Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Pertarungan selesai


__ADS_3

Air mata Nadhira sudah tidak mampu dibendung lagi kini pun akhirnya berjatuhan, setelah kehilangan Sarah, dirinya kini juga kehilangan Theo untuk selama lamanya, Theo adalah sahabatnya selama Rifki pergi meninggalkan Nadhira selama ini.


"Waktuku sudah tidak lama lagi Rif, maafkan aku, terima kasih karena telah mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya" Theo semakin lemah karena kehilangan banyak darah sekaligus dadanya yang telah terhunus.


"Istirahatlah dalam tenang Theo, kami akan selalu mengingatmu sepanjang masa, pengorbananmu akan selalu kami kenang"


"Ma af kan a ku, a ku a kan me nung gu ka li an di syur ga" Ucap Theo terbata bata karena darah yang keluar dari tenggorokannya itu.


"Theo hiks hiks... Rif, dia kenapa? Tolong selamatkan Theo Rif, aku mohon" Tangis Nadhira pecah.


Setelah mengatakan itu Theo pun memejamkan kedua matanya dengan erat, tangan yang terkepal sebelumnya pun perlahan lahan membuka, Rifki mendekatkan telunjuknya dihidung Theo dan menyentuh nadinya akan tetapi Theo kini telah pergi untuk selama lamanya.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un, selamat jalan teman, cepat atau lambat kami pasti akan menyusul dirimu"


"Rif? Theo tidak mungkin meninggal kan? Dia hanya pingsan saja kan? Rif jawab pertanyaanku" Tanya Nadhira penuh harap.


"Yang sabar ya sayang, dia sudah pergi lebih dulu daripada kita, Dhira" Ucap Rifki yang juga bersedih saat ini, "Doakan semoga dia tenang dialam sana dan diampuni segala dosanya, ditempatkan ditempat yang terbaik disisi-Nya"


"Tidak mungkin, Theo tidak mungkin meninggal, ini semua gara gara aku, semua orang pergi karena aku Rif, aku penyebab semua ini"


"Ini semua bukan salahmu sayang, ini semua adalah takdir yang telah Allah tentukan kepada kita"


"Mama dan Oma telah pergi meninggalkanku, dan sekarang Theo pun ikut pergi, bagaimana mungkin ini bukan salahku, aku penyebab semuanya, lebih baik aku yang pergi lebih dulu Rif"


"Dhira jangan katakan itu sayang, aku tidak mau kehilanganmu, tolong demi diriku, jangan pernah katakan hal seperti itu"


Rifki memegangi kedua pipi Nadhira dengan kedua tangannya itu, ia menatap kearah Nadhira dengan dalamnya, ditatap seperti itu oleh Rifki membuat Nadhira tak henti hentinya untuk terus mengeluarkan air matanya karena dia takut kehilangan sosok Rifki yang sangat berarti baginya.


"Aku hanya takut kalau kau juga akan meninggalkan diriku Rif, gara gara melindungiku kalian semua terluka hanya demi aku, aku merasa seperti aku hanyalah beban kalian"


"Tidak Dhira, dengarkan aku, kau bukanlah beban bagi kami semua, kau adalah kebahagiaanku, tanpa dirimu aku tidak bisa hidup sayang"


"Aku takut Rif, aku sangat takut untuk kehilanganmu dan orang orang yang berada disekitarku"


"Jangan takut ya sayang, ada aku disini yang selalu menemanimu sampai kapanpun itu" Rifki pun menarik tubuh Nadhira kedalam pelukannya.


"Aku takut Rif"


Ada rasa sedih didalam hati Nadhira, meskipun Theo telah menyakitinya dan Rifki akan tetapi selama ini Theo orang yang selalu ada untuk Nadhira selama Rifki berada diluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya itu.


Theo sudah dianggap sahabat oleh Nadhira sehingga kepergiannya itu menyisakan kesedihan dihati Nadhira apalagi Theo yang selalu melindungi Nadhira dan menjaga Nadhira selama Rifki tidak ada disampingnya itu.


"KALIAN!" Bentak seseorang.


Suara tersebut langsung membuat Nadhira dan Rifki melepaskan pelukannya untuk menoleh kearah seseorang yang berteriak dengan penuh kemarahan serta kesedihan itu.


Perhatian keduanya kini terarah kepada Varel yang memeluk tubuh Adiknya itu, Avel telah tiada sehingga membuat Varel menangis sejadi jadinya, ia menatap kearah Nadhira dan Rifki dengan tatapan yang penuh dengan amarah seakan akan dia ingin menghabisi kedua manusia itu.


"KAU PENYEBAB KEMATIAN ADIKKU!" Bentak Varel tiba tiba.


Nadhira dan Rifki langsung berdiri dengan tegaknya, Rifki langsung menarik tubuh Nadhira untuk berdiri dibelakangnya karena dia tidak mau kalau Nadhira kenapa kenapa saat ini, nyawa Nadhira begitu berarti baginya.


"Kalian harus mati!"


"Sudah berapa banyak nyawa yang mati sia sia ditanganmu? Emang kau pikir, hanya kau saja yang merasa kehilangan disini? Ada banyak orang tua yang menunggu kepulangan mereka, tapi disini justru kau habisi semuanya" Ucap Rifki.


"Aku ngak peduli! Nyawa harus dibayar dengan nyawa, kau telah membunuh Adikku, dan kalian semua harus mati ditanganku sekarang juga" Ucap Varel dengan tegas.


Varel adalah ahli beladiri yang lebih hebat daripada Rifki, ia memiliki ilmu kebal terhadap senjata sehingga sejak tadi lelaki itu sama sekali tidak terluka sedikitpun itu karena senjata tajam, dirinya pun memiliki kekuatan otot yang seperti baja sehingga hanya Pangeran Kian yang dapat menghajarnya.


Melihat itu membuat Reno, Vano, Bayu, Fajar, dan Andre segera bergegas untuk mendekat kearah Rifki demi melindungi Rifki dan Nadhira, karena yang lainnya kini telah tidak sadarkan diri karena energi yang dikeluarkan oleh keris pusaka xingsi.


"Kau juga harus membayar nyawa sahabatku yang telah mati ditangan Adikmu itu dan juga nyawa anggota Gengters yang telah kau bunuh itu" Ucap Rifki yang tidak kalah tegasnya sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.


"Jangan pergi Rif" Nadhira merasakan bahwa tangan Rifki sedang terkepal begitu eratnya sekarang.


"Jangan takut Dhira, aku akan selalu melindungimu" Ucap Rifki pelan untuk menenangkan perasaan Nadhira saat ini yang bergemuruh.


"Rifki, hati hati" Ucap Nadhira sambil memegangi lengan panjang milik Rifki.

__ADS_1


"Tenang saja sayang, aku pasti akan baik baik saja"


Kelima anak buah Rifki langsung menyerang kearah Varel dengan bersamaan, akan tetapi beberapa detik kemudian mereka berlima pun tumbang begitu saja dengan memegangi dada mereka masing masing yang terasa nyeri.


"Bangun kalian! Kita serang lagi bersama sama" Perintah Bayu dan langsung dilakukan oleh keempat anggota inti Gengcobra itu.


"Kita tidak boleh menyerah begitu saja! Ayo bangkit lindungi Tuan Muda dan Nona Muda!" Teriak Vano.


"Serang!" Teriak mereka bersamaan.


Mereka pun langsung bergegas untuk mendekat kearah Varel yang tengah mengepalkan tangannya dengan erat, mereka kembali menyerang secara bersamaan dan langsung kembali terpental begitu saja kebelakang.


Melihat itu membuat Rifki yang langsung maju kedepan untuk melawan Varel, Rifki pun langsung melontarkan sebuah tendangan yang ia pelajari, akan tetapi tendangan itu seakan akan berhenti diudara bebas dan kembali menyerangnya hingga membuat dirinya terpental ketanah.


"Rifki!" Teriak Nadhira ketika melihat Rifki terpental begitu saja.


Rifki lalu berusaha bangkit dari jatuhnya tersebut, keenam orang tersebut lalu kembali menyerang kearah Varel dengan mengitarinya, seakan akan ada sebuah perisai yang tengah melindungi Varel dengan sangat kuat dan tidak mudah untuk ditembus.


Rifki mengepalkan tangannya dengan erat, seketika itu juga anggota inti Gengcobra terpental begitu saja ketika melawan Varel kecuali Rifki, Rifki masih mampu berdiri dengan tegaknya meskipun dengan rasa nyeri yang menjalar ditubuhnya, karena dirinya yang terpental sebelumnya hingga membuat luka jahitan yang ada dipunggungnya kembali terasa.


"Kalian harus mati!" Teriak Varel.


"Tidak akan! Kau yang akan mati ditanganku" Teriak Rifki sambil mengepalkan tangannya erat.


Rifki pun melontarkan sebuah pukulan yang cukup kuat disertai dengan energi dari keris pusaka xingsi hingga membuat Varel terpental kebelakang beberapa langkah saja, akan tetapi hal itu mampu membuat Varel mendadak termuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya.


Hal yang sama pun dialami oleh Rifki, Rifki mengusap setetes darah yang keluar dari dalam mulutnya, dan hal itu langsung membuat Nadhira bergegas untuk mendatangi dan memegangi pundak Rifki dengan eratnya seakan akan tidak mau kehilangan lelaki itu.


"Kamu tidak apa apa kan Rif?" Tanya Nadhira dengan sangat khawatirnya disertai dengan tetesan air mata yang terus bercucuran.


"Aku tidak apa apa Dhira, jangan nangis" Jawan Rifki sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Aku takut Rif, aku tidak mau kau kenapa napa"


Tiba tiba tangan Nadhira ditarik oleh Varel dengan kasarnya, Nadhira lalu menjerit kesakitan karena tangannya yang memerah sebelumnya itu pun terasa sakit, peganganan tangannya dari Rifki pun langsung terlepas begitu itu.


"Lepasin aku! Rif tolong! Lepaskan! Lepaskan!" Teriak Nadhira sambil berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Varel dari tangannya itu.


"Jika kau mendekat maka wanita ini akan mati" Ucap Varel sambil sedikit mencekik leher Nadhira.


Tatapan tajam dari Rifki pun terarah kepada Varel, Varel merasa yakin bahwa dirinya tidak akan bisa mengalahkan Rifki saat ini sehingga hal itu membuatnya menjadikan Nadhira sebagai sanderanya saat ini.


"Aku tidak akan membiarkanmu hidup" Ucap Rifki.


"Lepaskan aku sekarang, atau kau akan mati" Nada bicara Nadhira mendadak berubah menjadi dingin.


Varel merasa terkejut ketika mendengar ucapan Nadhira, dirinya pun memperkuat cekikikan tersebut akan tetapi hal itu membuat Nadhira malah tertawa, Rifki yang menyaksikan itu memfokuskan tatapannya kepada kedua mata Nadhira.


"Berani sekali kau membangkitkan Ratu iblis dari peristirahatannya, kini kekuatanku telah pulih dan aku akan membunuhmu sekarang" Ucap Nadhira yang kini dirasuki oleh Nimas.


"Ratu iblis? Apa hubungannya kau dengan wanita ini! Kenapa kau menolongnya" Varel nampak panik.


"Aku adalah milik wanita ini, siapapun yang berurusan dengan dia maka aku akan menyingkirkan apapun itu yang menghalangi langkahnya"


"Tidak mungkin, apakah wanita ini memiliki permata iblis?"


"Bukan hanya memiliki permata iblis, dia adalah keturunan dari Nyi Ratih, pencipta keris pusaka xingsi yang akhirnya kekuatan itu terbagi menjadi dua karena Pangeran Kian, orang yang sangat sakti tiada tandingannya, dialah yang akan ditugaskan untuk menghancurkan kedua benda itu"


"Bagaimana mungkin!" Kini yang sangat terkejut ketika mendengarnya adalah Rifki.


"Aku sudah mengetahui semuanya"


"Tidak!" Teriak Varel.


Siapa sangka ketika mendengar ucapannya tersebut membuat Varel langsung memukul perut Nadhira dengan sangat kerasnya hingga membuat Nimas yang merasukinya itu pun membentangkan kedua tangannya dengan lebar hingga membuat Varel terpental dengan kondisi yang bermandikan darah karena begitu banyak luka sayatan, entah apa sebabnya luka sayatan itu.


Terlihat darah mengalir dari selaka*gan Nadhira saat ini dan hal itu membuat Nadhira menjatuhkan tubuhnya diatas rerumputan dengan bersangga pada salah satu tangannya, pukulan keras yang diberikan oleh Varel tersebut membuat Nimas yang menguasai tubuh Nadhira itu pun sedikit merasa sakit.


"Rif, telah terjadi sesuatu dengan anakmu, Nadhira tidak bisa bertahan lebih lama lagi" Ucap Nimas menggunakan tubuh Nadhira.

__ADS_1


"Ada apa Nimas?" Tanya Rifki khawatir.


"Jika aku tidak bisa membunuh kalian, maka aku bisa membunuh anak kalian hahaha..." Tawa Varel.


"Varel! Kau akan mati sekarang" Seru Nimas.


Rifki langsung mengayunkan sebuah pisau kearah perut Varel beberapa kali, Varel yang terbaring diatas rerumputan itu pun tidak bisa menghindarinya sehingga dia menerima tusukan yang menghujaninya begitu saja, ilmu kebal yang ia miliki itu pun lenyap ketika datangnya Nimas.


"Agrhh..... Aaa...." Teriak Varel kesakitan.


"Mati kau!" Rifki tak henti hentinya untuk terus melakukan tusukan ditubuh Varel.


Rifki terus menusuk tubuh yang tidak berdaya tersebut hingga kedua mata Varel sudah tidak mampu untuk terbuka lagi, Rifki baru berhenti ketika mendengar teriakan Nadhira kesakitan.


Nadhira berusaha untuk merebut kembali kesadarannya dari Nimas, hal itu membuat Nimas tiba tiba terusir dari tubuh Nadhira begitu saja, Nadhira memegangi perutnya yang luar biasa sakitnya itu dengan menjerit kesakitan.


"Rifki! Sakit hiks.. hiks.. tolong hentikan itu! Perutku sakit Rif" Tangisan Nadhira sangat memilukan bagi yang mendengarnya.


Rifki lalu mendekat kearah Nadhira, ia melihat darah yang keluar begitu banyak dari area sensitif milik Nadhira, hal itu membuat Rifki sangat panik dan langsung mengangkat tubuh Nadhira kedalam gendongannya.


"Sabar sayang, kita akan segera kerumah sakit"


"Aku ngak kuat Rif, ini sangat sakit hiks.. hiks..."


"Bay! Ayo cepat kerumah sakit sekarang juga!" Teriak Rifki sambil berlari menuju mobil mereka.


"Baik Rif, kalian semua bereskan semuanya yang ada disini!" Perintah Bayu kepada inti Gengcobra lainnya.


"Baik Tuan" Jawab mereka serempak.


Rifki dengan reflek langsung berlari tanpa mempedulikan situasi disekitarnya yang penuh dengan tubuh terbaring tidak sadarkan diri, yang ia pikirkan adalah tentang keselamatan Nadhira dan juga anaknya yang ada diperut Nadhira.


"Rif sakit hiks.. hiks.. sakit" Keluh Nadhira dengan linangan air mata.


"Bertahanlah Dhira, kita akan kerumah sakit" Ucap Rifki yang terus berlari.


"Sakit Rif hiks.. hiks.. hiks.."


Nadhira pun menjatuhkan kepalanya didada sebelah kiri Rifki, ia merem*s ujung baju Rifki dengan kuat untuk menahan rasa sakitnya itu, semakin lama rasa sakit itu semakin parah, disepanjang perjalanan menuju mobil itu Nadhira tak henti hentinya untuk terus menangis dan merintih.


Rifki berlari dengan sekencang yang ia bisa untuk segera sampai dimobilnya, demikian juga Bayu yang mengejarnya dibelakangnya, ketika sampai dimobil Rifki langsung memasukkan Nadhira kedalam mobil tersebut dengan hati hati.


Darah Nadhira pun membasahi celana panjang Rifki karena darah itu yang terus mengalir dengan derasnya, Bayu pun langsung masuk ke mobil dibagian sopir dan langsung menjalankan mobil tersebut ketika Rifki sudah menutupnya.


"Rif sakit" Rintihan Nadhira.


"Bertahanlah sayang, kita akan membawamu kerumah sakit dengan segera" Ucap Rifki sambil memeluk tubuh Nadhira.


"Anak kita baik baik saja kan Rif? Anak kita pasti selamat kan? Aku ngak mau kehilangan anak kita, aku ngak mau, akh.. sakit Rif" Tanya Nadhira dengan linangan air mata dan keringat yang membasahi tubuhnya.


"Dia anakku, pasti dia baik baik saja, Bay lebih cepat lagi, kita harus segera sampai dirumah sakit"


"Apapun yang terjadi, tolong selamatkan anak kita Rif, aku mohon hiks.. hiks.. hiks.."


"Kalian pasti baik baik saja, Bay lebih cepat lagi"


"Iya Rif, ini sudah kecepatan penuh" Balas Bayu.


Rifki mengusap kepala Nadhira pelan berharap bahwa rasa sakit itu sedikit berkurang agar Nadhira tidak merasakan sakit yang begitu parahnya, tubuh Nadhira pun bergetar hebat karena menahan rasa sakit itu, hal itu semakin membuat Rifki panik.


"Rif, aku tidak kuat lagi" Nadhira seperti bagaikan bermandikan keringat, karena seluruh tubuhnya kini terus mengucurkan keringat dingin.


"Kau harus kuat sayang, bertahanlah" Rifki mengecup kening Nadhira sangat lama.


"Rif sakit hiks.. hiks.. rasanya ingin mati sekarang juga Rif, ini sangat sakit"


"Jangan katakan itu Dhira, kita akan segera sampai dirumah sakit, bertahanlah demi diriku"


Nadhira pun mengigit bibirnya dengan kuat karena rasa sakit yang ia rasakan, seakan akan bayi yang ada didalam perutnya ingin keluar sekarang juga, perutnya terasa nyeri dan perih yang teramat sangat perihnya.

__ADS_1


Rifki pun menggenggam erat tangan Nadhira untuk menguatkan wanita itu, tangan Nadhira nampak terasa begitu dingin saat ini karena dia sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat diperutnya dan bahkan sampai menjalar keseluruh tubuhnya.


Tak beberapa lama kemudian akhinya mereka sampailah disebuah rumah sakit yang tidak jauh dari lokasinya itu, Bayu segera mengarahkan mobilnya menuju kedepan ruangan UGD dan hal itu membuat para perawat langsung bersiaga untuk menyediakan bangkar rumah sakit untuk Nadhira.


__ADS_2