Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Nadhira siuman


__ADS_3

Pergerakan jari yang dilakukan oleh Nadhira membuat Rifki merasa sangat bahagia itu karena Nadhira mau meresponnya, dihari ulang tahunnya Nadhira memberikan sebuah kejutan kepadanya, melihat itu membuat Rifki meneteskan air mata kebahagiaan.


"Kau mendengarkan suaraku Dhira? Dihari ulang tahunku, kau begitu baik kepadaku Dhira, Nadhira kau adalah wanita yang hebat dalam hidupku, kau harus bangun Dhira, sampai kapan kau akan tertidur? Apa kau tidak rindu dengan latihanmu? Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu Dhira"


Entah Nadhira mendengarnya atau tidak, akan tetapi air mata Nadhira mengalir dari sudut matanya, ia pun beberapa kali menggerakkan jari telunjuknya dengan sangat pelan seakan akan ia paham dengan apa yanh dikatakan oleh Rifki saat ini.


Rifki segera memencet sebuah tombol yang tidak jauh dari dirinya untuk memanggil perawat agar memeriksa Nadhira, karena Nadhira telah memberikan sebuah respon untuknya.


"Dokter akan datang untuk memeriksamu".


Tak beberapa lama kemudian beberapa Suster dan seorang Dokter pun masuk kedalam ruangan dimana Nadhira dirawat, Rifki segera bangkit dari duduknya setelah mengetahui kedatangan mereka.


"Dok, jarinya tadi bergerak, apakah Nadhira sebentar lagi akan sadar? Tadi saya melihatnya sendiri Dok" Ucap Rifki.


"Tolong silahkan tunggu diluar Mas, kami akan segera memerikanya" Ucap Dokter tersebut menyuruh Rifki untuk keluar.


"Baik Dok".


Rifki pun keluar dari ruangan tersebut, ia pun mondar mandir didepan pintu ruang rawat Nadhira untuk menunggu hasil dari pemeriksaan itu, sementara didalam ruangan itu Dokter tengah memeriksa denyut nadi Nadhira dan juga memeriksa detak jantung Nadhira yang perlahan lahan mulai kembali normal.


"Sus tolong ambilkan obat" Ucap Dokter tersebut.


"Baik Dok".


Suster tersebut segera memberikan sebuah obat cair kepada Dokter itu, Dokter itu segera menerimanya dan memasukkannya kedalam sebuah suntikan yang dibawa oleh Suster sebelumnya, setelah itu ia menyuntikkannya kepada selang infus yang ada ditangan Nadhira.


Dengan perlahan lahan, Dokter itu memasukkan obat kedalam tubuh Nadhira, Nadhira yang merasakan perih ditangannya itu pun langsung mengernyitkan dahinya, melihat reaksi Nadhira membuat Dokter dan beberapa Suster itu merasa sangat senang.


Nadhira yang sudah setengah sadar itu terkejut ketika merasakan sesuatu yang perih ditangannya hingga membuatnya mengernyitkan dahinya karena rasa perih tersebut.


"Dok, pasien sudah sadar"


"Sungguh keajaiban dari Allah SWT, Alhamdulillah dia sudah melewati masa komanya"


"Mbak, Mbak sadar Mbak" Ucap Suster itu sambil menepuk pelan pipi Nadhira.


Nadhira merasa begitu bising ditempat itu, ada yang penepuk pipinya dengan pelan, memijit kakinya dan juga memberi sesuatu dihidung Nadhira, mereka berusaha untuk membuat Nadhira siuman akan tetapi rasanya Nadhira seperti sangat sulit untuk membuka kedua matanya itu.


Dokter itu pun lebih mempercepat laju cairan yang mengarah ditangan Nadhira itu, Nadhira terlihat mengambil nafas dan mengeluarkannya dengan sangat cepat, wajah yang tadinya sangat pucat itu perlahan lahan mulai terlihat segar.


"Mbak, Mbak dengar suara saya kan? Mbak sadar Mbak, Mbak pasti bisa".


Terdengar suara Suster yang terus menyemangati Nadhira agar Nadhira dapat membuka kedua matanya, dengan samar samar Nadhira mendengar panggilan tersebut akan tetapi pandangannya masih terlihat begitu gelap.


"Rifki" Ucap Nadhira begitu pelannya dan hanya dapat dilihat pergerakan bibirnya saja.


"Mbak, Mbak dengar suara saya kan?".


Dengan perlahan lahan Nadhira mulai membuka kedua matanya, pandangannya begitu buram dan tidak dapat melihat dengan jelas, suara Suster tersebut membuat Nadhira mencoba untuk mengedip kedipkan matanya dengan pelahan lahan atar pandangan kembali normal.


Sekilas Nadhira melihat begitu banyak orang yang sedang mengelilinginya saat ini, dan mereka berusaha untuk membuat Nadhira siuman, ketika Nadhira sudah mampi membuka sedikit lebar kedua matanya itu membuat mereka semua langsung tersenyum kearahnya.


"Alhamdulillah, pasien sadar".


"Dimana saya Sus?" Tanya Nadhira dengan suara lirih dan sedikit hilang.


"Anda sedang dirumah sakit Mbak" Jawab Suster tersebut yang mengerti ucapan Nadhira.


Nadhira hanya mengedipkan matanya mendengar jawaban dari Suster tersebut, kondisinya begitu lemah saat ini sehingga membuatnya hanya bisa membuka menutup kedua matanya saja, setelah selesai memeriksa kondisi Nadhira Dokter itu menyuruh Nadhira untuk kembali beristirahat.


"Segala puji bagi Allah, pasien sadar Sus" Ucap Dokter tersebut merasa sangat senang karena pasiennya mampu siuman dari kondisi komanya.


"Iya Dok, Alhamdulillah" Suster tersebut juga merasa senang karena usaha mereka membuahkan hasil.


"Apa masih ada rasa yang dikeluhkan Mbak?" Tanya Dokter tersebut kepada Nadhira.


Nadhira hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya pelan, entah mengapa dirinya masih merasa begitu lemah saat ini dan bahkan untuk berbicara saja dia tidak mampu untuk melakukan itu.


Nadhira merasa seluruh tubuhnya seakan akan tengah mati rasa, meskipun Nadhira sudah sadarkan diri akan tetapi dia tidak mampu untuk menggerakkan tubuhnya dengan benar, Nadhira merasa gatal ketika adanya selang oksigen dihidungnya akan tetapi dia tidak bisa menggaruknya.

__ADS_1


"Dimana Rifki?" Ucap Nadhira lirih bahkan sampai tidak mampu untuk didengarkan oleh Suster itu meskipun dia sudah mendekatkan telinganya kepada bibir Nadhira.


"Mbak mau mengatakan apa?" Tanya Suster itu.


Melihat Suster tersebut tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Nadhira membuat Nadhira hanya menggelengkan kepalanya, terlalu sakit jika dipaksakan untuk saat ini sehingga Nadhira memilih untuk menggelengkan kepalanya.


"Mbak istirahat dulu ya, Mbak harus banyak istirahat setelah ini" Ucap Dokter tersebut yang sedikit mendekat kearah Nadhira dan hanya dibalas anggukan pelan oleh Nadhira.


Suster tersebut segera melepas beberapa alat yang ada didalam tubuh Nadhira karena Nadhira sudah sadarkan diri saat ini, sementara Nadhira sendiri lebih memilih untuk memejamkan kedua matanya karena kondisinya yang masih lemah untuk saat ini.


Dokter dan para Suster tersebut segera bergegas pergi dari ruang rawat Nadhira, sementara diluar ruangan itu Rifki semakin gelisah dengan kondisi Nadhira saat ini, setelah sekian lama menunggu akhirnya para Perawat dan Dokter itu pun keluar dari kamar rawat Nadhira.


"Bagaimana kondisi Nadhira Dok?" Tanya Rifki.


"Segala puji bagi Allah, Alhamdulillah, pasien sudah sadar, ini sebuah keajaiban dari Allah".


"Alhamdulillah Ya Allah, Nadhira sudah sadarkan diri, apa saya boleh melihatnya?" Ucap Rifki dengan air mata kebahagiaan setelah mendengar bahwa Nadhira telah siuman.


"Silahkan Mas, tapi usahakan jangan membuat dirinya tertekan untuk sementara waktu ini sampai kondisinya benar benar membaik, kondisinya masih lemah saat ini Mas".


"Baik Dok".


"Baiklah, kami permisi".


Dokter tersebut segera meninggalkan Rifki, Rifki lalu mengeluarkan ponselnya dan memencet nomor Bi Ira, ia pun memberitahukan bahwa Nadhira sudah siuman agar Bi Ira tidak terlalu kepikiran dengan kondisi Nadhira saat ini.


Setelah selesai memberitahukan hal ini kepada Bi Ira, Rifki segera masuk kedalam ruang rawat Nadhira, ia pun segera duduk disamping Nadhira, Nadhira yang merasakan kedatangan seseorang segera membuka kedua matanya untuk melihat siapa yang masuk.


"Rifki" Ucap Nadhira serak basah karena baru saja siuman dari tidur panjangnya dan dia sudah berhasil untuk memunculkan suaranya.


"Dhira, kau sudah sadar, sudah lama aku menunggu dirimu sadar Dhira, mendengamu memanggil namaku aku merasa sangat bahagia Dhira, Allah masih memberikan kita kesempatan untuk bersama" Ucap Rifki sambil memegangi tangan Nadhira dengan erat.


"Kenapa kau jadi kurusan seperti ini?" Tanya Nadhira ketika melihat Rifki sedikit kurus.


Bagaimana tidak kurus, selama Nadhira tidak sadarkan diri nafsu makan Rifki berkurang drastis bahkan sehari pun kadang makan cuma sedikit, dan Rifki menghabiskan waktunya hanya untuk duduk disamping Nadhira sepanjang hari.


"Aku pikir, aku tidak akan pernah melihatmu lagi Dhira, aku takut terjadi sesuatu dengan dirimu, aku sangat takut Dhira".


Rifki pun menaruh kepalanya disamping Nadhira dan memegangi tangan Nadhira dengan sangat eratnya, melihat Nadhira sudah siuman membuatnya merasa sangat lega, Rifki pun mengusap pelan punggung tangan Nadhira.


Kebahagiaan yang ia nanti nantikan selama ini kini sudah kembali, melihat Nadhira mampu berbicara kepadanya saja itu sudah cukup bagi Rifki, ia tak henti hentinya terus mengucap syukur atas terbangunnya Nadhira dari komanya.


"Jangan tinggalkan aku lagi Dhira".


"Berapa hari aku tidak sadarkan diri Rif?".


"Sudah sebulan penuh Dhira, kau membuatku sangat sangat hancur Dhira, melihatmu siuman membuat diriku merasa sangat bahagia".


"Maafkan aku Rif, aku tidak menyangka bahwa aku masih diizinkan untuk melihat wajahmu lagi Rif, ternyata takdirku belum benar benar selesai, apa yang terjadi setelah hari itu?".


"Lupakan saja tentang hari itu Dhira, aku tidak ingin mengingatnya lagi, hari itu sangat membuatku hancur Dhira, dan aku tidak mau membicarakannya lagi mengenai hari itu"


"Bagaimana dengan Tante Putri? Apakah dia baik baik saja Rif?".


"Beberapa kali Mama menjengukmu Dhira, tapi kau belum sadarkan diri saat itu, Mama juga yang telah membersihkan tubuhmu sendirian, mengganti pakaianmu, dan dia tidak membiarkan Bi Ira melakukan itu, katanya dia ingin menebus kesalahan yang telah ia lakukan kepadamu".


"Tante Putri yang melakukan itu? Itu artinya Tante Putri sudah tidak marah lagi denganku kan Rif?".


"Mama tidak pernah marah denganmu Dhira, hanya saja semuanya sandiwara belaka, dia tidak ingin kau kenapa kenapa karena Syaqila".


Nadhira merasa senang mendengarnya, ia tidak menyangka bahwa Putri akan melakukan hal itu kepadanya, Nadhira pikir bahwa Putri begitu sangat membencinya hingga dirinya meminta kepada Nadhira untuk melupakan Rifki, akan tetapi setelah Rifki mengatakan yang sebenarnya, hal itu membuat Nadhira merasa sangat bahagia.


"Boleh aku tanya sesuatu kepadamu Dhira?"


"Katakan saja Rifki".


"Ngak jadi Dhira, sebaiknya kau istirahat saja, kau lebih butuh banyak istirahat mulai saat ini".


"Aku sudah cukup lama istirahat Rifki, aku hanya ingin mengobrol dengan dirimu saja, sudah lama sekali aku tidak berbicara dengan dirimu seperti ini, rasanya bagaikan sebuah mimpi".

__ADS_1


"Iya Dhira, jangan tinggalkan aku seperti itu lagi, maafkan aku yang selama ini selalu membuatmu terluka dengan kata kata yang telah aku ucapkan".


"Semuanya sudah berlalu Rif, aku sudah melupakan itu sejak lama dan kau tidak perlu meminta maaf kepadaku karenanya, apa kau sudah makan Rif? Melihatmu seperti ini membuatku sangat sedih Rif".


"Sudah Dhira, sebentar lagi Bi Ira juga akan datang kemari untuk membawakanmu makanan bergizi dan buah buahan".


Tak beberapa lama kemudian akhirnya Bi Ira dan juga Nandhita datang dan langsung masuk kedalam ruang rawat Nadhira, melihat Nadhira sudah sadarkan diri membuat Nandhita segera memeluk tubuh Nadhira dengan sangat eratnya.


"Bagaimana kabarmu Dek?" Tanya Nandhita sambil memeluk tubuh Nadhira dengan sangat eratnya.


"Alhamdulillah sudah mendingan Kak, Kakak kuat banget, Dhira ngak bisa nafas Kak" Keluh Nadhira.


"Kau buat orang khawatir saja Dek, dan syukurlah Allah masih memberikan kesempatan untuk hidup lagi" Ucap Nandhita sambil melepaskan pelukannya.


"Kalau Dhira mati bagaimana Kak?" Tanya Nadhira dan langsung dibungkam oleh Rifki.


"Jangan katakan hal itu Dhira, kau tau hal itu sangat menyakitkan bagiku" Ucap Rifki.


"Jangan berpikir seperti itu Dek, pikiran seperti itu ngak baik, kau kritis membuat orang sangat khawatir dengan kondisimu" Ucap Nandhita.


"Kakak sudah jadi orang kah? Bukan remaja lagi?"


"Maksudmu apa? Kalau bukan orang terus apa an? Demit? Setan? Atau iblis gitu?".


"Kak Dhita tolong jangan dibawa serius ucapan nih anak kecil, kita perlu bersyukur karena dia sudah siuman dan untung saja dia ngak lupa ingatan karena luka dikepalanya" Sela Rifki.


"Kalian ini ngomong apa sih? Kakak ngak paham sama sekali loh".


"Rif tolong jelaskan kepada nih orang"


"Loh kok jadi aku Dhira? Bukankah kau yang mengatakannya tadi? Kenapa ngak dijelaskan sekalian juga?".


"Aku merasa sangat lelah kali ini Rif, cepat jelaskan saja semuanya kepada Kakakku".


Nadhira pun menguap sambil ditutupi dengan kedua tangannya seolah olah dirinya sedang ngantuk berat saat ini, dan ia melemparkan hal itu kepada Rifki agar Rifki mau untuk menjelaskannya kepada Nandhita.


Nadhira melemparkan pertanyaan itu kepada Rifki agar Rifki mau menjelaskan semuanya kepada Nandhita, akan tetapi Rifki tidak mampu berkata apa apa lagi dan dirinya lalu beralasan agar dapat keluar dari ruang rawat tersebut.


"Haduh Kak aku lupa, aku masih ada kepentingan diluar, tolong jaga Nadhira ya" Ucap Rifki sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Eh, mau kabur kemana kau Rif? Jelaskan dulu!" Ucap Nandhita kebingungan.


"Assalamualaikum" Setelah mengucapkan salam, Rifki segera menutup pintu ruangan tersebut.


"Waalaikumussalam" Jawab Nandhita sambil menatap kepergiannya itu.


Nandhita menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan sikap keduanya itu, apakah dirinya yang telah untuk memahami ataukah ada kode kode diantara keduanya itu, melihat itu membuat Nandhita menghela nafasnya dengan pelan.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan tuh anak? Eh, kok malah tidur sih nih bocah" Nandhita terkejut ketika melihat Nadhira sudah memejamkan kedua matanya tersebut.


Melihat itu hanya membuat Bi Ira tersenyum tipis dengan sendirinya, entah akting seperti apa yang saat ini dilakukan oleh Nadhira dan Rifki, akan tetapi melihat Nadhira sudah membaik dan bisa bercanda membuat Bi Ira merasa sangat bahagia saat ini.


"Kenapa Bibi tersenyum? Apakah ada yang aneh dengan diriku?" Tanya Nandhita ketika tanpa sengaja melihat Bi Ira mengangkat bibirnya.


"Apa Nak Dhita tidak paham dengan ucapan mereka berdua tadi?"


"Tidak Bi, emang maksud mereka apa an? Dhita sama sekali tidak mengerti Bi".


"Mereka hanya ingin bertanya kepada Nak Dhira akan tetapi dengan cara bercanda seperti itu yang ingin mereka tanyakan adalah kapan Nak Dhita akan menikah? Dan keduanya menghadapkan bahwa Kakaknya akan segera menikah".


"Tumben Ibu langsung paham dengan yang kami maksud, ngak kayak Kak Dhita yang sama sekali tidak paham" Ucap Nadhira sambil membuka kedua orang.


"Eh nih anak pura pura tidur ternyata, emang minta digintes kek kutu rambut rupanya, bikin Kakak gemes aja nih bocah"


"Haduh Kakak, Dhira kan baru sadar masak iya Dhira harus digintes seperti kutu rambut? Pingsan lagi dong aku nya, ya udah deh sebelum Kakak gintes Dhira kembali pingsan saja".


"Nih anak masih lemes seperti ini pun masih bisa bisanya aja bercanda"


Nadhira pun tersenyum kenapa Nandhita, meskipun tubuhnya tidak mampu untuk digerakkan secara leluasa karena masih banyak alat yang menempel pada tubuh itu akan tetapi dirinya masih sempat untuk membuat seseorang tertawa.

__ADS_1


"Kak, kenapa Rifki terlihat begitu kurus? Apa yang terjadi kepadanya Kak?" Tanya Nadhira tiba tiba dengan wajah serius.


__ADS_2