
Rifki tidak mempercayai apa yang lihat saat ini, jantung yang tadi berhenti berdetak dan nafas yang berhenti berhembus kini perlahan lahan mulai berdetak lagi, dan dada Nadhira naik turun pertanda bahwa nafasnya kembali berhembus.
"Dhira, Ya Allah terima kasih karena telah mengembalikan istri hamba kepada hamba, hamba akan berusaha untuk menjaganya dengan baik, tolong jangan ambil dia dari hamba"
"Masya Allah, terima kasih telah mendatangkan keajaiban kepada kami, terima kasih" Putri pun merasa bahagia ketika melihat Nadhira kembali bernafas lagi.
"Segala puji bagi Allah, cucuku kembali kepada kita, dia kembali" Aryabima juga turut bahagia melihat itu.
"Ayah benar, Allah telah menyelamatkan dia" Haris pun memeluk tubuh Aryabima sangking bahagianya.
Beberapa saat kemudian datanglah seorang Dokter dan beberapa suster masuk kedalam ruangan tersebut untuk memeriksa keadaan Nadhira, mereka pun terkejut ketika mengetahui bahwa Nadhira telah keluar dari masa kritisnya.
Denyutan jantung Nadhira kembali normal, wajah yang pucat sebelumnya kini pun kembali memerah pertanda bahwa darah yang ada didalam tubuhnya kini kembali mengalir, hanya saja mereka tidak mengetahui kapan Nadhira akan sadarkan diri.
"Sungguh keajaiban, dia mampu melewati masa kritisnya, kondisinya pun berangsur angsur membaik, tapi kami tidak tau pasti kapan dia akan sadarkan diri" Ucap Dokter tersebut kepada Rifki.
"Ini beneran kan Dok? Dia baik baik saja kan? Dia pasti sembuh kan?" Tanya Rifki untuk memastikan apa yang ia dengar sebelumnya itu tidak salah.
"Iya, alat AED (automated external defibrillator) dan alat bantu lainnya bisa dilepas, dan pasien bisa langsung dipindahkan diruang rawat inap"
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih Dok"
"Kalo begitu saja permisi dulu, biarkan para perawat yang akan memindahkan pasien, kalo ada kemajuan dengan kondisi pasien segera bertahu saya"
"Iya Dok"
Para perawat tersebut pun melakukan tugas mereka, Nadhira lalu dipindahkan diruang VVIP yang paling mahal dirumah sakit itu, ia ditempatkan dikamar dahlia nomor 1 yang paling dekat dengan ruangan perawat agar ketika terjadi sesuatu dengan Nadhira mereka akan segera melakukan tindakan yang tepat untuk Nadhira.
Nadhira masih setia memejamkan kedua matanya itu, kini Rifki tengah duduk disebelahnya sambil memegangi tangan Nadhira dengan erat, beberapa kali lelaki itu akan mencium tangan Nadhira sambil memandangi wajah cantik Nadhira.
"Kau membuatku khawatir Dhira, betapa takutnya diriku akan kehilanganmu, kau harus baik baik saja sayang, jangan tinggalkan aku lagi, aku takut hidup tanpa dirimu sayang, aku yakin bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan diriku secepat ini, impian kita belum terwujud sayang"
"Nak, Mama sama Papa pulang dulu ya, kalo ada apa apa beritahu Mama, kasihan Ayu dirumah sendirian" Ucap Putri yang teringat dengan Ayu.
Ia merasa lega ketika mengetahui bahwa Nadhira baik baik saja, dan hal itu membuatnya langsung teringat dengan Ayu, sudah 2 hari mereka berada dirumah sakit meninggalkan Ayu dirumah sendirian.
"Iya Ma, kalo ada perkembangan tentang Nadhira pasti Rifki beritahu, doakan juga semoga Nadhira cepat sadarkan diri" Ucap Rifki.
"Pasti Nak".
"Makasih Ma"
Putri pun mendekat kearah Nadhira terbaring, ia lalu mengusap pelan puncak kepala Nadhira, setelahnya ia mencium kening wanita yang tidak sadarkan diri itu, ciuman penuh kasih sayang dari seorang Ibu kepada anaknya.
"Cepat sembuh anak Mama yang cantik, terima kasih karena telah kembali kedunia ini, Mama merasa bahagia mendengarnya, besok Maka akan kesini lagi, Mama harap kamu sudah bangun dan menyambut kedatangan Mama kemari" Bisik Putri ke telinga Nadhira dengan suara lembut.
Nadhira memang tidak beruntung akan kasih sayang keluarganya selama ini, akan tetapi dirinya sangat beruntung memiliki seorang mertua yang baik, yang menganggapnya seperti anak sendiri bahkan memberikan kasih sayang yang sama seperti yang didapatkan oleh Rifki.
"Jagain dia dengan baik, jangan buat dia menangis, atau Mama akan menghukum dirimu nanti" Ucap Putri sambil mengusap kepala anaknya pelan.
"Iya Ma, maafin Rifki sebelumnya ya Ma, Rifki telah lalai menjaga Nadhira dengan baik, Rifki akan berusaha untuk melindunginya meskipun harus mengorbankan nyawa Rifki sendiri, Rifki tidak mau kehilangan Dhira lagi" Ucap Rifki sambil menghambur ke pelukan Putri.
"Mama sudah memaafkanmu, jangan diulangi lagi, Mama tidak mau kehilangan putri Mama itu, hanya dirimu yang dia punya, apalagi Mama kandungnya sudah ngak ada, dan Papanya justru sama sekali tidak peduli dengan dia, bahkan disaat kalian menikah pun, dia tidak datang"
"Iya Ma, Rifki janji, Rifki sangat terluka jika mengingat itu Ma, dengan mudahnya dia mengatakan itu didepan Rifki sendiri, Rifki ngak mau kalo Dhira mendengarnya nanti, Dhira pasti sangat kecewa"
"Jangan sampai dia mendengarnya, bagaimanapun kau harus bisa menjaga rahasia ini"
"Iya Ma, Rifki akan selalu merahasiakan ini dari Dhira, Rifki ngak mau Dhira terluka lagi"
"Jangan lama lama meluknya, Mama itu punya Papa" Ucap Haris kepada Rifki dengan dingin.
"Papa ngak boleh begitu sama anak sendiri, masak cemburu sama anak sendiri sih"
"Kamu itu laki laki, jelaslah Papa cemburu, bagaimana bisa Papa tahan melihat dia dipeluk lelaki lain sepeti itu"
"Nih nih, ambil aja Mama, sono buat Adek yang banyak, orang lagi sedih masih aja diginiin, Papa ngak pengertian sama sekali sama anak sendiri" Rifki cemberut mendengar jawaban dari Haris, ia lalu mendorong Putri kedalam pelukan Haris.
__ADS_1
"Emm... Mau Adek berapa? Sepuluh atau dua puluh?"
"Kalo bisa seratus aja Pa, biar kayak kurawa, biar jadi seperti pasukan siap tempur nanti"
"Yakin? Jangankan seratus, seribu aja Papa mau kok"
"Mama yang ngak kuat" Balas Putri dengan sebal.
"Jadi Mama mintanya sepuluh ribu?" Tanya Rifki dengan membelalakkan matanya.
"Rifki" Ucap Putri gemas.
"Ya sudah, Papa sama Mama jalan dulu, biar Ayah yang akan menemanimu disini" Ucap Haris.
"Iya Pa"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
*****
"Belum sadar juga Nak?" Putri tiba tiba berkunjung kerumah sakit untuk mengetahui kondisi Nadhira.
"Belum Ma" Jawab Rifki.
Sudah dua hari Nadhira belum juga sadarkan diri, kali ini Putri berkunjung kerumah sakit sendirian untuk mengetahui perkembangan dari Nadhira, selama itu juga Rifki tidak bisa tidur dengan nyenyak, hal itu dapat diketahui dari bawah matanya yang sedikit menghitam.
"Kamu istirahat dulu, kamu pasti kecapekan kan? Kondisimu seperti anak hilang Nak, tidur saja, biar Mama yang jaga disini"
"Apakah separah itu Ma? Sampai sampai Mama mengatakan kalo Rifki seperti anak hilang" Dikatakan oleh Mamanya seperti itu membuat Rifki memanyunkan bibirnya.
"Mangkanya buruan istirahat, masak anak Mama yang ganteng berubah kayak gembel seperti ini"
"Bisa difilter dikit ngak Ma?"
"Mangkanya cepat suruh Dhira untuk membuka kedua matanya Ma, Biar Rifki tidak sedih terus terusan seperti ini"
Rifki pun berpamitan untuk pulang kepada Putri, dua hari ini memang Rifki tidak bisa tidur nyenyak dirumah sakit itu apalagi dengan Nadhira yang tak kunjung sadarkan diri, ia pun kelihatan begitu lemas karena kelelahan saat ini.
Putri pun duduk disebelah Nadhira sambil menatap kearah Nadhira yang tengah tertidur dengan nyenyaknya itu, ia mengusap kepala Nadhira dengan pelan sambil terus berdoa semoga Nadhira segera sadarkan diri dan kembali cerita seperti sebelumnya.
"Cepat sadar Nak, ada Mama disini yang akan menemanimu, sampai kapan kamu akan tertidur seperti ini Nak?"
Putri pun merapikan selimut yang menutupi tubuh Nadhira itu, meskipun dalam keadaan yang tidak sadarkan diri, Rifki tetap merawat Nadhira dengan baik, mulai dari membersihkan tubuhnya dan bahkan dirinya juga telah mengganti pakaian Nadhira agar terlihat wangi dan segar.
"Mama merasa sedikit cemburu denganmu Nak, anak kesayangan Mama begitu perhatian denganmu, sampai sampai dia tetap menjaga tubuhmu agar tetap wangi dan bersih, Mama merasa seperti baru saja melahirkan dia, eh dia sudah besar saja seperti ini, dan bahkan sudah memiliki seorang istri cantik seperti dirimu"
Klunting
Tiba tiba ponsel Putri berbunyi sekali pertanda bahwa adanya pesan yang masuk, ia lalu membuka ponselnya dan tertera nama "Anak ganteng" disana, baru saja Rifki pergi meninggalkan tempat itu, sudah mengiriminya pesan saja.
Isi pesan :
Mama, Rifki tidur dulu dirumah, tolong jagain Nadhiraku ya Ma, kalo ada apa apa langsung beritahu Rifki, Rifki sayang Mama, terima kasih.
Putri pun tersenyum sendiri menerima pesan tersebut, andai Nadhira sudah bangun mungkin dia juga akan tersenyum membacanya.
*****
Sore hari pun tiba, saatnya Rifki kembali kerumah sakit, ia juga membawakan baju ganti untuk Nadhira, ketika dirinya sudah mereka lebih vit lagi membuat dirinya ingin segera kerumah sakit demi menjaga Nadhira yang sedang tidak sadarkan diri itu.
"Dhira masih belom sadar Ma?" Tanya Rifki ketika sampai diruang Nadhira dan melihat Nadhira yang masih setia memejamkan matanya.
"Belom Nak, entah sampai kapan dia akan memejamkan mata seperti ini"
"Mama pulang dulu aja, giliran Rifki yang jaga disini, Rifki sudah kembali vit lagi kok Ma"
__ADS_1
"Baiklah, Mama pulang dulu ya, kalo ada apa apa cepat beritahu Mama, besok pagi Mama kesini lagi, jangan banyak begadang nanti malam"
"Iya Ma, makasih sudah jagain Dhira"
"Sudah tugas Mama sebagai orang tua Nadhira, ya sudah Mama pulang dulu"
Putri pun bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut dan kini hanya tersisa Rifki seorang, ia lalu mendekat kearah Nadhira, ia mencium kening Nadhira perlahan lahan dengan penuh kehangatan, mencium Nadhira sudah menjadi candu baginya.
"Sayang, aku datang" Ucap Rifki sambil tersenyum kearah Nadhira meskipun tidak dibalas senyuman olehnya akan tetapi dirinya tetap tersenyum hanya untuk Nadhira.
Rifki mengusap puncak kepala Nadhira dengan perlahan lahan, ada rasa sedikit kesepian dihatinya karena biasanya Nadhira lah yang akan terus menganggunya dan bahkan wanita itu yang akan membuat hari hari Rifki menjadi berwarna.
"Sayang, waktunya ganti baju sekalian membersihkan tubuhmu, biar kamu tetap wangi dan segar"
Rifki lalu bangkit dari tempat duduknya, ia lalu mengunci pintu ruang rawat tersebut agar tidak ada siapapun yang masuk kedalamnya selama dia mengganti pakaian Nadhira didalam, karena ia tidak mau bahwa tubuh Nadhira dilihat banyak orang.
Setelahnya Rifki lalu mengambil sebuah baskom yang ada didalam kamar mandi dan ia celupkan sebuah kain yang akan dirinya gunakan untuk membersihkan tubuh istri tercintanya itu, dengan perlahan lahan dirinya melepaskan baju Nadhira dan mengusapi tubuhnya dengan kain basah itu.
"Cantiknya aku harus bangun ya, aku sangat rindu, rindu canda tawamu sayang, mending aku menerima omelanmu daripada harus melihatmu diam saja seperti ini, apa kamu ngak rindu marah marah denganku sayang?"
Rifki perlahan lahan membersihkan tubuh Nadhira dengan kain tersebut, dimulai dari kedua tangan Nadhira lalu merambat ke tubuhnya, ia mengusapnya dengan rata hingga tidak ada bagian yang terlewatkan sedikitpun.
Ia menatap kearah jahitan diperut Nadhira bagian bawah, itu adalah luka setelah operasi pengangkatan janin yang ada didalam perut Nadhira, kedua mata Rifki pun berkaca kaca ketika melihat itu.
"Maafin aku ya Dhira, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu, dan aku adalah Ayah yang gagal menjaga putranya sendiri"
Rifki pun menyentuh pelan luka jahitan itu, setelahnya dirinya langsung memakaikan pakaian Nadhira meskipun agak kesusahan karena adanya selang oksigen sekaligus selang infus yang terpasang.
Rifki memilih pakaian yang memiliki kancing sehingga akan memudahkan dirinya untuk memakaikannya ditubuh istri tercintanya, setelah tubuh bagian atas telah selesai dibersihkan kini ia membersihkan tubuh Nadhira bagian bawah.
Rifki pun menurunkan celana panjang Nadhira dan melepaskannya, ia lalu membersihkan tubuh Nadhira bagian bahwa dengan perlahan lahan, dimulai dari bagian pinggangnya sampai ujung jari kakinya.
Setelah semua selesai diberaihkan, Rifki lalu memakaikan celana panjang untuk Nadhira, lalu ia menutupi tubuh Nadhira menggunakan selimut rumah sakit agar Nadhira tidak kedinginan dan ia pun menaikkan suhu AC didalam ruangan itu.
Rifki pun memberi parfum ditubuh Nadhira, wangi khas yang paling ia sukai dari Nadhira, ia lalu menyemprotkan minyak wangi tersebut diketiak Nadhira dan baju Nadhira, setelah dirasa cukup dirinya lalu mengembalikan botol parfum kedalam tas yang ia bawa sebelumnya.
"Nah sudah selesai dan wangi, wajahmu kelihatan pucat sayang, biar aku make up in ya, agar kamu tetap terlihat cantik dan bersih"
Rifki pun mengeluarkan peralatan make up milik Nadhira dari dalam tas yang ia bawa sebelumnya, dirinya yang mulai sedikit mengerti tentang make up pun langsung mengeluarkan sebuah pelembab yang bisanya dipakai oleh Nadhira.
"Kita main make up make up an ya sayang, biar aku ngak terlalu bosan disini ngomong sendiri dari kemarin, aku sangat rindu denganmu Dhira, kapan dirimu akan bangun? Apa kamu tidak bosan tidur seperti ini terus terusan?"
Meskipun tidak mendapatkan jawaban dari Nadhira akan tetapi Rifki tetap mengajak Nadhira untuk berbicara, mungkin saja dengan itu Nadhira akan mendengarkan dirinya sehingga dia akan membuka kedua matanya untuk Rifki.
Rifki pun membuka tutup pelambab itu dan menuangkannya ditelapak tangannya, ia lalu mengoleskan tipis diwajah cantik Nadhira, dengan perlahan lahan dirinya mengoleskannya secara merata keseluruh kulit wajah Nadhira.
"Biasanya kamu akan marah kepadaku kalo aku menuangkannya secara berlebihan ditanganku, lihatlah Dhira, ini terlalu banyak, apa kau tidak marah kepadaku? Marahlah aku ingin dengar" Rifki menatap kearah gel pelembab yang masih banyak ditangannya itu karena ia yang menuangkannya terlalu banyak saat ini.
Akan tetapi masih sama, Nadhira juga tidak merespon ucapannya itu, jangankan marah dia saja tidak membuka kedua matanya bagaimana bisa marah kepada Rifki, melihat Nadhira yang tidak bereaksi membuat Rifki hanya menghela nafasnya.
Ia lalu mengambil sebuah bedak yang biasanya digunakan oleh Nadhira, ia lalu mengusapi beda hingga merata keseluruh wajah Nadhira, dan Nadhira pun terlihat segar kembali.
"Masih ada yang kurang, tinggal pemerah bibir, Dhira biasanya suka yang warna ini deh kayaknya, Dhira kan sering pake yang ini" Ucap Rifki sambil mengangkat sebuah lip blam yang biasanya digunakan oleh Nadhira.
Dengan hati hati dirinya pun mengoleskan lip blam kebibir Nadhira, setelah mengoleskannya ia pun merasa bingung kenapa warna bibir Nadhira tidak berubah, biasanya bibir Nadhira akan terlihat sedikit memerah karena sebuah lipstik.
"Apa aku memberinya kurang banyak ya? Ini kan lipstik yang sering dipakai oleh Nadhira, kenapa warnanya tidak berubah"
Rifki pun kembali mengoleskannya dibibir Nadhira, sudah begitu tebal rasanya dia mengoleskannya akan tetapi warnanya masih tetap sama, ia semakin bingung dengan yang namanya lipstik.
Ia pun merasa jengkel karena lipstik itu sama sekali tidak merubah warna bibir Nadhira, ia lalu membuang lipstik yang ada ditangannya tersebut dilantai karena percuma saja dia memberikan itu dibibir Nadhira akan tetapi sama sekali tidak merubah warna bibir Nadhira.
"Astaga... Berani sekali aku membuangnya, itukan kesayangan Dhira" Rifki dengan sigap langsung memungut lipstik yang ia maksud tersebut dari lantai.
Ia lalu mengusap usap lip blam yang dikira Rifki adalah pemerah bibir tersebut dengan perlahan lahan, ia merasa aneh kenapa barang yang tidak berguna itu harus dibeli oleh istrinya padahal itu sama sekali tidak merubah warna bibir Nadhira.
"Besok aku akan tanya Mama, kenapa lipstik ini aneh sekali, udah warnanya putih ngak bisa merubah warna bibir lagi, fungsinya untuk apa sih, mending beli lipstik yang lainnya saja yang warnanya lebih merah daripada ini"
__ADS_1