
Lelaki itu tidak menyadari bahwa dirinya sudah berpindah alam saat itu juga setelah merasakan benda dingin yang menusuk, bahkan menyayat lehernya itu. Dirinya merasakan sakit yang teramat sangat, akan tetapi setelahnya dirinya sudah tidak merasakan sakit lagi karena arwahnya sudah berpindah tempat.
"Membiarkan kalian hidup justru akan membuatku dalam bahaya nantinya, Aku tidak mau sampai kalian tahu siapa diriku yang sebenarnya. Aku tidak membunuhmu, tapi aku mengirimkanmu ke neraka karena dosamu, soal dosaku sendiri biarkan aku yang menanggungnya sendiri,"
Wanita itu langsung berjalan menuju kearah dimana desa yang dimaksud itu berada, tanpa rasa takut sedikitpun itu. Sementara disatu sisi, Rifki dibawa masuk kedalam desa itu, sebelum sampai disana tiba tiba segerombolan orang berkisar sebanyak 15 orang langsung mendatanginya.
Segerombolan itu dipimpin oleh seorang lelaki, dan lelaki itulah yang menjadi bos dari mereka semua. Melihat Rifki yang tidak sadarkan diri itupun langsung membuatnya tertawa dengan puasnya, dirinya tidak menyangka bahwa menculiknya begitu mudah saat ini setelah memikirkan rencananya dengan matang matang sebelumnya.
"Kerja bagus, saya merasa bangga dengan kalian yang telah mengerjakan tugas ini dengan baik," Ucapnya dengan tertawa bahagianya.
"Soal imbalannya, apa bisa dinaikkan lagi?" Tanya salah satu dari mereka.
"Jangan khawatir soal itu, setelah semuanya menjadi milikku. Aku akan beri kalian bonus yang banyak,"
"Mantap. Terima kasih, Bos!"
"Apakah ada tanda tanda Gengcobra datang kemari?"
"Anggota Gengcobra juga tidak mengejar, Bos. Tidak ada yang tau bahwa pemimpin mereka menghilang, mungkin mereka belum menyadari soal itu," Jawab seseorang yang sedang menapah Rifki yang tidak sadarkan diri itu.
"Kalian memang benar benar bisa diandalkan,"
"Jangan lupa perjanjiannya, Bos."
"Tenang, uang itu sudah aku siapkan, cepat bawa dia kedesa terbengkalai itu. Kita akan segera melakukan ritualnya untuk mendapatkan keris pusaka xingsi itu,"
"Baik Bos!"
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya untuk menuju kedesa Mawar Merah yang dimaksudkan itu, Rifki yang terkena obat bius itu pun masih tidak sadarkan diri saat ini. Dirinya bahkan tidak menyadari dengan apa yang terjadi saat ini kepadanya, hanya ada kegelapan yang tak berujung baginya saat ini.
Mereka memegangi tubuh Rifki dengan sangat eratnya, agar lelaki itu tidak jatuh ketanah ketika mereka sedang membawanya menuju kearah desa Mawar Merah. Perjalanan mereka begitu lancar, tanpa ada yang menghalanginya, hal itu membuat mereka seakan akan merasakan kemenangan yang sangat besar.
Sreekkk... Sreekkk... Sreekkkk...
Terlihat seseorang yang berjalan seorang diri dengan memakai pakaian putih dengan celana hitam legam, orang itu seperti tengah membawa sebuah pedang yang cukup panjang. Terlihat adanya tetesan darah yang mengalir diujung pedang yang dirinya bawa itu, jalannya cukup pelan akan tetapi seperti tengah berjalan dengan tegapnya.
Sebuah senyuman tercipta diujung bibirnya, orang itu terus melangkahkan kakinya untuk semakin mendekat kearah segerombolan orang itu. Dirinya berjalan seorang diri, tanpa dikawal oleh siapapun yang akan melindunginya jika dalam bahaya, dari pakaiannya saja sudah memperlihatkan bahwa dia sama sekali tidak takut dengan bahaya apapun.
Sreekkk.... Sreekkkk.... Sreekkk....
Orang itu seakan akan berjalan kearah segerombolan orang yang telah membawa Rifki saat ini, meskipun terlihat langkahnya sangat pelan, akan tetapi dengan cepat dirinya bisa mengejar langkah dari orang orang itu. Rambutnya yang panjang pun terurai tanpa dikuncir, tatapan matanya bagaikan elang yang tengah mengincar mangsanya.
"Kalian semua harus mati." Ucapnya lirih dengan nada yang sangat menyeramkan meskipun segerombolan itu tidak mendengarnya.
Hutan tersebut dikenal sebagai hutan yang paling angker, karena begitu banyak orang yang mati didalamnya. Bukan hanya karena pembantaian yang dilakukan oleh Nimas, akan tetapi pembantaian yang telah dilakukan oleh Nadhira dan Rifki ditempat itu.
Tidak ada warga sekitar yang mau tinggal disana, karena mereka seperti tengah mendapat teror dari mahluk gaib, dan mereka memilih untuk pergi dari tempat tersebut dan tinggal ditempat yang sangat jauh dari area hutan belantara itu. Hal itu membuat jalanan menuju ketempat itu sangat sepi, dan bahkan tidak ada seorangpun yang berani untuk masuk kedalamnya selain orang orang yang ingin berniat jahat dan melakukan pesugihan.
Wanita itu berjalan seorang diri dengan menyeret sebuah pedang cukup panjang ditangan kanannya, tatapan matanya begitu tajam dan seakan akan penuh dengan kemarahan yang mendalam. Wanita itu terlihat sangat menyeramkan, apalagi dengan seutas senyuman yang terpancarkan didalam bibirnya.
Angin pun berhembus dengan kencangnya, seakan akan tengah ada bahaya yang mengintai segerombolan orang itu. Tangan wanita itu pun kini tengah bersimbah darah, darah yang masih segar dan belum membeku.
Sreekkk... Sreekkk.... Sreekkkk.....
__ADS_1
Wanita itu terus berjalan dengan mudahnya, tanpa takut sakit akibat duri dan kayu yang berserakan ditempat dirinya berpijak. Tatapannya sangat menajam, bahkan mampu untuk mengintimidasi seseorang hingga membuat mereka ketakutan setelah melihatnya.
"Aku datang untuk menghabisi kalian semua," ucapnya dengan lirik dan terlihat begitu sangat menyeramkan.
Wanita tersebut terus berjalan untuk menghampiri mereka yang tengah membawa Rifki, meskipun langkahnya terlihat pelan akan tetapi langkah wanita tersebut begitu cepat hingga bisa menyusul mereka dengan mudahnya. Wanita itu terlihat sangat menyeramkan saat ini, apalagi dengan bekas darah yang membasahi tubuhnya.
Wanita itu tiba tiba berdiri dihadapan segerombolan orang, hingga membuat mereka sangat terkejut dengan kehadiran wanita tersebut. Dengan pedang yang ada ditangannya membuat wanita itu semakin terlihat menyeramkan, dan mereka pun ketakutan ketika melihatnya.
"Berhenti, selangkah lagi kalian maju, maka nyawa kalian akan hilang ditanganku."
"Siapa kau!" Teriak salah satu dari mereka yang menjadi pimpinan mereka.
"Maumu apa!"
"Jangan halangi jalan kami! Siapa kau?"
Wanita itu nampak menundukkan kepalanya, hingga membuat helaian rambut sedikit menutupi wajahnya yang putih. Pakaian putih yang kini terlihat merah itu pun semakin membuatnya terlihat menyeramkan, bahkan segerombolan orang itu langsung memundurkan beberapa langkah kebelakang.
"Malaikat maut kalian," Jawab Wanita itu dengan nada yang menyeramkan serta perlahan akan mendongakkan wajahnya.
"Kau!"
Lelaki yang menjadi pemimpin dari mereka semua pun sangat terkejut ketika melihat wajah seseorang yang telah lama menghilang itu kini sedang ada dihadapannya. Sudah 11 tahun tidak bertemu, dan kali ini dia datang dengan wajah yang sangat menyeramkan karena darah yang membasahi tubuhnya saat ini.
"Nadhira? Kau benar benar Nadhira?"
"Rupanya kau masih mengenaliku, penghianat. Selama 11 tahun kita tidak pernah bertemu, dan beraninya kau menghianatiku dan suamiku. Aku datang kemari untuk membalas penghianatanmu itu, bersiap siaplah bahwa kau akan menjadi sasaranku saat ini juga."
"Jadi kau benar benar masih hidup?"
Sringgg...
Ana kini berubah menjadi Nadhira, dengan rambut yang terurai panjang dirinya menatap tajam kearah orang orang itu. Dirinya pun mengangkat pedang yang dirinya gunakan untuk membantai orang sebelumnya, hal itu membuat pedang yang ada ditangannya penuh dengan darah.
Kedua puluh orang itu langsung termundurkan beberapa langkah ketika melihat pedang tersebut diangkat oleh Nadhira, Nadhira nampak begitu sangat menyeramkan saat ini, bahkan aura yang dipancarkan dari wajahnya begitu sangat kuat dan seperti tengah mencengkeram sesuatu.
Nadhira pun menatap kearah suaminya, yang dimana dirinya sedang tidak sadarkan diri saat ini. Melihat itu langsung membuat dirinya mengepalkan tangannya dengan eratnya, berani sekali mereka menghianati Rifki dan Nadhira, hal itulah yang membuat dirinya sangat marah saat ini ketika mengetahui siapa pelakunya yang membuat ulah.
Orang itu bernama Hendra, seorang pemimpin yang ditugaskan oleh Rifki untuk memimpin anggota yang ada di dalam Surya Jayantara. Orang itu sudah bekerja kepada Rifki dan Aryabima selama ini, akan tetapi saat ini justru dia yang tega menculik Rifki untuk mengambil keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuh Rifki.
Selama ini dirinya tidak mengetahui adanya keris pusaka itu, belakangan ini dirinya mengetahui bahwa orang orang jahat mengincar Rifki hanya mengambil keris pusaka itu sebagai sesuatu yang membuat mereka kuat. Dirinya terus mencari informasi mengenai keberadaan dari keris pusaka itu, dan bagaimana caranya untuk mengeluarkannya dari orang orang jahat yang dirinya temui.
Nadhira benar benar tidak menyangka bahwa orang itu menghianati Rifki dan ingin membunuh Rifki, padahal Rifki begitu sangat percaya dengan orang itu karena dia adalah orang kepercayaan dari Aryabima. Dirinya berpikir bahwa keris itu yang telah mendatangkan kekayaan yang dimiliki oleh Rifki saat ini, akan tetapi pikirannya itu salah karena Rifki tanpa hentinya untuk terus bekerja untuk mendapatkan uang.
Hanya karena ambisinya dirinya sampai lupa bahwa Rifki yang telah memenuhi kebutuhan hidupnya selama ini, entah sejak kapan lelaki itu terus berambisi untuk mendapatkan kekayaan yang lebih. Padahal selama ini kebutuhannya itu tercukupi, dirinya hanya menginginkan hal yang lebih.
Sekilas Nadhira menatap ke arah Rifki yang sedang dipegangi dengan erat oleh dua orang lelaki, Rifki yang tidak sadarkan diri itu pun membuat dirinya merasa sedih. 10 orang langsung bergegas untuk menyerang Nadhira secara bersamaan, dirinya langsung bersiap siap untuk menerima serangan itu dan menyerang mereka balik.
Tanpa rasa kasihan, Nadhira terus mengayunkan pedang yang ada di tangannya itu untuk melukai orang-orang itu. Siapa sangka mereka juga membawa senjata tajam untuk berjaga jaga jika hal ini terjadi, luka demi luka sayatan pun diterima oleh mereka dari pedang yang ada di tangan Nadhira.
Melihat Nadhira yang fokus untuk bertarung, hal itu langsung membuat Hendra bergegas untuk membawa Rifki pergi dari tempat itu. Hendra dan ke 9 anak buahnya itu pembawa Rifki pergi begitu saja, ia tidak ingin bencana ini gagal hanya karena seorang wanita yang menghadang jalannya.
"Kalian tidak akan selamat!" Ucap Nadhira dengan tegasnya sambil menggenggam erat pedang itu di tangannya.
__ADS_1
Dirinya yang sudah terbiasa di dalam situasi seperti ini, hal itu membuatnya tidak memiliki rasa takut akan mereka yang menyerangnya dengan bersama-sama. Nadhira nampak sekali kesusahan, akan tetapi dirinya tidak mau menyerah begitu saja. Nadhira tidak bisa menewaskan salah satu di antara mereka, karena Hendra sendiri juga ikut turun tangan untuk melatih mereka.
Nadhira tidak tahu bahwa Rifki telah dibawa pergi oleh Hendra dari tempat itu, dirinya masih tetap fokus dalam pertarungan itu. Jika pun dia sampai kehilangan fokus artinya dia mencari kekalahannya sendiri, Iya tidak mau mati sia sia saat ini.
Siapa sangka bahwa tangan kiri Nadhira pun kini memegangi sebuah pisau kecil yang mereka semua tidak menyadari hal itu, mereka pikir bahwa Nadhira hanya akan mengantarkan nyawanya saja jika melawan mereka semua dengan seorang diri tanpa memiliki persiapan apapun.
"Menyerah sekarang, Dhira. Atau nyawamu yang akan habis di tangan kami," Ucap salah satu diantara mereka yang juga mengenali Nadhira.
"Hah... Tidak semudah itu kau menyuruhku untuk menyerah, seorang pengkhianat tidak akan bisa dimaafkan begitu saja," Ucap Nadhira yang masih tetap memegangi erat senjata yang ada di tangannya.
"Percuma saja kau melawan kami, karena suamimu itu akan tetap mati di tangan Bos kami,"
"Hidup dan mati ada di tangan Tuhan, kalian tidak akan tahu siapa yang akan mati lebih dulu antara aku atau kalian,"
"Kau sangat keras kepala sekali, lebih baik kau menyerah karena kami akan memberimu kematian yang mudah."
"Memang siapa kalian? Kalian bukan Tuhan yang bisa menentukan kapan dan di mana orang akan mati, selama masih adanya nyawa di dalam tubuhku aku tidak akan menyerah begitu saja. Tuhan saja tidak menyukai manusia yang mudah menyerah, bagaimana mungkin aku bisa menyerah begitu saja?"
"Pikiranmu terlalu jauh, sampai kapan kau akan bertahan untuk melawan kami semua? Suamimu itu pun tidak akan bisa melindungimu,"
"Suamiku memang tidak melindungiku saat ini, tapi doanya selalu menyertaiku di mana pun aku berada. Aku akan tunjukkan kepada kalian bagaimana kuatnya doa daripada ancaman kalian yang tidak tahu bagaimana ujungnya,"
Nadhira pun langsung kembali menyerang ke arah mereka menggunakan pedang yang ada di tangannya itu, di dalam gelapnya malam perkelahian itu pun terjadi. Karena gelap, mereka tidak tahu tanah yang mereka pijakan sudah berlumuran darah, darah mereka pun sudah bercucuran akibat luka sayatan yang mereka terima.
Kedua belah pihak sama sama terluka saat ini, akan tetapi yang lebih parah adalah pihak mereka bukan pihak Nadhira. Nadhira pun terluka di bagian tangan dan juga kakinya, akan tetapi dirinya tidak mau menyerah begitu saja, dan dirinya pun terus berusaha untuk memenangkan pertarungan itu.
Tenaga Nadira seakan akan meningkat di saat mengetahui bahwa Rifki telah dibawa pergi dari tempat itu, dirinya tidak akan pernah mengampuni siapapun orang yang ada di sana. Dengan segera dirinya mengakhiri pertarungan itu, meskipun tidak membunuh mereka akan tetapi dirinya juga mampu untuk membuat mereka terluka cukup parah.
Ada di antara mereka yang harus kehilangan kakinya ataupun tangannya akibat dari ayunan pedang yang ada di tangan Nadhira, meskipun hal itu tidak sepenuhnya membuat mereka mati setidaknya dengan itu membuat mereka cacat.
Setelah mereka tidak mampu untuk bangun lagi, Nadhira langsung bergegas meninggalkan tempat itu untuk mengejar Hendra yang telah membawa Rifki pergi. Dirinya yang tahu betul tentang jalan menuju desa Mawar Merah sehingga dirinya sangat tahu jalan itu, bahkan dirinya saat hafal tentang jalanan yang menuju ke arah desa Mawar Merah.
Sesampainya di sana, Nadira mengetahui bahwa Rifki telah diikat di batang sebuah pohon yang ada di sana, di sana juga sudah terdapat orang-orang itu yang sedang mencarinya. Nadhira mengepalkan tangannya dengan kuat, bahkan telapak tangannya itu sampai memutih karena saking kuatnya.
"Hentikan!" Teriak Nadhira untuk menghentikan mereka.
Mereka begitu terkejut ketika melihat kedatangan Nadhira ke tempat itu, bagaimana bisa wanita itu mengalahkan 10 orang yang telah diperintahkan untuk mencegahnya sebelumnya. Hal itulah yang membuat mereka begitu sangat terkejut, apalagi ketika melihat bekas darah sudah membasahi tubuhnya saat ini.
"Lepaskan dia jika kalian mau tetap hidup," Ucap Nadhira dengan dinginnya sambil menatap tajam ke arah Hendra.
"Justru kaulah yang akan kalah di sini, lihatlah lukamu yang sudah parah itu. Bagi kami mengalahkanmu saat ini adalah hal yang mudah," Ucap Hendra kepada Nadhira.
Lelaki yang sudah berumur 45 tahunan itu pun terlihat tidak terima jika anak buahnya dikalahkan oleh seorang wanita, dirinya seakan akan seperti tengah memandang rendah kepada Nadhira. Melihat Nadhira yang sudah bersimbah darah itu pun membuatnya seakan akan mampu mengalahkan wanita itu, karena dirinya yang tidak pernah berduel dengan Nadhira sehingga dirinya tidak tahu bagaimana kekuatan Nadhira apalagi ketika dirinya merasa sangat marah.
Yang Hendra tau hanyalah, Nadhira itu wanita yang sangat manja didepan Rifki, dirinya berpikir bahwa Nadhira yang notabenenya adalah seorang anak orang kaya, maka anak itu akan terlihat sangat manja. Karena dirinya tidak pernah bertemu langsung dengan Nadhira, membuatnya tidak mengetahui siapa sosok Nadhira yang sebenarnya.
"Kau hanya melihat lukaku saja, tapi apa kau tahu dengan tekadku yang tidak mudah kau kalahkan begitu saja. Bahkan aku sendiri pun sanggup untuk membunuhmu saat ini juga," Ucap Nadhira.
Sriinnggg...
Nadhira pun mengangkat kembali pedang yang ada di genggamannya itu, dirinya pun menodongkannya kepada Hendra. Dulunya dirinya sangat menghormati sosok lelaki itu, akan tetapi tidak untuk kali ini, bahkan dirinya berani untuk mengangkat senjata tersebut.
Nadhira pun langsung menghunuskan pedang itu begitu saja, akan tetapi hunusan pedang yang belum sempat mengenai kulit dari Hendra itupun langsung ditangkis oleh seseorang. Nadhira melihat kearah orang itu sekilas, dan langsung mengayunkan pedangnya tepat dileher orang tersebut.
__ADS_1
Hal itu langsung membuat darah milik lelaki itu langsung muncrat begitu saja, hingga mengenai pipi kiri Nadhira. Bau anyir darah pun tercium dengan jelas disana, melihat musuh musuhnya yang perlahan lahan kalah itu pun langsung menciptakan sebuah senyuman diwajah Nadhira.