
Susi menatap penuh kesedihan ketika melihat sahabatnya yang telah divonis hukuman mati, ia tidak ingin kehilangan sahabatnya itu. Akan tetapi, tiada hal yang bisa dirinya lakukan, bahkan dia sama sekali tidak memiliki bukti apapun untuk membela Nadhira.
"Aku akan memberitahu Om Rendi bahwa kau adalah anaknya, dia pasti akan membatalkan hukuman ini, Dhira."
Nadhira menggenggam erat tangan Susi, bukannya dirinya tidak ingin bahwa semua orang tau mengenai dirinya. Akan tetapi lebih tepatnya, tiada yang mempercayai akan hal itu, bahkan meskipun hal itu adalah kebenarannya.
"Itu hanyalah sia sia, Sus. Aku ini bukan anak Papa Rendi, dia bahkan sangat membenciku dan menginginkan diriku mati sejak dulu. Jika kau memberitahunya sekalipun, dia tidak akan pernah percaya karena yang mereka semua tau bahwa diriku ini sudah mati."
"Seharusnya aku tidak merahasiakan ini sejak awal, Dhira. Waktu itu aku sangat senang mendengar bahwa kau masih hidup, tapi kenapa kau menyuruhku untuk tutup mulut? Bahkan akan mengancam diriku. Seandainya itu tidak aku lakukan, semuanya tidak akan seperti ini,"
"Tidak, tidak seharusnya kau menyesali itu. Itu adalah keputusanku sendiri, kau hanya melakukan apa yang aku inginkan."
"Tapi Dhira,"
"Sus, boleh aku minta satu hal?"
"Apa itu? Katakan kepadaku, Dhira. Aku akan berusaha untuk melakukannya untukmu,"
"Beritahu semuanya kepada Kinara mengenai Ayahnya, aku tidak sanggup memberitahu itu kepadanya. Mungkin Kinara sekarang sedih karena tau Ibunya masuk penjara, apalagi tau hukuman yang akan aku terima. Beberapa kali dia kemari, dia sama sekali tidak mau menatap kedua mataku karena aku tau dia sedang menahan air matanya."
"Aku tau apa yang dirasakan oleh Kinara saat ini, terlalu berat untuk menerima sebuah kenyataan."
"Begitupun diriku, Sus. Jaga orang orang yang aku sayangi, hanya dirimu yang bisa aku percaya sekarang. Semua orang yang aku sayangi telah pergi meninggalkan diriku satu persatu,"
"Aku janji kepadamu, Dhira."
"Terima kasih."
*****
Didalam sel tahanan, Nadhira terlihat sangat memperihatinkan saat ini. Bahkan tahanan lain yang tengah membully-nya pun sama sekali tidak ia hiraukan, hatinya sangat hancur bahkan sama sekali tidak ada semangat dalam hidupnya karena Rifki masih belum sadarkan diri dari komanya.
Setiap harinya, ia selalu mendapatkan kabar yang tidak enak mengenai perkembangan Rifki yang semakin lama semakin turun. Nadhira bahkan sampai tidak nafsu untuk makan, dapat dilihat dari postur tubuhnya yang semakin kurus dan sama sekali tidak ada semangat didalam dirinya.
"Ana, ada yang ingin bertemu denganmu," Ucap seorang polisi cantik yang tengah berjaga disana.
"Siapa?" Tanya Nadhira dengan tatapan kosong akan tetapi masih merespon ucapan polisi tersebut.
"Ibu Sena," Jawabnya.
"Aku capek, aku tidak mau bertemu dengan siapapun. Katakan kepadanya, jangan pernah menemui diriku,"
"Baiklah."
Polisi tersebut langsung menyampaikan permintaan Nadhira bahwa dirinya tidak mau untuk diganggu oleh siapapun, akan tetapi Sena memaksa untuk masuk demi menemui Nadhira. Hingga wanita itu menyerobot masuk begitu saja, meskipun dia sudah ditahan oleh mereka.
Nadhira yang mendengar keributan itu pun hanya bisa menghela nafasnya, tak beberapa lama kemudian muncullah Sena didepannya. Keduanya sekarang saling berhadapan dan hanya dibatasi oleh pagar besi yang mengurung Nadhira saat ini, melihat itu langsung membuat Nadhira membuang muka dari hadapan Sena.
"Bukankah sudah aku katakan, kalau aku tidak mau bertemu dengan siapapun?" Tanya Nadhira kepada polisi cantik itu.
"Kenapa Dhira? Apa kau sudah merasa sangat frustasi?" Tanya Sena.
"Mau apa kau?"
"Hanya mengucapkan selamat untuk hukumanmu, beberapa hari lagi kau akan pergi dari dunia ini,"
Nadhira justru tertawa menanggapinya, "Haha... Aku tidak pernah menyesali hal itu, Sena. Karena aku akhirnya tau seberapa busuknya dirimu hingga mengorbankan nyawa anakmu sendiri, kau tau? Sebuas buasnya singa, mereka tidak akan memakan anaknya sendiri."
"Kau hanya menggertakku saja, tapi aku tidak peduli akan hal itu. Karena sebentar lagi kau akan mati, ucapkan selamat tinggal pada dunia."
__ADS_1
"Karma itu nyata. Tunggu saja, karmamu akan segera tiba. Bawa wanita ini pergi dari sini, aku tidak mau melihatnya ada disini,"
Polisi tersebut langsung memegangi tangan Sena, sementara Sena langsung menghadangnya begitu saja. Sena terlihat sangat kesal dengan ucapan Nadhira, dan dirinya pun menatap tajam kearah Nadhira.
"Aku bisa pergi sendiri!" Bentaknya dan langsung bergegas pergi dari tempat itu.
Nadhira hanya sekilas melihatnya, sebuah senyuman terbit diwajahnya yang menyedihkan. Bahkan dirinya sudah 2 hari ini tidak makan maupun minum, seakan akan hanya ada kekosongan yang tercipta diwajahnya.
*****
Terlihat dua orang yang tengah duduk berdampingan, keduanya menatap kearah sebuah danau yang sangat tenang. Seorang wanita tengah memegangi sebuah foto anak kecil, yang dimana anak itu terasa tidak asing baginya.
"Apa Tante sama sekali tidak mengingat apapun?" Tanya Sapta yang terlihat serius kepada wanita yang ada dihadapannya.
"Apa yang kau katakan itu benar? Kenapa aku tidak mengingat apapun soal itu?"
"Jika yang ku katakan salah, apa anda pernah mengingat masa kecil anda seperti apa? Apa itu juga anda lupakan?"
"Setiap aku mengingatnya, kepalaku rasanya seperti mau pecah saat itu juga."
"Bukannya aku memaksa Tante untuk mengingatnya, tapi disana Dhira sangat membutuhkan Tante."
"Apa yang terjadi dengan dia? Aku tidak mau menyesali apapun karena aku yang terlambat mengingat semuanya."
"Jika Tante tidak bisa mengingatnya, maka semuanya akan menjadi sia sia belaka. Ini adalah urusan nyawa, dan Tante harus menyelesaikan semuanya sebelum terlambat."
"Ingatan itu sudah bertahun tahun aku lupakan, mungkinkah aku hilang ingatan permanen?"
Sapta pun terdiam, memang benar bahwa ingatan dari Lia sudah puluhan tahun dirinya lupakan. Bagaimana bisa dirinya menyuruh seseorang untuk mengingat semuanya? Bahkan orang yang tidak hilang ingatan saja akan kesulitan untuk mengingat dalam jangka waktu selama itu, apalagi Lia yang telah hilang ingatan.
"Mungkin Tante bisa ingat sesuatu jika kita mendatangi sebuah tempat dimasa lalu Tante," Sepintas ide melintas didalam pikiran Sapta.
"Emang bisa?" Tanya Lia penasaran.
"Tidak ada salahnya untuk mencoba kan, Tan? Jangan sampai terlambat untuk menyelamatkan dia, kita tidak punya waktu lama untuk itu."
"Baiklah."
Lia meminta izin kepada suami barunya yang sudah menikah selama 14 tahun yang lalu, ia juga telah dikaruniai anak perempuan yang masih berusia 11 tahunan. Semakin hari rasanya dirinya ingin sekali mengetahui ingatannya dimasa lalu, perjuangan Sapta tiap harinya membuatnya berambisi untuk mengingat.
Suami Lia pun mengizinkan Lia untuk ikut bersama dengan Sapta, dan setelah itu Sapta membawanya pergi dari tempat itu menuju kesebuah tempat. Perjalanan pun dilakukan dengan waktu yang tidak singkat, lantaran tempat itu lumayan jauh dari kediaman Lia beserta suaminya.
Sapta membawa Lia ke sebuah tempat yang ada dimasa lalu Lia, itu adalah sebuah danau yang terletak tidak jauh dari rumah lama Nadhira beserta keluarganya yang saat ini ditempati oleh Bi Ira dan Pak Santo. Lia merasa tidak asing dengan tempat itu, karena disanalah terdapat memori memori terindah yang pernah dirinya lalui beserta Rendi dan kedua anaknya.
"Sepertinya tempat ini sangat familiar," Guman Lia sambil menatap sekelilingnya.
"Danau yang tenang, pemandangan yang indah, jauh dari keramaian, dan ini lah tempat Tante bersama keluarga dulu."
"Sama seperti didalam mimpiku, tapi aku tidak mengenal siapa anak itu. Bayangan itu terus menghantui pikiranku, tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas?"
"Mungkin anak itu adalah Nadhira, apa Tante benar benar melupakannya? Biar aku ceritakan sedikit tentang dirinya." Sapta pun mulai menceritakan sosok Nadhira kepada Lia.
Tiba tiba kepala Lia rasanya sangat pusing sekaligus terasa sangat berat, seperti tubuhnya tak lagi sanggup untuk menahannya. Lia berusaha keras untuk mengingat, hingga membuat kepalanya mengalami kontraksi hebat hingga membuatnya menjerit kesakitan.
"Tante kenapa?" Tanya Sapta khawatir.
"Aku tidak bisa mengingat apapun, meskipun sudah berusaha keras. Ketika aku mencoba untuk mengingatnya, kepalaku rasanya sangat sakit dan aku tidak bisa menahannya. Aku tidak bisa mengingatnya, aku melupakan semuanya," Ucap Lia sambil memegangi kepalanya dengan sangat eratnya.
Sapta pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, harus bagaimana lagi caranya untuk bisa membuat Lia mengingat semuanya. Lia mengalami hilang ingatan secara permanen, sehingga akan sulit untuk membuatnya ingat mengenai kejadian yang telah terjadi puluhan tahun yang lalu.
__ADS_1
Sapta tidak lagi dapat berpikir harus bagaimana untuk saat ini, dan dirinya juga tidak mau bahwa usahanya hanyalah sia sia belaka tanpa mendapatkan sebuah hasil yang dirinya ingin kan. Sudah banyak cara yang telah dirinya lakukan, akan tetapi tak satupun yang berhasil untuk membuat Lia kembali mengingat semuanya.
Tiba tiba muncul seseorang dihadapan keduanya, orang yang terasa sangat asing bagi keduanya. Bahkan Sapta sendiri tidak pernah bertemu dengan orang itu, penampilannya seperti orang sakti dengan berpakaian rapi dan menggunakan ikat kepala.
"Siapa anda?" Tanya Sapta.
"Hanya sekedar lewat, dan melihat kalian seperti tengah mengalami sebuah masalah jadi aku menghampiri kalian. Mungkin ada sesuatu yang bisa aku bantu?" Tanya lelaki itu kepada keduanya.
"Apa anda tau bagaimana cara untuk mengembalikan ingatan seseorang yang telah lama hilang?" Tanya Sapta.
"Itu sangat sulit. Tapi ada satu cara untuk bisa mengembalikan ingatannya, siapa yang hilang ingatan?"
"Orang yang ada disebelahku, cara apa yang bisa aku lakukan?"
Orang tersebut pun memperhatikan Lia dengan seksama, Lia pun merasa sangat risih ketika diperhatikan seperti itu oleh orang yang ada didepannya saat ini. Pria itu pun tersenyum kepada Lia, hingga membuat Lia merasa curiga dengan senyuman itu.
"Ada seseorang yang telah menaruh sebuah mantra kepadamu untuk membuatmu sulit mengingatnya, bahkan dalam jangka waktu puluhan tahun pun tidak akan membuatmu ingat dengan mudah. Sepertinya orang itu tidak menginginkan dirimu untuk mengingatnya," Ucapnya setelah memperhatikan Lia dengan seksama.
"Maksud anda?" Tanya Sapta yang berusaha untuk mencerna perkataan dari lelaki itu.
"Aku bisa membantu dia mengingat semuanya, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Kalian harus mencari sebuah tanaman yang aku minta, dan kalian harus dapatkan sebelum matahari terbenam nanti."
"Aku akan mencarinya sampai dapat, lalu kemana aku harus mencari tanaman yang dibutuhkan itu?"
"Ada di desa Mawar Merah. Hanya ada satu tamanan yang dijaga dengan ketat, tanaman itu mampu melunturkan ilmu hitam sehingga tanaman itu tidak bisa sembarang untuk diambil. Aku tunggu kalian disini, pergilah."
"Baik."
Sapta pun mengajak Lia untuk pergi dari sana, keduanya langsung bergegas menuju ke desa Mawar Merah yang telah dikatakan oleh pria yang baru saja mereka temui itu. Melihat kepergian dari keduanya, pria itu pun tersenyum dengan cerahnya.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan, di desa Mawar Merah kau akan mengingat semuanya. Kau adalah pewarisnya, keturunan Nyi Ratih. Disana kau akan bertemu dengan mahluk yang akan membimbingmu,"
Tubuh pria itu perlahan lahan mulai memudar, dia bukanlah manusia akan tetapi menggunakan kemampuannya untuk bisa terlihat didepan keduanya. Pria itu menghilang dalam sekejap mata, bahkan tidak ada yang tau kemana dia pergi saat ini.
*****
Nadhira terbaring diatas tikar yang sangat tipis, dirinya memeluk tubuhnya dengan sangat erat lantaran dinginnya sel tahanan itu ketika malam hari. Bahkan di pelipisnya terlihat memar yang telah membiru lantaran tahanan lain yang telah membullynya, bahkan Nadhira sama sekali tidak melawan mereka sedikitpun itu.
"Rifki... Jangan pergi, Rifki bangun. Kamu harus kuat sayang, Rifki harus sembuh." Terdengar suara lirih Nadhira.
Tubuh Nadhira terasa sangat panas, dirinya mengalami demam karena kondisinya yang semakin menurun. Hingga hal itu membuatnya mengigau, ia benar benar takut untuk kehilangan Rifki yang paling dicintainya itu.
Wajah Nadhira nampak begitu pucat, bahkan seperti tidak ada darah yang mengalir disana. Keadaannya benar benar kacau, Nadhira terus saja menolak untuk makan maupun minum karena belum ada kabar apapun mengenai kondisi Rifki yang membahagiakan untuknya. Nadhira lelah mendengar perkembangan Rifki yang terus menurun, dan itulah yang membuatnya tidak nafsu lagi untuk hidup.
"Sepertinya tahanan itu sakit, sebaiknya kita bawa untuk diobati."
"Kau benar, baiklah."
Beberapa penjaga ditempat itu pun masuk kedalam sel tahanan Nadhira, dan mencoba untuk memeriksanya. Tubuhnya terasa sangat panas, bahkan kesadarannya sangat menipis hingga membuat mereka langsung mengangkat tubuh Nadhira dan membawanya pergi dari tempat itu.
Mereka membawanya ke sebuah ruangan medis yang ada disana, dan segera memasang sebuah infus ditangan Nadhira. Nadhira yang merasakan perih pun mengernyitkan dahinya, rasa itu langsung diiringi dengan dinginnya cairan yang masuk kedalam tubuhnya melalui jarum infus yang ada ditangannya itu.
Beberapa saat kemudian, wajah Nadhira terlihat tenang daripada sebelumnya. Rasa menggigil yang dirinya rasakan sebelumnya pun terasa berkurang, sehingga Nadhira bisa tidur dengan nyenyaknya. Nadhira menginginkan Rifki sembuh, akan tetapi dirinya tidak memikirkan kondisinya yang semakin menurun juga.
Nadhira membuka kedua matanya, dirinya pun menatap kearah tangan kirinya yang sudah terpasang sebuah infus. Nadhira melihat adanya dua polisi yang tengah berdiri tidak jauh darinya, agar Nadhira tidak bisa kabur dari tempat itu.
__ADS_1
"Kenapa aku disembuhkan jika pada akhirnya dihukum mati," Ucap Nadhira dengan sebuah senyuman sambil menatap kearah infusan yang ada ditangannya.