Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Papa akan merestui hubungan kalian


__ADS_3

"Apapun yang terjadi kita harus bersama Dhira".


"Tapi aku tidak mau kau mati Rifki!"


"Lebih baik aku mati daripada harus melupakan dirimu Dhira, kematian hanya milik Allah, dan kita hanyalah umat manusia biasa yang tidak tau kapan dan dimana kematian itu akan datang Dhira".


"Kau sangat keras kepala Rifki"


"Aku pernah berjanji kepadamu Dhira, jika kita tidak ditakdirkan bersama maka semesta pun tidak akan bisa memisahkan kita berdua".


Nadhira pun kembali teringat akan janji yang pernah diucapkan oleh Rifki sebelum Rifki pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya itu, dan Nadhira menyesali apa yang dia minta waktu itu kepada Rifki.


"Lupakan saja janji itu Rif, aku tidak akan pernah menagihnya dan aku anggap janji itu tidak pernah terjadi Rif"


"Aku tidak bisa melakukan itu Dhira, meskipun aku akhirnya mati itu tidak masalah, tujuan umat manusia dilahirkan hanyalah untuk mati Dhira, aku tidak peduli dengan keris pusaka xingsi yang akan merenggut nyawaku jika bersama dengan dirimu, asal kau tau Dhira bahwa aku sangat bahagia jika bisa selalu ada untuk menemanimu".


"Jangan melakukan itu Rifki, aku tidak mau kau kenapa kenapa karena diriku"


"Apa kau tidak mau menikah denganku Dhira? Kita akan memulai semuanya dari awal bersama sama, jika mereka tidak merestui hubungan kita, aku akan tetap menikah denganmu".


"Aku ingin menikah denganmu tapi tidak seperti ini caranya Rifki, restu kedua orang tuamu sangat penting, untuk apa kita bersama jika hubungan ini tanpa adanya sebuah restu, kau adalah laki laki dan selamanya kau adalah milik Ibumu, surgamu ada ditelapak kaki mereka, dan selamanya akan seperti itu Rifki".


"Dhira mengertilah, aku sangat mencintaimu Dhira, aku tidak ingin kehilangan dirimu"


"Kau juga harus mengerti diriku Rif, aku tidak ingin jika bersamaku kau akan terluka, Papa dan Mamamu benar Rif, kita memang tidak boleh bersama, mengertilah tentang itu Rifki!"


"Jika diperlukan aku akan menentang takdir Dhira, ngak akan ada yang bisa mengalahkan kekuatan cinta kita berdua".


"Rifki, sadarlah! Kita memang tidak harus bersama"


Teriak Nadhira kepada Rifki dan langsung membuat Rifki menatap tajam kearah Nadhira, tatapan itu seketika membuat nyali Nadhira menciut, ia pun memundurkan langkahnya perlahan lahan sementara Rifki dengan perlahan lahan mendekat kearah Nadhira.


Tatapan mata Rifki tertuju kepada kedua mata Nadhira begitupun dengan Nadhira saat ini, Rifki berusaha untuk mendekatkan wajahnya kearah Nadhira sementara Nadhira perlahan lahan menjauh darinya dengan sedikit ketakutan ketika melihat Rifki menatap tajam seperti itu kepadanya.


"Kau mau apa?" Tanya Nadhira.


"Kau takut aku mati kan? Bagaimana kalau aku yang akan menjemput mautku sendiri hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini juga?" Tanya Rifki balik kepada Nadhira yang saat ini jaraknya hanya beberapa senti saja dari tubuh Nadhira.


"Apa yang akan kau lakukan Rifki? Jangan nekat".


Mendengar ucapan Rifki membuat Haris dan Putri langsung bergegas keluar dari mobil tersebut, keduanya langsung bergegas menuju ketempat dimana Rifki dan Nadhira berdiri saat ini.


"Apa yang mau kau lakukan Rifki!" Teriak Haris.


"Rifki jangan macam macam, apa yang ingin kau lakukan? Jangan bertindak nekat Rifki" Ucap Nadhira yang semakin panik.


"Menjauh darimu adalah hal yang tidak bisa aku lakukan, tapi tidak dengan menghancurkan diriku sendiri Dhira" Ucap Rifki.


"Tidak Rifki, jangan lakukan itu, aku mohon".


"Karena keris ini kan? Aku akan menghancurkannya sendiri dengan nyawaku".


"Jangan lakukan itu Rifki, kau tidak boleh melakukan itu, jangan Rifki, aku mohon".


Tiba tiba wajah Rifki terlihat memerah karena menahan rasa sakit, Rifki mengepalkan kedua tangannya dengan erat dan juga keringat dingin mulai bercucuran dari tubuhnya, melihat itu membuat Nadhira semakin panik.


"Apa yang kau lakukan Rifki!" Teriak Nadhira.


"Hentikan Rifki!" Teriak Haris dan Putri secara bersamaan untuk menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh Rifki.


Rifki pun jatuh berlutut ditempatnya sambil memegangi dadanya dengan kedua tangannya, Haris langsung mencoba mendekat kearah Rifki akan tetap Rifki segera menghentikannya.


"Jangan halangi aku Pa! Biarkan Rifki mati sekarang juga Pa!" Teriak Rifki.


"Rifki hentikan! Aku mohon jangan lakukan itu Rifki" Teriak Nadhira.


Tak beberapa lama kemudian datanglah Aryabima ketempat itu, ia merasakan sesuatu yang akan terjadi kepada keris pusaka xingsi sehingga ia mencoba untuk mencari dimana keberadaan dari Rifki.


Aryabima terkejut ketika merasakan energi keris pusaka xingsi bergejolak, dari kejauhan Aryabima melihat Rifki yang tengah berlutut sambil memegangi dadanya dan juga aura keris pusaka xingsi terpancar tidak teratur dari tubuh Rifki.


"RIFKI HENTIKAN!" Bentak Aryabima.


"Aku tidak peduli Kek!" Teriak Rifki.


"Jangan lakukan itu, kau bisa mati!" Aryabima sangat panik dengan apa yang dilakukan oleh cucunya.

__ADS_1


"APA!" Teriak Nadhira terkejut ketika mendengar ucapan dari Aryabima.


"Mati sekarang atau nanti sama saja bagi Rifki" Ucap Rifki sangat pasrah dan putus asa.


"Jangan lakukan itu Nak, kenapa kau nekat seperti ini, ceritalah kepada Kakek, Kakek akan berusaha untuk mencari jalan keluarnya"


Belum sempat Rifki membalas ucapan Kakeknya itu, tiba tiba Rifki memuntahkan seteguk darah segar dari tindakan yang ia lakukan itu, dan tubuhnya terasa begitu sangat lemahnya dan juga energi yang ada didalam tubuhnya terserap begitu saja.


"RIFKI!" Teriak semua orang termasuk juga Nadhira.


Rifki berniat untuk menghancurkan keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuhnya dengan seorang diri, dan hal itu membuat rohnya terluka dengan tindakan yang dia lakukan.


"Hentikan Rifki aku mohon hiks.. hiks.." Tangis Nadhira pecah seketika ketika melihat Rifki memuntahkan seteguk darah segar.


Tangisan itu seketika membuat Rifki tersenyum tipis kearah Nadhira meskipun wajahnya terpancarkan kesedihan, darah yang mengalir disudut bibir Rifki membuat wajah Rifki terlihat mengerikan.


"Kau takut aku matikan Dhira? Aku akan tunjukkan kepadamu bahwa diriku ini sama sekali tidak takut untuk menghadapi kematian" Ucap Rifki sambil menahan sakitnya.


"Aku mohon jangan lakukan itu" Ucap Nadhira.


"Nak, jangan bertindak seperti ini Kakek mohon kepadamu" Ucap Aryabima.


"Rifki hentikan semua ini, kau tidak boleh melakukan itu" Ucap Haris.


"Jangan lakukan itu Nak, jangan tinggalkan Mama seperti ini, Mama mohon" Ucap Putri.


Putri dan Haris begitu sangat panik dengan apa yang terjadi kepada Rifki, mereka mencoba untuk menghentikan apa yang dilakukan oleh Rifki akan tetapi Rifki sama sekali tidak mempedulikan ucapan siapapun kali ini.


"Dhira tidak salah, Rifki yang salah karena memiliki keris ini, maafin Rifki" Ucap Rifki sambil tersenyum kearah Nadhira.


"Jangan katakan itu Rifki, kau harus tetap hidup" Ucap Nadhira.


"Maafkan aku Dhira, kita akan bertemu di syurga nanti, aku akan menunggumu disana"


"Tidak Rifki, berhentilah jangan lakukan itu!"


"Lihatlah Dhira, aku tidak takut akan kematian"


Setelah mengatakan itu darah Rifki menetes dan bukan dari mulutnya lagi akan tetapi keluar melalui kedua lubang hidungnya, dan melihat itu terjadi kepada Rifki membuat Nadhira segera memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya


"Kek tolong lakukan sesuatu, Dhira mohon hentikan Rifki" Ucap Nadhira yang merasakan tubuh Rifki yang sangat lemas tersebut.


"Rifki jangan seperti ini, Kakek mohon" Ucap Aryabima ketika Rifki menolak untuk Aryabima menenangkan energi keris pusaka xingsi itu.


"Biarkan Rifki hancur bersama dengan keris pusaka xingsi ini Kek" Ucap Rifki lemah.


"Hentikan Rifki, jangan lakukan itu, aku mohon" Nadhira terus memeluk Rifki dengan eratnya.


Tiba tiba Nadhira merasakan tubuh Rifki mengigil kedinginan didalam pelukannya itu, wajahnya semakin memucat seakan akan tiada darah yang mengalir diwajahnya itu.


"Kenapa? Untuk apa aku hidup Dhira? Mereka tidak akan pernah merestui hubungan kita, mereka hanya takut dengan nyawaku Dhira, tapi tidak mau mengerti tentang perasaanku" Ucap Rifki sambil menahan rasa mengigilnya dan nyeri didadanya.


"Rifki aku mohon jangan lakukan ini"


"Selamat tinggal Dhira, aku senang bisa mengenalmu didunia ini, maafkan aku, aku akan menunggumu disyurga-Nya Dhira".


"Tidak Rifki, jangan tinggalkan aku".


Uhuk... Uhuk...


Rifki terbatuk batuk dan mengeluarkan banyak darah dari dalam mulutnya hingga membasahi punggung Nadhira dengan darahnya, seketika itu juga tubuh Rifki semakin melemah dan terjatuh didalam pangkuan Nadhira.


"Rifki hiks.. hiks.. aku mohon jangan lakukan itu, jangan tinggalkan aku seperti ini Rifki" Ucap Nadhira sambil menatap wajah sayup Rifki.


Rifki memegangi tangan Nadhira dengan erat, dan satu tangannya mengarah kepada pipi Nadhira untuk menghapus air matanya itu dengan seulas senyuman yang tercipta diwajahnya.


"Ini tidak terlalu menyakitkan Dhira, jangan menangis seperti itu" Ucap Rifki dengan pelan.


"Kakek tolong lakukan sesuatu Dhira mohon, Om bujuk Rifki hiks.. hiks.. jangan biarkan Rifki seperti ini Om Dhira mohon, lakukan sesuatu hiks.. hiks.. Tante Putri tolong bilangin Rifki untuk berhenti Tante" Tangis Nadhira histeris.


"Rifki hentikan semua ini Nak, Mama mohon kepadamu hiks.. hiks.." Putri pun menangis disebelah anak laki lakinya itu.


"Rifki, jangan nekat seperti ini Nak, maafin Papa" Ucap Haris dan langsung berlutut didepan Rifki.


Rifki pun menjatuhkan tangannya dari pipi Nadhira dengan sangat lemahnya, Rifki pun memejamkan matanya sambil mengernyitkan dahinya menahan rasa sakit yang menimpa rohnya, dan perlahan lahan luka yang dialaminya semakin parah.

__ADS_1


Aryabima mencoba untuk mengendalikan kekuatan dari keris pusaka xingsi itu, akan tetapi tanpa persetujuan dari Rifki, dirinya sendiri tidak mampu untuk melakukan hal tersebut.


"Biarkan Rifki pergi" Ucap Rifki berusaha untuk memegangi tangan Aryabima.


"Tidak Nak, jangan nekat seperti ini" Ucap Aryabima.


"Rifki apa kau benar benar ingin meninggalkan diriku? Aku mohon jangan lakukan itu Rifki" Ucap Nadhira.


"Baiklah, Papa akan merestui hubungan kalian, tolong jangan seperti ini Nak, Papa tidak mau kau kenapa kenapa Nak" Ucap Haris.


Mendengar itu membuat Rifki merasa senang dan bahagia, sementara Nadhira hanya bisa memeluk tubuh Rifki yang semakin lemah saat ini dengan isak tangis yang terdengar dari mulutnya.


"A pa kah i tu be nar Pa?" Tanya Rifki dengan terbata bata karena darah yang ada di tenggorokannya.


"Iya Nak, tolong jangan lakukan hal seperti ini, jangan berpikir untuk mengakhiri hidupmu Nak".


"Ma ka sih Pa"


Setelah mengatakan hal itu, tiba tiba Rifki mulai tidak sadarkan diri didalam pelukan Nadhira, sementara Aryabima merasa lega karena dirinya akhirnya bisa mengobati Rifki.


"Kek, kenapa Rifki tidak sadarkan diri?" Tanya Nadhira dengan sangat cemas.


"Jangan khawatir Nak, dia akan baik baik saja" Jawab Aryabima.


Haris pun mengangkat tubuh Rifki untuk masuk kedalam mobilnya, ia pun menyandarkan tubuh Rifki dikursi dan dipundak Aryabima, Aryabima terus mencoba untuk menetralkan kembali energi keris pusaka xingsi yang meluap tidak stabil itu.


"Nak, sebaiknya kamu kembali ke pesta pernikahan Kakakmu, jangan buat orang orang curiga dan ada yang mengetahui tentang adanya keris pusaka xingsi ataupun permata iblis" Ucap Aryabima menghentikan langkah Nadhira untuk masuk kedalam mobil itu.


"Tapi Kek, Dhira hanya ingin memastikan kondisi Rifki saja Kek, Dhira tidak akan tenang selama Rifki belum sadarkan diri seperti ini".


"Jangan khawatir soal Rifki, dia akan aman bersama kami, yang paling penting adalah menyembunyikan kedua benda pusaka itu".


"Baik Kek, Dhira mengerti, kalau Rifki sudah bangun nanti tolong kabari Dhira ya Kek"


"Kalo dia sudah bangun, dia nanti akan datang kemari sendiri".


"Iya Kek".


Nadhira pun menutup pintu mobil tersebut, beberapa detik kemudian mobil itu melaju pergi meninggalkan rumah Nadhira, melihat kepergian mobil tersebut seketika air mata Nadhira menetes begitu saja.


"Rifki.." Panggil Nadhira pelan.


Nadhira pun kembali masuk kedalam rumahnya dan bergegas mengganti pakaiannya yang terkena noda darah milik Rifki, setelah mengganti pakaian tersebut dirinya pun kembali bergabung dengan yang lainnya didalam pesta pernikahan itu.


*****


Dengan perlahan Haris dan Aryabima membaringkan tubuh Rifki diatas kasur kamarnya, luka dalam yang dialami oleh Rifki sedikit parah hingga menyebabkan Rifki tidak sadarkan diri saat ini.


"Ayah, bagaimana keadaan Rifki?" Tanya Haris.


"Anak ini terlalu nekat, hampir saja dia kehilangan nyawanya sendiri, Pangeran Kian saja tidak mampu untuk melenyapkan keris pusaka xingsi sendiri, bagaimana anak ini bisa berpikir untuk melakukan itu seorang diri?".


"Ayah, apa keputusanku sudah benar membiarkan mereka berdua menikah?".


"Asalkan dia tidak nekat lagi seperti ini, kita bisa mencari solusi yang lain soal itu, biarkan mereka menikah, apapun resikonya nanti kita akan menanggung bersama sama".


"Baiklah Ayah".


Aryabima terus mencoba untuk menetralkan kembali energi keris pusaka xingsi yang tidak beraturan itu, dapat dilihat adanya bercak merah didada Rifki saat ini karena luapan dari energi keris pusaka xingsi.


Aryabima pun mengoleskan sebuah salep didada bidang Rifki yang terlihat bercak merah tersebut, memandang wajah Rifki yang tertidur seperti itu membuat Aryabima teringat dengan Chandra.


Chandra adalah anak pertama dari Abiyoga, dia adalah pewaris dari keris pusaka xingsi dan dia adalah Ayah kandung dari Haris, Chandra mengorbankan nyawanya hanya untuk melindungi Haris dari kejaran orang orang yang berniat untuk merampas keris pusaka xingsi.


Dahulunya Haris adalah seorang anak yang pandai dalam beladiri, akan tetapi setelah kakinya dipatahkan oleh orang orang yang berniat untuk merebut keris pusaka xingsi, dan sejak saat itu Haris sudah tidak mampu untuk berlatih sampai saat ini.


Chandra mengorbankan nyawanya disaat Haris dalam bahaya, ia pun meminta kepada Adik kandungnya yakni Aryabima untuk menjaga anaknya yang masih berusia anak anak, Haris sendiri melihat secara langsung kematian dari Chandra dan hal itu membuatnya sedikit trauma.


"Dia sangat mirip dengan Kakak" Ucap Aryabima.


"Karena dia cucunya Ayah" Ucap Haris.


"Kau benar, kegigihannya sama persis dengan dirinya itu, seandainya Kak Chandra masih hidup, mungkin kita bisa tau tentang keris pusaka xingsi itu, karena dia adalah pewarisnya".


"Ayah Chandra sudah meninggal Ayah, ini semua karena Haris".

__ADS_1


Aryabima menatap kearah Haris yang terlihat sedih itu, Haris pun teringat kembali disaat saat Chandra mengorbankan nyawanya sehingga ia harus mati didepan mata kepalanya sendiri, rintihan kesakitan dari Chandra terdengar begitu jelas ditelinga Haris.


"Tidak Nak, jangan salahkan dirimu sendiri, ini adalah kemauan dari Kakakku sendiri" Ucap Aryabima sambil memegangi pundak Haris.


__ADS_2