Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Perhatian seorang Rifki


__ADS_3

"Mulai saat ini jangan pernah melakukan hal yang dapat membahayakan dirimu sendiri Dhira, aku mengatakan ini bukan berarti aku marah kepadamu tapi aku mengatakan ini karena aku sangat mencintaimu Dhira dan jangan pernah ada yang kau sembunyikan dariku karena aku sangat tidak menyukai hal itu"


"Maafkan aku"


"Aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja Dhira, kau sangat menyakiti hatiku, dan luka itu belum bisa untuk terima perkataan maafmu"


"Lalu aku harus bagaimana untuk bisa mendapatkan maaf darimu suamiku? Apa yang harus aku lakukan? Tolong katakan kepadaku"


"Aku akan menghukummu kali ini Dhira, tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja" Bisik Rifki.


"Hemm? Apa yang ingin kau lakukan kepadaku?" Tanya Nadhira dengan bergidik ngeri melihat tatapan Rifki yang begitu dalam kepadanya.


"Memakanmu hidup hidup".


Belum sempat untuk Nadhira protes, Rifki sudah terlebih dulu membungkam mulut Nadhira menggunakan mulutnya, dan hal itu membuat Nadhira terdiam seribu bahasa hingga memejamkan kedua matanya merasakan nafas Rifki yang tidak teratur kali ini.


Dengan perlahan lahan Rifki membaringkan tubuh Nadhira bersamaan dengan tubuhnya, ia pun menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya, satu tangan jail Rifki meraba kemana mana hingga ke area sensitif milik Nadhira dan yang satunya memegangi kedua tangan Nadhira.


Sentuhan lembut itu membuat Nadhira sedikit gugup apalagi area terlarangnya disentuh oleh Rifki saat ini, Nadhira merasa geli hingga membuat jantungnya berdebar debar tidak karuhan, Nadhira pun mengigit bibirnya sendiri ketika merasakan itu agar suaranya tidak keluar.


"Keluarkan saja sayang, jangan ditahan," Ucap Rifki sambil mengecup leher Nadhira.


"Tapi bagaimana kalau orang lain mendengarnya?"


"Kamarmu ini cukup besar, bagaimana mungkin bisa terdengar sampai luar? Apalagi ini dilantai atas jadi mereka tidak akan mendengarnya".


"Tapi aku takut hamil Rif, kau tau sendiri kan kalau aku sekarang hanya memiliki satu ginjal? Itu tidak memungkinkan untuk melakukan itu"


"Aku sudah tau sejak dulu Dhira, dan sebelum aku menikah denganmu, aku sudah menyiapkan semuanya Dhira dan kau tidak perlu khawatir soal itu, aku juga sudah berkonsultasi kepada Dokter yang terhebat, jadi kau tidak perlu khawatir soal itu lagi, mungkin bisa dikatakan bahwaa kesempatannya dibilang hanya beberapa persen saja, tapi aku yakin semuanya akan baik baik saja Dhiraku"


"Jadi kau sudah mengetahuinya sejak lama?" Tanya Nadhira dengan terkejutnya.


"Jika bukan karena kejadian waktu itu, aku tidak mungkin mengetahuinya Dhira, itulah mengapa aku telah mempersiapkan segalanya untuk kita"


"Apa kau yakin Rif?" Tanya Nadhira dengan nafas yang sedikit cepat.


"Sangat yakin sayang"


Rifki masih tetap meraba raba dengan tangan nakalnya itu, ia pun menikmati setiap inci dari tubuh istrinya tanpa terkecuali sedikitpun itu, merasakan apa yang dilakukan oleh Rifki membuat Nadhira memegangi erat leher Rifki.


Rifki pun perlahan lahan membuka pakaian Nadhira dan pakaiannya sendiri akan tetapi keduanya masih tertutup oleh selimut yang tebal, Nadhira seakan akan terlena dibuat Rifki, dan dirinya pun hanya pasrah begitu saja dengan apa yang sedang dilakukan oleh Rifki kali ini.


Tanpa disadarinya bahwa ada yang sedang memegang dibawah sana, hal itu membuat pernafasan Rifki terasa tidak normal dan melebihi batas normalnya, merasakan itu membuat Nadhira sedikit takut karenanya.


"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathana marazaqna" Bisik Rifki pelan ditelinga Nadhira sambil menyentuh goa milik Nadhira menggunakan tangan nakalnya itu.


Rifki mendekatkan wajahnya kearah tubuh Nadhira lebih tepatnya didada Nadhira yang sedikit menonjol tersebut, Perlahan lahan dirinya merubah posisi hingga membuat Nadhira berada dibawahnya.


Nafasnya mulai terlihat sangat cepat dengan keringat yang membasahi tubuhnya, Nadhira hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Rifki hingga membuat terlena dengan perlakuan Rifki kepadanya itu.


Rifki menggerakkan tangan jailnya untuk menyentuh lembut area sensitif milik Nadhira, Nadhira yang merasakan itu membuatnya menggeliat seperti cacing kepanasan dan sesekali menautkan tangannya dileher Rifki.


Nadhira merasakan sesuatu yang masuk kedalam area paling sensitifnya hingga membuat pernafasannya semakin cepat dan dirinya merasakan perih dibagian bahwanya itu, ia pun mendes*h atas apa yang dilakukan oleh Rifki, mendengar itu membuat Rifki merasa semakin bersemangat untuk melanjutkannya.


Entah kenapa alunan itu begitu indah didengar oleh Rifki, mungkin ini adalah mainan baru yang akan membuatnya candu untuk terus memainkannya disetiap harinya.


Setelahnya hanya mereka yang tau :v


*****


"Terima kasih Dhira, karena kau telah menjaganya untukku, aku sangat mencintaimu" Ucap Rifki sambil mengecup kening Nadhira yang tengah tertidur dengan lelapnya.


Melihat itu membuat Rifki ikut serta memejamkan kedua matanya, entah sejak kapan dirinya sendiri larut kedalam mimpi indahnya bersama dengan Nadhira yang ada didekapannya saat ini.


Karena kelelahannya membuat keduanya kini tengah tertidur dengan nyenyaknya kembali, apalagi Nadhira yang hanya berbalutkan selimut saja saat ini, Nadhira menjadikan ujung lengan Rifki sebagai bantalnya yang sangat empuk dan nyaman.


Keduanya masih terlelap didalam tidurnya masing masing tanpa terganggu sedikitpun dengan sinar matahari yang mulai menaik, tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar sana hingga membuat keduanya perlahan lahan membuka mata mereka.


Tok tok tok


Ketukan itu semakin lama semakin keras hingga membuat Nadhira yang tadinya tertidur dengan lelap perlahan lahan meregangkan ototnya, hal itu membuat Rifki yang sedang memeluknya pun merasa sedikit terusik.


"Akh... Siapa sih yang datang?" Ucap Nadhira ketika dirinya hendak bangkit akan tetapi rasa perih dibagian bahwanya tiba tiba terasa begitu saja.


Apalagi dengan posisinya saat ini yang hanya berbalutan dengan selimut saja, hal itu membuatnya kembali memurungkan niatnya itu dan tetap membaringkan tubuhnya ditempat sebelumnya itu.

__ADS_1


Rifki pun bangkit dari tidurnya yang nyenyak itu ketika mendengar suara Nadhira mendes*h kesakitan karena berusaha untuk bangkit dari tidurnya.


"Biar aku yang membukanya, kamu disini saja" Ucap Rifki dan langsung bangkit untuk mengambil pakaiannya yang berserakan entah kemana.


Nadhira yang melihat lekuk tubuh Rifki pun langsung segera menutupi wajahnya sendiri dengan selimut tebal itu, seketika dirinya merasa malu ketika melihat dada bidang milik suaminya.


Nadhira yang masih mengantuk pun kembali untuk melanjutkan tidurnya yang nyenyak, karena rasa ngantuknya tersebut membuatnya dengan mudah langsung terlelap dalam mimpi indahnya pagi ini.


Rifki lalu mamakai pakaiannya kembali dengan cepatnya karena orang yang ada dibalik pintu seakan akan tidak sabaran untuk meminta segera dibukakan, Rifki lalu berjalan menuju kearah pintu dan membukanya sedikit untuk mengetahui siapa yang datang kekamar mereka.


"Ada apa Bay?" Tanya Rifki ketika melihat Bayu sudah berdiri didepan pintu.


"Lama banget buka pintunya, kalian habis ngapain sih didalem" Ucap Bayu sambil celingukan menatap kedalam kamar tersebut.


Melihat itu membuat Rifki segera keluar dari kamar tersebut dan menutupnya dengan sangat cepat agar Bayu tidak melihat tubuh telan*ang istrinya tersebut, dan Rifki lalu berdiri dengan tegaknya dihadapan Bayu saat ini.


"Apa kalian sudah melakukan sesuatu malam ini? Sampai sampai tidak melihat matahari sudah tinggi diluar sana"


"Bukan urusanmu, cepat katakan sekarang kenapa kau datang kesini pagi pagi seperti ini?" Ucap Rifki dengan nada dinginnya.


"Hanya memastikan saja, biasanya juga pagi pagi kau sudah bangun dari tidurmu"


"Kau taukan ini hari apa? Bisa ngak sih jangan ganggu disaat seperti ini, kau mau aku hajar?"


"Santai dong, jangam main kekerasan seperti ini, Ini kan hari sabtu, belum waktunya libur kerja"


"Mending kau segera nikah deh, biar paham, lagian itu perusahaan juga perusahaan milikku, terserah aku lah mau libur sekarang atau nanti, ngatur banget sih jadi orang"


"Iya ya mentang mentang pengantin baru, noh didepan ada Pak Hendra ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian dan turut berdua cita atas meninggalnya Oma Sarah"


"Kira in ada apaan, sudah temui saja sana, aku masih ngantuk, jangan ganggu"


Rifki lalu masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu itu dengan pelan karena dirinya takut mengganggu Nadhira yang masih tertidur saat ini, ia melihat kearah jam dinding yang ada dikamar tersebut dan masih menunjukkan pukul 9 pagi.


Masih terlalu pagi untuk memulai aktivitasnya sehingga membuat Rifki kembali membaringkan tubuhnya dideket Nadhira, merasakan ada yang menyentuhnya membuat Nadhira membuka kembali kedua matanya itu.


"Siapa yang datang?" Tanya Nadhira dengan suara khas bangun tidur.


"Bayu".


"Ada Pak Hendra diluar, ingin mengucapkan selamat untuk pernikahan kita dan belasungkawa untuk kepergian dari Oma Sarah"


"Pak Hendra? Pak Hendra yang menjadi pemimpin di Surya Jayantara itu?"


"Iya, biarkan Bayu saja yang mengurusnya, lagian dia datang terlalu pagi sekali".


"Ini sudah siang Rif" Ucap Nadhira membelalakkan memandang kearah jam dinding yang terpasang ditembok kamarnya itu.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi keluar pagi ini, kau harus tetap didalam kamar"


"Kenapa?"


"Dengan keadaan seperti ini kau ingin keluar?"


Nadhira pun mencoba bangkit dari tidurnya untuk duduk ditepi kasur dengan selimut tebalnya itu tapi tiba tiba dirinya merasa nyeri pada area bawah perutnya hingga membuatnya menyengir, hal itu justru membuat Rifki tersenyum tipis kearahnya.


"Yakin mau keluar?" Tanya Rifki dengan sebuah senyum kemenangan.


"Ini semua perbuatanmu!" Ucap Nadhira dengan cemberutnya kepada Rifki.


"Mau melanjutkan lagi yang tadi pagi? Mumpung aku lagi semangat pagi ini" Tanya Rifki sambil menaik turunkan alisnya kearah Nadhira dengan penuh harap kepada Nadhira.


"Ngak!" Ucap Nadhira sambil berusaha untuk bangkit dari duduknya itu.


Mendengar itu membuat Rifki cekikikan pelan, wajah cemberut Nadhira tersebut terlihat begitu lucu dan menggemaskan apalagi dengan stempel kepemilikan yang dia tinggalkan disekujur tubuh Nadhira.


"Aku mau kekamar mandi" Jawab ketus Nadhira.


"Sini sini biar aku bantu" Rifki segera bangkit dari tidurnya ketika melihat Nadhira kesusahan untuk bangkit dari duduknya.


"Dari tadi kek" Gerutu Nadhira.


"Lepasin dulu dong selimutnya, biar mudah untuk mengangkat tubuhmu"


"Ngak mau, kau kan laki laki"

__ADS_1


"Aku sudah melihat semuanya Dhira, untuk apa ditutupi lagi dariku? Kau bahkan sudah menikmati tubuhku ini" Rifki mengeleng gelengkan kepalanya mendengar ucapan Nadhira.


Seketika ucapan itu membuat kedua pipi Nadhira tampak merah merona dibuatnya, melihat itu membuat Rifki menggerakkan tangannya untuk memegangi dagu wanita yang ada didepannya.


"Lucu banget sih milikku ini" Ucap Rifki.


Rifki pun mengangkat tubuh Nadhira yang berbalut selimut tersebut dan membawanya kekamar mandi, ia pun menurun tubuh Nadhira dengan perlahan lahan setelah sampai dikamar mandi.


"Mau mandi bareng?" Tanya Rifki.


"Ngak! Sudah keluar sana aku mau membersihkan tubuhku dulu"


"Butuh bantuan lagi? Siapa tau kau butuh seseorang untuk menggosok punggungmu"


"Ambilkan pakaianku"


"Siniin selimutnya, nanti basah" Ucap Rifki sambil menengadahkan tangannya.


"Keluar ngak? Aku mau mandi" Ucap Nadhira dengan gemesnya kepada Rifki.


"Ngak mau, emang mau ngapain kalo aku ngak mau keluar dari sini?"


Akan sangat percuma untuk Nadhira jika harus berdebat dengan orang yang ada didepannya itu, rasanya seperti buang buang tenaga saja jika harus bermain kata dengan Rifki.


"Rifki sayang, keluar ya aku mau mandi" Nada bicara Nadhira dibuat selembut mungkin.


"Iya sayang, mau diambilkan baju yang mana?" Tanya Rifki yang mengikuti nada bicara Nadhira.


"Terserah kamu saja sayang"


"Baiklah Bos besar" Rifki segera keluar dari kamar mandi tersebut dan menutup pelan pintu kamar mandinya itu.


Melihat kepergian dari Rifki membuat Nadhira menghembus nafas kasar, ia menertawakan ucapannya sendiri, tidak biasanya dia akan berkata selembut itu untuk seseorang apalagi orang itu adalah Rifki sendiri.


Rifki pun memberikan baju yang ia pilihkan kepada Nadhira, Nadhira segera menerima baju tersebut dan langsung kembali menutup pintu kamar mandinya lagi untuk mandi karena ia merasa risih dengan kondisi tubuhnya saat ini.


Dirinya merasa perih ketika digunakan untuk berjalan, apalagi ketika terkena air ketika dirinya mandi, dengan perlahan lahan dirinya memakai pakaian yang sedikit lebar tersebut dan langsung bergegas menuju ke pintu.


Ketika dirinya membuka pintu seketika pandangannya membulat, Ia begitu terkejut ketika melihat Rifki yang sudah berdiri didepan pintu kamar mandi itu sambil melipat kedua tangannya.


"Gimana? Masih sakit?" Tanya Rifki.


"Masih lah, kau penyebabnya"


"Maaf, kalo begitu ayo kita lanjut lagi, kan biasanya kalo negatif ditambah negatif jadinya positif, kali aja sakit ditambah sakit jadinya sembuh"


"Ngakkkkk....."


"Tumben takut sakit? Biasanya coba tanpa berpikir panjang menyakiti diri sendiri, sini biar aku bantu"


Rifki pun langsung mengangkat tubuh Nadhira karena tidak ingin wanita itu berjalan sendiri, ia pun mendudukkannya disofa yang ada didalam kamarnya tersebut dengan perlahan lahan.


"Jangan ngapa ngapain, habis ini aku mau menyisir rambutmu, tapi aku mandi dulu"


"Iya ya sayang, aku tunggu"


Rifki mengacungkan jempol kearah Nadhira dan bergegas menuju kearah lemari pakaiannya, ia pun mengambil pakaiannya sekaligus handuknya dan segera bergegas untuk masuk kedalam kamar mandi tersebut untuk membersihkan tubuhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai kakak, kali aja minat untuk mampir dinovel temanku yang ini, sambil menunggu Author update, silahkan mampir juga ya..


**


Bagaimana takdir membolak balikkan cinta, atau sebenarnya cintakah yang telah membolak-balikkan takdir?


Sebuah buku note berisi puisi mempertemukan Abra, (Abraham Natawijaya 24 tahun) seorang CEO muda pada seorang gadis bertopeng yang misterius di sebuah pesta topeng yang dihadirinya. Gadis itu mampu memikat hatinya karena mampu tampil beda dengan berjilbab hingga ia mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya.


Shasa (Shanum Andina Prawira 19 tahun) gadis yatim piatu yang diduga sebagai gadis bertopeng itu terpaksa menyangkal, karena permintaan sepupunya Rika, yang iri padanya. Ia dipaksa pacaran dengan pria yang sedang dekat dengan sepupunya itu(Bima) hingga memupus harapan Abra untuk mendekatinya.


Namun begitu, dunia kerja mendekatkan mereka walaupun kemudian keberadaan Kevin, kakak tiri Abra yang juga menyukai Shasa memperkeruh hubungan mereka.


Lalu dapatkah Abra mendapatkan cinta Shasa seutuhnya? Kawal terus perjuangan Abra untuk mendapatkan pujaan hatinya.


__ADS_1


__ADS_2