
Seketika wajah Rifki terlihat terpuruk setelah melihat foto anaknya itu, ingin sekali dirinya bermain bersama dengan anaknya yang saat ini sudah berusia 11 tahun itu. Rifki ingin bisa melihat anaknya itu, akan tetapi dirinya sendiri tidak mengetahui keberadaan dari anaknya saat ini, lalu bagaimana bisa dirinya bermain dengan anaknya itu.
Rifki pun bangkit dari duduknya, dirinya pun bergegas untuk menuju kekamarnya saat ini. Ayu dan Hafis sendiri tidak bisa mencegahnya, semenjak kepergian dari Nadhira, hanya kepada Keysa lah Rifki bisa tertawa selain itu tidak ada lagi yang mampu untuk membuatnya tertawa.
"Om, Keysa mau ikut,"
Keysa pun berusaha untuk turun dari pangkuan Ibunya itu, dirinya pun memberontak untuk turun dan mengejar Rifki. Pintu yang sudah tertutup itu pun langsung dibuka oleh Keysa, karena memang pintu tersebut tidak dikunci oleh Rifki. Ayu takut jika Rifki akan marah kepada Keysa, sehingga dirinya pun mengejar anaknya itu yang telah berlari masuk kedalam kamar Rifki.
"Keysa," Ucap Ayu sambil membuka pintu kamar Rifki secara perlahan.
Ayu yang takut kalau Rifki akan memarahi Keysa pun langsung masuk kedalam kamar itu begitu saja, akan tetapi dirinya justru terkejut ketika melihat Keysa yang duduk dipangkuan Rifki sambil menatap kearah cendela kaca yang ada didalam kamar itu. Rifki tidak akan bisa memarahi gadis kecil itu meskipun dalam keadaan apapun, jutru hatinya akan merasa tenang ketika melihat adanya Keysa.
"Kakak, maafin Keysa yang menganggu," Ucap Ayu yang takut Rifki marah.
"Nggak papa, keluar lah," Ucap Rifki yang lalu menguruh Ayu untuk keluar dari dalam kamarnya.
"Tapi Keysa..."
"Dia disini bersamaku."
"Baiklah, Kak."
Ayu yang tanpa banyak bicara itu pun langsung bergegas untuk keluar, karena takut jika Rifki akan marah kepadanya dan berujung marah juga kepada Keysa. Keysa sendiri pun sibuk memainkan jari jemari milik Rifki, Rifki bahkan masih memakai cicin pernikahannya sampai saat ini dan tidak pernah melepaskannya sama sekali.
"Om jangan sedih lagi, kalau Om sedih nanti Keysa jadi ikut sedih. Nanti Keysa carikan Tante baru untuk Om," Ucap Keysa dengan bibir tipisnya itu sambil cemberut karena melihat Rifki yang hanya berdiam saja.
"Mau cari dimana?" Tanya Rifki.
"Ditaman. Disana kan banyak orang yang datang, nanti Keysa sendiri yang akan pilihkan untuk Om. Keysa akan carikan Tante yang cantik dan baik seperti Om,"
Rifki hanya menanggapi ucapan Keysa dengan senyuman tipis, gadis kecil itu nyatanya ingin menghiburnya saat ini. Rifki lalu mengenggam erat tangan mungil Keysa itu, sebagai pengobat rasa rindunya terhadap anak gadisnya yang entah berada dimana saat ini.
*****
Kinara tengah bermain dengan anak anak panti asuhan yang biasanya bermain dengannya itu, dirinya dan teman temannya sedang berada tidak jauh dari halaman rumahnya. Semenjak Ana memutuskan untuk bekerja, Kinara selalu terlihat kesepian meskipun adanya Siska yang merawatnya.
Padahal masih dua hari ini dirinya tidak melihat Ana dirumah, akan tetapi dirinya sudah merasa sangat rindu dengan Ibunya itu. Kinara tengah duduk bersama dengan Gina dan juga Sasa, kedua temannya itu nampak terlihat bosan saat ini, bahkan rasanya mereka sangat malas untuk melakukan apapun.
"Ra, apa tidak ada sesuatu yang bisa kita mainkan?" Tanya Gina kepada Kinara.
"Kita mau main apa? Ibu panti juga ngelarang kita untuk main jauh jauh dari sini," Ucap Sasa malas.
"Main di panti juga bosan, main di rumahku malah jauh lebih bosan," Kinara pun menghela nafas panjang karena dirinya sendiri juga merasa sangat bosan saat ini.
Tanpa sengaja Kinara pun melihat beberapa buah mangga milik tetangga yang ada dipohonnya itu, dirinya pun tersenyum sangat cerahnya ketika melihat buah mangga yang sudah hampir matang itu. Kinara pun menunjuk kearah buah mangga, hingga membuat kedua tangannya langsung menoleh kearah dimana Kinara menunjuk saat ini.
"Bagaimana kalau kita ambil buah itu saja?" Tanya Kinara sambil tersenyum lebar.
"Nggak ah. Kata Ibu panti, kita nggak boleh ngambil sesuatu milik orang tanpa izin," Ucap Sasa yang mengingat dengan jelas perkataan dari Ibu panti yang telah menasehatinya itu.
"Nggak papa kali, kapan lagi kita bisa makan buah seperti itu?"
Kinara pun membujuk temannya agar mau mengikuti ucapannya itu, memang Kinara membawa pengaruh buruk bagi teman teman pantinya itu. Kinara yang hidup tanpa adanya sosok Ayah yang menemaninya itu, membuatnya sedikit liar karena tidak mau mendengarkan ucapan orang lain, bahkan sikapnya yang sangat keras kepala itu.
"Tapi kan, Ibu panti pernah bilang kepada kita, Nara. Kalau kita tidak boleh menggambil hak milik orang lain tanpa izin," Sela Gina.
"Siapa bilang tanpa izin? Nanti aku izin deh kepada pemiliknya," Ucap Kinara.
__ADS_1
"Emang izin ke siapa? Pemilik rumahnya aja nggak ada dirumah sekarang,"
"Nggak deh, Ra. Kami takut kalau dimarahi sama Allah, mending kita melakukan hal yang lainnya saja," Saran dari Sasa.
"Udah ah, jangan banyak ngomong lagi,"
Kinara langsung menarik tangan kedua temannya itu, keduanya pun tidak bisa melepaskan pegangan tangan Kinara yang sangat erat itu. Sehingga, Sasa dan Gina hanya bisa menurut saja untuk dibawa Kinara mendekat kearah pohon mangga yang dimaksud oleh Kinara sebelumnya itu.
"Nara, emang kita mau ngapain sih?" Tanya Sasa yang bingung dengan temannya yang satu itu.
"Ambil tuhhh...." Kinara pun menunjuk dengan ekspresi wajahnya kepada buah mangga.
"Itu kan tinggi banget, Nara. Gimana ngambilnya?" Tanya Gina dengan kesalnya melalui ekspresi wajahnya.
"Dengan ini," Kinara lalu mengangkat sebuah batu yang berukuran sekepal tangannya itu.
Kedua temannya pun lalu membelalakkan matanya ketika melihatnya, sementara Kinara justru mengembangkan senyumannya dengan cerahnya. Entah apa yang ingin dilakukan gadis kecil itu, dirinya pun langsung bergegas untuk berdiri dihadapan teman temannya itu.
Kinara mulai mengambil ancang ancang untuk melemparkan batu itu, Kinara merasa yakin bahwa dirinya bisa mengenai tepat kepada buah mangga yang berada jauh diatas sana. Kinara pun mulai melemparkan batu itu, batu itu langsung meluncur keatas dengan cepatnya, akan tetapi batu tersebut langsung berpindah haluan, dan bukannya mengenai buah mangga itu.
Bhuuaakkk...
"Akhh..."
Tiba tiba terdengar seseorang yang berdecak dengan kerasnya karena kesakitan. Kinara yang mendengarnya pun langsung bergidik ngeri, bagaimana bisa ada seseorang yang terkena lemparan batunya itu, padahal dirinya merasa yakin bahwa disana sepi. Sosok seorang lelaki pun mendatangi ketiganya, lelaki itu terlihat sangat marah bahkan jidadnya sudah benjol terkena lemparan batu itu.
"DASAR ANAK ANAK KURANG AJ*R!! KALIAN SENGAJA YA LEMPAR BATU SEMBARANGAN," Bentak orang tersebut dengan marahnya.
"Ka... Kaburrrr!" Teriak Kinara memberi panduan kepada kedua temannya.
"JANGAN LARI KALIAN!"
Dengan nafas yang tergesa gesa, Kinara terus berlari karena dikejar oleh lelaki yang tidak dirinya kenali itu. Hingga akhinya, kakinya pun tersandung sesuatu hingga membuatnya jatuh diatas rumput dengan sangat kerasnya. Melihat gadis kecil yang dikejarnya terjatuh, hal itu langsung membuat lelaki itu menghentikan langkahnya, dan berdiri dihadapan Kinara saat ini.
"Mau lari kemana lagi, kamu?" Tanya lelaki itu dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Ampun Om, aku tidak sengaja," Ucap Kinara ketakutan melihat lelaki itu.
"Nggak ada ampun!" Sentaknya.
"Aku minta maaf, Om. Aku benar benar tidak sengaja melakukan itu,"
Kinara begitu sangat ketakutan, bahkan kedua kaki dan tangannya pun gemetaran ketika melihat tatapan tajam dari orang yang ada dihadapannya itu. Kinara mencoba untuk mundur menjauhi dari lelaki itu, akan tetapi justru lelaki itu semakin mendekat kearahnya.
Dan....
Bhukkk...
"Ahhhh..... Bocah bangs*ttt!!" Teriaknya sambil menggeram kesakitan.
Siapa sangka justru Kinara lngsung menendang benda pusaka milik lelaki itu dengan sangat kerasnya, hingga membuat lelaki tersebut menjerit kesakitan hingga terguling diatas rerumputan. Kinara memanfaatkan hal itu untuk langsung kabur dari tempat itu, tanpa mempedulikan lelaki yang kesakitan itu.
"Jangan kabur kau anak kecil! Akkhhh..." Teriak lelaki itu.
Sungguh malang nasib lelaki itu, sudah terkena lemparan batu, dan justru saat ini benda pusakanya ditendang oleh seorang gadis kecil dengan sangat kerasnya. Entah kemana perginya gadis kecil itu, setelahnya lelaki tersebut sudah tidak mengetahui keberadaannya itu.
"Pak, anda ngapain disini?"
__ADS_1
Tiba tiba terdengar suara perempuan yang bertanya kepada lelaki itu, perempuan tersebut sangat terkejut ketika melihat benjolan yang ada dijidat lelaki yang ada dihadapannya itu, dan dirinya langsung membantunya untuk berdiri dari jaruhnya.
"Nggak papa, ada anak kecil yang resek tadi. Tapi dia sudah kabur dari sini," Jawab sang lelaki.
"Pak Fajar, biar saya obati dulu. Di restoran ada kotak p3k, kalau tidak segera diobati nanti luka dikening Bapak makin parah,"
Iya, lelaki itu tidak lain adalah Fajar, anak buah dari Rifki. Dirinya datang ketempat itu untuk melakukan tugasnya, Rifki memberikan perintah kepadanya untuk mengecek keperluan yang kurang didalam restoran yang telah dirinya buat itu, sehingga Fajar berada ditempat itu. Awalnya, Fajar hanya ingin memeriksa keramaian ditaman yang ada disana untuk mencari peluang menu baru yang diminati oleh masyarakat sekitar.
Akan tetapi, nasib sial telah menghampirinya. Ketika tengah berjalan sendirian, justru dirinya terkena lemparan batu dari seorang anak kecil yang tepat mengenai jidatnya itu. Dirinya hendak menangkap anak tersebut dan meminta pertanggungjawaban dari orang tuanya, akan tetapi justru anak itu langsung menendang benda pusaka miliknya.
Fajar pun berjalan dengan tertatih tatih karena merasakan nyeri akibat dari tendangan Kinara, seandainya dia tau siapa orang tua Kinara, mungkin dirinya tidak akan berani untuk mengeluh sedikitpun itu. Wanita tersebut pun membantu Fajar untuk berjalan, dengan cara memapahnya menuju kearah restoran yang dimaksudnya itu.
****
Kinara sendiri langsung berlari menuju kerumahnya, dirinya bahkan tidak mempedulikan kedua temannya itu karena dia tau pasti temannya tersebut selamat dari kejaran lelaki. Kinara langsung masuk kedalam rumahnya dan menutup pintu rumahnya itu rapat rapat, dirinya juga tidak lupa menutup cendelanya dengan gorden rumahnya.
"Ada apa, Nara?" Tanya Siska yang melihat Kinara seperti tengah ketakutan saat ini.
"Tante, ada hantu diluar," Kinara pun langsung berlari dan bersembunyi dibalik punggung Siska.
"Mana ada hantu disiang siang hari seperti ini, Nara. Kamu pasti telah melakukan sesuatu kan?"
Tepat sekali tebakkan dari Siska itu, jika Kinara bersikap seolah olah ketakutan seperti itu, pasti dirinya telah melakukan sebuah kesalahan hingga membuat orang lain marah. Kinara adalah seorang gadis yang tidak mudah takut dengan hantu, bahkan dirinya begitu pemberani kalau masalah hantu, sama seperti Ayahnya yang tidak pernah takut dengan mahluk gaib.
Kinara tidak mampu melihat mahluk gaib, meskipun dirinya adalah keturunan dari Rifki yang mampu melihat alam gaib. Akan tetapi gadis itu hanya mampu kerasakan kedatangan dari mahluk gaib, tanpa mampu melihat wujudnya itu. Kinara tidak pernah takut jika berjalan sendirian dimalam hari, justru dirinya akan merasa ketakutan jika telah membuat orang lain marah kepadanya hingga sampai mengejarnya kerumah.
"Jadi hantu hanya ada dimalam hari ya, Tan? Kalau siang hari mereka pada tidur ya kan, Tan?"
"Jawab Tante. Apa yang telah Nara lakukan?" Tanya Siska tanpa menjawab pertanyaan dari Kinara sebelumnya itu. .
Kinara lalu bergegas untuk mengintip dibalik gordennya itu, dirinya sama sekali tidak menemukan keberadaan dari orang yang mengejarnya itu. Melihat itu langsung membuatnya menghela nafas lega, akhinya orang itu tidak mengejarnya lagi dan kali ini Kinara selamat dari kemarahan orang lain.
"Nara. Apa yang telah Nara lakukan?" Siska pun mengulangi pertanyaannya itu karena pertanyaan sebelumnya tidak dijawab oleh Risda.
"Nara nggak salah, Om itu saja yang salah," Ucap Kinara sambil mencerucutkan bibirnya.
"Om siapa? Nara buat masalah apa dengan Om itu sampai sampai dia marah sama Nara?"
"Tante. Kenapa Tante jadi bawel seperti Mama sih? Banyak banget pertanyaan yang harus Nara jawab,"
"Disini Mamamu menitipkan dirimu kepada Tante, jadi Tante harus bertanggung jawab atas dirimu kepada Mamamu. Kalau terjadi sesuatu sama Nara, Tante adalah orang pertama yang disalahkan oleh Mamamu,"
"Tante nggak asik."
Kinara pun langsung cemberut kepada Siska, belakangan ini memang Siska sering bawel kepadanya. Bukan karena hal lain, melainkan untuk melatih Kinara agar dirinya memiliki akhlak yang baik, apalagi Kinara sudah besar saat ini, jika tidak ada yang mengajarkannya tentang mana yang benar dan salah justru takutnya hal itu akan terbiasa sampai Kinara dewasa.
"Nara, Tante bawel karena Tante sayang sama Nara. Tante nggak pengen Nara tersesat jalan nantinya, Nara nggak boleh melakukan hal seperti itu pada orang lain. Bagaimana jika orang lain melakukan hal yang sama kepada Nara? Jika Nara bisa memukul, mereka juga bisa memukul Nara. Apa Nara mau disakiti oleh mereka?"
"Tante ngomongnya banyak banget, Nara nggak paham," Ucap Kinara sambil membuang muka dari hadapan Siska.
"Mulai sekarang, Tante akan lebih tegas kepada Nara. Tante nggak mau, Nara menyesal dikemudian hari,"
Ucapan Siska sama sekali tidak main main kepada Kinara, karena Kinara telah dititipkan kepadanya sehingga Siska tidak mau jika nantinya akhlak Kinara menjadi buruk karena terbiasa membuat orang lain marah. Siska melakukan ini karena dirinya sangat menyayangi Kinara, meskipun dirinya tidak tega melihat Kinara yang ditegasi olehnya, akan tetapi dirinya melakukan ini demi Kinara.
Ana tidak mampu untuk melakukan itu, karena rasa sayangnya yang membutakan hatinya untuk mengajarkan mana yang benar dan salah kepada Kinara. Bahkan rasa sayangnya yang selalu memanjakan Kinara itu, membuat Kinara seakan akan bebas melakukan kesalahan karena Ana pasti akan membebaskannya begitu saja.
Siska berhak melakukan apapun, karena Ana telah mengizinkannya untuk mendidik Kinara. Jika Ana telat untuk mengambil keputusan, maka dirinya bisa menyesal dikemudian hari. Oleh karena itu dirinya juga memutuskan untuk bekerja, karena dirinya juga tidak akan tega bersikap tegas kepada Kinara, dan membiarkan Siska yang mendidiknya.
__ADS_1
Ana begitu percaya dengan Adik angkatnya itu, bahwa Adiknya bisa mendidik Kinara dengan baik. Sebelumnya, Siska tengah berbicara berdua bersama Ana, untuk menentukan masa depan Kinara akan seperti apa nantinya. Siska takut jika Kinara sampai membawa kebiasaan waktu kecilnya kepada masa depannya nanti, dan Ana akan semakin pusing untuk menghadapi Kinara.