Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Jangan bius aku


__ADS_3

Rifki dan Nadhira terus berusaha untuk menjaga satu sama lain, sehingga keduanya tidak akan membiarkan salah satu diantara mereka yang bisa terluka. Rifki terus berusaha untuk melindungi Nadhira begitupun sebaliknya, tanpa membiarkan orang yang dicintainya terluka begitu saja.


"Akh..." Pekik Rifki sambil memegangi dadanya yang tiba tiba terasa nyeri.


"Rifki!" Teriak Nadhira panik.


Nadhira pun langsung memegangi tubuh Rifki yang sedikit hoyor karena sebuah serangan, dirinya pun tidak segan segan untuk melontarkan serangan balik kearah orang tersebut. Nadhira tidak tau lagi harus berbuat apa sekarang sekalian melindungi Rifki, bahkan kondisi tubuh Rifki tidak memungkinkan untuk bisa menumbangkan musuh musuhnya itu.


"Dhira pergilah, selamatkan nyawamu. Jangan pedulikan diriku," Ucap Rifki ditengah tengah rasa sakitnya itu.


"Kamu mengusirku, Rif?" Tanya Nadhira tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar itu.


"Aku tidak punya pilihan lain, Dhira. Aku nggak mau kamu terluka gara gara aku,"


"Tidak! Aku tidak mau pergi meninggalkan dirimu,"


"Jangan keras kepala, Sayang. Pergilah, aku akan disini untuk menghalangi mereka agar kamu bisa lari dari tempat ini,"


"Aku tidak akan menerima keputusanmu itu!"


Nadhira langsung bergegas untuk menyerang mereka demi melindungi Rifki. Rifki sudah tau bahwa nantinya Nadhira pasti akan menolak permintaannya itu, karena wanita itu tidak akan membiarkan apapun yang terjadi kepada orang yang dicintainya. Bahkan Nadhira tidak mempedulikan luka sayatan ditangannya saat ini, asalkan dirinya bisa untuk melindungi Rifki, maka apapun pasti akan dirinya lakukan untuk itu.


"Dhira, dengarkan aku, akh...."


Rasa sakit didadanya pun semakin parah, hal itu membuatnya sampai memekik kesakitan. Nadhira yang mendengarnya pun langsung kembali menoleh kearah Rifki, dirinya pun langsung melontarkan sebuah tendangan memutar hingga mampu untuk menjatuhkan beberapa orang yang saat ini tengah mengelilinginya itu.


"Jika hal ini diteruskan, maka kau akan kehilangan semuanya termasuk juga orang yang kau cintai itu." Sebuah suara yang menggema didalam ingatan Nadhira, Nadhira tidak mau jika hal itu sampai terjadi kepada orang orang yang disayanginya.


"Rifki, kamu kenapa?" Tanya Nadhira khawatir.


"Pergilah Dhira, jangan pedulikan aku saat ini. Selamatkan nyawamu, itu jauh lebih penting daripada hidupku sendiri,"


"Nggak Rif, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu."


"Jangan keras kepala, Dhira. Aku nggak mau kamu sampai kenapa kenapa,"


"Aku tidak peduli dengan nyawaku sendiri, Rif."


Nadhira sangat keras kepala, dirinya bahkan tidak mau untuk mendengarkan ucapan dari Rifki yang menyuruhnya untuk pergi menyelamatkan dirinya sendiri. Bukan Nadhira namanya jika pergi begitu saja tanpa menyelamatkan orang yang dicintainya, bahkan dirinya rela untuk kehilangan nyawanya sendiri hanya demi orang yang dicintainya itu.


Nadhira kembali melontarkan sebuah serangan kepada mereka, sekaligus melindungi Rifki dari serangan orang orang itu. Dirinya sama sekali tidak membiarkan mereka untuk bisa mencelakakan orang yang dicintainya itu, bahkan dia tidak memedulikan lukanya sendiri saat ini.


"Aku mohon, selamatkan nyawamu sendiri, Dhira. Jangan pedulikan diriku,"


"Jika harus mati, biarkan aku yang mati lebih dulu daripada dirimu, Rif. Kau tidak akan bisa mengusirku dari sini,"


Sebuah sayatan pun langsung diterima oleh Nadhira hingga membuat tangannya kembali mengeluarkan darah segar, akan tetapi Nadhira sama sekali tidak mempedulikan lukanya itu dan dirinya bahkan terus berusaha untuk berjuang demi menyelamatkan nyawa dari orang yang dicintainya itu.


"Jika hal ini diteruskan, maka kau akan kehilangan semuanya termasuk juga orang yang kau cintai itu." Suara itu kembali didengar oleh Nadhira karena suara itu terus terngiang didalam ingatannya.


Nadhira semakin bingung dibuat oleh ingatannya itu, dirinya tidak mau kalau Rifki sampai kenapa kenapa. Sekarang Nadhira nampak begitu bimbang, dirinya tidak bisa langsung membuat keputusan saat ini, akan tetapi ketika melihat Rifki yang terus kesakitan seperti itu.


"Dhira, pergilah." Rifki pun sedikit mendorong tubuh Nadhira untuk menjauh dari dirinya.


"Nggak akan! Kau tidak bisa memaksaku, Rif!" Sentak Nadhira yang tidak mau meninggalkan Rifki.


Rifki tidak ingin jika Nadhira sampai kenapa kenapa karena dirinya yang lemah, apalagi dirinya yang saat ini tidak bisa untuk melindungi Nadhira. Dia tidak mau jadi beban untuk istrinya, apalagi melihat Nadhira yang sampai meneteskan darahnya itu.


"Terimalah tawaranku, atau nyawa suamimu dalam bahaya. Ingatlah, nyawa Rifki ada didalam genggamanku saat ini, dan aku bisa saja untuk membunuhnya sekarang jika aku mau. Kau tidak akan bisa berbuat apa apa,"

__ADS_1


"TIDAK!" Bentak Nadhira sampai menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya itu.


Suara itu lagi lagi menganggu konsentrasinya untuk bertarung, bahkan dirinya tidak mampu untuk fokus dalam pertarungan itu. Melihat wajah Rifki yang terlihat sedikit pucat, membuat Nadhira menjadi semakin panik karenanya.


"Kamu kenapa, Dhira?" Tanya Risda yang mendengar teriakan dari Nadhira itu.


"Aku nggak papa."


"Rupanya kau tidak mau menyerah dengan mudah, ya? Diriku sangat terharu dengan cinta kalian yang sia sia itu, mati berdua bukannya jauh lebih baik?" Tanya salah satu dari orang yang menyerang mereka secara bersama sama.


"Langkahi mayatku lebih dulu sebelum kau mampu untuk mencelakai suamiku!" Ucap Nadhira dengan tegasnya kepada orang itu.


Nadhira lagi lagi segera melakukan serangan kearah mereka untuk melindungi Rifki, Nadhira tau bahwa Rifki sudah tidak sanggup untuk bertarung lagi. Sehingga dirinya harus berjuang seorang diri untuk menyelamatkan orang yang paling dicintainya itu, tanpa mempedulikan nyawanya sendiri.


"Terimalah tawaranku, atau nyawa suamimu dalam bahaya. Ingatlah, nyawa Rifki ada didalam genggamanku saat ini, dan aku bisa saja untuk membunuhnya sekarang jika aku mau. Kau tidak akan bisa berbuat apa apa,"


Lagi lagi suara itu pun didengar oleh Nadhira, seakan akan suara tersebut tengah menghantui pikirannya saat ini. Dirinya pun sadar mengenai situasi dan kondisinya saat ini, bahkan dirinya tidak akan sanggup untuk mengalahkan mereka semua untuk saat ini, dan bahkan tenaga mereka seakan akan tidak ada habisnya.


Tanpa sepengetahuan Rifki, Nadhira memberikan sebuah kode kepada seseorang yang berada tidak jauh dari lokasi pertarungan itu. Nadhira berusaha sebisa mungkin agar tidak diketahui oleh Rifki, karena tidak mau membuat Rifki cemas atas tindakannya yang mampu membahayakan nyawanya sendiri.


Shutt.. Shutt.. Shutt..


Tiba tiba sebuah jarum yang sangat kecil meluncur kearah mereka, dan tiba tiba tubuh orang yang menyerang Nadhira dan Rifki pun terjatuh ditanah dengan perlahan lahan. Rifki yang melihat itu pun sangat terkejut, dirinya tidak tau mengapa orang orang yang melawannya seketika terbaring tidak sadarkan diri ditanah yang dirinya pijaki.


"Apa yang terjadi? Kenapa tiba tiba mereka berjatuhan seperti itu?" Tanya Rifki sambil melihat sekelilingnya itu.


"Aku tidak tau, Rif. Kenapa mereka bisa jatuh? Aku juga merasa bingung,"


"Sepertinya ada yang tidak beres disini, Dhira. Bagaimana jika ada seseorang yang sengaja memanfaatkan hal ini untuk memperlemah kita?"


"Jangan dipikirkan lagi soal itu, Rif. Aku juga bingung kenapa mereka bisa berjatuhan seperti ini, yang terpenting kita selamat,"


"Entahlah, Dhira. Kamu nggak apa kan?" Tanya Rifki sambil memeluk tubuh Nadhira.


"Aku nggak papa."


Rifki pun memeluk tubuh Nadhira dengan eratnya, seakan akan dirinya tidak ingin kehilangan sosok Nabi untuk yang kedua kalinya bagi dirinya itu. Tanpa diketahui oleh Rifki, bahwa kini Nadhira sendiri pun menangis didalam pelukan suaminya itu, dirinya juga sangat merindukan pulukan hangat dari seorang yang paling dicintainya itu.


Rifki pun menangis sesenggukan dan sangat bersyukur karena Nadhira telah kembali kepadanya saat ini, mendengar suara isakkan tangis Rifki membuat Nadhira memakin memeluk tubuh suaminya dengan sangat eratnya. Ada sebuah sayatan yang mendalam dihatinya ketika mendengar isakkan tangis itu, seolah olah disini hatinya yang paling terluka mendengarnya.


"Dhira, kamu benar benar kembali kepadaku, kan? Kamu tidak akan pernah meninggalkan aku lagi kan, sayang? Aku nggak mau berpisah denganmu lagi, cukup sekian lama aku menunggumu pulang, dan baru kali ini kau datang untukku. Dhira, jangan pergi lagi ya?" Suara Rifki terlihat kacau, dirinya benar benar tidak mampu untuk menahan tangisannya itu.


Rifki merasa sangat bahagia karena Nadhira telah kembali kepadanya saat ini, dirinya tidak mau kehilangan Nadhira lagi untuk saat ini. Nadhira tidak bisa berkata kata saat ini, bahkan dirinya tidak sanggup untuk mendengarkan tangisan Rifki yang terdengar sangat menyayat itu.


"Maafkan aku, Rif. Maafkan aku, karena aku harus melakukan tugasku," Ucap Nadhira dengan lirih.


Karena keduanya kini tengah berpelukan sehingga Rifki masih mampu untuk mendengar suaranya itu, dan Rifki tidak mau untuk melepaskan pelukannya dari orang yang dicintainya itu. Nadhira merasa nyaman berada didalam pelukan Rifki, pelukan yang selama ini dirinya rindukan itu dan akhirnya dia mampu untuk merasakannya lagi.


"Kita lakukan secara bersama sama, Dhira. Aku tidak mau kamu pergi lagi dalam hidupku," Rifki mengusap pelan belakang kepala Nadhira yang semakin membuat Nadhira merasa sangat nyaman.


Nadhira pun menjauhkan tubuhnya dari pelukan Rifki untuk memandang kearah wajah suaminya itu, kedua tatapan itu kini tengah saling bertemu. Ada sebuah rindu yang teramat sangat mendalam didalam hati keduanya, rindu yang tidak mampu untuk dijelaskan akan tetapi mampu untuk dirasakan oleh keduanya.


"Kamu adalah cinta pertama dan cinta terakhir dalam hidupku, Rif. Suatu hari kamu akan tau tentang apa yang aku lakukan saat ini, ini semua demi kebaikan kita berdua. Aku harap kamu bisa hidup lebih baik lagi kedepannya, aku selalu berdoa demi kebahagiaanmu, Sayang. Jaga diri baik baik,"


"Maksud kamu apa, Dhira? Kebaikan apa yang kamu maksudkan itu? Ini sama sekali tidak adil bagiku. Jangan pergi lagi, aku tidak mau kehilangan dirimu lagi, Sayang. Aku sangat mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri. Kau tau hidupku tanpa dirimu, sayang? Aku begitu hancur hingga tidak ada yang tersisa dari hidupku,"


"Maafkan aku,"


"Apa yang kamu katakan, Dhira? Apa kamu tidak akan kembali kepadaku lagi? Kenapa?"

__ADS_1


"Rif, aku mohon mengertilah tentangku. Aku sangat mencintaimu,"


"Jika kau mencintaiku, kenapa kau tidak mau kembali kepadaku, Dhira? Kenapa kamu melakukan itu kepadaku? Apa salahku padamu?"


Rifki memegangi pundak Nadhira dengan kedua tangannya untuk menunggu jawaban dari Nadhira, dirinya tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Nadhira kepadanya saat ini. Tatapan yang begitu melekat diwajah Rifki, membuat Nadhira meneteskan air matanya karena tidak mampu untuk berkata yang sejujurnya kepada Rifki.


"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, Dhira?" Tanya Rifki lagi karena dirinya tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.


"Rasa cintaku begitu besar kepadamu, Rif. Sangking besarnya sampai sampai aku tidak mau kau kenapa kenapa hanya untukku, aku hanya menginginkan dirimu bahagia. Walau tanpa adanya diriku,"


"Nggak Dhira. Kebahagiaanku hanya bersamamu, bagaimana aku bisa bahagia tanpa dirimu disampingku saat ini?"


Rifki pun kembali menjatuhkan pelukannya kedalam tubuh Nadhira, dirinya benar benar sangat merindukan istri tercintanya itu. Dirinya memeluknya cukup lama untuk mengobati rasa rindunya, bahkan karena begitu dekatnya tubuh keduanya, hal itu membuat Nadhira sampai mendengar hembusan nafas Rifki yang terlihat memburu.


"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Kita akan memulai kehidupan baru, aku tidak mau kita berpisah lagi, aku mohon jangan pergi lagi dariku, Dhira. Aku tidak mau kehilanganmu lagi," Ucap Rifki.


"Kita akan memulainya kembali, tapi tidak sekarang, Rif. Maafkan aku, masih ada tugas yang harus aku lakukan sebelum kembali kepadamu, dan aku harus menyelesaikan semuanya."


"Kenapa tidak kita selesaikan bersama sama? Bagaimana bisa aku membiarkan dirimu menyelesaikan semuanya sendiri?"


"Maafkan aku."


Nadhira pun memejamkan matanya dengan rasa bersalah yang begitu besar, dirinya terus mengatakan maaf berulang ulang kali kepada Rifki. Tiba tiba Rifki pun merasakan sebuah benda yang tajam menembus kekulitnya bagian punggung, benda itu seperti sebuah jarum suntik yang memasukkan sebuah obat ditubuh Rifki.


"Akh..."


"Maafkan aku," Ucap Nadhira sambil membuang benda berupa suntikan itu.


"Apa yang kau lakukan, Dhira? Akh... Kenapa kau melakukan ini kepadaku?" Rifki pun merasa nyeri akibat jarum suntik itu.


"Maafkan aku, Rif. Aku benar benar minta maaf kepadamu, maafkan aku yang harus memberimu obat bius," Nadhira pun terisak lirih akan tetapi begitu sangat menyayat hati.


"Dhira. Kenapa kau harus menyuntikkan obat bius kepadaku? Aku mohon jangan bius diriku, aku nggak mau kamu pergi, Dhira. Kenapa kau membiusku?"


"Aku tidak punya pilihan lain, Sayang. Aku harus pergi untuk melakukan tugasku, kita akan bersama jika tugasku telah selesai, Rif. Aku tidak mau kau kenapa kenapa karena diriku, setelah ini aku akan membawamu pulang dan jangan cari diriku sampai aku kembali dengan sendirinya. Aku tau ini sangat menyakitkan bagimu, aku akan selalu ada disampingmu untuk menjaga dirimu,"


"Jangan pergi lagi, Dhira. Aku tidak mau itu terjadi lagi,"


"Tunggulah aku pulang setelah menyelesaikan semuanya."


"Aku akan menunggumu sayang, cepatlah kembali," Suara Rifki terasa sangat berat dan bahkan tubuhnya sangat melemah akibat obat bius itu.


Nadhira memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya, dirinya harus melakukannya meskipun hatinya begitu sakit saat ini. Perlahan lahan kesadaran Rifki pun memudar, hanya ada pandangan gelap yang tengah menyelimuti dirinya itu. Nadhira memeluknya sangat erat, dan tidak membiarkan tubuh Rifki terjatuh ketika dirinya sudah tidak sadarkan diri.


"Tidurlah yang nyenyak malam ini, Sayang. Maafkan diriku yang harus melakukan ini kepadamu, aku terpaksa melakukannya Rif, karena aku tidak ingin kau mengetahui identitas samaranku yang akan membuatmu dalam bahaya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian, dan aku akan selalu bersamamu, apapun yang terjadi. Hanya kamu dan anak kita yang aku punya, aku sangat menyayangi kalian berdua. Kalian adalah kekuatanku untuk terus bertahan, hanya kalian."


Nadhira pun mengusap punggung Rifki pelan, dirinya pun menangis sesenggukan ketika merasakan bahwa Rifki sudah tidak sadarkan diri saat ini. Angin malam pun berhembus pelan hingga merasuk kedalam kulitnya, begitu dingin dan juga sangat mencengkeram.


"Tolong bantu aku," Ucap Nadhira entah kenapa siapa.


Tiba tiba muncullah tiga orang dihadapan Nadhira, dua orang lelaki dan seorang perempuan yang langsung berdiri dihadapan Nadhira. Satu wanita dan satu lelaki itu langsung memegangi tubuh Rifki yang sudah tidak sadarkan diri itu, dan Nadhira pun menyentuh pipi Rifki dengan penuh sayang.


"Tolong jaga suamiku, bawa dia pulang dengan selamat. Aku sangat menyayanginya, aku tidak mau dia kenapa kenapa," Ucap Nadhira sambil menatap kearah wajah Rifki yang tengah terpejam kedua matanya itu.


"Iya Dhira, kau tenang saja soal itu. Aku dan istriku akan membawanya pulang dan mengobati lukanya," Ucap lelaki yang tengah memegang Rifki yang menautkan tangan Rifki dilehernya saat ini.


"Kami akan menjaganya dengan baik, Dhira. Kau juga harus jaga diri baik baik, kalau ada apa apa beritahu kami," Ucap wanita itu kepada Nadhira.


"Terima kasih."

__ADS_1


Nadhira pun mendekatkan wajahnya kearah wajah Rifki yang terpejam, Nadhira pun mencium kening Rifki dengan begitu lama. Keduanya paham mengapa Nadhira seperti itu, karena wanita itu tengah sangat merindukan sosok suaminya, rindu yang teramat sangat mendalam didalam hatinya.


"Semoga dendam ini segera berakhir," Ucap sosok lelaki yang tengah berdiri tidak jauh dari mereka.


__ADS_2