Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Pelukan menyakitkan


__ADS_3

"Jangan mendekat, atau aku akan melukai dirimu!" Ancam Kinara, dan langsung membuat Rifki menghentikan langkahnya.


Kedua tatapan saling bertemu satu sama lain, rasa sesak seakan akan menyeruak didalam dada Rifki atas perilaku anaknya. Tapi Rifki tidak mampu menyalahkan tindakan Kinara, karena benar apa yang dikatakan oleh Kinara sebelumnya.


"Apa kau mau melukaiku, Nak?" Tanya Rifki dengan kedua mata yang telah berkaca kaca.


"Aku tidak peduli siapapun dirimu, aku sangat membencimu! Kalian semua jahat! Aku sangat membenci kalian semua!" Teriak Kinara histeris.


"Maafin Papa, ya?"


"Nggak."


Kinara menodongkan pisau itu kearah perut Rifki, karena jarak keduanya yang semakin dekat membuat pisau itu tidak berjarak dengan tubuh Rifki. Air mata Rifki pun menetes dan mengenai tangan Kinara yang tengah memegangi pisau kecil itu, hingga membuat tangan Kinara gemetaran.


"Bunuh aku, Nak. Biar Papa tau seberapa hebat dirimu yang bisa membunuh Ayahmu sendiri," Ucap Rifki dengan bibir yang bergetar hebat.


"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai Ayahku, karena dia telah mati sebelum aku dilahirkan!"


Deg...


Rifki sangat terkejut mendengarnya, dan perkataan itu berhasil melukai hatinya yang paling dalam. Tidak terbendung lagi bagaimana rasa sakit hatinya itu, dibenci anak sendiri adalah hal paling buruk bagi seorang orang tua.


"Nara!" Sentak Lia yang mendengarnya. "Jaga bicaramu,"


"Kau membenciku, Nara? Begitu besarkah rasa bencimu terhadapku?" Tanya Rifki dengan sebuah senyuman yang penuh kekecewaan.


"Aku tidak mau melihatmu lagi ada dihadapanku! Pergi, dan jangan pernah mengangguku!"


"Baiklah kalau begitu, lakukan apa maumu, dan aku akan melakukan apapun mauku," Ucap Rifki sambil menghela nafas berat.


Rifki pun menatap sendu kearah Kinara, sebuah senyuman tipis terbit diwajah Rifki meskipun air matanya terus mengalir tanpa ada yang menghentikannya. Rifki menatap nanar kearah pisau kecil yang ditodongkan kepadanya oleh Kinara itu, sama sekali tidak ada jarak antara dirinya dengan pisau itu.


"Apa yang ingin kau lakukan!" Tanya Kinara curiga.


Kinara tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Rifki, dan dirinya tidak mengetahui maksud Rifki dibalik ucapannya itu. Rifki memegangi tangan Kinara yang memegangi pisau, Kinara pikir Rifki akan berusaha untuk membuangnya, akan tetapi pikirannya itu salah.


Tanpa disangka oleh siapapun yang ada disana, Rifki langsung menusukkannya ke perutnya sendiri. Ketika pisau itu menembus perut Rifki, Rifki pun memekik kesakitan merasakan pisau itu, dan lebih sakitnya lagi bahwa anaknya tidak menganggap dirinya ada.


Melihat itu langsung membuat Kinara sangat terkejut, dan ingin menarik tangannya yang memegangi pisau itu. Akan tetapi, Rifki justru menarik tubuhnya untuk masuk kedalam pelukannya, dan Rifki memeluk tubuh anaknya dengan sangat erat meskipun pisau itu justru menancap lebih dalam.


"Rifki!" Teriak Lia yang menyaksikannya.


Kinara berusaha untuk mencabut pisau itu, tapi karena jarak pelukan Rifki dengan tubuhnya sangat dekat, hingga Kinara tidak bisa melakukan hal itu. Kinara menangis dengan histerisnya karena ia tidak bisa mencabut pisau itu, dan Rifki juga tidak membiarkan Kinara melakukan itu.


"Ini kan maumu, Nak?" Tanya Rifki pelan ditelinga Kinara.


"Tidak! Apa yang kau lakukan! Lepaskan!" Teriak Kinara.


"Papa sangat menyayangimu, Nak. Biarkan Papa memelukmu sebagai pengobat rinduku, Papa janji bahwa setelah ini Papa tidak akan pernah menganggu dirimu lagi. Maafkan Papa," Ucap Rifki lirih ditelinga Kinara.


"Lepaskan! Kau bisa mati!" Kinara terus memberontak untuk bisa melepaskan pisau itu dari perut Rifki.


"Apa kau tau seberapa sakitnya hati Papa saat ini? Bahkan rasanya Papa tidak akan sanggup untuk menahan sakitnya. Maafkan Papa ya, Nak?"


Rifki memeluk tubuh Kinara dengan sangat eratnya, dan tidak membiarkan adanya sekecil apapun jarak antara keduanya. Dengan jarak seperti itu, sulit bagi Kinara untuk mencabut pisau kecil itu dari perut Rifki.


"Nara sayang, hati Papa sangat sakit ketika mendengar dirimu membenci Papa. Ini semua salah Papa yang mengabaikan kalian selama ini, Papa sama sekali tidak menyalahkan dirimu yang membenci Papa. Papa tau bahwa kesalahan Papa selama ini tidak akan mampu mendapatkan maaf darimu," Ucap Rifki sambil mengusap pelan kepala Kinara dengan penuh rasa sayang.

__ADS_1


Kinara tak kuasa mendengar ucapan Rifki, apalagi ketika Kinara mendengar des*ahan Rifki yang menahan sakit. Seberusaha apapun dirinya untuk melepaskan pelukan itu, akan tetapi tenaganya tetap akan kalah dengan Rifki yang terus memeluknya tanpa sela.


"Dengarkan Papa sekali saja. Papa pernah bertanya kepadamu, apa yang harus Papa lakukan? Tapi kau menjawab bahwa aku harus pergi dari kehidupanmu dulu. Aku tidak bisa melakukan itu, Nara. Jika pergi yang kau maksud adalah nyawaku, mungkin aku bisa melakukan itu untuk bisa mendapatkan maaf darimu. Maafkan Papa yang telat bangun untuk bisa menyelamatkan Mamamu, ini kesalahan Papa yang tidak bisa melindungi kalian.


Nara sayang, seandainya waktu bisa diputar kembali, Papa juga tidak ingin kehilangan Mamamu. Papa sama sekali tidak ingin menelantarkan kalian berdua, dan Papa tidak tau kesusahan kesusahan apa saja yang telah kalian alami selama ini." Ucap Rifki dengan menahan sakit.


"Jangan katakan lagi, Om."


"Biar Papa katakan semuanya kepadamu, sebelum kesadaran Papa hilang, Nara. Terima kasih, karena telah membiarkan Papa untuk memelukmu. Nara, rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang selama ini kalian tanggung sendiri, Papa tau itu."


"Om, jangan melakukan hal seperti ini. Lepaskan aku!"


"Apakah sulit bagi dirimu untuk memanggilku sebagai Papa?"


Pertanyaan Rifki langsung membuat Kinara mematung, dan Rifki pun hanya bisa menghela nafasnya. Rifki tau bahwa hal itu teramat sangat sulit bagi Kinara, apalagi untuk mengakuinya sebagai orang tuanya.


"Aku tidak akan pernah memaksamu untuk memanggilku Papa, karena aku tidak pantas untuk mendapatkan panggilan itu darimu. Jika kau butuh sesuatu, Papa akan mengusahakan apapun untuk bisa memenuhinya. Papa tidak masalah jika kau tidak mau menganggap Papa ada, tapi jangan pernah usir Papa dari hidupmu, Nak."


"Lepaskan aku, Om. Kau akan kehabisan darah jika seperti ini,"


"Nara, perlu kau mengetahui satu hal. Aku sangat menyayangi kalian, seandainya aku bisa memilih, aku akan mengorbankan nyawaku sendiri agar Mamamu tetap hidup. Hanya kamu satu satunya orang yang Papa sayangi saat ini, kamu darah daging Papa, Nak. Bagaimana bisa Papa membenci dirimu, Nara? Hanya ada rasa cinta yang Papa miliki untukmu."


"Kau bohong! Kau pembohong!"


"Apa yang perlu Papa lakukan agar kamu percaya? Apa perlu Papa mengorbankan nyawa Papa sendiri agar kamu percaya? Bunuh Papa saja, Nak. Jika itu kemauanmu, biar Papa segera menyusul Mamamu." Nafas Rifki mulai memburu, dan denyut jantungnya semakin cepat.


"Aku menyuruhmu menjauh dariku, bukan memintamu untuk menghilangkan nyawamu sendiri,"


"Daripada menjauh darimu, lebih baik Papa kehilangan nyawa Papa sendiri, Nara. Ada darah Nadhira didalam tubuhmu yang telah menyatu dengan darahku, biarkan aku merasakan kehadiran Nadhira dalam tubuhmu."


Ketika Rifki hendak tumbang, tiba tiba seseorang menariknya begitu saja dari dalam pelukan Kinara. Orang itu pun mengalungkan tangan Rifki ke lehernya, dan orang itu tidak lain adalah Bayu yang baru saja tiba ditempat itu.


"Apa yang kau lakukan, Nara? Kau mencoba untuk membunuh Ayahmu sendiri, ha?" Tanya Bayu dengan nada tinggi ketika melihat Rifki yang lemas disertai banyaknya darah dibajunya.


"Bukan aku," Ucap Kinara lirih sambil menjatuhkan pisau kecil dari genggaman tangannya.


"Bay, jangan marahi dia," Ucap Rifki lirih.


Kinara menangis menatap kearah Rifki yang lemah, ini semua salahnya hingga membuat Rifki terlihat seperti itu. Lia pun mendekat kearah Rifki dan membantu Bayu.


"Nara, se benci bencinya kamu kepada Ayahmu. Dia tetaplah Ayahmu sampai kapanpun, dan tidak ada yang namanya mantan Ayah, Nak."


"Tante, sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit dulu." Saran Bayu karena merasakan bahwa tubuh Rifki mulai kehilangan keseimbangannya.


"Tunggu Bay."


Rifki mencoba untuk bisa berdiri dengan tegaknya tanpa sanggahan dari Bayu, dirinya pun berdiri didepan Kinara yang tengah menangis sesenggukan ketika melihat Rifki. Rifki pun menghapus air mata Kinara dengan perlahan, dan bahkan Kinara tidak menolak usapan lembut dari Rifki.


"Nara, terima kasih atas pelukannya. Papa bahagia sekali saat ini, dan sesuai janji Papa, Papa tidak akan pernah menganggu dirimu lagi. Semoga kau bisa hidup lebih tenang dan bahagia, Papa akan menepati janji Papa. Jaga diri baik baik, karena Papa tidak ada disisi Nara," Ucap Rifki sambil mengusap pelan pipi anaknya.


Kinara hanya bisa menangis, seolah olah suaranya tidak dapat ia keluarkan saat ini. Ia masih tidak menyangka bahwa dirinya telah melukai Rifki, bahkan tangannya sendiri kini sudah bersimbah darah, darah milik Rifki.


"Pa," Lirih Kinara tapi tidak didengar oleh Rifki.


"Akh..." Pekik Rifki.


Melihat tubuh Rifki yang hendak roboh, Bayu langsung menangkapnya begitu saja. Bayu pun mengalungkan kembali tangan Rifki dilehernya, kedua orang itu langsung membawa Rifki pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Kinara ingin menghentikan mereka, akan tetapi langkahnya terhenti ketika mengingat perkataan Rifki. Lagian tujuan mereka untuk membawa Rifki berobat, dan dirinya tidak mau menghalangi Rifki untuk sembuh.


Kepergian ketiga orang itu dari rumah, langsung membuat Bu Siti keluar dari dalam rumahnya. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi, karena dirinya pergi ke warung sebentar untuk membelikan minuman tapi sudah terjadi kekacauan.


"Ada apa ini, Nara?" Tanya Bu Siti ketika melihat Rifki yang dipapah untuk masuk kedalam mobilnya.


"Bukan aku, Nek. Dia yang menusuk dirinya sendiri," Ucap Kinara ketakutan.


"Apa kamu bilang!" Bu Siti begitu terkejut mendengar ucapan Kinara.


"Aku tidak melakukan apapun, Nek. Percayalah kepadaku,"


"Kamu sangat kelewatan, Nara. Selama ini dia sudah sangat baik kepadamu, kau akan mengerti jika dia sudah pergi dan tidak kembali lagi. Saat itu terjadi, hanya akan ada penyesalan dalam dirimu."


*****


Didalam mobil, Rifki menyandarkan kepalanya disandaran kursi mobilnya. Rifki menatap kearah jalanan yang tengah di lewatinya sambil memegangi perutnya yang terkena pisau kecil, pandangannya lurus kedepan seakan akan tengah kosong.


"Bay, jangan sampai ada yang tau tentang kejadian ini. Aku nggak mau jika sampai ada orang yang menyalahkan Kinara," Ucap Rifki lirih akan tetapi masih dapat didengar oleh Bayu dan Lia.


"Tapi bagaimana dengan lukamu, Rif? Semua orang pasti akan tau jika kau terluka seperti ini,"


"Ini tidak terlalu dalam, Bay. Aku masih bisa menahannya, anggap kejadian ini tidak pernah terjadi."


"Baiklah, Rif."


"Ma, tolong jaga rahasia ini, ya?" Ucap Rifki sambil memegangi tangan Lia.


"Sampai kapan kau akan berpura pura kuat seperti ini, Nak? Kinara benar benar telah kelewatan batasnya."


"Ma, ini semua salah Rifki bukan Nara. Rifki terlalu bodoh hingga membiarkan mereka menderita selama ini,"


"Sudah jangan banyak bicara lagi, simpan energimu sampai kita tiba dirumah sakit dan mengobati lukamu itu."


Rifki hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, dirinya juga merasakan bahwa tubuhnya sangat lemah saat ini. Bayu melajukan mobil itu dengan cepat agar Rifki segera mendapatkan perawatan, dan agar lukanya tidak terjadi infeksi.


Sesampainya dirumah sakit, Rifki segera dibaringkan diatas bangkar yang telah tersedia diruang gawat darurat. Disana, Bayu langsung membantunya melepaskan jas yang dipakai oleh Rifki, sekaligus kemeja yang digunakannya.


Dokter pun langsung siap siaga untuk menangani luka Rifki, dan sepanjang perawatan itu Rifki hanya bisa menyengir merasakan perihnya lukanya. Bayu selalu menemani Rifki disepanjang perawatan itu, tanpa meninggalkan dirinya walaupun hanya sebentar saja.


"Untung saja lukanya tidak terlalu dalam, hanya masuk sekitar 3 senti saja. Jadi tidak perlu dikhawatirkan karena sudah diberi obat luka agar tidak infeksi, hanya butuh waktu untuk sembuh dan bisa beraktivitas kembali." Ucap Dokter tersebut kepada Rifki dan Bayu.


Lia masih takut dengan hal yang berhubungan dengan darah, sehingga dirinya memilih untuk menunggu diluar daripada menunggu Rifki di ruang unit gawat darurat. Setelah pengobatan selesai, Rifki sudah diperbolehkan untuk pulang, dan Bayu langsung memapah Rifki kembali untuk menuju ke mobil.


"Bay, untuk hari ini aku mau menginap di hotel saja. Biar orang rumah tidak ada yang tau, kalo mereka bertanya kau jawab saja kalo aku butuh ketenangan," Ucap Rifki setelah tiba di mobilnya.


"Baiklah Rif, aku mengikuti apa maumu saja. Biar semuanya aku urus, kau tidak perlu terlalu khawatir."


"Aku hanya bisa mengandalkan dirimu selama ini, Bay. Kalo tidak ada dirimu, aku tidak tau harus berbuat apa,"


"Kita sahabat sejak kecil, Rif. Kau, aku, Dhira, dan Susi tidak akan pernah terpisahkan. Meskipun Dhira pergi lebih dulu daripada kita, aku yakin kita bisa berkumpul kembali dengannya suatu saat nanti ketika di syurga-Nya."


"Aku tidak bisa berkata apa apa lagi, Bay. Kau begitu setia kepadaku, selalu ada disaat suka dan dukaku, dan selalu mengerti tentangku."


"Apa sih yang tidak aku ketahui tentang kalian? Bukan hanya dirimu saja yang aku ketahui, Rif. Begitupun juga dengan Nadhira dan Susi. Aku akan lakukan apapun untuk kalian, begitupun kalian yang rela melakukan apapun untukku."


"Terima kasih, Bay. Dan maaf atas semuanya...."

__ADS_1


__ADS_2