Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Pesta bunga api


__ADS_3

Karena jarak tempat tinggal Kinara tidak terlalu jauh dari panti asuhan, sehingga Kinara sering bermain dengan anak anak panti. Anak anak yang tinggal disana pun kebanyakan tidak mengetahui siapa orang tua kandung mereka, dan hal itu membuat Kinara nyaman dengan mereka.


"Nara, semua yang Mama dan Papa lakukan itu demi kebaikan Nara sendiri, jangan pernah berpikiran seperti itu, ya?"


"Tapi Mama, terus kenapa Papa ngak pernah pulang untuk menjemput Nara selama ini? Nara sendiri saja tidak tau wajah Papa seperti apa, Mama ngak pernah nunjukin wajah Papa kepada Nara. Lalu siapa Papanya Nara, Ma?"


"Kenapa Nara tiba tiba pengen banget bertemu dengan Papanya Nara? Mama sudah bilang, kalo Nara besar nanti, Nara pasti bertemu dengan Papanya Nara."


"Nara juga pengen punya Papa, Ma. Pengen seperti teman teman sekelas sama Nara, mereka semua punya Papa, mereka selalu diantar jemput sama Papanya, tapi Nara sendiri yang ngak tau siapa Papanya Nara. Terus ada temen Nara yang bilang dan mengejek Nara karena ngak punya Papa, tapi Nara punya Papa kan, Ma? Apa yang dibilang teman Nara itu ngak benar kan, Ma?"


"Emang temennya Nara bilang apa?"


"Katanya Nara ngak punya Papa, bagaimana bisa Nara ngak punya Papa? Terus mereka ngejek Nara karena ngak punya Papa, katanya mereka ngak mau temenan sama Nara karen Nara ngak punya Papa, Ma. Nara juga punya Papa kan?"


"Nara juga punya Papa kok, bagaimana bisa Nara lahir jika tidak punya Papa? Papa Nara sedang bekerja jauh, untuk menyekolahkan Nara agar Nara bisa sekolah dan mendapatkan kehidupan yang layak nanti. Jangan dengarkan mereka ya?"


"Tapi kenapa Papa Nara ngak pernah pulang, Ma? Apa waktu kecil Nara berbuat salah sampai dia ngak mau ketemu sama Nara lagi?"


"Nara, bukan seperti itu, Nak. Kamu masih kecil, dan belum mengerti tentang semuanya, belum saatnya Mama memberitahu hal itu kepadamu,”


"Mama selalu bilang gitu, Nara kan hanya pengen tau siapa Papanya Nara sebenarnya, Ma."


"Kalo sudah tau, Nara mau apa? Kita tidak bisa bertemu dengannya, Nara harus dewasa dulu baru bisa bertemu dengan Papamu."


"Kapan Nara dewasa, Ma? Ini sangat lama,"


"Makan yang banyak, biar Nara kuat, dan cepat dewasanya."


"Tapi Nara kenyang, Ma. Ngak pengen makan lagi,"


"Kalo ngak makan, dewasanya lama."


Kinara pun menundukkan kepalanya dalam, mendengar alasan dari Mamanya itu membuat hatinya merasa sedih. Kinara juga ingin seperti yang lainnya yang bisa bercanda gurau dengan Ayahnya, sementara dirinya? Mengetahui siapa Papanya saja dia tidak tau, apalagi sosok seperti apa Papanya itu.


Mamanya sendiri bahkan tidak mau memberitahukan siapa Papanya itu kepadanya, dan jika ditanya selalu saja beralasan dalam menjawabnya. Sampai usianya menginjakkan usia ke 10 tahun pun, Kinara sama sekali tidak pernah bertemu dengan Papanya, bahkan melihat wajahnya lewat foto saja tidak pernah apalagi dengan bertemu langsung.


*****


Kinara kini berada disebuah tempat duduk yang ada dihalaman panti asuhan, yang berada tidak jauh dari rumahnya itu. Kinara sedang duduk bersama dengan dua orang temannya, yang kerap merasa sangat akrab dengan Kinara itu, sehingga mereka terlihat begitu sangat dekat dan bahkan sudah menjadi sahabat Kinara sejak Kinara kecil.


"Nara, nanti malam ada pesta bunga api loh," Ucap salah satu teman Kinara yang bernama Maura.


"Pesta bunga api? Dimana itu?" Tanya Kinara dengan antusiasnya.


"Dialun alun kota, jadi tiap setahun sekali, seseorang akan menyalakan petasan dan bunga api dilangit langit. Jadi indah banget deh," Jawab Devan teman laki laki Kinara.


Devan dan Maura adalah sahabat Kinara sejak mereka bayi, dan mereka bertemu sejak mereka kecil sehingga ketika besar, mereka terlihat sangat akrab dan sering bercanda gurau bersama sama.


Devan anak yatim piatu yang kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan, sehingga Tantenya dengan tega menaruhnya dipanti asuhan karena tidak mau merawatnya. Kasus ini juga pernah dialami oleh Fika, yang bahkan diusir oleh Tantenya ketika kedua orang tuanya meninggal, Fika adalah Adik angkat dari Nadhira.


Sementara Maura, anak yang lahir dari hubungan gelap. Seorang muda mudi yang melakukan hubungan suami istri tanpa pernikahan, keduanya tidak ada yang mau bertanggung jawab dengan bayi yang dihasilkan dari hubungan gelap tersebut, sehingga keduanya membawa Maura didalam panti asuhan karena tidak mau membesarkan anak tersebut karena diduga sebagai aib.


"Benarkah? Kenapa kalian bisa tau soal itu?" Tanya Kinara sambil mencerucutkan bibirnya, karena hanya dirinya saja yang tidak tau soal itu diantara kedua temannya itu.


"Aku ngak tau, tapi kata Ibu Vivi, nanti ada pesta bunga api dan petasan," Ucap Maura, Ibu Vivi adalah seorang wanita yang biasanya dipanggil Ibu panti, karena dia pemilik yayasan itu.


"Aku mau ajak Mama lihat ah, siapa tau Mama mau nanti," Guman Kinara.


Kinara berencana untuk mengajak Ana melihat pesta bunga api itu, setelah mengatakan itu Kinara langsung bergegas untuk pergi dari tempat tersebut setelah berpamitan dengan teman temannya itu.


Kinara langsung bergegas untuk menemui Mamanya itu, dirinya pun langsung masuk kedalam rumahnya dan mencari Mamanya. Kinara pun mendapati bahwa Mamanya kini tengah masak didapur, setelah pulang sekolah tadi, Kinara langsung bergegas untuk main bersama kedua temannya.


"Mama!" Teriak Kinara dengan kencangnya.


"Astaghfirullah... Ada apa, Nara?" Tanya Ana yang terkejut ketika Kinara berteriak disampingnya tiba tiba.

__ADS_1


Sebelumnya Ana tidak mengetahui tentang kedatangan dari Kinara, sehingga dirinya begitu sangat terkejut ketika sedang asik untuk memasak makanan kesukaan dari anaknya itu. Kinara pun langsung memeluk tubuh Mamanya dari belakang, hingga hal itu membuat Ana segera mematikan kompor gas yang dirinya pakai itu.


"Ada apa, Nara?" Tanya Ana sambil berlutut dihadapan anaknya.


"Mama, kata temen temen panti, nanti ada pesta bunga api dialun alun kota. Nara mau lihat," Ucap Kinara dengan semangatnya.


"Pesta bunga api? Jam berapa, Nak? Kalo besok Nara telat bangun untuk sekolah gimana?"


"Astaga Mama, besok kan hari minggu. Sekolah Kinara pun libur kata Bu guru,"


Ana yang sudah lama meninggalkan bangku sekolah itu pun sampai lupa hari, dirinya pun langsung bergegas untuk berjalan menuju kesebuah kalender yang terpasang didinding rumah tersebut. Ana langsung melihat kearah tanggal yang tertera disana, dirinya begitu terkejut ketika melihat bahwa besok adalah hari ulang tahun Kinara yang ke 11 tahunnya.


"Ayolah Ma, nanti lihat bunga api. Nara pengen lihat, sama Mama nanti," Bujuk Kinara kepada Ana yang masih tengah fokus kepada kalender miliknya itu.


"Tapi nanti malam, Mama mau ajak Nara makan makan sama Tante sama Nenek," Ucap Ana.


"Makan makannya besok saja, Ma. Nara pengen lihat bunga api," Kinara masih memaksa untuk bisa mengajak Mamanya untuk melihat pesta bunga api dan petasan itu.


"Baiklah, nanti sekalian sama Tante ya, kita lihat bareng bareng," Putus Ana yang memang tidak bisa menolak keinginan anaknya jika anaknya terus menerus memaksanya.


"Asyikkkk.... Makasih Mama," Ucap Kinara dengan senangnya karena permintaannya dituruti oleh Ana.


"Mama ngak dipeluk nih?"


Kinara pun langsung menjatuhkan pelukannya ditubuh Ana, Ana begitu sangat menyayangi anaknya itu. Kedua orang itu pun saling berpelukan dengan eratnya, Kinara merasa nyaman ketika berada didalam pelukan sang Ibu.


"Eh ada apa ini?" Tanya Siska yang baru saja masuk kedalam dapur sambil menaruh beberapa sayuran yang telah dipetiknya dikebun.


"Tante, nanti Nara sama Mama mau lihat bunga api dialun alun kota. Tante mau ikut?" Tanya Kinara sambil melepaskan pelukannya dari Ana.


"Oh pesta bunga api ya?" Tanya Siska.


"Iya Tante, Tante tau soal itu?" Tanya Kinara penasarannya dengan ucapan Siska.


"Tau dong, setiap tanggal ini akan selalu ada pesta bunga api dialun alun kota. Disana sangat ramai, katanya sih untuk merayakan hari ulang taun anak pemilik sebuah perusahaan besar," Ucap Kinara.


"Iya Kak, jadi setiap tanggal itu mereka akan menyalakan petasan dilangit langit malam. Bahkan momen itu sangat ramai, apalagi melihat dialun alun kota jadi kelihatannya sangat indah,"


"Pantas saja Kinara ingin lihat pesta bunga api itu," Guman Ana sambil menatap anaknya yang kini tengah fokus mendengarkan ucapan dari Siska.


"Apakah dikota sangat ramai sekali, Tan? Terus banyak yang jualan mainan dong?" Tanya Kinara dengan antusiasnya.


"Iya, ramai banget disana, Nara. Yang jualan pun ada disepanjang jalan, jadi seluruh kota menikmati acara pesta bunga api itu. Entah habis berapa puluh juta untuk membeli bunga api sebanyak itu,"


"Pasti dia sangat kaya raya, Tan. Pasti beruntung banget jadi anaknya," Ucap Kinara berandai andai.


Melihat anaknya yang terus fokus dengan pembicaraan dari Siska, membuat Ana tersenyum tipis. Padahal, Ayah Kinara juga adalah orang yang kaya raya, akan tetapi kini hidupnya sederhana dan hanya tinggal bersama dengan orang asing yang telah menjadi keluarga bagi keduanya.


"Pasti, ulang tahun anaknya saja semeriah itu, apalagi yang lainnya," Siska pun seakan akan tengah menerawang jauh kedepan.


*****


Ana dan Siska kini tengah bersiap siap untuk pergi ke alun alun kota sesuai dengan permintaan dari Kinara, keduanya memakai pakaian yang serasi warnanya. Pakaian panjang dengan cadar yang menutupi sebagian wajahnya, dan meninggalkan hanya mata yang terlihat.


"Mama ayo! Nanti telat lihatnya," Kinara terus berteriak tidak sabaran untuk melihat acara pesta bunga api itu.


"Nara, ini baru selesai sholat isya'. Pestanya akan dimulai nanti waktu pukul 10 malam, jadi masih banyak waktu," Ucap Siska.


"Apakah selarut itu, Sis? Kalo Kinara mengantuk nanti gimana?" Tanya Ana.


Dirinya sebenarnya tidak ingin mengajak Kinara untuk melihat pesta tersebut karena waktunya yang terlalu malam itu. Akan tetapi, Kinara yang terus memaksanya membuatnya mau tidak mau harus membawanya untuk melihat pesta bunga api tersebut.


"Iya Kak, kalo dia mengantuk nanti kita naik becak saja. Biar bisa diantarkan pulang sampai depan rumah," Saran Siska.


"Ngak usah berangkat deh, Sis. Nara kan ngak pernah begadang," Ucap Ana yang tidak tega dengan Kinara yang harus begadang malam ini.

__ADS_1


"Ah Mama ngak asik! Katanya tadi mau lihat sama Nara sama Tante, kenapa ngak jadi?" Tanya Kinara dengan sebalnya kepada Ana.


"Nara tau kan waktunya sangat malam, Nak. Mama ngak mau Nara begadang,"


"Nara marah sama Mama!" Teriak Nara sambil membuang muka dari hadapan Ana.


"Iya deh iya, ayo berangkat sekarang. Mama sudah panggilkan becak kok tadi," Ucap Ana.


"Beneran, Ma?" Wajah Kinara pun kembali bersinar dengan cerahnya.


"Iya anakku sayang."


Kinara merasa sangat disayangi oleh Ibunya itu, dirinya pun tersenyum dengan manisnya kearah Ana. Ketiganya langsung bergegas untuk menuju ke alun alun kota, tempat dimana mereka bisa melihat letusan bunga api dilangit langit kota dimalam hari itu.


Kinara sangat menikmati perjalanan itu, jarak antara rumahnya dan alun alun kota memang agak jauh, akan tetapi Kinara tidak mau melewatkan apapun selama perjalanan itu. Melihat anaknya yang sangat antusias itu, membuat Ana menatap kearah anaknya dengan senyuman dibalik cadar yang dirinya pakai.


"Tante, apa disana sangat ramai?" Pertanyaan itulah yang sejak tadi diulang ulang oleh Kinara.


"Nara, kan sudah dibilang sama Tante tadi. Sudah 10 kali loh, Nara tanya seperti itu," Ucap Ana.


"Ma, kan aku hanya penasaran. Lagian Nara juga ngak pernah lihat bunga api yang banyak, penjual mainan yang banyak, terus ramai lagi. Nara jadi ngak sabar," Ucap Kinara sambil mengingat ingat perkataan dari Siska.


"Nanti jangan jauh jauh dari Mama atau Tante, pokoknya harus pegangan sama Mama," Ucap Ana.


"Iya Mama,"


Meskipun mereka berangkat hanya naik becak, akan tetapi Kinara sangat menikmatinya. Tak beberapa lama kemudian, ketiganya telah sampai dilokasi tujuan mereka, yakni alun alun kota. Tempat dimana Nadhira dan Rifki sering bersama sama, dan berbagi canda dan tawa.


"Waw.... Ma, rame banget," Ucap Kinara kagum melihat tempat yang teramat sangat ramai itu.


"Nara suka?" Tanya Ana.


"Nara suka banget, Ma. Banyak orang ya, Ma? Udah kayak semut aja," Ucap Kinara yang kagum melihat banyaknya orang yang ada dialun alun kota malam itu.


Ana pun mengusap kepala anaknya itu, dirinya lalu mengajak Kinara untuk masuk kedalam alun alun kota, dan ketiganya pun masuk kedalam alun alun tersebut. Perhatian Ana pun tak sengaja melihat beberapa orang dengan pakaian yang dirinya kenali, logo ular kobra yang sangat dirinya kenal.


"Anggota Gengcobra disini? Apa acara ini Rifki yang buat?" Guman Ana pelan dan tidak dapat didengar oleh kedua orang yang bersamanya itu.


Ana terus memperhatikan beberapa orang yang berpakaian serba hitam dengan logo sebuah ular kobra dibaju mereka. Dirinya nampak melihat begitu banyak anggota Gengcobra yang ada disana, ketika dirinya menyadari bahwa adanya orang yang memakai baju dengan logo ular kobra itu.


Anggota Gengcobra itu sepertinya tengah berpencar untuk menjaga keamanan sekitar acara tersebut diadakan, melihat itu hanya membuat Ana beberapa kali menunduk jika berpapasan dengan anggota Gengcobra. Dirinya tidak ingin mereka mengenalinya, sehingga identitasnya akan terbongkar dan Kinara yang akan dalam bahaya.


"Mama kenapa?" Tanya Kinara ketika melihat Mamanya terus menundukkan kepalanya.


"Ngak papa, Mama hanya tidak terlalu suka dengan keramaian," Ucap Ana beralasan.


"Yah, Mama ngak asik. Kan kita datang untuk menikmati keramaian, kenapa malah ngak suka?" Ucap Kinara dengan nada polosnya.


Ana pun mengajak anaknya itu untuk pergi ke tengah tengah alun alun kota itu, dirinya melihat cukup banyak anggota Gengcobra yang menyebar disana. Keramaian tempat itu ternyata seperempatnya adalah bagian dari anggota Gengcobra, sehingga tempat itu cukup ramai sekali.


Sebuah lapak yang berjualan mainan pun menarik perhatian dari Kinara, hal itu langsung membuat Kinara menarik tangan Mamanya untuk menuju kearah lapak tersebut. Kinara merasa senang ketika diajak pergi ketempat yang ramai seperti itu, bahkan dirinya seakan akan merasa seperti orang yang paling bahagia saat ini.


"Ma, mainannya bagus," Perhatian Kinara kini tengah melihat mainan masak masakan.


"Nara mau?" Tanya Ana.


"Mau Ma, Nara pengen punya itu."


"Baiklah, Mama belikan untuk Nara."


"Makasih Mama,"


Ana langsung membayar mainan yang disukai oleh Kinara itu, dan langsung dikemas oleh penjual mainan itu. Tanpa sengaja Ana melihat sebuah benner yang cukup besar yang bertuliskan nama perusahaan 'Abriyanta Groub' yang terpapang jelas disana.


"Apakah dia sudah punya istri lagi? Terus apakah ini acara ulang tahun anaknya dengan istri barunya?" Guman Ana dengan nada sedikit bergetar menahan kesedihannya.

__ADS_1


Setelah sekian lama tidak bertemu bahkan sampai detik ini pun, rasa cemburu itu masih ada didalam hatinya. Dirinya seakan akan tidak terima jika Rifkinya dekat dengan wanita lain, akan tetapi dirinya juga tidak bisa untuk bersama dengan Rifki saat ini.


Perasaannya kini terasa campur aduk, disaat mengetahui bahwa pesta bunga api itu diadakan oleh perusahaan Abriyanta grub. Apalagi ketika dirinya mengingat tentang apa yang diucapkan oleh Siska sebelumnya, bahwa pesta bunga api itu diadakan untuk merayakan hari ulang tahun anak seorang pemilik perusahaan besar.


__ADS_2