
Tak heran bila begitu banyak luka memar ditubuh Rifki akibat dari latihan beladiri, apalagi diusia seperti itu sakit bukan lagi halangan dirinya untuk bangkit, berapa banyak darahnya yang telah menetes akibat latihan, akan tetapi dirinya sama sekali tidak menyerah sedikitpun.
"Kek, besok Rifki tidak ikut latihan ya, luka Rifki sakit semua, dan kaki Rifki ngak bisa digerakin dengan mudah Kek, boleh ya?" Rifki mengeluh lantaran lututnya yang menggores tanah hingga mengeluarkan banyak darah, luka goresan itu sangat lebar sehingga sulit bagi Rifki untuk menggerakkan kakinya dengan leluasa.
"Harus tetap latihan! Kamu laki laki, ngak boleh ada yang namanya mengeluh! Kakek tidak mau dengar, pokoknya tetap latihan"
"Tapi Kek, sehari saja Rifki ingin istirahat dan bersantai, kaki Rifki sakit Kek, Rifki tidak sanggup kalo harus latihan terus terusan seperti ini, kaki Rifki sakit"
"Tanpa latihan tanpa uang jajan, Kakek tidak mau memberikanmu uang jajan lagi, pilih mana? Tetap latihan dan dapat uang jajan atau libur latihan tanpa uang jajan"
"Baiklah Kek, Rifki akan latihan, Rifki tidak akan libur latihan, Rifki akan terus latihan" Rifki tidak mau uang jajannya hilang karena dirinya tidak latihan.
"Bagus, nanti Kakek tunggu di lapangan seperti biasa"
"Iya Kek"
Tidak heran lagi meskipun usianya masih muda akan tetapi tenaganya sangat kuat, bahkan dirinya penuh dengan tak tik untuk dapat mengalahkan musuh musuhnya, dia tidak pernah menggunakan ilmu beladirinya selain untuk berlatih bersama dengan Kakeknya itu.
Sekarang usianya menginjak usia 6 tahun dan akan memasuki sekolah dasar, disanalah dia bertemu dengan sosok Nadhira yang entah membuatnya ingin sekali menggoda gadis kecil itu dan bahkan dia tidak akan puas sebelum membuat Nadhira menangis.
Didalam markas tersebut Rifki banyak belajar untuk mandiri, semuanya ia lakukan sendiri tanpa bantuan siapapun, dan bahkan dia sudah belajar untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.
Aryabima benar benar menuruti keinginan Rifki untuk bertemu kembali dengan teman temannya yang ada didalam Surya Jayantara, dirinya pun menjadikan mereka sebagai anak buah Rifki saat ini.
*Flashback off*
Putri menceritakan itu kepada Nadhira dengan beberapa kali menghapus butiran air mata yang ada dipelupuk matanya agar tidak jatuh membasahi kedua pipinya itu.
"Sejak kecil, dirinya tidak pernah mendapatkan uang jajan seperti anak anak yang lainnya Nak, meskipun keluarganya punya segalanya tapi dirinya tidak pernah diberi uang jajan oleh Kakeknya"
"Lalu kalau Rifki ingin beli makanan gimana Ma? Terus beli beli kebutuhannya pake uang apa Ma?"
"Dia bekerja"
"Diusia 3 tahun udah bekerja Ma? Jadi kalo dia ingin jajan dia harus latihan dulu? Tanpa latihan tanpa uang jajan juga?" Nadhira benar benar terkejut mendengarnya.
"Selama didalam Surya Jayantara dia tidak pernah mengeluarkan uang sama sekali, karena makanan sudah tersedia disana, pas dirinya berada didalam markas Gengcobra, dia harus bekerja keras untuk mendapatkan uang, dengan cara latihan yang giat, kalo tidak latihan Ayah tidak akan memberinya uang, meskipun dia sakit sekalipun itu dia merawat dirinya sendiri, apapun dia lakukan sendiri, dan karena itulah dia sangat dekat dengan anggota Gengcobra daripada keluarganya sendiri"
"Rifkiku yang malang, Kakek Arya begitu keras kepada Rifki, padahal kan Rifki sendiri masih kecil, pasti hari harinya selama ini sangat berat kan Ma? Aku pun tidak akan sanggup jika menjadi Rifki"
"Rifki tidak pernah mengeluh sama Mama, bahkan tidak pernah meminta apapun kepada Mama, justru Rifki memperlakukan Mama seperti seorang ratu, begitu manja jika dihadapan Mama, dia tidak pernah meminta apapun kepada Mama, permintaan dia hanya ada satu kepada Mama waktu itu"
"Permintaan apa itu Ma?"
"Menikah denganmu, itulah pertama kali dirinya meminta sesuatu kepada Mama, pertama kalinya dia memohon kepada Mama, selama ini dirinya tidak pernah meminta apapun dan bahkan untuk mengeluh saja dirinya tidak pernah"
"Sungguh berat ya Ma menjadi seorang Rifki, Dhira jadi sedih mendengar itu, dia tidak pernah bercerita apapun kepadaku Ma, justru dia banyak mendengar keluhanku selama ini, tanpa ingin aku tau tentang kehidupannya selama ini"
"Itulah keistimewaan Rifki, Ayah Arya terlalu keras mendidiknya sampai sampai dia tidak diizinkan untuk mengeluh apalagi menangis, dia akan menangis jika orang yang disayanginya kenapa kenapa"
"Mama benar, Rifki sangat istimewa"
"Kamu juga sangat istimewa Nak, jaga dirimu baik baik ya, kamu adalah kesayangan Rifki, jangan buat dia menangis karena kamu terluka, dia akan memperhatikan apapun yang dia sayangi dan tidak akan melepaskannya begitu saja, kamu satu satunya wanita yang sangat dia cintai, hanya satu satunya wanita yang sangat berarti baginya"
"Apakah beneran Ma? Selama ini tidak ada wanita lain selain diriku?"
"Iya Nak, meskipun Mama tidak selalu ada disamping dirinya tapi Mama tau apa yang dia sukai, dia tidak pernah bilang sesuatu selain menceritakan tentang dirimu"
"Apa saja yang dia ceritakan tentang diriku Ma?"
"Ada banyak hal, semuanya tentang dirimu"
"Iya Ma, apa Rifki pernah menangis?"
"Menurutmu? Dia juga seorang manusia yang punya titik lemahnya sendiri"
"Dia pernah nangis Ma, waktu Dhira kenapa kenapa"
"Kau sangat berarti baginya Nak, dia sangat mencintaimu dan tidak ingin dirimu kenapa kenapa, Mama harap kalian akan selalu bersama sampai maut memisahkan"
"Aamiin ya rabbal alamin"
Nadhira sangat senang mendengarnya, Rifki benar benar menjadikan dirinya wanita satu satunya yang ada dihatinya, Nadhira sangat bersyukur memiliki sosok seorang suami seperti Rifki yang selalu membuatnya bahagia.
__ADS_1
*****
Mobil yang dinaiki oleh Rifki itu pun mulai memasuki gerbang rumah mereka, melihat kedatangan mobil tersebut membuat Nadhira segera berlari menuju kehalaman rumah besar itu, ketika Rifki keluar dari dalam mobil tiba tiba Nadhira memeluknya dengan sangat eratnya.
"Rif, aku langsung balik kemarkas ya" Teriak Bayu untuk berpamitan agar tidak berlama lama ditempat itu untuk menyaksikan kemesraan mereka.
"Iya, hati hati ya" Jawab Rifki sambil mengusap pelan puncak kepala Nadhira.
"Beres"
Mobil yang dikendarai oleh Bayu tersebut langsung meninggalkan rumah besar itu, Rifki merasakan bahwa tubuh Nadhira sedang bergetar menandakan bahwa Nadhira sedang menangis saat ini.
"Sayang kamu kenapa menangis? Sini cerita ada apa? Apa yang terjadi?" Ucapan itu hanya dibalas gelengan kepala oleh Nadhira.
Rifki tidak tau kenapa Nadhira tiba tiba menangis seperti itu, ia paling tidak suka melihat Nadhira bersedih seperti itu, ia mencoba untuk menenangkan hati wanita yang dicintainya itu dengan mengusap pelan punggung Nadhira.
"Maafin aku Rif" Ucap Nadhira dengan tangisnya.
"Ada apa? Apa Mama mengatakan sesuatu yang membuatmu terluka tadi? Katakan kepadaku sayang, apa yang dikatakan oleh Mama?"
"Mama tidak mengatakan sesuatu yang membuatku terluka Rif, maafkan aku Rif"
"Kamu tidak salah sama sekali sayang, ada apa ini? Kenapa menangis seperti ini?"
"Bukan Mama yang membuatku menangis"
"Lalu kenapa menangis? Apa karena pembantu baru yang ada disini?"
"Bukan itu"
"Katakan yang jelas sayang, jangan membuatku bingung seperti ini, siapa yang melukaimu?"
"Mama tadi menceritakan masa kecilmu kepadaku, aku yakin saat itu kamu pasti sangat terluka kan? Kamu tidak pernah mengatakan apapun kepadaku tentang dirimu selama ini"
Nadhira tidak tau apa saja yang dialami oleh Rifki selama ini, sejak mendengar masa kecil Rifki sedemikian rupanya membuat dirinya sangat merasa sedih, ia pun merasa dirinya begitu egois dan hanya bisa mengeluh apa yang dia alami kepada Rifki, justru beban yang ditanggung oleh Rifki lebih besar daripada dirinya.
Keduanya sama sama dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya, Nadhira kehilangan Mamanya disaat dirinya masih kecil sekitar 10 tahunan dan harus mendapatkan Mama baru yang sangat kejam, perlakuan Papanya yang keras dan kasar membuat Nadhira harus bersikap dewasa.
Sementara Rifki, masih berusia 3 tahun sudah tidak mendapatkan kasih sayang orang tua, dia bahkan dididik sangat keras oleh Aryabima sampai sampai tidak diizinkan untuk mengeluh sedikitpun, tanpa uang jajan, dan dirinya harus bangkit sendiri tanpa harus meminta bantuan kepada siapapun.
"Tapi Rif, mendengar itu membuatku tidak tega kepadamu, diusia yang baru menginjak 3 tahun pun sudah dipisahkan dari kedua orang tuamu, pasti itu sangat menyakitkan kan?"
"Memang sih itu sakit, aku pun tidak tau sampai kapan akan bertahan dengan kondisi seperti itu, tapi itu dulu sayang, hanya masalalu, sekarang udah ngak sakit lagi kok, sekarang aku sangat bahagia karena bisa hidup bersama dengan dirimu orang yang aku cintai, tinggal bersama mereka di Surya Jayantara pun tidak begitu menakutkan karena disana mereka mengganggapku seperti saudara sendiri"
"Beneran kamu ngak apa apa?"
"Iya sayang beneran, kau tau aku sangat menikmati saat saat itu, seperti anak yang dibuang, aku jadi bebas disana Dhira, tapi Pak Hendra selalu memarahi diriku dari siang sampai malam, aku terlalu bandel saat itu sampai sampai seluruh pengurus yang ada di Surya Jayantara kewalahan karena diriku"
"Kau memang nakal" Nadhira semakin mengeratkan pelukannya itu.
Tanpa Nadhira ketahui bahwa selama ini Rifki selalu melindungi dirinya, sejak mereka masuk kedalam sekolah dasar yang sama, perhatian Rifki tidak pernah luput dari dirinya, ia selalu menyingkirkan orang orang yang ingin menganggu Nadhira.
Ada sesuatu yang mampu menarik perhatiannya kepada Nadhira, dibalik kerasnya didikan yang diberikan oleh Aryabima hal itu tidaklah masalah karena dirinya sendiri juga ingin bisa melindungi orang orang yang sangat berarti baginya termasuk juga Nadhira, gadis kecil yang berhasil mencuri perhatiannya sejak kecil.
"Nakal nakal seperti ini pun kau juga mencintainya kan sayang" Rifki mengecup pelan kening Nadhira.
"Sangat mencintainya"
"Oh iya, Mama tadi mengatakan apa saja kepadamu Dhira? Pasti ada banyak hal kan?"
"Banyak banget yang dia katakan kepadaku Rif, Mama sama Papa juga membawakan banyak oleh oleh untukku Rif, Mama bilang itu bagus untuk kesehatan diriku"
"Oh iya? Oleh oleh apa Dhira?"
"Buah buahan, tuh lemari esnya sampe penuh keisi sama buah buahan yang mereka bawa"
"Wih enak banget, sudah makan kamu?"
"Sudah sayang, sayang salad buahnya tinggal sedikit dilemari es, belikan lagi dong"
"Iya nanti aku belikan, yang banyak untukmu"
"Makasih sayang"
__ADS_1
"Ya sudah ayo masuk, aku mau mandi dulu"
Rifki mengajak Nadhira untuk masuk kedalam rumahnya itu, setelah itu Rifki langsung mandi dan membersihkan tubuhnya, sementara Nadhira menunggunya sambil duduk ditempat tidurnya sambil memakan buah apel merah yang dibawakan oleh Putri sebelumnya.
"Sayang kamu belom selesai?" Tanya Rifki yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Belom sayang, kan masih dua hari, biasanya itu sampai tujuh hari"
"Lama banget deh, selesai sekarang saja dong"
"Ngak bisa ditawar lagi Rifki, nih anak beneran deh aneh aneh banget keinginannya"
Rifki lalu merebahkan tubuhnya disamping Nadhira, ia pun membaringkan kepalanya dipaha Nadhira yang sedang asik selonjoran ditempat tidurnya, Nadhira pun memainkan ujung rambut Rifki yang sedikit basah karena air itu.
Tangan kanan Nadhira sedang memegang buah apel yang sejak dari tadi dirinya nikmat, sementara tangan kirinya tengah sibuk untuk membelai rambut Rifki yang ada di pangkuannya saat ini, melihat wajah Rifki yang terlihat tenang seperti itu membuat hati Nadhira menjadi damai.
"Kapan selesainya sih sayang?" Tanya Rifki dengan wajah penuh harap.
"Biasanya seminggu sayang, ini kan baru dua hari"
Nadhira kini tengah sibuk memakan buah apel yang ada ditangannya itu, dan hanya fokus dengan buah tersebut dariada Rifki yang sedang menatapnya saat ini, Nadhira ketika makan apel dengan cara seperti ini dirinya terlihat seperti seorang anak kecil.
"Ngak makan dulu sayang?" Tanya Nadhira.
"Makan kamu saja sayang"
"Serius sayang! Aku kan lagi halangan, kamu pasti belom makan kan setalah pulang kerja tadi"
"Belom laper sayang"
"Harus makan sayang, mau makan apa? Biar Bi Sari aku suruh untuk mengantarkan kemari"
"Makan apa aja, aku bukan tipe pemilih makanan"
Sejak kecil Rifki sudah terbiasa untuk memakan makanan apa saja yang disediakan dan tidak pernah memilih milih makanan yang mau ia makan, didikan yang diberikan oleh Aryabima untuk memasukkan Rifki ke Surya Jayantara berpengaruh terhadap Rifki agar tidak memilih milih makanan.
"Bentar, aku mau turun kebawah dulu" Ucap Nadhira.
"Aku ikut"
"Aku mau digendong sama kamu"
"Manja banget deh istriku ini"
"Hanya kepadamu sayangku"
"Eh kata kata siapa itu yang kamu pake?"
"Kata kata kamu lah, emang siapa lagi kalo bukan dirimu ini sayang?"
"Iya deh iya"
Rifki lalu bangkit dari tidurnya dan duduk disamping Nadhira, ia pun mengecup bibir Nadhira dan seakan akan sudah menjadi candu baginya, pandangan teralihkan kepada buah apel yang ada ditangan Nadhira dan dirinya lalu mengigit apel tersebut.
"Hemm.. manis banget"
"Rifki... Inikan punyaku, ambil sendiri saja sana, yah tinggal dikit nih" Rengek Nadhira ketika buah apelnya digigit Rifki.
"Ini sebagai bahan bakar untuk menggendongmu sayang"
"Selalu saja dengan kata kata menggoda"
"Ngak masalah, hanya untuk istri tercintaku"
Rifki segera bangkit dari duduknya dan berdiri disebelah Nadhira, ia pun mengangkat tubuh Nadhira dan menggendongnya ala bridal style, ia pun bergegas untuk turun kebawah bersama dengan Nadhira yang berada didalam gendongannya itu.
"Kamu ngak lelah sayang? Turunin aku, nanti kamu kelelahan loh, aku kan berat"
"Kan sudah dapat bahan bakar olehmu sebelumnya, bagaimana mungkin Rifkimu ini bisa lelah"
"Gombal banget sih, garing tau"
"Bilang sekali lagi, mau aku cium sekarang juga?"
__ADS_1
"Ini ditangga, jangan bercanda deh"
Rifki membawa Nadhira turun dari lantai atas, melihat itu beberapa pembantu baru yang tidak sengaja lewat merasa kagum dengan sosok lelaki seperti itu, mereka pun tidak ada yang mengedipkan mata karena terpanah dengan pesona dari Rifki.