
Rifki beserta anak buahnya yang berjumlah 100 orang itu kini tengah bersembunyi dibalik semak semak belukar, mereka kini mengawasi sebuah goa yang ada ditengah tengah hutan belantara, Rifki sengaja mendatangi tempat itu ketika malam hari tiba karena keberadaannya beserta anak buahnya akan sulit untuk dideteksi ketika berada dalam kegelapan.
"Apa benar ini goanya? Kok sepi banget? Kayak ngak berpenghuni tau ngak sih" Tanya Fajar yang berada didekat Bayu dan Rifki.
"Kalian semua tunggu disini saja, biar aku yang memeriksanya didalam, kalo aku ngak keluar keluar kalian boleh masuk" Ucap Rifki.
"Tapi Tuan Muda, biarkan kami saya yang melakukan, itu sama saja dengan membahayakan nyawa anda sendiri" Ucap Reno.
"Tidak, ini adalah perjuanganku untuk menemukan kembali Nadhira"
"Tapi Rif, bagaimana kalau kamu dalam bahaya? Biarkan aku masuk denganmu juga" Bayu tidak ingin menghalangi Rifki akan tetapi membiarkan Rifki masuk sendirian sama saja dengan membiarkan Rifki dalam bahaya.
"Tidak perlu, kau jaga disini saja, lagian aku juga bisa melindungi diriku sendiri dari bahaya, dan aku punya Allah yang akan menyelamatkanku dalam bahaya yang akan aku hadapi nantinya"
"Bagaimana kalo ini hanya jebakan belaka Rif? Kita tidak boleh terlalu mempercayai orang asing, aku hanya takut kau kenapa kenapa didalam sana tanpa pengawasan dari kita"
"Aku dapat mengetahui seseorang itu jujur atau berbohong, jadi kau tidak perlu khawatir soal itu, Dokter Lila adalah wanita yang baik, mana mungkin dia berbohong lagi pula tidak ada yang tau tentang nama Kinara selain aku dan Nadhira"
"Baiklah jika itu kemauanmu, tetap berhati hatilah selalu, kalau ada apa apa panggil kami semua, kami akan segera datang untuk membantumu"
"Tenang saja, aku pasti baik baik saja"
"Iya Rif, aku percaya kepadamu"
Rifki lalu bangkit dari jongkoknya, dia diam diam masuk kedalam goa itu, nampaknya goa itu begitu dalam sehingga butuh beberapa langkah dirinya masuk kedalam goa tersebut akan tetapi belum mencapai ujung dari goa itu.
"Aku harus lebih berhati hati lagi, siapa sebenarnya musuhku itu?" Guman Rifki pelan.
Sebelum datang ketempat itu, Rifki sudah mengasah golok yang ia bawa saat ini dengan tajam, Rifki berniat untuk menghabisi semua orang yang bekerja sama dengan orang yang telah menculik Nadhira tersebut tanpa tersisa sedikitpun.
Rifki mengeluarkan golok tersebut dari sarungnya dan menggenggamnya dengan sangat erat, mendengar cerita dari Dokter Lila membuatnya ingin sekali menumpahkan darah orang orang yang telah menyakiti Nadhiranya.
"Aku tidak akan membiarkan mereka hidup lebih lama lagi" Kedua tangan Rifki terkepal dengan eratnya.
Mendadak dirinya teringat kembali dengan ucapan Dokter Lila kepadanya, hal itu membuat emosi Rifki seakan akan tengah bergejolak, ada perasaan sakit didalam hatinya itu, ia tidak bisa membayangkan bertapa sakitnya Nadhira saat ini.
Dokter Lila tidak mengatakan dimana keberadaan dari tempat yang digunakan untuk mengurung Nadhira karena dirinya sendiri tidak mengetahui tempat tersebut, selama diperjalanan kedua orang yang bersamanya itu akan menutup kedua mata Dokter Lila dengan erat sampai mereka sampai ditempat tujuan.
*****
"Dokter Lila" Panggil Nadhira lemah.
Orang yang dipanggil itu kini tengah tertidur nyenyak disebuah sofa yang berada tidak jauh dari tempat dimana Nadhira terbaring, mendengar panggilan itu membuat Dokter cantik tersebut mulai mengernyitkan keningnya dan langsung membuka kedua matanya.
Ia lalu memgusap usap wajahnya, memaksakan diri untuk membuka kedua matanya yang masih mengantuk tersebut, ia lalu berjalan menuju kearah Nadhira yang tengah memanggilnya.
"Ada apa Mbak?" Tanya Dokter Lila dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sekarang jam berapa?"
"Sekarang masih jam 1 malam Mbak" Ucapnya seraya melihat gelang jam yang ada ditangannya.
"Tolong bersihkan tubuh saya ya, saya ingin sholat tahajjud, perasaan saya mendadak tidak tenang, saya takut suami saya kenapa napa"
"Iya Mbak, bentar ya, saya siapkan dulu airnya"
Nadhira mengangguk pelan mengiyakan ucapannya, setelah menunggu cukup lama akhirnya Dokter Lila datang dengan membawa air hangat, ia lalu membuka selimut Nadhira dan mencelupkan sebuah kain lalu mengusapkannya ketubuh Nadhira seraya membersihkannya.
Melihat tangan dan kaki Nadhira yang diikat erat dengan rantai membuat perasaan iba bagi Dokter cantik tersebut, ia merasa tidak tega dengan Nadhira saat ini, sebenarnya ia ingin sekali melepaskan Nadhira dari ikatan itu tapi dirinya sama sekali tidak bisa berbuat apa apa.
Setelah membersihkan tubuh Nadhira, Dokter Lila memasangkan jilbab kepada Nadhira, ia juga kembali menarik selimutnya dan menutupi tubuh Nadhira tersebut sampai pada dadanya.
Nadhira pun melakukan sholat tahajjud dengan cara mengedipkan matanya, jika tidak bisa sholat dengan berdiri, Allah memudahkannya dengan cara duduk, jika tidak bisa duduk, Allah memudahkannya dengan cara berbaling, jika tidak bisa bergerak, Allah memudahkannya dengan kedipan mata.
Nadhira pun menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan salam, itu artinya sholatnya telah selesai ia lakukan.
"Ya Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hamba meminta pertolongan, Ya Allah tolong lindungilah suami hamba dari segala mara bahaya yang akan ia hadapi, kasihanilah hamba Ya Allah, hanya kepada Engkaulah hamba memohon dan hanya kepada Engkaulah hamba meminta pertolongan, lindungilah dimanapun suami hamba berada Ya Allah"
Nadhira pun memanjatkan doa kepada sang penciptanya, ada luka disetiap kata katanya dan terdengar sangat menyakitkan, ada rasa sesak didadanya, ia sangat khawatir dengan Rifki, air matanya pun tak kunjung berhenti menetes.
__ADS_1
"Mbak yang tenang ya, jangan terlalu banyak pikiran, nanti akan mempengaruhi kondisi anak yang ada didalam perut anda" Ucap Dokter Lila.
"Saya takut suami saya kenapa napa Dok, perasaan saya mendadak tidak tenang, saya bermimpi telah terjadi sesuatu dengan dia, saya takut kalo mimpi itu benar benar terjadi"
"Mimpi hanya bunga tidur, Mbak. Tidak semua mimpi itu menandakan hal buruk"
"Tapi saya tidak bisa tenang sebelum melihatnya langsung Dok, saya takut, bagaimana kalo dia kenapa kenapa disana? Sedangkan disini saya tidak bisa berbuat apa apa, bahkan untuk bangkit berdiri saja saya tidak bisa"
"Mereka akan segera menemukan keberadaan kita Mbak, kita berdoa saja kepada sang pencipta, semoga dia baik baik saja dan mampu untuk menolong kita berdua"
"Aamiin ya Allah"
*****
Rifki terus berjalan memasuki goa tersebut, entah seberapa lama ia berjalan akan tetapi dirinya belum menemukan tanda tanda adanya manusia yang berada ditempat itu, setelah beberapa langkah dirinya menemukan sebuah cahaya dari dalam goa tersebut.
Rifki pun memelankan langkahnya untuk terus mendekat kearah sumber cahaya itu, nampaknya orang orang yang berjaga ditempat itu terlihat seperti sedang mengadakan pesta, didalam sana begitu ramai terdengar.
"Ayo nambah lagi minumnya, kita mabuk malam ini bersama sama"
"Hahaha... Bersulang untuk saat ini, kita rayakan malam ini dengan sebotol alkohol, menunggu disini terasa membosankan"
"Jo, nambah minumnya, gini saja tidak akan bisa membuatku mabuk"
Bau alkohol menyengat yang ada ditempat itu pun dapat tercium oleh Rifki, dengan langkah pelan Rifki mendekat kearah keramaian itu, dibalik sebuah batu yang besar Rifki mengintip kearah keramaian itu.
Rifki yang tidak biasa mencium bau alkohol yang sangat menyengat itu membuatnya mengibas ngibaskan tangannya didepan hidungnya untuk menghilangkan aroma alkohol tersebut.
"Itu dia kedua orang tuanya" Rifki melihat adanya sepasang suami istri yang tengah dikurung didalam pagar kayu, "Aku harus segera menyelesaikannya sebelum orang yang menyuruhnya merasa curiga"
Rifki menghitung orang orang yang ada ditempat itu dan mengetahui bahwa ada sekitar 25 orang yang berjaga ditempat itu, jumlah yang banyak akan tetapi bagi Rifki itu tidak ada apa apanya.
Dengan golok yang ada ditangannya Rifki berjalan mendekat kearah orang orang yang tengah menikmati minum minuman beralkohol itu, ia memegangi erat golok ditangan kanannya sementara tangan kirinya terkepal erat hingga urat uratnya terlihat timbul dipunggung tangannya.
"Berhenti bersenang senang!" Ucap Rifki dengan tegasnya kearah mereka dengan tatapan tajam yang mengintimidasi seseorang.
"Beraninya kau datang ketempat ini sendirian!"
"Mau cari mati?"
"Bunuh saja dia bos"
"Berhubung kau sudah mengetahui tempat ini, kau harus mati ditangan kami"
"Mati ditangan kalian? Tidak akan mungkin, karena aku adalah malaikat maut bagi kalian semua! Dan kalian harus mati ditanganku saat ini juga" Rifki mengangkat goloknya dihadapan mereka.
"Beraninya kau! Kau hanya sendiri disini, bagaimana mungkin bisa melawan kami semua yang ada ditempat ini dengan mudah"
"Hanya seorang pecundang yang beraninya main keroyokan, jika aku datang kemari itu artinya aku sama sekali tidak takut dengan kalian semua"
"Cepat serang dia! Biar dia tau seberapa kuatnya kita semua disini"
"Baik bos"
Rifki sama sekali tidak memiliki rasa takut meskipun mereka juga menggunakan senjata tajam untuk melawannya, mereka pun mengangkat senjata kearah Rifki sementara Rifki tengah bersiap siap untuk menyerang balik kearah mereka.
Rifki menarik bibirnya keatas hingga menciptakan sebuah senyuman yang sangat menyeramkan, Rifki yang terbiasa dengan keadaan seperti itu membuatnya tak lagi memiliki rasa takut akan sebuah pertarungan.
Sebuah serangan pedang diayunkan kearah Rifki dan langsung disambut oleh Rifki dengan tangkisan menggunakan golok yang ada ditangannya, tak lupa juga Rifki langsung menendang perut orang yang mengayunkan pedang tersebut dengan keras.
Bhukk... Brakk...
Seketika tendangannya tersebut membuat orang itu terpental jauh hingga menabrak sekawanannya hingga mereka terjatuh dengar kerasnya, Rifki lalu merenggut senjata mereka hingga saat ini dirinya memegangi dua senjata tajam sekaligus.
Tidak tinggal diam begitu saja, orang orang yang tidak terjatuh itu pun langsung menyerang kearah Rifki, dengan cepat Rifki melakukan gerakan putaran hingga dirinya mampu mengoyak perut mereka dengan cepat dan mereka langsung terjatuh begitu saja setelah menerima serangan dari Rifki.
"Akh... "
Darah muncrat kemana mana hingga membuat pakaian Rifki kini tengah berlabur dengan merahnya darah, tidak tinggal diam begitu saja Rifki kembali menyerang kearah mereka dengan ganasnya.
__ADS_1
Rifki tiba tiba merasakan perih dibagian punggungnya dan langsung bergegas berbalik arah dan untuk memeriksa siapa pelakunya yang telah menebas punggung itu dan kembali mengayunkan golok dan pedang itu secara bersamaan dan langsung menggorok leher orang tersebut tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Akh... Sial!" Rifki pun menjatuhkan tubuhnya dan langsung bersangga dengan pedang yang ada ditangannya itu.
Rifki merasakan perih dipunggungnya, seakan akan luka tebasan yang diberikan oleh orang itu terlalu panjang dan lebar, akan tetapi hal itu sama sekali tidak membuat Rifki lengah dan dengan gesitnya dirinya bangkit kembali untuk menyerang mereka.
Bagaikan seekor singa galak, Rifki sama sekali tidak membiarkan mereka untuk membalas serangannya itu, justru dengan luka tersebut membuat Rifki nampak begitu ganas untuk melawan mereka.
10 orang kini sudah tewas ditangan Rifki, sungguh mereka terlihat sangat mengenaskan, sebagian dari mereka terlihat isi perutnya yang keluar karena luka sayatan yang diberikan oleh Rifki dan sebagian yang lainnya lagi terlihat goresan dileher mereka.
Benar benar pembantaian dan hanya dilakukan oleh satu orang saja, bau anyir darah terasa begitu kuat didalam goa itu, bau tersebut membuat kedua tahanan segera memuntahkan isi perut mereka karena tidak tahan dengan apa yang dilakukan oleh Rifki ditempat itu.
Bukan ketakutan karena disekap ditempat itu yang mereka rasakan akan tetapi ketakutan karena ulah Rifki tersebut, kedua orang itu yang tidak pernah melihat darah sebanyak pun tidak kuat untuk melihat pertarungan tersebut.
Rifki yang terasa sudah biasa dalam bertarung sehidup semati itu pun terlihat biasa saja ketika melihat muncrat darah dimana mana, bahkan seluruh tubuhnya kini dipenuhi oleh darah, bukan hanya darah dari orang lain akan tetapi darah miliknya juga.
"Siapa kau sebenarnya!" Teriak salah satu orang yang masih hidup dengan ketakutan.
"Seorang suami dan Ayah yang terluka" Jawab Rifki yang masih setia menggenggam erat kedua senjata itu ditangannya.
"Kami tidak kenal denganmu, kenapa kau membunuh teman temanku?"
"Tidak ada alasan untuk kalian tetap hidup"
Bhukk...
Melihat seseorang yang tengah menghubungi orang lain tersebut membuat Rifki langsung menendangnya dengan keras hingga membuat ponsel yang dipegang oleh orang tersebut reflek terlempar keatas dan meluncur bebas kebawah hingga ponsel tersebut retak dan pecah menjadi beberapa bagian.
"Emang ada sinyal didalam goa ini?" Tanya Rifki sambil memincingkan sebelah matanya, "Siapa yang mengizinkan dirimu untuk memainkan ponsel didepanku saat ini?"
"Apa maumu sebenarnya? Kenapa kau harus membunuh teman teman kami!"
"Mauku? Katakan siapa bos kalian itu dan dimana dia tinggal sekarang"
"Kau tidak berhak mengetahui itu"
"Katakan sekali lagi, mungkin itu akan menjadi kata kata terakhirmu" Rifki tersenyum sangat menakutkan dihadapan mereka.
Tanpa banyak bicara Rifki kembali mengayunkan kedua senjata yang ada ditangannya tersebut kearah mereka, gerakannya jauh lebih cepat daripada sebelumnya, hal itu membuat ke 15 orang tersebut begitu terkejut dan langsung menyerang balik kearah Rifki yang tengah menyerang mereka itu.
Rifki sama sekali tidak mempedulikan luka sayatan yang sangat lebar yang ada dipunggungnya itu, ia pun terus menyerang kearah mereka hingga menciptakan beberapa luka sayatan ditubuh mereka.
"Ayo kabur!" Teriak salah satu dari mereka.
Mereka langsung berhamburan keluar dari goa tersebut akan tetapi langsung dihadang oleh anggota Gengcobra yang kini sudah berada dilorong goa tersebut, hal itu membuat Rifki melipat kedua tangannya didepan dadanya.
"Sisakan satu saja, lainnya habisi semuanya" Perintah Rifki kepada anggota Gengcobra.
"Baik Tuan Muda!" Teriak mereka serempak.
Anggota Gengcobra lalu melakukan apa yang diperintahkan oleh Rifki kepada mereka, melihat pertarungan itu membuat Rifki berjalan kearah tepat dimana sepasang suami istri tengah terkurung didalam tempat tersebut.
"Kalian mundur" Ucap Rifki dan langsung dituruti oleh kedua orang itu.
Rifki lalu mengayunkan pedang yang ada ditangannya itu kearah rantai yang mengunci keduanya, dengan ayunan yang penuh tenaga tersebut langsung membuat besi yang kuat itu terputus begitu saja.
"Rif punggungmu" Ucap Bayu yang mendekat kearah Rifki saat ini.
Bayu melihat baju yang dipakai oleh Rifki tersebut sobek memanjang, dan seakan akan tengah basah karena keringat akan tetapi itu bukanlah keringat melainkan darah Rifki yang merembes keluar dari dalam tubuhnya itu.
"Lupakan itu, ayo segera pergi dari tempat ini, oh iya 27 orang tinggal ditempat ini, dan bersihkan tubuh mereka dari sini, kalian harus berpura pura menjadi anak buah orang tersebut agar orang yang menculik Nadhira itu tidak curiga"
"Saya akan memantau disini, Tuan Muda" Ucap Reno.
"Saya akan bersama dengan Reno, Tuan Muda" Ucap Vano yang mengusulkan.
"Aku percayakan tempat ini kepada kalian" Ucap Rifki kepada anggota Gengcobra.
"Terima kasih Tuan" Ucap laki laki yang dikurung tersebut kepada Rifki.
__ADS_1