
Rifki pun meminta kepada anak buahnya untuk menjalankan mobil tersebut menuju kerumah Syaqila sambil mengantarkan dirinya pulang, melihat mobil yang dinaiki oleh Rifki yang melaju pergi dari tempat itu membuat Nadhira hanya mampu menghela nafas panjang dan terlihat setitik air mata dipelupuk matanya itu.
"Kenapa kau menangis Dhira? Rifki telah menyakitimu tapi kenapa hati kecilmu berkata bahwa Rifki selalu melindungimu, apa yang sebenarnya kau rasakan saat ini" Ucap Nadhira kepada dirinya sendiri.
Nadhira pun mengepalkan tangannya dan memukul sebuah pohon yang ada didekatnya, bertapa sedihnya dirinya saat ini, ia pun terus mencoba mengingat apa yang terjadi kepada dirinya waktu itu, dan perkataan Rifki membuatnya begitu yakin bahwa dia telah melakukan sesuatu kepadanya tanpa dirinya sadari malam itu.
Dirinya pun melangkah pergi dari tempat itu dengan keadaan seperti linglung entah kemana dia akan melangkah saat ini, didalam hatinya hanya ada gejolak yang membuatnya lupa arah jalan pulang, Nadhira yang selalu ceria kini menjadi begitu murung atas perubahan yang dilakukan oleh Rifki.
"Dia bukanlah Rifki, dia bilang Rifki sudah tiada, kenapa aku harus menangis demi orang seperti itu?".
Terlihat seseorang tengah berlari kearahnya dan memanggil manggil nama Nadhira, akan tetapi Nadhira sama sekali tidak mendengarnya hingga orang tersebut menyentuh pundak Nadhira dan seketika Nadhira terkejut melihatnya.
"Non, Non mau kemana?" Tanya orang itu yang tidak lain adalah Pak Mun.
"Ngak tau" Jawab Nadhira dengan malas.
"Haduh Non jangan ngelamun seperti itulah, bahaya Non, mobil kita ada diujung jalan sana, tapi kenapa Non Dhira berjalan kearah yang berbeda".
"Benarkah?"
"Aduh byung Non, untung Non Dhira ngak kesasar tuh tadi, kalo Non hilang bagaimana?".
"Aku bukan anak kecil Pak yang ngak tau rumah sendiri, kalo kesasar ya naik ojek atau taksi buat pulang kerumah".
"Tidak biasanya Non seperti ini, apa Non sedang cemburu? Atau sedang patah hati?".
"Mau aku patahkan tulang Bapak itu?"
"Idih Non, ngak usah marah gitu juga kali, kalo tulang Bapak patah terus ngak bisa bekerja, terus kalo Non mau kemana mana ngak ada yang nganterin dong".
"Kan bisa mencari pengganti Pak Mun, tinggal telepon yayasan saja nanti dateng kerumah tuh sopir baru, kenapa harus repot repot".
"Non mencari orang baru tidak semudah itu, jangankan untuk mup on, mencari pengganti orang pertama tidak akan semudah itu Non".
"Pak Mun benar, bagaimana aku bisa mencari pengganti Rifki, sedangkan Rifki adalah orang pertama yang ada dihatiku" Guman Nadhira pelan.
"Tuh kan Non Dhira malah bengong lagi, Non jangan kebanyakan bengong seperti itu, kalo kesambet nanti malah makin bahaya".
"Pak Mun makin lama makin cerewet ya, udah kayak Pak Santo saja".
"Ih Non mah, kita kan emang sebelas duabelas, tapi masih gantengan juga diriku".
"Emang Pak Mun ganteng?".
"Iya lah Non, buktinya saja saya sudah punya istri artinya saya laku, lah Pak Santo boro boro punya istri yang ada mah sudah jadi perjaka tua".
"Pak Mun ngak boleh loh ngehina fisik seperti itu, ngak takut kualat apa Pak?".
"Emang bener kan Non".
Nadhira tidak mempedulikan itu dan tetap melanjutkan perjalanan tadi, akan tetapi Pak Mun segera menarik tangannya hingga membuatnya berhenti seketika.
"Ih ada apa lagi sih Pak" Ucap Nadhira sedikit kesal.
"Non mobilnya bukan disana, tapi disitu".
"Ah iya aku lupa".
"Emang benar kata orang ya kalo urusan cinta jadi lupa segalanya, bahkan tujuan hidup pun dilupa".
Nadhira hanya menatap kearah Pak Mun sekilas dan langsung bergegas menuju kearah mobilnya, melihat itu membuat Pak Mun menggeleng gelengkan kepalanya karena perbuatan Nadhira, entah kenapa saat ini Nadhira sangat sulit untuk tersenyum bahkan hanya sekedar bercanda dengan Pak Mun.
Nadhira lalu masuk kedalam mobil tersebut dan langsung menyuruh Pak Mun untuk masuk juga, setelahnya mobil tersebut langsung melaju meninggalkan tempat itu, didalam perjalanan Nadhira terus memandangi kearah jalanan tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.
"Non Dhira kenapa ya, kenapa dia terlihat begitu banyak beban seperti ini, apa yang tengah mengganggu pikirannya itu" Batin Pak Mun.
Tak terasa keduanya pun sampai dirumah, melihat mobil Nadhira yang melaju kearah gerbang rumah tersebut membuat Pak Santo dengan segera bergegas untuk membukakan pintu gerbang utama untuk mobil yang dinaiki oleh Nadhira.
Setelah mobil itu masuk Pak Santo langsung menutupnya dan mengunci pintu gerbang utama, mobil pun berhenti dan nampaklah Nadhira dan Pak Mun keluar dari dalam mobil itu.
__ADS_1
Tanpa sepatah katapun Nadhira langsung bergegas masuk kedalam rumahnya, sementara Pak Mun segera bergabung dengan Pak Santo dipos satpam, Pak Santo yang memperhatikan sejak tadi pun merasa bingung kenapa Nadhira hanya berdiam diri seperti itu, biasanya dia akan selalu menyapa dirinya akan tetapi berbeda kali ini.
"Ada apa dengan Non Dhira?" Tanya Pak Santo ketika melihat Pak Mun mendekat.
"Sepertinya lagi patah hati tuh" Jawab Pak Mun.
"Patah hati lagi? Berapa banyak ya kira kira hatinya Non Dhira, selalu dipatahkan".
"Entahlah, kasihan banget Non Dhira".
"Apa pelakunya tetap pemuda itu Pak Mun?"
"Pemuda yang mana?".
"Pemuda yang minta ketemu dengan Non Dhira disini, yang duduk berlutut didepan gerbang sampe Non Dhira mau bertemu dengannya, ah Pak Mun ngak bakal ngerti deh, soalnya kan Pak Mun pulang kampung waktu itu".
"Benarkah? Sampe segitunya?".
"Sudahlah, sebaiknya bujuk saja Non Dhira, jangan biarkan dia larut dalam kesedihannya itu, aku sangat tidak tega melihatnya seperti itu".
"Kau benar, aku akan memberitahu Ibu angkatnya itu biar dia bisa membujuk Non Dhira".
"Kalo itu biarkan aku saja Pak Mun, aku yang akan memberitahu Bi Ira soal itu".
"Sejak kapan kau begitu bersemangat untuk mengatakan hal ini kepada Ira? Apa jangan jangan kau..." Ucap Pak Mun menggantung.
"Ish apa yang kau katakan itu Pak Mun, kami kan hanya sebatas rekan kerja saja".
"Meskipun serius juga ngak papa kali, kalian kan sama sama singel, ngak punya pasangan, mungkin itu sudah takdir kalian bertemu disini".
"Beneran Pak Mun? Sekarang bukan waktunya becanda Pak Mun".
"Emang kau pikir aku bercanda itu San?" Ucap Pak Mun sambil meninggalkan suaranya.
"Iya ya Pak, aku percaya, gitu aja marah".
Pak Santo pun mengakhiri percakapan mereka, sementara Pak Mun segera bergegas masuk kedalam rumah besar tersebut untuk segera menemui Bi Ira agar dia mau membujuk Nadhira yang tengah bersedih saat ini.
Sore hari dimana Nadhira baru pulang dari bekerja, dan sejak Theo sudah tidak bekerja diperusahannya Nadhira pun diantar jemput oleh Pak Mun, ketika mobil yang dinaiki oleh Nadhira masuk kedalam halaman rumah itu Pak Santo segera mengejar mobil tersebut sampai mobil itu berhenti.
Nadhira keluar dari dalam mobilnya, ia begitu terkejut ketika Pak Santo yang membukakan pintu mobil tersebut untuk Nadhira, dengan nafas tersengal sengal Pak Santo mencoba untuk menyetabilkan pernafasannya sebelum berbicara kepada Nadhira.
"Ada apa Pak? Apa ada sesuatu yang membuat Pak Santo berlarian seperti itu?" Tanya Nadhira yang merasa aneh dengan Pak Santo.
"Ini Non, ada undangan untuk Non Dhira".
"Undangan untuk saya? Undangan apa Pak?".
"Sebaiknya Non baca sendiri deh" Ucap Pak Santo sambil menyerahkan sebuah undangan kepada Nadhira dan langsung diterima olehnya.
Nadhira pun memandang cover dari undangan tersebut yang tertera nama Rifki dan juga Syaqila didalam undangan tersebut, tangannya gemetara ketika membaca nama tersebut.
"Apakah dia akan menikah?" Tanya Nadhira dengan perasaan sedihnya.
"Sepertinya itu undangan pertunangan deh Non, mungkin sebentar lagi akan menikah" Jawab Pak Santo.
Jawaban itu seketika membuat Nadhira meneteskan air matanya, melihat itu membuat Pak Mun segera memukul dada Pak Santo dengan kepalan tangannya sendiri, Pak Santo pun merasa bersalah dengan apa yang sudah ia katakan saat ini.
"Ih kau nih, bisa bohong dikit ngak sih" Tegur Pak Mun kepada Pak Santo.
"Ya maap, nih mulut emang sukanya nyeplos aja".
"Mangkanya di jahit dong tuh mulut".
Nadhira pun tidak mempedulikan perkataan keduanya, ia pun segera masuk kedalam rumahnya dengan berlari, ia tidak menyangka bahwa Rifki benar benar akan hidup bersama orang lain, dan hal itu begitu sangat menyakitkan bagi dirinya.
Nadhira langsung mengunci dirinya didalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya dibalik pintu kamarnya sendiri, bertapa hancurnya hatinya saat ini ketika mengetahui bahwa orang yang sangat dicintainya akan bertunangan dengan orang lain.
Meskipun Nadhira mengatakan bahwa dia sangat membenci Rifki akan tetapi ia tidak mampu untuk membohongi hatinya sendiri bahwa dia masih sangat mencintai Rifki sampai kapanpun itu dan perasaannya tidak akan pernah berubah.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa kau harus menikah dengan orang lain Rifki, kenapa?"
Air mata itu tak lagi dapat dibendung, ia pun mengenggam begitu erat undangan tersebut hingga undangan itu sedikit basah karena keringat dingin yang ia rasakan saat ini, tidak ada harapan lagi untuk dapat hidup bersama dengan Rifki.
Tok tok tok
"Nak buka pintunya, biarkan Ibu masuk"
Diluar dapat terdengar suara Bi Ira yang sedang begitu panik setelah mengetahui bahwa Nadhira saat ini sedang menangis dari Pak Santo dan juga Pak Mun, sedangkan Sarah sendiri belum balik dari luar negeri karena disana anak kedua dari David baru saja dilahirkan sehingga Sarah membantu menantunya untuk merawat bayi itu hingga menantunya itu bisa memandikan anaknya sendiri.
Dari dalam kamar itu pun tidak ada sahutan dari Nadhira sehingga membuat Bi Ira merasa sangat sedih dan paniknya, tiba tiba disamping Nadhira muncullah Nimas yang tiba tiba.
"Buka pintunya Dhira, apa kau tidak merasa kasihan dengan Ibu angkatmu itu?" Ucap Nimas.
Nadhira pun menatap kearah Nimas dengan kedua mata yang membengkak karena habis menangis, Nadhira terlihat begitu sangat menyedihkan kali ini, apalagi dengan mata yang sedikit memerah karena terlalu banyak air mata yang mengalir keluar dari pelupuk matanya.
"Sudah jangan nangis Dhira, ini semua adalah takdir dari Yang Maha Kuasa".
Nadhira pun mengangguk kearah Nimas sambil menghapus air mata yang hendak menetes itu, bertama memilukannya hatinya saat ini itu, seandainya ia bisa memilih ia ingin tetap berada disamping Rifki untuk menjalani hari harinya seperti dahulu kala.
Nadhira pun bangkit dari duduknya dan perlahan lahan membuka pintu kamarnya, ketika sudah nampak bayangan Bi Ira didepan pintu kamarnya, Nadhira langsung menjatuhkan tubuhnya didalam dekapan Ibu angkatnya itu.
"Bu hiks.. hiks.. hiks.. aku benar benar kehilangan Rifki, kenapa ini terjadi kepadaku Bu? Apa salahku? Papa telah pergi meninggalkan diriku, dan kini Rifki yang pergi untuk hidup dengan orang lain, apakah aku tidak pantas untuk bahagia Bu?".
"Jangan menangis Nak, ini semua bukanlah salahmu, tapi ini semua adalah takdir, mungkin Rifki bukanlah orang yang tepat untukmu dan suatu hari nanti pasti akan datang orang yang terbaik untukmu Nak, jangan katakan seperti itu, kau pantas untuk bahagia Nak, kebahagiaan bukanlah hanya bisa menikah dengan Rifki akan tetapi mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita".
"Ini sangat menyakitkan Bu, Dhira tidak kuat lagi, Dhira sudah tidak sanggup untuk menahan ini semua Bu, bagaimana Dhira bisa melihatnya berdampingan dengan orang lain nantinya".
Karena kerasnya Nadhira menangis hal itu membuat Nadhira jatuh tidak sadarkan diri begitu saja, hal itu membuat Bi Ira berteriak untuk memanggil Pak Santo dan Pak Mun untuk membantu dirinya mengangkat tubuh Nadhira yang pingsan itu menuju kamarnya.
"Dhira, sadar Nak" Ucap Bi Ira mencoba untuk membuat Nadhira sadar.
Dengan hati hati Pak Mun dan Pak Santo membaringkan tubuh Nadhira diatas kasurnya, setelah itu Bi Ira menyuruh keduanya untuk keluar dari kamar Nadhira karena dirinya ingin mengoleskan minyak kayu putih diperut Nadhira.
Pak Mun dan Pak Santo segera bergegas meninggalkan kamar tersebut untuk kembali melanjutkan tugas mereka masing masing, sementara Bi Ira segera menuangkan minyak kayu putih secara perlahan lahan diperut Nadhira.
"Begitu banyak beban yang kau tanggung Nak, kau bahkan sama sekali tidak mempedulikan kondisimu sendiri, walau hanya dengan satu ginjal pun kau selalu nekat untuk mempertaruhkan nyawamu" Ucap Bi Ira sambil mengusap perut Nadhira yang terdapat dua bekas luka jahitan yang sudah menyatuh.
Satu adalah luka tusukan yang Nadhira dapatkan hanya untuk menolong Rifki sementara yang satunya ia dapatkan untuk menolong Rendi yang sedang membutuhkan ginjal baru sehingga Nadhira mengorbankan ginjalnya tersebut agar Rendi dapat tetap hidup sampai saat ini.
Akan tetapi pengorbanannya itu sama sekali tidak dianggap oleh mereka, hingga Nadhira menanggung semuanya sendiri selama ini, hidup dengan satu ginjal tidak lah mudah apalagi mudah terasa sakit jika terlalu banyak gerak ataupun makan makanan yang tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh orang yang memiliki satu ginjal.
Bi Ira ingin sekali memberitahukan kepada Nadhira tentang apa yang dilakukan oleh Rifki saat ini, akan tetapi dirinya sudah berjanji kepada Rifki agar tidak membocorkan hal ini kepada siapapun termasuk juga kepada Nadhira sendiri.
"Sadarlah Nak, semua akan indah pada waktunya, Rifki pernah berjanji kepada Ibu, Ibu yakin dia pasti akan menepatinya nanti".
Bi Ira pun memberikan minyak kayu putih diujung tangannya dan ia dekatkan kepada hidung Nadhira agar Nadhira segera sadarkan diri, ia pun memijat kaki Nadhira dengan perlahan lahan dan berharap bahwa Nadhira akan segera membuka kedua matanya itu.
Nadhira merasa bahwa pandangannya begitu gelap dan juga begitu sunyi tiba tiba, ia pun tidak sadar bahwa kini dirinya tidak sadarkan diri, sekilas ia mendengar suasa seseorang yang tengah berteriak dan hal itu lama kelamaan membuat Nadhira mampu mendengar suara Bi Ira yang ada disampingnya.
"Ibu" Ucap Nadhira yang perlahan lahan mulai membuka kedua matanya.
"Akhinya kau sadar juga Nak, jangan membuat Ibu begitu cemas seperti ini, Ibu takut terjadi sesuatu dengan dirimu Dhira".
"Apa yang terjadi denganku Bu?" Tanya Nadhira sambil memegangi kepalanya.
"Kamu tiba tiba pingsan begitu saja Nak"
"Pingsan? Kepalaku pusing sekali Bu"
Tak beberapa lama kemudian datanglah Bi Sari sambil membawakan sebuah nampan yang terdapat segelas minuman hangat untuk Nadhira, ketika Nadhira tidak sadarkan diri, Bi Ira lalu menyuruhnya untuk membuatkan minuman hangat untuk Nadhira.
"Diminum dulu Non" Ucap Bi Sari.
Nadhira pun bangkit dari tidurnya dengan bantuan dari Bi Ira, setelah itu Bi Ira membantu Nadhira untuk meminum minuman hangat itu dengan perlahan lahan agar tubuh Nadhira kembali enakan, setelah meminumnya hingga habis hal itu membuat tubuh Nadhira merasa lebih mendingan.
"Bu? Apakah Rifki akan menikah dengan orang lain?" Tanya Nadhira.
"Ibu yakin bahwa dia tidak akan menikah dengan orang lain selain dirimu Nak".
__ADS_1
"Tapi undangan itu?"
"Itu hanya kertas bukan perasaan cinta antara kalian, kertas bisa rusak dengan cepat, tapi untuk masalah hati tidak akan ada yang bisa memaksakan kehendak".