
Dokter tersebut pun memeriksa Rifki, hasil pemeriksaannya sudah normal semua akan tetapi tubuh Rifki masih terlihat begitu lemah, ia pun menyuntikkan sebuah obat kepada infusan Rifki dan hal itu membuat Rifki memejamkan matanya dengan sangat eratnya.
"Apa kau takut dengan suntikan Rif? Hehe, kenapa ekspresinya ketakutan gitu?" Tanya Nadhira sambil tertawa lirih.
"Ngak, mana mungkin Tuan Muda Rifki takut hanya dengan jarum sekecil itu, hanya saja tangan kiriku sudah sangat lelah dengan rasa perih karena obat yang masuk, sejak tadi sudah begitu banyak suntikan yang diberikan kepadaku Dhira".
"Kira in kamu takut dengan dengan jarum suntikan sampai sampai memejamkan mata seperti itu, eh iya ya, kenapa bisa Tuan Muda Abriyanta punya rasa takut? Bukannya ngak punya ya?".
Rifki pun tersenyum, setelah pemeriksaannya selesai kini giliran Nadhira yang diperiksa oleh Dokter tersebut, Nadhira pun disuntik olehnya dibagian selang infusnya dan dirinya juga melakukan hal yang sama seperti Rlifki ketika jarum suntik tersebut ditancapkan diselang infus Nadhira.
"Kau juga takut rupanya Dhira, ku pikir Tuan Puteriku ngak ada rasa takutnya".
"Ngak kok, aku hanya meniru dirimu saja".
"Dasar peniru yang handal".
"Hehe... Dok, apa infusku tidak boleh dilepas? Aku merasa sudah baik baik saja, lagian aku juga tidak terluka hanya saja aku tidak sadarkan diri hanya karena kelelahan saja kok Dok".
"Dari hasil pemeriksaan Mbaknya sudah membaik, sudah diizinkan untuk melepaskan infusnya".
Nadhira merasa sangat senang mendengarnya, Rifki pun merasa demikian, itu artinya Nadhira benar benar sedang baik baik saja, Rifki pun meminta kepada Bayu untuk menemani Nadhira kebagian admistrasi, untuk melepaskan infusnya.
Kepergian Nadhira dari tempat itu membuat Rifki kembali melanjutkan tidurnya, karena dirinya merasa seperti energi yang ada didalam tubuhnya itu terkuras begitu banyak sehingga dirinya merasa sangat lelah sekaligus terlihat lemah, akan tetapi karena bantuan dari infus dan juga donor darah itu membuatnya masih dapat memiliki sebuah energi untuk tetap mempertahankan kesadarannya.
Rifki belum mampu untuk menggerakkan tubuhnya karena tubuhnya seakan akan tengah mati rasa, dirinya hanya mampu menggerakkan tangan kanannya saja sementara tangan kirinya terlalu nyeri untuk digerakkan karena adanya selang infus yang tertancap disana.
Setelah 2 jam berlalu, Rifki kembali membuka kedua matanya akan tetapi Nadhira belum juga datang ketempat itu, padahal untuk melepaskan sebuah infus yanga dan ditangan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja
"Bay! Bay!" Rifki mencoba mengeraskan suaranya untuk memanggil Bayu.
Mendengar panggilan itu membuat Vano yang sedang berjaga diluar ruangan tersebut segera masuk kedalam untuk memeriksa keadaan Rifki yang tiba tiba berteriak seperti itu, ia takut kalau Rifki kenapa kenapa didalam.
"Apa apa Tuan Muda? Apa anda baik baik saja?" Tanya Vano dengan cemas.
"Dimana Bayu?".
"Tuan Bayu dan Reno sedang mengantarkan Nona Nadhira, Tuan Muda".
"Apa mereka belum balik? Kemana mereka?".
"Tuan Bayu tadi bilang kalau Nona Dhira ingin memeriksa keadaan Omanya dirumah, Nona Dhira takut kalau terjadi sesuatu dengannya, jadi Nona memutuskan untuk memeriksanya terlebih dahulu".
"Baiklah kau bisa kembali".
"Apa Tuan Muda membutuhkan sesuatu?"
"Tidak, aku hanya ingin tau kenapa Nadhira begitu lama kembalinya".
"Apa perlu aku menelepon mereka untuk segera membawa Nona Dhira kemari Tuan Muda?".
"Tidak perlu".
"Baiklah Tuan Muda, kalau butuh apa apa panggil saja saya, saya ada di luar bersama yang lainnya".
Rifki mengedipkan matanya dan mengangguk pelan mendengar ucapan Vano, dan hal itu membuat Vano segera bergegas keluar dari ruang rawat Rifki untuk membiarkan Tuan Muda nya itu istirahat kembali.
Rifki kembali memejamkan matanya setelah mendengar penjelasan dari Vano, ia merasa sedikit tenang karena Bayu dan Reno yang mendampingi Nadhira untuk pulang kerumahnya, sehingga tidak ada hal yang perlu untuk dikhawatirkan.
"Tuan Muda, sampai kapan kau akan tertidur, sudah waktunya makan sore" Ucap seorang gadis yang berbisik kepada Rifki.
Rifki merasa baru sebentar dirinya memejamkan matanya akan tetapi suara gadis itu membuatnya mengernyitkan dahinya, perlahan lahan dia mulai membuka kedua matanya dan menatap kearah gadis itu yang kini tengah tersenyum kepadanya.
"Sejak kapan kau datang Dhira?" Tanya Rifki.
"Baru sebentar sampai disini, ayo makan dulu, aku buatkan bubur hangat untukmu, aku tau kau tidak terlalu suka manis, aku buatkan kuah gurih khusus untukmu".
Nadhira pun segera meninggikan tempat tidur tersebut dibagian kepalanya, dan hal itu membuat Rifki mampu duduk dan bersandar diatas kasurnya, tubuh Rifki hanya berbalut dengan kain selimut yang sedikit tipis dengan banyak selang yang ada tertempel di dadanya.
Nadhira segera membuka sebuah kotak yang ia bawa sebelumnya, dan menuangkan sedikit kuah diatas bubur hangat tersebut, seketika semerbak bau harum masakan tersebut tercium oleh Rifki.
"Bagaimana keadaan Oma? Apa Oma baik baik saja?" Tanya Rifki sambil melihat kearah Nadhira yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk Rifki.
__ADS_1
"Alhamdulillah Oma baik baik saja Rif, sejak kita pergi meninggalkannya waktu itu, Oma bilang dia bersembunyi dikamar itu, sehingga mereka tidak mengetahui keberadaan Oma, yang mereka ketahui bahwa aku dan kamu telah kabur dari kamar itu"
"Syukurlah kalau begitu".
Nadhira pun segera menyuapi Rifki dengan bubur yang masih hangat itu, Rifki pun membuka mulutnya agar bubur tersebut mampu masuk kedalam perutnya, Rifki mengunyahnya sebentar setelah itu dia langsung menelannya.
"Enak Rif?"
"Sangat enak Dhira, perutku merasa hangat".
"Ya sudah ayo buka mulutmu lagi".
Nadhira pun menyuapi Rifki dengan perlahan lahan, setelah bubur yang ia bawakan telah tandas dimakan oleh Rifki, Nadhira pun membantu Rifki untuk meminum air putih yang ada digelas menggunakan sebuah sedotan, entah mengapa perhatian Nadhira kali ini membuat Rifki merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan sosok seperti Nadhira.
"Vano bilang kau mencariku tadi, ada apa?"
"Apa yang dikatakan oleh Vano kepadamu Dhira?".
"Dia bilang kalau kamu mencariku sejak tadi, sampai sampai kau berteriak memanggil Bayu".
"Kenapa kau pulang tidak bilang bilang kepadaku Dhira, aku hanya khawatir dengan dirimu".
"Maaf ya Rif, bukannya aku bermaksud seperti itu, tiba tiba aku teringat dengan Oma, aku hanya takut Oma dalam bahaya setelah kita meninggalkannya waktu itu Rif".
"Ngak apa apa Dhira, lain kali bilang ya kalo mau kemana mana seperti itu, aku hanya takut kamu kenapa kenapa Dhira".
"Iya Rif".
Tanpa disangka keduanya, ada dua orang yang sedang memperhatikan mereka dari luar ruangan tersebut melalui cendela kaca yang ada diruangan itu, keduanya adalah orang tua Rifki, yakni Haris dan Putri yang sedang memperhatikan keduanya.
"Apa benar permata itu ada didalam tubuh Nadhira? Tanya Putri kepada Haris.
"Iya Dek, aku sendiri masih belum menemukan cara untuk mengeluarkannya".
"Mas, apakah tidak ada cara lain untuk hal itu? Nadhira adalah anak yang baik, dan keduanya saling menyayangi sepertinya, aku tidak akan sanggup untuk memisahkan keduanya".
"Tapi kita harus melakukan itu, aku tidak ingin kehilangan anak laki laki pertama kita Dek, jika keduanya sampai menikah, maka itu adalah sebuah bencana yang sangat besar".
"Cinta bisa datang karena terbiasa, mungkin dengan menjauhkan Nadhira dari Rifki maka keduanya akan terbiasa dengan kehidupan mereka masing masing".
"Bukankah kau sudah mencobanya Mas? Bahkan telah memisahkan mereka bertahun tahun lamanya, tapi apa hasilnya? Keduanya tidak pernah saling melupakan satu sama lain".
"Mereka harus berpisah, biar bagaimanapun caranya mereka tidak boleh bersama".
Keduanya memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Nadhira saat ini, nampak sekali keduanya terlihat sedang bergurau satu sama lain, suasana didalam ruangan itu nampak begitu hangat dan penuh dengan kenyamanan.
Disatu sisi Nadhira merasa begitu nyaman karena Rifki ada disampingnya, meskipun kondisi Rifki masih belum stabil akan tetapi Rifki berusaha untuk bisa tersenyum kearah Nadhira.
"Rifki, apa kau mau buah? Biar aku kupaskan untukmu buat cemilan"
"Boleh Dhira".
"Ya sudah bentar ya".
Nadhira segera bangkit dari duduknya dan meraih sekeranjang buah buahan yang ada diatas almari kecil yang ada disebelah Rifki, Nadhira pun mengambil sekeranjang buah tersebut dan mengarahkannya kepada Rifki.
"Kamu mau buah yang mana? Silahkan dipilih, tapi jangan lupa untuk membayarnya ya, hehe..".
"Apa saja bisa Dhira".
"Bagaimana kalau apel merah?"
"Boleh".
"Tapi apel hijau lebih manis deh kayaknya, yakin mau apel merah Rif?".
"Terserah kamu Dhira".
"Ya sudah buah pisang saja, lebih mudah untuk dikunyah daripada lainnya".
"Jauh banget dari pilihannya".
__ADS_1
"Sudah jangan banyak protes lagi Rif, nanti aja kalau mau protes, protes aja langsung sama presidennya, soalnya uang PKH belum keluar bulan ini".
"Kamu menantikan uang PKH Dhira?".
"Ngak bukan aku, tapi warga yang cukup mampu tapi mendapatkan PKH, sementara rakyat miskin malah ditelantarkan tanpa bantuan".
"Lalu ngapain membahas uang PKH?".
"Noh otor belom dapet uang PKH soalnya, entah kapan dapetnya, kasihan banget kan dia".
(Author : Yah otor kena lagi deh, asihan sekali ya kamu Author, otor sembunyi dulu ya biar ngak jadi sasaran tuh orang, diikuti ikutkan mulu nih ceritanya, lanjut lagi ah ngetiknya )
Nadhira segera menaruh kembali keranjang buah buahan itu ketempat semula setelah mengambil buah pisang, setelah itu Nadhira mengupas pisang tersebut dan memotongnya menjadi kecil kecil agar Rifki mampu memakannya dengan mudah.
Rifki memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Nadhira, Nadhira tengah sibuk memotong buah untuk Rifki akan tetapi poni rambutnya selalu menganggunya hingga beberapa kali Nadhira harus menyibakkan rambutnya dengan susah payah.
"Nah akhirnya selesai juga".
Nadhira pun mengambil sebuah sendok dan menyuapkannya buah tersebut kepada Rifki, sementara Rifki hanya membuka mulutnya agar buah itu mampu masuk kedalamnya.
"Dikunyah sampai halus, kau tidak boleh memakan yang kasar atupun keras dulu, karena perutmu masih terluka Rifki".
"Iya Dhira".
Nadhira mengangguk kepada Rifki dan terus menyuapinya dengan buah buahan yang telah ia potong terlebih dahulu tadi, setelah selesai memakan buah tersebut Nadhira segera membereskan peralatan tersebut.
"Dhira" Panggil Rifki.
"Iya ada apa Rif? Apa yang kau butuhkan?".
"Akhirnya saat ini aku juga merasakan apa yang pernah kamu rasakan waktu itu Dhira, aku tidak tau seberapa sakitnya dirimu waktu itu karena telah melindungi diriku, kau bahkan sampai mengalami kritis gara gara diriku".
"Rifki, itu semua sudah berlalu, dan itu juga bukanlah kesalahanmu kok, karena aku sudah pernah merasakan sakit itu sebelumnya oleh karena itu aku tidak sanggup untuk melihatmu terluka seperti kemarin Rif, dan itu sangat menyakitkan bagiku" Ucap Nadhira sambil mendekatkan wajahnya kepada Rifki yang tengah terbaring dan mengusap pelan kepala Rifki.
"Entah kebaikan seperti apa yang kau miliki Dhira, kau bahkan rela melakukan apapun demi orang lain tanpa mempedulikan nyawamu sendiri".
"Rifki, selama aku masih bisa membantu yang lainnya, aku merasa bahagia meskipun akhirnya aku mati, aku akan merasa sangat tenang karena hidupku tidak menjadi sia sia".
"Maafkan aku karena telah merepotkan dirimu Dhira".
"Aku ikhlas melakukan ini Rif, dan aku tidak merasa direpotkan oleh dirimu, kau adalah teman terbaikku selama ini, dan aku akan melakukan apapun asalkan dirimu bahagia Rif".
"Terima kasih Dhira, kau yang terbaik bagi diriku, bagiku tidak ada wanita lain selain dirimu yang memiliki hati seperti seorang malaikat".
"Kau juga adalah sahabat terbaikku, kau terlalu memuji Rif, padahal diriku juga tidak sebaik itu, dunia ini sangat luas, dan masih banyak orang yang lebih baik dari diriku kok".
"Aku tau itu Dhira, tapi aku hanya menginginkan dirimu saja, bukan yang lainnya".
*****
Nadhira merawat Rifki dengan begitu tulus beberapa hari belakangan ini, hingga akhirnya kondisi Rifki perlahan mulai membaik dan seluruh alat medis yang tertempel didadanya sudah dilepaskan oleh dokter sehingga hanya tertinggal selang infus saja yang masih terpasang ditangan kiri Rifki.
"Dhira, aku merasa bosan dikamar rawat terus" Ucap Rifki tiba tiba setelah Nadhira selesai menyuapinya.
"Baiklah, aku akan meminta kepada Bayu untuk mengambilkan kursi roda untukmu, kita akan jalan jalan ditaman rumah sakit".
"Beneran?".
"Kenapa tidak Rifki?" Tanya Nadhira sambil menyentuh pipi Rifki.
Nadhira segera memanggil Bayu untuk membawakan sebuah kursi roda kekamar inap Rifki, Bayu pun langsung bergegas mengambilkannya dan membantu Nadhira untuk menaikkan tubuh Rifki keatas kursi roda tersebut.
Nadhira segera mendorong kursi roda tersebut menuju kesebuah taman yang ada ditempat itu dengan senyuman yang mengembang, sementara Bayu mengikuti keduanya sambil membawakan botol infus yang terpasang ditangan Rifki.
Ketiganya segera berhenti disebuah taman bunga yang ada didalam rumah sakit tersebut, Nadhira dan Bayu pun duduk disebuah tempat duduk yang disediakan diarea taman itu, ketiganya menatap kearah sebuah air mancur yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Ini sangat menyegarkan Dhira, setelah sekian lama dikurung salam ruang rawat inap" Ucap Rifki yang menikmati sejuknya air mancur.
"Mangkanya cepat sembuh, biar bisa jelajah dijalanan lagi, bukankah itu adalah hal yang sangat menyenangkan Rif" Ucap Bayu.
"Siapa juga yang ngak mau sembuh? Kalau bisa, sudah aku lakukan sejak pertama masuk rumah sakit, tanganku rasanya sangat nyeri karena infus ini, apalagi dengan obat obatan yang disuntikkan itu" Gerutu Rifki karena ucapan Bayu.
__ADS_1