Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Tidak mau bertemu


__ADS_3

Keesokan paginya, ketika Putri datang kerumah sakit tersebut langsung disambut oleh Rifki dengan hangat, tidak biasanya Rifki akan seperti itu kepadanya, hal itu membuat Putri merasa sangat aneh dengan anak lelakinya itu.


"Ada apa nih? Dhira sudah sadar?" Tanya Putri.


"Belum sadar juga Ma, entah kapan sadarnya, Rifki boleh nanya sesuatu ngak kepada Mama? Tapi jangan diketawain Rifki nanti"


"Tanya apa? Sepertinya kelihatannya sangat penting, mau nanya tentang apa?"


"Rifki sebenarnya ingin merias wajah Nadhira biar tidak pucat, tapi aneh kenapa lipstik ini sama sekali tidak merubah warna bibirnya, Rifki oles beberapa kali pun masih tetap sama, ngak ada perubahan sama sekali dibibirnya itu Ma" Ucap Rifki sambil menyodorkan lipstik kepada Putri.


"Coba sini Mama lihat"


Putri pun mengambil lipstik yang ada ditangan anaknya itu, ia lalu membuka lipstik tersebut karena merasa penasaran, setelah melihatnya ia begitu terkejut dan menatap kearah Rifki dengan kedua mata yang membulat dengan tatapan yang tajam.


"Habis Rifki banting kemarin Ma" Ucap Rifki yang sedikit cengengesan karena ia sendiri juga terkejut ketika melihat benda itu sudah rusak.


"Kenapa dibanting Rifki! Kalo Dhira tau bisa bisa kau diomeli parah olehnya itu" Ucap Putri dengan nada sedikit tinggi daripada sebelumnya.


"Habisnya Rifki kesal Ma, itu sama sekali tidak bisa merubah warna bibir Nadhira, walaupun sudah dikasih itu tapi masih tetap aja kelihatan pucat, Rifki ngak sengaja langsung melemparnya begitu saja"


Mendengar jawaban dari anaknya itu sontak membuat Putri menepuk jidatnya begitu saja, bagaimana bisa merubah warna bibir orang ini adalah lip blam bukan lipstik pemerah bibir, Rifki hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal melihat reaksi Putri.


"Ini bukan pemerah bibir Rifki, pantas saja tidak merubah warna bibir, ini lip blam untuk melembabkan bibir bukan pemerah bibir"


"Lip blam? Apa lagi itu Ma? Tapi Dhira sering pake itu Ma, tapi setelahnya bibirnya langsung berwarna pink, Rifki suka itu, tapi kenapa ini tidak bisa berubah"


"Coba Mama lihat mana peralatan make upnya, mungkin saja Mama bisa bantu"


Rifki pun mengajak Putri untuk duduk disofa yang ada dikamar itu, ia lalu menyerahkan sebuah tas kecil yang terdapat berbagai macam alat make up Nadhira, Putri pun perlahan lahan membuka tas tersebut untuk memberi sebuah lipstik yang biasanya digunakan oleh Nadhira.


"Nah ini baru untuk memerahkan bibir, bukan yang itu" Ucap Putri sambil mengangkat sebuah lipstik yang bentuknya lebih kecil daripada lip blam tadi.


"Kecil banget Ma, tapi aku tidak pernah melihat Dhira pake yang itu"


"Kecil kecil seperti ini itu mahal, jangan meremehkan harga lipstik, mungkin kamu ngak pernah lihat dia pake yang ini kali, tapi dia sering pake"


"Ngak tau juga Ma, perasaan emang ngak pernah dipake olehnya Ma"


"Benarkah? Sini biar Mama pake kan kedia dulu"


Putri pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kearah Nadhira yang terbaring, ia lalu mengoleskan lipstik tersebut dibibir Nadhira dengan hati hati agar tidak tercoret, sekali oles saja sudah menampakkan warna pink yang selalu disukai oleh Rifki.


Melihat itu membuat Rifki mengembangkan sebuah senyuman, itu adalah warna bibir yang selalu membuat Rifki merasa candu, wajah Nadhira itu pun terlihat begitu segar setelah diwarnai oleh pewarna bibir itu.


"Mama terbaik deh, sekarang Dhiraku sudah terlihat sangat cantik dan siap untuk diajak jalan jalan" Puji Rifki dengan senyuman yang mengembang cerah akan tetapi masih dapat terlihat sebuah kesedihan yang mendalam disana, "Tapi dia ngak bangun bangun" Ucapan Rifki pun berubah menjadi sedih.


"Kita doakan saja semoga dia cepat bangun, kamu pulang dulu deh, Mama tau kalo kamu pasti tidak tidur semalaman kan? Tidurlah dirumah, biar Mama yang gantian jaga disini"


"Iya Ma, kalo gitu Rifki pulang dulu ya Ma, tolong jagain Nadhira untukku Ma"


"Iya Nak, pulang setelah itu istirahat yang nyenyak, jangan terlalu banyak pikiran, perhatikan juga kondisi tubuhmu itu, masak nanti Nadhira sudah sadarkan diri kamunya malah jatuh sakit, kan ngak lucu"


"Iya Ma, Rifki pulang dulu, assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


*****


Tiga hari kemudian, seperti biasa Putri akan datang kerumah sakit untuk menjaga Nadhira yang belum sadarkan diri itu, sementara Rifki ia suruh untuk istirahat dirumah karena tidak mau anak laki lakinya itu jatuh sakit karena menunggu Nadhira sadarkan diri dirumah sakit.


Putri tengah duduk disofa yang ada dirumah sakit tersebut sambil menonton televisi yang disediakan diruangan itu, tiba tiba tangan Nadhira bergerak pelan dan mengernyitkan dahinya, perlahan lahan dirinya mulai membuka kedua matanya.


Ia mengedip kedipkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya, mata Nadhira sedikit terbuka dan terlihat begitu buram, ia melihat bahwa dirinya berada didalam ruangan serba putih dan begitu tidak asing karena dia berada didalam sebuah rumah sakit.


Kepalanya terasa begitu berat dan pusing, ia lalu memegangi kepalanya pelan, Ia menoleh kearah seseorang yang tengah menonton televisi, Nadhira tersenyum ketika mendapati sosok Putri disana.


"Ma..." Panggil Nadhira lirih.


Nadhira beberapa kali mencoba untuk memanggil Putri karena suaranya begitu pelan itu pun membuat Putri tidak mendengarnya apalagi suara tersebut tenggelam karena suara televisi yang tengah ditonton oleh Putri saat ini.


Nadhira mencoba untuk memanggilnya lebih keras lagi, karana dia yang sudah lama tidak berbicara itu pun terlihat agak kesusahan untuk mengeluarkan suaranya itu, hingga dirinya memejamkan matanya sambil berusaha untuk memanggil Putri.


Putri yang mendengar panggilan lirih tersebut langsung bangkit dan bergegas menuju ketempat dimana Nadhira terbaring, Nadhira kembali memejamkan matanya kerena kedua matanya belum bisa menyesuaikan cahaya yang ada didalam ruangan tersebut.


"Kenapa aku mendengar Dhira memanggilku" Guman Putri ketika melihat Nadhira masih terbaring dengan memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Nadhira pun kembali membuka matanya ketika merasakan sosok Putri sudah mendekat kearahnya, dan ia pun mendengar gumanan pelan yang diucapkan oleh Putri, melihat Nadhira membuka matanya membuat Putri begitu terkejut sekaligus merasa sangat bahagia.


"Kamu sudah sadar Nak, Mama akan menghubungi Rifki sekarang, dia harus tau kalo kamu sudah sadarkan diri" Ucap Putri girang.


"Jangan Ma"


"Ada apa Nak? Kenapa Mama tidak boleh memberitahukan hal ini kepadanya?"


"Dhira ngak mau bertemu Rifki sekarang"


"Baiklah, yang penting kamu sudah sadar Nak, Mama merasa sangat bahagia"


"Dhira mau minum Ma"


"Iya Mama ambilkan sebentar"


Putri pun mengambil segelas air putih yang disediakan disitu, lalu menatuh sedotan kecil digelas itu agar mempermudah Nadhira untuk meminumnya, dengan perlahan lahan Putri membantu Nadhira untuk meminumnya.


Rasa haus yang ada di tenggorokannya itu pun langsung mereda ketika beberapa teguk air mineral yang masuk kedalam tubuhnya melalui tenggorokannya itu, beberapa hari tidak sadarkan diri membuat Nadhira merasa sangat haus.


Setelahnya Putri kembali menaruh gelas tersebut dinakas sebelah Nadhira, ia lalu menekan sebuah tombol yang ada didekat Nadhira untuk memberitahu bahwa Nadhira sudah sadarkan diri, tak beberapa lama kemudian Dokter pun masuk kedalam ruangan tersebut.


"Dok, anak saya sudah sadarkan diri" Ucap Putri.


"Saya priksa dulu ya" Dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Nadhira.


Dokter tersebut lalu memeriksa Nadhira, memeriksa denyut jantungnya, kedua matanya, dan tensi darahnya. Setelahnya ia tersenyum tipis kearah Nadhira karena kondisinya sudah membaik saat ini daripada sebelumnya.


"Gimana perasaannya Mbak?" Tanya Dokter tersebut untuk mengajak Nadhira mengobrol.


"Baik" Jawab Nadhira singkat karena dirinya seperti malas untuk berbicara.


"Alhamdulillah, lebih banyak istirahat lagi ya Mbak, biar bisa cepat pulih"


"Iya Dok"


"Kondisinya sudah membaik Bu, tapi pasien harus lebih banyak istirahat dan makan karena tensi darahnya sedikit rendah dari kondisi normalnya" Ucap Dokter kepada Putri.


"Iya Dok, terima kasih" Balas Putri.


"Ma" Panggil Putri.


"Ada apa Nak? Kamu butuh sesuatu?"


"Maafin Dhira ya, Dhira telah gagal menjaga cucu Mama dengan baik, sehingga dia tidak bisa diselamatkan lagi Ma" Air mata Nadhira tiba tiba menetes dari ujung matanya.


"Tidak apa apa Nak, ini sudah menjadi takdir, asalkan Dhira baik baik saja itu sudah cukup bagi Mama"


"Makasih ya Ma karena sudah memaafkan Dhira, Dhira ngak mau bertemu dengan Rifki, tolong minta Rifki untuk tidak menemui Dhira lagi"


"Iya Nak, bentar Mama telpon dia dulu, setelah itu Mama akan kembali lagi, beberapa hari ini dia tidak bisa tidur nyenyak menunggumu untuk bangun"


"Iya Ma"


Putri pun keluar dari ruangan tersebut untuk menghubungi Rifki yang sedang dirumah untuk istirahat, ia memberitahukan bahwa Nadhira sudah sadarkan diri, betapa senangnya dia mengetahui kabar tentang itu.


*****


Nadhira tengah bersandar dikasur rumah sakit dengan sebuah bantal, dan sedang disuapi oleh Putri bubur dari rumah sakit, keduanya nampak sedang berbincang bincang, Nadhira merasa senang karena diperhatikan oleh Putri seperti itu, Putri benar benar telah menganggapnya seperti anak sendiri.


"Ma, sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?"


"Sudah sekitar 7 hari Nak, makan yang lahap ya biar cepet sembuh dan bisa beraktivitas lagi"


"Berarti sudah 7 hari anakku ngak ada Ma, dia pasti sudah dimakamkan, padahal aku ingin sekali melihat wajahnya itu"


"Dia tampan seperti Ayahnya, yang ikhlas ya Nak, dia sedang membangunkan sebuah istana untuk kalian nanti disyurga-Nya"


"Aku bermimpi bertemu dengan dia Ma, seorang anak kecil yang masih berusia 6 tahun, wajahnya mirip sekali dengan Rifki, dia juga mengatakan hal itu kepadaku Ma"


"Benarkah? Pasti sangat tampan sekali"


"Sayangnya dia tidak bisa melihat dunia, tidak bisa bermain dengan kita, dan tidak bisa tumbuh dewasa bersama kita"


"Jangan bersedih Nak, sudah ayo buka mulutmu Nak, keburu dingin nanti buburnya"

__ADS_1


"Iya Ma"


Putri kembali menyendokkan bubur tersebut dan menyuapkannya kedalam mulut Nadhira, tak beberapa lama kemudian Rifki tiba tiba datang dan masuk kedalam ruangan itu, ia merasa bahagia ketika melihat Nadhira sudah sadarkan diri.


Tatapan mata Nadhira dan Rifki pun bertemu, ada sebuah kebahagiaan diwajah Rifki yang terarah kepada Nadhira, melihat itu pun membuat Nadhira langsung membuang muka dari hadapan Rifki karena dia tidak mau melihat wajah Rifki.


"Dhira ngantuk Ma" Ucap Nadhira.


"Minum dulu Nak, sini Mama bantu" Ucap Putri dan langsung membantu Nadhira minum.


"Bilangin sama dia jangan datang kemari lagi, aku ngak mau melihat wajahnya disini"


Putri tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Nadhira, akan tetapi setelah dia menoleh baru dia menyadari akan kedatangan Rifki ketempat itu, ia pun menghela nafasnya dan membantu Nadhira untuk berbaling kembali.


"Kamu masih marah dengan dia Nak?" Tanya Putri sambil membantu Nadhira.


"Ngak mau bertemu dengannya lagi, dia jahat kepada Dhira dan anak Dhira, usir dia dari sini Ma"


"Dhira.." Panggil Rifki.


Rifki ingin sekali memeluk tubuh Nadhira saat ini, akan tetapi ucapan Nadhira itu langsung membuatnya kembali merasa sedih, Nadhira masih marah kepadanya sehingga Nadhira tidak mau bertemu dengan dirinya itu.


"Iya Mama akan bilangin, ya sudah, kamu istirahat dulu ya"


"Iya Ma"


Nadhira pun langsung memejamkan kedua matanya, melihat itu membuat Putri langsung bangkit dari duduknya, ia mendekat kearah Rifki dan menarik tangan lelaki itu untuk keluar dari ruangan dimana Nadhira dirawat saat ini.


"Ikut Mama" Ucap Putri.


"Ma, Rifki ingin bertemu dengan Dhira" Ucap Rifki ketika keduanya sudah sampai didepan ruangan.


"Mama tau perasaanmu Nak, Dhira butuh waktu untuk dapat memaafkanmu, jangan dekati Dhira dulu ya, biarkan dia tenang dulu, Dhira baru sadarkan diri jadi Mama harap jangan menemuinya dulu sampai kondisinya sudah membaik, Mama takut kalo nanti Nadhira malah semakin tertekan dan drop lagi"


"Rifki rindu dengan Dhira, bagaimana Rifki bisa menjauhinya Ma, sampai akan dia akan marah kepada Rifki? Tolong bujuk dia Ma"


"Mama akan berusaha, untuk sementara waktu jangan mendatanginya, Mama akan selalu memberi kabar tentangnya kepadamu"


"Iya Ma, Rifki akan coba untuk tidak menemuinya sampai dia benar benar memaafkan Rifki"


"Ya sudah, Mama masuk dulu, Mama takut Dhira butuh sesuatu tapi Mama tidak ada didalam"


"Tolong jaga Dhira ya Ma"


"Iya, kamu tunggu diluar saja, nanti kalo dia sudah nyenyak tidurnya, kamu boleh masuk untuk melihat kondisinya"


"Tolong beritahu Rifki nanti ya Ma, Rifki akan menunggu diluar"


"Iya Nak"


Putri pun meninggalkan Rifki ditempat itu, Rifki menatap kearah kepergian Rifki dengan perasaan sedihnya, ia sangat merindukan Nadhira akan tetapi Nadhira tidak mau bertemu dengan dirinya itu, Nadhira terlalu marah kepadanya saat ini.


"Loh Rif, kok diluar? Kenapa ngak masuk saja ke dalam bertemu dengan Dhira?" Tanya Bayu yang hendak menemui Nadhira karena ia mendengar bahwa Nadhira sudah sadarkan diri.


Rifki kerumah sakit tadi diantarkan oleh Pak Mun sehingga dirinya tidak berangkat bersama dengan Bayu, Rifki memberitahukan bahwa Nadhira sudah sadarkan diri kepada anggota inti Gengcobra.


"Dia ngak mau bertemu denganku Bay" Jawab Rifki.


"Kenapa?"


"Dia masih marah"


"Aku masuk ke dalam dulu ya, ini Ayahku tadi nitip buat dikasihkan ke Dhira katanya sudah siuman, setelah itu aku temani dirimu diluar"


"Iya Bay"


Bayu pun mengetuk pintu kamar tersebut dan langsung membukanya, ia melihat Nadhira yang sedang tertidur disana sementara Putri sedang membereskan peralatan yang digunakan oleh Nadhira untuk makan tadi.


"Assalamualaikum, Tan" Ucap Bayu.


"Waalaikumussalam, tumben kok sendirian" Jawab Putri sambil menoleh.


"Dia dihukum diluar? Sebenarnya aku masih ada urusan di perusahaan sih, Tan. Tapi Ayahku maksa nyuruh aku datang kemari untuk menjenguk Nadhira" Jawab Bayu, Putri yang mengetahui maksud dari Bayu pun hanya menganggukkan kepalanya.


Mendengar suara lelaki yang masuk kedalam ruangan itu membuat Nadhira membuka kedua matanya dan menoleh kearah lelaki itu, ia mendapati bahwa Bayu sudah berada didalam ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2