
Malam ini Nadhira tidur bersama dengan Putri dikamar Putri, sementara Haris dan Rifki kini tengah tertidur dikamar lama Rifki, malam ini Nadhira belum juga memejamkan matanya dan menatap kearah jam dinding yang berada tidak jauh darinya.
"Kenapa belom tidur Nak?" Tanya Putri.
"Sekarang sudah masuk tanggal 16 Ma, dimana saat itu kecelakaan Mama Lia terjadi" Ucap Nadhira yang menatap kearah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah satu.
"Mama tau apa yang kamu rasakan Nak, mungkin kata kata sabar tidak akan bisa menenangkan hatimu tapi Mama yakin bahwa kamu adalah wanita hebat yang mampu melewati ini semua"
"Boleh aku minta sesuatu Ma?"
"Katakan saja Nak, jika Mama bisa Mama akan memberikannya untukmu"
"Tolong belai rambutku Ma, sampai aku tertidur, aku ingin merasakan belaian seorang Ibu, sudah lama aku tidak merasakan itu Ma"
"Iya Nak"
Dengan perlahan lahan Putri pun mengusap puncak kepala Nadhira, sementara Nadhira memejamkan kedua matanya sambil merasakan belaian kasih sayang seorang Ibu yang Putri berikan kepadanya, tanpa disangka entah sejak kapan Nadhira sudah tertidur dengan nyenyaknya.
*****
Siang hari itu, Rifki dan Nadhira tengah berada didalam mobil menuju kerumahnya, seteleh menginap dirumah orang tua Rifki, kini keduanya sedang berada diperjalanan pulang, Nadhira merasa senang karena semalaman Putri terus membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang seorang Ibu.
Nadhira tak henti hentinya untuk terus tersenyum, mungkin rasa rindunya tak sepenuhnya terobati tapi itu sudah cukup bagi Nadhira untuk bisa merasakan belaian seorang Ibu, sementara Rifki ikut tersenyum ketika Nadhira merasa senang.
"Ngapain aja semalam tidur sama Mama, hingga membuatmu senyum senyum seperti ini sejak tadi?" Tanya Rifki.
"Buat anaklah, emang apa lagi" Jawab Nadhira dengan santainya.
"Hah? Emang bisa seperti itu? Kan sama sama ceweknya sayang, aneh banget sih"
"Kan didalem sini ada cowok" Jawab Nadhira sambil memandangi perutnya.
"Astaga sayang, ngapain aja dengan anak ini? Hei Nak, kau masih didalam perut saja sudah bikin Papa cemburu, apalagi kalo sudah lahiran, bisa bisa Papa tidak dapat jatah karenamu"
"Mama baik deh Rif, Mama mengusap kepalaku pelan dan aku seperti bisa merasakan kehadiran Mama Lia disetiap usapan lembut yang diberikan oleh Mama Putri, aku seneng banget Rif"
"Kalo kamu senang, aku juga ikut senang sayang"
"Makasih ya sayang"
"Hari ini tepat dihari kecelakaan Mama Lia sayang, jangan keluar rumah, aku takut kamu kenapa kenapa"
"Kok kamu hafal banget Rif? Padahal aku tidak memberitahumu soal itu"
"Kamu memang tidak memberitahuku sayang, tapi disetiap tanggal ini aku selalu menyuruh petugas Surya Jayantara untuk mengadakan syukuran selama ini, aku tidak pernah memberitahukan hal itu kepadamu sebelumnya"
"Sebegitu berartikah diriku bagimu Rif?"
"Lebih dari itu sayang, kau adalah separuh hidupku yang berarti dirimu adalah diriku juga, kita sama sama kehilangan Mama Lia, bukan hanya kamu yang merasakannya tapi aku juga"
Nadhira lalu menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Rifki, ia tidak bisa berkata apa apa lagi dengan apa yang dikatakan oleh Rifki kepadanya itu, rasa bahagia bercampur dengan haru menjadi satu, ia sangat bersyukur memiliki seorang suami seperti Rifki yang selalu mementingkan dirinya daripada diri sendiri.
"Jangan menangis sayang, hei ada apa? Kenapa menangis? Katakan kepadaku siapa yang membuatmu menangis?" Rifki menyadari bahwa pundak Nadhira bergetar pertanda bahwa Nadhira tengah menangis saat ini.
"Aku tidak tau lagi harus berkata apa Rif hiks.. hiks.." Tangis Nadhira pecah seketika.
"Kenapa? Apakah aku salah? Aku minta maaf sayang, maafkan aku kalau aku salah"
"Kamu tidak salah Rif, kau adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan kepadaku, bahkan ucapan cinta saja tidak cukup untuk mengutarakan isi hatiku kepadamu, aku sangat beruntung memilikimu" Air mata Nadhira tak henti hentinya berhenti menetes.
"Sudah, jangan menangis lagi, aku tidak ingin bidadariku menangis seperti ini, aku tidak tega melihatnya sayang"
"Bagaimana mungkin aku tidak menangis Rif, bertemu denganmu adalah sebuah anugerah terindah, hidup bersamamu adalah sebuah mukjizat terbesar dalam hidupku, aku tidak tau apa jadinya diriku tanpa adanya dirimu Rif, mungkin diriku sudah hancur sejak dulu"
"Sayang, sudah ku katakan kan? Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu, sejak bertemu dan berkenalan denganmu waktu itu, kau sangat menarik perhatianku, dan selalu membuatku ingin berada disampingmu sejak kecil, dan waktu kita bersekolah SMP Kakek selalu bilang kepadaku....."
*Flashback on*
Rifki tengah belajar beladiri bersama dengan Kakeknya dihalaman markas Gengcobra, saat ini usia Rifki kini tengah berusia 13 tahun dan pertama kali masuk kesekolah SMP, dan Aryabima menyuruhnya untuk push up 100 kali.
Push up dan **** up adalah makanan tiap hari Rifki ketika latihan, bahkan jumlah yang diberikan oleh Aryabima melebihi batas kemampuan anak seusianya, Aryabima benar benar melatih Rifki dengan keras dan tidak membiarkan Rifki mengeluh.
Rifki telah selesai menyelesaikan push up nya dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, dengan nafas yang tersengal sengal ia berdiri sambil menampakkan sebuah senyuman kemenangan.
__ADS_1
"Rifki hebat kan Kek?" Tanya Rifki dengan senyuman yang mengembang cerah.
"Hebat sekali, Kakek bangga kepadamu Nak"
"Kakek bilang kalo Rifki hebat dalam beladiri, Rifki bisa melindungi orang orang yang Rifki sayangi kan?"
"Bukan hanya orang orang yang kamu sayangi, tapi juga orang yang ada disekitarmu"
"Termasuk juga melindungi Dhira"
"Siapa Dhira?"
"Dhira adalah temenku Kek sekaligus sahabatku dari masuk sekolah dasar sampai saat ini Kek, dia baik, cantik dan juga penyayang"
"Kamu suka dengan Dhira?"
"Ngak tau, pokoknya pengen deket dengan dia terus Kek, aku suka mengangguinya sejak kecil, apakah Rifki boleh pacaran dengan dia Kek?"
"Jika kamu menyukai bunga, apa yang kamu lakukan?"
"Tapi Rifki ini adalah lelaki Kek, mana mungkin Rifki menyukai bunga?"
"Dengarkan Kakek, jika kamu menyukai bunga maka kamu akan memetiknya kan? Setelah dipetik bunga itu akan layu dan mati, tapi jika kamu mencintai bunga maka kamu akan merawatnya dan selalu menjaganya dengan baik, seorang lelaki yang baik tidak akan mengajak wanita yang disukainya pacaran dan juga tidak akan merusaknya"
"Tapi Rifki takut jika Nadhira akan dimiliki oleh orang lain Kek, Rifki ngak mau itu"
"Kamu percaya takdir kan? Jika memang benar Dhira ditakdirkan untukmu dia akan kembali kepadamu, dan tugasmu adalah menjaganya serta melindunginya, cinta adalah berusaha untuk membuat orang yang dicintainya bahagia meskipun tidak bisa memiliki, lelaki yang sejati tidak akan menyakiti hati seorang wanita apalagi orang yang dicintainya"
"Rifki mau jadi lelaki yang sejati Kek, Rifki tidak akan merusaknya dan akan menjaganya, tapi kasihan Dhira Mamanya sudah tiada, dan juga kini tinggal bersama Mama tirinya, tadi Rifki ngak sengaja lihat luka dilututnya, Rifki merasa sedih Kek"
"Apakah Mama tirinya melakukan kekerasan dengan dirinya sampai segitunya?"
"Rifki ngak tau soal itu Kek, kadang juga Rifki melihat bekas biru ditangannya"
"Kakek jadi penasaran dengan sosok yang membuat dirimu tertarik itu, Kakek ingin bertemu dengan gadis itu secara langsung"
"Apa Rifki boleh mengajaknya latihan bersama dengan Kakek disini?"
"Makasih Kek, tapi Rifki minta jangan kasar kasar dengan dia, kalo ke Rifki saja Kakek boleh kasar tapi ke dia jangan"
"Kamu dan dia beda, dia seorang wanita sedangkan kamu laki laki, laki laki harus bisa lebih kuat agar bisa melindungi seorang wanita"
"Rifki mengerti Kek, jadi Kakek tidak akan melatih Nadhira dengan keras kan?"
"Apa yang kamu mengerti?"
"Rifki harus lebih hebat untuk dapat melindungi orang yang Rifki sayangi termasuk juga Nadhira, menghormati setiap wanita karena wanita itu ibarat bunga, tidak akan merusak wanita karena Rifki bukan lelaki brengsek yang suka merusak wanita, tidak mengajak pacaran Nadhira karena Rifki sayang Nadhira jadi Rifki harus menjaganya dan juga selalu membuatnya bahagia"
"Pintar sekali cucu Kakek"
"Kan Rifki keturunan Kakek, jelas Rifki pintar dan kuat seperti Kakek Arya"
"Kakek bangga kepadamu Nak"
"Ayo lanjut latihannya Kek, Rifki harus jadi lebih hebat agar bisa melindungi Nadhira"
"Lanjutkan dengan lari mengelilingi lapangan markas Gengcobra sebanyak 50 kali"
"Siap laksanakan Kek"
Setelah menjawab ucapan Aryabima, Rifki langsung berlari untuk memutari lapangan tanpa bantahan sedikitpun itu, Rifki sama sekali tidak protes dengan banyaknya Aryabima memerintahnya untuk memutari lapangan itu karena Rifki sendiri ingin menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.
"Demi Nadhira, aku harus kuat"
Keringat mengucur deras diseluruh tubuhnya akan tetapi hal itu sama sekali tidak membuatnya berhenti untuk terus berlari memutari lapangan yang luas tersebut, nafasnya kian memburu akan tetapi Rifki berusaha untuk mengendalikan pernafasannya tersebut dengan ilmu yang diajarkan oleh Kakeknya kepada dirinya.
"Tambah kecepatannya! Jangan pernah berhenti untuk berlari" Teriak Aryabima.
"Iya Kek" Rifki pun menambah kecepatannya untuk berlari sesuai dengan arahan dari Aryabima.
"Laki laki itu harus..."
"Kuat! Berakhlak baik! Menjaga wanita! Melindungi sesama manusia! Tidak membedakan status kedudukan! Cinta damai!" Teriak Rifki dan tetap melanjutkan larinya.
__ADS_1
Belom selesai Aryabima menyelesaikan kata katanya akan tetapi Rifki langsung menyahutinya hingga membuat Aryabima tersenyum seraya menggeleng gelengkan kepalanya dengan sikap cucu laki laki kesayangannya itu.
*Flashback off*
Nadhira mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan oleh Rifki kepadanya itu, ternyata cinta yang diberikan oleh Rifki begitu besar kepadanya, selama ini Rifki selalu menjaganya dengan benar dan tidak akan pernah merusaknya.
"Jangan menangis lagi, aku tidak mau melihatmu menangis sayang, apa yang harus aku lakukan agar dirimu berhenti menangis? Tenanglah" Ucap Rifki diakhir ceritanya dan masih memeluk tubuh Nadhira.
"Biarkan aku memelukmu Rif, aku merasa tenang berada didalam pelukanmu" Ucap Nadhira yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau boleh memelukku sepuas hatimu sayang, tapi jangan menangis ya, aku menyayangimu lebih dari nyawaku Dhira, aku akan selalu berusaha untuk melindungimu, tapi disini justru dirimu yang selalu melindungiku, kau bahkan tidak berpikir panjang untuk dapat menyelamatkan diriku dari bahaya"
"Aku tidak mau kau kenapa kenapa Rif, hanya kamu satu satunya lelaki yang sangat berarti bagiku, setelah Papaku menyakitiku, aku tidak punya lagi laki laki yang akan menjagaku selain dirimu"
"Waktu Amanda diculik, saat itu aku merasa marah dengan Papamu, bisa bisanya dia menghukummu seperti itu Dhira, sampai sampai kau jatuh sakit dijalanan, meskipun sakit kau tidak menyerah untuk terus mencarinya dan sama sekali tidak mempedulikan dirimu sendiri, kau bahkan mengalami luka tusukan yang sangat dalam karena menyelamatkan diriku, bagaimana mungkin aku bisa tidak mencintaimu Dhira"
"Saat itu, aku takut kamu kenapa kenapa Rif, aku telah melibatkan dirimu dan juga anggota Gengcobra dalam masalahku, aku merasa bersalah karena membawa kalian dalam bahaya"
"Tapi apa yang Amanda lakukan kepadamu Dhira? Dia bahkan menyakiti dirimu"
"Aku tidak peduli tentang apa yang dilakukan oleh Amanda kepadaku itu, yang terpenting aku menjalankan tugasku sebagai seorang Kakak untuk melindungi Adiknya Rif"
"Aku berharap bahwa Amanda akan segera sadar dan memperlakukanmu sebagaimana mestinya"
"Tapi tolong, rahasiakan hal itu Rif, jangan katakan apapun kepada Amanda"
"Kenapa?"
"Semuanya sudah berlalu Rif, aku tidak ingin membicarakannya lagi"
"Kau sangat baik sayang, terus berbuat baik tanpa mengharapkan orang lain memperlakukanmu dengan baik seperti dirimu memperlakukan mereka"
"Berharap kepada manusia itu luka, dan akan sangat menyakitkan Rif, aku tidak mau terlalu berharap agar diperlakukan seperti aku memperlakukan mereka, bahagia bersamamu sudah cukup bagiku"
"Itulah mengapa, kau sangat berbeda sayang"
Nadhira memejamkan kedua matanya sambil bersandar didada bidang suaminya, itulah tempat ternyaman untuk bersandar seperti ini bagi Nadhira, Rifki yang menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala Nadhira membuat Nadhira semakin merasa nyaman berada didalam pelukan Rifki.
"Memang benar, pacaran setelah nikah itu enak ya sayang, kalau khilaf juga tidak berdosa malah dapat pahala lagi" Rifki tertawa pelan sambil menciumi kening Nadhira.
"Aku lebih suka kamu khilaf Rif"
"Iya nanti dikamar, ini masih dijalan sayang, kalo khilaf disini tidak enak dilihat Pak Mun".
Pak Mun yang sejak tadi mendengar cerita keduanya pun hanya bisa berdiam diri dan terus fokus untuk menyetir, ternyata masalalu Nadhira begitu berat daripada apa yang dia dengar selama ini, meskipun telah diperlakukan tidak adil oleh Papanya akan tetapi Nadhira rela mengorbankan ginjalnya untuk orang seperti Papanya itu.
Tidak mudah untuk menjadi seperti kedua orang itu, Pak Mun yang sejak kecil diperlakukan seperti raja itu pun tidak akan bisa menyamai keduanya, Pak Mun adalah anak dari seorang pengusaha kaya raya akan tetapi sekarang sudah bangkrut, Pak Mun yang malas malasan itu pun menyesal karena saat ini dirinya hanya bisa menjadi seorang sopir pribadi.
Roda kehidupan itu terus berputar, mungkin saat ini kita berada diatas, akan tetapi dengan mudah Allah menjatuhkan kita kebawah, karena diatas belum tentu selamanya dan juga dibawah belum tentu terus berada dibawah.
"Rif, aku merasa sangat bahagia hidup bersamamu, kau suami terbaik untukku selamanya, tak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu dihatiku" Nadhira menatap dalam kearah wajah Rifki dan memeganginya dengan kedua tangannya.
"Kau wanita satu satunya yang ada dihatiku Dhira, kita akan bersama selamanya"
"Rif, apakah ini adalah akhir? Akhir yang bahagia"
"Ngak Dhira, kita tidak akan berakhir secepat ini, jangan katakan hal itu sayang, aku mohon"
"Rif, permata iblis dan keris pusaka xingsi selalu menghantuiku Rif, aku takut kalau anak kita celaka, aku takut kalau kita tidak akan bisa bersama lebih lama lagi"
"Anak kita pasti baik baik saja, dia anakku, dia pasti bisa menghadapi semuanya Dhira"
"Anak ini harus tetap hidup, dia adalah lambang cinta kita berdua Rif, apapun yang terjadi kau harus bisa menyelamatkannya, meskipun aku tidak selamat"
"Ngak sayang, apapun yang terjadi, kita harus hadapi bersama sama, jangan pernah menyerah, kita bisa menyelesaikan tugas kita dan hidup bahagia"
"Bagaimana kalau aku tidak kuat Rif? Apakah aku boleh menyerah nantinya?"
"Jangan pernah ada kata menyerah Dhira, aku mohon jangan pernah menyerah, jangan pernah tinggalkan aku Dhira, jangan pernah katakan hal seperti itu, kau pasti akan baik baik saja, malaikat maut tidak akan bisa memisahkan kita Dhira, kita punya mimpi untuk menua bersama"
"Firasatku mengatakan bahwa aku tidak akan bertahan sampai tua, tapi aku bahagia karena aku bisa menjadi milikmu" sebuah senyuman tercipta diwajah Nadhira meskipun dengan linangan air mata.
"Kenapa ucapanmu semakin melantur Dhira? Kau baik baik saja kan?"
__ADS_1