kini mengerti kenapa Rifki bisa bersikap setenang itu, karena disaat kondisi tubuh sedang gelisah maka pikiran tidak akan mampu memikirkan dengan baik dan justru akan semakin kacau nantinya, berbeda lagi jika pikiran sudah merasa tenang maka pikiran akan mampu berpikir dengan jernih dan akan mudah untuk menemukan solusi dari masalah yang tengah dihadapi saat ini.


"Biarkan aku ikut bertarung denganmu Rif" Ucap Nadhira berharap kepada Rifki.


"Apa kakimu sudah membaik Dhira? Aku tidak ingin membuatmu cidera lagi".


"Aku baik baik saja Rif, bahkan kakiku sudah tidak sakit lagi".


"Baiklah, tapi jika kau sudah tidak kuat melawan mereka, jangan diteruskan lagi, jika kakimu merasa sedikit sakit maka berhentilah dan jangan tunjukkan kelemahan itu kepada orang orang itu, apa kau mengerti apa yang aku katakan Dhira?".


Nadhira hanya mengangguk kepada Rifki dengan seutas senyuman diwajahnya, Rifki yang melihat anggukan itu hanya tersenyum kepada Nadhira sambil mengusap kepala Nadhira pelan.


Jika orang orang itu mampu untuk mengetahui titik terlemah dari lawannya maka mereka akan dengan mudah untuk mengalahkan lawannya melalui titik terlemahnya itu, seperti halnya Nadhira yang kini tengah terkena cidera lama, dan jika itu ditunjukkan tanpa sengaja kepada mereka hal itu akan semakin membahayakan dirinya.


Bisa jadi mereka akan terus menyerang kearah dimana Nadhira tengah terluka, dan hal itu akan sangat berbahaya dan mereka pasti akan mencoba untuk mengalahkannya melalui cidera tersebut.


Menunjukkan kelemahan kepada musuh bukanlah pilihan yang tepat, itu pun berlaku diatas gelanggang ataupun podium seni beladiri, dan jangan lakukan gerakan yang sama berkali kali, sekali musuh dapat menangkis gerakan tersebut maka mereka juga akan mampu untuk memecahkan gerakan tersebut dan mengalahkan musuhnya dengan mudah.


Jika jurusmu sudah dipecahkan dengan mudah maka musuh akan mudah mengalahkan dirimu, hal itu pun berlaku dengan musuhmu, jika dirimu mampu mengetahui titik terlemah mereka, kamu akan dengan mudah untuk mengalahkannya dan bahkan membuatnya cidera ( sedikit pengetahuan yang author pahami dari ilmu beladiri semoga bermanfaat ).


Tak beberapa lama setelah keduanya istirahat kemudian tiba tiba mereka mendengar suara langkah kaki beberapa orang yang akan mendekat kearah dimana mereka berada, dan hal itu membuat Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk menjauh dari tempat itu.


"Jangan lari kalian!" Teriak seseorang dari belakang mereka bedua yang kini tengah berlari.


Rifki berusaha sebisa mungkin untuk membawa Nadhira pergi dari tempat itu, karena jika sampai gerhana bulan merah sudah sampai di puncaknya maka ia akan kesulitan untuk menyelamatkan nyawa Nadhira apalagi kini rohnya sedikit terluka.


Rifki dan Nadhira mencoba untuk berlari dari tempat itu, keduanya kini tengah menjadi kejaran orang orang jahat yang hanya menginginkan permata iblis yang ada didalam tubuh Nadhira, sementara Nimas kini berhadapan dengan para mahluk gaib suruhan dari para dukun dengan bantuan dari pasukan yang ada didalam desa Mawar Merah.


Karena kekuatannya sangat terbatas kali ini, hingga pertarungan mereka terlihat begitu imbang, kedua belah pihak sama sama saktinya tanpa ada yang mengunggulinya, hingga pertarungan itu akan sangat sulit untuk ditentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah nantinya.


Nimas merasa telah terjadi sesuatu dengan Nadhira dan juga Rifki, ia ingin pergi dari tempat itu akan tetapi pertarungan ini masih terus berlanjut, ia pun meminta kepada para mahluk itu untuk menggantikan pertarungan sementara dirinya langsung melayang dan menghilang dari tempat itu.


Disatu sisi kini Raka mencoba untuk membuat sebuah ilusi agar orang orang yang mengejar Nadhira dan Rifki akan sangat kebingungan untuk menentukan kemana keduanya berlari, dan Raka berniat untuk menyesatkan mereka.


"Rifki, sebaiknya jangan menuju ke desa Mawar Merah karena mereka sepertinya sudah mengetahui tujuanmu untuk menuju kearah desa Mawar Merah, sebaiknya kau ambilah jalan lain Rifki, dan aku akan menghadang mereka sekarang" Ucap Raka.


"Baiklah, berhati hati lah Raka" Ucap Rifki sambil berlari sementara Raka melayang disampingnya.


"Baiklah" Ucap Raka.


Raka segera melesat jauh kebelakang dan mendekat kearah gerombolan orang yang kini tengah mengejar Rifki dan Nadhira, sementara Rifki membawa Nadhira melalui jalur memutar, yang awalnya mereka menuju ke desa Mawar Merah kini Rifki membawanya menjauh dari desa tersebut.

__ADS_1


__ADS_2