
Rifki pun segera bangkit dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan kecewanya karena tidak mendapat informasi apapun mengenai Nadhira, entah kemana Nadhira pergi saat ini.
Melihat kepergian Rifki dari tempat itu membuat Citra akhirnya bisa kembali bernafas dengan lega, dan dirinya segera mengirim pesan kepada Nadhira bahwa Rifki telah datang ditempat itu, hp Nadhira telah disetting olehnya dan hanya mampu menerima pesan dan mengirim pesan saja.
°Nona, orang yang Nona maksud sudah datang kemari, dia terlihat begitu murka disaat dia tidak bisa menemukan keberadaan anda, saya hanya takut bahwa dia akan bertindak gegabah selanjutnya, apalagi dengan kemarahan seperti itu° Isi pesan yang diketik oleh Citra untuk Nadhira.
Klunting
Tak beberapa lama setelah dirinya mengirim pesan kepada Nadhira, terdengar suara hpnya berbunyi dan itu menandakan bahwa Nadhira sudah membalas pesan tersebut, dan Citra segera membuka pesan itu.
°Apakah lukanya baik baik saja? Bagaimana kondisinya Cit? Dia sudah sembuh total kan?° Isi pesan dari Nadhira.
°Sepertinya dia sudah membaik Nona Muda, tapi saya tidak tau pasti°
Rifki segera menaiki sepeda motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi, ia pun segera bergegas menuju kearah markasnya, kini perasaannya terasa begitu campur aduk antara sedih karena kepergian Nadhira dan juga marah karena tidak ada yang mau memberitahukan tentang keberadaan dari Nadhira.
Dibalik helmnya itu, kedua mata Rifki tengah berkaca kaca karena dirinya tidak mengetahui dimana keberadaan dari Nadhira saat ini, entah kenapa Nadhira tiba tiba pergi meninggalkannya begitu saja bahkan tanpa kabar sekalipun.
"Dhira kau ada dimana sekarang? Apa yang membuat perasaanmu tidak tenang, kenapa kau tidak memberitahukan hal itu kepadaku".
Rifki sangat takut kalau telah terjadi sesuatu dengan Nadhira, selama dirinya dirawat dirumah, Nadhira tidak pernah datang untuk menjenguknya ataupun hanya sekedar menanyakan kabarnya, dan bahkan nomornya pun tidak bisa dihubungi sampai saat ini.
Rifki memutuskan untuk pergi markas Gengcobra dan berharap bahwa dia akan mendapatkan ketenangan disana, ia sangat bingung harus mencari Nadhira kemana lagi setelah ini, sesampainya disana dirinya langsung disambut oleh seluruh anggota Gengcobra akan tetapi Rifki sama sekali tidak menanggapi ucapan mereka semua.
"Selamat datang Tuan Muda" Ucap mereka satu persatu kepada Rifki.
Rifki seakan akan tidak menganggap kehadiran mereka semua, karena dirinya sama sekali tidak menanggapi sambutan mereka meskipun hanya dengan memberikan mereka sebuah senyuman tipis pun dia tidak melakukan itu.
"Ada apa dengan Tuan Muda? Kenapa dia terlihat sedih seperti itu?" Tanya Reno kepada Vano ketika sapaan keduanya tidak dihiraukan oleh Rifki.
"Sepertinya saat ini suasana hatinya sedang tidak baik baik saja deh Ren, apa sebaiknya kita beritahukan hal ini kepada Tuan Bayu? Kali saja dia memiliki solusi untuk Tuan Muda" Jawab Vano.
"Apa kau yakin Tuan Bayu bisa mengatasi masalah Tuan Muda kali ini? Aku hanya takut kalau Tuan Bayu malah dihajar oleh Tuan Muda nantinya".
"Tidak ada salahnya kan kalau mencoba? Lihatlah Tuan Muda terlihat begitu kecewa seperti itu, kalau terus terusan seperti itu bisa bisa seluruh anggota Gengcobra akan menjadi sasaran kemarahannya nanti Ren".
"Baiklah, ayo ikut aku untuk bertemu dengan Tuan Bayu, aku sedikit merinding jika berhadapan dengan keduanya itu".
"Baiklah".
Rifki melewati anak buahnya begitu saja tanpa menjawab sapaan dari mereka, dirinya pun langsung memasuki kamarnya yang ada didalam markas tersebut, sementara Reno dan Vano segera bergegas mendatangi Bayu yang kini tengah berada diruangan privasi yang ada dimarkas itu.
"Tuan Bayu! Tuan Bayu! Tuan dimana anda! Tuan Bayu!" Panggil Reno dan Vano yang terlihat begitu rempong seperti mak mak.
Bayu yang baru menyelesaikan mengangkat beban pun merasa sangat terganggu oleh teriakan keduanya yang histeris seperti itu, dan hal itu membuat Bayu dengan kesalnya segera keluar dari ruangan tersebut untuk menemui keduanya.
"Ada apa?! Bisa ngak sih kalian ngak usah bikin keributan seperti itu! Emang kau pikir aku tuli gitu ha?" Ucap Bayu dengan marahnya.
"Tuan Muda...." Reno tidak mampu menyelesaikan perkataannya ketika melihat tatapan tajam yang kini tengah terarah kepada keduanya.
Tatapan yang diberikan oleh Bayu kepada keduanya tersebut terasa begitu dingin dan auranya seakan akan mengintimidasi mereka hingga keduanya tidak mampu untuk berkata kata lagi, dan seketika itu membuat keduanya menundukkan kepalanya dihadapan Bayu begitu saja.
"Apa yang terjadi dengan Rifki?"
Reno tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut dan ia berusaha untuk meraih tangan Vano agar Vano lah yang akan menjelaskannya kepada Bayu, Vano pun demikian dan menggerakkan tangannya agar Reno mengatakan hal itu kepada Bayu.
"Tuan Muda..."
"Katakan dengan jelas! Apa yang terjadi dengan Rifki"
__ADS_1
"Di dia.."
"Jika kalian ingin bermain main saja, cepat pergi dari sini! Menganggu saja!" Ucap Bayu dengan marahnya karena keduanya malah diam membisu dan seakan akan ingin bermain main.
"Maafkan saya Tuan Bayu, tapi..."
"Tapi apa? Katakan dengan jelas! Jangan setengah setengah seperti ini".
"Sulit dijelaskan Tuan Bayu, lihat saja kondisinya secara langsung, dia terlihat begitu sedih dan sangat kecewa" Ceplos Vano yang memang orangnya tidak bisa memperhatikan perkataannya sebelumnya.
"Hm? Dia datang kemari? Ada apa dengan dia? Apa kalian telah melakukan sesuatu hingga membuatnya marah seperti itu?".
"Kami tidak tau Tuan Bayu, sejak Tuan Muda datang kemarkas, dia sudah terlihat begitu sedih dan bahkan dia tidak menanggapi sapaan dari kami, jangankan menanggapi kami, bahkan senyum pun tidak terlihat diwajahnya itu".
"Astaga Rifki".
Bayu segera bergegas menuju ketempat dimana Rifki berada setelah mendengar ucapan dari Vano, ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi kepada Rifki kali ini, ketika dirinya sudah berada dekat dengan kamar Rifki tiba tiba terdengar barang berjatuhan dari dalam sana dengan sangat kerasnya.
"Apa yang terjadi dengan Rifki".
Bayu pun langsung berlari kearah dimana pintu kamar Rifki berada, ia sangat takut kalau Rifki kenapa kenapa hingga barang barangnya berjatuhan seperti itu dilantai.
"Rifki kau tidak apa apa?".
Bayu pun langsung masuk kedalam kamar Rifki yang ada dimarkas itu tanpa mengetuk pintu kamar terlebih dahulu dan hal itu sontak membuat Rifki segera melemparkan sebuah benda yang sangat tajam kearahnya untung saja Bayu bisa menghindarinya dengan cepat.
"BISA NGAK SIH KALAU MAU MASUK KETUK PINTU DULU!" Bentak Rifki tanpa menoleh kearah Bayu.
"Maafkan aku Rifki, aku hanya khawatir dengan dirimu Rif" Ucap Bayu merasa bersalah karena masuk kedalam ruangan itu tanpa meminta izin kepada Rifki.
Bayu memandang kearah sekeliling yang kini sedang berantakan, buku buku berserakan, vas bunga yang ada diruangan itu pun pecah dan pecahannya berserakan begitu saja, dan hal itu sontak membuat Bayu begitu terkejut.
"Itu juga berlaku untukmu Bay! Apa kau ingin menentang perintahku ha?" Mendengar ucapan Bayu sontak membuat Rifki langsung terbangun dari duduknya dan berjalan kearah Bayu.
Rifki membanting sebuah gelas kaca tepat dihadapan Bayu dengan penuh kemarahan hingga sontak hal itu membuat Bayu termundur beberapa langkah kebelakang agar tidak mengenai cipratan kaca pecah tersebut.
"Kenapa kau semarah ini Rif? Apakah kami telah melakukan sesuatu yang membuatmu kecewa?"
"Apa kau mau menentangku Bay! Ayo lawan aku sekarang juga! Apa kau sudah berani melanggar perintahku ha!" Ucap Rifki dengan penuh kemarahan sambil memegangi kerah baju Bayu dengan kedua tangannya saat ini.
"Bukan begitu maksudku Rif, aku minta maaf atas kesalahanku kali ini, aku hanya takut kau kenapa kenapa karena aku mendengar bunyi barang barang berjatuhan dari luar".
Tidak biasanya Rifki akan semarah ini kepadanya, akan tetapi kali ini terasa begitu berbeda, entah apa yang membuatnya bisa semarah ini kepadanya, dan sontak hal itu membuat nyali Reno dan Vano menciut begitu saja dihadapan Rifki.
"Panggil orang yang kau perintahkan untuk mengawasi rumah Nadhira sekarang juga!" Ucap Rifki yang langsung mendorong tubuh Bayu.
"Baik Rif, kalian berdua cepat panggil Gilang kemari" Ucap Bayu memerintahkan kepada Reno dan Vano.
Reno dan Vano segera bergegas pergi dari tempat itu, ia pun mencari tau keberadaan dari Gilang, akan tetapi keduanya sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Gilang dimarkas itu, dan Reno pun segera mengeluarkan hpnya untuk menghubungi Gilang yang tengah berada diluar markas.
Setelah mendapatkan telfon dari Reno, Gilang segera bergegas kembali kemarkas, ia tidak mengetahui kenapa tiba tiba dirinya diperintahkan untuk kembali, sambil menunggu kedatangannya Reno dan Vano berdiri dihalaman depan markas tersebut.
Setelah sekian lama menunggu akhirnya Gilang pun masuk kedalam halaman markas itu dan langsung disambut oleh keduanya itu, Gilang pun bertanya tanya pada dirinya sendiri apakah dia telah melakukan kesalahan sehingga membuat Reno dan Vano menyambutnya sedemikian rupa.
"Kenapa kau sangat lama sampainya?" Tanya Reno sambil menatap tajam kearah gilang.
"Maafkan saya, dijalan begitu macet"
"Sudah, aku tidak mau mendengar alasanmu lagi, cepat temui Tuan Muda sekarang, kau membuat dirinya menunggu terlalu lama".
__ADS_1
"Tapi... Apakah aku telah melakukan kesalahan? Kesalahan apa yang telah aku lakukan sehingga membuat Tuan Muda mencariku?"
"Aku juga tidak tau, sebaiknya kau segera menemuinya sekarang juga".
Tak beberapa lama kemudian Vano dan Reno segera membawa Gilang kehadapan Rifki, tanpa aba aba Rifki segera menendang perut Gilang dengan sangat kerasnya hingga membuat tubuh Gilang terpental begitu saja dan jatuh diatas lantai.
"Maafkan saya Tuan Muda" Ucap Gilang dengan ketakutan dan menahan rasa sakitnya.
Gilang sama sekali tidak mengetahui kenapa Rifki tiba tiba memanggilnya datang dan juga menendangnya sangat keras seperti itu, dirinya sangat bingung entah kesalahan seperti apa yang telah ia perbuat sebelumnya hingga membuat Rifki sangat marah kepadanya.
Rifki segera mendekat kearah orang itu dan langsung mencekik lehernya dengan kuatnya, melihat tindakan Rifki kali ini membuat Bayu begitu sangat terkejut, karena selama ini Rifki tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya, dan hal itu sontak membuat beberapa anak buahnya yang melihat kejadian itu memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu.
Para anak buahnya tidak ingin ikut campur kali ini, mereka takut bahwa mereka akan terkena imbasnya karena berada didalam ruangan tersebut dan hal itu sontak membuat mereka semua segera bergegas pergi dari tempat itu.
"Apa yang kau lakukan selama ini ha?!" Tanya Rifki kepada Gilang dengan nada tinggi.
"Ma.. maafkan sa ya Tu an Muda" Ucap Gilang dengan terbata bata karena cekikan Rifki.
Plakk...
Rifki menampar orang tersebut dengan kerasnya dan langsung melepaskan cekikan tersebut, sontak hal itu membuat Gilang mengeluarkan darah dari dalam mulutnya karena beberapa giginya patah karena tamparan dari Rifki.
"Maafkan saya Tuan Muda, saya mohon tolong ampuni saya Tuan Muda, saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya lagi" Ucap Gilang sambil bersujud dihadapan Rifki.
"Sudah Rif sudah, kasihan dia" Ucap Bayu yang segera menengahi keduanya.
"APA KAU MAU MELAWANKU BAY!" Bentak Rifki kepada tindakan yang Bayu lakukan.
"Rif, tidak baik menyelesaikan masalah dengan kekerasan sep....".
Bhukk..
"Akh.."
Tanpa aba aba Rifki segera melontarkan sebuah pukulan kepada perut Bayu dan sontak hal itu membuat Bayu memekik kesakitan karena pukulan yang diberikan oleh Rifki tersebut, ia semakin bingung dengan apa yang terjadi kepada Rifki kali ini.
Bayu pun memegangi perutnya yang merasa perih akibat pukulan yang diberikan oleh Rifki kepadanya itu, melihat Rifki yang tiba tiba memukul Bayu dengan kerasnya seketika membuat Reno dan Vano langsung berlutut ditempatnya saat ini.
"Apa kau sudah berani melawanku sekarang Bay? Ayo bangkit dan lawan aku sekarang juga! Lawan aku Bay!" Ucap Rifki dengan penuh kemarahan dan memegangi kerah baju Bayu dengan eratnya.
"Aku tidak ingin melawanmu Rif, beritahu kepadaku kesalahan apa yang telah dilakukan oleh Gilang hingga membuatmu semarah ini Rif, aku menghentikan dirimu bukan berarti aku membela Gilang, aku hanya tidak ingin kau membuang tenagamu begitu saja".
"Dia sama sekali tidak becus melaksanakan tugasnya, tidak ada gunanya dia gabung dengan anggota Gengcobra".
"Maafkan saya Tuan Muda, saya janji tidak akan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya, tolong ampuni saya Tuan Muda" Ucap Gilang dengan keringat dingin dan juga tubuh yang gemetaran.
Dikeluarkan secara paksa dari anggota Gengcobra adalah hal yang sangat buruk bagi setiap anggota Gengcobra, karena dia yang dikeluarkan akan ditandai oleh pemerintah ataupun beberapa perusahaan hingga hal itu membuatnya akan sangat kesulitan untuk mencari pekerjaan.
Karena setiap orang yang dikeluarkan oleh anggota Gengcobra akan dicap oleh pemerintah, dan tidak ada perusahaan yang berani untuk memperkerjakan orang yang telah dikeluarkan tersebut, karena pemerintahan berada dibawah kendali perusahaan Abriyanta Groub dan juga anggota Gengcobra.
Melakukan kesalahan dalam anggota Gengcobra sama saja dengan mereka membunuh diri mereka sendiri, akan tetapi justru sebaliknya jika mereka mengundurkan diri dari anggota Gengcobra maka mereka akan diberikan pesangon untuk dapat membangun usaha mereka sendiri.
"Rifki tenangkan dirimu, biar aku saja yang akan menendangnya keluar dari anggota Gengcobra, kau tidak perlu membuang buang tenagamu".
Seketika ucapan Bayu tersebut bagaikan sebuah sambaran petir bagi Gilang, ingin sekali dirinya pingsan saat ini karena mendengar hal itu, entah kesalahan apa yang telah membuatnya berada didalam posisi seperti ini.
Gilang terus bersujud beberapa kepada Rifki agar dirinya mampu untuk memaafkan kesalahannya yang sama sekali tidak ia ketahui, sejak dirinya tiba tiba dipanggil oleh Rifki dirinya sudah mengetahui tentang apa yang akan terjadi kepadanya, akan tetapi dirinya tidak mengetahui kesalahan apa yang telah ia lakukan kali ini.
"Sudah Rif, tenangkan dirimu lebih dulu, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan kekerasan".
__ADS_1
Mendengar ucapan Bayu seketika membuat kemarahan yang ada dihati Rifki perlahan lahan mulai melunak dan sedikit meleleh, hingga dirinya merasa lebih tenang daripada sebelumnya ketika dirinya baru datang kemarkas tersebut.
"Apa saja yang telah kau lakukan selama ini?" Tanya Bayu kepada Gilang.