
Rifki terus berusaha untuk mempertahankan kesadaran itu, meskipun kedua matanya sulit untuk dikondisikan. Efek dari obat bius itu sangat besar, sehingga dirinya tidak mampu untuk menahannya lebih lama lagi.
Dirinya merasa seakan akan seluruh dunia ini bergoyang, hingga membuat dirinya tidak mampu untuk berdiri dengan tegaknya, karena dirinya seakan akan tengah sempoyongan saat ini. Dirinya seakan akan tidak bisa melindungi dirinya sendiri, bahkan saat ini ilmu beladirinya tidak berfungsi karena pusing yang tengah menyerangnya itu.
Rifki terus memegangi kepalanya yang terasa sakit itu, dia tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini. Kepalanya terasa sangat berat dan kedua matanya ingin sekali terpejam, dia tidak ingin menyerah tapi efek obat tersebut seakan akan terus membuatnya ingin menyerah.
"Serahkan nyawamu kepadaku sekarang. Kau tidak pantas hidup lebih lama lagi,"
"Nyerahkan nyawa? Ambil saja," Rifki seakan akan menerbitkan sebuah senyuman.
Tiada gunanya dia hidup tanpa Nadhira disisinya, Nadhira bahkan tidak ingin kembali bersamanya, lantas untuk apa dirinya tetap mempertahankan nyawanya sendiri? Hidupnya hanya sia sia tanpa kehadiran dari Nadhira dan anaknya.
Rifki masih tetap berusaha untuk melawannya, meskipun usahanya itu hanya sia sia belaka karena serangannya sama sekali tidak mengenai sasaran. Justru hal itu, membuat dirinya seakan akan dijadikan sebagai boneka mainan.
"Bay!!" Di tengah tengah pertarungannya itu Rifki terus memanggil nama Bayu, akan tetapi lelaki yang dipanggil itu sama sekali tidak mendengarnya karena dirinya berada jauh dari ruangan di mana Rifki berada saat ini.
Rifki merasa begitu pusing, karena dirinya tidak bisa berbuat apa apa saat ini, hingga dirinya terjatuh dilantai ruangan itu. Orang itu seakan akan tengah menancapkan jarum lagi, akan tetapi dibagian lengan Rifki. Dengan kasarnya orang itu menyuntikkan sesuatu kepada Rifki, yang membuat Rifki menggeram kesakitan karenanya.
"Kau akan segera mati," Ucap lelaki itu sambil berbisik ditelinga Rifki.
Rifki langsung memegangi kepalanya yang terasa nyeri, bahkan disaat dirinya membuka matanya dengan lebar, dia merasa bahwa seluruh dunia terasa sangat gelap saat ini. Ia terus menggeleng gelengkan kepalanya, berharap bahwa pandangannya itu akan kembali normal seperti sebelumnya.
"Jika kamu tidak mau kembali kepadaku, maka biarkan aku kembali ke pangkuan Tuhan, sayang. Aku pergi dulu, aku akan menunggumu disana," Ucap Rifki lirih bahkan hampir tidak terdengar.
Rifki merasa bahwa akhirnya akan segera tiba saat ini, karena Bayu dan anggota Gengcobra lainnya tidak bisa dipanggil sekarang. Ada sebuah kesedihan yang mendalam didalam hatinya, dirinya pun memasrahkan segalanya kepada sang penciptanya mengenai takdir apapun yang akan terjadi kepadanya nantinya.
Hidup tanpa kehadiran dari Nadhira dalam hidupnya, membuat kehidupannya itu terasa sangat hambar bahkan tidak memiliki warna. Sudah bertahun tahun dirinya menunggu kepulangan dari Nadhira, akan tetapi sampai detik ini Nadhira tak kunjung pulang untuk kembali bersamanya.
Semakin lama, rasa sakit dikepalanya semakin bertambah. Hal itu membuat Rifki ingin sekali memejamkan kedua matanya, sepersekian detik kemudian pandangannya menggelap begitu saja dan dirinya pun langsung tidak sadarkan diri setelahnya.
Rencana tersebut sudah direncanakan sejak lama dan benar benar matang. Bahkan mereka telah menyabotase anggota Gengcobra yang berjaga diluar cendela ruangan tersebut, mereka telah diam diam menyingkirkan anggota Gengcobra dan mengambil pakaian mereka agar tidak ada yang curiga mengenai hal itu.
Hal itulah yang membuat tidak ada yang mendengar keributan tersebut, bahkan diluar ruangan itu pun telah diisi oleh anggota Gengcobra palsu. Rencana mereka benar benar telah matang, bahkan inti anggota Gengcobra pun tidak menyadarinya.
Karena sangking banyaknya anggota Gengcobra, hal itu membuat mereka tidak mampu mengenali dengan jelas sesama anggotanya. Hal itulah yang membuat anggota Gengcobra lengah, semenjak Nadhira pergi meninggalkan Rifki, Rifki tidak pernah lagi ikut campur dalam urusan anggota Gengcobra, dan menyerahkan seluruh tanggung jawab itu kepada Bayu dan Reno.
"Cepat bawa dia pergi dari sini, tapi lewat jalan rahasia agar mereka tidak tau bahwa pemimpin mereka telah ada ditangan kita," Ucap seseorang yang bertubuh besar.
"Baik Bos!" Jawab mereka serempak.
Dua orang lalu bergegas menghampiri tubuh Rifki yang terbaring tidak berdaya itu, dan langsung menautkan tangan Rifki dileher mereka masing masing. Mereka pun membawanya pergi dari tempat itu, dan tanpa dicurigai oleh siapapun.
Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mereka membawa Rifki pergi dari sana, karena penjagaan disana tidak terlalu ketat. Jika dirumahnya atau di markas besar Gengcobra atau di perusahaannya, mereka akan sangat sulit untuk menculik Rifki karena penjaganya akan begitu sangat ketatnya.
Anggota Gengcobra sama sekali tidak menyadari bahwa Rifki telah dibawa pergi saat ini melalui jalan rahasia. Gedung itu adalah gedung umum yang sengaja disewa oleh Rifki untuk acara pesta bunga api yang diadakan malam ini, sehingga tidak ada yang mencurigai akan hal itu.
Mereka langsung memasukkan tubuh Rifki kedalam sebuah mobil, yang didalam mobil itu terdapat sekitar 10 orang yang berjaga. Sementara yang lainnya masih stenbay digedung itu, agar tidak ada yang curiga akan hilangnya Rifki dari tempat itu.
"Kita akan bawa dia kemana, Bos?" Tanya salah satu dari mereka yang ada didalam mobil.
__ADS_1
"Desa Mawar Merah yang terbengkalai, setelah mendapatkan keris pusaka xingsi itu, kita habisi dia segera. Jangan sampai ada yang mengetahui jejak kematiannya nanti, dan hilangkan semua jejak tentang kita yang melakukannya."
"Baik Bos!"
Cukup lama perjalanan akhinya mereka sampai diperbatasan hutan, karena tempat itu terlihat sangat gelap hal itu membuat mereka merasa aman dengan situasi saat ini. Mereka juga merasa aman karena anggota Gengcobra yang asli sama sekali tidak mengikuti mereka yang telah membawa Rifki pergi dengan diam diam dari gedung itu.
"Ajalmu sebentar lagi akan tiba Rifki Abriyanta, waktumu tidak lama lagi didunia ini," Ucapnya sambil menatap kearah Rifki yang tidak sadarkan diri akibat obat bius. "Bawa dia masuk,"
"Baik Bos!"
Mereka pun langsung mengangkat tubuh Rifki dan membawanya masuk kedalam hutan yang rimbun itu. Hutan itu terlihat menyeramkan karena rimbunnya pepohonan yang ada disana, dan juga gelapnya malam yang menyelimuti tempat itu.
Tubuh Rifki yang tidak sadarkan diri itu terlihat tidak bertenaga, bahkan tubuhnya terasa sangat berat saat ini. Mereka membawanya ketempat itu karena hanya disanalah kekuatan keris pusaka xingsi akan melemah, pikir mereka yang saat ini tengah menculik Rifki dan ingin membunuhnya setelah itu.
*****
Bayu beberapa kali mengetuk pintu ruangan tempat dimana Rifki berada, akan tetapi sama sekali tidak ada sahutan dari Rifki. Sudah hampir 1 jam dirinya berdiri disana, akan tetapi Rifki sama sekali tidak menyuruhnya masuk ataupun berbicara kepadanya saat ini.
"Ren, apa Tuan Muda keluar?" Tanya Bayu ketika melihat Reno mendekat kearahnya.
"Dia sama sekali tidak keluar dari ruangannya, Tuan Bayu. Dari tadi dia didalam," Jawab Reno yang memang tidak melihat Rifki keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Aku merasa ada yang aneh,"
Bayu pun langsung memegangi hendle pintu tersebut, dirinya pun menggerakkannya untuk turun akan tetapi pintu itu tidak terbuka, pertanda bahwa ruangan itu telah dikunci dari dalam. Bayu merasa ada yang aneh dengan Rifki yang ada didalam ruangan itu, tidak biasanya dirinya sulit untuk dipanggil seperti ini.
"Rif!! Rif!! Buka pintunya sekarang juga!" Teriak Bayu sambik mengetuk pintu tersebut dengan kerasnya.
"Ren, cepat dobrak sekarang!" Perintah Bayu.
"Bukankah sebaiknya kita menghubungi pihak resepsionis untuk meminta kunci cadangan saja?" Tanya Reno karena gedung tersebut bukanlah milik perusahaan Abriyanta grub, sehingga mereka akan mengganti rugi jika merusak fasilitas yang ada disana.
"Kelama'an, soal kerusakan nanti bisa diganti. Cepat dobrak! Aku takut dia kenapa kenapa didalam, bagaimana kalo dia sampai kenapa kenapa?"
"Baiklah."
Reno langsung bersiap siap untuk mendobrak pintu tersebut, dirinya pun langsung berusaha sekuat yang dirinya bisa untuk membuka pintu tersebut. Sudah 3 kali percobaan, akan tetapi dirinya terus gagal karena pintu tersebut sangatlah kuat sehingga tidak mudah untuk didobrak begitu saja.
"Pintunya sangat kuat,"
"Kita dobrak bareng bareng."
Bayu dan Reno pun langsung bersiap siap untuk hendak mendobrak pintu tersebut, keduanya pun berusaha langsung mendobrak pintu tersebut. Ketiga kali dobrakan akhinya pintu itu terbuka dengan lebarnya, keduanya pun langsung terpental masuk kedalam ruangan tersebut.
Mereka begitu terkejut ketika melihat ruangan itu sudah sangat berantakan, Bayu dan Reno langsung bergegas untuk bangkit kembali dari jatuhnya. Keduanya sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Rifki, entah kemana Rifki pergi saat ini, hal itu membuat keduanya sangat panik.
"Kemana Rifki? Kenapa tidak ada disini?" Tanya Bayu yang panik.
"Tuan Muda! Tuan Muda!" Teriak Reno sambil berlarian didalam sana untuk mencari keberadaan dari Rifki.
__ADS_1
Reno pun menemukan sebuah suntikkan yang tertinggal disana, dirinya pun langsung mengambilnya dan segera bergegas untuk mendatangi dimana Bayu berada saat ini.
"Tuan Bayu, aku menemukan ini," Ucap Reno sambil menyerahkan bekas suntikkan itu kepada Bayu.
"Obat bius?" Bayu pun sangat terkejut ketika mencium bau yang agak samar dari suntikkan tersebut.
Bayu sangat yakin bahwa itu adalah bekas dari obat bius, itu artinya ada yang sengaja menculik Rifki dari tempat itu. Bayu langsung menyerahkannya kembali kepada Reno, dirinya pun langsung bergegas untuk keluar dari ruangan itu dan mendatangi anggota Gengcobra yang ada diluar gedung.
"Cepat cari Tuan Muda!"
Seluruh anggota Gengcobra pun berlarian kesana kemari, melihat hal itu membuat seluruh warga langsung berhamburan untuk pergi dari tempat itu. Mereka takut bahwa acara ini telah terjadi sesuatu yang sangat besar, dan mereka takut terlibat dalam masalah tersebut.
Mereka langsung menghentikan acara tersebut tiba tiba, padahal masih banyak bunga api yang belum dinyalakan saat ini. Akan tetapi, mereka tidak melanjutkan acaranya karena orang yang mengadakan acara tersebut telah diculik. Mereka pun bingung untuk mencari kemana Rifki saat ini, karena mereka tidak menemukan jejak yang akan membawanya menuju kearah Rifki.
Kinara dan Siska yang masih menikmati acara pesta bunga api itu pun mendadak saling berpegangan, seketika itu juga pesta bunga api tersebut langsung dihentikan. Keduanya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, melihat itu Kinara langsung panik dan menggenggam erat tangan dari Siska.
Melihat seluruhnya seakan akan sedang berhamburan itu pun semakin membuat Kinara ketakutan, dirinya takut bahwa Ibunya itu kenapa napa. Acara yang tadinya membuat Kinara sangat bahagia itupun berubah menjadi acara yang membuat Kinara menangis karena ketakutan, ia merasa bahwa perasaannya sangat gelisah.
Ikatan batin antara anak dan kedua orang tuanya itu sangat kuat, bahkan Kinara pun mampu merasakan hal yang tidak mengenakkan didalam hatinya. Melihat anggota Gengcobra yang beramburan dan juga masyarakat yang ikut berhamburan itu pun semakin membuat Kinara merasa takut, bahkan dirinya pun menangis sesenggukan hingga membuat Siska langsung menggendong gadis kecil itu untuk membawanya pergi dari tempat tersebut.
Siska dengan sergapnya langsung membawa Kinara untuk pergi dari sana, dirinya mengingat pesan dari Ana sebelumnya itu. Hal itu langsung membuatnya segera melindungi gadis kecil itu, ia begitu terkejut ketika melihat hal yang terjadi sesuai dengan ucapan Kakak angkatnya itu sebelumnya.
Mungkinkah Kakaknya sebenarnya sudah mengetahui bahwa hal ini akan terjadi disana? Itulah yang membuat Siska merasa bingung sekaligus tidak paham dengan jalan pikiran dari Ana. Meskipun sudah tinggal bersamanya bertahun tahun, akan tetapi Siska masiu belum paham dengan identitas asli dari Ana itu.
Ana bukanlah orang jahat, sehingga dirinya merasa yakin bahwa Ana adalah wanita baik yang ingin melindungi anak satu satunya itu. Ia sama sekali tidak tau identitas dari Ana, bahkan sosok Rifki yang dimaksudkan oleh Ana biasanya itu pun dirinya tidak mengenalinya, dan bahkan ketika bertemu dengan Rifki langsung, dia tidak tau soal itu.
"Tante, Mama kemana?" Tanya Kinara dengan linangan air mata yang membasahi pipi imutnya itu.
"Tante ngak tau, Nara. Kita pergi dari sini dulu dan cari tempat aman, Tante takut nanti Nara kenapa kenapa," Jawab Siska sambil memandang kasihan kearah Kinara.
"Nara maunya sama Mama, ayo kita cari Mama, Tante. Nara mau pulang sama Mama,"
"Nara dengerin Tante ya, kita pulang dulu sekarang. Nanti Tante sendiri yang akan mencari Mamamu, kalo Nara ikut nanti Nara kenapa napa gimana?"
"Nara ngak mau pulang sama Tante, sebelum ketemu sama Mama. Nara ngak mau pisah sama Mama,"
Kinara terus merengek karena takut berpisah dengan Mamanya itu, dirinya benar benar merasa ketakutan jika harus ditinggalkan begitu saja sama Mamanya. Entah mengapa, dirinya merasa sangat takut saat ini, takut kalau terjadi sesuatu dengan Mamanya.
"Nara, kan Mamamu sudah janji kalo akan pulang nanti. Lebih baik kita tunggu dirumah ya?"
"Tapi Tante, bagaimana kalo Mama kenapa kenapa? Nara ngak mau kehilangan Mama,"
"Shuuttttt...." Siska pun menaruh telunjuknya didepan bibir Kinara, "Ucapkan yang baik, Nara. Yakinlah bahwa Allah akan melindungi Mamamu, dia sudah janji bahwa dia akan pulang, dan pasti dia akan pulang nantinya. Nara percaya kan dengan janji Mama?"
"Nara percaya, Tante. Tapi Nara takut banget,"
"Kita berdoa saja ya? Semoga Mamamu baik baik saja nanti. Sekarang sebaiknya kita pulang dulu, kalo Nara kenapa kenapa nanti, Mamamu yang akan sangat sedih. Nara mau kan nurutin ucapan Tante?"
"Iya Tante, Tante janji kan bakalan bawa Mama pulang nanti?"
__ADS_1
"Kalau Mamamu belum pulang, Tante akan terus mencarinya nanti,"
Akhirnya Kinara pun mau untuk diajak pulang, meskipun dirinya sangat berat meninggalkan tempat itu karena Mamanya yang pergi entah kemana saat ini itu. Bahkan dia tidak memberitahukan apa apa kepadanya tentang kepergiannya itu, sehingga hal itu membuat Kinara merasa tidak tenang saat ini.