
Perkelahian itu menyita banyak perhatian orang orang yang ada disekitar tempat itu, hanya dua orang saja yang melawan para pemalak yang dikenal sangat keji itu membuat perhatian mereka tak luput dari kejadian sore hari itu, mereka begitu kagum dengan sepasang kekasih tersebut yang dimana wanitanya sama sekali tidak takut untuk mengahadapi bahaya.
Setelah cukup lama berada didalam tekanan para pemalak tersebut, melihat mereka dihajar mati matian oleh kedua orang itu membuat mereka merasa sangat gembira dan mendukung aksi keduanya itu.
Tak beberapa lama kemudian anggota Gengcobra datang ketempat itu dan membantu Rifki untuk menangkap orang orang tersebut, sudah tidak dapat kabur lagi akhirnya mereka pasrah disaat anggota Gengcobra mulai menangkap mereka.
Hal itu juga langsung disusul oleh beberapa polisi, para polisi itu langsung mengamankan ke lima belas orang tersebut dan langsung memborgol tangan mereka untuk diamankan.
Nadhira berjalan kearah salah satu dari pemalak tersebut, ia pun memasukkan tangannya ke saku celana dari orang tersebut untuk mengambil sesuatu, iya itu adalah beberapa lembar uang kertas yang telah orang itu ambil dari warung es kelapa muda itu.
"Lumayan sih, aku bisa berbelanja dengan uang yang banyak ini" Ucap Nadhira seraya menatap kearah uang kertas yang ada ditangannya.
"Jangan ambil punyaku! Kembalikan! Itu punyaku aku yang telah mengambilnya" Teriak orang itu yang saat ini tengah diborgol oleh polisi.
"Punyamu? Apakah aku tidak salah dengar? Ini punya Bapak penjual es kelapa muda yang telah kau ambil sebelumnya, jadi ini bukan punyamu"
"Aku yang telah mengambilnya jadi itu punyaku"
"Berarti ini termasuk punyaku juga dong, kan aku yang telah mengambilnya darimu, uang ini juga ada ditanganku saat ini jadi ini milikku, seperti ucapanmu aku telah mengambilnya darimu, yang memegang uang ini adalah pemiliknya, asik aku kaya" Nadhira berteriak kegirangan karena itu.
"Kembalikan uangku BRENGSEK! Uang itu milikku"
Plakkk
Nadhira tidak segan segan menampar pemalak itu dengan sangat kerasnya, setelannya ia berkata, "Ini uangku, kau tidak berhak untuk memerintahku wek" Nadhira menjulurkan lidahnya untuk mengejek.
"Kau! Benar kata orang yang cantik lebih mematikan"
"Bawa mereka Pak" Ucap Rifki.
"Baik Tuan Muda"
Para polisi tersebut langsung hormat kepada Rifki dan membawa ke lima belas orang tersebut pergi dari tempat itu, mereka sangat menghormati Rifki karena Rifki adalah ketua dari Gengcobra yang selalu bekerjasama dengan mereka untuk memberantas kejahatan sehingga Rifki begitu disegani oleh mereka semua.
"Kamu tidak apa apa kan Dhira?" Tanya Rifki khawatir dengan Nadhira.
"Bagaimana mungkin terjadi sesuatu kalo dirimu selalu melindungiku Rif" Ucap Nadhira seraya memeluk tubuh Rifki.
"Kalian bisa kembali kemarkas" Ucap Rifki kepada anggota Gengcobra.
"Baik Tuan Muda" Jawab mereka serempak.
Anggota Gengcobra lalu meninggalkan tempat tersebut sesuai dengan perintah dari Rifki, pemilik warung itu tidak mampu berkata apa apa lagi ketika menyaksikan banyak orang yang dibawa oleh kedua orang tersebut, setelah kepergian dari mereka Rifki dan Nadhira lalu mendatangi pemilik warung itu.
"Bapak tidak apa apa kan?" Tanya Rifki.
"Terima kasih atas bantuannya Mas, Mbak"
"Bukan masalah Pak, kami senang membantu, ini milik Bapak kan, tolong diterima kembali" Ucap Nadhira seraya menyodorkan uang yang ia ambil sebelumnya.
"Terima kasih Ya Allah, telah mengirimkan dua orang seperti kalian, kalian sungguh baik, semoga Allah selalu melindungi kalian berdua, terima kasih" Penjual tersebut begitu sangat senang ketika uang hasil jualannya kembali kepadanya.
"Rif minta uang" Ucap Nadhira sambil menyodorkan tangannya kepada Rifki.
Rifki tersenyum tipis kearah Nadhira sambil mengeluarkan sebuah dompet dari saku celananya, ia pun mengambil sepuluh lembar uang ratusan ribu dan memberikannya kepada Nadhira, Nadhira merasa bahagia melihatnya, ia pun memberikan uang itu kepada pemilik warung tersebut.
"Es kelapa muda Bapak itu enak sekali, ini sebagai bayaran es kelapa muda itu, Pak" Ucap Nadhira sambil memberikan uang itu kepada penjual tersebut.
"Ini... Kebanyakan sekali Mbak" Ucap penjual tersebut begitu terkejut ketika melihat sepuluh lembar uang seratus ribuan itu.
"Kembaliannya untuk Bapak, mungkin itu rejeki anak Bapak, untuk membayar sekolah anak Bapak, kami mendengar bahwa Bapak memerlukan biaya agar anak Bapak bisa bersekolah, anggap saja kami sebagai pelantara dari Allah untuk membantu Bapak"
"Terima kasih Mbak, anda sungguh baik" Penjual tersebut langsung bersujud ditanah karena mendapatkan bantuan dari Rifki dan Nadhira.
Rifki pun membantu orang tersebut untuk berdiri, dengan deraian air mata orang tersebut mengucapkan rasa syukurnya, Rifki dapat melihat bahwa adanya kebahagiaan diwajah pria paruh baya tersebut.
"Gunakan uang itu dengan baik ya Pak, untuk biaya sekolah anak Bapak" Ucap Rifki.
"Terima kasih ya Mas, anda sangat baik" Air mata itu rasanya sudah tidak bisa dibendung lagi, tanpa sebuah keinginan air mata itu mengalir dengan derasnya.
"Kami permisi dulu Pak, masih banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan, lain kali kalau ada waktu kami akan mampir kemari lagi"
"Dengan senang hati Mas, saya akan selalu mengingat kebaikan Mas dan Mbaknya"
"Tidak perlu mengingatnya Pak, kami bukan siapa siapa, kami hanya orang biasa yang diberi sedikit harta oleh Allah untuk membantu sesama"
Rifki dan Nadhira pun lalu berpamitan untuk pergi dari tempat itu, keduanya langsung bergegas menaiki sepedah motor butut yang Rifki kendarai sebelumya, dengan sepedah itu orang lain akan berpikir bahwa keduanya adalah orang biasa tapi siapa sangka bahwa Rifki adalah seorang CEO dari perusahaan Abriyanta Groub.
__ADS_1
"Sudah sore Dhira, mau kemana? Pulang aja yuk, kalo sampek dirumah Mama juga ngak keburu, paling nanti habis magrib baru sampek disana" Tanya Rifki sambil fokus dengan jalanan.
"Ke markas Gengcobra saja"
"Ngapain?"
"Pengen kesana bosen tidur dirumah"
"Tumben banget"
"Ngak tau, anakmu yang minta"
"Gimana bilangnya? Kok Papanya ngak denger sih, yang pengen Mamanya atau anaknya nih"
"Dua duanya"
"Iya sayang"
Nadhira pun berpegang tubuh Rifki dengan sangat eratnya, keduanya pun meluncur kearah markas Gengcobra yang berada tidak jauh dari tempat itu, sore hari itu Nadhira merasa sangat senang karena bisa menikmatinya bersama dengan Rifki, Rifki juga bahagia bisa berduaan bersama dengan Nadhira.
Setelah beberapa lama kemudian akhirnya mereka telah sampai juga dimarkas Gengcobra, Nadhira langsung turun dari sepeda motor tersebut setelah Rifki menghentikan laju sepedanya itu, ia pun menaruh sepeda itu sembarangan dan meminta kepada anggota Gengcobra lainnya untuk memasukkan sepedanya itu ke garasi.
"Ngak mau mandi dulu Dhira?" Tanya Rifki.
"Mandi bareng?"
Pertanyaan Nadhira seketika itu juga menarik perhatian dari anggota Gengcobra yang sedang lewat ditempat itu, mereka pun langsung menundukkan pandangannya disaat Rifki menatap tajam kearah mereka tanpa berani untuk mengangkat kepala mereka.
"Biar Reno yang akan menyiapkan bajunya" Ucap Rifki sambil berjalan menuju kekamarnya yang ada didalam markas Gengcobra dengan menggandeng tangan Nadhira.
Rifki meminta Reno untuk menyiapkan pakaian keduanya, karena didalam markas itu tidak ada baju ganti untuk Nadhira sehingga Reno harus bergegas untuk mengambilkan baju milik Nadhira dirumah, dengan bantuan dari pembantu baru Nadhira.
Nadhira dan Rifki pun langsung masuk kedalam kamarnya membiarkan Reno untuk mengambilkan baju untuk keduanya, Rifki membaringkan tubuhnya ditempat tidurnya diikuti oleh Nadhira yang juga ikut serta membaringkan tubuhnya didekat Rifki.
Rifki membuka sedikit baju Nadhira hingga memperlihatkan perut Nadhira yang masih rata, ia pun mencium perut tersebut hingga membuat Nadhira merasa sangat geli, Rifki mengusap pelan perut itu dengan lembut.
"Baik baik didalam ya Nak, jangan bikin Mama kesusahan nantinya" Ucap Rifki kepada perut Nadhira dan sesekali menciumnya.
"Iya Papa" Jawab Nadhira.
"Kamu juga, jaga kesehatannya, jangan tiba tiba ikut bertarung seperti tadi, kau harus lebih banyak istirahat dan memakan makanan yang sehat"
"Aku tidak bermaksud seperti itu Dhira, aku hanya ingin kalian berdua baik baik saja, bukan maksudku untuk mengingatkanmu dengan masalalumu Dhira"
"Perkataanmu seolah olah mengatakan bahwa diriku lemah dengan satu ginjal saja Rif"
"Dhira, maafin aku" Rifki merasa bersalah karena Nadhira salah mengartikan maksudnya itu.
"Kau jahat Rif, aku tau bahwa aku hanya memiliki satu ginjal saat ini, aku sadar akan hal itu Rif, aku tidak sempurna seperti yang lainnya, jangan ingatkan aku soal itu Rif, sakit banget"
"Jangan berpikiran seperti itu sayang, aku sama sekali tidak mengatakan bahwa dirimu lemah, kau adalah wanita yang hebat, tidak semua wanita bisa sepertimu Dhira, aku hanya ingin mengatakan bahwa kau harus lebih berhati hati, karena ada dua nyawa yang harus kau jaga didalam tubuhmu saat ini, nyawamu dan nyawa anak kita, itu sangat berarti bagiku Dhira"
"Kau memang tidak bermaksud untuk mengatakan itu, tapi hatiku sedikit terluka karenamu"
"Maafin aku Dhira, maaf ya, maaf banget, aku hanya tidak ingin kamu kenapa kenapa Dhira, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu terluka karena perkataanku Dhira"
"Kau jahat Rif"
Rifki pun mencoba untuk memeluk tubuh Nadhira yang sedang menangis tersebut, ia tidak tau kenapa Nadhira sangat sensitif seperti ini sekarang, Nadhira pun menyingkirkan tangan Rifki dari tubuhnya dan dirinya tidak mau disentuh oleh Rifki.
"Aku minta maaf Dhira, iya aku salah"
"Ngak"
"Ya udah nanti beli es cream yang banyak lagi deh, jangan marah dong sama aku, nanti aku nangis gimana?"
"Nangis aja yang keras, sekalian pake corong masjid"
"Tega banget ih Dhira, nanti aku belikan permen deh biar makin manis"
"Aku bukan anak kecil"
"Mau salad buah? Mau apapun nanti aku kasih deh, asal jangan ngambek seperti ini, lihat tuh wajah kayak pakaian yang lungset deh"
"Ih apaan sih kamu ini"
Rifki pun tersenyum menggoda kearah Nadhira hingga Nadhira tidak mampu untuk menyembunyikan rona merah diwajahnya itu, ia pun memukul Rifki menggunakan guling yang berada disebelahnya itu.
__ADS_1
Seketika sebuah tawa tercipta diwajah Nadhira, melihat itu membuat Rifki ikut tertawa dan langsung bergegas untuk memeluk Nadhira, Nadhira sendiri langsung memeluk Rifki balik, tubuh Rifki adalah tempat ternyaman baginya untuk bersandar.
*****
"Lebih cepat dong! Masak laki laki lemes kayak gini sih, seharusnya laki laki itu kuat bukan letoy begini" Teriak Nadhira kepada Fajar.
"Dhira aku sangat capek, sudah tiga kali putaran nih, boleh ya istirahat sebentar saja, nanti kita lanjutkan lagi diputaran keempat"
"Ngak ada istirahat istirahatan untukmu, cepat jalan atau mau aku pukul"
"Iya iya Dhira, jangan dipukul lagi ya, sakit bok*ngku"
"Mangkanya cepat jalan"
Kini Nadhira tengah naik diatas punggung Fajar yang tengah merangkak seperti kuda, diikuti serta oleh anggota Gengcobra lainnya dibelakangnya dan juga melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Fajar kali ini.
Nadhira menaiki punggung Fajar seperti dirinya sedang menaiki sebuah kuda, Fajar yang tidak bisa membantah itu pun hanya bisa menuruti kemauan dari Nadhira, mereka pun terus merangkak untuk mengelilingi lapangan yang ada dimarkas Gengcobra saat ini.
Rifki yang menyaksikan itu ditepi lapangan pun hanya bisa memijat kepalanya yang sedikit sakit, ia tidak tau lagi harus berbuat apa saat ini kepada Nadhira, Nadhira bilang bahwa dirinya tengah ngidam untuk naik kuda kudaan layaknya seperti anak kecil kepada sosok ayahnya.
"Benar benar seperti anak kecil" Rifki menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah laku dari Nadhira itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang untuk menghentikannya Rif? Kasihan anak anak Gengcobra kalo seperti ini caranya, sama saja dengan menyiksa mereka" Tanya Bayu yang sedikit khawatir karena anggota Gengcobra saat ini tengah kelelahan.
"Ngidamnya aneh aneh banget, aku ngak tau lagi harus seperti apa Bay"
"Cobalah untuk bujuk Dhira, kali aja dia mau kalo kamu yang bujuk Rif, kalo kita diem saja seperti ini akan membuat mereka tidak akan siaga jika ada sesuatu nanti"
"Emang mudah melakukan itu ha? Kalo bisa mah sudah dari tadi aku bilangin dia"
"Coba sekali lagi saja Rif, mungkin aja kali ini bisa"
"Baiklah aku akan coba"
Rifki pun langsung melangkah untuk mendekat kearah dimana Nadhira berada saat ini, ia pun langsung meraih tangan Nadhira dan mengajak Nadhira untuk turun dari punggung Fajar, hal itu seketika membuat Fajar langsung ambruk ditanah dengan bernafas lega.
"Sudah cukup sayang, kasihan anggota Gengcobra jika terus terusan seperti ini"
"Tapi sayang, ini sangat menyenangkan"
"Nanti aja ya main kuda kudaan dikamar, kasihan mereka Dhira, sudah sejak tadi kau menyuruh mereka untuk merangkak, apalagi Fajar yang kau naiki itu, dia pasti sangat kelelahan"
"Ngak mau main sama dirimu, kau selalu curang kalo bermain dikamar"
"Sudah ayo kembali kekamar, ini sudah malem Dhira, waktunya untuk istirahat"
Tanpa menunggu jawaban dari Nadhira, Rifki lalu menarik tangan Nadhira untuk menuju kekamar mereka, setelah sampai disana Rifki lalu menguncinya dari dalam dan tidak membiarkan Nadhira untuk keluar dari kamar tersebut.
"Ayo main kuda kudaan" Ucap Rifki.
"Ngak mau, aku sangat lelah Rif, aku mau istirahat saja, kau selalu curang dengan diriku bukannya aku yang naik tapi kau justru yang naik"
"Wanita itu ibarat sajaddah, karena diatasnyalah lelaki bisa beribadah sayang"
"Ngak mau, baumu ngak enak"
"Kan sudah mandi bareng tadi, kenapa masih ngak enak saja sih, sepertinya penciumanmu agak bermasalah deh sayang"
"Hah? Kau meremehkan diriku gitu?"
"Bukan itu maksudku sayang"
Nadhira pun berjalan menuju ketempat tidurnya yang berada disisi kiri kasur tersebut, Nadhira lalu menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian mukanya, sementara itu Rifki juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Nadhira.
"Jangan dekat dekat denganku, aku mual karena bau tubuhmu itu, ngak enak udah kayak sarang tikus" Ucap Nadhira.
"Ngak ada sarang tikus setampan diriku sayang"
"Ngak sama sekali"
"Iya deh iya, kalo begitu aku mau tidur aja dengan anggota Gengcobra diluar"
"Sana, besok pagi aku hukum anggota Gengcobra yang tidur denganmu itu, biar tau rasa"
"Terus aku harus bagaimana Dhira? Istriku saja tidak mau dekat dekat denganku, ya aku mau gabung dengan anggota Gengcobra saja kalo begitu"
"Terserah, aku ngak peduli"
__ADS_1
Rifki pun lalu membaringkan tubuhnya berjauhan dari Nadhira karena dia tidak ingin Nadhira marah karenanya, ia pun tidak bisa tidur jika tidak memeluk Nadhira, begitupun Nadhira yang merasa kosong tanpa tidur dipelukan Rifki.
Setelah cukup lama tidak bisa memejamkan kedua matanya Nadhira pun mengintip kearah Rifki yang berada tidak jauh darinya, melihat Rifki yang sudah memejamkan matanya membuat Nadhira perlahan lahan mendekat kearah Rifki dan menyandarkan kepalanya dilengan Rifki sambil memeluk tubuh Rifki yang hangat dan nyaman baginya itu.