Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Melepas kerinduan


__ADS_3

Mendengar rintihan kesakitan dari Hendra membuat Nadhira merasa sangat puas, bahkan dirinya lebih kejam daripada hewan buas sekalipun. Terus berteriak meminta Nadhira menghentikan hal itu karena itu sangat menyakitkan baginya, akan tetapi Nadhira sama sekali tidak mendengarkan permintaannya itu.


Sayatan demi sayatan dilakukan oleh Nadhira, bahkan dirinya seakan akan begitu menikmati hal itu. Mungkinkah hal ini sudah menjadi candu baginya, bahkan di saat membunuh banyak orang pun dirinya sama sekali tidak merasa bersalah.


Darah milik Hendra pun mengalir dengan derasnya, dirinya pun merasa sangat tersiksa karena Nadhira yang terus menyayatkan pedang tersebut di dadanya. Hendra pun terlihat tak berdaya saat ini, bagan kedua matanya ingin sekali terpejam.


"Nona Muda, tolong lepaskan saya," Ucap Hendra lirih sambil terus memohon kepada Nadhira.


Nadhira seakan akan tidak peduli dengan orang itu, tapi di dalam hatinya dirinya menanggung sebuah rasa kecewa yang sangat mendalam. Dirinya sama sekali tidak menyangka kalau orang yang ada didepannya telah berkhianat kepadanya, orang yang selama ini begitu setia telah berubah menjadi orang yang berpenghianat.


"Apa kurangnya selama ini Rifki dalam memperlakukanmu? Kenapa kau tega ingin melenyapkan dia? Kesalahan apa yang telah membuatmu ingin sekali menghabisinya?" Tanya Nadhira.


"Mohon maafkan aku Nona Muda, ambisi itu telah membutakan diriku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tolong beri aku kesempatan untuk satu kali hidup,"


"Aku telah memaafkanmu Hendra,"


"Terima kasih Nona Muda, terima kasih Nona Muda,"


Hendra merasa sangat senang ketika mendapatkan maaf dari Nadhira, dirinya juga merasa lolos saat ini dari maut yang ada di depannya. Wanita itu terlihat sangat menakutkan saat ini, bahkan tatapannya seakan akan mengintimidasi seseorang hingga membuat orang tersebut merinding ketakutan.


"Tapi bukan berarti kamu akan lolos dari hukuman yang akan aku berikan kepadamu. Aku paling benci dengan orang yang berkhianat sepertimu,"


Deg


Jawaban itu langsung seketika membuat jantung Hendra berhenti berdetak, Nadhira memang memaafkannya tapi bukan berarti melepaskannya begitu saja. Siapapun yang berurusan dengannya harus mati di tangannya, oleh karena itu dia memang memaafkan bukan berarti menyelamatkan nyawanya.


"Kau bilang aku lemah kan? Kenapa sekarang kau memohon kepadaku? Kenapa kau tidak melawanku saat ini? Tunjukkan bahwa dirimu itu kuat, sekuat apa dirimu hingga kau berani melawanku? Kau hanya mengetahui beberapa sikapku tapi tidak dengan semua sikapku," Tanya Nadhira.


"Nona Muda, aku mohon. Tolong lepaskan saya,"


"Aku akan melepaskanmu, tapi setelah kau mati."


Jawaban itu langsung membuat Hendra terlihat sangat lemah saat ini, Nadhira bagaikan malaikat maut yang tanpa ampun mencabut nyawa orang lain. Bahkan dirinya sama sekali tidak mendengarkan rintihan kesakitan yang dialami oleh Hendra beserta anak buahnya sejak tadi.


Darahnya yang terus mengucur keluar, membuat lelaki itu terlihat sangat lemas saat ini. Bahkan untuk menggerakkan jari jarinya saja dirinya tidak mampu untuk melakukan itu karena rasa sakit yang tengah dirinya rasakan itu. Dirinya merasa bahwa seluruh dagingnya itu tengah dikuliti oleh Nadhira, bahkan dirinya merasa bahwa seluruh anggota tubuhnya terasa sangat sakit saat ini.


Jika tidak segera mendapatkan pertolongan, mungkin lelaki itu akan mati dengan perlahan lahan. Jika dirinya sampai kehabisan darah, maka otomatis ajal akan segera menjemputnya cepat atau lambat. Bahkan saat ini, lelaki itu terlihat sangat kesulitan untuk bernafas, karena tidak ada asupan oksigen yang cukup untuk dirinya.


"Kau tidak akan selamat lagi, Hendra. Selama ini aku menghormatimu karena kau lebih tua dan juga orang kepercayaan dari Kakek Arya, tapi tindakkanmu saat ini benar benar membuatku kecewa. Bahkan diriku sama sekali tidak memiliki rasa kasihan terhadap dirimu, dan kau tidak akan mati dengan mudah, kau harus tersiksa terlebih dulu sebelum kau bertemu dengan ajalmu."


"Nona Muda, tolong saya. Saya masih ingin hidup," Ucap Hendra lirih dengan beberapa kali meneteskan air mata yang dipenuhi dengan penyesalan.


Hal itu tidak akan mudah untuk membuat Nadhira bersimpati kepadanya, sehingga wanita itu akan melepaskan lelaki tersebut. Justru Nadhira malah mengabaikannya begitu saja, dirinya tidak peduli bahwa Hendra akan menandainya sebagai wanita yang sangat kejam.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan sebelumnya? Kau mengatakan bahwa aku dan suamiku tidak akan selamat bukan? Karena kau hanya tau luka yang aku miliki tapi bukan tekadku. Sudah ku katakan sebelumnya, aku hidup kembali untuk membantai orang orang seperti kalian,"


"Tuan Muda! Tolong sadarlah, selamatkan saya!" Teriak Hendra yang meminta kepada Rifki yang sedang tidak sadarkan diri, hal itu membuat Nadhira tertawa menyaksikan ketakutan dari Hendra.


Bukankah Rifki tidak sadarkan diri karena ulahnya sebelumnya? Lantas mengapa saat ini dirinya berteriak untuk meminta bantuan kepada Rifki, yang bahkan lelaki itu masih memejamkan matanya karena efek obat bius yang diberikan mereka kepada Rifki. Justru dirinya yang kalang kabut saat ini, entah kepada siapa lagi dirinya akan meminta bantuan, karena tak ada seorangpun yang bisa membantunya saat ini dari wanita yang menyeramkan itu.


"Suruh dia bangun dan menghentikan diriku," Ucap Nadhira memerintahkan kepada Hendra dengan tatapan yang sangat tajam.


Jikalaupun Rifki terbangun dari efek obat bius, Rifki tidak akan bisa menghentikan apa yang dilakukan oleh istrinya itu. Justru Rifki sendiri yang akan turun tangan untuk membunuh lelaki itu, karena dirinya sendiri tidak ingin melihat Nadhira bersimbah darah hanya untuk menghabisi orang orang yang ingin mencelakakan dirinya itu.


Karena efek obat bius itu cukup kuat, membuat Rifki tidak mampu untuk membuka kedua matanya. Menurut Hendra, hanya Rifki saja yang mampu untuk menghentikan aksi dari Nadhira saat ini, akan tetapi Rifki sendiri saja masih berada dibawah alam sadarnya. Lantas bagaimana dirinya bisa meminta bantuan dari Rifki? Hanyalah hal yang sia sia meskipun Rifki terbangun sekalipun itu.


"Nona Muda! Tolong jangan lakukan itu,"


"Kau tau, melakukan ini kepada seorang penghianat sepertimu itu sangat menyenangkan," Nadhira pun kembali menyayatkan pedangnya didada lelaki itu.


"Argghhhhhhh..... Nona Muda! Tolong maafkan saya!" Teriak Hendra dengan pilunya..


"Shutttt... Jangan berteriak, kau bisa menganggu tidur Rifki dengan nyenyak nanti. Aku tidak mau karena kau sampai membuat dirinya merasa terganggu," Ucap Nadhira sambil menaruh ujung jarinya didepan mulutnya.


Benar benar diluar nalar, Nadhira berubah menjadi seorang psikopat saat ini. Bahkan dirinya sama sekali tidak mempedulikan teriakan Hendra yang kesakitan itu, lelaki yang berusia 60 tahunan itu nampak begitu pasrah saat ini, jikapun dia memohon itu pun akan diabaikan oleh Nadhira. Karena Nadhira tidak akan menerima permohonannya, dia tidak menyangka bahwa hidupnya akan berakhir ditangan Nona Muda yang selalu dirinya hormati selama ini.


Karena ambisinya yang ingin mendapatkan kekayaan yang dimiliki oleh Rifki itu pun membuatnya buta akan harta. Apalagi ketika Hendra mengetahui bahwa Rifki memiliki sebuah keris pusaka xingsi, dirinya berpikir bahwa kekayaan yang dimiliki oleh Rifki berasal dari kekuatan dari keris pusaka xingsi.


"Dosaku begitu banyak, Sayang. Maafkan aku Rif, maafkan aku, maafkan diriku yang penuh dengan dosa ini. Aku istri yang durhaka kepada suaminya, maafkan aku, Rif. Aku begitu jahat kepada kalian," Ucap Nadhira pelan sambil menatap ke arah Rifki yang terbaring tidak sadarkan diri.


Nadhira lalu mendekat ke arah Rifki, dirinya pun menatap lekat lekat ke wajah suaminya itu. Wajah yang teramat sangat dirinya rindukan saat ini, ia pun memegangi pipi Rifki dan mengusapnya dengan perlahan lahan. Setetes air mata pun mengalir dipelupuk matanya, orang yang amat dirinya cintai kini berada dihadapannya.


"Rifki, aku tidak menyangka bahwa aku bisa bertemu denganmu lagi sekarang ini, Sayang. Apakah perasaanmu kepadaku tetap sama? Aku sangat merindukan dirimu Rif, maafkan aku. Maafkan aku karena meninggalkan dirimu seperti ini, kamu harus tau bahwa aku melakukan ini demi anak kita. Dia masih kecil, belum mengerti apapun tentang kita berdua,"


Nadhira lalu melepaskan ikatan yang ada ditubuh Rifki, karena tali itu sulit untuk dibuka akhinya Nadhira menggunakan pedangnya lagi untuk memotong tali tersebut. Setelahnya, Nadhira lalu membuang pedang tersebut kesembarangan arah, sementara dirinya lalu memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya.


Nadhira begitu sangat merindukan Rifki saat ini, hingga membuatnya menitihkan air matanya sambil memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya. Nadhira pun menangis ketika memeluk tubuh Rifki yang sedang tidak sadarkan itu, dirinya begitu sangat merindukan sosok yang ada di dalam pelukannya itu.


Nadhira menempelkan wajahnya dileher Rifki, dirinya pun terisak lirih karena sangking merindukannya. Nadhira terlihat sedang sesenggukan saat ini, akan tetapi Rifki sama sekali tidak mendengarnya karena dirinya berada dibawah obat bius hingga membuatnya tidak sadarkan diri.


"Aku mencintaimu Rif, aku tidak akan membiarkan siapapun yang ingin menyakitimu. Siapapun yang ingin menyelesaikan mereka harus berakhir saat itu juga, aku di sini Rif dan akan selalu mencintaimu. Anak kita sudah besar, namanya adalah Kinara, wajahnya sangat mirip denganmu, bahkan sikapnya tidak jauh beda denganmu. Mulai sekarang aku akan selalu ada di sampingmu untuk melindungimu, bukan sebagai istrimu tapi sebagai orang yang ada di dekatmu. Ana uhibbuka fillah zawji, hatiku hanya untukmu,"


Nadhira lalu mencium pipi Rifki dengan begitu sangat lama, dirinya sangat merindukan lelaki itu. Bahkan ia tidak mampu menahan air matanya saat ini, kerinduan yang teramat sangat mendalam kini pun akhirnya bertemu, meskipun Rifki masih tidak sadarkan diri saat ini.


Jedhuarr...


Tiba tiba sebuah sambaran petir muncul di langit malam ini, Nadhira mengetahui bahwa akan terjadi hujan yang sangat lebat saat ini. Nadhira lalu menautkan tangan kanan Rifki dilehernya, dan berniat untuk membawa lelaki itu pergi dari tempat tersebut sebelum keduanya kehujanan.

__ADS_1


Nadhira pun membawanya ke sebuah goa yang berada tidak jauh dari tempat itu, gua itu adalah sebuah gua di mana Haris dan Aryabima dahulu membawanya ke sana. Gua itu berada di sebelah goa yang pernah digunakan oleh Pangeran Kian untuk menyembunyikan keris pusaka xingsi sebelumnya.


Bukan tanpa alasan Nadhira membawanya ke tempat itu, jika sampai Rifki tahu siapa yang membawanya dia akan merasa curiga. Karena tidak ada yang bisa masuk ke dalam goa itu kecuali keturunan dari Pangeran Kian, akan tetapi Nadhira saat ini bisa masuk ke dalam goa itu karena di dalam tubuhnya pernah dialiri oleh energi permata iblis.


Energi permata iblis bukanlah energi yang jahat, kenapa dinamakan permata iblis? Karena permata itu membawa sebuah bencana yang jika digunakan dengan sembarangan. Oleh karena itu permata tersebut diberi nama permata iblis, karena yang memegangnya akan selalu dalam bahaya.


Nadhira lalu membawa Rifki yang tidak sadarkan diri itu menuju ke sebuah gua itu, dia tidak mau bahwa ketika Rifki sadar Rifki tahu bahwa dirinya lah yang membawanya ke sana. Kalaupun Rifki belum sadar pun anggota Gengcobra tidak bisa menemukannya, karena mereka semua tidak bisa masuk ke dalam goa itu.


Oleh sebabnya, Nadhira membawa Rifki ke sebuah gua yang berada di dekat goa milik Pangeran Kian. Dengan perlahan lahan dan hati hati Nadhira membaringkan tubuh Rifki di atas sebuah batu yang cukup besar, batu itu pernah digunakan oleh Nadhira tidur ketika Nadhira terluka waktu itu.


"Jika suatu hari kau akan membenciku karena ini, aku terima semuanya dengan ikhlas, Rif. Ini semua adalah salahku karena telah memisahkan seorang anak dari Ayahnya, maafkan aku, aku harus melakukan ini untuk tidak membahayakan nyawa Kinara. Aku tidak mau kehilangan seorang anak lagi, itu sangat menyakitkan bagiku, Rif. Apa gunanya aku hidup jika aku membiarkan anak anakku meregangkan nyawanya, aku tidak mau itu terjadi lagi sama Kinara,"


Nadhira belum puas untuk terus memandangi wajah Rifki, sehingga dirinya terus memandangi wajah itu dengan sangat lekat sebagai pengobat kerinduan yang sangat mendalam baginya. Sudah 11 tahun lamanya dia tidak pernah melihat wajah itu, dia pun begitu merasa sedih ketika melihat tubuh Rifki yang agak kurusan.


Bahkan di saat Nadhira memeluknya pun, Nadhira merasa ada yang beda dari tubuh lelaki itu. Ia tidak tahu apa saja yang dialami oleh Rifki selama ini, sehingga membuat lelaki itu terlihat sangat kurus daripada sebelumnya.


Aroma tubuh Rifki yang telah menjadi candu baginya pun tercium begitu jelas, aroma itu membuatnya merasa sangat tenang. Nadhira pun menyentuh kelopak mata indah milik Rifki, kedua mata itu akan semakin terlihat indah ketika dibuka, akan tetapi saat ini mata tersebut tertutup dengan eratnya.


"Oma Sarah, Kakek Aryabima, Anak laki laki kita, Theo, beberapa anggota Gengcobra, dan beberapa anggota Gengters. Orang orang yang kita sayang, perlahan lahan pergi meninggalkan kita, hanya karena melindungi kita, Rif. Mereka mengorbankan nyawanya hanya demi kita, kehilangan orang yang disayang begitu berat, aku ngak mau kehilanganmu juga, Rif. Kinara masih kecil, aku ngak mau dia kenapa kenapa hanya karena keegoisan kita, ketika dia besar nanti kita akan bertemu kembali. Bersabarlah sayang, aku tau diriku ini terlihat sangat egois, tapi apa yang aku lakukan itu untuk kalian,"


Tak beberapa lama kemudian hujan pun benar benar turun, hujan itu begitu lebat hingga membuat udara di dalam gua itu sangat dingin. Nadhira pun lalu mengumpulkan batang kayu yang ada di dalam gua menjadi satu, dirinya teringat bahwa Haris pernah menaruh sebuah korek api di dalam gua itu.


Nadhira lalu mencari korek api tersebut, karena sebelumnya gua itu digunakan oleh Harris dan Aryabima untuk bersembunyi. Nadhira pun langsung menyalakan korek api tersebut, Hingga membuat goa itu terlihat terang saat ini.


Dirinya tidak tahu bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi, setelah menyalakan api itu dia langsung bergegas keluar dari dalam goa itu untuk membersihkan tubuhnya yang bersimbah darah. Nadhira pun langsung mandi hujan di saat itu juga, karena sebelumnya dirinya telah sampai di tempat itu terlebih dulu sehingga pakaiannya sudah ada di tempat itu.


Setelah dirasa pakaian putihnya telah bersih dari noda darah Nadhira pun kembali masuk ke dalam goa itu, dirinya pun langsung berganti pakaian menjadi pakaian hitam dengan memakai sebuah cadar. Dia duduk di dekat Rifki yang sedang tidak sadarkan diri, efek obat bius tersebut cukup kuat sehingga sampai sekarang Rifki masih belum sadarkan diri jua.


"Sayang, aku sangat merindukanmu, sekarang dirimu sudah aman bersamaku. Aku tidak akan membiarkan siapapun mencelakaimu, sayang kau harus baik-baik saja ya. Kau tahu di saat aku mengetahui bahwa dirimu sudah memiliki istri baru rasanya sangat sakit, Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan Kinara nantinya, tapi nyatanya pikiranku itu salah kau justru tetap setia menantiku untuk datang."


Nadhira pun mengusap kepala Rifki dengan pelan sambil sesekali mendekatkan wajahnya ke wajah Rifki, dia sangat merindukan lelaki itu selama ini. Setetes air mata pun keluar dari ujung mata Rifki, mungkinkah Rifki merasakan kehadiran Nadhira disampingnya saat ini. Sehingga di saat dia tidak sadarkan diri pun dia meneteskan air matanya, keduanya saling merindukan satu sama lain akan tetapi keduanya tidak bisa bersama.


Nadhira pun menjatuhkan pelukannya kembali di tubuh Rifki, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Rifki. Kenyamanan yang selama ini tidak pernah ia rasakan kini pun mampu ia rasakan, saat itulah posisi yang sangat nyaman bagi Nadhira. Di mana dirinya bisa bersandar di dada bidang suaminya dengan nyaman, meskipun Rifki masih tidak sadarkan diri.


"Aku merindukanmu, Rif. Merindukan wajahmu, merindukan canda tawamu, merindukan gombalanmu, semua tentangmu aku sangat merindukannya. Maafkan aku suamiku, aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu, aku tidak berani untuk bertemu denganmu. Aku begitu mengecewakan dirimu selama ini, maafkan aku, dosaku begitu besar kepadamu,"


Nadhira pun terisak tangis ketika menyandarkan kepalanya didada bidang suaminya itu, rasanya sangat nyaman dan inilah yang sangat dirinya rindukan selama ini. Tiba tiba anggota tubuhnya terasa perih, akibat dari luka sayatan yang dirinya terima sebelumnya itu.


"Akh... Sebaiknya aku cari daun obat agar tidak infeksi. Kamu tunggu di sini ya sayang, aku akan segera kembali setelah membawa bahan bahan obat untuk lukaku. Kamu tidak akan sendiri, aku akan selalu menjagamu meskipun kau tidak akan mengenaliku,"


Sangat berat untuk meninggalkan Rifki ditempat itu, meskipun hanya sebentar saja. Karena rasa rindunya yang teramat mendalam membuatnya sangat sulit untuk meninggalkan Rifki ditempat itu, dirinya masih belum puas untuk memandangi wajah suami tercintanya itu.


Nadhira lalu bangkit, dirinya bergegas untuk keluar dari goa itu, untuk mencari sebuah tanaman yang bisa dirinya gunakan untuk meringankan rasa sakit yang dirinya rasakan saat ini. Didepan goa itu, sudah ada beberapa tanaman obat yang sengaja ditanam oleh Aryabima sebelumnya, dan hal itu memudahkan Nadhira untuk mencari tanaman obat.

__ADS_1


__ADS_2