Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Aksi Dokter Lila


__ADS_3

Seorang wanita cantik kini tengah berjalan bersama dua orang lelaki dibelakangnya, wanita itu mampak ketakutan layaknya seorang tahanan, sementara kedua lelaki itu terlihat seperti seorang bodyguard yang begitu menyeramkan bagi siapapun yang melihatnya, tubuh kekarnya itu terlihat menyeramkan bagi setiap orang yang bersisipan dengan ketiganya.


Ketiganya kini berjalan memasuki area rumah sakit, wanita itu nampak sekali ketakutan akan tetapi harus dipaksakan bersikap baik baik saja oleh kedua lelaki tersebut, mereka pun berhenti tepat diruangan seorang Dokter didalam rumah sakit itu.


"Kalian tunggu diluar saja, orang lain tidak boleh masuk" Ucap wanita tersebut.


"Kalo kau sampai macam macam, akan ku bunuh kau sekarang juga" Ucap salah satu lelaki itu.


"Aku tidak berani melakukan itu, lagian nyawa kedua orang tuaku ada ditangan kalian"


"Baguslah kalau kau sadar akan hal itu"


"Mungkin butuh waktu yang lama aku didalam, jangan masuk sebelum aku keluar"


"Aku beri waktu selama 4 jam, kalo lebih dari itu, nyawa orang tuamu akan melayang"


"4 jam? Semoga sebelum waktu itu habis, aku bisa segera menemukan anggota Gengcobra, dan meminta bantuan dari mereka" Batin wanita itu dan hanya menganggukkan kepalanya.


Wanita itu lalu masuk kedalam ruangan tersebut, wanita cantik itu tidak lain adalah Dokter Lila yang datang kerumah sakit tersebut untuk mengambil beberapa obat yang dibutuhkan oleh Nadhira padahal itu hanya alasannya saja agar bisa keluar untuk mencari bantuan.


"Dokter Lila kau baik baik saja?" Nampak seorang lelaki yang berada didalam ruangan itu.


"Aku baik baik saja Dokter Kevin, aku minta bantuan darimu"


"Bantuan apa itu?"


*****


Dokter Lila kini tengah berlarian ditepi jalan, Nadhira mengatakan kepadanya bahwa anggota Gengcobra mudah ditemukan dijalanan, karena biasanya anggota Gengcobra akan membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan bantuan.


Dengan bantuan dari Dokter Kevin, akhirnya dirinya bisa keluar dari ruangan itu, meskipun dia harus lompat melewati cendela yang ada didalam ruangan tersebut, Dokter Lila sama sekali tidak menyerah.


"Sudah 1 jam aku berjalan, kemana lagi aku harus mencari mereka? Ya Allah, tolong bantu hamba" Ucapnya ketika melihat jam tangan yang melingkar rapi ditangannya itu.


Ia pun berlarian tanpa melihat jalanan yang ia lalui saat ini, tiba tiba sebuah sepedah motor melaju dengan cepat dan hampir menabraknya, untung saja pengendara sepedah motor tersebut langsung mengerem motornya itu sebelum menabrak Dokter Lila yang berlarian sembarangan.


Cittttt...


"Aaa....."


Dokter Lila langsung terjatuh diaspal ketika dirinya hendak ditabrak oleh orang tersebut, melihat itu membuat pengendara motor tersebut langsung turun dari sepedahnya dengan cepat.


"Woi Mbak! Kalo jalan lihat lihat, ketabrak baru tau rasa lo" Ucap pengendara motor itu.


"Lambang itu, apakah mungkin dia" Dokter Lila terpanah dengan lambang yang ada dibaju kanan pengendara motor itu.


"Mbak ngak apa apa kan?" Tanya lelaki itu ketika melihat Dokter Lila hanya berdiam diri.


"Kau harus tanggung jawab! Kakiku sakit" Keluh Dokter Lila.


"Mbak sendiri yang ngak lihat jalan masak saya yang harus tanggung jawab? Depan sana noh ada rumah sakit, saya lagi ngak punya banyak waktu"


"Tunggu! Kau harus tanggung jawab"


"Haduh Mbak, saya ngak punya waktu, saya lagi buru buru ini, Mbak butuh uang berapa? Saya beri deh, asalkan biarkan saya pergi"


"Aku ngak butuh uangmu, pokoknya kau harus tanggung jawab, antarkan aku"


"Eh Mbak, dibilangin kok ngak bisa sih, saya buru buru nih Mbak"


"Kalo aku terlambat, orang tuaku mau dibunuh"


"Astaga, ya sudah ayo naik, saya antarkan"


Dokter Lila langsung memakai helm yang tersedia dijok belakang, setelahnya ia segera naik keatas sepedah tersebut dan lelaki itu langsung menjalankan sepedahnya pergi dari tempat itu.


"Mbak mau diantarkan kemana?" Tanya lelaki itu lagi ketika keduanya sudah berada diatas sepedah.


"Ketemu sama atasanmu, ini penting"


"Atasanku? Saya ngak kerja Mbak, jadi saya ngak punya atasan, Mbak mau ketemu atasan saya yang mana? saya ngak punya"


"Kamu anggota Gengcobra kan?"


Mendengar pertanyaan itu seketika itu juga membuat lelaki tersebut menghentikan sepedah motornya, tidak ada orang yang tau tentang Gengcobra, bagaimana mungkin wanita yang ia temui tidak sengaja itu mengetahui tentang nama Gengcobra.


"Maaf Mbak, saya harus pergi" Nada lelaki tersebut langsung berubah dingin dan tegas.


"Tunggu! Ini soal Nadhira, aku harus bertemu dengan lelaki yang bernama Rifki"


"Nona Muda? Dimana anda menemuinya? Tolong beritahu saya" Mendadak lelaki itu terlihat panik.


"Aku harus bertemu dengan Rifki, antarkan aku untuk menemuinya, aku tidak punya banyak waktu lagi, orang tuaku mau dibunuh kalo aku telat"

__ADS_1


"Baik Mbak, Mbak pegangan yang erat, kita akan menemui Tuan Muda"


Salah satu anggota Gengcobra tersebut segera melanjutkan motornya dengan kecepatan tinggi, hal itu membuat Dokter Lila harus berpegangan dengan erat pada baju lelaki tersebut, tak lama kemudian mereka sampailah disebuah bangunan yang cukup besar dan juga gerbang yang cukup tinggi.


Seseorang lalu membukakan pintu gerbang utama untuk anggota Gengcobra tersebut, melihat adanya seorang wanita dibawa oleh anggota Gengcobra itu membuat orang yang membukakan gerbang menatap tajam kearahnya.


"Jangan salah paham, dia datang atas suruhan dari Nona Muda, apakah Tuan Muda ada didalam?" Ucap anggota Gengcobra yang membawa wanita itu.


"Baiklah, kalian boleh masuk, Tuan Muda baru saja sampai dimarkas"


"Terima kasih"


Keduanya langsung bergegas masuk kedalam markas tersebut, kedatangan seorang wanita ditempat itu langsung menyita banyak perhatian anggota Gengcobra yang berlalu lalang ditempat itu, tiba tiba Bayu muncul dihadapan keduanya dan menghentikan langkah keduanya.


"Siapa dia? Beraninya kau membawa seorang wanita masuk kemari" Ucap Bayu sambil menatap tajam.


"Maaf Tuan Bayu, dia ingin bertemu dengan Tuan Muda, dia memiliki informasi tentang Nona Muda"


"Apa kata katamu bisa dipegang?"


"Saya disini ingin membantu Nadhira, tolong percaya dengan ucapan saya, saya tidak punya waktu lagi, kalo saya telat orang tua saya akan dibunuh oleh mereka dan juga saya tidak akan bisa menolong Nadhira lagi" Ucap Dokter Lila dengan linangan air mata yang menetes di pipinya.


"Baiklah ikut dengan saya" Ucap Bayu dan langsung bergegas pergi diikuti oleh Dokter Lila.


Dokter Lila agak merinding berada didalam markas itu, bukan hanya dikelilingi oleh lelaki tapi disana para lelakinya memiliki perawakan wajah yang garang dan juga menyeramkan bagi seorang wanita yang baru pertama kali masuk kedalamnya.


Tok tok tok


"Rif, apa kau didalam?" Ucap Bayu.


"Masuk" Jawab Rifki dari dalam.


Bayu lalu membuka pintu kamar Rifki, ia lalu mengajak Dokter Lila untuk masuk kedalamnya, Rifki yang tengah fokus kepada ponselnya itu pun begitu terkejut ketika Bayi membawa seorang wanita masuk kedalam kamarnya itu.


"Apa apaan kau ini!" Teriak Rifki.


"Tolong jangan marah dulu Rif, dia bilang dia memiliki informasi tentang Nadhira, mungkin Nadhira yang menyuruhnya untuk datang kemari menemuimu"


Mendengar penjelasan dari Bayu membuat Rifki langsung merubah ekspresinya, yang tadinya dia marah mendadak menjadi biasa saja, ia lalu mengajak Dokter Lila beserta Bayu untuk duduk disofa yang ada didalam kamar tersebut.


"Katakan" Ucap Rifki.


"Saya adalah Dokter Lila, dan saya yang merawat Nadhira selama dia disekap oleh orang orang jahat itu, saya datang kemari untuk meminta pertolongan kepada anda, orang tua saya dimau dibunuh kalo saya melawan mereka, tolong selamatkan orang tua saya, saya akan berusaha untuk melepaskan Nadhira dari tangan orang orang itu" Setetes air mata lolos begitu saja dari pipinya.


"Aku tidak percaya dengan ucapanmu"


"Bagaimana bisa kau tau bahwa ini adalah anggota Gengcobra?"


"Nadhira sendiri yang mengatakan kepada saya, tentang logo anggota Gengcobra, dia juga bilang kepada saya, tentang ciri ciri anda"


"Aku tidak yakin dengan ucapanmu"


"Mungkin nama Kinara akan membuat anda yakin"


"Kinara? Bagaimana kau tau soal itu?"


"Sudah saya katakan, bahwa saya adalah Dokter Lila yang merawat Nadhira selama dia disekap"


"Bagaimana kondisi Nadhira?" Wajah Rifki mendadak berubah menjadi khawatir.


"Dia sangat lemah, saya tidak tega melihatnya apalagi orang itu terus menekan perutnya sampai sampai Nadhira menjerit kesakitan"


Mendadak ada rasa perih dihati Rifki, dari cerita itu tiba tiba Rifki meneteskan air matanya, ia pun mengepalkan tangannya dengan erat hingga setetes darah keluar dari tangannya karena kuku kukunya yang menancap pada telapak tangannya.


"Beritahu aku lokasinya dimana"


"Saya tidak bisa memberitahukan hal itu, kalo anda nekat menyerangnya maka orang tuaku yang dalam bahaya, kedua orang tua saya disekap oleh mereka, dan saya tidak mau mereka kenapa kenapa"


"Baiklah, aku akan menyelamatkan mereka lebih dulu, apa kau tau dimana lokasi mereka menyekap orang tuamu itu?"


"Aku tidak tau, tapi aku pernah mendengar bahwa mereka disekap disebuah goa, yang ada di hutan belantara"


"Hutan belantara? Aku tau lokasinya" Ucap Bayu.


Dokter Lila pun mengatakan sesuatu kepada keduanya, keduanya lalu mendengarnya dengan seksama apa yang dikatakan oleh Dokter Lila kepada mereka, Rifki merasa bahagia karena dia mendapatkan petunjuk tentang Nadhira akan tetapi dirinya juga sedih setelah mengetahui kondisi Nadhira saat ini.


"Tolong jaga Nadhira ya, katakan kepadanya bahwa aku akan segera datang menjemputnya, dia harus baik baik saja" Ucap Rifki.


"Anda tenang saja, saya akan berusaha untuk menjaganya dengan baik"


"Terima kasih Dokter Lila"


"Waktu saya tidak lama lagi, tolong antarkan saya kerumah sakit medica sekarang, saya takut dua orang itu akan berbuat macam macam" Ucapnya sambil melihat jam tangan.

__ADS_1


"Biarkan Fajar yang akan mengantarmu"


"Terima kasih"


"Mari ikut aku keluar" Ucap Bayu.


Dokter Lila langsung bangkit dari duduknya mengikuti langkah kaki Bayu, Bayu pun memerintahkan kepada Fajar untuk mengantarkan Dokter Lila ketempat tujuan itu, meskipun agak aneh akan tetapi Fajar tetap menjalankan perintah tersebut.


*****


"Ck... Ngapain saja sih dia didalam"


"Kalo sampe lebih dari 4 jam, kita masuk saja bos"


"Kurang 1 menit, ayo masuk"


Keduanya nampak terlihat sangat marah karena Dokter Lila tak kunjung keluar dari dalam ruangan itu, karena tidak sabarnya salah satu dari mereka pun masuk kedalam ruangan tersebut dengan kemarahan.


Untung saja Dokter Lila tepat pada waktunya, sehingga dirinya sudah berada didalam dan langsung berdiri dari duduknya, ia tengah meracik sebuah obat untuk Nadhira saat ini.


"Kalian! Sudah ku bilang kan tunggu diluar, aku tidak akan macam macam! Aku hanya meracik obat untuk Nona" Ucap Dokter Lila.


"Beraninya kalian berdua masuk kemari, mau aku panggilkan satpam untuk mengusir kalian?" Tanya Dokter Kevin.


"Waktumu sudah habis"


"Dokter Kevin saya permisi dulu" Ucap Dokter Lila.


"Iya, hati hati dijalan"


Keduanya memainkan peran yang cukup bagus hingga membuat kedua orang itu sama sekali tidak curiga dengan keduanya, Dokter Lila lalu menganggukkan kepalanya kepada Dokter Kevin, setelah itu ia langsung bergegas pergi dari tempat itu bersama dengan kedua orang itu.


Mereka lalu menuju ketempat dimana Nadhira disekap saat ini, tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka telah sampai dibangun yang cukup besar tersebut, Dokter Lila langsung bergegas menuju keruang tempat Nadhira terbaring.


Ia mendapati Nadhira yang tengah meringis kesakitan sambil memejamkan kedua matanya, dan juga sekujur tubuh Nadhira dibasahi oleh keringatnya sendiri, Dokter Lila dapat menebak bahwa lelaki itu melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.


"Mbak ngak apa apa?" Tanya Dokter Lila khawatir kepada Nadhira.


"Sakit Dok"


"Aku tadi bertemu dengan suami anda"


"Apa? Bagaimana kabarnya?" Nadhira merasa bahagia mendengarnya, ia lalu membuka kedua matanya meskipun rasa sakit masih menjalar keseluruh tubuhnya.


Dokter Lila lalu menceritakan semuanya kepada Nadhira, mulai dari pertemuannya dengan anggota Gengcobra dan juga diantar oleh anggota Gengcobra kembali kerumah sakit.


"Kamu dengar kan Nak? Papamu akan segera datang untuk menjemput kita" Ucap Nadhira sambil menatap kearah perutnya.


"Mbak harus bertahan ya, demi suami dan juga anak Mbak"


"Terima kasih ya Dok atas bantuannya"


Dokter Lila hanya mengangguk dan langsung mengganti tabung infus yang terpasang ditangan Nadhira karena cairannya hampir habis, setelahnya ia mengeluarkan sebuah suntikan.


"Jangan beri obat itu Dok, saya tidak mau anak saya kenapa napa" Ucap Nadhira.


"Ini bukan obat, ini hanya vitamin untuk bayi anda, saya tidak mau ketika suami anda menjemput anda, tapi anda malah terlihat lemas seperti ini, anda harus kuat agar bisa membesarkan anak anak anda"


"Terima kasih banyak atas bantuannya Dok, kalo tidak ada anda mungkin saya tidak bisa bertemu dengan suami saya lagi"


"Sama sama Mbak, kita sama sama korban, dan sudah sepantasnya kita saling membantu satu sama lain untuk keluar dari sekapan ini"


Nadhira pun mengangguk dengan lemahnya, Dokter Lila lalu menyuntikkan obat ditangan Nadhira hingga membuat Nadhira memejamkan matanya merasakan jarum suntik itu menusuk kulitnya, dan Dokter Lila memasukkan cairan obat itu melalui suntikan tersebut.


"Mbak, saya suapin makan ya"


"Saya ngak lapar Dok"


"Mbak harus banyak makan biar Mbak dan Bayi Mbak tetap sehat"


"Ngak mau, saya lelah Dok jika terus terusan seperti ini, saya capek, sampai kapan saya akan seperti ini terus, sakit"


"Bertahanlah Mbak, Mbak harus tetap semangat, saya jadi sedih kalo Mbak seperti ini"


"Maafin saya ya Dok, karena telah merepotkan anda"


"Mbak tidak salah, cepat atau lambat suami anda akan menolong anda, dia juga telah berjanji bahwa akan menyelamatkan kedua orang tuaku juga Mbak, Mbak harus kuat, saya sudah berjanji kepadanya bahwa akan menjaga anda disini"


"Saya sudah tidak sanggup lagi Dok, saya tidak tau sampai kapan saya akan bertahan"


"Mungkin ucapan semangat dariku tidak lagi dibutuhkan untuk saat ini, tapi pikirkan soal suami anda Mbak, dia sudah bekerja keras untuk menyelamatkan anda tapi jika anda menyerah begitu saja, sama halnya usaha suami anda sia sia"


"Saya akan mencoba bertahan, tapi saya tidak tau sampai kapan saya akan bertahan"

__ADS_1


"Itu jauh lebih cukup Mbak, saya suapin makan ya, biar Mbak juga ada tenaga untuk bangkit nanti ketika suami anda sudah menjemput"


"Iya"


__ADS_2